Kusnaedi, Kusnaedi
Departemen of Physical Education-Indonesian University of Education

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

PERBANDINGAN METODE CPET (CARDIO PULMONARY EXERCISING TEST) DENGAN METODE TES LARI COOPER 2400 METER DALAM PENGUKURAN VO2MAX Robianto, Agung; Apriantono, Tommy; Kusnaedi, Kusnaedi
JSKK (Jurnal Sains Keolahragaan dan Kesehatan) Vol 2, No 2 (2017)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (439.385 KB) | DOI: 10.5614/jskk.2017.2.2.5

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan antara metode tes laboratorium menggunakan CPET(Cardio Pulmonary Exercising Test) dengan metode tes lapangan menggunakan tes lari cooper 2400 meter. Subjek adalah 14 orang laki-laki sehat usia (20 ± 1,24) dengan tingkat aktifitas fisik aktif. Subjek melakukan tes pengukuran VO2max metode tes laboratorium menggunakan CPET dan metode tes lapangan menggunakan tes lari cooper 2400 meter dengan interval antar tes minimal dua hari. Setiap pelaksanaan tes dilakukan pengukuran nilai VO2max, kadar asam laktat darah, denyut jantung maksimal, kalori, dan rating of perceived exertion (RPE). Nilai VO2max, denyut jantung maksimal, kadar asam laktat darah, dan nilai RPE yang dihasilkan tes lari cooper 2400 metertidak memiliki perbedaan yang siginifikan dengan tes laboratorium.
PENGARUH METODE LATIHAN DAN KOORDINASI TERHADAP KETERAMPILAN SMES BULUTANGKIS kusnaedi, kusnaedi; Adisasmita, Yusuf; Ateng, Abdul Kadir; Karim, Doddy Abdul
JSKK (Jurnal Sains Keolahragaan dan Kesehatan) Vol 1, No 1 (2016)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (334.669 KB) | DOI: 10.5614/jskk.2016.1.1.4

Abstract

Pendahuluan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan hasil latihan beban system set dan system super set terhadap keterampilan smes dalam permainan bulutangkis. Dalam penelitian ini juga memperhatikan pengaruh tingkat koordinasi mata tangan yang terdiri dari koordinasi mata tangan tinggi dan koordinasi mata tangan rendah. Metode: Metode penelitian menggunakan metode eksperimen dengan desain factorial 2 X 2. Hasil: (1)Secara keseluruhan kelompok latihan sistem super set ( y = 109 dan s= 17,15) lebih baik secara nyata dibanding dengan latihan sistem set ( y =91 dan s =17,11). (2)Kelompok latihan sistem super set bagi kelompok kordinasi tinggi (y= 123,6 dan s = 5,1) lebih baik secara nyata disbanding dengan sistem set ( y= 76,3 dan s = 8,78). (3)Kelompok latihan sistem set bagi kelompok rendah (y=106 dan s =10,66) lebih baik secara nyata disbanding dengan sistem super set (y= 94 dan s=9,43). (4)Hasil perhitungan analitis varians dua faktor tentang interaksi antara latihan weight training dengan keterampilan koordinasi mata tangan (fo = 148,5 lebih besar dari F1 = 4,11). Kesimpulan: Secara keseluruhan, keterampilan smes bulutangkis kelompok siswa yang dilatih dengan menggunakan Weight Training sistem super set lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok siswa yang dilatih dengan menggunakan weight training sistem set. (2)Terdapat interaksi antara latihan weight training dengan koordinasi mata tangan terhadap keterampilan smes bulutangkis. (3)Pada kelompok siswa yang memiliki tingkat kemampuan koordinasi tinggi, keterampilan smes bulutangkis dengan menggunakan latihan weight training sistem super set lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok siswa yang dilatih dengan menggunakan weight training sistem set. (4)Pada kelompok siswa yang memiliki tingkat kemampuan koordinasi rendah, keterampilan smes bulutangkis dengan menggunakan latihan weight training sistem set lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok siswa yang dilatih dengan menggunakan weight training sistem super set.
Perancangan dan Pembuatan Shuttlecock Launcher untuk Memenuhi Kebutuhan Pelatihan Olahraga Bulutangkis Kusnaedi, Kusnaedi; Apriantono, Tommy; Sunadi, Didi
JURNAL PENDIDIKAN JASMANI DAN OLAHRAGA Vol 3, No 2 (2018): Empowering all student to active live and healthy through physical education
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jpjo.v3i2.13105

