Claim Missing Document
Check
Articles

Regression Analysis Of Inter-Variable Relationships Within Business Canvas Model: Value Proposition, Key Resources, Revenue And Cost Structure With The Cobb Douglass Production Function Approach (Study Case: Basic And Chemical Industries From 2006-2017) Devanny Gumulya; Hendrawan Sutikno; Rudy Pramono; Evo Sampetua Hariandja
Jurnal Manajemen Indonesia Vol 20 No 2 (2020): Jurnal Manajemen Indonesia
Publisher : Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Telkom University.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25124/jmi.v20i2.3197

Abstract

In the 21st century disruptive era, in order to survive a company must innovate their business model constantly. In 2006 – 2017, the number of finish goods produced by base and chemical industry sector compare to agriculture and consumer goods sector were lower. Thus, this research tries to do regression with simultenous approach by analyzing variabel combined from the business model canvas concept by Osterwalter and Pigneur, 2010 and production function Cobb Douglas. The BMC was filled with financial report from Bloomberg. From the data, only several variables from BMC can be analyzed, the variables are value proposition, key resources, revenue and cost structure. This research also tries to analyze the relation between BMC internal variabel with external variabel from macro economy. The research results are revenue positively influence finish goods, while revenue is positively influenced by cost of good sols and external variabel national GDP. ARIMA forecast is done in static and dynamic model. From the static model founded that, from 2017-2018 BRNA and TPIA increase their finish goods significantly. For the longer prediction 2017 – 2025 a dynamic model is used, founded that all companies will not have significant growth in their finish goods production. The basic and chemical industry’s finish goods still going to be lower than agriculture and consumer goods industry. Concluded that manufacture industry that relates directly to human’s primary needs, the finish goods average will always be higher than basic industry and chemical in which this sector is not directly needed by human. Keywords: business model canvas; production function cobb douglas; 2sls
KAJIAN DESIGN THINKING DARI SISTEM PRODUK SERVIS Devanny Gumulya
Jurnal Manajemen Indonesia Vol 16 No 1 (2016)
Publisher : Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Telkom University.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (7940.582 KB) | DOI: 10.25124/jmi.v16i1.731

Abstract

Saat ini persaingan bisnis dalam konteks desain produk semakin kompetitif, menjual produk murah dan berkualitas bagus sudah tidak bisa menjanjikan sebuah bisnis dapat bertahan. Fenomena industri kreatif dan kemajuan teknologi komunikasi mendorong tumbuh suburnya industri desain produk denganmodel baru menawarkan produk didukung dengan kemasan servis yang menarik, hal ini dikenal dengan istilah Product Service System (PSS) yaitu konsep bisnis desain yang menjual gabungan produk dan servis yang secara spesifik didesain untuk memenuhi kebutuhan konsumen tertentu. Saat ini bisnis desain dengan konsep PSS termasuk baru tapi semakin banyak aplikasinya, tujuan paper ini adalah mengkaji latar belakang munculnya PSS, perkembangan, keunggulan dan beberapa contoh aplikasi PSS di skala intetrnational dan lokal. Lebih dalam lagi dibahas kerangka berpikir PSS, bagaimana mengaplikasikan konsep PSS pada bisnis Desain Produk, Keunikan karakter PSS hasil dari kajian adalah potensi menuju kearah desain berkelanjutan (sustainability) karena fokus pada value bukan pada produk. Karakteristik dari PSS yang didapat dari studi ini adalah komunitas, sistem pembayaran pay per value, kemampuan personalisasi oleh konsumen dan demokratisasi produk. Beberapa karakter ini penting untuk dipertimbangkan dalam perancangan bisnis berkonsep PSS
Pencampuran Budaya Cina, Jawa, dan Belanda pada Budaya Makan Cina Peranakan devanny gumulya
ANDHARUPA: Jurnal Desain Komunikasi Visual & Multimedia Vol 3, No 02 (2017): August 2017
Publisher : Dian Nuswantoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33633/andharupa.v3i02.1353

