Claim Missing Document
Check
Articles

Found 29 Documents
Search

RESISTENSI ATAS PENGENDALIAN TEMBAKAU TERHADAP HAK-HAK EKONOMI, SOSIAL, DAN BUDAYA DI KALANGAN PETANI SRINTHIL Khanifa, Nurma Khusna
Wahana Akademika: Jurnal Studi Islam dan Sosial Vol 5, No 1 (2018): Wahan Akademika
Publisher : Kopertais Wilayah X Jawa Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/wa.v5i1.2562

Abstract

AbstractThe World Health Organization (WHO) has indeed adopted the Framework Convention on Tobacco Control (FCTC) in the 56th World Health Assembly in 2003. The FCTC provides reference to the importance of worldwide tobacco control. The impact of this resistance is the tobacco farmers of Temanggung Regency. Tobacco planted on the slopes of Sindoro and Sumbing mountains, Temanggung Regency, is the number one tobacco producer of tobacco srinthil. Srinthil Tobacco has been listed as Geographical Indication No. ID G 000 000 027 at the Directorate General of Intellectual Property. Srinthil is located in the village of Legokari Tlogomulyo District has a high quality has placed it as a green gold title. Cultural heritage has left the custom of ritual in obtaining the quality of tobacco. But behind the success of tobacco as one of the commodities that have a large contribution to state revenues, the government actually issued several policies against the development of marketing. The government’s appreciation of the tobacco leaf lately seems half-hearted. For farmers, tobacco is not just a commodity. Tobacco is an important part of the spiritual life. Elements of tobacco in the form of chopping, clove or cigarettes in offerings that symbolize fire, water, air and soil. Thus tobacco is considered as a balance between man and nature. The way to see the tobacco issue from a health standpoint by negating this other perspective is not only inappropriate but rather misleading. The reason is that tobacco is a legal and superior commodity that has a vital role with the linkage of economic, social and cultural interests. Therefore, the government can not yet accommodate the human rights of economic, social and cultural rights.AbstrakWorld Health Organization (WHO) memang telah mengadopsi Framework Convention on Tobacco Control (FCTC) dalam Sidang Kesehatan Dunia (World Health Assembly) ke-56 pada 2003. FCTC ini memberikan rujukan tentang betapa pentingnya pengendalian tembakau di seluruh dunia. Dampak yang dirasakan adanya resistensi ini ialah petani tembakau Kabupaten Temanggung. Tembakau yang ditanam di lereng gunung Sindoro dan Sumbing, Kabupaten Temanggung, sebagian adalah penghasil tembakau kualitas nomor satu, yakni tembakau srinthil. Tembakau Srinthil telah terdaftar sebagai Indikasi Geografis No. ID G 000 000 027 di Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual. Srinthil berada di Desa Legoksari Kecamatan Tlogomulyo ini memiliki berkualitas tinggi telah menempatkannya sebagai sebutan emas hijau. Warisan budaya telah meninggalkan adat berupa ritual dalam mendapatkan mutu tembakau. Tetapi dibalik kesuksesan tembakau sebagai salah satu komoditas yang memiliki sumbangsih besar terhadap penerimaan negara, pemerintah justru mengeluarkan beberapa kebijakan yang menentang terhadap perkembangan pemasaran. Apresiasi pemerintah terhadap daun tembakau belakangan nampak setengah hati. Bagi para petani, tembakau memang tak sekedar komoditi. Tembakau menjadi bagian penting dari kehidupan spiritual. Unsur tembakau berupa rajang, kretek atau rokok dalam sesaji yang melambangkan api, air, udara dan tanahal. Dengan demikian tembakau dianggap sebagai penyeimbang antara manusia dan alam. Cara melihat persoalan tembakau dari sudut pandang kesehatan dengan meniadakan perspektif lainnya ini bukan hanya tidak tepat melainkan justru menyesatkan. Alasannya, tembakau adalah barang legal dan komoditi unggulan yang mempunyai peran vital dengan pertautan kepentingan ekonomi, sosial dan budaya. Oleh sebab itu pemerintah belum bisa menjadi mengakomodir hak-hak manusia (human rights) hak-hak ekonomi, sosial dan budaya.
RESISTENSI ATAS PENGENDALIAN TEMBAKAU TERHADAP HAK-HAK EKONOMI, SOSIAL, DAN BUDAYA DI KALANGAN PETANI SRINTHIL Nurma Khusna Khanifa
Wahana Akademika: Jurnal Studi Islam dan Sosial Vol 5, No 1 (2018): Wahan Akademika
Publisher : Kopertais Wilayah X Jawa Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/wa.v5i1.2562

