Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

PENDEKATAN HORST DIETRICH PREUSS DAN GERHARD VON RAD DALAM METODOLOGI TEOLOGI PERJANJIAN LAMA Boiliu, Noh Ibrahim; Harefa, Otieli
REGULA FIDEI: Jurnal Pendidikan Agama Kristen Vol 4, No 1 (2019): Maret 2019
Publisher : Universitas Kristen Indonesia, FKIP, Prodi Pendidikan Agama Kristen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46307/rfidei.v4i1.63

Abstract

Tujuan penulisan artikel ini adalah untuk melihat pendekatan yang digunakan Horst Dietrich Preuss dan Gerhard von Rad dalam Teologia Perjanjian Lama. Memilih salah satu metode pendekatan dalam Teologia Perjanjian Lama merupakan suatu keharusan. Dalam pendekatannya, Horst Dietrich Preuss memilih teologi yang sistematis dan terstruktur. Metode pendekatan yang digunakan dalam tulisan ini adalah menelaah metodologi Teologia Perjanjian Lama Gerhard von Rad dan setelah itu menganalisis metodologi Teologia Perjanjian Lama Horst Dietrich Preuss berdasarkan Buku Old Testament Theology. Volume 1, Kentucky: Westminster John Knox Press, 2007. Deskripsi terstruktur secara sistematis dapat memperlihatkan dan melihat gambaran secara keseluruhan baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, serta lebih kondusif bagi usaha hermeneutis. Preuss menerima kritik historis seperti yang disampaikan von Rad. Preus juga memperhatikan unsur koherensitas antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, sebab keduanya, teologi Perjanjian Lama dan Teologi Perjanjian Baru harus menjadi dasar teologi Kristen. Teologi Perjanjian Lama pasti harus membantu dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan teologis; juga harus mempertimbangkan keseluruhan spektrum teologi dalam pembentukan deskripsi sendiri, dan mengklarifikasi tempat Perjanjian Lama dalam teologi yang komprehensif. Dengan demikian, Preuss moderat dengan asumsi, Preuss ke arah pendekatan multipleks kanonik. Tidak hanya melihat sisi historisnya saja melainkan juga konteksnya baik dalam penerapan maupun perdebatan teologis kontemporer.
ID EFL LEARNING: AN IMPLICATION FOR LEARNING INTERNALIZATION Saniago Dakhi; Erni Murniarti; Noh Ibrahim Boiliu; Mila Falma Masful
English Review: Journal of English Education Vol 7, No 2 (2019)
Publisher : University of Kuningan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/erjee.v7i2.1560

Abstract

It is plausible that the psychoanalysis approach holds an important role in exploring people’s personalities, the world of conscious drives. The human personality is categorized into id, ego, and superego, while consciousness is divided into three different provinces, namely unconscious, subconscious, and conscious. However, language teachers’ interest in exploring such beneficial approach to learning is limited. To respond to such gap, a systematic literature review was employed following phases: identification, comprehension, application, analysis, and synthesis. Results revealed that four id EFL learning characteristics are primitive personality, biological identity, an instinct to seek pleasure, and automaticity. Hiding, covering, and undressing are the indicators of the primitive personality and are human biological responses to danger. On the other hand, the human senses, cognitive process, and speech organs define the EFL learners’ biological personality. As for the automaticity learning, it seems to be achievable by unconscious learning and good learning culture. The basic assumption is that a higher-level skill cannot be acquired unless a lower one has been automatized. Applying such concepts, the characteristics of seeking pleasure to learn language, needs the creativity of EFL teachers, delightful teaching, good teaching culture, and facilities as once EFL learning automatized or internalized, enormous impact will be gained.
Kesinambungan Panggilan Misionaris Bangsa Israel dengan Panggilan Pelayanan Misi dan Pemuridan Noh Ibrahim Boiliu
TE DEUM (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayanan) Vol 4 No 2 (2015): Januari-Juni 2015
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAPPI Ciranjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51828/td.v4i2.63

Abstract

Tulisan ini bertujuan membahas kesinambungan panggilan misi bangsa Israel dengan panggilanpelayanan misi dan pemuridan. Misi dan pemuridan tidak boleh dipisahkan atau hanya menekankan salah satu. Di dalam misi harus ada pemuridan sebagai proses mendidik orang mengenal Tuhan. Sedangkan pemuridan sebagai reaksi dan respons orang yang mengenal Tuhan yang pada akhirnya dinyatakan dalam tindakan bermisi.
Sumbangsih Filsafat Eksistensialisme bagi Pendidikan Agama Kristen Noh Ibrahim Boiliu
TE DEUM (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayanan) Vol 4 No 1 (2014): Juli-Desember 2014
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAPPI Ciranjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51828/td.v4i1.75