Abstract

AbstrakBudaya Cina peranakan merupakan hasil dari proses akulturasi beberapa budaya.  Oleh karena itu, budaya ini sangat menarik untuk dikaji.  Paper ini mencoba mengkaji dengan metode studi literatur latar belakang sejarah dan keunikan budaya cina peranakan pada budaya makan mulai dari etiket, menu dan peralatan makan.  Dari hasil studi ditemukan bahwa walaupun Cina Peranakan terbentuk dari proses akulturasi budaya Jawa, Cina dan Belanda tetapi dalam hal budaya makan, budaya Cina masih mendominasi terutama dalam etiket dan peralatan makan, karena bagi orang Cina makan dipandang sebagai pemersatu keluarga. Akulturasi terjadi pada menu makanan ada unsur bercampur dengan bahan yang tersedia di Indonesia, hal ini terjadi pada lumpia Semarang yang terkenal dengan lumpia berisi rebung sesuai dengan bahan yang tersedia di Semarang.  Kata kunci : Akulturasi Budaya, Cina Peranakan, Budaya makan   AbstractCina Peranakan culture is a result of acculturation from different cultures. Therefore, this culture is so interesting to be researched. With literature study method, this paper tries to elaborate the historic point of view to gain closer understanding and synthesize the culture uniqueness with eating culture as object study case. From the study founded that although Cina Peranakan is the melting pot between Java, Dutch and Chinese Cultures, but in food culture the Chinese culture still dominates specially in eating etiquette and tableware. This because for Chinese food is believed as means for family gathering. Meanwhile, the acculturation can be seen in the food menu, because the ingredients needs to be adapted with resources available in Indonesia, this can be seen in Semarang Lumpia that is reknown for rebung, the vegetable available there.  Keywords : Culture assimilation, Cina Peranakan culture, Eating culture
KAJIAN AKULTURASI BUDAYA PADA BUSANA WANITA CINA PERANAKAN Devanny Gumulya; Nathalisa Octavia
JADECS (Journal of Art, Design, Art Education & Cultural Studies) Vol 2, No 1 (2017)
Publisher : Jurusan Seni dan Desain, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1582.59 KB) | DOI: 10.17977/um037v2i12017p12-25

Abstract

Budaya Cina peranakan merupakan hasil dari proses akulturasi beberapa budaya. Namun budaya Cina peranakan kini tidak lagi dikenal oleh masyarakat modern karena keunikannya yang kaya akan unsur ornamen yang bersifat filosofis tergantikan oleh budaya modern yang serba praktis dan fungsionalis. Paper ini mencoba mengkaji latar belakang sejarah dan keunikan budaya cina peranakan pada objek busana wanita kebaya dan batik. Ditemukan akulturasi budaya Jawa, Belanda, dan Cina yang sangat unik.  Perbedaan dari ketiga budaya ini saling mempengaruhi satu sama lain dan menghasilkan keunikan tersendiri yang tertuang pada kekayaan budaya Cina peranakan.
PEMANFAATAN LIMBAH KAYU PADA BENGKEL MEBEL KAYU DI CURUG KARANGANYAR DENGAN PENERAPAN PRINSIP CO-DESIGN PADA PERANCANGAN DO IT YOUR SELF KIT MAINAN KAYU Devanny Gumulya
JADECS (Journal of Art, Design, Art Education & Cultural Studies) Vol 3, No 1 (2018)
Publisher : Jurusan Seni dan Desain, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (971.666 KB) | DOI: 10.17977/um037v3i12018p28-34

