Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

Manual handling as risk factor of low back pain among workers Harrianto, Ridwan; Samara, Diana; Tjhin, Purnamawati; Wartono, Magdalena
Universa Medicina Vol 28, No 3 (2009)
Publisher : Faculty of Medicine, Trisakti University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18051/UnivMed.2009.v28.170-178

Abstract

Disorders of the musculoskeletal system constitute a considerable health problem in industrialized societies. Low back pain (LBP) remains a common and costly problem among the workers. Workplace injuries, primarily musculoskeletal disorders, are a persistent problem for nursing. A cross-sectional study was conducted to investigate prevalence of LBP as well as the potential risk factors associated with LBP. These potential risk factors include individual characteristics, job duration, type of work, and manual handling knowledge and practice. Seventy-six subjects consisting of 30 nurses and 46 administrative workers were recruited into the study. Symptoms of LBP cases were assessed by means of a simple questionnaire, and the diagnosis of LBP was confirmed by clinical examination. The study showed that the overall point prevalence rate of LBP was 42.1%, while the overall 12-month prevalence rate was 69.7%. Occupational group and manual handling practice were independent predictors for point prevalence of LBP. Nursing occupation significantly increased the risk of point prevalence rate of LBP by 2.703 (95% C.I. OR 1.046 – 6.984) compared to administrative workers. Nurses with frequent manual handling practice had a 2.917-fold higher risk of developing a point prevalence of LBP, although this risk was statistically not significant (OR=2.917;95% C.I. 0.094-3.003). The study indicates that an association exists between manual handling practice and LBP prevalence.
Musculoskeletal pain and posture decrease step length in young adults Rachmawati, Maria Regina; Samara, Diana; Tjhin, Purnamawati; Wartono, Magdalena; Bastian, Yefta
Universa Medicina Vol 28, No 2 (2009)
Publisher : Faculty of Medicine, Trisakti University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18051/UnivMed.2009.v28.92-99

Abstract

Pain of the musculoskeletal system, especially low back pain, is one of the most frequent problems with a high risk of disability. The aim of this research study was to determine the existence of an association between low back pain on one hand,  posture and step length on the other. This cross-sectional study was conducted on 77 healthy young adult subjects. Step length was measured with the Biodex Gait Trainer 2 (230 VAC). The study results indicate that 62.3% of the young adult subjects had suffered from low back pain. There was no significant association between gender and pain. In male subjects no significant association was found between pain on one hand and mean difference in step length and posture on the other. However, in female subjects with abnormal posture, there was a highly significant difference in left step length between subjects with back pain and those without (p=0.007).  The results of a multiple regression analysis indicate that posture has the greatest influence on left step length (B=4.135; 95% Confidence Interval 0.292-7.977). It is recommended that in the examination of low back pain an assessment be made of posture, step length and difference in step lengths.
Faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian Multi Drug Resistance Tuberkulosis (MDR-TB) Aristiana, Cynthia Devi; Wartono, Magdalena
Jurnal Biomedika dan Kesehatan Vol 1 No 1 (2018)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18051/JBiomedKes.2018.v1.65-74

