Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

Peran Kota Kecil Dalam Perkembangan Wilayah Pada Koridor Jalan Regional Semarang - Yogyakarta Hidayati, Solikhah Retno
JURNAL PEMBANGUNAN WILAYAH & KOTA Vol 11, No 4 (2015): JPWK Vol 11 No 4 December 2015
Publisher : Magister Pembangunan Wilayah dan Kota,Undip

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (997.467 KB) | DOI: 10.14710/pwk.v11i4.11602

Abstract

The small towns development are becoming an important issue in regional development. They should be able to hold their role as a service center for their upper region and hinterland. It is no exception in Joglosemar corridor.Yogyakarta, Solo, and Semarang, has now been developing as economic center in Java. The role of small towns among them has been decreased because of the big city primacy. This study aim to identify how the small towns hold their role in Semarang-Yogyakarta corridor. The role are viewed from spatial and economic aspect. The indicator of spatial aspect are urban primacy (Zipf’s rank-size rule), polarization (population growth), and service center (centrality index). The economic indicators are regional disparity (Williamson index), economic base (LQ), and economic performance (shift and share). The regional area will be studied from two point of view, they are micro (among small towns and to the hinterland) and macro (to the kabupaten and province).
Pola Keruangan Daya Saing Komoditas Sawit di Pulau Kalimantan Solikhah Retno Hidayati; Widjonarko Widjonarko
REKA RUANG Vol 3 No 2 (2020): Reka Ruang
Publisher : Institut Teknologi Nasional Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33579/rkr.v3i2.2143

Abstract

Pulau Kalimantan sebagai salah satu pulau terluas di Indonesia, memiliki potensi sumber daya lahan dan sumber daya air yang berlimpah. Keberadaaan sumber daya lahan dan sumber daya air menjadi satu keuntungan untuk pengembangan pertanian, khususnya tanaman yang cocok untuk tumbuh pada karakter tanah dengan kandungan gambut tinggi. Salah satu tanaman yang dapat tumbuh dengan baik adalah Sawit. Sawit Kalimantan memiliki peran strategis secara nasional dan menyumbang 25% dari total produk sawit nasional. Perkebunan sawit telah berkembang pada hampir seluruh daerah otonom di Pulau Kalimantan. Untuk mendukung keberlanjutan sistem produksi dan nilai tambah dalam jangka panjang maka penting dilakukan pemetaan daya saing komoditas sawit pada tiap wilayah di Pulau Kalimantan. Hasil kajian menunjukkan bahwa kabupaten di wilayah Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Timur memiliki daya saing yang cukup kuat. Satu hal yang perlu menjadi perhatian adalah wilayah hulu mulai berkembang aktivitas sawit yang berdaya saing. Kondisi ini dikhawatirkan akan memberikan eksternalitas terhdap lingkungan hidup di Pulau Kalimantan. Pemetaan daya saing secara keruangan diharapak dapat menjadi pijakan dalam pengembangan industri turunan berbasis Sawit yang berkelanjutan di Pulau Kalimantan.
Aksesbilitas Pusat-Pusat Kegiatan Di Yogyakarta Terhadap Bandara Adisujipto Hidayati, Solikhah Retno Hidayati; Iwan Aminto Ardi
Jurnal Plano Buana Vol 1 No 1 (2020): Jurnal Plano Buana (Edisi Oktober 2020)
Publisher : Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota, Universitas PGRI Adi Buana Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (354.48 KB) | DOI: 10.36456/jpb.v1i1.2668

Abstract

Abstrak Bandara merupakan salah satu pintu masuk manusia sebagai pelaku kegiatan, serta barang dan jasa yang akan didistribusikan ke seluruh pusat-pusat kegiatan di suatu wilayah. Aksesibilitas antara pusat kegiatan dengan bandara merupakan salah satu faktor penting dalam mendukung kelancaran aktivitas tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aksesibilitsa pusat-pusat kegiatan di DIY terhadap Bandara Adisutjipto. Aksesibilitas adalah pencapaian dari pusat-pusat kegiatan terhadap Bandara Adisutjipto. Pusat kegiatan yang dipilih adalah pusat kegiatan wilayah (PKW) di DIY, yaitu sejumlah 13 (tigabelas) pusat kegiatan. Me ode yang digunakan dalam panellation ini adalah metode analysis qualitative. Aksesibilitas diukur menggunakan variabel mobilitas dan pencapaian dengan menggunakan moda angkutan taksi online, berdasarkan pertimbangan bahwa taksi online adalah kendaraan yang paling banyak digunakan oleh penumpang bandara Adisujipto ke seluruh wilayah DIY. Variabel mobilitas meliputi 4 (empat) indikator, aitu ketersediaan, kecepatan, frekuensi, dan biaya. Variabel pencapaian memiliki dua indikator, yaitu jarak dan kepadatan bangunan. Metode analysis yang digunakan adalah analysis pengelompokan menggunakan alat analysis cluster. Aksesibilitas diklasifikan menjadi dua kelompok, yaitu kelompok pusat kegiatan yang memiliki aksesibilitas tinggi dan rendah. Hasil analysis menunjukkan bahwa dare 10 dari 13 pusat kegiatan masuk dalam kelompok dengan aksesibilitas tinggi, yaitu Sleman, Bantul, Mlati, Ngaglik, Kasihan, Sewon, Banguntapan, Godean, Piyungan, dan Prambanan. Pusat kegiatan dengan aksebilitas rendah Adalah Wates, Wonosari, dan Srandakan. Jarak dan biaya memiliki signifikani 0,000, yang berarti bahwa kedua indikator ini memberikan perbedaan yang nyata pada pengelompokan aksesibilitas Kata Kunci: Aksesibilitas, Bandara, Pusat kegiatan
Mesin Pemeras Rimpang dan Pemasaran Online untuk Usaha “Jamu Mbak Sri” Kadisoka, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta Solikhah Retno Hidayati; Novi Maulida Ni’mah; Hasta Kuntara
Jurnal Pengabdian Multidisiplin Vol. 1 No. 1 (2021): Jurnal Pengabdian Multidisiplin
Publisher : Kuras Institute & Scidac Plus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (497.112 KB) | DOI: 10.51214/japamul.v1i1.82

