Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : Metahumaniora

PEMETAAN PENGETAHUAN LOKAL UNTUK PEMBERDAYAAN WISATA BUDAYA Samson CMS; Tri Gumilar
Metahumaniora Vol 9, No 3 (2019): METAHUMANIORA, DESEMBER 2019
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/metahumaniora.v9i3.25942

Abstract

Pengetahuan lokal kini dianggap penting untuk mengatur tatanan masyarakat. Dengan mengenal pengetahuan lokal, sebuah bangsa akan mengetahui peradaban dirinya. Warisan nenek moyang ini merupakan kekuatan dalam menghadapi persaingan di kancah global. Dalam pengetahuan lokal tersimpan data dan informasi mengenai karakter keunikan lokal, ilmu pengetahuan, pengalaman masyarakat dalam menghadapi masalah dan kebutuhan serta solusinya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana peta potensi pengetahuan lokal dan budaya di masyarakat Tatar Karang serta alasan mengapa masyarakat Tatar Karang mendirikan pusat informasi budaya. Metode yang  digunakan  adalah studi kasus; pengamatan partisipatif, wawancara mendalam, studi dokumentasi serta repertoar tradisi literasi. Hasil penelitian menunjukkan: 1) peta pengetahuan lokal dan potensi wisata budaya yang sesuai dengan UU No. 5 tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan pasal 5 dan 11 sangat melimpah, baik secara kuantitas maupun kualitas; 2) pusat informasi budaya hadir sebagai ruang publik dan ruang ekspresi masyarakat Tatar Karang dalam upaya penggalian, pelestarian, transformasi dan pelayanan informasi budaya. Dengan mengenal sumber-sumber informasi pengetahuan lokal, kita akan mengetahui potensi faktual  budaya. Kehadirannya tidak saja menumbuhkan optimisme, tapi memberi solusi, ekonomi dan jati diri.
Aseuk Hatong Antara Seni Berkomunikasi dan Teknologi: Studi Fenomenologi tentang Budaya Bertani Ladang Masyarakat Tatar Karang Priangan Kabupaten Tasikmalaya CMS, Samson
Metahumaniora Vol 7, No 3 (2017): METAHUMANIORA, DESEMBER 2017
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/metahumaniora.v7i3.18850

Abstract

ABSTRAKTidak mampunya kita mendalami pengetahuan asli kita sendiri mengakibatkanterjadinya disharmoni teknologi dengan kebutuhan di lapangan, tidak terkecuali TeknologiTepat Guna (TTG) dalam pertanian ladang. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahuiperanan Aseuk Hatong dalam tradisi pertanian ladang di masyarakat Tatar Karang PrianganKabupaten Tasikmalaya yang religius Islami, tapi masih mempertahankan tradisi tersebut.Metode penelitian ini menggunakan studi fenomenologi Schutz. Hasil penelitian menunjukkanbahwa 1) Seni berkomunikasi: (kakawihan) dalam tradisi Aseuk Hatong adalah upayaharmonisasi antara petani dengan alam yang sedang kemarau melalui senandung ringan yangkontekstual. 2) Teknologi Tani: (Aseuk Hatong) adalah suatu alat untuk mengolah untuk tanahladang pada musim kemarau yang dibalut dengan estetika musikal sederhana khas petaniladang, hasil pengembangan teknologi yang tepat guna, menyenangkan, inovatif, fungsional,terjangkau, murah, dan ramah lingkungan. Dengan demikian, dapat dirumuskan bahwa TradisiAseuk Hatong di Tatar Karang Priangan merupakan media persuasif bertani di kala ngahuma(berladang) tidak dibarengi musim penghujan. Tradisi Aseuk Hatong juga merupakanpengembangan teknologi yang sangat memperhitungkan kearifan lokal yang berlaku.Kata kunci: aseuk hatong, kawih, komunikasi seni, teknologi tani, pertanian ladangABST RACTOur inability to deepen our own original knowledge results in disharmony of technologywith the needs in the field, including the Appropriate Technology (TTG) in agriculture. It istherefore that in any development it is often not harmonious with the needs of society. Theobjective of the research is to know the role of Aseuk Hatong in the agricultural tradition in theTatar Karang Priangan community of Tasikmalaya Regency whicht is religiously Islamic yetstill maintains the tradition. The research method is Schutz phenomenology study. The resultsof research show that (1) the art of communicating (kakawihan) in Aseuk Hatong tradition isa harmonious effort between farmers and the dry nature through mild, contextual humming.(2) Farm technology (Aseuk Hatong)is a tool to cultivate the soil, plowing the fields during thedry season by wrapping with simple typical musical aesthetics of field farmers as the resultsof appropriate technology development, fun, innovative, functional, affordable, cheap, andenvironmentally friendly. As the conclusion, it can be said that Aseuk Hatong Tradition in TatarKarang Priangan as a persuasive media farming during ngahuma (farming) not accompaniedby rainy season is a technology development that takes into account local wisdom occur.Keywords: aseuk hatong, kawih, art communication, farming technology