Abstract

Membantu komunitas sekitar kampus adalah tanggung jawab kami sebagai akademisi. Sebuah bengkel kayu yang diberi nama dari pemiliknya Budhy berlokasi di Curug, 5 km dari UPH. Berdasarkan hasil observasi, didapatkan bahwa bengkel ini menghasilkan banyak limbah kayu. Limbah tersebut dijual ke penadah dan dibakar. Pembakaran kayu menghasilkan asap polusi yang menggangu masyarakat sekitar. Melihat permasalahan ini, maka tim akademisi mencoba mencari solusinya melalui desain produk. Di sisi lain, tren konsumen menunjukkan bahwa saat ini semakin banyak orang yang mulai jenuh dengan dunia digital yang bersifat flat.  Konsumen sekarang banyak mencari kegiatan untuk aktualisasi diri, kegiatan – kegiatan untuk meningkatkan keahlian tangannya. Hal ini menjadi potensi bisnis bagi banyak perusahaan yang mencoba menawarkan tutorial workshop membuat produk di akhir pekan.  Metode yang digunakan dalam kegiatan PKM ini adalah co-design, sebuah metode dalam proses desain yang memungkinkan pihak – pihak (desainer, perusahaan desain, pabrik, customer bisnis) untuk saling berkomunikasi dan bekerja sama antar disiplin ilmu.  Pendekatan ini digunakan sebagai metode untuk mendesain bersama dengan customer, dengan harapan produk akan lebih dihargai dan disimpan lebih lama dari pada hanya membeli produk jadi ke toko, karena mereka berpartisipasi dalam proses desainnya.  Hasil dari kegiatan ini adalah mainan kayu dengan konsep DIY yang terdiri dari tiga boneka kayu yang dibubut dari limbah kayu sungkai,  cat acrylic, buku petunjuk serta video di social media untuk meningkatkan kesadaran public tentang manfaat yang didapatkan bagi lingkungan dengan membuat mainan kayu ini.  Mainan – mainan kayu ini dijual di toko UPH.
Penelitian Persepsi Kemasan Produk Skin Care Wanita dengan Pendekatan Teori Semantik Devanny Gumulya; Talitha Alysia Onggo
Journal of Visual Art and Design Vol. 8 No. 2 (2016): Journal of Visual Art and Design
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/j.vad.2016.8.2.4

Abstract

Di Indonesia, penelitian mengenai desain kemasan masih sangat minim, akibatnya pada saat mengembangkan desain kemasan, desainer menggunakan insting pribadinya untuk mendesain. Di sisi lain, industri produk perawatan kulit bertumbuh pesat, seringkali ditemukan perusahaan mengganti kemasannya secara berkala, maka penelitian internasional banyak dilakukan di desain kemasan. Oleh karena itu, penelitian skala lokal perlu dilakukan untuk meneliti persepsi konsumen pada kemasan produk dengan menggunakan pendekatan teori semantik, apakah kemasan yang ada sudah menyampaikan manfaat produk secara efektif. Metode penelitian yang digunakan adalah penyebaran kuisoner semi terstruktur menggabungkan metode kualitatif dan kuantitatif. Brand yang dipilih adalah Martha Tilaar, Sariayu, Viva, dan Citra. Hasil akhir yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah rekomendasi desain kemasan yang menarik konsumen.Kata Kunci: desain kemasan; desain produk; persepsi; teori semantik.Research in Packaging Perception of Woman Skin Care Products with Semantic Theory ApproachIn Indonesia, little research has been done in view of packaging design recommendations. As a result, when developing packagings, designers use their own personal judgment. Meanwhile, skin care products are a fast growing industry in which we often find brands changing their packagings very frequently. Internationally, a great deal of research has been done on this subject. However, local research is needed for evaluating consumer perception of Indonesian skin-care packagings using a semantic theory approach, to find out whether existing packagings convey the products' benefits effectively. A combination of qualitative and quantitative data from semi-structured questionnaires provided experiential data reflecting the research subjects' engagement in perceiving a range of packaging samples from selected Indonesian skin-care brands. Based on this research, recommendations for future packaging design can be provided.Keywords: packaging design; product design; perception; semantic theory.
Perancangan Desain Tas dengan Pendekatan Strategi Blue Ocean Devanny Gumulya; Jeny Angreini
Jurnal Desain Idea: Jurnal Desain Produk Industri Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya Vol 19, No 1 (2020)
Publisher : LPPM, Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (904.739 KB) | DOI: 10.12962/iptek_desain.v19i1.7009

