Enggar Objantoro
Sekolah Tinggi Teologi Simpson Ungaran

Published : 13 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

Implikasi Makna Sabat bagi Tanah dalam Imamat 25:1-7 bagi Orang Percaya Sabda Budiman; Enggar Objantoro
JURNAL TERUNA BHAKTI Vol 3, No 2: Pebruari 2021
Publisher : SEKOLAH TINGGI AGAMA KRISTEN TERUNA BHAKTI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47131/jtb.v3i2.60

Abstract

One of the most important themes in the Old Testament is the Sabbath. In the life of the Israelites, discussion of the Sabbath was not only related to days, but to years. In its application, the Sabbath is not only reserved for humans and animals, it is also applied to the land. The concept of the Sabbath for the land also gave deep meaning to the life of the Israelites, starting from the practical to the main thing. One of the current issues is what are the implications of the meaning of the sabbath for the land for believers today? These questions become the writer's reference in examining more deeply the meaning of the Sabbath for the land in the lives of the Israelites. In the discussion, the author gives an explanation of the meaning of the Sabbath for the Israelites, of course with a focus on God. The method that I use in this article is a qualitative method with a descriptive approach. The author collects various data sources related to the topics discussed and analyzes in order to find a complete and precise understanding. Through this research, it was found that believers have a social responsibility and responsibility in maintaining the environment. Abstrak Salah satu tema penting di dalam Perjanjian Lama ialah tentang sabat. Dalam kehidupan bangsa Israel, pembahasan tentang sabat tidak hanya dikaitkan dengan hari saja, berhubungan dengan tahun. Dalam penerapannya pun sabat tidak hanya diperuntukkan bagi manusia dan hewan, sabat juga diberlakukan bagi tanah. Konsep sabat bagi tanah juga memberikan makna yang mendalam bagi kehidupan bangsa Israel, mulai dari hal yang praktis hingga kepada hal yang pokok. Salah satu persoalan saat ini ialah apakah implikasi makna sabat bagi tanah bagi orang percaya masa kini? Pertanyaan-pertanyaan ini menjadi acuan penulis untuk mengkaji lebih mendalam makna sabat bagi tanah dalam kehidupan umat Israel. Dalam pembahasan, penulis memberikan paparan terhadap makna sabat bagi orang Israel, tentunya dengan berpusat pada Allah. Metode yang penulis gunakan dalam artikel ini ialah metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Penulis mengumpulkan berbagai sumber data yang berkaitan dengan topik yang dibahas dan menganalisis guna menemukan pengertian yang utuh dan tepat. Melalui penelitian ini, didapati bahwa orang percaya memiliki tanggung jawab social dan tanggung jawab dalam memelihara lingkungan.
Analisis Mazmur 3 Untuk Praktik Konseling Krisis Maria Benedetta Mustika; Enggar Objantoro
Kharisma: Jurnal Ilmiah Teologi Vol 1, No 1 (2020): Juni
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kharisma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54553/kharisma.v1i1.5

Abstract

The Book of Psalms is one of the books that has many references about the crisis of life, one of which is Psalm 3. Therefore, the author feels it is necessary to examine how the use of Psalm 3 to be a reference for the implementation of crisis counseling. The author uses the method of analyzing the Book of Psalms to get the true meaning of the text of Psalm 3. So as to obtain the results that Psalm 3 can be used to counsel people who are bullied, experience sadness, loneliness, worthlessness and feel rejected. The conviction held by David that God never left him also needed to be implanted in the hearts of counselees who experienced a situation like this. Kitab Mazmur merupakan salah satu kitab yang memiliki banyak referensi mengenai krisis hidup, salah satunya adalah Mazmur 3. Oleh sebab itu penulis merasa perlu diteliti bagaimana pemanfaatan Mazmur 3 untuk menjadi acuan bagi pelaksanaan konseling krisis. Penulis menggunakan metode analisis Kitab Mazmur untuk mendapatkan makna sesungguhnya dari teks Mazmur 3. Sehingga memperoleh hasil bahwa Mazmur 3 dapat digunakan untuk mengkonseling orang-orang yang di-bully, mengalami kesedihan, kesepian, tidak berharga dan merasa tertolak.  Keyakinan yang dimiliki oleh Daud bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan  dia juga perlu ditanamkan dalam hati konseli yang mengalami situasi seperti ini.
Memanfaatkan Tradisi Malam Satu Suro Untuk Mengomunikasikan Injil Deni Triastanti; Enggar Objantoro
Jurnal Teologi Praktika Vol 2, No 1 (2021): Juni
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Tenggarong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51465/jtp.v2i1.23

