Claim Missing Document
Check
Articles

Found 32 Documents
Search

STUDI KONDISI LINGKUNGAN DAN PERSONAL HYGIENE PADA PENDERITA DIARE DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS PEMARON KECAMATAN BREBES TAHUN 2017 Reni Nuraeni; M. Choiroel Anwar
Buletin Keslingmas Vol 37, No 4 (2018): BULETIN KESLINGMAS VOL 37 NO 4 TAHUN 2018
Publisher : Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (219.158 KB) | DOI: 10.31983/keslingmas.v37i4.3806

Abstract

AbstrakDiare merupakan salah satu penyakit menular dapat di sebarkan oleh vektor pembawa bibit penyakitkarena kondisi kesehatan lingkungan dan personal hygiene yang kurang baik. Dari data DinasKesehatan Kabupaten Berebes Kejadian diare di Kecamatan Brebes pada Tahun 2012 s/d 2016 4Puskesmas yaitu Puskesmas Brebes, Kaligangsa, Kalimati, dan Pemaron, kasus Diare yang ditanganipaling tinggi yaitu di Puskesmas Pemaron dengan jumlah penderita yang ditangani dari Tahun 2012 s/d2016 sebesar 26.252 jumlah penderita laki-laki dan perempuan yang ditangani.Tujuan dari KTI iniadalah Mengetahui kondisi sarana air bersih, kondisi sarana tempat pembuangan tinja rumah, Kondisipenyediaan dan penempatan sarana tempat sampah, dan mengetahui kondisi perilaku hygiene penderitapenyakit diare di Wilayah Kerja Puskesmas Pemaron Kecamatan Brebes Tahun 2017.Jenis penelitiandeskriptif yaitu menggambarkan keadaan yang sebenarnya dan membandingkan dengan teori yang ada.Hasil penelitian yang dilakukan pada penderita diare di Wilayah Puskesmas Pemaron Kecamatan BrebesKabupaten Brebes dapat diketahui (100%) sumur gali yang tidak memenuhi syarat , Jamban leher angsayang tidak memenuhi syarat (44,4%) penerang tidak cukup, jamban cubluk tidak memenuhi syarat (0%)terdiri dari lubang tanah yang tidak di gali, (0%) tidak dibuat rumah jamban diatasnya,sarana sanitasitidak memenuhi syarat (65%) tidak Mempunyai tutup dan tidak mudah dibuka atau ditutup tanpamengotori tangan, (100%) volume tidak dapat menampung sampah yang dihasilkan oleh pemakai dalamwaktu tertentu (3 hari), (0%) tidak pernah menggunakan alat makan baik, (35%)tidak pernah mencucitangan dengan sabun sebelum makan, (25%) tidak pernah mencuci tangan dengan sabun sehabis makan,(25%)tidak pernah mencuci tangan dengan sabun sesudah buang air besar. (20%) tidak pernahmelakukan pembersihan dan pemotongan kuku, (65%)tidak pernah meletakkan makanan dan minuman ditempat yang tertutup (45%)tidak pernah memelihara sarana tempat pembuangan sampah, (90%)kebiasaan tidak pernah memelihara tempat sumber air bersihKesimpulan yang dapat diambil dari penelitian ini adalah diare terjadi di karenakan kurang mengertinyamasyarakat tentang PHBS (perilaku hidup bersih sehat) serta tingkat pendidikan yang rendah haltersebut dapat menyebabkan angka kesakitan diare yang cukup tinggi di Wilayah Puskesmas PemaronKecamatan Brebes Kabupaten Brebes. Saran yang dapat diberikan adalah masyarakat harus rutinmerawat sarana air bersih, sarana pembuangan tinja, sarana pembuangan sampah, dan berperilakuhidup bersih sehat seperti cuci tangan pakai sabun antiseptic sebelum dan sesudah makan, sesudahbuang air besar, rutin melakukan pembersihan dan pemotongan kuku, meletakkan makanan danminuman di tempat yang tertutup.
HUBUNGAN JARAK SUMBER PENCEMAR DENGAN KUALITAS MIKROBIOLOGIS AIR SUMUR GALI DI DESA PANGEBATAN, KECAMATAN KARANGLEWAS, KABUPATEN BANYUMAS TAHUN 2016 Frisian Lutfi Intan Risqita; Muhammad Choiroel Anwar
Buletin Keslingmas Vol 36, No 2 (2017): Bulletin Keslingmas Vol 36 No 2 Tahun 2017
Publisher : Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (130.373 KB) | DOI: 10.31983/keslingmas.v36i2.2977

