I Nyoman Kariasa, I Nyoman
Program Studi Seni Karawitan, Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia Denpasar

Published : 7 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

Karya Karawitan Baru Manikam Nusantara Kariasa, I Nyoman; Putra, I Wayan Diana
Mudra Jurnal Seni Budaya Vol. 36 No. 2 (2021): Mei
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/mudra.v36i2.1471

Abstract

“Cintailah warisan, pelajari dan kembangkan yang baru”, merupakan kredo Vincent McDermoth yang dijadikan arah pola pikir penciptaan karya karawitan baru. Gamelan Semaradhana sebagai sebagai sebuah orkes tradisi karawitan Bali dengan spesifikasinya dipelajari dan dipahami secara seksama serta mendalam. Setelah dipahami maka dalam lingkup kreatif, penata memikirkan sebuah tawaran baru dengan menggarapnya dengan pikiran dan arah baru pula. Keaneka-ragaman musik Nusantara terbentang dari timur (Papua) hingga barat (Aceh) memberikan inspirasi dan menggugah daya kreatif penata untuk menciptakan sebuah karya musik baru yang bertemakan keanekaragaman budaya nusantara dan diberi judul Manikam Nusantara. Gagasan dan konsep Manikam Nusantarayaitu merangkum keragaman melodi dan ritme, dipilih untuk kemudian dijadikan landasan dalam kekaryaan karawitan Bali dalam media gamelan Semara Dhana, dengan bernafaskan melodi nusantara dari bentang timur hinga barat. Tujuan dari penciptaan ini dapat dilihat dalam dua perspektif yaitu intra musikal dan ekstra musikal serta mengasah daya kreatif penata untuk selalu menghasilkan karya-karya yang progresif, sedangkan manfaatnya adalah sebagai diplomasi budaya dikarenakan penciptaan seni karawitan Bali bersumber dari keaneka ragaman musik nusantara. Metode penciptaan atau langkah-langkah dalam penciptaan karya musik Manikam Nusantara ini menggunakan metode penciptaan seni yang digunakan oleh dua (2) composer local yaitu Pande Made Sukerta terdiri dari ; Menyusun Gagasan Isi, Menyusun Ide Garapan dan Menentukan Garapan, dan I Wayan Beratha terdiri dari ; Nguping, Menahin, Ngalusin dan Ngungkab Rasa. Komposisi Manikam Nusantara ini diwujudkan dengan mempertimbangkan aspek-aspek seperti konsep estetis, kontinuitas dalam perubahan, sikap kreatif, kiat-kiat artistik dan konsep keseimbangan. Dengan penerapan aspek-aspek tersebut, sehingga menghasilkan komposisi musik baru yang berbobot. Luaran dari hasil penciptaan ini nantinya dideseminasikan dalam pergelaran dan diunggah dalam jurnal terakreditasi.
Identifikasi Kesenian Etnis Sasak, Etnis Bali Dan Seni Akulturasi Di Kota Mataram Trisnawati, Ida Ayu; Ardika, I Gusti Lanang Oka; Kariasa, I Nyoman
Segara Widya : Jurnal Hasil Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Institut Seni Indonesia Denpasar Vol 3 (2015): November
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (499.531 KB) | DOI: 10.31091/sw.v3i0.170

