This Author published in this journals
All Journal Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan Psikologika : Jurnal Pemikiran dan Penelitian Psikologi Sosiohumaniora Jurnal RAP Psikoislamika : Jurnal Psikologi dan Psikologi Islam Humanitas: Indonesian Psychological Journal Intuisi Dharmakarya : Jurnal Aplikasi Ipteks Untuk Masyarakat Journal of Family Science Psikodimensia PSYMPATHIC Jurnal Intervensi Psikologi (JIP) Psikohumaniora: Jurnal Penelitian Psikologi Jurnal Pendidikan Usia Dini Biopsikososial: Jurnal Ilmiah Psikologi Fakultas Psikologi Universitas Mercubuana Jakarta Journal An-Nafs: Kajian Penelitian Psikologi AdBispreneur Jurnal Obsesi: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini Inquiry: Jurnal Ilmiah Psikologi PEMBELAJAR: Jurnal Ilmu Pendidikan, Keguruan, dan Pembelajaran Syntax Literate : Jurnal Ilmiah Indonesia Seurune: Jurnal Psikologi Unsyiah Journal of Psychological Science and Profession BBM (Buletin Bisnis dan Manajemen) Comm-Edu (Community Education Journal) International Journal of Community Service Learning EQIEN - JURNAL EKONOMI DAN BISNIS Performance Psikoislamedia : Jurnal Psikologi Jurnal Doktor Manajemen (JDM) Journal Psikogenesis PSYCHOPEDIA : Jurnal Psikologi Universitas Buana Perjuangan Karawang Al-Qalb : Jurnal Psikologi Islam Jurnal Penelitian Pendidikan, Psikologi Dan Kesehatan (J-P3K) Psyche: Jurnal Psikologi Dinamika Kerajinan dan Batik : MAJALAH ILMIAH Jurnal PkM (Pengabdian kepada Masyarakat) Personifikasi: Jurnal Ilmu Psikologi BULETIN BISNIS & MANAJEMEN (BBM) Psycho Idea
Claim Missing Document
Check
Articles

PENGARUH EMOTIONAL CAPITAL TERHADAP INTENSI BERWIRAUSAHA PADA SISWA SETARA SMA DI JATINANGOR Anissa Lestari Kadiyono
Sosiohumaniora Vol 19, No 2 (2017): SOSIOHUMANIORA, JULI 2017
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (466.565 KB) | DOI: 10.24198/sosiohumaniora.v19i2.12071

Abstract

Pendidikan kewirausahaan sebagai salah satu mata pelajaran wajib bagi siswa setara SMA dalam Kurikulum 2013 bertujuan untuk memberikan bekal bagi pelajar untuk dapat berwirausaha karena wirausaha inilah yang dapat membuat bangsa ini menjadi mandiri dan sejahtera. Implementasinya berbeda-beda pada SMA, SMK, maupun MA. Selaku remaja, tahap eksplorasi karir dilalui dengan adanya stimulasi lingkungan dan pendidikan. Situasi emosi yang dimiliki oleh siswa selayaknya dikembangkan menjadi kompetensi emosional yang dapat dimanfaatkan dalam memanfaatkan kapasitas kognitif, personal, sosial, maupun pengembangan ekonominya yang terdiri atas sub facet kompetensi personal dan sub facet kompetensi sosial. Stimulasi pendidikan ini diharapkan dapat meningkatkan intensi siswa dalam berwirausaha. Penelitian dilakukan pada siswa kelas XII pada SMA negeri, swasta, SMK, dan MA di Jatinangor. Total responden sebanyak 496 orang dengan menggunakan teknik cluster random sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam perkembangan individu, khususnya remaja yang sangat dipengaruhi oleh emosi, akan mendorong pentingnya modal emosional agar dapat mendorong munculnya intensi wirausaha pada individu. Modal emosional terbentuk dengan sumbangan kompetensi Sosial yang lebih besar, dibandingkan dengan kompetensi Personal. Dengan demikian, pendidikan kewirausahaan dan stimulasi lingkungan akan lebih mampu mengembangkan modal emosional siswa berupa kesiapan mental serta sikap positif terhadap wirausaha, yang sebaiknya tidak hanya dari sekedar menumbuhkan keterampilan, kemampuan, keahlian, ataupun jaringan yang sebaiknya dimiliki siswa namun juga aspek softskill yang dibutuhkan dalam mempersiapkan penciptaan pewirausahawan-pewirausahawan baru di masa yang akan datang.
STRESS DAN COPING STRATEGY KARYAWAN DI MASA PANDEMI COVID-19 Tria Annisa; Anissa Lestari Kadiyono
Eqien - Jurnal Ekonomi dan Bisnis Vol 10 No 2 (2022): EQIEN - JURNAL EKONOMI DAN BISNIS
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Dr Kh Ez Mutaqien