Abstract

Air yang dikomsumsi masyarakat haruslah bersumber dari mata air yang baik dan bebas dari pencemaran.Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui hubungan jarak sumber pencemar dengan kualitas mikrobiologisair sumur gali di Desa Pangebatan Kecamatan Karanglewas Kabupaten Banyumas Tahun 2016. Jenis penelitianyang digunakan adalah penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Pengambilan sampeldilakukan dengan metode cluster random sampling, keseluruhan sampel yang diambil adalah 34 sampel.Pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi, wawancara dan pengukuran. Data dianalisis dengan statistikregresi yaitu menghubungkan jarak sumber pencemar dengan kandungan mikrobiologis (total Coliform) air sumurgali.Hasil pemeriksaan laboratorium diketahui kandungan mikrobiologis air sumur gali di Desa Pangebatan yaitu34 sampel yang di periksa tidak memenuhi syarat kesehatan sesuai dengan ketentuan Permenkes RI .No:416/MENKES/PER/IX/1990. Hasil analisis menunjukan nilai sig (0,003) (0,05) sehingga dapat disimpulkanada hubungan jarak sumber pencemar dengan kualitas mikrobiologi air sumur gali di Desa Pangebatan,Kecamatan Karanglewas, Kabupaten Banyumas Tahun 2016.
PEMBUATAN SOFTWARE “AKSI PINTAR” (ANALISIS KLINIK SANITASI PINTAR) PADA KASUS DIARE (STUDI KASUS KLINIK SANITASI PUSKESMAS 1 KEMBARAN TAHUN 2017) Wahyu Putriyantari; M. Choiroel Anwar; Mela Firdaust
Buletin Keslingmas Vol 38, No 1 (2019): BULETIN KESLINGMAS VOL 38 NO 1 TAHUN 2019
Publisher : Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1847.157 KB) | DOI: 10.31983/keslingmas.v38i1.4069

Abstract

Kegiatan klinik sanitasi di Puskesmas 1 Kembaran pada hasil wawancara dan observasi lapangan factor risiko khususnya pada penyakit diare oleh petugas Puskesmas 1 Kembaran masih diolah secara manual sehingga data belum  menjadi infromasi kesehatan yang baik untuk perencanaan. Tujuan penelitian ini adalah mengembangkan software pengolahan data klinik sanitasi dengan menggunakan website AKSI PINTAR (Analisis Klinik Sanitasi Pintar) di Puskesmas 1 Kembaran. Jenis penelitian adalah Research and Development (RD). Subyek yang diteliti adalah petugas sanitasi, cara dan hasil  pengolahan data klinik sanitasi. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi dan wawancara. Analisis yang digunakan pada penelitian ini adalah analisis deskriptif kemudian dibuat pengolahan data dengan computer berbasis website “AKSI PINTAR”. Hasil penelitian berupa software untuk pengolahan data klinik sanitasi khususnya penyakit diare yang dapat digunakan untuk pengambilan keputusan maupun perencanaan dengan cepat. Dengan website AKSI PINTAR petugas klinik sanitasi terbantu dalam mengolah data klinik sanitasi menjadi informasi kesehatan dengan cepat dan mudah secara efektif, efisian dan sesuai dengan Permenkes No. 13 Tahun 2015. Pengolahan data klinik sanitasi di Puskesmas 1 Kembaran yang semula hanya meliputi dilakukan dengan cara manual berhasil dirubah menggunakan software berbasis website AKSI PINTAR. Disarankan website AKSI PINTAR dapat diterapkan dalam pelaksanaan pengolahan data klinik sanitasi Puskesmas 1 Kembaran dan dikembangkan untuk digunakan seluruh puskesmas dan Dinas Kesehatan Kabupaten Banyumas. 
HUBUNGAN ANTARA KERACUNAN PESTISIDA DENGAN KEJADIAN ANEMIA PADA PETANI KENTANG DI GABUNGAN KELOMPOK TANI AL-FARRUQ DESA PATAK BANTENG KECAMATAN KEJAJAR KABUPATEN WONOSOBO TAHUN 2016 Rihardini Okvitasari; Muhammad Choiroel Anwar
Buletin Keslingmas Vol 36, No 3 (2017): Bulletin Keslingmas Vol 36 No 3 Tahun 2017
Publisher : Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (469.918 KB) | DOI: 10.31983/keslingmas.v36i3.3109

