Claim Missing Document
Check
Articles

Found 10 Documents
Search

Fenomena Penggunaan Kayu pada Rumah Tradisional di Tepus, Gunungkidul, D.I Yogyakarta Ismoyo, Anggoro Cipto; Wibowo, Satrio Hasto Broto
JURNAL ARSITEKTUR PENDAPA Vol 3, No 2 (2020)
Publisher : Universitas Widya Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37631/pendapa.v3i2.163

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menggali konsep dan nilai-nilai lokal tentang fenomena penggunaan kayu pada rumah-rumah tradisional di Tepus, Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah fenomenologi. Dalam prosesnya, peneliti terlibat langsung di lapangan untuk mengenali, menggali, dan mengumpulkan informasi sebanyak mungkin dari objek maupun sumber-sumber informasi di lapangan, sehingga ditemukan tema-tema. Tema-tema tersebut kemudian dianalisis kedalam kategori-kategori sehingga dapat dikenali pola-pola umumnya untuk diintepretasikan dalam suatu konseptualisasi melalui generalisasi untuk memperoleh tujuan penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fenomena tentang penggunaan kayu pada rumah tradisional di Tepus dipengaruhi oleh nilai-nilai ekonomis, pengetahuan lokal, dan religi.
PENATAAN PERMUKIMAN INFORMAL KOTA MENJADI DAERAH TUJUAN WISATA STUDI KASUS: KAMPUNG TRIDI, MALANG Anggoro Cipto Ismoyo
ALUR :Jurnal Arsitektur Vol 4 No 1 (2021): MEI 2021
Publisher : Unika Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54367/alur.v4i1.1091

Abstract

Kampung Tridi merupakan sebutan bagi suatu pemukiman informal di kota Malang yang telah ditata menjadi daerah tujuan wisata. Penyesuaian fungsi dari sekadar kawasan bermukim menjadi kawasan pariwisata akan membawa pada upaya penyesuaian persyaratan sebagai tujuan wisata. Penelitian ini bertujuan untuk: 1). Mengungkap tentang konsep penataan permukiman informal menjadi daerah tujuan pariwisata, 2). Mengidentifikasi dan mendeskripsikan penerapan konsep penataan permukiman menjadi daerah tujuan wisata berdasarkan komponen pembentuk serta kegiatan pariwisata yang terjadi di dalamnya, serta 3). Menilai keberhasilan penataan permukiman informal menjadi daerah tujuan wisata berdasarkan tingkat kunjungan serta dampaknya bagi warga masyarakat. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif dan bersifat kualitatif, dengan strategi pengumpulan data melalui observasi lapangan dan wawancara, berikut analisis berdasar tinjauan pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsep penataan permukiman diawali melalui pembuatan mural gambar tiga dimensi pada seting fisik permukiman, kemudian dikembangkan dengan penyediaan beberapa sarana dan daya tarik wisata untuk mendukung kegiatan berwisata. Berdasarkan tingkat kunjungan, serta dampak positif secara sosial dan ekonomi yang diterima masyarakat, maka Kampung Tridi dapat dinilai sebagai strategi penataan permukiman informal dengan pendekatan kepariwisataan berbasis masyarakat yang berhasil.
Konsep Metafora pada perencanaan Pusat Kesejahteraan Hewan Peliharaan Hewan Peliharaan di Jakarta Selatan finka utari; Anisa Anisa; Anggoro Cipto Ismoyo
PURWARUPA Jurnal Arsitektur Vol 3, No 4 (2019): Purwarupa Vol 3 No 4 September 2019
Publisher : Arsitektur UMJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1959.668 KB)

Abstract

Manusia merupakan makhluk sosial yang memiliki rasa kepedulian terhadap makhluk hidup lainnya salah satunya yaitu hewan. Pada kehidupan manusia modern saat ini, peranan hewan semakin luas dan terus dioptimalkan untuk membantu dalam berbagai aspek kehidupan dan di sisi lain manusia dapat hidup bersama dengan hewan untuk dipelihara. Komunitas-komunitas pecinta hewan jumlahnya semakin meningkat, namun demikian di dalam kenyataannya masih terdapat hewan-hewan terlantar dan tidak terawatt dengan baik karena tidak dipelihara oleh manusia ataupun manusia yang memelihara kurang memiliki kepedulian dan pengetahuan yang memadai tentang hal tersebut. Meningkatnya kebutuhan pemeliharaan hewan secara domestik dan permasalahan, maka dibutuhkan suatu konsep wadah yang meliputi perlindungan, pengobatan, perawatan, pelatihan, dan beberapa fasilitas pendukung. Pusat Kesejahteraan Hewan Peliharaan memiliki konsep dengan pendekatan perancangan secara metafora dengan jalan mengambil bentuk kesan ataupun hal-hal yang memiliki karakter, maka menghasilkan konsep perencanaan dan perancangan yang tidak hanya memenuhi kaidah fungsi yang tepat namun mampu menghadirkan bangunan yang estetik dan komunikatif yang menunjang fungsi bangunan tersebut.
PENERAPAN METAUFORA PADA BANGUNAN PUUSAT DAKWAH DAN KEGIATAN NAHDATUL ULAMA ade hendro ma'ruf; Ashadi Ashadi; Anggoro Cipto Ismoyo
PURWARUPA Jurnal Arsitektur Vol 3, No 1 (2019): Purwarupa Vol 3 No 1 Maret 2019
Publisher : Arsitektur UMJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (567.406 KB)