Abstract

Usaha jamu Mbak Sri adalah usaha yang didirikan oleh Bapak Sutadi pada tahun 2004. Lokasi usaha ini di Dusun Kadisoka, Purwomartani, Kalasan, Sleman, DIY. Pembuatan jamu dilakukan secara tradisional, dan pemasaran dilakukan dengan cara berjualan keliling di wilayah dekat tempat usaha. Moda transportasi yang digunakan adalah motor dan sepeda. Dalam sehari, pendapatan kotor dari penjualan jamu rata-rata Rp. 200.000,00 – Rp. 300.000,00. Usaha jamu ini memiliki 2 masalah utama. Permasalahan pertama adalah proses produksi manual sehingga higienitas produk tidak terkontrol dan produksi terbatas. Permasalahan kedua adalah pemasaran terbatas sistem penjualan masih konvensional. Solusi untuk mengatasi permasalahan yang diterapkan dalam usaha jamu Mbak Sri berupa pembuatan mesin pemeras rimpang untuk membantu proses produksi dan pemanfaatan platform penjualan online untuk memperluas pasar. Metode yang dilakukan adalah pembuatan alat, pelatihan dan pendampingan. Kegiatan pertama yang dilakukan adalah peningkatan kapasitas produksi melalui pembuatan mesin pemeras rimpang jamu berkecepatan rendah dan pelatihan produksi jamu higienis. Kegiatan ke-2 adalah peningkatan kapasitas pemasaran melalui kegiatan pembuatan logo, pembaharuan kemasan jamu, perbaikan fasilitas penjualan keliling, dan metode penjualan online. Hasil dari kegiatan pengabdian kepada masyarakat peningkatan produksi hingga 33,3%, peningkatan pendapatan hingga 39% per bulan.
Penerapan Teknologi untuk Peningkatan Produktivitas dan Pemasaran Criping Pisang Kelompok Wanita Tani Soka Makmur Anita Susiana; Ratna Kartikasari; Solikhah Retno Hidayati
Jurnal Pengabdian Multidisiplin Vol. 1 No. 3 (2021): Jurnal Pengabdian Multidisiplin
Publisher : Kuras Institute & Scidac Plus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (923.253 KB) | DOI: 10.51214/japamul.v1i3.142

Abstract

Usaha criping pisang Kelompok Wanita Tani (KWT) Soka Makmur mulai dijalankan pada tahun 2018. Tempat usaha criping pisang terletak di Dusun Kadisoka, Desa Purwomartani, Kecamatan Kalasan, Kabupaten Sleman. Pembuatan criping pisang rutin berproduksi setiap bulan. Namun sejak ada Pandemi Covid-19, produksi kripik pisang berhenti total selama hampir 4 bulan. Dengan berhentinya produksi, berarti pula penghasilan anggota KWT Soka Asri berkurang. Permasalahan pertama adalah keterbatasan pasar, karena selama ini criping pisang lebih banyak dipasarkan melalui grup whatsapp yang dimiliki oleh anggota, dan sebagian kecil dititipkan ke toko-toko oleh-oleh. Permasalahan kedua adalah proses produksi yang masih konvensional, sehingga hanya mampu menerima pesaranan dalam jumlah yang terbatas. Solusi yang diterapkan untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah pelatihan pemasaran online dan penerapan teknologi untuk meningkatkan kualitas produk. Hasil dari kegiatan ini adalah peningkatan kapasitas pelaku usaha dan peningkatan kualitas produksi criping pisang. Setelah intervensi teknologi dalam kegiatan pengolahan criping pisang, ada peningkatan dalam kapasitas produksi berupa peningkatan frekuensi produksi. Semula, ibu-ibu anggota KWT Soka Makmur hanya mampu memproduksi criping satu kali dalam sebulan. Sekarang, kapasitas produksi meningkat menjadi hamper empat kali dalam satu bulan. Peningkatan pengetahuan melalui kegiatan pelatihan yang diikuti oleh anggota KWT Soka Makmur menghasilkan perluasan pasar. Pesanan criping pisang meningkat hingga 25% tiap kali produksi, sehingga tambahan penghasilan anggotanya juga meningkat.
Bencana Multi Bahaya Pada Daerah Aliran Sungai Kapuas, Kalimantan Barat Widjonarko Widjonarko; Iwan Aminto Ardi; Solikhah Retno Hidayati
REKA RUANG Vol 4 No 2 (2021): Reka Ruang
Publisher : Institut Teknologi Nasional Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33579/rkr.v4i2.2756