Abstract

Penelitian ini merupakan penelitian yang bertujuan untuk mengidentifikasi kesenian etnis Sasak, Etnis Bali dan seni akulturasi di Kota Mataram. Hasil identifikasi selanjutnya dikemas dalam bentuk DVD Seni Pertunjukan dengan tema yaitu Untaian Mutiara Gumi Sasak. Cerita dalam DVD dibalut dengan kisah Dewi Rengganis yang nantinya memunculkan potensi seni dan etnis di Kota Mataram sehingga bisa menjadi tujuan wisata dunia. Hasil penelitian menunjukan bahwa kehidupan masyarakat Kota Mataram cukup harmonis walaupun terdiri dari berbagai etnis seperti etnis Sasak sebagai penduduk asli, etnis Bali, Jawa, Melayu dan sebagainya yang merupakan penduduk pendatang. Keharomisan ini terbukti dari adanya pemahaman tentang keberadaan kotanya yang pluralisme, kemudian di praktekan dalam kehidupan yang toleransi sehingga menciptakan suatu kehidupan rukun yang menjadi modal masyarakat dalam mengembangkan diri. Situasi yang harmonis ini menarik sehingga diwujudkan dalam sebuah seni kolaborasi dengan tema Untaian Mutiara Gumi Sasak yang berceritakan tentang keberagaman seni budaya di Kota Mataram yang hidup harmonis. Cerita ini di balut dalam kisah Dewi Rengganis yang merupakn cerita asli suku Sasak. Hasil seni kolaborasi ini diharapkan menjadi salah satu nilai jual sekaligus produk wisata alternatif yang bisa membantu mewujudkan kota Mataram menjadi salah satu tujuan wisata dunia.This research is intended to identify the arts of Sasak ethnic, Bali ethnic and the arts acculturation in Mataram city. Next the results of identification is packed in performing arts DVDs in theme Untaian Mutiara Gumi Sasak (The Pearl Strands World Of Sasak). The DVD tells the story of Dewi Rengganis which later raises the potential of art and ethnicity in Mataram so it became a world tourism destination. The research shows that the society life of Mataram city quite harmonious although consists of different ethnicities such as ethnic Sasak as a native, Bali, Java, or Malay ethnic and many others which is a resident immigrants. The harmony proven by the notion of the existance of pluralism in the city, then practiced into a tolerance life thus creating a along well life which became the community asset to develop themselves. This harmonious situation is very interesting so that manifested in an art collaborations with theme Untaian Mutiara Gumi Sasak which tells about the art and culture diversity in Mataram city who lives in harmony. This story is made from the story of Dewi Rengganis which is the original story of Sasak tribe. The results of this collaborative art expected to become one of the selling points as well as an alternative tourism product which be able helped the materialize of Mataram city became one of the world's tourist destination.
The New Approach of Kotekan | Kotekan Pendekatan Baru I Gede Ngurah Divo Sentana; I Nyoman Kariasa
GHURNITA: Jurnal Seni Karawitan Vol 2 No 1 (2022): Maret
Publisher : Pusat Penerbitan LPPMPP ISI Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Explaination about the exist of music motif part a.k.a motif materials unity, made by a music composing technique its build a music form, its outcome from the composer’s decision to compose or make a music composition with a concepting reference accord to values and materials its composer takes from learn and understand process are the elements that explaining in this article. Things its take from learn and understand process eventually give the composer a way to developing. The composing technique its composer does based on method about how to make a performing artworks by the artists who has so much of experience on performing arts. Accord to understand about how to use that method to make a performing artworks, the composer explain the way to realize this music form composition based on two side, they are about materials its interpretate and the outcome. Composer has a wish that the materials its exist on this article could be a topic discussion again and discuss it with a good mentality, because the composer won’t that every kind of artwork its build by effort, hardwork and sublimation its come from composer’s think, only known as “left extreme” (bad ideology).
"Strands of Gumi Sasak Pearls" Harmony-based Tourism Products in Mataram City, West Nusa Tenggara Trisnawati, Ida Ayu; Oka Ardika, I Gusti Lanang; Kariasa, I Nyoman
Mudra Jurnal Seni Budaya Vol. 31 No. 3 (2016): September
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/mudra.v31i3.44

Abstract

This research is aimed at identifying the Sasak ethnic art, Balinese ethnic and art acculturation in Mataram. Results ofsubsequent identification is packaged in a DVD for the Performing Arts with the theme of strands of Gumi Sasak pearls. The story in the DVD is wrapped with the story of Dewi Rengganis that will bring the potential of art and ethnicity in Mataram so that it can become a World tourist destinationThe results showed that people's lives of Mataram city are quite harmonious eventhough composed of various ethnic groups such as Sasak as indigenous people, Balinese, Javanese, Malay and so forth that they are migrant population. Harmony is evident from the understanding of the city pluralism, then practiced in the tolerance life that create a harmonious life that becomes public capital to develop themselves. This harmonious situation is so interesting that it is realized in a collaborative art with the theme of strands of Gumi Sasak pearls that tells about the diversity of art and culture in the city of Mataram that lives in harmony. This story is wrapped in the story of Dewi Rengganis that becomes an original story of Sasak tribe. The result ofthis collaborative art is expected to be one ofthe selling points and at once an alternative tourism product that could help realize Mataram city to be one of the World‘s tourist destinations.Keywords: pluralism of arts, tourism potential, Mataram City
Introduction to Contemporary Music “Ngegong” | Pengantar Musik Kontemporer “Ngegong” I Nyoman Kariasa; I Kadek Tunas Sanjaya
GHURNITA: Jurnal Seni Karawitan Vol 1 No 1 (2021): Maret
Publisher : Pusat Penerbitan LPPMPP ISI Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

“Ngegong” merupakan sebuah karya komposisi musik kontemporer yang menggunakan delapan jenis instrumen gong yang dipakai dalam berbagai barungan gamelan Bali sebagai media ungkap. delapan instrumen gong yang dimaksud adalah, gong lanang dan wadon (dalam gong kebyar) gong tanggung (dalam gamelan bebarongan), gong bor ber (gong bheri) , gong pulu (geguntangan), dan gong ageng gong alit (dalam ansambel gamelan selonding). Tujuan yang diinginkan oleh penata adalah untuk merealisasikan imajinasi penata ke dalam garapan komposisi musik kontemporer yang mengangkat keberagaman instrumen gong di Bali. Proses penciptaan karya komposisi musik  ini dibagi menjadi tiga tahapan yang diambil dari konsep Alma M. Hawkins dalam buku Creating Trough Dance tahapan yaitu, eksplorasi, improvisasi, dan pembentukan (forming)”. Karya Ngegong diwujudkan dalam bentuk bingkai komposisi musik kontemporer yang mempertimbangkan unsur bunyi dan  musikalitasnya. Musik kontemporer mempunyai konotasi karya baru yang disusun rmenggunakan berbagai sumber suara baik instrumen tradisi maupun non tradisi atau segala benda yang dapat menghasilkan suara atau bunyi sesuai dengan kebutuhan.
Identifikasi Kesenian Etnis Sasak, Etnis Bali Dan Seni Akulturasi Di Kota Mataram Ida Ayu Trisnawati; I Gusti Lanang Oka Ardika; I Nyoman Kariasa
Segara Widya : Jurnal Hasil Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 3 (2015): November
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/sw.v3i0.170

