p-Index From 2017 - 2022
0.882
P-Index
This Author published in this journals
All Journal JURNAL SAINTIS
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

Tinjauan Proses Pengolahan Air Baku (Raw Water) Menjadi Air Bersih Pada Sarana Penyediaan Air Minum (Spam) Kecamatan Rangsang Kabupaten Kepulauan Meranti Harmiyati, Harmiyati
JURNAL SAINTIS Vol 18 No 1 (2018)
Publisher : UIR Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25299/saintis.2005.vol8(2).2808

Abstract

[ID] Di kabupaten Kepulauan Meranti khususnya Masyarakat Kecamatan Rangsang pada umumnya menggunakan air hujan dan air Sungai sebagai kebutuhan air bersih sehari-hari, jika pada musim kemarau masyarakat pada umumnya sulit mendapatkan air bersih. Dengan adanya Sarana penyediaan air bersih yang dibangun oleh pemerintahan Kabupaten Kepulauan Meranti yaitu Sarana Penyediaan Air Minum (SPAM) ini sangat membantu dalam memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat. Dilihat secara warna, air bersih yang di produksi oleh SPAM Kecamatan Rangsang berwarna kecoklatan, dilihat dari segi warna hampir sama dengan air baku SPAM Kecamatan Rangsang tersebut. Pada SPAM Kecamatan Rangsang ini proses pengolahan air bersih menggunakan metode koagulasi, flokulasi, sedimentasi dan filtrasi. Peneliti mencoba meninjau apakah proses-proses pengolahannya telah sesuai dengan metode yang telah di terapkan, mengetahui kualitas air bersih yang dihasilkan serta mengetahui masalah-masalah yang terdapat pada SPAM Kecamatan Rangsang tersebut. Dari hasil penelitian yang dilakukan untuk pemprosesan air bersih adanya proses yang tidak dilakukan yaitu tidak dilakukan pembubuhan zat Koagulan,  hal tersebut dikarenakan zat-zat Koagulan yang ada di SPAM Kecamatan Rangsang tidak tersedia untuk saat ini. Untuk kualitas air bersih yang di produksi SPAM Kecamatan Rangsang tidak memenuhi standar kualitas air bersih berdasarkan peraturan menteri kesehatan nomor 416 tahun 1990 tentang “syarat-syarat dan pengawasan kualitas air” yaitu air bersih sesuai dengan hasil uji laboratorium dinas kesahatan kota pekanbaru pada tanggal 13 November 2017, serta terdapat beberapa alat yang tidak beroperasi, yaitu rusaknya 1 buah pompa Intake  dan 1 buah pompa distribusi [EN] In the Meranti Islands district, especially in the Subdistrict of Rangsang District, the people generally use rain water and river water as their daily clean water needs, if in the dry season the community in general is difficult to get clean water. With the availability of clean water facilities built by the government of the Meranti Islands Regency, the Drinking Water Supply Facility (SPAM) is very helpful in meeting the community's clean water needs. Viewed in color, the clean water produced by SPAM in the District of Rangsang is brownish in color, in terms of color it is almost the same as the SPAM raw water in the District of Rangsang. At SPAM in the District of Rangsang, the process of treating clean water uses the methods of coagulation, flocculation, sedimentation and filtration. Researchers try to review whether the treatment processes are in accordance with the methods that have been applied, find out the quality of clean water produced and find out the problems found in the SPB Subdistrict. From the results of research conducted for the processing of clean water there is a process that is not done that is not done by adding coagulant substances, it is because the coagulant substances in SPAM Subdistrict, Rangsang District are not available at this time. For the quality of clean water produced by SPAM in the Subdistrict of Rangsang District, it does not meet clean water quality standards based on the Minister of Health Regulation number 416 of 1990 concerning "requirements and quality control of water", which is clean water in accordance with the results of laboratory tests on the city health office Pekanbaru on November 13 2017, and there are some tools that are not operating, namely the damage of 1 Intake pump and 1 distribution pump.