Abstract

LATAR BELAKANGBerdasarkan data WHO Global Report 2016, Indonesia berada diperingkat ke-8 dari 27 negara dengan beban MDR-TB terbanyak di dunia. Terdapat 5.100 kasus MDR-TB yang terjadi di Indonesia yaitu 2,8 % dari kasus baru dan 16 % dari kasus TB yang mendapatkan pengobatan ulang. Banyaknya jumlah kasus MDR-TB yang terjadi melibatkan berbagai faktor yang terkait. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor resiko yang berpengaruh dengan MDR-TB. METODEPenelitian ini menggunakan metode observasional analitik dengan disain potong lintang yang dilakukan bulan November 2017-Januari 2018. Subjek penelitian adalah 88 pasien TB yang berobat di Puskesmas Kecamatan Kramat Jati, Kecamatan Makassar, Kecamatan Pasar Rebo, dan Kecamatan Ciracas. Pengambilan data menggunakan kuisioner dan status pasien TB. Analisis data dengan menggunakan uji chi-square dan uji fisher dengan nilai kemaknaan p<0,05 serta odd ratio untuk menentukan besar risiko antara variabel bebas dan variabel terikat. HASILMotivasi penderita (p=0,000; OR=47,500), kepatuhan minum obat (p=0,000; OR=10,733), konsumsi alkohol (p=0,000; OR=9,059), Kebiasaan merokok (p=0,000; OR=7,632), dan status gizi (p=0,005; OR=3,791) mempunyai hubungan yang bermakna dengan MDR-TB. KESIMPULANFaktor-faktor yang berhubungan dengan timbulnya MDR-TB antara lain kepatuhan minum obat, konsumsi alkohol, kebiasaan merokok dan status gizi.
Hubungan antara shift kerja, kelelahan kerja dengan stres kerja pada perawat Rhamdani, Indah; Wartono, Magdalena
Jurnal Biomedika dan Kesehatan Vol 2 No 3 (2019)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18051/JBiomedKes.2019.v2.104-110

Abstract

LATAR BELAKANGStres kerja merupakan stres yang timbul akibat tuntutan kerja yang melebihi kemampuan seseorang untuk mengatasinya sehingga menimbulkan berbagai macam reaksi fisiologis, psikologis, dan perilaku. Menurut PPNI (Persatuan Perawat Nasional Indonesia), pada tahun 2007 sebanyak 50.9% perawat di Indonesia mengalami stres kerja. Beberapa faktor penyebabnya adalah kelelahan dan waktu kerja yang berubah-ubah (shift kerja). Hasil penelitian terdahulu memperlihatkan bahwa hubungan antara shift kerja maupun kelelahan kerja dengan stres kerja pada perawat masih diperdebatkan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara shift kerja maupun kelelahan kerja dengan stres kerja pada perawat. METODEStudi ini merupakan penelitian observasional analitik dengan desain cross sectional pada 102 perawat di RSUD Asy-Syifa Sumbawa Barat. Cara pengambilan sampel berupa consecutive non random sampling. Data primer diperoleh dengan kuesioner data diri Kuesioner Alat Ukur Perasaan Kelelahan Kerja (KAUPK2) dan kuesioner stres kerja yang sudah divalidasi dengan nilai Alpha Cronbach antara 0.837-0.832 dan realibilitas 0.926. Analisis data menggunakan chi-square test dengan tingkat kemaknaan (p) <0.05. HASILTerdapat hubungan antara shift kerja (p=0.035), kelelahan kerja (p=0.022), jenis kelamin (0.037) dan status pernikahan (p=0.041) dengan stres kerja dan tidak ada hubungan antara usia dengan stres kerja (p=0.071). KESIMPULANTerdapat hubungan antara shift kerja, kelelahan kerja, jenis kelamin, dan status pernikahan dengan stres kerja pada perawat RSUD Asy-Syifa Sumbawa Barat. Akan tetapi usia tidak berkaitan dengan stres kerja.
Hubungan sikap tubuh saat bekerja dengan keluhan muskuloskeletal akibat kerja pada karyawan Salsabila, Queena Raihan; Wartono, Magdalena
Jurnal Biomedika dan Kesehatan Vol 3 No 4 (2020)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18051/JBiomedKes.2020.v3.169-175