Abstract

Malam Satu Suro is a Javanese tradition has the preserving the cultural heritage of their ancestors. This tradition is carried out by the activity of ngumbah keris, performance of wayang kulit all night long, slametan and grave pilgrimage. The method used in this research is descriptive qualitative research by exploring the meaning of activities or concepts developed by the Javanese community. After obtaining this meaning, the author describes in accordance with the perspective of Christian values. The results of the discussion of this text are that through the malam satu suro tradition, the Javanese people seek or have the hope of receiving salvation, the tradition is carried out as an effort to unite with God and an effort to abandon worldly characteristics. Thus, the concept built by the Javanese community in this tradition contains Christian values that have been written in the Scriptures. AbstrakMalam satu suro merupakan tradisi masyarakat Jawa yang memiliki sisi melestarikan budaya warisan leluhur nenek moyang. Tradisi ini dilakukan dengan kegiatan ngumbah keris, pergelaran wayang kulit semalam suntuk, slametan dan ziarah kubur. Metode yang dipakai dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif deskripsi dengan menggali makna dari adanya kegiatan atau konsep yang dibangun oleh masyarakat Jawa. Setelah mendapatkan makna tersebut, penulis mendeskripsikan sesuai dengan perspektif nilai-nilai kristiani. Adapun hasil dari pembahasan teks ini yaitu bahwa melalui tradisi malam satu suro, masyarakat Jawa mencari atau memiliki harapan menerima keselamatan, tradisi dilakukan sebagai upaya bersatu dengan Allah serta upaya menanggalkan sifat-sifat keduniawian. Dengan demikian, konsep yang dibangun oleh masyarakat Jawa dalam tradisi tersebut, di dalamnya terkandung nilai-nilai kristiani yang sudah tertulis dalam Kitab Suci.
Konsep Teologi Injili Tentang Roh Orang Mati Decky Krisnando; Enggar Objantoro; I Putu Ayub Darmawan
Evangelikal: Jurnal Teologi Injili dan Pembinaan Warga Jemaat Vol 3, No 1 (2019): Januari
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Simpson

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (94.696 KB) | DOI: 10.46445/ejti.v3i1.136

Abstract

Decky Krisnando, Enggar Objantoro, & I Putu Ayub Darmawan, The Consept of Evangelical Theology About the Spirit of Death People. This article is a library research which describe the evangelical theology about the spirit of death people.  To describe the theology, researcher make a research from the relevan books resources concerning the topic, in which it is analyzed in order that found the relation among them.  After that, the researcher make a conclusion systematically.  From the research, Evangelical theology about the spirit of death people is in the different dimension when he is life.  For the death, there are just two possibilities to go in the heaven or in the hell.  For the people who believe in God, he will go to the heaven, but the people who does not believe in God, he will go to the hell.  The existence in the heaven and the hell is everlasting.  The spirit which is in the heaven, will live together with God in eternity.  For the unbeliever, they will be punished in the hell forever.   Decky Krisnando, Enggar Objantoro, & I Putu Ayub Darmawan, Konsep Teologi Injili Tentang Roh Orang Mati. Artikel ini merupakan sebuah penelitian pustaka yang memaparkan tentang konsep teologi Injili tentang roh orang mati. Untuk memaparkan konsep tersebut, penulis mencari berbagai informasi dari sumber pustaka relevan terkait topik penelitian yang kemudian dianalisis sehingga dapat ditemukan keterkaitan dan peta konsepnya dan akhirnya merumuskan konsep penulis secara sistematis dan dipaparkan secara deskriptif.  Dari penelitian yang dilaksanakan, konsep teologi Injili tentang roh orang mati ada dalam dimensi yang berbeda dengan ketika ia ada di dunia ini.  Hanya ada dua kemungkinan bagi jiwa/roh orang mati yaitu masuk dalam sorga atau neraka.  Bagi orang yang percaya Kristus maka jiwa/rohnya akan masuk dalam sorga yang mulia.  Sebaliknya bagi orang yang tidak percaya Kristus, jiwa/rohnya akan masuk neraka.  Keberadaan di sorga dan neraka sifatnya kekal.  Jiwa/roh yang masuk sorga akan mengalami kemuliaan bersama dengan Allah kekal, selama-lamanya.  Begitu juga, jiwa/roh yang masuk neraka, akan mengalami penghukuman, yang tidak berkesudahan, selama-lamanya.
Pemanfaatan Mazmur 57 Dalam Konseling Krisis di Masa Pandemi COVID-19 Maria Benedetta Mustika; Enggar Objantoro
Davar : Jurnal Teologi Vol 1, No 1 (2020): Juni 2020
Publisher : Sekola Tinggi Teologi Sangkakala Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (266.424 KB) | DOI: 10.55807/davar.v1i1.1