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (333.712 KB) | DOI: 10.34308/eqien.v10i2.456

Abstract

The corona virus or Covid-19 has spread to all corners of the world including Indonesia in a fast time. In an effort by the government to minimize the spread, a work from home policy was adopted. But not so with Social Security Program Company which is engaged in services. This study aims to conduct an analysis of stress and coping strategies that can provide benefits in the form of an understanding of how employees of Social Security Program Company gave an assessment of the necessity of working in an office during the pandemic. Cognitive understanding of stress conditions and coping strategies that will be done will contribute to the company on how employees assess the necessity of working in pandemic conditions. A total of two employees were offered semi-structured research. The data obtained were analyzed by coding. The results of the study said that working in an office causes stressful conditions for employees. Employees coping strategy to solve it. More employees use problem focused coping than emotional focused coping. One respondent used the positive reappraisal process in dealing with stressful conditions.
JOB PERFORMANCE DITINJAU DARI IKLIM ORGANISASI DAN CULTURAL VALUE SUKU BATAK Harding, Diana; Agustiani, Hendriati; Kadiyono, Anissa Lestari; Simarmata, Nenny Ika Putri
Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan Vol 5, No 1 (2017)
Publisher : University of Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1101.565 KB) | DOI: 10.22219/jipt.v5i1.3839

Abstract

Tulisan ini merupakan hasil dari penelitian awal yang dilakukan oleh peneliti tentang Job performance pada pegawai pemerintah di 2 Kabupaten di Sumatera Utara.   Penelitian ini  menganalisis pengaruh iklim organisasi terhadap job performance. Teknik pengumpulan data menggunakan angket model rating scale dengan skor yang terentang antara 1 sampai dengan 4. Responden adalah 115 orang  Pegawai Negeri Sipil di Kabupaten Humbahas dan Kabupaten Tobasa. Teknik analisis data menggunakan regresi. Hasil penelitian menunjukkan iklim organisasi memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap job performance. Penelitian dengan pendekatan kualitatif juga dilakukan dengan menggunakan metode wawancara untuk menggali persepsi  pegawai pemerintah mengenai konsep 3H. Peneliti menemukan bahwa  nilai yang selama ini dianut oleh masyarakat suku Batak yaitu nilai ?kekayaan, anak, kehormatan? (Hamoraon, Hagabeon, Hasangapon ? 3H) telah dijadikan falsafah dan menjadi cita-cita setiap masyarakat suku Batak secara turun menurun. Peneliti melihat bahwa nilai 3H ini menjadi pendorong bagi semangat kerja masyarakat suku Batak sehingga akhirnya rela bekerja keras demi meraih 3H. Hal ini tentu saja berkontribusi terhadap meningkatnya job performance secara khusus dimensi contextual performance Pegawai Negeri Sipil Kata kunci: iklim organisasi, job performance, cultural value, suku BatakAbstractThis is a preliminary research about job performance on government office in the District of North Sumatera. This research was conducted at 2 regency in North Sumatra, that is Humbahas and Samosir. This study also analyzes the influence of organization climate on job performance. A climate organization and  job performance questionnaire were used as measuring instruments with a score between 1 and 4. The respondents were 115 people. Data were analyzed using regression. The results showed that organizational climate had a positive and significant effect on job performance. Researchers also found that the value of  Bataknese people which is "wealth, children, honor" (Hamoraon, Hagabeon, Hasangapon - 3H) was used as the philosophy and the ideals of any society from one generation to the Bataknese. The researchers noticed that the this value  become a booster to work hard in order to achieve 3H. This might be have a contribution to the increase of  job performance specially in government employees?s contextual performance. Keywords: climate organization, job performance, cultural value, Bataknice
Profil Pemimpin Publik: Studi Deskriptif mengenai Kepemimpinan pada Generasi Milenial Anissa Lestari Kadiyono; Gianti Gunawan
Psympathic : Jurnal Ilmiah Psikologi Vol 7, No 1 (2020): PSYMPATHIC
Publisher : Fakultas Psikologi, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/psy.v7i1.7769

