Try Al Tanto, Try Al
Ministry of Marine Affairs and Fisheries

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Suitability of Seagrass Ecosystem for Marine Ecotourism in Padang City, West Sumatera Province Tanto, Try Al; Putra, Aprizon; Hermon, Dedi; Damanhuri, Harfiandri
Forum Geografi Vol 32, No 1 (2018): July 2018
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/forgeo.v32i1.5306

Abstract

Seagrass ecosystems are exciting parts of the tropical coastal region that are potential for ecotourism activities. Marine ecotourism sector in the city of Padang has begun to develop within last few years. This development has not only positive impacts but also negative threats to the environment. Therefore, carefully select the most suitable areas for this purpose is important. This article aims to propose the potential areas for seagrass ecotourism in Padang city based on Geographic information system (GIS) analysis. We used spatial analysis to develop the seagrass ecotourism suitability index that is also potentially applicable to other areas. The results of the analysis show that area of the seagrass ecosystem in Nirwana beach (23.75 ha), Cindakir beach (2.56 ha), and Pasumpahan island (5.46 ha) with a total area of the seagrass ecosystem overall in Padang City (31.78 ha). These areas have been overgrown by Thalassia hemprichii with coverage >50 – 75 % in Nirwana beach, 25 – 50 % in Cindakir beach and Pasumpahan Island. The suitable areas for seagrass ecotourism were found on the beach of Nirwana (covers 84% as very suitable), Cindakir beach (covers 73 % as moderately suitable) and Pasumpahan island (covers 78 % as moderately suitable). We found that activities of local communities decreased the suitability of Cindakir beach and Pasumpahan island because these activities increase the abundance of mud in the substrate of waters.
KUALITAS PERAIRAN TELUK BUNGUS BERDASARKAN BAKU MUTU AIR LAUT PADA MUSIM BERBEDA Tanto, Try Al; Kusumah, Gunardi
Maspari Journal : Marine Science Research Vol 8, No 2 (2016): Edisi Juli
Publisher : UNIVERSITAS SRIWIJAYA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1056.198 KB) | DOI: 10.36706/maspari.v8i2.3490

Abstract

Pembangunan di kawasan Bungus berkembang pesat, dapat menjadi penyebab kerusakan lingkungan  perairan  sekitarnya.  Laporan  dari  media  lokal  dan nasional,  terjadi pencemaran  air  laut  dan  tingginya  sedimentasi.  Penelitian ini  menjadi  penting  karena belum  banyak  studi  terkait  pencemaran perairan  dilakukan.  Pengambilan  data  air  laut dilakukan  di  15  titik pengukuran  pada  permukaan  dan  kedalaman  5  m.  Data tersebut dianalisis di laboratorium serta pengukuran secara  in-situ  untuk pengukuran permukaan. Selain itu juga dilakukan pengukuran pada 3 muara sungai besar untuk pengukuran TSS dan melihat  sedimentasi. Waktu pengambilan data dilakukan pada musim berbeda, yaitu Bulan  Mei  dan  November  2013, sehingga  diperoleh  data  yang  bervariasi  sesuai  dengan kondisi musim. Sampai akhir tahun 2013, kualitas air laut (kekeruhan, pH, salinitas, suhu, DO, BOD, amoniak) perairan Teluk Bungus masih berada pada batas aman sesuai dengan baku  mutu,  baik  yang  terjadi  pada  musim  kemarau  maupun musim  hujan.  Hal  berbeda terjadi pada nilai TSS di sekitar muara, dengan nilai  berada diluar batas  aman baku mutu dan kekeruhan perairan tinggi saat musim hujan. Pada umumnya, pencemaran perairan di Teluk Bungus disebabkan oleh tingginya sedimentasi.KATA KUNCI:   Kekeruhan,  kualitas  perairan,  pencemaran  perairan, sedimentasi, Teluk Bungus.
KERENTANAN PESISIR TERHADAP PERUBAHAN IKLIM DI TIMUR LAUT PROVINSI BALI Putra, Aprizon; Husrin, Semeidi; Tanto, Try Al; Pratama, Roka
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 17, No 1 (2015)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1000.26 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2015.17-1.217

Abstract

Secara garis besar, morfologi pesisir timur laut Bali dikategorikan sebagai “Mountainous Coast" yaitu pesisir yang terbentuk dari aktivitas gunung api Tersier-Resen dari gunung Agung (3.142 mdpl). Sungai-sungai yang bermuara umumnya bersifat sub radial karena pengaruh gelombang dan arus laut lebih dominan dari arus sungai, maka beberapa sungai mengalir sejajar dengan garis pantai (spit) sebelum bermuara ke laut. Pengaruh endapan sungai dan gunung api menyebabkan pesisir timur laut Bali memiliki sedimen pasir hitam, kerakal dan bongkah yang terbentuk oleh proses-proses vulkanik. Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui zona wilayah pesisir yang rentan terhadap perubahan iklim di timur laut Bali. Metode penelitian yang digunakan yaitu dengan Indeks Kerentanan Pesisir (IKP) dimana data-data yang digunakan terdiri dari data geospasial dan data oseanografi yang diolah menjadi angka-angka secara kuantitatif. Hasil analisa data penelitian menunjukkan, pesisir timur laut Bali dikategorikan sebagai wilayah dengan kerentanan pesisir sedang – sangat tinggi, dimana dari 20 titik pengamatan dengan panjang garis pantai ± 60 km memperlihatkan hasil IKP untuk Profil 3 dan 9 memiliki kerentanan sangat tinggi ( > 4), sedangkan untuk Profil 1, 2, 4, 5, 6, 7, 8, 11, 12, 13, 14, 16, 17, 18, 19, dan 20 memiliki kerentanan tinggi (3 – 4), dan Profil 10, 15 memiliki kerentanan sedang (2 – 3).Kata kunci: kerentanan pesisir, perubahan iklim, timur laut BaliABSTRACTIn general, morphology of the northeastern coast of Bali is categorized as "Mountainous Coast" which is a coastal that was formed by volcanic activity Tersier-Resen from Mount Agung (3.142 mdpl).The rivers that empties to the sea generally in a sub radial form due to the influence of waves and ocean currents are more dominant than the rivers, hence several rivers flowi parallelly toward the coastline (spit) before emptying into the sea. Effect of stream sediment and volcanic cause the northeastern coastal Bali contains black sand sediment, gravel and boulders were formed by volcanic processes. The purpose of this study was to determine the coastal zone areas in the Northeastern Bali that are vulnerable to climate change. The method used was a Coastal Vulnerability Index (CVI) where the data used consisted of geospatial and oceanographic data that were processed into quantitative figures. Results of analyses shows that the northeastern coastal Bali categorized as coastal regions with moderate to very high vulnerability. Among the 20 observation points along ± 60 kms coastline,the CVI in Profile 3 and 9 show a very high vulnerability (> 4), while CVI at Profile 1, 2, 4, 5, 6, 7, 8, 11, 12, 13, 14, 16, 17, 18, 19 and 20 show high vulnerability (3 – 4), and CVI at Profile 10, 15 show moderate vulnerabilities (2 – 3).Keywords: Coastal Vulnerability, Climate Change, Northeastern Bal