Abstract

Pusat dakwah adalah wadah fisik yang menampung kegiatan dakwah dan beberapa kegiatan penunjang keislaman. Beberapa bangunan fisik yang diperlukan untuk menunjang dakwah terdapat pada Pusat Dakwah ini, seperti masjid, tempat pendidikan, tempat penyiaran dakwah, juga bahkan tempat untuk melakukan kegiatan ekonomi. Adanya pusat Dakwah ini, tentunya akan semakin memudahkan perkembangan dakwah. Pun termasuk pada organisasi islam terbesar di Indonesia, yaitu Nahdatul Ulama (NU). Dengan adanya Pusat Dakwah diharapkan akan semakin membantu tersebarnya dakwah NU. Dakwah NU sendiri dilakukan dengan melakukan pendekatan kultural. Budaya bangsa dan sekitar objek dakwah selalu menjadi titik perhatian dalam penyampaian dakwah NU. Oleh karenanya, perancangan Pusat Dakwah NU diakukan dengan mengaplikasikan konsep arsitektur metafora. Dengan melakukan pendekatan arsitektur metafora diharapkan akan memunculkan ciri khas NU atau dakwah NU pada bangunan pusat dakwah ini. Sehingga ketika orang melihat bangunan pusat dakwah dan kegiatan NU akan langsung teringat dengan NU itu sendiri. Kata Kunci: pusat dakwah, NU, pendekatan kultural, kegiatan dakwah, arsitektur metafora.
PENDEKATAN PERANCANGAN MUSEUM MUSIK KESENIAN JAWA Yuhana Andra Saputra; Lily Mauliani; Anggoro Cipto Ismoyo
PURWARUPA Jurnal Arsitektur Vol 1, No 2 (2017): Purwarupa Vol 1 No 2 September 2017
Publisher : Arsitektur UMJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Seni menurut Ki Hajar Dewantara merupakan segala perbuatan manusia yang timbul dari perasaan dan sifat indah, sehingga menggerakkan jiwa dan persaan manusia (kamus Bahasa Indonesia,2017). Kesenian merupakan suatu wadah untuk mengungkapkan suatu kreasi yang ada didalam setiap kebudayaan. Seni musik merupakan suatu hal yang lazim dinikmati oleh hampir setiap umat manusia termasuk di negara Indonesia. Bangsa indonesia merupakan bangsa yang memiliki banyak daerah dan terdiri dari berbagai suku bangsa. Kebudayaan dan keanekaragaman tradisi yang unik menjadi ciri khas yang ada di Indonesia salah satunya yaitu banyaknya kesenian musik tradisional yang setiap daerah pasti memilikinya khususnya seni musik yang ada di Jawa tengah dan Jawa Timur. Ide/gagasan untuk mendesain sebuah museum seni musik tradisional adalah untuk dapat mewadahi berbagai kesenian musik Jawa timur dan Jawa tengah secara khusus  dari awal mula lahirnya musik tradisional Jawa, bahan yang digunakan untuk membuat alat musiknya, cara penggunaannya, perawatannya dan pelestarian serta cara mensingkronkan antara seni musik dan kesenian lainnya seperti seni tari dan adat istiadat yang ada didaerah Jawa. Kata Kunci: Museum, Kesenian, Jawa ABSTRACT. Art according to Ki Hajar Dewantara is all human deeds arising from the feeling and beautiful nature, thus moving the soul and human persaan (Indonesian dictionary, 2017). Art is a container to express a creation that exists within every culture. Music art is a common thing enjoyed by almost every human being, including in the country of Indonesia. Indonesia is a nation that has many regions and consists of various tribes. Culture and unique diversity of traditions characterize the one in Indonesia one of them is the number of traditional musical arts that each region must have it, especially music art that exist in Central Java and East Java. The idea to design a museum of traditional musical art is to be able to accommodate various artistry of East Java and Central Java music specifically from the beginning of the birth of traditional Javanese music, the material used to make the instrument, how to use it, its maintenance and preservation and how to synchronize between Art of music and other arts such as dance art and customs that exist in Java area. Keywords: Museum, Art, Java
PENERAPAN ADAPTIVE REUSE PADA GEDUNG PT. PPI (Ex. PT. TJIPTA NIAGA) MENJADI HOTEL GALLERY DAN KEGIATAN KOMERSIAL Ferdianto Yanu Suprihatin; Ari Widyati Purwantiasning; Anggoro Cipto Ismoyo
PURWARUPA Jurnal Arsitektur Vol 1, No 1 (2017): Purwarupa Vol 1 No 1 Maret 2017
Publisher : Arsitektur UMJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (848.306 KB)

