Fatmawaty Mallapiang, Fatmawaty
Unknown Affiliation

Published : 5 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

EFEKTIVITAS PEMBERIAN MADU TERHADAP PENINGKATAN KADAR HEMOGLOBIN (Hb) PADA PEKERJA WANITA DI PT. MARUKI INTERNATIONAL INDONESIA Harjuna, Asrul; Mallapiang, Fatmawaty; Idris, Fairus Prihatin
Jurnal Ilmiah Kesehatan Diagnosis Vol 13 No 6 (2019): Jurnal Ilmiah Kesehatan Diagnosis
Publisher : STIKES Nani Hasanuddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (331.619 KB)

Abstract

Gizi pada pekerja mempunyai peran penting, terutama dalam rangka meningkatkan disiplin dan produktivitas.Pekerja perlu mendapatkan asupan gizi yang cukup dan sesuai dengan jenis atau beban pekerjaannya. Menurut data ILO (2015) setiap 15 detik, satu orang pekerja meninggal karena kecelakaan atau penyakit dan 153 pekerja mengalami kecelakaan yang berhubungan dengan pekerjaan. Data dari klinik perusahaan PT. Maruki International Indonesia menunjukkan bahwa kunjungan pasien ke klinik perusahaan selama Januari ? Juli tahun 2018 dengan keluhan (demam, sakit kepala, lemas, insomnia, pusing, nyeri dada) berjumlah 387, rata-rata adalah pekerja wanita. Keluhan tersebut memberikan indikasi adanya gejala anemia pada pekerja wanita.Penelitian ini menggunakan jenis penelitian Quasi Eksperiment.Populasi adalah seluruh pekerja wanita pada bagian produksi PT. maruki International Indonesia.Sampel 24 orang yang dibagi ke dalam 4 kelompok (masing ? masing 6 orang).Kelompok dosis rendah (madu 1 sendok), kelompok dosis sedang (madu 2 sendok), kelompok dosis tinggi (madu 3 sendok), dan kelompok kontrol. Data di analisis dengan menggunakan SPSS untuk mendapatkan analisis univariat dan bivariat menggunakan Uji Kolmogorov Smirnov, Uji Paired Sample T-test dan Uji Kruskal-Wallis Test. Hasil penelitian dari 24 responden didapatkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan pemberian madu terhadap peningkatan kadar Hemoglobin. Madu dosis rendah (madu 1 sendok) p=0,034 < 0,05, madu dosis sedang (madu 2 sendok) p=0,000 < 0,05, dan madu dosis tinggi (madu 3 sendok) p=0,000< 0,05, sedangkan kelompok kontrol p=0,328 > 0,05. Disimpulkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan pemberian madu terhadap peningkatan kadar Hemoglobin (Hb) pekerja wanita di PT. Maruki International Indonesia, dan yang paling berpengaruh adalah dosis tinggi (madu 3 sendok). Disarankan agar pekerja wanita rutin mengkonsumsi madu.
PENGARUH WUDHU DAN STRATEGI 20:20:20 TERHADAP SINDROM ASTENOPIA PADA KARYAWAN PENGGUNA KOMPUTER DI RSUD KOTA MAKASSAR Sukmawati, Sukmawati; Mallapiang, Fatmawaty; ikhtiar, Muh.
Jurnal Ilmiah Kesehatan Diagnosis Vol 14 No 1 (2019): Jurnal Ilmiah Kesehatan Diagnosis
Publisher : STIKES Nani Hasanuddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (198.264 KB) | DOI: 10.35892/jikd.v14i1.93