Perbandingan Nilai Kuat Tekan Beton Berdasarkan Beberapa Metode Persyaratan Penerimaan Beton di Indonesia Harmiyati, Harmiyati; Abdullah, Abdullah
JURNAL SAINTIS Vol 15 No 2 (2015)
Publisher : UIR Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

[ID] Tercapainya mutu beton yang direncanakan adalah salah satu hal penting dalam semua proyek yang menggunakan beton. Namun dalam upaya mencapai mutu beton sesuai dengan yang direncanakan itu harus mengikuti peraturan / pedoman standar yang ditetapkan di Indonesia. Bila kita melihat apa yang telah dialami selama ini diberbagai proyek, banyak sekali timbul permasalahan disekitar penerimaan mutu beton. Dengan cara mengenal lebih dekat segala persyaratan yang berkaitan dengan beton dan mengerti kaitan persyaratan satu dengan persyaratan lainnya akan membantu mempermudah dalam aplikasi code/pelaksanaan peraturan yang dikeluarkan dalam satu pengertian yang benar. Metode yang digunakan adalah Peraturan Beton Indonesia (PBI'71), Pedoman Beton 1989 (PB'89) dan Standar Nasional Indonesia 2002 (SNI 03-2847-2002), dengan menggunakan data hasil test kuat tekan beton benda uji kubus mutu beton (K-275) sebagai data analisis dan perbandingannya. Dari hasil penelitian diperoleh bahwa kekuatan tekan beton dengan kekuatan tekan rencana K-275 Kg/cm2 atau  fc' = 22,83 Mpa mulai dari DATA I (0,0% sika cim), DATA II (0,3% sika cim), DATA III (0,6% sika cim), DATA IV (0,9% sika cim)  secara keseluruhan memenuhi syarat 100% berdasarkan Persyaratan PBI’71 dan SNI 03-2847-2002, namun adanya mutu beton yang tidak  diterima oleh Persyaratan PB'89. Hal ini terjadi hanya pada DATA I dimana terdapat sekitar 7,5 % yang tidak diterima oleh persyaratan PB'89. SNI 03-2847-2002 lebih efektif untuk diterapkan dilapangan karena kriteria Penerimaan Mutu beton lebih mudah diikuti dan dari hasil evaluasi dan penerimaan mutu beton semua data dinyatakan memenuhi syarat dan standar deviasi yang dihasilkan lebih rendah dibandingkan standar deviasi menurut peraturan PBI'71 dan PB'89. untuk memperoleh mutu beton yang lebih ekonomis sebaiknya menggunakan SNI 03-2847-2002 sebagai acuan dalam mengevaluasi mutu beton. [EN] The achievement of the planned concrete quality is one important thing in all projects that use concrete. But in order to achieve the quality of concrete as planned it should follow the rules / guidelines established standards in Indonesia. When we look at what has been experienced so far in various projects, many problems arise around the reception quality of the concrete. By way get closer all the requirements relating to concrete and understood the association with the requirements of the other requirements will help facilitate the application code / implementation of regulations issued in one sense that is true. The method used is Rule Concrete Indonesia (PBI'71), Concrete Guidelines, 1989 (PB'89) and in 2002 the Indonesian National Standard (SNI 03-2847-2002), using data from the concrete compressive strength test specimen strength of concrete cube (K -275) as the data analysis and comparison. The result showed that the compressive strength of concrete with compressive strength of the plan K-275 kg / cm2 or fc '= 22.83 MPa from DATA I (0.0% sika cim), DATA II (0.3% sika cim), DATA III (0.6% sika cim), DATA IV (0.9% sika cim) overall qualified 100% based on the Terms PBI'71 and SNI 03-2847-2002, but their quality of concrete that is not accepted by the Terms PB '89. This happens only in DATA I in which there are around 7.5%, which is not accepted by PB'89 requirements. SNI 03-2847-2002 more effective to be applied in the field for Acceptance criteria quality of the concrete is easier to follow and the results of the evaluation and the reception quality of concrete all the data declared ineligible and the resulting standard deviation lower than the standard deviation according to the rules PBI'71 and PB ' 89. to obtain a more economical quality concrete SNI 03-2847-2002 should use as a reference in evaluating the quality of concrete.
