Arya Govinda Roosheroe, Arya Govinda
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

HIV pada Geriatri HIV in Geriatrics Ainun, Nur; Yunihastuti, Evy; Roosheroe, Arya Govinda
Jurnal Penyakit Dalam Indonesia Vol 3, No 2 (2016)
Publisher : Jurnal Penyakit Dalam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Jumlah pasien HIV yang berusia lanjut semakin bertambah dikarenakan angka kesintasan pasien yang meningkat dan infeksi HIV pada pasien usia lanjut. Populasi pasien tersebut membutuhkan penatalaksaan tersendiri dikarenakan terdapat sejumlah komorbid baik yang berhubungan dengan HIV maupun tidak, polifarmasi, penurunan kapasitas fungsional dan isu sosial.Kata kunci: geriatri, HIV, komorbid, kronik, penuaanHIV in GeriatricsThrough both prolonged survival and late acquisition of the disease, numbers of older adults with HIV are climbing. Along with ageing process is an accumulation of HIV-associated non-AIDS related comorbidities, creating a complex patient group affected by multi-morbidity along with polypharmacy, functional decline and social issues. Keywords: ageing, chronic, comorbidity, geriatrics, HIV
Determinan Diagnostik Klinis Defisiensi Vitamin D pada Wanita Berusia Lebih dari 50 Tahun Vera, Vera; Setiati, Siti; Roosheroe, Arya Govinda
Jurnal Penyakit Dalam Indonesia Vol 2, No 1 (2015)
Publisher : Jurnal Penyakit Dalam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendahuluan. Prevalensi deifisiensi vitamin D pada wanita 50 tahun ke atas di Indonesia cukup tinggi namun pemeriksaan kadar vitamin D serum sangat mahal. Oleh karena itu, diperlukan alat penyaring defisiensi vitamin D yang cukup ekonomis dan sederhana untuk dikerjakan di layanan kesehatan primer.Metode. Penelitian ini merupakan penelitian diagnostik, menggunakan desain potong lintang (cross-sectional) sehubungan dengan pengambilan data hanya dilakukan sewaktu saja. Penelitian ini dilakukan di Kotamadia Bandung selama Agustus–Oktober 2012. Pada 240 subjek, dilakukan pengumpulan data berupa karakteristik responden, diabetes mellitus, penyakit ginjal kronik, riwayat jatuh, riwayat fraktur setelah menopause, nyeri tulang, skor paparan sinar matahari, skor proteksi sinar matahari, status gizi, kinerja fisik (5 timed chair-stands dan uji sikap tandem), status kesehatan (jumlah dan derajat berat penyakit kronis), kadar vitamin D serum. Untuk pengujian statistik hubungan antara dua variabel kualitatif dikotom dilakukan dengan uji Chi-square dilanjutkan dengan uji multivariat.Hasil. Penelitian ini menemukan hubungan yang bermakna secara statistik antara diabetes mellitus, skor proteksi matahari, kelemaan otot ekstremitas bawah dengan defiisensi vitamin D. Berdasarkan ketiga determinan tersebut, dapat dibuat sistem skoring yang dapat digunakan untuk menyaring kelompok wanita 50 tahun ke atas yang mempunyai probabilitas besar menderita defisiensi vitamin D.Simpulan. Determinan diagnostik defisiensi vitamin D berat yang ditemukan pada penelitian ini meliputi: adanya diabetes melitus, skor proteksi matahari, kelemahan otot tungkai bawah. Sistem skoring untuk menyaring defisiensi vitamin D berat pada wanita berusia 50 tahun ke atas dapat dibuat berdasarkan ketiga determinan tersebut di atas. Bobot untuk masing-masing determinan adalah: 1 untuk diabetes mellitus dan kelemahan otot tungkai bawah serta 2 untuk skor proteksi matahari. Bila penjumlahan dari skor ketiga komponen tersebut ³2, maka subjek tersebut diprediksi menderita defisiensi vitamin D berat.