Abstract

AbstractThe World Health Organization (WHO) has indeed adopted the Framework Convention on Tobacco Control (FCTC) in the 56th World Health Assembly in 2003. The FCTC provides reference to the importance of worldwide tobacco control. The impact of this resistance is the tobacco farmers of Temanggung Regency. Tobacco planted on the slopes of Sindoro and Sumbing mountains, Temanggung Regency, is the number one tobacco producer of tobacco srinthil. Srinthil Tobacco has been listed as Geographical Indication No. ID G 000 000 027 at the Directorate General of Intellectual Property. Srinthil is located in the village of Legokari Tlogomulyo District has a high quality has placed it as a green gold title. Cultural heritage has left the custom of ritual in obtaining the quality of tobacco. But behind the success of tobacco as one of the commodities that have a large contribution to state revenues, the government actually issued several policies against the development of marketing. The government’s appreciation of the tobacco leaf lately seems half-hearted. For farmers, tobacco is not just a commodity. Tobacco is an important part of the spiritual life. Elements of tobacco in the form of chopping, clove or cigarettes in offerings that symbolize fire, water, air and soil. Thus tobacco is considered as a balance between man and nature. The way to see the tobacco issue from a health standpoint by negating this other perspective is not only inappropriate but rather misleading. The reason is that tobacco is a legal and superior commodity that has a vital role with the linkage of economic, social and cultural interests. Therefore, the government can not yet accommodate the human rights of economic, social and cultural rights.AbstrakWorld Health Organization (WHO) memang telah mengadopsi Framework Convention on Tobacco Control (FCTC) dalam Sidang Kesehatan Dunia (World Health Assembly) ke-56 pada 2003. FCTC ini memberikan rujukan tentang betapa pentingnya pengendalian tembakau di seluruh dunia. Dampak yang dirasakan adanya resistensi ini ialah petani tembakau Kabupaten Temanggung. Tembakau yang ditanam di lereng gunung Sindoro dan Sumbing, Kabupaten Temanggung, sebagian adalah penghasil tembakau kualitas nomor satu, yakni tembakau srinthil. Tembakau Srinthil telah terdaftar sebagai Indikasi Geografis No. ID G 000 000 027 di Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual. Srinthil berada di Desa Legoksari Kecamatan Tlogomulyo ini memiliki berkualitas tinggi telah menempatkannya sebagai sebutan emas hijau. Warisan budaya telah meninggalkan adat berupa ritual dalam mendapatkan mutu tembakau. Tetapi dibalik kesuksesan tembakau sebagai salah satu komoditas yang memiliki sumbangsih besar terhadap penerimaan negara, pemerintah justru mengeluarkan beberapa kebijakan yang menentang terhadap perkembangan pemasaran. Apresiasi pemerintah terhadap daun tembakau belakangan nampak setengah hati. Bagi para petani, tembakau memang tak sekedar komoditi. Tembakau menjadi bagian penting dari kehidupan spiritual. Unsur tembakau berupa rajang, kretek atau rokok dalam sesaji yang melambangkan api, air, udara dan tanahal. Dengan demikian tembakau dianggap sebagai penyeimbang antara manusia dan alam. Cara melihat persoalan tembakau dari sudut pandang kesehatan dengan meniadakan perspektif lainnya ini bukan hanya tidak tepat melainkan justru menyesatkan. Alasannya, tembakau adalah barang legal dan komoditi unggulan yang mempunyai peran vital dengan pertautan kepentingan ekonomi, sosial dan budaya. Oleh sebab itu pemerintah belum bisa menjadi mengakomodir hak-hak manusia (human rights) hak-hak ekonomi, sosial dan budaya.
INTER-DISIPLINARITASNALAREKONOFISIKA DI PASAR MODALTERHADAP OPSI SAHAM SEBAGAI SIASAT INVESTASI Nurma Khusna Khanifa Nurma Khusna Khanifa
JURNAL SPEKTRA Vol 4, No 1 (2018): SPEKTRA: Jurnal Kajian Pendidikan Sains
Publisher : Program Studi Pendidikan Fisika, FITK, UNSIQ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32699/spektra.v4i1.47