Abstract

World Health Organitation (WHO) mencatat angka kejadian astenopia di dunia rata-rata 75% per tahun, sehingga perlu dilakukan upaya pencegahan dalam meminimalkan kejadian tersebut. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh wudhu dan strategi 20:20:20 terhadap sindrom astenopia pada karyawan pengguna komputer di RSUD Kota Makassar. Rancangan penelitian ini adalah Quasi Experimen yaitu pada 60 responden yang dibagi menjadi tiga kelompok (kelompok wudhu, kelompok strategi 20:20:20 dan kelompok kontrol). Pengambilan sampel dilakukan dengan metode purposive sampling, selanjutnya data dianalisis dengan menggunakan uji paired t test dengan ? = 0,05. Hasil penelitian ini menunjukkan pada kelompok wudhu pre test mean±SD : 4,25±1,11 dan pada post test mean±SD : 3,00±0,79, dengan perubahan mean±SD 1,25±0,78, demikian halnya pada kelompok strategi 20:20:20, pre test mean±SD : 4,05±0,88 dan post test mean±SD : 2,95±0,88, dengan perubahan mean±SD : 1,10±0,85, ada pengaruh signifikan wudhu dan strategi 20:20:20 (p:0,000) terhadap sindrom astenopia pada karyawan pengguna komputer di RSUD Kota Makassar. Oleh karena itu disarankan kepada pihak manajemen RSUD Kota Makassar untuk menginstruksikan pembudayaan wudhu dan strategi 20:20:20 pada karyawan pengguna komputer, dan juga karyawan pengguna komputer agar menerapkan wudhu secara terjadwal setiap 2 ? 3 jam dan strategi 20:20:20 saat bekerja serta diharapkan kepada karyawan pengguna komputer untuk memperhatikan gejala sindrom astenopia dan dampaknya terhadap kinerja dan kesehatan.
KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3) SAAT MELAUT PADA PENANGKAP IKAN DI KELURAHAN LAPPA KECEMATAN SINJAI UTARA Rahman, Irfandi; Mallapiang, Fatmawaty; Fachrin, Suharni A.
Jurnal Ilmiah Kesehatan Diagnosis Vol 13 No 6 (2019): Jurnal Ilmiah Kesehatan Diagnosis
Publisher : STIKES Nani Hasanuddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (424.854 KB)

Abstract

Nelayan penangkap ikan adalah sebuah pekerjaan diatas permukaan perairan, dimana nelayan penangkap ikan berisiko tinggi untuk mengalami Kecelakaan Akibat Kerja ataupun Penyakit Akibat Kerja (Kalalo, 2016, Handayani, 2014, Tjahjanto, 2016, Purwanto, 2014, Putra, 2017, Purwangka, 2013). Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji penerapan keselamatan kerja saat melaut pada nelayan penangkap ikan di Kelurahan Lappa, dan mengkaji penerapan kesehatan kerja saat melaut pada nelayan penangkap ikan di Kelurahan Lappa. Penelitian ini mengunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Informan penelitian ini sebanyak 6 orang, dengan kriteria nelayan penangkap ikan. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara mendalam, telaah dokumen, dan obsevasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keselamatan kerja saat melaut (memiliki pengalaman dan pengetahuan keselamatan, alat-alat keselamatan, penggunaan APD, tidak takabur dan berkata kotor dilaut). Sedangkan kesehatan kerja pada nelayan penangkap ikan saat melaut (memiliki kartu nelayan, kotak P3K, pemeriksaan kesehatan sebelum melaut). Kesimpulan (1) nelayan penangkap ikan memiliki pengetahuan keselamatan, alat-alat keselamatan, penggunaan APD (Alat Pelindung Diri), dan tidak boleh takabur dan berkata kotor dilaut. (2) nelayan penangkap ikan perlu menyiapkan alat kesehatan seperti kotak P3K, kartu nelayan, program penyuluhan kesehatan, dan unit-unit kesehatan untuk nelayan penangkap ikan di Kelurahan Lappa Kecamatan Sinjai Utara Kabupaten Sinjai.
PENGARUH AIR WUDHU TERHADAP COMPUTER EYES SYNDROME (ASTHENOPIA) PADA KARYAWAN RUMAH SAKIT ISLAM FAISAL KOTA MAKASSAR Mukhaiminah, Ina; Mallapiang, Fatmawaty; Habo Abbas, Sci Hasriwiani
Jurnal Ilmiah Kesehatan Diagnosis Vol 14 No 1 (2019): Jurnal Ilmiah Kesehatan Diagnosis
Publisher : STIKES Nani Hasanuddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (253.691 KB) | DOI: 10.35892/jikd.v14i1.84