Abstract

Penggunaan pestisida yang tidak terkendali akan berakibat pada kesehatan petani dan lingkungan.Pemeriksaan kadar enzim kholinesterase darah pada petani Wonosobo tahun 2012 menunjukkan bahwa 89,8%petani menderita keracunan pestisida. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara status gizi,jumlah merk pestisida, dosis, lama kontak, frekuensi penyemprotan, masa kerja, dan penggunaan APD dengankejadian keracunan pestisida dan mengetahui hubungan antara keracunan pestisida dengan kejadian anemia padapetani kentang. Metode penelitian observasional dengan design crossectional. Jumlah sampel 29 petani kentang.Pengumpulan data dengan pengukuran, pemeriksaan laboratorium, observasi, wawancara, dan pengisiankuesioener. Analisis bivariat menggunakan regresi logistik metode enter dan multivariat menggunakan regresilogitsik metode backward-LR. Hasil uji statistik menunjukkan ada hubungan antara jumlah merk pestisida(p=0,001), penggunaan APD (p=0,049) dan tidak ada hubungan antara status gizi (p=0,571), lama kontak(p=0,166), frekuensi penyemprotan (p=0,476), masa kerja (p=0,571)dengan kejadian keracunan pestisida dan tidakada hubungan antara keracunan pestisida dengan kejadian anemia. Disimpulkan bahwa petani yang mengalamikeracunan 18 orang (62,1%) dan tidak ada yang menderita anemia. Disarankan perlu adanya pemeriksaan kadarenzim kholinseterase secara periodik, penyuluhan penggunaan pestisida yang aman, petani menggunakan APDyang lengkap saat bekerja dengan pestisida dan peniliti selanjutnya sebaiknya tidak memeriksa anemia pada petanidi dataran tinggi.
HUBUNGAN FAKTOR RISIKO LINGKUNGAN FISIK RUMAH DAN KONTAK PENDERITA DENGAN KEJADIAN PENYAKIT TUBERKULOSIS PARU DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS JATILAWANG KABUPATEN BANYUMAS TAHUN 2016 Devi Ratna Yuliani; M. Choiroel Anwar; Marsum Marsum
Buletin Keslingmas Vol 37, No 1 (2018): Buletin Keslingmas Vol 37 No1 Tahun 2018
Publisher : Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (276.9 KB) | DOI: 10.31983/keslingmas.v37i1.3826

Abstract

AbstrakTuberkulosis Paru adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh kuman TB (Mycobacteriumtuberculosis), kuman itu hidup di dalam rumah dan dapat mempengaruhi udara dalam lingkungan fisik rumah.Puskesmas Jatilawang merupakan puskesmas yang memiliki jumlah penderita Tb Paru BTA (+) yang mengalamikenaikan kasus dalam 3 tahun terakhir 21 kasus (2012), 22 kasus (2013) dan 46 kasus (2014). Penelitian ini bersifatobservasional dengan menggunakan metode case control. Sampel sebanyak 64 orang, terdiri dari 32 kasus dan 32kontrol. Variabel yang diteliti meliputi Intensitas pencahayaan rumah,kelembaban,luas ventilasi, jenis lantai, jenisdinding, kepadatan hunian dan kontak penderita. Analisis univariat dan bivariate menggunakan SPSS dengan UjiChi Square dan OR dengan CI 95% dan α : 0,05. Analisis Multivariat menggunakan Uji Regresi Logistik dan metodebackward ; LR CI 95% dan α : 0,25. Hasil penelitian ini adalah Intensitas pencahayaan rumah (intensitaspencahayaan ruang keluarga (p=0,132;OR 0,407) dan intensitas pencahayaan ruang kamar (p=0,024;OR 0,209)),kelembaban (p=1,00; OR 0,802), luas ventilasi (luas ventilasi ruang keluarga (p=1,00;OR 1,00) dan luas ventilasiruang kamar (p=1,00;OR 1,152)), jenis lantai (p=1,00;OR 2,067), jenis dinding (p=1,00; OR 1,296), kepadatanhunian (p=0,606;OR 3,207) dan kontak penderita (p=1,00;OR 1,140). Kesimpulan dari penelitian ini adalah adahubungan antara intensitas pencahayaan ruang kamar dengan Kejadian Tb Paru. Disarankan untuk penderita TbParu membuka jendela kamar dan menambah lubang ventilasi agar cahaya dapat masuk dalam ruang kamar.
MODEL JEJARING KAUSALITAS TB ANAK (STUDI KASUS DI KABUPATEN BANYUMAS) M. Choiroel Anwar
Buletin Keslingmas Vol 35, No 1 (2016): Bulletin Keslingmas Volume 35 Nomor 1 Tahun 2016
Publisher : Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (213.35 KB) | DOI: 10.31983/keslingmas.v35i1.3048