Analisa Kebutuhan Ruang Parkir Di Bandar Udara Raja Haji Fisabilillah Tanjungpinang Kepulauan Riau Saputra, Edison; Harmiyati, Harmiyati; Mildawati, Roza
JURNAL SAINTIS Vol 17 No 1 (2017)
Publisher : UIR Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Seiring dengan meningkatnya pertumbuhan ekonomi global membawa dampak akan kebutuhan sarana transportasi udara, hal ini menyebabkan jumlah rute penerbangan menjadi meningkat. Adapun salah satu sarana fisik dibandara Raja Haji Fisabilillah adalah sarana parkir. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik parkir dan luas kebutuhan parkir pada Bandara Raja Haji Fisabilillah Tanjungpinang.               Metode penelitian yang digunakan menggunakan pedoman dari Dirjen Perhubungan Darat tahun 1996 dan perhitungan karakteristik kendaraan yaitu: akumulasi, turn over, indek parkir, rata-rata parkir dan luas kebutuhan parkir. Penelitian ini dilakukan selama 7 hari dimulai pada pukul 05.00 WIB sampai dengan pukul 21:00 WIB. Dari hasil analisis diperoleh karakteristik parkir kendaraan roda empat yaitu: akumulasi parkir tertinggi sebanyak 63 kend/jam, durasi parkir tertinggi sebesar 1,779 kend/jam, turn over tertinggi sebesar 0,382 kend/jam, Indek parkir tertingi sebesar 25,301%, rata-rata parkir tertinggi sebesar 27,688 kend/jam. Luas lahan parkir yang dibutuhkan sebesar 748,11894 m² yaitu sekitar 63 SRP, sedangkan yang tersedia sebesar 2956,875 m² dari jumlah 249 SRP dan masih ada lahan sebesar 2208,756 m² yang dapat digunakan pada jam puncak. Karakteristik parkir kendaraan roda dua yaitu: akumulasi tertinggi sebanyak 46 kend/jam, durasi parkir tertinggi sebesar 1,727 kend/jam, turn over tertinggi sebesar 0,504 kend/jam, indek parkir tertinggi sebesar 39,316%, rata-rata parkir kendaraan roda dua tertinggi terjadi pada hari minggu 18 september 2016 sebesar 20,250 kend/jam. Luas lahan parkir yang dibutuhkan kendaraan roda dua sebesar 68,99958 m² yaitu sekitar 45 SRP, sedangkan yang tersedia sebesar 175,5 m² dari jumlah 117 SRP dan masih ada lahan sebesar 106,500 m² yang dapat digunakan pada jam puncak. Ditinjau dari karakteristik parkir, kebutuhan ruang parkir kendaraan roda empat dan kendaraan roda dua pada Bandara Raja Haji Fisabilillah masih dapat menampung permintaan.
Pengaruh Bentuk Penampang Terhadap Kapasitas Dukung Fondasi Tiang Pancang Berdasarkan Data Uji Penetrasi Standar Yoga, Asri Sepri; Harmiyati, Harmiyati
JURNAL SAINTIS Vol 16 No 1 (2016)
Publisher : UIR Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Fondasi tiang pancang adalah bagian-bagian konstruksi yang dibuat dari kayu, beton, dan baja, yang digunakan untuk meneruskan beban-beban permukaan ke tingkat-tingkat permukaan yang lebih rendah didalam massa tanah. Fondasi tiang pancang lazimnya dikerjakan dalam bentuk penampang persegi, segitiga, dan cincin   (spoon pile). Sedangkan kita ketahui bahwa masih banyak bentuk penampang lain yang bisa digunakan untuk pekerjaan fondasi tiang pancang. Apakah penampang persegi, segitiga dan cincin (spoon pile) memiliki kapasitas dukung ultimit yang lebih besar atau lebih efisien dibanding dengan berbagai bentuk yang belum diterapkan sebagai penampang fondasi tiang pancang. Untuk membuktikan hipotesa ini maka peneliti melakukan penelitian kapasitas dukung tiang pancang terhadap bentuk penampang. Penelitian ini menggunakan metode statis dengan data SPT (standar penetration test) pada proyek pembangunan Rumah Sakit EKA HOSPITAL Jln Soekarno Hatta - Pekanbaru Riau, yaitu dengan formula Mayerhoff. Pemilihan bentuk penampang pada penelitian ini dilakukan berdasarkan teori sampling yaitu Non Probability Sampling. Bentuk penampang yang diteliti adalah persegi, lingkaran, persegi delapan, cincin, dan segitiga, dengan kedalaman pemancangan adalah 18 m untuk masing-masing penampang dengan luasan yang sama. Dari hasil penelitian yang dilakukan, jika diurutkan bentuk penampang tiang pancang yang memiliki kapasitas dukung ultimit yang paling besar adalah penampang cincin, segitiga, persegi, persegi delapan dan yang terakhir adalah penampang lingkaran. Dan untuk hasil analisis penurunan tiang tunggal yang terjadi pada masing – masing penampang keseluruhannya aman terhadap penurunan izin tiang tunggal dimana penurunan yang terjadi lebih kecil dari penurunan yang diizinkan.