Abstract

Pendidikan Agama Kristen (PAK) tidak dapat berdiri sendiri, ia juga dipengaruhi oleh disiplin ilmu lain atau membutuhkan kolaborasi dengan ilmu lain, salah satunya yaitu dari filsafat Esensialisme. Pengaruhnya nyata di dalam proses belajar dan mengajar PAK. Commondgroundnya atau titik pertemuannya adalah dalam prinsip dasar esensialisme yaitu: 1) tugas pertama sekolah adalah mengajarkan pengetahuan dasar; 2) belajar adalah pekerjaan yang berat dan butuh disiplin; 3) Pendidik adalah wadah atau tempat dari otoritas kelas. Oleh sebab itu, sumbangsih filsafat esensialisme terhadap PAK dapat dilihat melalui: 1) Kurikulum; 2) Manajemen kelas; 3) Metode; 4) Pendidik; 5) Penilaian.
Megalomaniak dan Egomaniak sebagai “Paranoid Disorder” bagi Pemimpin Kristen Noh Ibrahim Boiliu
TE DEUM (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayanan) Vol 3 No 1 (2013): Juli-Desember 2013
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAPPI Ciranjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51828/td.v3i1.80

Abstract

Penulisan ini bertujuan untuk mengungkapkan tentang Yohanes Pembaptis sebagai pemimpinan yang tidak paranoid disorder.Penelitian ini menggunakan pendekatan hermeneutis. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Yohanes Pembaptis bukan pemimpin yang megalomaniak dan egomaniak sebagai paranoid disorder seperti yang ditunjukkan melalui sikap Yohanes Pembaptis dalam Injil Yohanes 3:30. Hasilnya, jika membandingkan kepribadian Yohanes Pembaptis dengan pemimpin-pemimpin Kristen masa kini ada kecenderungan pada megalomaniak dan egomaniak sebagai paranois disorder.
Pemimpin dan Perubahan Noh Ibrahim Boiliu
TE DEUM (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayanan) Vol 3 No 2 (2014): Januari-Juni 2014
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAPPI Ciranjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51828/td.v3i2.98

Abstract

Pemimpinmerupakan orang yang bekerjadi depan, di tengahdan di belakang. Iaadalah “roh” bagisetiappengikutnya. pemimpin melihat secara visioner atau melihat apa yang belum dilihat orang lain (mungkin bawahan atau orang sekitar). Karena itu, pemimpin harus tahu bagaimana membuka orang-orang di sekitar untuk melihat apa yang telah dilihat pemimpin. Sehingga setelah melihat – mereka bergerak, dan menyelesaikan apa yang dilihat.
Religiusitas Eksistensial Manusia Noh Ibrahim Boiliu
TE DEUM (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayanan) Vol 2 No 2 (2013): Januari-Juni 2013
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAPPI Ciranjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51828/td.v2i2.163

Abstract

Pada dasarnya, kebenaran dalam agama itu tidak menjadi persoalan, yang menjadi persoalan adalah para pemeluknya. Dalam konteks ini, tentu kita memahami dalam konteks umum kebenaran agama-agama. Hal ini tentu saja disebabkan oleh pemahamannya terhadap The Holy One yang bagi setiap orang bisa dimaknai berbeda, tergantung pada siapa dan apa latarbelakangnya. Yang jelas, soal religiusitas tetap menjadi kebutuhan setiap individu, apapun itu bentuknya dan bagaimana cara mengekspresikannya.
MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK MORAL DALAM PERSPEKTIF TEOLOGIA PENDIDIKAN JOHANN HEINRICH PESTALOZZI Noh Ibrahim Boiliu; Christina Metallica Samosir
Jurnal Dinamika Pendidikan Vol. 12 No. 3 (2019): November
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51212/jdp.v12i3.1297