Abstract

Faktor yang mempengaruhi kejadian TB anak sangat komplek dan merupakan sesuatu jejaring sebab akibat. Tujuan penelitian adalah mengetahui prevalensi TB anak pada anak yang tinggal serumah dengan penderita BTA positip, mengembangkan model jejaring kausalitas penularan, serta mengetahui hubungan kausal antar faktor risikonya. Jenis penelitian observasional dengan rancangan crossectional. Populasi adalah anak umur kurang 15 tahun yang tinggal serumah dengan penderita TB paru BTA positip. Jumlah sampel 195 anak. Cara mengukur TB anak dengan melakukan tes tuberkulin dan diagnosis kemudian dihitung skornya, sedangkan variabel laten potensi penularan penderita BTA positip, sosial ekonomi, risiko perilaku, kondisi rumah, lingkungan dan kerentanan anak dengan wawancara dan observasi terhadap variabel indikator. Analisis data menggunakan Structural Equation Modelling (SEM). Analisis model pengukuran dengan confirmatory factor analysis(CFA) untuk mengetahui kesesuaian  variable indikator dalam menjelaskan variable latennya diketahui bahwa model layak ataupun cocok (Fit). Hasil analisis Structural Model dengan regression weighs untuk melihat hubungan kausal antar variabel laten dapat diketahui dari 12 hipotesis yang diajukan terdapat 9 hipotesis terbukti yakni terdapat  hubungan Timbal balik antara kejadian TB paru positip  dengan sosial ekonomi, ada pengaruh sosial ekonomi terhadap kondisi perumahan, kondisi lingkungan rumah, perilaku. Ada pengaruh potensi penularan penderita BTA positip, perilaku,  kondisi lingkungan, kerentanan anak, sosial ekonomi terhadap kejadian TB anak. Prevalensi TB anak pada keluarga penderita TB BTA positip : 39 %. Model dinyatakan sesuai (fit) dan terdapat 9 hipotesis terbukti. Implikasi penelitian adalah masalah Tb anak tidak dapat hanya diselesaikan dengan pengobatan penderita saja tetapi juga perlu diperhatikan semua dimensi jejaring penularan yang telah diteliti pada penelitian ini.
HUBUNGAN KARAKTERISTIK TEMPAT PENAMPUNGAN AIR DAN PERILAKU MASYARAKAT DENGAN KEBERADAAN JENTIK Aedes aegypti DI KELURAHAN KARANGKLESEM, KECAMATAN PURWOKERTO SELATAN TAHUN 2016 Titha Yuda Pratiwi; M. Choiroel Anwar; Budi Utomo
Buletin Keslingmas Vol 37, No 1 (2018): Buletin Keslingmas Vol 37 No1 Tahun 2018
Publisher : Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (125.543 KB) | DOI: 10.31983/keslingmas.v37i1.3825

