Beatriks Novianti Kiling-Bunga, Beatriks Novianti
Universitas Nusa Cendana

Published : 10 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : Jurnal Psikologi Ulayat: Indonesian Journal of Indigenous Psychology

DESCRIPTION OF PROSOCIAL BEHAVIOR IN YOUNG CHILDREN WITH INTELLECTUAL DISABILITY IN EAST NUSA TENGGARA Kiling-Bunga, Beatriks Novianti; Ngawas, Kresensia Wea Aga; Kiling, Indra Yohanes
Jurnal Psikologi Ulayat: Indonesian Journal of Indigenous Psychology Vol 3, No 1 (2016): Jurnal Psikologi Ulayat
Publisher : Konsorsium Psikologi Ilmiah Nusantara (KPIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (279.81 KB) | DOI: 10.24854/jpu12016-55

Abstract

Abstract — World Health Organization and United Nations Children’s Fund have stated in year 2012 that one of their global agenda is to fulfill the needs of inclusive Early Childhood Care and Development (ECCD) to increase the participation and development of young children with disabilities. One of important things for the agenda are understanding various special needs of young children with various kind of mental disability, such as mental retardation or nowadays known as intellectual disability. This research aims to narratively describe the prosocial behaviors of a young child with intellectual disability in special school of Pembina Kupang, East Nusa Tenggara. This research used qualitative approach with child observation and interview to the parents as the main technique to gather data. This research shows that prosocial behaviors in young children with intellectual disability are divided into four aspects, those are: a) the ability to join groups, b) supportive acts, c) empathy and caring, and d) self-adjustment. These behaviors were shown in the child’s daily activities, her habits, affected by the culture and daily activities of her parents and siblings, and also by the interaction with her friends and family. This research could give important information about the importance of managing the social interaction in inclusive ECCD by putting emphasis in four aspects described above, and also the role of parents and ECCD tutors in facilitating activities that could help stimulate specific needs of social skills in young children with intellectual disability. Abstrak — World Health Organization dan United Nations Children’s Fund telah menyatakan pada tahun 2012 bahwa agenda global mereka adalah untuk memenuhi kebutuhan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) inklusif, salah satunya untuk meningkatkan partisipasi dan perkembangan anak-anak dengan disabilitas. Salah satu hal penting untuk agenda ini adalah pemahaman terhadap berbagai kebutuhan khusus anak-anak dengan berbagai jenis disabilitas mental, seperti retardasi mental atau saat ini dikenal sebagai disabilitas intelektual. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan secara naratif mengenai perilaku prososial anak muda dengan disabilitas intelektual di sekolah khusus Pembina Kupang, Nusa Tenggara Timur. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan melakukan observasi pada anak dan wawancara dengan orangtua, sebagai teknik utama untuk mengumpulkan data. Penelitian ini mendapatkan bahwa perilaku prososial pada anak-anak dengan disabilitas intelektual dibagi menjadi empat aspek, yaitu: a) kemampuan untuk bergabung dengan grup, b) tindakan yang mendukung perilaku prososial, c) empati dan peduli, serta d) penyesuaian diri. Perilaku ini ditunjukkan dalam kegiatan sehari-hari anak, kebiasaannya, dipengaruhi oleh budaya dan kegiatan sehari-hari dari orangtua dan saudaranya, juga oleh interaksi dengan teman-teman dan keluarganya. Penelitian ini dapat memberikan informasi penting tentang pengelolaan interaksi sosial dalam PAUD inklusif dengan menempatkan penekanan dalam empat aspek yang dijelaskan di atas, dan juga peran orangtua dan pengajar PAUD dalam kegiatan yang bisa membantu merangsang kebutuhan spesifik dari keterampilan sosial pada anak-anak dengan disabilitas intelektual.
COMMUNICATION SKILLS IN YOUNG CHILDREN WITH EMOTIONAL DISORDER IN KUPANG Kiling-Bunga, Beatriks Novianti; Halla, Oktovianus; Kiling, Indra Yohanes
Jurnal Psikologi Ulayat: Indonesian Journal of Indigenous Psychology Vol 3, No 1 (2016): Jurnal Psikologi Ulayat
Publisher : Konsorsium Psikologi Ilmiah Nusantara (KPIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (441.371 KB) | DOI: 10.24854/jpu12016-56