Abstract

Astenopia adalahgangguan yang dialami mata karena otot-ototnya yang dipaksa bekerja kerasterutama saat harus melihat objek dekat dalam jangka waktu lama. Semua aktifitasyang berhubungan dengan pemaksaan otot-otot tersebut untuk bekerja keras,sebagaimana otot-otot yang lain akan bisa membuat mata mengalami gangguan.Gejalanya mata terasa pegal biasanya akan muncul setelah beberapa jam kerja.Pada saat otot mata menjadi letih, mata akan menjadi tidak nyaman atau sakit.Tujuan penelitian ini adalah di ketahuinya pengaruh air wudhu terhadap computer eyes syndrome ( asthenopia ) pada karyawan Rumah Sakit Islam Faisal Kota Makassar. penelitian ini digunakan rancangan penelitianeksperimental: Quasi Experimen. yaitu rancangan eksperimen dengan cara sampel diberikan kuesioner (pengukuran sindrom astenopia) sebelum dan setelah dilakukan treatment (perlakuan) yang terdiri atas dua kelompok yakni: kelompok wudhu, dan kelompok kontrol.Sampel penelitian ini berjumlah 50 karyawan yang menggunakan komputer dan memenuhi kriteria inklusi dan di bagi kedalam dua kelompok. Analisa data menggunakan uji wilcoxon didapatkan p = 0,000 < ? = 0,05 menunjukkan bahwa Ha diterima.untuksyndrome asthenopia sebelum intervensi terapi air wudhu menunjukkan mean rank 0,00 sedangkan untuk syndrome asthenopia sesudah intervensi terapi air wudhu menunjukkan mean rank 0,13.Kelompok kontrol dengan menggunakan uji wilcoxon didapatkan p = 1,000 > ? = 0,05 menunjukkan bahwa Ha diterima.untuk kelompok kontrol karena tidak ada perubahan syndrome asthenopia. Sebelum intervensi air wudhu menunjukkan mean rank 0,00 sedangkan untuk syndrome asthenopia tanpa pemberian intervensi terapi air wudhu tetap menunjukkan mean rank 0,00. Saran saya sebagai peneliti sebaiknya pihak Rumah Sakit Islam Faisal Kota Makassar lebih memperhatikan karyawan yang mengalami syndrome asthenopia untuk meningkatkan kualitas kerja karyawan.
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Sebelum Melaut Pada Nelayan Penangkap Ikan Di Kelurahan Lappa Kecematan Sinjai Utara Rahman, Irfandi; Mallapiang, Fatmawaty; Fachrin, Suharni Andi; Abbas, Hasriwiani Habo
Window of Health : Jurnal Kesehatan Vol. 2 No. 1 (Januari, 2019)
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (558.774 KB) | DOI: 10.33368/woh.v0i0.150

Abstract

Fishermen fishing is a job on the surface of the water, where fishermen catching fish are at high risk of experiencing Accidents due to Work or Disease due to Work (Kalalo, 2016, Handayani, 2014, Tjahjanto, 2016, Purwanto, 2014, Putra, 2017, Purwangka, 2013). This study aims to examine the application of occupational safety to fishing fishermen in Lappa Village and examine the application of occupational health to fishing fishermen in Lappa Village. This study uses qualitative research methods with a phenomenological approach. The informants of this study were 6 people, with the criteria of fishing fishermen. The technique of collecting data uses in-depth interviews, document review, and observation. Research results show that work safety before going to sea (having experience and knowledge of the weather, praying, checking the condition of the boat and engine, safety equipment). While occupational health for fishing fishermen before going to sea (having a fishing card, knowing the functions and benefits of fishing cards, conducting a health check). Conclusion (1) important fishing fishermen prepare safety before going to sea. (2) fishing fishermen need to prepare medical devices such as first aid kits, fishermen cards, health education programs, and health units for fishing fishermen in Lappa Village, North Sinjai District, Sinjai District.