Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

Higher triglyceride serum level increases atherosclerotic index in subjects 50-70 years of age Mawi, Martiem; Chondro, Fransisca; Chudri, Juni
Universa Medicina Vol 34, No 3 (2015)
Publisher : Faculty of Medicine, Trisakti University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18051/UnivMed.2015.v34.205-212

Abstract

BackgroundAtherosclerosis, the underlying cause of heart attack, stroke and peripheral disease, is a main cause of morbidity and mortality worldwide. Hypercholesterolemia and hypertriglyceridemia are independent factors in the development and progression of atherosclerosis. The atherosclerotic index (AI) is a strong indicator of cardiovascular heart disease. The objective of this study was to determine the relationship between lipid serum level and AI in subjects 50-70 years of age. Methods A study of cross-sectional design was conducted among male and female subjects 50-70 years of age. The inclusion criteria were: healthy, and capable of active communication. The exclusion criteria were: subjects not completing the study, currently consuming antihyperlipidemic drugs. Lipid profile comprising total cholesterol, low density lipoprotein (LDL), high density lipoprotein (HDL), triglycerides, and malondialdehyde (MDA), was analyzed using commercial kits. Systolic and diastolic blood pressure and body mass index was measured in all subjects. Atherogenic index was calculated from (total cholesterol – HDL cholesterol) / HDL cholesterol. Multiple linear regression was used to analyze the data.Results Mean age of the subjects was 60.6 ± 3.30 years and there was a significant relationship of LDL cholesterol and triglycerides with AI (b=0.009; p=0.000 and b=0.008; p=0.000, respectively). Triglyceride level was the most influencing factor for AI (b=0.008; Beta=0.616; p=0.000)ConclusionsHigher triglyceride levels increase AI in subjects 50-70 years of age. Subjects with high serum triglyceride level but without symptoms of cardiovascular disease should be examined for the development of coronary artery blockage.
New tuberculosis vaccine to support tuberculosis elimination Chondro, Fransisca
Universa Medicina Vol 37, No 2 (2018)
Publisher : Faculty of Medicine, Trisakti University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18051/UnivMed.2018.v37.85-87

Abstract

The Sustainable Development Goals have prioritized ending the epidemic of tuberculosis by 2030.(1) Around one-third of the world population is infected with Mycobacterium tuberculosis (MTBC), but is asymptomatic, a conditon known as latent TB.According to the global tuberculosis report, in 2017 there were 5-15% of 1.7 billion  persons infected with MTBC, who will develop TB in their lives. Around 10% of latent TB will develop into active TB disease, with a higher risk in patients with immunodeficiencies such as HIV, undernutrition, diabetes mellitus, smoking, and habitual alcohol consumption. As a result there are annually an estimated 8.8 million new TB cases, with a TB mortality of 1.1 million and deaths from TB and HIV coinfection of 350 thousand cases.The World Health Organization has planned a number of strategies for TB elimination in the year 2030, such as developing rapid and accurate diagnostic tests, new regimens for the treatment of drug-susceptible or drug-resistant TB, prevention of transmission of M. tuberculosis through infection control, new vaccine candidates to prevent the development of TB, and to help improve the outcomes of treatment for TB disease.
Hubungan kadar hemoglobin A1c dengan kualitas tidur pada pasien diabetes mellitus tipe-2 Destiani, Alya Bakti; Chondro, Fransisca
Jurnal Biomedika dan Kesehatan Vol 1 No 1 (2018)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18051/JBiomedKes.2018.v1.93-100

Abstract

LATAR BELAKANGDiabetes mellitus (DM) banyak dijumpai di negara berkembang, salah satunya di Indonesia. Salah satu pemeriksaan glukosa darah pada pasien DM adalah pemeriksaan kadar HbA1c yang telah terstandarisasi sesuai The Diabetes Control and Complication Trial (DCCT). Kadar HbA1c menunjukkan kadar glukosa di dalam hemoglobin pasien, sehingga kadar HbA1c yang tinggi biasanya akan disertai dengan gejala klinis DM yang semakin jelas, salah satunya poliuria. Poliuria ini dapat berpengaruh pada beberapa hal, salah satunya adalah kualitas tidur pasien. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kadar HbA1c dengan kualitas tidur pada pasien DM tipe-2. METODEPenelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan pendekatan desain cross sectional. Sampel penelitian ini diambil dengan teknik consecutive non-random sampling yang berjumlah 44 responden. Data responden diperoleh melalui wawancara pengisian kuesioner Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) dan pengambilan data HbA1c dari rekam medis. Analisis data yang diolah dengan program SPSS versi 23 ini dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji statistic Fisher. HASILPenelitian ini diikuti oleh 44 orang pasien DM tipe-2 yang memiliki hasil kadar HbA1c. Berdasarkan hasil statistik didapatkan p sebesar 0,69 dimana p>0,05 sehingga tidak terdapat hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat. KESIMPULANPenelitian ini menunjukkan tidak terdapat hubungan antara kadar HbA1c dengan kualitas tidur pada pasien DM tipe-2.
Asupan vitamin B6, B9, B12 memiliki hubungan dengan risiko penyakit kardiovaskular pada lansia Akhirul, Akhirul; Chondro, Fransisca
Jurnal Biomedika dan Kesehatan Vol 2 No 3 (2019)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18051/JBiomedKes.2019.v2.111-116

