Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

PROSES PRODUKSI KATALIS -Al2O3 MENGGUNAKAN METODE IMPREGNASI Alviany, Riza; Marbun, Maja Pranata; Kurniawansyah, Firman; Roesyadi, Achmad
Jurnal Teknik Kimia Vol 12, No 2 (2018): JURNAL TEKNIK KIMIA
Publisher : Program Studi Teknik Kimia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33005/jurnal_tekkim.v12i2.1088

Abstract

Alumina (Al2O3) merupakan salah satu material keramik yang paling banyak penggunaanya sebagai katalis, support katalis. Penelitian ini bertujuan mempelajari pembuatan nano catalys γ-Al2O3 dengan metode impregnasi. Pada proses impregnasi dilakukan variasi berupa rasio logam Cr dengan Co (1:1, 1:2, 2:1) dan % loading logam promotor tehadap jumlah total katalis Cr-Co/γ-Al2O3 (5% dan 10%). Dari analisa XRD diketahui bahwa kristal γ-Al2O3 hasil sintesis berukuran 17,82 nm, kemudian dari analisa BET didapatkan hasil luas permukaan sebesar 162,840 m2g. Berdasarkan analisa XRF diketahui bahwa logam yang terkandung dalam katalis Cr-Co/γ-Al2O3. Uap keluaran reaktor dikondensasikan dan dilakukan analisa gas kromatografi (GC). Dari hasil analisa produk didapatkan bahwa katalis GACrCo1021 memiliki aktivitas yang lebih baik dari katalis lainnya berdasarkan hasil konversi etanol dan yield dietil eterDOI : https://doi.org/10.33005/tekkim.v12i2.1088 
PEMURNIAN GLISEROL HASIL PRODUK SAMPING BIODIESEL DENGAN KOMBINASI PROSES ADSORPSI-MIKROFILTRASIEVAPORASI Suseno, Natalia; Adiarto, Tokok; Alviany, Riza; Novitasari, Kartika
Jurnal Teknik Kimia Vol 13, No 2 (2019): JURNAL TEKNIK KIMIA
Publisher : Program Studi Teknik Kimia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33005/jurnal_tekkim.v13i2.1406

Abstract

Penelitian ini, gliserol kasar (crude glycerol) diperoleh dari produk samping produksibiodiesel berupa larutan kental yang berwarna coklat kekuningan dengan pH mendekati netral.Kondisi awal kemurnian crude glycerol termasuk cukup tinggi (~80%), namun untuk mendapatkangliserol dengan standart komersial kemurnian tinggi (>90%), masih diperlukan penghilangansenyawa pengotor seperti garam-garam inorganik, methanol dan air. Untuk tujuan menghasilkanpemurnian gliserol dengan standar komersial, kandungan pengotor dipisahkan dengan kombinasiproses adsorpsi dengan karbon aktif, dilanjutkan penyaringan menggunakan membran danpemisahan methanol dan air dengan menggunakan rotary evaporator. Selain itu dipelajari pengaruhvariabel-variabel proses adsorpsi (jenis adsorben dengan tingkat kemurnian teknis dan p.a ,konsentrasi adsorben dan waktu adsorpsi) terhadap kadar kemurnian gliserol yang dihasilkan.Karakterisasi gliserol meliputi analisa kadar gliserol total, densitas, viskositas, dan gugus fungsimenggunakan FTIR. Gliserol hasil pemurnian tidak berwarna (bening) dengan kadar kemurnianmaksimum 92,81%, viskositas 152,48cp dan densitas 1,254g/cm3 mendekati standart kemurniangliserol komersial. DOI : https://doi.org/10.33005/tekkim.v13i2.1406
Pengaruh Aktivator Asam Sulfat dan Natrium Klorida pada Karbon Aktif Batang Semu Pisang untuk Adsorpsi Fe Tarmidzi, Fadhil Muhammad; Putri, Maylina Anindita Sugiharti; Andriani, Anisa Novi; Alviany, Riza
Jurnal Rekayasa Bahan Alam dan Energi Berkelanjutan Vol 5, No 1 (2021)
Publisher : Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Batang semu pisang merupakan salah satu bahan alam kaya selulosa yang murah. Nilai batang semu pisang yang rendah dapat ditingkatkan menjadi material karbon aktif yang berkelanjutan dan ramah lingkungan. Karbon aktif batang pisang dapat digunakan untuk adosrpsi Fe dalam air baku. Sistem adsorpsi menjadi teknologi yang cocok untuk digunakan di daerah pedesaan yang mengandalkan air tanah. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan sistem karbon aktif untuk adosrpsi Fe dari air tanah. Sintesis karbon aktif dilakukan dengan pencucian untuk menghilangkan getah dan komponen terlarut, pengeringan suhu 105oC selama 3 jam, karbonisasi suhu 400oC selama 30 menit, aktivasi asam menggunakan H2SO4, dan penetralan. Penelitian ini dilakukan untuk mempelajari pengaruh konsentrasi aktivator pada 0,3 M; 0,5 M; dan 0,7 M terhadap bilangan iodin dan kemampuan adosrpsi Fe. Konsentrasi Fe ditentukan dengan menggunakan spektroskopi adsorpsi atom (SSA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan aktivator 0,3 M H2SO4 memberikan hasil terbaik dengan bilangan iodin 58,23 mg/g dan Fe teradsorp sebanyak 80,85%.