Abstract

The objective of this research is to describe the type of Indonesian leader expected by millennials based on the exploration of task, relationship, and change orientation. Millennials are currently reaching 30% of the Indonesian population. Their voices can determine what kind of leaders that are expected to lead Indonesia. This research is a quantitative method with a survey technique. The sampling method conducted using convenience sampling and there are 275 respondents who are millennial beginner voters, consisting of students from 26 universities spread across Indonesia. The results show that the value that should be in the leader according to millennials is leaders who showed the real work, responsible, and decisive person. The change orientation shows a higher domination compared to the orientation of the task orientation and relationship orientation.
MENEMUKAN KESEJAHTERAAN PSIKOLOGIS DIBALIK PROFESI DOSEN : PSYCHOLOGICAL CONTRACT SEBAGAI SALAH SATU PREDIKTOR TERCAPAINYA PSYCHOLOGICAL WELL BEING PADA DOSEN Rezki Ashriyana Sulistiobudi; Anissa Lestari Kadiyono; Megawati Batubara
HUMANITAS: Indonesian Psychological Journal Vol 14, No 2: August 2017
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (530.175 KB) | DOI: 10.26555/humanitas.v14i2.6042

Abstract

Profession as lecturer has the specific characteristic and responsibilities in running Tridharma Perguruan Tinggi, which is to conduct education, research, and community service. Role as a lecturer is very important in promoting next generation to better future. This study aims to determine how the influence of the psychological contract on the psychological well-being of lecturers in educational institutions. The psychological contract is formed on the belief that the organization's employees will appreciate the contribution and to meet expectations. This belief will create positive work experiences and form a psychological sense of security. The realization of the psychological contract can bring balance and harmony at employees in the work, optimizing organizational productivity, building a good relationship between the employee and the organization, and minimize conflict and social inequality in organization. This condition is identical to the psychological well-being. The results showed that there is a low gap on transactional contract and relational contract. It can be said that perceived fulfillment is not optimal in a few aspects. On the dimension of psychological wellbeing, lecturers perceive that personal growth and personal life that provide the greatest contribution. The result of the influence of the psychological contract and psychological wellbeing show that there is significant influence, which means that the lower the gap fulfillment of obligations by the institution will have an impact on increasing positive feelings of the individual. This will lead to the attainment of the psychological well-being of lecturers. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pengaruh kontrak psikologis terhadap kesejahteraan psikologis pada tenaga pendidik di institusi pendidikan. Hubungan timbal balik atau kontrak psikologis terbentuk dari keyakinan karyawan bahwa organisasi akan menghargai kontribusi dan memenuhi harapannya. Keyakinan ini akan menciptakan pengalaman kerja yang positif dan membentuk rasa aman secara psikologis. Terwujudnya kontrak psikologis dapat memunculkan keseimbangan, keselarasan, keserasian, kelancaran karyawan dalam bekerja, kemajuan organisasi, hubungan yang baik antara karyawan dan organisasi, serta meminimalisir munculnya konflik dan kesenjangan sosial. Kondisi ini identik dengan kesejahteraan psikologis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara psychological contract dan psychological well being. Rendahnya gap antara kebutuhan dan pemenuhan baik pada transactional dan relational contract bermakna rendahnya psychological contract breach yang dirasakan oleh dosen. Semakin rendah tingkat pengingkaran yang dirasakan maka akan semakin tinggi tingkat psychological well being mereka. Hal ini akan berdampak pada peningkatan perasaan yang lebih positif. Dosen merasa bahwa faktor personal growth dan personal life lah yang memberikan kontribusi terbesar terhadap kesejahteraan psikologis mereka. 
Menumbuhkan Keterlibatan Positif dalam Bekerja: Melalui Iklim Kompetisi ataukah Pengembangan Kompetensi? Sulistiobudi, Rezki Ashriyana; Kadiyono, Anissa Lestari
Psikohumaniora: Jurnal Penelitian Psikologi Vol 2, No 1 (2017)
Publisher : Fakultas Prsikologi dan Kesehatan, Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/pjpp.v2i1.1273