Abstract

Saham adalah instrumen investasi yang sampai saat ini masih menjadi primadona investor pasar modal. Kegiatan investasi saham berkaitan dengan jual beli jangka pendek (short selling). Kegiatan short selling bagian yang tidak terpisahkan dari unsur spekulasi.Ini artinya saat demi saat di pasar modal hanyalah spekulasidemi spekulasi. Spekulasi tidak sepenuhnya merupakan permainan judi,dimana tidak ada sama sekali ukuran-ukuran untuk menilainya.Pada gilirannya, apabila ukuran-ukuran itu bisa dihitungsecara tepat (eksak) maka akan membuat semakin matangsebuah pengambilan keputusan dalam penanaman modal,sehingga seorang pemodal tidak perlu harus swarga nunutneraka katut pada pemodal lain.Ranah kajian semacam ini di ?sika merupakan bagian dariekono?sika (econophysics). Beberapa yang lain menyebutkajian seperti ini dengan istilah ?sika keuangan (phynance).Di sini dapat melihat sinergi yang sangat menarik keterkaitan antara fisika dan ekonomi. Saham dikenal dengan investasi yang memberikan peluang keuntungan tinggi namun juga memiliki risiko tinggi.Melalui analisis inter-disiplinaritas ekonofisika seorang investor bisa mempertimbangkan high risk-high returndi pasar modal.
RESISTENSI ATAS PENGENDALIAN TEMBAKAU TERHADAP HAK-HAK EKONOMI, SOSIAL, DAN BUDAYA DI KALANGAN PETANI SRINTHIL Khanifa, Nurma Khusna
Wahana Akademika: Jurnal Studi Islam dan Sosial Vol 5, No 1 (2018): Wahan Akademika
Publisher : Kopertais Wilayah X Jawa Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/wa.v5i1.2562

Abstract

AbstractThe World Health Organization (WHO) has indeed adopted the Framework Convention on Tobacco Control (FCTC) in the 56th World Health Assembly in 2003. The FCTC provides reference to the importance of worldwide tobacco control. The impact of this resistance is the tobacco farmers of Temanggung Regency. Tobacco planted on the slopes of Sindoro and Sumbing mountains, Temanggung Regency, is the number one tobacco producer of tobacco srinthil. Srinthil Tobacco has been listed as Geographical Indication No. ID G 000 000 027 at the Directorate General of Intellectual Property. Srinthil is located in the village of Legokari Tlogomulyo District has a high quality has placed it as a green gold title. Cultural heritage has left the custom of ritual in obtaining the quality of tobacco. But behind the success of tobacco as one of the commodities that have a large contribution to state revenues, the government actually issued several policies against the development of marketing. The government’s appreciation of the tobacco leaf lately seems half-hearted. For farmers, tobacco is not just a commodity. Tobacco is an important part of the spiritual life. Elements of tobacco in the form of chopping, clove or cigarettes in offerings that symbolize fire, water, air and soil. Thus tobacco is considered as a balance between man and nature. The way to see the tobacco issue from a health standpoint by negating this other perspective is not only inappropriate but rather misleading. The reason is that tobacco is a legal and superior commodity that has a vital role with the linkage of economic, social and cultural interests. Therefore, the government can not yet accommodate the human rights of economic, social and cultural rights.AbstrakWorld Health Organization (WHO) memang telah mengadopsi Framework Convention on Tobacco Control (FCTC) dalam Sidang Kesehatan Dunia (World Health Assembly) ke-56 pada 2003. FCTC ini memberikan rujukan tentang betapa pentingnya pengendalian tembakau di seluruh dunia. Dampak yang dirasakan adanya resistensi ini ialah petani tembakau Kabupaten Temanggung. Tembakau yang ditanam di lereng gunung Sindoro dan Sumbing, Kabupaten Temanggung, sebagian adalah penghasil tembakau kualitas nomor satu, yakni tembakau srinthil. Tembakau Srinthil telah terdaftar sebagai Indikasi Geografis No. ID G 000 000 027 di Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual. Srinthil berada di Desa Legoksari Kecamatan Tlogomulyo ini memiliki berkualitas tinggi telah menempatkannya sebagai sebutan emas hijau. Warisan budaya telah meninggalkan adat berupa ritual dalam mendapatkan mutu tembakau. Tetapi dibalik kesuksesan tembakau sebagai salah satu komoditas yang memiliki sumbangsih besar terhadap penerimaan negara, pemerintah justru mengeluarkan beberapa kebijakan yang menentang terhadap perkembangan pemasaran. Apresiasi pemerintah terhadap daun tembakau belakangan nampak setengah hati. Bagi para petani, tembakau memang tak sekedar komoditi. Tembakau menjadi bagian penting dari kehidupan spiritual. Unsur tembakau berupa rajang, kretek atau rokok dalam sesaji yang melambangkan api, air, udara dan tanahal. Dengan demikian tembakau dianggap sebagai penyeimbang antara manusia dan alam. Cara melihat persoalan tembakau dari sudut pandang kesehatan dengan meniadakan perspektif lainnya ini bukan hanya tidak tepat melainkan justru menyesatkan. Alasannya, tembakau adalah barang legal dan komoditi unggulan yang mempunyai peran vital dengan pertautan kepentingan ekonomi, sosial dan budaya. Oleh sebab itu pemerintah belum bisa menjadi mengakomodir hak-hak manusia (human rights) hak-hak ekonomi, sosial dan budaya.
PERLINDUNGAN KONSUMEN: PENCANTUMAN LABEL HALAL TANPA SERTIFIKAT MUI PERSPEKTIF MAṢLAḤAH MURSALAH Nurma Khusna Khanifa; Imam Ariono; Handoyo Handoyo
Manarul Qur'an: Jurnal Ilmiah Studi Islam Vol 20 No 2 (2020): Desember
Publisher : LP3M Universitas Sains Al Qur'an