PENGARUH PENAMBAHAN AIR LOKASI KERJA UNTUK NILAI KUAT DAN TEKAN BETON NORMAL Sinaga, Ronal; Harmiyati, Harmiyati
JURNAL SAINTIS Vol 15 No 1 (2015)
Publisher : UIR Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

[ID] Beton memiliki sifat yang berbeda tergantung pada menenun, rasio pencampuran, bagaimana untuk mengangkut, cara mencetak, mengompresi, cara merawat dan akan mempengaruhi sifat beton beton. Proses pencampuran beton adalah salah satu yang menentukan kualitas beton yang dihasilkan, lapangan sering terlihat bahwa waktu pengadukan diabaikan, yang membuat kehilangan air beton. Kehilangan air beton akan sulit dilakukan, terutama jika itu harus dipompa ke pompa beton. Untuk mengatasi masalah ini melaksanakan pekerjaan biasanya tidak menghitung penambahan air dan jumlah pengaruh tambahan pada kualitas beton itu sendiri. Untuk penelitian yang dilakukan di bidang efek menambahkan air dengan nilai kemerosotan dan kuat tekan beton normal, yang merupakan proses pengobatan (curing) beton dengan di merendam selama 28 hari. Penelitian menggunakan SK SNI T-15-1990-03. Persentase penambahan air adalah 0%, 2,5%, 5%, 7,5%, 10%, 12,5% dan 15% dari volume rencana air, penambahan dibuat setelah diaduk selama 20 menit, aduk durasi dihitung menggunakan stopwatch . Dengan menggunakan tes ukuran spesimen kubus (15 x 15 x 15 cm). Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Fakultas Teknik Jurusan Teknik Sipil, Universitas Islam Riau. Pengaruh penambahan air setelah diaduk selama 20 menit dengan penambahan air 0%, 2,5%, 5%, 7,5%, 10%, 12,5%, 15% dalam penelitian ini mendapatkan nilai kemerosotan dan kuat tekan beton 94, 6 (24,631), 113 (21,923), 116 333 (21,585), 121 (21,284), 146 (20,87), 158,7 (20,269), 198,3 (18,953). kekuatan beton di bawah kualitas rencana f'c = 20 MPa yang setelah diaduk selama 20 menit pada Selain air 15% kuat tekan beton menjadi 18,953 MPa. Sementara penambahan air dengan nilai kemerosotan setelah diaduk selama 20 menit pada interval 2,5% ditambahkan air meningkat kemerosotan menit, untuk penambahan nilai kemerosotan 15% mencapai 198,333 mm. Dapat disimpulkan volume yang lebih besar dari penambahan air akan menurunkan kekuatan tekan beton dan untuk nilai kemerosotan besar tambah Volume air menunjukkan beton kusut / encer sehingga mudah dalam konstruksi beton. [EN] Concrete has different properties depending on the weave, mixing ratio, how to transport, how to print, compressing, how to care for and so will affect the properties of concrete concrete. Concrete mixing process is one that determine the quality of concrete produced, the field is often seen that stirring time neglected, which makes concrete water loss. Concrete water loss will be hard to do, especially if it has to be pumped to the concrete pump. To overcome this problem executing the work usually do not quantify the addition of water and the amount of additional influence on the quality of the concrete itself. For the research done in the field effect of adding water to the value of the slump and compressive strength of normal concrete, which is the process of treatment (curing) concrete by soaking for 28 days.Research using SK SNI T-15-1990-03. The percentage of addition of water is 0%, 2.5%, 5%, 7.5%, 10%, 12.5% ​​and 15% of the volume of water plans, additions were made after stirring for 20 minutes, stirring duration is calculated using a stopwatch. By using the test specimen cube size (15 x 15 x 15 cm). This research was conducted at the Laboratory of the Faculty of Engineering Department of Civil Engineering, Islamic University of Riau.Effect of the addition of water after stirring for 20 minutes with the addition of water 0%, 2.5%, 5%, 7.5%, 10%, 12.5%, 15% in this study was getting value slump and