Abstract

Abstract: The implementation of motivational climate to encourage achievement and performance has been discussed over decades but the existing research is still limited to academic, educational and sports contexts. This research discussed about motivational climate in the context of work with the approach of industrial and organizational psychology and its relationship to employee’s work engagement. Specifically, this research puts motivational climate as a resource in the framework of JDR-Model (Job Demand Resource Model) which helps employees in facing job challenges so that they feel more engaged in their work. This research was conducted on 76 employees in one of the SOEs (Stated Owned Enterprise) in West Java. Research approach through ex-post-facto study with multiple linear regression test. The result show that motivational climate significantly influence employee work engagement. Mastery climate as one dimension of motivational climate, plays a significant role to the positive engagement in work. In contrast, the performance of climate did not signifcantly related to work engagement. Thus, support system for self-development and program to improve employee ability can serve as a job resource that contributes to engagement. Climate to encourgages competitionn among employee should be aplied together with opportunity to self development. Therefore, practically, it is important to consider how employee development programs can be implemented in a continously and balanced manner rather than competition program merely.Abstrak: Penerapan motivational climate untuk mendorong iklim berprestasi dan performansi sudah sangat banyak dibahas bahkan berpuluh tahun sebelum ini. Hanya, penelitian yang ada masih terbatas pada konteks akademik, pendidikan dan bidang olahraga. Oleh karena itu, melalui penelitian ini akan dibahas mengenai motivational climate di konteks pekerjaan dengan pendekatan psikologi industri dan organisasi dan perannya terhadap work engagement karyawan. Secara spesifik, penelitian ini mendudukkan motivational climate sebagai resource dalam kerangka JDR-Model (Job Demand Resource Model) yang mem­bantu karyawan dalam menghadapi tantangan pekerjaan sehingga lebih merasa engaged dalam bekerja. Penelitian ini dilakukan terhadap 76 orang karyawan di salah satu BUMN di Jawa Barat. Pendekatan penelitian melalui ex-post-facto study dengan uji regresi linier berganda. Berdasarkan hasil tersebut, diperoleh hasil bahwa motivational climate berperan signifikan terhadap work engagement karyawan. Mastery climate sebagai salah satu dimensi dari motivational climate, berperan signifikan terhadap keterikatan positif dalam bekerja. Sebaliknya, performance climate ternyata tidak menunjukkan peran yang berarti. Dengan demikian, dukungan terhadap pengembangan diri dan kemampuan karyawan dapat berperan sebagai job resource yang berkontribusi untuk menumbuhkan perasaan engaged pada pekerjaannya. Jika iklim yang mendorong kompetisi antar karyawan diterapkan begitu saja tanpa dibarengi kesempatan pengembangan diri maka tidak akan berdampak pada engagement karyawan. Oleh sebab itu, secara praktis sebaiknya perusahaan mem­per­timbang­kan bagaimana program-program pengembangan kemampuan kerja dan pengembangan diri karyawan dapat diimplementasikan dengan berkesinambungan dan seimbang daripada hanya sekedar program kompetisi kerja semata. 
Teknik Yoga Sebagai Intervensi dalam Melakukan Anger Management pada Wanita Dewasa Awal Anissa Lestari Kadiyono; Febbyros Anmarlina
JIP (Jurnal Intervensi Psikologi) Vol. 8 No. 2 (2016)
Publisher : Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/intervensipsikologi.vol8.iss2.art3