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32699/mq.v20i2.1712

Abstract

Maraknya kasus di masyarakat tetang label halal pertama, hasil survey menunjukkan masih banyak produk yang mencantumkan label halal tapi belum memiliki sertifikat halal artinya inisiatif produsen. Kedua, Ditemukan pula ada perusahaan yang telah mencantumkan label halal pada kesemua produknya, padahal mereka baru mendapatkan sertifikat halal hanya untuk satu produk. Kasus tersebut ditemukan ada pada pengusaha kecil yang mayoritas adalah pengusaha lokal dan sering dijuluki pengusaha golongan ekonomi lemah (PEGEL), dengan kata lain, bargaining position golongan ini selalu paling lemah dalam mata rantai industri dan perdagangan. Memang sertifikasi dan labelisasi halal tidak terdapat baik di dalam Al-Qur’an maupun Sunnah, namun dapat dijadikan sebagai al-maṣlaḥah al-mursalah, karena mengandung kemaslahatan (al- maṣlaḥah), agar konsumen dapat langsung membuktikan kehalalan produk secara visible. Islam meletakkan nilai-nilai dasar dalam aspek-aspek ketuhanan dan kemanusiaan melalui syariat, guna menemukan berbagai solusi dari beragam permasalahan yang berkembang di masyarakat, karena itu pula Islam mengakomodasi berbagai kebutuhan manusia berdasarkan ketentuan syara‘, serta tidak memberikan kesulitan bagi ummatnya dengan menciptakan kemaslahatan. Disinilah MUI diuji sebagai otoritas penjamin serta pengawas yang membantu pemerintah dalam memberikan proteksi konsumen dalam mengurangi keresahan dikalangan konsumen
RESISTENSI ATAS PENGENDALIAN TEMBAKAU TERHADAP HAK-HAK EKONOMI, SOSIAL, DAN BUDAYA DI KALANGAN PETANI SRINTHIL Nurma Khusna Khanifa
Wahana Akademika: Jurnal Studi Islam dan Sosial Vol 5, No 1 (2018): Wahan Akademika
Publisher : Kopertais Wilayah X Jawa Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/wa.v5i1.2562