Abstract

LATAR BELAKANG Gangguan muskuloskeletal akibat kerja adalah gangguan pada struktur muskuloskeletal pada leher, punggung, ekstremitas atas dan bawah yang disebabkan oleh mikro-trauma kumulatif akibat biomekanikal atau pajanan lain dari pekerjaan. Gangguan ini jarang mengancam jiwa, tetapi dapat meningkatkan absenteisme, menurunkan produktivitas kerja, menurunkan kualitas hidup, dan meningkatkan beban finansial. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan risiko sikap tubuh saat bekerja dengan timbulnya keluhan muskuloskeletal. Selain itu penelitian juga melihat faktor lain seperti masa kerja dan karakteristik jenis kelamin serta hubungannya dengan keluhan muskuloskeletal. METODEPenelitian menggunakan studi observasional analitik cross-sectional dengan jumlah responden 60 pekerja kantor. Risiko sikap kerja dinilai dengan menggunakan Rapid Upper Limb Assessment (RULA) dan keluhan muskuloskeletal dinilai dengan menggunakan Nordic Body Map (NBM). Selain itu juga dikumpulkan data tentang jenis kelamin dan masa kerja. Data yang dikumpulkan dianalisis dengan menggunakan uji Fisher. HASILHampir sebagian besar pekerja (91.7%) mengalami keluhan muskuloskeletal dan sebagian besar di antaranya adalah pekerja laki-laki (96.9%). Keluhan muskuloskeletal yang tinggi didapatkan pada pekerja yang sudah bekerja lebih dari 4 tahun (96.7%) dan juga pada pekerja dengan sikap kerja berisiko tinggi (90%) namun berdasarkan hasil uji statistik tidak didapatkan hubungan antara jenis kelamin, masa kerja dan tingkat risiko sikap tubuh dengan keluhan muskuloskeletal (p> 0.005). KESIMPULANPrevalensi keluhan muskuloskeletal pada pekerja kantor sangat tinggi demikian juga dengan tingkat risiko sikap tubuh saat bekerja. Pada penelitian ini tidak didapatkan hubungan antara risiko sikap tubuh, jenis kelamin dan masa kerja dengan keluhan muskuloskeletal. Dengan demikian perlu diteliti faktor-faktor lain yang mungkin menyebabkan keluhan ini. Walaupun tidak didapatkan hubungan yang bermakna, angka prevalensi yang tinggi ini perlu menjadi perhatian bagi perusahaan.
Hubungan antara beban kerja, besaran upah, dan stres kerja pada karyawan PT. HBSP Sarifa, Sarifa; Wartono, Magdalena
Jurnal Biomedika dan Kesehatan Vol 4 No 2 (2021)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18051/JBiomedKes.2021.v4.70-78

Abstract

LATAR BELAKANGPerkembangan dunia bisnis yang dinamis tentu berpengaruh terhadap tuntutan produktivitas kerja karyawan. Dalam menjalankan tugas mereka tidak jarang para karyawan mengalami stres kerja yang bisa diakibatkan oleh berbagai faktor antara lain beban kerja dan besaran upah kerja. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara beban kerja, besaran upah dengan stres kerja pada karyawan perusahaan pengelolaan limbah. METODEStudi cross-sectional pada 95 karyawan perusahaan pengelolaan limbah. Data sosiodemografi, lama kerja dan besaran upah dikumpulkan dengan kuesioner. Kategori beban kerja didapatkan dengan menghitung rumus persentase beban kardiovaskuler dan penilaian stres dengan mengunakan survei Health and Safety Executive (HSE). Analisis hubungan antara variabel dilakukan dengan uji Chi-square dan Kolmogorov-smirnov. HASILResponden paling banyak yang berusia 26-45 tahun (62.1%) dan didominasi oleh laki-laki (74.7%). Responden yang telah bekerja <5 tahun adalah 55.8% dan yang sudah menikah sebanyak 69.5%. Sebanyak 78.9% responden tidak menerima besaran upah yang sesuai dengan Upah Minimum Kota. Dalam hal beban kerja, sebanyak 49 responden termasuk kategori diperlukan perbaikan. Mayoritas responden mengalami stres sedang (72.6%). Tidak terdapat hubungan bermakna antara beban kerja dan kejadian stres kerja (p=0.758), dan terdapat hubungan yang bermakna antara upah terhadap stres kerja pada karyawan perusahaan pengelolaan limbah di Karawang (p=0.000). KESIMPULANPenelitian menunjukkan banyak karyawan yang mengalami stres dan didapatkan hubungan yang bermakna dengan besara upah tetapi tidak dengan beban kerja. Dengan demikian perusahaan perlu melakukan kajian terhadap sistem perupahan dan manajemen stres di tempat kerja.
EDUKASI DAN PENCEGAHAN TENTANG REPETITIVE STRAIN INJURY DI TEMPAT KERJA JAKARTA UTARA Wartono, Magdalena
Jurnal AKAL : Abdimas dan Kearifan Lokal Vol 3, No 1 (2022): Jurnal AKAL : Abdimas dan Kearifan Lokal
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25105/akal.v3i1.9801

