Wibisono Adi, Arif
Universitas Muhammadiyah Surakarta

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

ANALISIS STRES DAN PENGARUHNYA TERHADAP KINERJA PENGUSAHA INDUSTRI KECIL (Studi Kasus pada Centra Industri Konveksi Di Kecamatan Wedi Kabupaten Klaten) Wibisono Adi, Arif
Indigenous Vol. 4, No. 2, November 2000
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/indigenous.v4i2.4771

Abstract

The role of the entrepreneurs in the home industry is very importan, because they are the owners and also the managers, and in the home industry there is still no distribution of tasks of different managerial fields, such as marketing, accountant, human resource, production, and financial fields. All of the tasks are handled by the entrepreneurs themselves.To increase the productivity of the industry, the entrepreneurs must improve their knowledge, their skills, and their psychological condition. One of the crucial psychological condition is the problem of stress. The twentieth century is well-known as “the Age of Anxiety of Stress”. Stress gives negative impacts on the well-being of the people.It has been suggested that hight level of the stress gives negative impact on the performance of the entrepreneurs. But it is not only the level of stress, but also the kind of stressors and the way of stress coping give the contribution to the effect of stress on the performance.This research aimed to study the effect of stress on the performance of the garment entrepreneurs at Kecamatan Wedi Kabupaten Klaten by the case study method. To collect the data, it was used questionnaires, interviews and observations. The technique of analysis was quantitative descriptive.This case study involved four young adult entrepreneurs (1 female, 3 males) as samples, out of 141 garment entrepreneurs as the population. It was used purposive sampling technique.It was found that the higher the level of the stress, the more negative the performance but it must be considered the stressors and the stress coping behavior. If the stressors are problems of human relation in the family, the negative effects will be greater than the non human relation stressors. If the stress coping is problem-oriented, the negative effects will be smaller than the emotion-oriented way of the stress coping.
PSIKOLOGI TRANSPERSONAL: KASUS SHALAT Wibisono Adi, Arif
Indigenous Vol. 6, No. 1, Mei 2002
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/indigenous.v0i0.4614

Abstract

Psikologi Transpersonal merupakan integrasi dari hikmah tradisi dunia spiritual dan kajian psikologi modern. Dalam pandangan transpersonal, Shalat merangsang ruh seseorang (aku yang fana-mikrokosmos) untuk menemui Ruh Ilahiah (AKU yang kekal-makrokosmos). Hal ini mengembangkan suatu pengalaman puncak atau suatu taraf kesadaran yang lebih dalam. Ketika kita mendekati kondisi ini, berbagai kekuatan dari ruh mulai muncul: kedamaian, kegembiraan, cinta kasih, kebahagiaan, dan kekuatan. Masuknya kualitas-kualitas ruh ini ke dalam kehidupan kita memberikan solusi bagi kebingungan dan derita kita. Pertumbuhan, transformasi, dan kesehatan akan dibangkitkan. 
MEMBANGUN KURIKULUM PSIKOLOGI YANG BERWAWASAN ISLAM Wibisono Adi, Arif
Indigenous Vol. 2, No. 2, November 1995
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/indigenous.v2i2.4743

Abstract

Akibat kolonialisme Barat, di Dunia Islam dibangunlah sistem pendidikan Barat sekular yang semakin maju, sehingga timbul Universitas-universitas yang kemudian menghasilkan lulusan-lulusan yang ahli dalam disiplin ilmu tertentu, tapi yang buta sama sekali dengan khasanah Islam, banyak dari mereka justru mempunyai citra negatif terhadap agamanya sendiri, bahkan ada yang lebih Barat dari orang Barat sendiri. Di lain pihak, mereka yang tak setuju dengan sistem pendidikan sekular, tetap mempertahankan sistem pendidikan tradisional Islam, dan kurang mau menerima ilmu-ilmu baru sejalan dengan kemajuan jaman, sehinggal lulusannya ahli dalam ajaran-ajaran Islam khusus, tapi buta sama sekali dengan ilmu-ilmu baru yang timbul sebagai jawaban terhadap tantangan jaman. Terjadilah "gap" di antara keduanya. Timbullah kemudian dikhotomi dalam sistem pendidikan dan dualisme dalam kurikulum-kurikulum "Islam" dan kurikulum sekular- yang berbeda berbeda atau lebih tepat bertentangan satu sama lain. Kurikulum "Islam" untuk jangka waktu yang lama tidak diubah, seakan-akan menutup diri dari perubahan jaman dan tidak berhubungan dengan realitas dan modernitas. Hal ini sebagian karena konsevatisme dan penuh kecurigaan dari pemimpin-pemimpinnya, sebagian lagi memang rencana sekularis supaya lulusan-lulusan pendidikan Islam itu tidak merupakan saingan bagi mereka. Setelah Dunia Islam mencapai kemerdekaannya, keadaan bukn bertambah baik. Pemimpin-pemimpin bangsa kebanyakan lulusan pendidikan sekular, dan pendidikan Islam dibiarkan terbelakang terus. Fakultas-fakultas Psikologi di Indonesia yang mulai didirikan sejak tahun 1960-an, kurikulumnya sebagian besar mengacu pada pendidikan Barat sekular. Dengan semakin berkembangnya upaya islamisasi psikologi akhir-akhir ini, dipertanyakan kemudian bagaimana kira-kira kurikulum psikologi yang berwawasan Islam itu, apakah tetap sama, diperbaiki di sana sini, atau dirombak sama sekali? Makalah ini akan membahas sedikit permasalahan tersebut.