Abstract

AbstractThe World Health Organization (WHO) has indeed adopted the Framework Convention on Tobacco Control (FCTC) in the 56th World Health Assembly in 2003. The FCTC provides reference to the importance of worldwide tobacco control. The impact of this resistance is the tobacco farmers of Temanggung Regency. Tobacco planted on the slopes of Sindoro and Sumbing mountains, Temanggung Regency, is the number one tobacco producer of tobacco srinthil. Srinthil Tobacco has been listed as Geographical Indication No. ID G 000 000 027 at the Directorate General of Intellectual Property. Srinthil is located in the village of Legokari Tlogomulyo District has a high quality has placed it as a green gold title. Cultural heritage has left the custom of ritual in obtaining the quality of tobacco. But behind the success of tobacco as one of the commodities that have a large contribution to state revenues, the government actually issued several policies against the development of marketing. The government’s appreciation of the tobacco leaf lately seems half-hearted. For farmers, tobacco is not just a commodity. Tobacco is an important part of the spiritual life. Elements of tobacco in the form of chopping, clove or cigarettes in offerings that symbolize fire, water, air and soil. Thus tobacco is considered as a balance between man and nature. The way to see the tobacco issue from a health standpoint by negating this other perspective is not only inappropriate but rather misleading. The reason is that tobacco is a legal and superior commodity that has a vital role with the linkage of economic, social and cultural interests. Therefore, the government can not yet accommodate the human rights of economic, social and cultural rights.AbstrakWorld Health Organization (WHO) memang telah mengadopsi Framework Convention on Tobacco Control (FCTC) dalam Sidang Kesehatan Dunia (World Health Assembly) ke-56 pada 2003. FCTC ini memberikan rujukan tentang betapa pentingnya pengendalian tembakau di seluruh dunia. Dampak yang dirasakan adanya resistensi ini ialah petani tembakau Kabupaten Temanggung. Tembakau yang ditanam di lereng gunung Sindoro dan Sumbing, Kabupaten Temanggung, sebagian adalah penghasil tembakau kualitas nomor satu, yakni tembakau srinthil. Tembakau Srinthil telah terdaftar sebagai Indikasi Geografis No. ID G 000 000 027 di Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual. Srinthil berada di Desa Legoksari Kecamatan Tlogomulyo ini memiliki berkualitas tinggi telah menempatkannya sebagai sebutan emas hijau. Warisan budaya telah meninggalkan adat berupa ritual dalam mendapatkan mutu tembakau. Tetapi dibalik kesuksesan tembakau sebagai salah satu komoditas yang memiliki sumbangsih besar terhadap penerimaan negara, pemerintah justru mengeluarkan beberapa kebijakan yang menentang terhadap perkembangan pemasaran. Apresiasi pemerintah terhadap daun tembakau belakangan nampak setengah hati. Bagi para petani, tembakau memang tak sekedar komoditi. Tembakau menjadi bagian penting dari kehidupan spiritual. Unsur tembakau berupa rajang, kretek atau rokok dalam sesaji yang melambangkan api, air, udara dan tanahal. Dengan demikian tembakau dianggap sebagai penyeimbang antara manusia dan alam. Cara melihat persoalan tembakau dari sudut pandang kesehatan dengan meniadakan perspektif lainnya ini bukan hanya tidak tepat melainkan justru menyesatkan. Alasannya, tembakau adalah barang legal dan komoditi unggulan yang mempunyai peran vital dengan pertautan kepentingan ekonomi, sosial dan budaya. Oleh sebab itu pemerintah belum bisa menjadi mengakomodir hak-hak manusia (human rights) hak-hak ekonomi, sosial dan budaya.
STRATEGI KEPEMIMPINAN DALAM MENINGKATKAN KUALITAS PROGRAM UNGGULAN TAHFIDZUL QUR’AN Rina Nurul Kharismawati; Nurma Khusna Khanifa
PARAMUROBI: JURNAL PENDIDIKAN AGAMA ISLAM Vol 4 No 2 (2021): Paramurobi: Jurnal Pendidikan Agama Islam
Publisher : Program Studi Pendidikan Agama Islam Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UNSIQ Jawa Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32699/paramurobi.v4i2.1998

Abstract

SMP Takhassus Al-Qur’an Kalibeber terletak di wilayah Wonosobo merupakan sekolah yang memiliki koneksi dengan Pondok Pesantren Al-Asy’ariyah dengan pendirinya Al-Mukarram KH. Muntaha Alh. Sekolah ini memadukan antara Ilmu Agama dengan Ilmu umun agar terciptanya keseimbangan antara ilmu dunia dan ilmu akhirat. Program yang paling menonjol di sekolah ini adalah program unggulan Tahfidz, dimana di wilayah Wonosobo belum ada sekolah yang memiliki program tersebut. Tujuan diadakannya program unggulan tersebut adalah guna mencetak para santri penghafal Al-Qur’an. Sudah banyak lulusan SMP Takhassus Al-Qur’an yang menjadi hafiz dan hafizah. Itu semua merupakan hasil dari suksesnya pemimpin dalam memimpin sebuah institusi. Pemimpin yang baik adalah dia yang mampu mensukseskan sekolahnya dari tahun ke tahun untuk mengalami kemajuan. Demi terwujudnya program unggulan tersebut maka sebagai pemimpin wajib untuk memberikan pelatihan kepada guru tahfidz dan tentunya kepada peserta didik itu sendiri guna meningkatkan program tersebut.
PENERAPAN BASEL ACCORD MELALUI PERHITUNGAN EKONOFISIKA DALAM MANAJEMEN RISIKO PERBANKAN Nurma khusna khanifa
JURNAL SPEKTRA Vol 5, No 1 (2019): SPEKTRA: Jurnal Kajian Pendidikan Sains
Publisher : Program Studi Pendidikan Fisika, FITK, UNSIQ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32699/spektra.v5i1.89