Abstract

Gerakan repetisi dan/atau posisi kerja yang janggal bisa mengakibatkan cedera pada otot, saraf, ligamentum dan tendon baik sementara maupun permanen. Keadaan ini disebut sebagai Repetitive Strain Injury. Penelitian di salah satu perusahaan mineral dan tambang menunjukkan sebanyak 77% pekerja memiliki keluhan muskuloskeletal akibat gerakan repetisi. Para pekerja di salah satu perusahaan pembangkit listrik banyak yang terpajan dengan gerakan repetisi pada aktivitas pemeliharaan unit pembangkit, seperti gerakan memutar pergelangan tangan dan tidak jarang dari mereka mengelukan masalah yang berkaitan dengan muskuloskeletal. Oleh sebab itu pemahaman tentang repetitive strain injury, seperti gejala dan dampaknya, serta pelatihan untuk mengurangi atau mencegah timbulnya keluhan repetitive strain injury menjadi penting bagi para pekerja perusahaan ini dengan harapan dapat meningkatkan produktivitas kerja. Kegiatan dilakukan secara daring yang dihadiri oleh 98 orang. Kegiatan berupa edukasi (penyuluhan) disertai dengan pemutaran video tentang langkah-langkah meregangkan otot-otot tangan yang baik dilakukan sebelum bekerja agar otot-otot siap untuk diajak bekerja. Sebagai evaluasi pengetahuan peserta tentang repetitive strain injury, dilakukan pre-test dan post-test. Hasil menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan tentang posisi tubuh yang baik saat bekerja dari 78% menjadi 88% di post-test, demikian juga dengan pertanyaan mengenai cara pencegahan repetitive strain injury (68% menjadi 93%). Dengan demikian kegiatan edukasi tentang repetitive strain injurydan pencegahannya ini bermanfaat dalam meningkatkan pengetahuan dari pekerja.Kata kunci: repetitive strain injury; Gerakan repetisi; Hazard ergonomi
Community Service to Increase Awareness of the Importance of COVID-19 Vaccine Samara, Tjam Diana; Wartono, Magdalena; Tjhin, Purnamawati; Hairunisa, Nany; Briliant, Permaisonya
Jurnal AKAL : Abdimas dan Kearifan Lokal Vol 3, No 1 (2022): Jurnal AKAL : Abdimas dan Kearifan Lokal
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25105/akal.v3i1.9780

Abstract

The COVID-19 vaccine is one way among others to hasten the end the COVID-19 pandemic. That is why efforts to make all Indonesian people get this vaccine so that herd immunity is continuously encouraged. One way is to provide counselling about the COVID-19 vaccine so that people understand and are willing to be vaccinated.Therefore, the Medical Faculty of Trisakti University  in this community service program held counselling for members of the Harapan Indah church in the Ignatius Loyola area, Bekasi. The event will be held online with zoom) on March 28, 2021 with counselling and question and answer methods.The success of this counselling is that participants gain an understanding of the urgent of the COVID-19 vaccine and are not afraid to be vaccinated.