Abstract

This research was conducted to design and build a shuttlecock launcher using local materials and components. The shuttlecock launcher was constructed by taking advantage of the various scientific skills of human resources at Institut Teknologi Bandung. The research focused on the design and construction of shuttlecock launcher as a training aid for badminton trainers. The advantages of this device are: 1. able to shoot shuttlecock with high accuracy; 2. able to shoot shuttlecock at the maximum speed of 150 km/h; 3. having total mass of the structure of less than 20 kg; 4. low production cost; 5. having feeding speed of one shuttlecock per two seconds.This device was constructed in the research group (KK) of  Sport Sciences Laboratory of the School of Farmacy and Machinery and Aeronautics Faculty Laboratory at ITB while the experiment was conducted in Badminton Arena, GSG ITB. The research started from September to November 2011. The subjects of this research were the materials and other components related to the design and construction of the device in accordance to physical and mechanical work system. From this research, it can be concluded that of this shuttlecock launcher results  high feeding and lunching speed that meets the criteria needed. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk merancang dan membuat shuttlecock launcher dengan bahan-bahan (material) dan komponen lokal. Shuttlecock launcher dibuat dengan memberdayakan kemampuan SDM dari berbagai disiplin ilmu yang ada di Institut Teknologi Bandung. Ruang lingkup penelitian ini terfokus pada perancangan dan pembuatan shuttlecock launcher untuk memenuhi kebutuhan alat bantu palatihan bulutangkis.  Keunggulan dari alat ini adalah; (1). Dapat menembakkan shuttlecock dengan keandalan yang baik, (2). Dapat menembakkan shuttlecock dengan kecepatan maksimum 150 km/h, (3). Memiliki massa struktur total dibawah 20 kg, (4). Memiliki biaya produksi yang murah, dan (5). Memiliki feeding satu shuttlecock per dua detik.  Proses pembuatan alat ini dilakukan di Laboratorium KK Ilmu Keolahragaan Sekolah Farmasi dan Laboratorium Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara ITB.  Sedangkan untuk uji coba dilakukan di Lapang Bulutangkis GSG ITB. Penelitian ini dilakukan mulai bulan September – Nopember 2011. Subyek penelitian ini adalah material dan komponen lainnya yang berkaitan dengan perancangan dan pembuatan alat ini.  Instrumen penelitian  shuttlecock launcher ini mengacu pada sistem kerja secara fisika dan mekanik. Penelitian ini menyimpulkan bahwa shuttlecock louncher ini dapat menghasilkan feeding speed yang tinggi  dan kecepatan pelontaran yang memenuhi kriteria kebutuhan.
PENDEKATAN MENGAJAR TEKNIK PASSING DALAM PERMAINAN SEPAKBOLA USIA 12 TAHUN (Studi Eksperimen pada Sekolah Sepak Bola Mandala Ganesa ITB Kusnaedi, Kusnaedi; Apriantono, Tommy; Bahri, Samsul; Sunadi, Didi; Karim, Doddy Abdul
JSKK (Jurnal Sains Keolahragaan dan Kesehatan) Vol 3, No 2 (2018)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (161.319 KB) | DOI: 10.5614/jskk.2018.3.2.4

Abstract

Sepakbola merupakan cabang olahraga yang sangat digemari oleh masyarakat Indonesia. Dibuktikan dengan banyaknya SSB yang tumbuh di Kota Bandung khususnya dan Indonesia pada umumnya. Keberadaan ini belum mampu menyumbangkan atlet yang berprestasi di tingkat nasional, apalagi dunia. Berdasarkan pengamatan penulis ternyata masih banyak SSB yang pelatihnya memberikan latihan secara konvensional. Berdasarkan hasil pengamatan, penulis termotivasi untuk meneliti bagaimana cara pemberian materi latihan untuk anak usia usia 12 yang efektif. Penulis meneliti teknik passing yang terdiri dari passing stop danlong passing. Metode yang diberikan yaitu metode keseluruhan dan metode bagian. Penelitian terbatas hanya teknik passing. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen. Sampel yang digunakan siswa SSB Mandala Ganesa ITB usia 12 tahun. Latihan dilakukan 3 kali dalam satu minggu. Jumlah sampel penelitian sebanyak 30 orang. Berdasarkan perhitungan nilai Ӯ dan SD didapat hasil: kelompok siswa dengan metode bagian (part method) untuk teknik passing stop data awal Ӯ= 10, 73, data hasil tes akhir Ӯ= 20,67 dan pada teknik long passing data awal Ӯ=12,40, data hasil tes akhir Ӯ= 25,07. Sedangkan, pada kelompok siswa dengan metode keseluruhan (whole method) untuk teknik passing stop data awal Ӯ= 10,80, data hasil tes akhir Ӯ= 15,60 dan pada teknik long passing data awal Ӯ=12,00, data hasil tes akhir Ӯ= 17,20. Dari hasil perhitungan tersebut terdapat perbedaan yang signifikan antara metode bagian (part method) dan metode keseluruhan (whole metho).