Abstract

ABSTRAK. Arsitektur masa lalu yang terdiri dari bangunan-bangunan dan kawasan-kawasan cagar budaya berperan dalam  merangkai dan menghubungkan sejarah kota Jakarta dari masa lalu ke masa sekarang dan  masa yang akan datang. Arsitektur masa lalu ini merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari rencana kota. Bangunan bangunan cagar budaya dan juga kawasan-kawasan cagar budaya tersebar disegala penjuru kota, dengan konsentrasi memanjang dari bagian Utara sampai ke Selatan kota. Di dalam kawasan-kawasan ini terdapat arsitektur kota dan bangunan-bangunan yang harus dilestarikan. Selain itu juga banyak terdapat bangunan-bangunan pelestarian yang berada diluar kawasan-kawasan ini. Masing-masing kawasa n cagar budaya memiliki panduan khusus yang disesuaikan dengan kondisi dan karakter dari masing-masing kawasan. Dalam proses perancangan ini, penulis memilih untuk melakukan pelestarian konservasi bangunan gedung PT PPI (ex. Kantor Tjipta Niaga) (ROTTERDAM INTERNATIO) dengan mengaplikasikan konsep adaptive reuse sebagai salah satu aplikasi konsep konservasi bangunan tua dan kegiatan komersil yang juga menunjang hotel maupun kawasan tersebut. Kata Kunci : Adaptive Reuse, Hotel Gallery, Gedung PT.PPI, Konservasi ABSTRACT. Past architecture consisting of cultural heritage buildings and areas plays a role in assembling and linking the Jakarta’s history from the past to the present and the future. Past architecture is a part that can not be separated from the city's plan. Heritage buildings and cultural heritage areas scattered in all corners of the city, with a concentration extends from the North to the South of Jakarta. Within these areas are Jakarta’s architecture and buildings that should be preserved. But there are also many buildings that are beyond the preservation of these areas. Each cultural heritagea area has special guidelines adapted to the conditions and character of each region. In this design process, the authors chose to do conservation preservation of PT PPI / ex. Tjipta Office of Commerce (ROTTERDAM Internatio) buildings by applying the concept of adaptive reuse as one application of the concept of old buildings conservation and to revive commercial activities supporting the hotel and the region. Keywords: Adaptive Reuse, Hotel Gallery, Building PT.PPI, Conservation
STUDY OF ANTHROPOMETRY OF PRODUCTION SPACE FOR HOUSEHOLD INDUSTRY FURNITURE IN MAHMUD VILLAGE, BANDUNG DISTRICT Regina Cecilia; Anggoro Cipto Ismoyo
Ide dan Dialog Desain Indonesia (Idealog) Vol 6 No 2 (2021): Jurnal Idealog Vol 6 No 2
Publisher : Universitas Telkom

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25124/idealog.v6i2.3169

Abstract

Nowadays, apart from being used for a place to rest and socialize, a house is often used as an economic activity, such as trade, services or production. As can be found in the settlements of Kampung Mahmud, Margaasih sub-district, Bandung Regency, there are home-scale furniture businesses that have been passed down between generations, so it can be found about the use of space in the area behind the house for the place of business. This study will describe the use of the back room of the house as a home industry scale furniture production business space with the emphasis of the study on: 1) space layout and circulation of the workflow in it, and 2) types, functions, and ergonomics of production tools. reviewed from anthropometry. The method used is descriptive and analytical, through field observations, interviews, and reference studies. The purpose of this research is identified changes in function, either through the addition or modification of the use of space related to economic activities. The results showed that the furniture production room has a sufficient area, with adequate production facilities and equipment. By having 1 (one) access, the production room requires a proper arrangement of equipment layout, so that the circulation of workers is not disturbed and the production process is more efficient. Based on the ergonomic evaluation, it was found that there were machines that did not meet the anthropometric requirements, namely the smoothing machine and the grinding machine, both of which could be added to the height to avoid a bending position when operating them. Keywords : Production Room, Furniture, Layout, Workflow, Ergonomics, Anthropometry
Sengkalan Memet Pada Cagar Budaya Cirebon Agus Dody Purnomo; Ardianto Nugroho; Anggoro Cipto Ismoyo
JURNAL RUPA Vol 5 No 2 (2020): Open Issue
Publisher : Telkom University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25124/rupa.v5i2.2819