Abstract

The purpose of this study is to examine the effect of yoga technique to improve anger management. The design of this study is a quasi-experimental method. The study compared two groups: group with yoga (n= 60) and no yoga (n = 60). Respondents aged between 20-40 years (M = 46.15, SD = 7.017). Data processing was performed with the Mann-Whitney U test on two groups of test criteria reject H0 if the pvalue <0.05. The results showed a p-value of 0.000, which means there was a difference anger management in women with yoga than those women without yoga. This research showed that yoga techniques becomes alternative way to manage angry emotions. Yoga helped anger management,calmminds, reduce stress, provide improved awareness and alertness of the body.Keyword : anger management, young adult, yoga techniques
Gambaran Orientasi Kewirausahaan Siswa SMA Ditinjau dari Variabel Demografi Tanjung, Firza Yusani; Kadiyono, Anissa Lestari
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 11, No 3 (2019): November 2019
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v11i3.22149

Abstract

Kenaikan angka angkatan kerja setiap tahunnya menimbulkan beberapa dampak, salah satunya peningkatan angka pengangguran jika tidak tersedia lapangan pekerjaan yang cukup. Salah satu cara untuk mengatasi hal tersebut adalah meningkatkan jumlah wirausahawan. Upaya untuk meningkatkan perilaku berwirausaha adalah menumbuhkan orientasi wirausaha yang akan mendorong individu untuk dapat memiliki motivasi berwirausaha. Orientasi berwirausaha sebaiknya ditumbuhkan sejak dini, yaitu sejak individu berada pada bangku sekolah. Gambaran orientasi wirausaha pada siswa SMA perlu untuk diketahui, sebagai bentuk tolak ukur upaya untuk menumbuhkan semangat wirausaha sejak dini telah berhasil. Metode penelitian yang dilakukan adalah metode penelitian kuantitatif dan sampling menggunakan simple randomized sampling untuk menentukan sampel dari populasi siswa SMA X di Sumedang. Penelitian ini melakukan tiga uji beda orientasi kewirausahaan dengan variabel demografi seperti orang tua yang berwirausaha, kelas dan jenis kelamin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis kelamin menunjukkan perbedaan yang signifikan (p=.042), sementara untuk orang tua yang berwirausaha (p=.077) dan perbedaan kelas (p=.060) tidak memiliki perbedaan signifikan. Hal ini menunjukkan bahwa pada siswa SMA, perempuan memiliki orientasi wirausaha yang lebih tinggi dibandingkan laki-laki meski keduanya masih berada pada level yang sama yaitu sedang. Dibutuhkan upaya yang lebih matang dalam meningkatkan orientasi wirausaha SMA karena secara internal, orientasi wirausaha siswa masih berada pada level menengah sehingga masih memerlukan peningkatan lebih lanjut.An increase in the labor force every year has several impacts, one of which is an increase in unemployment if there are not enough jobs available. One way to overcome this is to increase the number of entrepreneurs. Efforts to improve entrepreneurial behavior is to foster entrepreneurial orientation that will encourage individuals to have entrepreneurial motivation. Entrepreneurial orientation should be grown early, namely since individuals are in school. The description of entrepreneurship orientation in high school students needs to be known, as a form of measurement of efforts to foster entrepreneurial spirit early on has been successful. The research method used is quantitative research methods and sampling using simple randomized sampling to determine the sample of the population of high school students X in Sumedang. This study conducted three different tests of entrepreneurial orientation with demographic variables such as entrepreneurial parents, class and gender. The results showed that gender showed significant differences (p = .042), while for parents who were entrepreneurs (p = .077) and class differences (p = .060) did not have significant differences. This shows that in high school students, women have a higher entrepreneurial orientation than men even though both are still at the same level, that is, moderate. More mature efforts are needed in improving the orientation of high school entrepreneurs because internally, the entrepreneurial orientation of students is still at the middle level so it still needs further improvement. 
ORGANIZATIONAL CITIZENSHIP BEHAVIOUR UNTUK MEWUJUDKAN PENDIDIKAN BERKUALITAS DI SEKOLAH Diana Harding; Anissa Lestari Kadiyono; Rahma Talitha
Journal of Psychological Science and Profession Vol 4, No 1 (2020): Jurnal Psikologi Sains dan Profesi (Journal of Psychological Science and Profess
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (205.996 KB) | DOI: 10.24198/jpsp.v4i1.26467