compressive strength of concrete 94, 6 (24.631), 113 (21.923), 116 333 (21.585), 121 (21.284), 146 (20.87), 158.7 (20.269), 198.3 (18.953). strength of concrete below the quality of the plan f'c = 20 MPa which after stirring for 20 minutes at 15% water addition compressive strength of concrete becomes 18.953 MPa. While the addition of water to the slump value after stirring for 20 minutes at intervals of 2.5% added water was increasing slump minutes, for the addition of 15% slump value reached 198.333 mm. It can be concluded the greater volume of water addition will decrease the compressive strength of concrete and for the greater slump value added water volume shows the crumpled concrete / dilute so easy in concrete construction.
Pengaruh Perubahan Tata Guna Lahan Terhadap Debit Saluran Drainase Jalan Arifin Ahmad Pada Ruas Antara Jalan Rambutan Dengan Jalan Paus Ujung Di Kota Pekanbaru Setyawan, Arie; Puri, Anas; Harmiyati, Harmiyati
JURNAL SAINTIS Vol 18 No 2 (2018)
Publisher : UIR Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25299/saintis.2018.vol18(2).3187

Abstract

[ID] Perkembangan kota yang diikuti dengan meningkatnya jumlah penduduk di Kota Pekanbaru menyebabkan terjadi alih fungsi lahan menjadi areal pemukiman ataupun perkantoran. Adanya perubahan fungsi lahan dari areal hijau menjadi areal pemukiman atau perkantoran mengakibatkan terganggunya daya resap tanah sehingga aliran permukaan (run off) menjadi semakin besar. Tujuan dari penelitian ini adalah unutuk mengetahui kemampuan saluran drainase Jalan Arifin Ahmad dalam menampung debit aliran dengan pengaruh perubahan tataguna lahan dalam 10 tahun yang akan dating dan mengetahui penyebab dari tergenangnya air pada salah satu ruas Jalan Arifin Ahmad tepat nya pada ruas antara Jalan Rambutan dengan Jalan Paus Ujung. Pada penelitian ini dilakukan perhitungan frekuensi curah hujan menggunakan jenis uji distribusi Log-Pearson III. Intensitas curah hujan dihitung menggunakan metode rasional. Debit rencana (Qr) berdasarkan jumlah debit hujan (Qh), debit air kotor (Qk) dan debit kiriman (QKiriman). Perubahan tata guna lahan mengacu kepada RTRW kota pekanbaru, kapasitas saluran drinase dihitung menggunakan persamaan manning, dan selanjutnya di analisa apakah saluran tersebut masih mampu menampung debit rencana 10 tahun mendatang dengan perubahan tata guna lahan yang ada. Dari hasil analisa debit rencana 10 tahun mendatang adalah 2,74 m3/detik dengan debit saluran (Qs) sebesar = 0,97 m3/detik untuk saluran tanah dan 2,34 m3/detik untuk saluran permanen, maka dapat disimpulkan bahwa saluran eksisting drainase Jalan Arifin Ahmad pada ruas antara Jalan Rambutan dengan Jalan Puas Kota Pekanbaru tidak aman. Adapun dimensi saluran drainase rencana 10 tahun mendatang adalah lebar dasar saluran (B) = 3,5 m, tinggi permukaan air (h) = 1,75 m, tinggi jagaan air (w) = 0,25 m, dan tinggi saluran (H) = 2 m. Faktor-faktor penyebab terjadinya genangan air pada salah satu ruas Jalan Arifin Ahmad tepatnya pada ruas antara Jalan Rambutan dengan Jalan Paus Ujung adalah tidak mengalirnya air dari badan jalan ke saluran drainase akibat kurang berfungsinya tali air sebagai tempat mengalirnya air hujan dari badan jalan ke saluran drainase, banyaknya sampah dan lumpur yang menyebabkan penyumbatan aliran air pada saluran drainase. Adapun faktor utama nya adalah debit rencana aliran lebih besar dari pada debit saluran eksisting, dimana debit rencana aliran (Qr) = 2,32 m3/detik, debit saluran tanah eksisitng (Qs) = 0,97 m3/detik, dan debit saluran permanen eksisting (Qs) = 2,34 m3/detik. [EN] The development of the city followed by the increasing number of residents in the city of Pekanbaru causing the conversion of land into residential areas or offices. The