Abstract

Dalam membantu menangani stabilitas reformasi sektor keuangan global di tengah kondisi ekonomi sedang mengalami perlambatan seperti sekarang ini di Indonesia perlu adanya gaya baru dalam mengelola risiko. Sampai saat ini perbankan dalam mengatasi risiko menggunakan basel accord bermula dari basel I, II, III. Di awal 2019 ini semua perbankan harus sukses menjalankan basel III. Akselerasi semacam itu telah menyebabkan bank-bank meningkatkan metodologi dan prosedur yang digunakan untuk mengukur dan mengelola risikonya. Betapapun hebatnya pengawasan yang digariskan Basel, haruslah disadari bahwa itu merupakan produk dari hegemoni paham neo-liberal, yang tentu tak selalu cocok untuk diterapkan di setiap negara, termasuk di Indonesia. Terilhami dari hal itu maka berimbas kepada sektor perbankan untuk menerapkan manajemen risiko. Dari sini muncul konsep baru melalui kolaborasi keilmuan antara ekonomi dan fisika. Kebutuhan akan fisikawan dalam bidang ekonomi dan keuangan ini sudah menjadi sesuatu yang tidak terelakan. Demi terciptanya bank yang sehat ekonofisika bersandar pada fakta empirik pada analisis risiko. Hal ini menunjukkan senantiasa berkembangnya ilmu manajemen risiko pada sistem perbankan di tanah air.
Legal Reasoning Mahkamah Konstitusi Dalam Pengujian Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2008 Tentang Perbankan Syariah Nurma Khusna Khanifa
Syariati: Jurnal Studi Al-Qur'an dan Hukum Vol 1 No 01 (2015): SYARIATI : Jurnal Studi Al-Qur'an dan Hukum
Publisher : Fakultas Syari'ah dan Hukum (FSH) UNSIQ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32699/syariati.v1i01.1104

Abstract

Mahkamah Konstitusi memutuskan sebagai bentuk kepastian hukum dalam Putusan MK Nomor 93/PUUX/2012 yang diketuk pada tanggal 29 Agustus 2013 lalu memang telah mnyelesaikan problem dualisme penyelesaian sengketa secara litigasi di Peradilan Agama sebagai babak baru penyelesaian sengketa ekonomi syariah. Setelah adanya permohonan pengujian Undang-Undang Nomor 21 Tentang Perbankan Syariah terhadap Undang-Undang Dasar 1945 oleh Dadang Achmad sebagai penafsiran terhadap supreme of law yaitu salah satunya adalah kepastian hukum, rechtstaat adalah kepastian hukum. Ekonomi syariah di Peradilan Agama adalah merupakan bentuk dari implementasi Pasal 29 ayat (2) UUD 1945, maka negara mempunyai kewajiban melindungi hak-hak hukum bagi setiap warga negaranya.
Ganti Rugi Akibat Mal-Praktek Kelalaian Medik: Komparasi Hukum Islam dan Hukum Perdata Nurma Khusna Khanifa
Syariati: Jurnal Studi Al-Qur'an dan Hukum Vol 2 No 01 (2016): SYARIATI : Jurnal Studi Al-Qur'an dan Hukum
Publisher : Fakultas Syari'ah dan Hukum (FSH) UNSIQ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32699/syariati.v2i01.1125

Abstract

Negligence istilah dalam kedokteran, begitu juga istilah dalam mal-praktek (medical malpractice). Permasalahan timbul akibat hubungan kurang baik antara pasien dengan petugas kesehatan atas dasar mutual understanding, mutual trust dan mutual respect. Dasar inilah yang disebut sebagai perjanjian yang menimbukkan ganti rugi atau wan-prestasi salah satu pihak. Hukum di Indonesia mengatur sendiri mengenai mal-praktek dalam medical law, akan tetapi mengikuti aturan hukum perdata. Sedang hukum Islam pedoman way of life mengharuskan proteksi.