Abstract

Pendidikan merupakan pilar utama dalam pembangunan dan kemajuan bangsa. Pendidikan yang berkualitas dapat terwujud dengan usaha dan upaya dari seluruh pihak/stakeholders, salah satunya adalah pada lembaga pendidikan itu sendiri yaitu sekolah. Pendidikan berkualitas penting untuk menciptakan sumber daya manusia yang kreatif, inovatif, produktif, dan dapat bersaing. Sekolah memiliki tuntutan untuk menciptakan generasi bermutu, berkualitas, dan berkarakter yang mampu bersaing, juga dapat mencetak siswa-siswinya memiliki potensi yang besar, dan juga harapan untuk dapat menjadi kebanggaan sekolah. Organizational Citizenship Behavior yang ditampilkan oleh guru adalah sebagai perilaku individual yang tidak secara langsung berhubungan dengan deskripsi pekerjaan dan tidak secara eksplisit mendapat penghargaan dari sistem imbalan formal dan secara keseluruhan mendorong keefektifan fungsi- fungsi organisasi. Dalam konteks sekolah, Organizational Citizenship Behavior ditemukan berperan terhadap prestasi siswa dan meningkatkan keefektifan sekolah, karena mereka membebaskan sumber daya untuk tujuan yang lebih produktif, membantu mengkoordinasikan kegiatan di dalam organisasi, dan lebih efektif terhadap perubahan lingkungan. Tujuan dari penelitian ini adalah memperoleh gambaran mengenai Organizational Citizenship Behavior yang terdiri dari lima dimensi yaitu altruism, courtesy, conscientiousness, civic virtue, dan sportsmanship pada guru. Metode penelitian ini dilakukan dengan penelitian deskriptif. Jumlah dari sampel penelitian ini adalah 62 orang guru. Berdasarkan pengukuran OCB kepada guru, dapat disimpulkan bahwa OCB pada guru berada dalam kategori cukup tinggi. Hal itu mengartikan bahwa guru memiliki kecenderungan yang tinggi untuk menampilkan perilaku diluar deskripsi pekerjaan yang mampu membuat sekolah menjadi lebih efektif dalam mewujudkan visi, misi, dan mencapai tujuannya
MENEMUKAN KESEJAHTERAAN PSIKOLOGIS DIBALIK PROFESI DOSEN : PSYCHOLOGICAL CONTRACT SEBAGAI SALAH SATU PREDIKTOR TERCAPAINYA PSYCHOLOGICAL WELL BEING PADA DOSEN Kadiyono, Anissa Lestari; Sulistiobudi, Rezki Ashriyana; Batubara, Megawati
HUMANITAS Vol 14, No 2: August 2017
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (530.175 KB) | DOI: 10.26555/humanitas.v14i2.6042