change of land function from green area to residential area or offices resulted in disturbance of soil absorption so that runoff becomes bigger.The purpose of this research is to know the ability of drainage channel Arifin Ahmad Road in accommodating flow discharge with the effect of land use change in 10 years that will come and know the cause of the water flooding on one of Arifin Ahmad Road segment right on the road between Jalan Rambutan with Jalan Pope Edge. In this research is calculated the frequency of rainfall using the type of Log-Pearson III distribution test. Rainfall intensity is calculated using rational methods. The plan debit (Qr) is based on the amount of rainfall (Qh), gross discharge (Qk) and debit of mail (QKiriman). Land use change refers to RTRW kotabaru, drainage channel capacity is calculated using the manning equation, and then analyzed whether the channel is still able to accommodate the discharge of the next 10 years plan with changes in existing land use.From the results of the next 10 years plan debit analysis is 2.74 m3 / second with the channel discharge (Qs) of 0.97 m3 / sec for the ground channel and 2.34 m3 / sec for the permanent channel, it can be concluded that the drainage existing channel Arifin Ahmad Road on the segment between Jalan Rambutan and Jalan Puas Pekanbaru is not safe. The dimensions of the drainage channel of the plan for the next 10 years are the bottom width of the channel (B) = 3.5 m, the water level (h) = 1.75 m, the water velocity (w) = 0.25 m, and the channel height (H ) = 2 m. The factors causing water puddle on one of Arifin Ahmad Road segment precisely on the road between Rambutan Street and Ujung Pope Road is not the flow of water from the road to the drainage channel due to the lack of functioning of the water line as a place of rain water flow from the road to the drainage channel , the amount of garbage and mud that causes blockage of water flow in the drainage channel. The main factor is the flow of the flow plan is greater than the existing channel discharge, where the flow of the flow plan (Qr) = 2.32 m3 / sec, the discharge of the exisiting ground channel (Qs) = 0.97 m3 / sec, and the permanent channel discharge Existing (Qs) = 2.34 m3 / sec.
Korelasi Kuat Lentur Beton Dengan Kuat Tekan Beton Suryani, Anggi; Dewi, Sri Hartati; Harmiyati, Harmiyati
JURNAL SAINTIS Vol 18 No 2 (2018)
Publisher : UIR Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25299/saintis.2018.vol18(2).3150

Abstract

[ID] Penggunaan konstruksi beton diminati karena beton memiliki sifat-sifat yang menguntungkan seperti ketahanannya terhadap api, awet, kuat tekan yang tinggi dan dalam pelaksanaannya mudah untuk dibentuk sesuai dengan bentuk yang dikehendaki. Tetapi konstruksi beton juga mempunyai kelemahan-kelemahan antara lain kemampuan menahan kuat lentur yang rendah sehingga konstruksinya mudah retak jika mendapatkan regangan lentur. Hal ini menjadikan pengujian kuat lentur beton sebagai persyaratan dalam penerimaan hasil pekerjaan. Namun disisi lain dalam hal pembuatan campuran beton yang selama ini mengacu pada kuat tekan, menjadi tantangan bagi pelaksana yang harus melakukan perencanaan beton (mix design) dan trial mix terlebih dahulu, sehingga perlu dilakukan pengkoreksian. Sehingga penelitian ini bermaksud untuk memperoleh hasil kuat lentur dan kuat tekan beton dengan menghasilkan nilai korelasi kuat lentur beton terhadap kuat tekan beton sesuai kuat lentur dan kuat tekan yang direncanakan maupun disyaratkan. Penelitian ini menggunakan metode Departemen of Environment (DoE) dalam SNI 03-2834-2000 untuk mix design beton. Perencanaan mutu beton K-500 dan kuat lentur rencana fs = 45 kg/ (4,4 MPa) dengan penggunaan bahan tambah superplaticizer 