Abstract

Daerah Aliran Sungai (DAS) merupakan satu kesatuan ekosistem yang kompleks. Keberadaan ekosistem mempengaruhi sistem aktivitas mahluk hidup didalamnya. Salah satu peran penting ekosistem DAS adalah mengatur siklus hidrologi.Apabila ekosistem DAS terganggu maka akan berpengaruh terhadap siklus hidrologi dan dampaknya bagi masyarakat di sepanjang DAS. DAS Kapuas merupakan daerah aliran sungai terpanjang di Indonesia dengan panjang aliran sungai mencapai 1143 km membentang dari Kabupaten Kapuas Hulu hingga Kabupaten Mempawah dan Kota Pontianak di Hilir. Dinamika ekosistem pada DAS Kapuas seiring dengan perkembangan aktivitas perkebunan monokultur dan juga dinamika iklim menjadikan ancaman bahaya pada DAS Kapuas Meningkat. Bencana yang dipicu oleh aspek hidrometeorologi telah menjadi satu bencana rutin yang harus dihadapi oleh masyarakat pada sepanjang DAS. Wilayah dengan potensi ancaman bencana multibahaya sedang hingga tinggi terdapat pada daerah-daerah tengah dan hilir DAS yang mendapatkan intervensi manusia. Bencana yang memberikan kontribusi terbesar adalah bencana banjir. Kawasan permukiman di sepanjang aliran Sungai Kapuas dan anak-anak sungainya merupakan kawasan yang paling rentan terdampak bencana banjir tersebut.
Aksesbilitas Pusat-Pusat Kegiatan Di Yogyakarta Terhadap Bandara Adisujipto Solikhah Retno Hidayati Hidayati; Iwan Aminto Ardi
Jurnal Plano Buana Vol 1 No 1 (2020): Jurnal Plano Buana (Edisi Oktober 2020)
Publisher : Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota, Universitas PGRI Adi Buana Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36456/jpb.v1i1.2668

Abstract

Abstrak Bandara merupakan salah satu pintu masuk manusia sebagai pelaku kegiatan, serta barang dan jasa yang akan didistribusikan ke seluruh pusat-pusat kegiatan di suatu wilayah. Aksesibilitas antara pusat kegiatan dengan bandara merupakan salah satu faktor penting dalam mendukung kelancaran aktivitas tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aksesibilitsa pusat-pusat kegiatan di DIY terhadap Bandara Adisutjipto. Aksesibilitas adalah pencapaian dari pusat-pusat kegiatan terhadap Bandara Adisutjipto. Pusat kegiatan yang dipilih adalah pusat kegiatan wilayah (PKW) di DIY, yaitu sejumlah 13 (tigabelas) pusat kegiatan. Me ode yang digunakan dalam panellation ini adalah metode analysis qualitative. Aksesibilitas diukur menggunakan variabel mobilitas dan pencapaian dengan menggunakan moda angkutan taksi online, berdasarkan pertimbangan bahwa taksi online adalah kendaraan yang paling banyak digunakan oleh penumpang bandara Adisujipto ke seluruh wilayah DIY. Variabel mobilitas meliputi 4 (empat) indikator, aitu ketersediaan, kecepatan, frekuensi, dan biaya. Variabel pencapaian memiliki dua indikator, yaitu jarak dan kepadatan bangunan. Metode analysis yang digunakan adalah analysis pengelompokan menggunakan alat analysis cluster. Aksesibilitas diklasifikan menjadi dua kelompok, yaitu kelompok pusat kegiatan yang memiliki aksesibilitas tinggi dan rendah. Hasil analysis menunjukkan bahwa dare 10 dari 13 pusat kegiatan masuk dalam kelompok dengan aksesibilitas tinggi, yaitu Sleman, Bantul, Mlati, Ngaglik, Kasihan, Sewon, Banguntapan, Godean, Piyungan, dan Prambanan. Pusat kegiatan dengan aksebilitas rendah Adalah Wates, Wonosari, dan Srandakan. Jarak dan biaya memiliki signifikani 0,000, yang berarti bahwa kedua indikator ini memberikan perbedaan yang nyata pada pengelompokan aksesibilitas Kata Kunci: Aksesibilitas, Bandara, Pusat kegiatan