Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

JENIS ALGA COKLAT PENGHASIL ALGINAT DI PULAU AMBON Frijona F Lokollo; Ronald D Hukubun
Jurnal Laut Pulau: Hasil Penelitian Kelautan Vol 1 No 1 (2022): Jurnal Laut Pulau
Publisher : Prodi Ilmu Kelautan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Pattimura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/jlpvol1iss1pp1-10

Abstract

Brown algae contains alginate is a hydrocolloid compound. This study aims to determine the types of brown algae as alginate producers in the coastal waters of Ambon island, Tial and Liang villages, Central Maluku. This research was conducted in April 2021. Sampling is carried out by means of free collection at low tide, at the time of sampling it is visually observed the condition of the substrate on which brown algae. Liang village beach as a whole has a variety of substrates of rocky, rocky sand, sand mixed with dead coral. However, in the sampling area, it was found that the dominant substrate was rocky sand substrate, and dead coral. Tial village beach has four types of substrates, namely rocky substrates in area A directly adjacent to the coast and have a substrate area of 2,250 m2 (15%), coral fault substrates and rocky in area B are in the littoral zone have a substrate area of 3,000 m2 (20%), sand substrates and coral faults in area C are in the littoral zone have a substrate area of 5,250 m2 (35%) coral substrates in area D are directly adjacent to the subtidal area and have a substrate area of 4,500 m2 (30%). All four substrates are in the intertidal zone. The substrates that cover the observation area a lot are sand substrates and coral faults. The results of the identification of brown algae species on the shores of Liang and Tial villages found four species classified in one division, one class, two families, and three genera. The diversity of brown algae species in the coastal waters of Tial there are three types of brown algae, Sargassum duplicatum, Turbinaria ornata, and Padina minor and on Liang beach there are two species of brown algae, Sargassum polycyctum and Padina minor. The four types of brown algae found have the potential to be a source of alginate
KELAYAKAN PENGGUNAAN DATA SUHU PERMUKAAN LAUT AVHRR PATHFINDER DAN AQUA MODIS DI PERAIRAN PASIFIK BARAT WARM POOL Harold J D Waas; Simon Tubalawony; Ronald D Hukubun
Jurnal Laut Pulau: Hasil Penelitian Kelautan Vol 1 No 1 (2022): Jurnal Laut Pulau
Publisher : Prodi Ilmu Kelautan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Pattimura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/jlpvol1iss1pp11-23

Abstract

Kelayakan penggunaan data set citra AVHRR Pathfinder Day and Night dan Aqua MODIS (SSTSkin) sebagai model telah diuji melalui validasi data in situ SST(SSTBulk) Triton Bouy Mooring yang terekam pada kedalaman 1,5 meter di bawah air permukaan laut selama periode monsun barat (2002 - 2003 tahun) di Warm Pool Pasifik Barat. Hasil analisis menunjukkan bahwa meskipun resolusi spasial yang berbeda, akurasi dan variasi pengukuran SSTSkin kedua model relatif sama dan memiliki korelasi yang kuat dengan SSTBulk (AVHRR RMSE = 0,51C, Cv = 2%, r = 0,63 ; MODIS RMSE = 0, 55 C, Cv = 2% , r = 0, 84) dan berada pada kisaran sintesis penelitian sebelumnya di perairan yang berbeda. Respons AVHRR dan MODIS SSTSkin terhadap SSTBulk sangat berbeda di mana MODIS SSTSkin selalu lebih besar dari SSTBulk (Bias ± STD ; 0,72 ± 0,44 C). Kecepatan angin > 3 m/s meningkatkan kedua nilai SSTSkin and SSTBulk sebaliknya kecepatan angin < 2.5 m/s menyebabkan efek pendinginan pada permukaan. Periode peningkatan SSTSkin akan terjadi di bawah pengaruh anomali angin barat (WWBs) atau anomali angin timur (EWBs). Tidak seperti MODIS, AVHRR SSTSkin selalu lebih rendah dari SSTBulk (Bias ± STD; -0.14 ± 0.69 C) dan SSTSkin > hanya terjadi di bawah pengaruh WWBs dan EWBs. Hasil uji Test-t (paired) pada selang kepercayaan 95% menunjukkan tidak ada perbedaan signifikan antara hasil pengukuran model dengan SSTBulk in situ diindikasikan oleh tcal < ttab (AVHRR tcal = -1.383 < ttab = 2.010 ; MODIS tcal = -4.133 < ttab = 2.010). Dengan demikian, kedua data model dapat digunakan untuk penelitian oseanografi dan aplikasi lainnya menggunakan SST sebagai parameter kunci di perairan tersebut.
UKURAN PERTAMA KALI TERTANGKAP (LC50%) DAN HUBUNGAN PANJANG BERAT CAKALANG (Katsuwonus pelamis) DI LAUT BANDA Imanuel V T Soukotta; Louis D Moniharapon; Rahman Rahman; Ronald D Hukubun
Jurnal Laut Pulau: Hasil Penelitian Kelautan Vol 1 No 2 (2022): Jurnal Laut Pulau
Publisher : Prodi Ilmu Kelautan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Pattimura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/jlpvol1iss2pp12-18