Abstract

ABSTRACT This paper aims to look at Johann Heinrich Pestalozzi's concept of humans as moral beings. Morality is an achievement of human will, a result of good character that wins over feelings of selfish importance. To grow morally, we must feel deeply. The concept of humanity as a moralist creature became the rationale for Pestalozzi in developing his theological-philosophical educational theory. Morality is seen as an element of value referred to by Pestalozzi because in essence man was created by God and inherited moral elements, and family (parents) are the first and best school to become social teachers who teach humans to gain the natural experience needed to expand the moral, intellectual strength , and technicality in human beings themselves. Keywords: johann heinrich pestalozzi, human, morality, education, theology ABSTRAK Tulisan ini bertujuan untuk melihat konsep Johann Heinrich Pestalozzi tentang manusia sebagai makhluk moral. Moralitas merupakan suatu prestasi dari kehendak manusia, suatu hasil watak yang baik yang menang atas perasaan yang mementingkan kepentingan sendiri. Untuk bertumbuh secara moral, kita harus merasa secara dalam. Konsep manusia sebagai makhluk moralis menjadi dasar pemikiran bagi Pestalozzi dalam membangun teori pendidikannya yang teologis-filosofis. Moralitas dipandang sebagai nilai yang unsur yang diacu Pestalozzi sebab pada hakikatnya manusia diciptakan oleh Allah dan mewarisi unsur moral, dan keluarga (orang tua) adalah sekolah pertama dan terbaik menjadi guru sosial yang mengajarkan manusia untuk memperoleh pengalaman alami yang diperlukan untuk memperluas kekuatan moral, intelektual, dan teknis dalam diri manusia itu sendiri. Kata Kunci: johann heinrich pestalozzi, manusia, moralitas, pendidikan, teologia
Hubungan Teori Belajar dan Teknologi Pendidikan Valentino Reykliv Mokalu; Johanes Kornelius Panjaitan; Noh Ibrahim Boiliu; Djoys Anneke Rantung
EDUKATIF : JURNAL ILMU PENDIDIKAN Vol 4, No 1 (2022): February Pages 1-1600
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/edukatif.v4i1.2192

Abstract

Perkembangan revolusi industri mengakibatkan banyak gebrakan baru bagi dunia, sehingga dampak dari revolusi itu sendiri memengaruhi dunia pendidikan. Hadirnya teknologi merupakan elemen dari era revolusi industri yang semakin berkembang dan tidak dapat lagi dihentikan, hadirnya teknologi dalam dunia pendidikan memberi wajah baru dari proses pembelajaran yang ada dalam kurikulum dan perangkat pembelajaran yang ada,  sehingga para pelaku pendidikan berlomba-lomba dan berusaha menciptakan siklus pembelajaran bersifat kolaboratif antara teori belajar dengan teknologi berbasis pendidikan.Tujuan penulisan artikel ini, membahas menganai hubungan antara teori belajar dengan teknologi pendidikan, yang dianalis secara bertahap dari teori belajar beheviorisme, kognitivisme, konstruktivime dan humanisme. Kesimpulannya adalah teori belajar dan teknologi pendidikan memiliki korelasi dalam pengaplikasian pembelajaran yang dilakukan oleh guru dan muridnya. Teori belajar dan teknologi pendidikan adalah satu-kesatuan yang diperlukan dalam siklus pembelajaran, sehingga atmosfer dari para peserta didik tetap berfokus pada pembelajaran yang diajarkan oleh guru.
Teori Belajar Humanistik Sebagai Landasan dalam Teknologi Pendidikan Agama Kristen Esti Regina Boiliu; Noh Ibrahim Boiliu; Djoys Anneke Rantung
EDUKATIF : JURNAL ILMU PENDIDIKAN Vol 4, No 2 (2022): April Pages 1601- 3200
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (768.195 KB) | DOI: 10.31004/edukatif.v4i2.2180

Abstract

Artikel ini merupakan suatu upaya untuk menunjukkan teori belajar sebagai dalam dasar mendesain teknologi dalam konteks Pendidikan Agama Kristen (PAK). Hingga saat ini, belum ada belum ada artikel serupa yang membahas teori belajar sebagai landasan dalam desain teknologi PAK. Tujuan penulisan artikel ini berusaha untuk menjelaskan tentang teori belajar sebagai landasan bagi desain Teknologi PAK. Penelitian ini menggunakan metode studi kepustakaan, yaitu mengumpulkan sumber-sumber secara tertulis seperti buku dan artikel ilmiah lainnya. Tentunya semua sumber tersebut merujuk kepada topik terkait teori belajar, teknologi pendidikan dalam konteks PAK. Hasil penulisan artikel ini adalah menguraikan teori belajar humanistik, lalu memberikan jawaban dan penjelasan mengenai teori belajar sebagai landasan dalam teknologi PAK.