0,5% merk TanCem 20 RA dengan benda uji balok, silinder, dan kubus, dengan slump rencana 30-60 mm. hasil penelitian bahwa pada perawatan 14 dan 28 hari diperoleh hasil pengaruh terhadap beton tanpa superplaticizer 0,5% dengan beton penggunaan bahan tambahan superplaticizer 0,5% terjadi peningkatan pada perawatan 14 hari dengan benda uji balok sebesar 3,26% dan kubus sebesar 22,25%. Peningkatan pada perawatan 28 hari benda uji balok sebesar 3,36%, silinder sebesar 8,09% dan kubus sebesar 7,56%. Terjadi penurunan pada perawatan 14 hari dengan benda uji silinder sebesar 3,21%. Hasil korelasi kuat lentur dengan kuat tekan beton benda uji balok dan silinder, dari hasil mendapatkan nilai korelasi pada perawatan 14 hari tanpa dan dengan tambahan zat addiktif superplaticizer 0,5% didapat persamaan bahwa fs = K√f'c : nilai K sebesar 0,96 dan 0,87, sedangkan pada perawatan 28 hari tanpa dan dengan tambahan zat addiktif superplaticizer 0,5% didapat persamaan bahwa fs = K√f'c : nilai K sebesar 0,86 dan 0,99, maka dapat disimpulkan dari hasil penelitian ini nilai korelasi kuat lentur beton dengan kuat tekan beton bahwa berhubungan sangat kuat yang mana nilai koefisien korelasi di antara 0,80 sampai 1,00. [EN] The use of concrete construction is desirable because concrete has beneficial properties such as resistance to fire, durability, high compressive strength and in its implementation it is easy to be formed in accordance with the desired shape. But concrete construction also has weaknesses such as the ability to hold low flexural strength so that the construction is easily cracked if it gets a flexible strain. This makes testing the flexural strength of concrete as a requirement in receiving work results. But on the other hand in terms of making concrete mixes which have been referring to compressive strength, it is a challenge for implementers who have to do concrete planning (mix design) and trial mix first, so correction is necessary. So that this study intends to obtain the results of flexural strength and compressive strength of concrete by producing a correlation value of the flexural strength of the concrete to the compressive strength of the concrete according to the flexural strength and compressive strength planned or required. This study uses the Department of Environment (DoE) method in SNI 03-2834-2000 for concrete mix design. Planning the quality of K-500 concrete and planned flexural strength fs = 45 kg / cm ^ 2 (4.4 MPa) with the use of added ingredients 0.5% superplaticizer TanCem 20 RA brands with beam specimens, cylinders and cubes, with slump plans 30-60 mm. The results of the study showed that the treatment of 14 and 28 days obtained the effect of concrete without a 0.5% superplaticizer with concrete using 0.5% superplaticizer was increased in 14 days treatment with beam specimens of 3.26% and cube of 22, 25%. The increase in the 28-day treatment of beam specimens was 3.36%, cylinders were 8.09% and cubes were 7.56%. There was a decrease in 14-day treatment with cylindrical specimens of 3.21%. The results of the correlation of flexural strength with concrete compressive strength of beam and cylinder specimens, from the results of obtaining a correlation value on treatment 14 days without and with additional additives 0.5% superplaticizer obtained the equation that fs = K√f'c: K value of 0 96 and 0.87, while the 28-day treatment without and with additional additives of 0.5% superplaticizer obtained the equation that fs = K√f'c: K value of 0.86 and 0.99, it can be concluded from the results of the study This correlation value of concrete flexural strength with concrete compressive strength is very strongly related where the correlation coefficient value is between 0.80 to 1.00.