Abstract

LATAR BELAKANGIndonesia akan memasuki periode lansia (aging), dimana 10% penduduk akan berusia 60 tahun ke atas, di tahun 2020. Bertambahnya usia, penyakit tidak menular banyak muncul seperti hipertensi, stroke, dan diabetes melitus (DM). Menurut penelitian yang dilakukan oleh Gugun, asupan gizi atau mikronutrien antara lain asam folat, vitamin B6, dan B12 berpengaruh terhadap terjadinya resiko penyakit kardiovaskular dikarenakan asupan mikronutrien tersebut dapat menurunkan kadar homosistein yang berperan dalam pembentukan aterotrombosis. METODEPenelitian ini dilakukan menggunakan metode analitik observasional dengan pendekatan cross sectional. Pengambilan sampel dilakukan di Kelurahan Jelambar Baru RW 01 pada bulan September hingga Oktober 2018 dengan metode consecutive non random. Jumlah responden sebanyak 92 orang. Pengambilan data menggunakan data primer. Analisis data menggunakan uji Fisher dengan tingkat kemaknaan (p)<0.05. HASILTerdapat hubungan yang bermakna secara statistik antara asupan vitamin B6, B9, dan B12 dengan risiko kardiovaskular pada lansia. Asupan vitamin B6 dengan kategori cukup mempunyai risiko rendah mengalami penyakit kardiovaskular dengan nilai kemaknaan (p=0.000), vitamin B9 asupan kategori kurang memiliki risiko sedang mengalami penyakit kardiovaskular (p=0.001), dan asupan vitamin B12 dengan asupan kategori kurang mempunyai risiko sedang mengalami risiko penyakit kardiovaskular (p=0.017). KESIMPULANDari hasil analisis data didapatkan hubungan antara asupan gizi vitamin B6, B9, dan B12 dengan risiko kardivaskular pada lansia, dimana asupan cukup vitamin B6, B9, dan B12 mengakibatkan risiko rendah untuk menderita penyakit kardiovaskular sedangkan asupan kurang dari vitamin B6, B9, dan B12 mengakibatkan risiko sedang dan tinggi untuk menderita penyakit kardiovaskular.
Hubungan tingkat kemandirian dan kebugaran dengan kualitas hidup lansia Ningrum, Berka Phillia; Chondro, Fransisca
Jurnal Biomedika dan Kesehatan Vol 2 No 4 (2019)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18051/JBiomedKes.2019.v2.138-143

Abstract

LATAR BELAKANGData kependudukan Indonesia menunjukkan peningkatkan populasi lansia setiap tahunnya. Kondisi ini berdampak pada peningkatkan prevalensi penyakit degeneratif pada lansia yang kemudian berdampak pada tingkat kemandirian dan kebugaran lansia. Penelitian yang sudah dilakukan masih menunjukkan kontroversi kedua kondisi tersebut di atas dengan kualitas hidup lansia. METODEPenelitian ini merupakan peneliitan potong silang yang dilakukan pada 86 lansia di RW 01 Jelambar Baru, Jakarta Barat. Data dikumpulkan dengan cara wawancara menggunakan kuesioner Barthel Index untuk mengukur tingkat kemandirian, Non exercise fitness test untuk mengukur tingkat kebugaran dan WHOQOL-BREF untuk mengukur tingkat kualitas hidup responden. Analisa bivariat dilakukan untuk mengetahui hubungan tingkat kemandirian dan kebugaran dengan kualitas hidup lansia, menggunakan uji statistik Fisher's Exact Test dan Chi Square dengan tingkat kemaknaan yang digunakan besarnya 0.05. HASILAnalisis hubungan tingkat kemandirian dengan kualitas hidup lansia menggunakan Fisher’s Exact Test, di dapatkan hasil p=0.235. Analisis hubungan tingkat kebugaran dengan kualitas hidup lansia menggunakan uji Chi-Square didapatkan hasil p=0.708. KESIMPULANTidak terdapat hubungan antara tingkat kemandirian dan kebugaran dengan kualitas hidup lansia.
Hubungan pemberian kapsul vitamin A dan pengetahuan caregiver dengan stunting pada anak usia 24-59 bulan Fatimah, Danya; Chondro, Fransisca
Jurnal Biomedika dan Kesehatan Vol 3 No 4 (2020)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18051/JBiomedKes.2020.v3.176-182