Abstract

In Javanese culture, a symbol has become a common media to describe historical events. One of the symbols used to describe it is Sengkalan Memet. Sengkalan Memet consists of three elements, visual, Sengkalan sentences, and the number of years of important events happening. Sengkalan Memet consists of pictures configuration, statue, or even a building. Keraton Kasepuhan Cirebon dan Taman Sunyaragi is one of the cultural heritage places that have Sengkalan Memet. The study is to explore Sengkalan Memet and the meaning in the Keraton Kasepuhan Cirebon and Taman Sunyaragi. The methodology implemented in this study is using a descriptive qualitative method. This study is expected to be an added value for artists, architects, designers and creative industries to take advantage of local wisdom. Furthermore this study can be used as an approach for design in this global era.
Fenomena Penggunaan Kayu pada Rumah Tradisional di Tepus, Gunungkidul, D.I Yogyakarta Anggoro Cipto Ismoyo; Satrio Hasto Broto Wibowo
JURNAL ARSITEKTUR PENDAPA Vol. 3 No. 2 (2020)
Publisher : Universitas Widya Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37631/pendapa.v3i2.163

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menggali konsep dan nilai-nilai lokal tentang fenomena penggunaan kayu pada rumah-rumah tradisional di Tepus, Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah fenomenologi. Dalam prosesnya, peneliti terlibat langsung di lapangan untuk mengenali, menggali, dan mengumpulkan informasi sebanyak mungkin dari objek maupun sumber-sumber informasi di lapangan, sehingga ditemukan tema-tema. Tema-tema tersebut kemudian dianalisis kedalam kategori-kategori sehingga dapat dikenali pola-pola umumnya untuk diintepretasikan dalam suatu konseptualisasi melalui generalisasi untuk memperoleh tujuan penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fenomena tentang penggunaan kayu pada rumah tradisional di Tepus dipengaruhi oleh nilai-nilai ekonomis, pengetahuan lokal, dan religi.
PENATAAN PERMUKIMAN INFORMAL KOTA MENJADI DAERAH TUJUAN WISATA STUDI KASUS: KAMPUNG TRIDI, MALANG Anggoro Cipto Ismoyo
ALUR :Jurnal Arsitektur Vol 4 No 1 (2021): MEI 2021
Publisher : Unika Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (947.194 KB) | DOI: 10.54367/alur.v4i1.1091

Abstract

Kampung Tridi merupakan sebutan bagi suatu pemukiman informal di kota Malang yang telah ditata menjadi daerah tujuan wisata. Penyesuaian fungsi dari sekadar kawasan bermukim menjadi kawasan pariwisata akan membawa pada upaya penyesuaian persyaratan sebagai tujuan wisata. Penelitian ini bertujuan untuk: 1). Mengungkap tentang konsep penataan permukiman informal menjadi daerah tujuan pariwisata, 2). Mengidentifikasi dan mendeskripsikan penerapan konsep penataan permukiman menjadi daerah tujuan wisata berdasarkan komponen pembentuk serta kegiatan pariwisata yang terjadi di dalamnya, serta 3). Menilai keberhasilan penataan permukiman informal menjadi daerah tujuan wisata berdasarkan tingkat kunjungan serta dampaknya bagi warga masyarakat. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif dan bersifat kualitatif, dengan strategi pengumpulan data melalui observasi lapangan dan wawancara, berikut analisis berdasar tinjauan pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsep penataan permukiman diawali melalui pembuatan mural gambar tiga dimensi pada seting fisik permukiman, kemudian dikembangkan dengan penyediaan beberapa sarana dan daya tarik wisata untuk mendukung kegiatan berwisata. Berdasarkan tingkat kunjungan, serta dampak positif secara sosial dan ekonomi yang diterima masyarakat, maka Kampung Tridi dapat dinilai sebagai strategi penataan permukiman informal dengan pendekatan kepariwisataan berbasis masyarakat yang berhasil.