Abstract

AbstrakPenyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) atau Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) sampai saat inimerupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat di Indonesia yang cenderung meningkat jumlahpasien serta semakin luas penyebarannya. Berdasarkan data rekapitulasi Pemantauan Jentik Berkala(PJB) Puskesmas Purwokerto Selatan di Kelurahan Karangklesem, terdapat 108 kontainer positif jentikdengan House Index (HI) = 4,3 %, Container Index (CI) = 5,6 %, Breteau Index (BI) = 31,6 %, danAngka Bebas Jentik (ABJ) = 95,7 % namun menjadi salah satu daerah endemis dengan jumlah penderitaDBD selama Januari sampai Desember 2015 sebesar 20 penderita dengan IR 1,54%. Metode yangdigunakan dalam penelitian ini bersifat observasional dengan rancangan penelitian cross-sectional. Hasilpenelitian menunjukkan terdapat hubungan antara karakteristik penampungan air (TPA) dengankeberadaan jentik Aedes aegypti yaitu warna TPA, juga terdapat hubungan antara perilaku masyarakatdengan keberadaan jentik Aedes aegypti yaitu kebiasaan membersihkan TPA. membuktikan mengenaiperilaku masyarakat yang erat hubungannya dengan keberadaan jentik Aedes aegypti yang ada dilingkungan Kelurahan Karangklesem. Untuk itu masyarakat diharapkan untuk kembali membenahikeadaan lingkungan sekitar Kelurahan Karangklesem dimulai dengan merubah perilaku masyarakatuntuk lebih peduli dengan kebersihan lingkungan serta meminimalisir tempat perindukan nyamuk Aedesaegypti.
STUDI KORELASI BEBERAPA FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEJADIAN DEMAM BERDARAH DENGUE DI KABUPATEN BANYUMAS TAHUN 2010-2015 Adi Septian; Muhammad Choiroel Anwar; Marsum Marsum
Buletin Keslingmas Vol 36, No 3 (2017): Bulletin Keslingmas Vol 36 No 3 Tahun 2017
Publisher : Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (367.338 KB) | DOI: 10.31983/keslingmas.v36i3.2996

Abstract

Latar Belakang Di Kabupaten Banyumas, sejak tahun 2000 sampai tahun 2014 kasus DBD terjadipeningkatan secara fluktuatif, kasus tertinggi terjadi pada tahun 2010 yaitu sebanyak 696 kasus. Pada tahun 2014terjadi sebanyak 209 kasus, dan pada tahun 2015 sampai Bulan September ini telah terjadi sebanyak 221 kasusDBD, hal tersebut menunjukan adanya peningkatan yang signifikan. Tujuan penelitian untuk mengetahui ada atautidaknya hubungan ikilim, kepatadan penduduk dan ketinggian daerah dengan kejadian DBD. Metode penelitian inibersifat kuantitatif dengan desain studi ekologi untuk membuat gambaran atau deskripsi tentang suatu keadaansecara objektif. Hasil penelitian Hasil penelitian menunjukkan variabel yang memiliki hubungan adalah curahhujan dengan nilai p-value= 0,016, kelembaban dengan nilai p-value= 0,000, kecepatan angin dengan nilai pvalue=0,000, kepadatan penduduk dengan p-value= 0,000. Suhu udara dan ketinggian daerah merupakan variabelyang tidak memiliki hubungan yang signifikan tetapi berisiko. Simpulan penelitian ini bahwa faktor iklim dankepadatan penduduk dapat menjadi faktor risiko terjadinya penyakit demam berdarah dengue. Faktor yangmemiliki hubungan signifikan diantaranya curah hujan, kelembaban, kecepatan angin dan kepadatan penduduk.
HUBUNGAN FAKTOR RISIKO LINGKUNGAN FISIK RUMAH DAN KONTAK PENDERITA DENGAN KEJADIAN PENYAKIT TUBERKULOSIS PARU DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS JATILAWANG KABUPATEN BANYUMAS TAHUN 2016 Devi Ratna Yuliani; Muhammad Choiroel Anwar
Buletin Keslingmas Vol 36, No 4 (2017): Bulletin Keslingmas Vol 36 No 4 Tahun 2017
Publisher : Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (437.199 KB) | DOI: 10.31983/keslingmas.v36i4.3130