Abstract

Penelitian ini merupakan penelitian yang bertujuan untuk mengidentifikasi kesenian etnis Sasak, Etnis Bali dan seni akulturasi di Kota Mataram. Hasil identifikasi selanjutnya dikemas dalam bentuk DVD Seni Pertunjukan dengan tema yaitu Untaian Mutiara Gumi Sasak. Cerita dalam DVD dibalut dengan kisah Dewi Rengganis yang nantinya memunculkan potensi seni dan etnis di Kota Mataram sehingga bisa menjadi tujuan wisata dunia. Hasil penelitian menunjukan bahwa kehidupan masyarakat Kota Mataram cukup harmonis walaupun terdiri dari berbagai etnis seperti etnis Sasak sebagai penduduk asli, etnis Bali, Jawa, Melayu dan sebagainya yang merupakan penduduk pendatang. Keharomisan ini terbukti dari adanya pemahaman tentang keberadaan kotanya yang pluralisme, kemudian di praktekan dalam kehidupan yang toleransi sehingga menciptakan suatu kehidupan rukun yang menjadi modal masyarakat dalam mengembangkan diri. Situasi yang harmonis ini menarik sehingga diwujudkan dalam sebuah seni kolaborasi dengan tema Untaian Mutiara Gumi Sasak yang berceritakan tentang keberagaman seni budaya di Kota Mataram yang hidup harmonis. Cerita ini di balut dalam kisah Dewi Rengganis yang merupakn cerita asli suku Sasak. Hasil seni kolaborasi ini diharapkan menjadi salah satu nilai jual sekaligus produk wisata alternatif yang bisa membantu mewujudkan kota Mataram menjadi salah satu tujuan wisata dunia.This research is intended to identify the arts of Sasak ethnic, Bali ethnic and the arts acculturation in Mataram city. Next the results of identification is packed in performing arts DVDs in theme Untaian Mutiara Gumi Sasak (The Pearl Strands World Of Sasak). The DVD tells the story of Dewi Rengganis which later raises the potential of art and ethnicity in Mataram so it became a world tourism destination. The research shows that the society life of Mataram city quite harmonious although consists of different ethnicities such as ethnic Sasak as a native, Bali, Java, or Malay ethnic and many others which is a resident immigrants. The harmony proven by the notion of the existance of pluralism in the city, then practiced into a tolerance life thus creating a along well life which became the community asset to develop themselves. This harmonious situation is very interesting so that manifested in an art collaborations with theme Untaian Mutiara Gumi Sasak which tells about the art and culture diversity in Mataram city who lives in harmony. This story is made from the story of Dewi Rengganis which is the original story of Sasak tribe. The results of this collaborative art expected to become one of the selling points as well as an alternative tourism product which be able helped the materialize of Mataram city became one of the world's tourist destination.
Ngerambat Gending: A Composition of Essential Idea of Karawitans Definition | Ngerambat Gending: Sebuah Komposisi dari Ide Esensi Definisi Karawitan Pande Kadek Ega Sasdicka; I Nyoman Kariasa
GHURNITA: Jurnal Seni Karawitan Vol 1 No 3 (2021): September
Publisher : Pusat Penerbitan LPPMPP ISI Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

There is still a gap of vocal use separators in various Balinese karawitan compositions that develop lately, such as; Sandya gita, Gegitaan and Gegerongan. Karawitan composition "Ngerambat Gending '' presents a new perspective, that is combining the connection between instrumental and consistently. Indirectly without the instrument this artwork cannot be crystallized as well as the opposite without the vocal this work also cannot be realized. The same proportion of work on both instruments and vocals into a whole unit composition, is a "leading" thing in the creation of Bali's karawitan. The goal to be achieved in this work is to actualize an idea based on the essence of the definition of karawitan itself. To materialize this work, the composer combined the process of compiling the work by Pande Made Sukerta with the creation methods of I Wayan Bratha and I Wayan Dibia. Processed from the work of Ngerambat Gending, the composer tries to make connections between instruments with other instruments, instruments with vocals and vocals with vocals which are divided into structures. The “Ngerambat Gending'' karawitan composition  was successfully transformed by using a structure using the names of the musical patterns that the composer made part of the structure into the work itself, such as, gegineman, pengadeng, gegacangan, gegenderan and penyuud.