Abstract

LATAR BELAKANGStunting adalah masalah gizi kronik yang sering terjadi pada anak usia 24-59 bulan dan akan berdampak pada pertumbuhan dan perkembangan anak. Hasil Riskesdas 2018, terdapat 30.8% kejadian stunting di Indonesia. Salah satu faktor risiko stunting adalah vitamin A dan pengetahuan caregiver. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pemberian kapsul vitamin A program pemerintah dan pengetahuan caregiver dengan stunting pada anak usia 24-59 bulan di Puskesmas Kecamatan Grogol Kusuma Wijaya tahun 2019. METODEDesain Penelitian yang digunakan adalah cross sectional. Sampel pada penelitian ini berjumlah 123 anak yang didapat dengan cara consecutive non random sampling. Penelitian ini dilakukan pada bulan September-Oktober 2019. Pengumpulan data dilakukan melalui pengukuran tinggi badan anak dan wawancara kuesioner. Analisis data dilakukan dengan uji Chi-square dan uji Fisher-exact. HASILProporsi anak stunting di Puskesmas Kecamatan Grogol Kusuma Wijaya mencapai 22%, kelengkapan vitamin A sebesar 92.7%, dan pengetahuan caregiver sebagian besar sedang yaitu 49,6%. Analisis uji statistik menunjukkan adanya hubungan bermakna antara vitamin A dengan kejadian stunting pada anak usia 24-59 bulan (p=0.024). Dan menunjukan adanya hubungan bermakna antara pengetahuan caregiver dengan kejadian stunting pada anak usia 24-59 bulan (p=0.000). KESIMPULANPemberian kapsul vitamin A dan pengetahuan caregiver dalam penelitian ini berhubungan dengan terjadinya stunting.
Struktur dan Regulasi Connexin43 dalam Komunikasi Antar Sel Otot Jantung Chondro, Fransisca
Cermin Dunia Kedokteran Vol 41, No 7 (2014): Kardiologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (144.929 KB) | DOI: 10.55175/cdk.v41i7.1119

Abstract

Jantung memiliki kerja yang sangat kompleks. Salah satu hal yang memungkinkan jantung berfungsi baik adalah komunikasi antar sel. Di dalam jantung, komunikasi antar sel otot jantung terjalin antara lain melalui kanal gap junction. Kanal gap junction terbentuk dari dua hemichannels atau connexon, masing-masing connexon tersusun dari 6 molekul connexin. Kanal gap junction berperan penting dalam proses konduksi impuls listrik, melalui kanal ini terjadi penghantaran ion dan solut kecil. Pengaturan komunikasi antar sel dapat dipengaruhi juga oleh interaksi connexin dan protein seperti fosfatase dan kinase, protein struktural (seperti zona occludens-1), dan mikrotubulus. Dalam makalah ini akan dibahas protein connexin 43 penyusun gap junction otot jantung, struktur dan regulasinya dalam kaitan dengan komunikasi antarsel.Heart is a very complex organ. In the heart, communication between myocyte was conducted through gap junction canal. This canal is formed by 2 hemichannels, connexon, and each connexon consists of 6 molecules of connexin. Gap junction canal maintain the conduction of electrical impulse and the ion and small solute is transferred within this canal. Communications between myocyte is affected by the interaction between connexin and other protein, e.g. phosphatase, kinase, structural protein (zona occludens-1) and microtubule. In this paper, the main protein of myocyte’s gap junction, connexin43, will be discussed regarding the structure and regulation in the communication between myocyte.
Struktur dan Regulasi Connexin43 dalam Komunikasi Antar Sel Otot Jantung Chondro, Fransisca
Cermin Dunia Kedokteran Vol 41, No 7 (2014): Kardiologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v41i7.1119

Abstract

Jantung memiliki kerja yang sangat kompleks. Salah satu hal yang memungkinkan jantung berfungsi baik adalah komunikasi antar sel. Di dalam jantung, komunikasi antar sel otot jantung terjalin antara lain melalui kanal gap junction. Kanal gap junction terbentuk dari dua hemichannels atau connexon, masing-masing connexon tersusun dari 6 molekul connexin. Kanal gap junction berperan penting dalam proses konduksi impuls listrik, melalui kanal ini terjadi penghantaran ion dan solut kecil. Pengaturan komunikasi antar sel dapat dipengaruhi juga oleh interaksi connexin dan protein seperti fosfatase dan kinase, protein struktural (seperti zona occludens-1), dan mikrotubulus. Dalam makalah ini akan dibahas protein connexin 43 penyusun gap junction otot jantung, struktur dan regulasinya dalam kaitan dengan komunikasi antarsel.Heart is a very complex organ. In the heart, communication between myocyte was conducted through gap junction canal. This canal is formed by 2 hemichannels, connexon, and each connexon consists of 6 molecules of connexin. Gap junction canal maintain the conduction of electrical impulse and the ion and small solute is transferred within this canal. Communications between myocyte is affected by the interaction between connexin and other protein, e.g. phosphatase, kinase, structural protein (zona occludens-1) and microtubule. In this paper, the main protein of myocyte’s gap junction, connexin43, will be discussed regarding the structure and regulation in the communication between myocyte.