Abstract

Tuberkulosis Paru adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh kuman TB (Mycobacteriumtuberculosis), kuman itu hidup di dalam rumah dan dapat mempengaruhi udara dalam lingkungan fisik rumah.Puskesmas Jatilawang merupakan puskesmas yang memiliki jumlah penderita Tb Paru BTA (+) yang mengalamikenaikan kasus dalam 3 tahun terakhir 21 kasus (2012), 22 kasus (2013) dan 46 kasus (2014). Penelitian ini bersifatobservasional dengan menggunakan metode case control. Sampel sebanyak 64 orang, terdiri dari 32 kasus dan 32kontrol. Variabel yang diteliti meliputi Intensitas pencahayaan rumah,kelembaban,luas ventilasi, jenis lantai, jenisdinding, kepadatan hunian dan kontak penderita. Analisis univariat dan bivariate menggunakan SPSS dengan UjiChi Square dan OR dengan CI 95% dan α : 0,05. Analisis Multivariat menggunakan Uji Regresi Logistik danmetode backward ; LR CI 95% dan α : 0,25. Hasil penelitian ini adalah Intensitas pencahayaan rumah (intensitaspencahayaan ruang keluarga (p=0,132;OR 0,407) dan intensitas pencahayaan ruang kamar (p=0,024;OR 0,209)),kelembaban (p=1,00; OR 0,802), luas ventilasi (luas ventilasi ruang keluarga (p=1,00;OR 1,00) dan luas ventilasiruang kamar (p=1,00;OR 1,152)), jenis lantai (p=1,00;OR 2,067), jenis dinding (p=1,00; OR 1,296), kepadatanhunian (p=0,606;OR 3,207) dan kontak penderita (p=1,00;OR 1,140). Kesimpulan dari penelitian ini adalah adahubungan antara intensitas pencahayaan ruang kamar dengan Kejadian Tb Paru. Disarankan untuk penderita TbParu membuka jendela kamar dan menambah lubang ventilasi agar cahaya dapat masuk dalam ruang kamar.
PEMBUATAN PUPUK KOMPOS DENGAN KOMPOSTER DALAM PEMANFAATAN SAMPAH DI DESA BRINGIN KECAMATAN BRINGIN KABUPATEN SEMARANG M. Choiroel Anwar; Hari Rudijanto I.W; Budi Triyantoro; Gatot Murti Wibowo
Jurnal LINK Vol 15, No 1 (2019): MEI 2019
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (576.379 KB) | DOI: 10.31983/link.v15i1.4441

Abstract

 Kompos adalah pupuk organik yang merupakan hasil penguraian atau dekomposisi bahan organik yang dihasilkan dari tanaman, hewan, sampah, yang dilakukan oleh mikroorganisme aktif, seperti bakteri dan jamur. Kompos dapat dibuat menggunakan sampah yang berasal dari dapur seperti kulit buah, sisa sayur, sisa buah, sisa makanan dan sampah kebun seperti dedaunan, dan rumput, yang dapat dijadikan kompos. Desa Bringin, kecamatan Bringin, Kabupaten Semarang merupakan suatu desa  agraris yang banyak menghasilkan sampah dan dari hasil observasi terlihat potensi desa cocok untuk diperkenalkan jenis pupuk kompos sebagai sumber bahan organik di kebun petani. Tujuan dari pengabdian adalah membina dan mengarahkan warga masyarakat Desa Beringin agar mempunyai kemampuan membuat kompos dari sampah organik. Metoda pengabdian masyarakat adalah Mengadakan pelatihan pembuatan sarana pembuat kompos dan demontrasi pembuatan kompos  sampah  organic dengan menggunakan saranan pembuatan kompos yang telah dibuat. Pengabdian ini melibatkan Dosen, Mahasiswa Program Studi Imaging Diagnostik Magister Terapan Kesehatan Semarang, Kader, Masyarakat dan para pejabat lintas sektor. Hasil yang dicapai adalah terbuatnya 4 buah komposter untuk mpembuat kompos dan telah dibuat kompos dengan menggunakan komposter yang telah di buat bersama antara dosen, mahasiswa Poltekkes Semarang dan  mayarakat serta telah diketahuinya cara-cara pembuatan kompos dengan memanfaatkan sampah yang ada di lingkungan masyarakat. Kesimpulan dari pengbdian masyarakat ini adalah setelah diberikan pelatihan pengelolaan sampah yang baik dan benar masyarakat dapat mengatasi masalah sampah yang ada di sekitarnya dan diharapkan masyarakat Desa Bringin dapat mengevaluasi pengelolaan yang telah dilaksanakan sebelumnya.