Abstract

Profession as lecturer has the specific characteristic and responsibilities in running Tridharma Perguruan Tinggi, which is to conduct education, research, and community service. Role as a lecturer is very important in promoting next generation to better future. This study aims to determine how the influence of the psychological contract on the psychological well-being of lecturers in educational institutions. The psychological contract is formed on the belief that the organization's employees will appreciate the contribution and to meet expectations. This belief will create positive work experiences and form a psychological sense of security. The realization of the psychological contract can bring balance and harmony at employees in the work, optimizing organizational productivity, building a good relationship between the employee and the organization, and minimize conflict and social inequality in organization. This condition is identical to the psychological well-being. The results showed that there is a low gap on transactional contract and relational contract. It can be said that perceived fulfillment is not optimal in a few aspects. On the dimension of psychological wellbeing, lecturers perceive that personal growth and personal life that provide the greatest contribution. The result of the influence of the psychological contract and psychological wellbeing show that there is significant influence, which means that the lower the gap fulfillment of obligations by the institution will have an impact on increasing positive feelings of the individual. This will lead to the attainment of the psychological well-being of lecturers. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pengaruh kontrak psikologis terhadap kesejahteraan psikologis pada tenaga pendidik di institusi pendidikan. Hubungan timbal balik atau kontrak psikologis terbentuk dari keyakinan karyawan bahwa organisasi akan menghargai kontribusi dan memenuhi harapannya. Keyakinan ini akan menciptakan pengalaman kerja yang positif dan membentuk rasa aman secara psikologis. Terwujudnya kontrak psikologis dapat memunculkan keseimbangan, keselarasan, keserasian, kelancaran karyawan dalam bekerja, kemajuan organisasi, hubungan yang baik antara karyawan dan organisasi, serta meminimalisir munculnya konflik dan kesenjangan sosial. Kondisi ini identik dengan kesejahteraan psikologis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara psychological contract dan psychological well being. Rendahnya gap antara kebutuhan dan pemenuhan baik pada transactional dan relational contract bermakna rendahnya psychological contract breach yang dirasakan oleh dosen. Semakin rendah tingkat pengingkaran yang dirasakan maka akan semakin tinggi tingkat psychological well being mereka. Hal ini akan berdampak pada peningkatan perasaan yang lebih positif. Dosen merasa bahwa faktor personal growth dan personal life lah yang memberikan kontribusi terbesar terhadap kesejahteraan psikologis mereka. 
Co-Authors Agustina Nurshinta Airin Triwahyuni Aji Samba Pranata Citra Aldinel Fikri Andriani, Endah Anjani, Sekar Ayu Ardiwinata, Maya Rosmayati Arfian Lakudra Usman Arief Budiarto Aulia Anisyah Fassa Batubara, Megawati Bella Saviera Chindy Y Subandrio Citra, Aji Samba Pranata Deliana, Serawanti Diana Harding Diana Harding Diana Harding Elsa Tamara Shalsabila Endah Andriani Endang Yuniarti Fami Oriza Fauziyyah Sholeha Tunnisa Fauziyyah Sholeha Tunnissa Febbyros Anmarlina Feby Satya Wirawati Feby Satya Wirawati Firmansyah, AF Mirza Gianti Gunawan Gianti Gunawan Gianti Gunawan Gloria Wilona Kawilarang Gunawan, Gianti Harumi, Kitara Hasiani, Ismeralda Putri Hendriati Agustiani Hendriati Agustiani, Hendriati Hery Susanto Hery Wibowo Intan Nurliawati Jupitawati, Ratna Karima Astari Kartika Nuradina Kitara Harumi Lisma Aisyatul Azizah Lita Oktaviani Marina Sulastiana Marina Sulastiana Marina Sulastiana Marina Sulastiana Marina Sulastiana Maya Rosmayati Ardiwinata Megawati Batubara Megawati Batubara Meilani Rohinsa Nenny Ika Putri Simarmata Nugraha, Yus Nur Annisa, Siti Fauziah Nurul Yanuarti Nyayu Nazihah Khairunnisa Olivia Margareth Simamora Pangestuti, Retno Rahma Talitha Rangga Alam Purnama Ratna Jupitawati Ratna Jupitawati Revina Hardiyanti Rezki Ashriyana Sulistiobudi Rezki Ashriyana Sulistiobudi rezki ashriyana sulistiobudi Rezki Ashriyana Sulistiobudi Rezki Ashriyana Sulistiobudi, Rezki Ashriyana Rizki Ananda Tiarga Sekar Afrila Miftakhul Jannah Sekar Ayu Anjani Sekar Ayu Anjani Sekar Ayu Anjani Serawanti Deliana Simarmata, Nenny Ika Putri Sulistiobudi, Rezki Ashriyana Sulistiobudi, Rezki Ashriyana Surya Cahyadi, Surya Susiati, Erna Tanjung, Firza Yusani Tiarga, Rizki Ananda Tria Annisa Triwahyuni, Atikah Tunnisa, Fauziyyah Sholeha Vianda Maulidina Widad Zahra Adiba Winbaktianur Winbaktianur Witriani Witriani Yuliana Hanami Yus Nugraha Yuyun Hidayat Zahra Purwajatnika Zahrotur Rusyda Hinduan