Abstract

Laut Banda sebagai daerah penangkapan potensial ikan pelagis kecil dan besar berada pada Wilayah Pengelolaan Perikanan RI 714 memiliki potensi perikanan sebesar 788.939 ton/tahun. Penentuan ukuran layak tangkap adalah salah satu solusi menghindari tertangkapnya ikan-ikan ukuran kecil. Harapannya, ikan yang tertangkap sudah pernah (minimum sekali) melakukan pemijahan. Penangkapan terhadap ikan berukuran kecil berdampak pada ketersediaan stok ikan yang siap memijah. Jumlah ikan induk yang siap memijah tidak cukup untuk membuat keseimbangan stok di suatu perairan. Penelitian ini dilakukan pada bulan Mei 2016 sampai Maret 2017 di TPI Seri untuk mengetahui aspek biologi ukuran pertama kali tertangkap dan hubungan panjang berat.sampel diambil secara acak saat nelayan turunkan ikan dari kapal. Hasil Penelitian menunjukan Panjang maksimum ikan Cakalang (Lmax) saat penelitian yaitu 74,5 dan panjang minimumnya 12,5 cm. Hasil perhitungan diperoleh nilai Lc50% sebesar 69,0 cm dan nilai L∞ sebesar 78,4 cm, sehingga ½ L∞ sebesar 39,25 cm. Nilai koefisien b yang diperoleh dari persamaan hubungan panjang berat cakalang adalah 3,001 di wilayah perairan Laut Banda, dengan koefisien determinasi adalah 0,94. Setelah diuji dengan nilai t hitung maka nilai koefisien b=3 atau thitung < ttabel. Ini berarti bahwa pola pertumbuhan cakalang di Laut Banda berpola isometrik. Hal tersebut menunjukan ukuran ikan 69 cm yang tertangkap sebagian besar sudah layak untuk ditangkap
PENDIDIKAN MITIGASI BENCANA PESISIR DAN LAUT BAGI SISWA SMA ANGKASA, KOTA AMBON Simon Tubalawony; Johanis Hiariey; Alex S W Retraubun; Laura Siahainenia; Ronald D Hukubun
BALOBE: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol 1 No 2 (2022): BALOBE: Jurnal Pengabdian Masyarakat
Publisher : Universitas Pattimura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/balobe.1.2.47-52

Abstract

The Maluku Province region has the potential and is prone to high threats of natural disasters. The condition of the area consisting of small islands requires the community to have knowledge of coastal and marine disaster mitigation, so that it will increase awareness and minimize the impact when a disaster occurs. There are several stages in the implementation of PKM, including initial survey, coordination, problem identification, PKM implementation and counseling. Through this PKM, it has increased the understanding of the public (Angkasa high school students) to be more alert and alert to the potential vulnerability of coastal and marine disasters which can occur at any time
PEMANFAATAN TEKNOLOGI INDERAJA UNTUK PENINGKATAN EKONOMI NELAYAN DI DESA LILIBOY Ronald D Hukubun; Valentine D Saleky; Imanuel V T Soukotta; Marlin Ch Wattimena; Degen E Kalay
BALOBE: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol 1 No 2 (2022): BALOBE: Jurnal Pengabdian Masyarakat
Publisher : Universitas Pattimura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/balobe.1.2.71-79

Abstract

Remote sensing technology has developed very rapidly and has a very significant role in the fisheries and marine sector as a provider of data and information. Liliboy Country is a coastal village located on the island of Ambon which has very productive waters with potential for fishing activities. This Community Service is made in the form of counseling, with the aim of introducing technological knowledge and providing information about fishing areas, as well as developing skills for the fishermen of Liliboy village to get more effective and efficient catches. It is hoped that the fishing community of Liliboy village will understand the use of sensing technology to determine fishing areas so that it will grow the community's economy and improve the welfare of life