Abstract

Desain produk adalah keilmuan yang selalu mencari inovasi dan kebaruan dalam prosesnya. Blue Ocean Strategy (BOS) adalah strategi bisnis mencari pasar baru dengan menawarkan nilai yang berbeda dari kompetitor lainnya. Paper ini menghubungkan kerangka pemikiran BOS dalam proses desain. Empat langkah kunci dari BOS adalah eliminasi, kurangi, tingkatkan dan ciptakan. Langkah-langkah ini di implementasi pada proses pencarian ide untuk perancangan tas. Dari pendekatan BOS, proses desain menjadi lebih terarah, terstruktur dan nilai inovasi dari produk dapat didapatkan dengan cepat. Hasil dari paper ini adalah rancangan desain tas yang inovatif dengan sistem mekanisme yang dapat merubah tas dalam tiga bentuk, sehingga tas dapat digunakan untuk aktivitas sehari-hari juga aktivitas pada akhir pekan.
Kajian Studi Kasus Social Enterprise dari Sudut Pandang Konsep Design for Happiness Devanny Gumulya
Jurnal Desain Idea: Jurnal Desain Produk Industri Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya Vol 18, No 1 (2019)
Publisher : LPPM, Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1024.843 KB) | DOI: 10.12962/iptek_desain.v1i18.5083

Abstract

Perkembangan teknologi manufaktur dan informasi mendorong perubahan nilai-nilai perekonomian. Berdasarkah hasil riset dari Philips di tahun 2014, dinyatakan akan makin besar ekonomi berbasis transformasi. Dalam konteks ini muncullah, bisnis bermodel social enterprise, bisnis yang bertujuan untuk menangani masalah sosial, meningkatkan kapasitas komunitas, memberikan pekerjaan dan training kepada komunitas, atau membantu lingkungan. Dalam kurun waktu lima tahun terakhir start up berbasis social enterprise mengalami peningkatan yang cukup signifikan baik secara local maupun global. Di sisi lain, Design for happiness adalah desain yang memberikan kebahagiaan pada konsumen, melalui tiga hal desain yang memelihara hubungan sosial, desain yang memaknai kehidupan seseorang, desain yang membuat konsumen berpartisipasi aktif. Dalam tulisan ini, dikaji tiga bisnis social enterprise : Sukhacitta, Du’Anyam dan Toms, bagaimana ketiga bisnis ini menjalankan visinya dan dianalisa dari kacamata design for happiness: bagaimana visi diimplentasikan dalam konteks desain yang secara eksplisit bisa dilihat kostumer. Hasil kajian adalah masing-masing social enterprise memiliki keunikannya masing-masing, tapi ada tiga elemen yang paling dapat mencerminkan visi social enterprise. Yang pertama adalah produk dengan desain yang gaya casual dan nyaman untuk kegiatan sehari-hari, yang kedua adalah logo yang mengkomunikasikan visi tidak literal tapi konsumen dapat menghubungkan visi dan logo dengan mudah bila membaca informasi yang ada di website. Yang ketiga adalah konten sosial media bercerita pembangunan kapasitas dan peningkatan kualitas hidup komunitas yang dibangun.
Perancangan Desain Produk dengan Inspirasi Art Nouveau Era Tahun 1809-1920 dengan Metode Peta Morfologi Devanny Gumulya; Sisilia Huang; Eileen Florean Gunawan
Jurnal Desain Idea: Jurnal Desain Produk Industri Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya Vol 20, No 1 (2021)
Publisher : LPPM, Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/iptek_desain.v20i1.9328