Abstract

Abstract — Young children with disabilities are a group that is prone to stigma and discrimination. Therefore, World Health Organization and United Nations Children’s Fund declared a global agenda in 2012 to address the needs of inclusive ECCD to improve the participation and development of young children with disabilities. In respond to that agenda, it is crucial to understand the particular needs of young children with emotional disorder such as their communication ability, before they can be included into inclusive ECCD service. This research aims to describe the communication skills of young child with emotional disorder in Kupang, Nusa Tenggara Timur. The participant in this study showed insignificant performance in verbal communication skills like linguistic content, structures and the use of language. Meanwhile in non verbal communication skills such as face expression, body gesture and hand gesture, the child showed considerable performance. The research method used qualitative method, which is direct observation to the child and interview to the subject’s parents. Parents and ECCD tutors should consider to set a communication-stimulating relationship in house and ECCD post to support the verbal skills development. The result of this study can give impact in the development of inclusive ECCD science in East Nusa Tenggara, also to aid future research in inventing best practice models in the field. Abstrak — Anak-anak penyandang disabilitas merupakan kelompok yang rentan terhadap stigma dan diskriminasi. Oleh karena itu, World Health Organization dan United Nations Children’s Fund menyatakan suatu agenda global pada tahun 2012 dengan tujuan untuk menangani kebutuhan PAUD inklusif, terutama pada peningkatan partisipasi dan perkembangan kebutuhan tersebut pada anak-anak penyandang cacat. Menanggapi agenda itu, hal pertama yang diperlukan adalah pemahaman akan kebutuhan pada  anak-anak berkebutuhan khusus, salah satunya anak dengan gangguan emosional, seperti pemahaman akan kemampuan komunikasi mereka, sebelum mereka dimasukkan ke dalam layanan inklusif. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran komunikasi anak-anak dengan gangguan emosional di Kupang, Nusa Tenggara Timur. Partisipan dalam penelitian ini menunjukkan kinerja yang tidak signifikan pada keterampilan komunikasi verbal seperti konten linguistik, struktur, dan penggunaan bahasa. Sementara itu dalam keterampilan komunikasi non-verbal seperti ekspresi wajah, gerakan tubuh, dan gerakan tangan, anak menunjukkan kinerja yang cukup. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif, dengan metode pengumpulan data dengan cara observasi langsung ke subjek dan wawancara kepada orangtua subjek. Orangtua dan guru PAUD harus mempertimbangkan untuk mengatur stimulus-stimulus yang berhubungan dengan pelatihan komunikasi di rumah dan setelah PAUD untuk mendukung pengembangan kemampuan verbal. Hasil penelitian ini bisa memberikan dampak dalam pengembangan wawasan pada PAUD inklusif di Nusa Tenggara Timur, juga untuk membantu penelitian di masa depan dalam menciptakan model-model praktis terbaik di lapangan.
MOTIF, DAMPAK PSIKOLOGIS, DAN DUKUNGAN PADA KORBAN PERDAGANGAN MANUSIA DI NUSA TENGGARA TIMUR Kiling, Indra Yohanes; Kiling-Bunga, Beatriks Novianti
Jurnal Psikologi Ulayat: Indonesian Journal of Indigenous Psychology Jurnal Psikologi Ulayat (Forthcoming)
Publisher : Konsorsium Psikologi Ilmiah Nusantara (KPIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (362.354 KB) | DOI: 10.24854/jpu02019-218

Abstract

Abstract – Female adults in East Nusa Tenggara (Nusa Tenggara Timur; NTT) are at risk to be victims of national and international human trafficking. This research describes the motives, psychological impacts, and supports perceived by adult female victims from NTT. Qualitative approach was applied with thematic analysis as the analysis method. Participants were five victims of human trafficking aged between 21 – 37 years old who have returned to NTT. It was found that participants were motivated to worked outside NTT due to economical, familial, and social reasons, while some other participants also reported being forced to work abroad. The perceived psychological impacts were maladaptive behaviors, deep sadness, helplessness, and being ashamed by stigma associated with being victims. Supports that were positively meaningful were the opportunity to share with other victims and to have a counseling sessions with mental health practitioners. Initiative to improve mental health services is indispensable as a base to combat human trafficking and to support victims.Abstrak — Wanita dewasa di Nusa Tenggara Timur (NTT) rentan terhadap kejahatan perdagangan manusia, baik dalam skala nasional maupun internasional. Penelitian ini mendeskripsikan tentang motif, dampak psikologis, dan dukungan yang dipersepsi oleh wanita dewasa dari NTT yang berhasil bertahan hidup dari pengalaman menjadi korban perdagangan manusia. Pendekatan kualitatif diaplikasikan dalam penelitian ini, dengan analisis tematik sebagai teknik analisis. Partisipan adalah lima orang wanita berusia antara 21–37 tahun yang dijadikan pekerja ilegal di luar NTT dan telah kembali ke NTT. Ditemukan bahwa motif yang mendorong partisipan untuk bekerja di luar NTT adalah motif ekonomi, keluarga, sosial, dan paksaan. Dampak psikologis yang dialami adalah perilaku maladaptif, rasa sedih yang mendalam dan tak berdaya, serta rasa malu oleh stigma. Dukungan yang dimaknai secara positif adalah kesempatan untuk berbagi semangat dengan sesama korban dan sesi konseling dengan praktisi kesehatan mental. Inisiatif untuk meningkatkan pelayanan kesehatan mental sangat dibutuhkan sebagai dasar untuk melawan perdagangan manusia dan untuk mendukung korban.