Abstract

Peta morfologi berasal dari keilmuan teknik. Artikel ini mempelajari cara menerapkannya dalam  proses desain kreatif yang memungkinkan pemikiran yang berbeda dan logis untuk digunakan secara bersamaan. Selanjutnya dibahas karya mahasiswa desain produk yang merancang dengan menggunakan grafik morfologi. Sejarah, bagaimanapun, telah mengilhami banyak desainer untuk menciptakan banyak hal baru. Art Nouveau adalah sebuah gerakan seni arsitektur dan dekoratif yang lahir dan berpusat di Eropa Barat sekitar tahun 1809 - 1920 berawal dari Paris dan menyebar ke Amerika Serikat dan wilayah Eropa lainnya. Salah satunya adalah Catalan, juga dikenal sebagai Art Nouveau Catalan, gerakan seni dari wilayah Catalan (Barcelona, Girona, Lleida, Tarragona). Garis asimetris dan bergelombang, bentuk alami (organik) seperti tangkai, kuncup bunga, tanaman merambat dan sayap serangga adalah ciri khas Art Nouveau Catalan untuk memberikan kesan elegan. Sementara Art Nouveau AS terkenal dengan mosaik kaca organik. Tujuan dari studi ini adalah untuk mencapai kaca dan desain lampu dinding yang menggabungkan elemen Art Nouveau dengan preferensi mahasiswa desain produk. Hasil riset adalah kerangka untuk menggunakan grafik morfologi dalam proses desain proyek jangka pendek. Luaran akhir artikel ini menghasilkan 11 (sebelas)  ide desain produk baru.Morphology charts come from engineering discipline, this paper studies how to apply them in a creative design process that allows divergent and logical thinking to be used simultaneously. The paper discusses product design students' work to design using morphological charts. History, however, has inspired many designers to create many new things. Art Nouveau is an architectural and decorative art movement that was born and centered in Western Europe around 1809 – 1920 from Paris and spread to the US and other regions of Europe. One of them is Catalan, also known as Art Nouveau Catalan, art movements from the Catalan region (Barcelona, Girona, Lleida, Tarragona). Asymmetrical and wavy lines, natural (organic) forms like stalks, flower buds, vines and insect wings are unique works of Art Nouveau Catalan to give an elegant impression. While Art Nouveau US is renowned for organic glass mosaics. The paper objective is to achieve glassware and wall lamp design combining Art Nouveau elements with product design student preferences. The result of this paper is a framework for using morphological charts in a short-term project design process. This exercise produces 11 (eleven) new product design ideas.
Meningkatkan Sisi Pemasaran Kerajinan Produk Anyaman Desa Jambe Robertus Malvin Nico Mahatamtama; Prayogo Jatiadi; Stefani Liem; Muhammad Fachrurozi; Devanny Gumulya
Jurnal Strategi Desain dan Inovasi Sosial Vol 3, No 1 (2021): Adaptabilitas & Strategi Inovasi Desain Sosial (Di Masa Pandemi)
Publisher : School of Design Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37312/jsdis.v3i1.4665

Abstract

Sebagai luaran dari mata kuliah desain untuk komunitas dalam berupaya dalam membenahi dan memberi usul dalam sisi marketing bagi komunitas pengrajin dan pengurus organisasi di desa Jambe kecamatan Rancabuaya, berkolaborasi dengan NGO untuk mengembangkan usaha kerajinan rotan dan bambu mereka. Usaha yang mereka lakukan selama ini masih memiliki kendala yaitu sepinya dalam penjualan pada masa - masa non hari raya, karena tidak ada pesanan wadah parcel. Maka dari itu, kelompok kami mengusulkan untuk membuat skema pemasaran baru yang dapat menguntungkan bagi mereka sepanjang tahun dengan cara mengembangkan penjualan B2C (business to customer).