Abstract

Psalm 57 is one of David's writings that speaks of worry and despair. In the midst of the Covid-19 pandemic situation there are many people who have also experienced the same thing. David's writing in Psalm 57 gives teachings that in a frightening situation there is a God who always strengthens. As David gained new strength to deal with his situation, it is hoped that believers who were in the shadow of fear during this pandemic would also get the same strength. Mazmur 57 merupakan salah satu tulisan Daud yang berbicara mengenai kekhawatiran dan keputusasaan. Di tengah situasi pandemi Covid-19 ini ada banyak orang yang juga mengalami hal serupa. Tulisan Daud dalam Mazmur 57 ini memberikan pengajaran bahwa dalam situasi yang menakutkan ada Allah yang selalu menguatkan. Sebagaimana Daud mendapatkan kekuatan baru untuk menghadapi situasi yang dialaminya, maka diharapkan orang percaya yang berada dalam bayang ketakutan pada masa pandemi ini juga mendapatkan kekuatan yang sama.
Religious Pluralism And Christian Responses Enggar Objantoro
Evangelikal: Jurnal Teologi Injili dan Pembinaan Warga Jemaat Vol 2, No 1 (2018): Januari
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Simpson

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (69.207 KB) | DOI: 10.46445/ejti.v2i1.94

Abstract

Enggar Objantoro, Pluralisme Agama dan Tanggapan Kristen. Pluralisme agama merupakan paham yang mempercayai bahwa semua agama di dunia ini sama. Kaum pluralis percaya bahwa kebenaran-kebenaran yang ada dalam semua agama mempunyai nilai yang sama, tidak ada agama yang lebih tinggi dari agama yang lain. Pluralisme agama menjadi tantangan yang sangat serius bagi kekristenan, sebab paham itu menolak kebenaran Alkitab yang menyatakan bahwa Tuhan Yesus adalah satu-satunya Juruselamat manusia. Kekristenan harus menjawab kritikan-kritikan kaum pluralis terhadap kebenaran-kebenaran Alkitab, dengan memberikan argumentasi yang jelas dan tegas. Teolog-teolog Injili percaya bahwa kebenaran-kebenaran Alkitab merupakan sesuatu yang khas/unik dalam kekristenan, yang tidak sama dengan kebenaran-kebenaran dalam agama-agama lain. Enggar Objantoro, Religious Pluralism and Christian Responses. Religious pluralism be-lieves that all religions are equal. Pluralists believe that the truths in religions have the same value, there is no religions higher than other. Religious pluralism is serious challenge for Christianity, because they reject the biblical truth that Jesus is only the savior for human being in the world. Christianity has to response to the pluralist critiques over the biblical truths, based on the Word of God. Evangelical theologians believe that the biblical truth is unique, and is just in Christianity. It is different with the truths of other religions.
Yoga dan Meditasi Transcendental Ditinjau Dari Teologi Kristen Setiawan, Roby; Objantoro, Enggar
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 1, No 2 (2019): Agustus
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (89.035 KB)

Abstract

Today, the world is in Postmodernism and Globalization Era, in which they have big impact, both positively and negatively for the human civilization. Now, people can communicate each other easily and quickly, even though they are in different places.  There are many religion and beliefs in the world, that they influence each other.  One of the teaching that it is very influence for other people is about Yoga and Transcendental Meditation (TM), some Christians is influenced by it.  It is very important to criticize the teaching in the Christian theology perspectives.  Because of that, this article analyze the teaching based on Biblical Christian Theology. This article use qualitative methodology, and using the literature research.  The bible is the guidance for analyzing the teaching.  Based on the Christian theology, yoga and transcendental meditation is irrelevant with the biblical truths, because the teaching is more focus on the human effort to reach the happiness spiritually, whereas Christian theology believe that God is only source of the happiness bodily and spiritually for human being in the world. Kemajuan teknologi dan informasi pada Era Postmodernisasi dan Globalisasi berdampak sangat besar dalam peradaban dunia dewasa ini.  Banyak dampak positif dan negatif yang ditimbulkannya. Manusia dapat dengan mudah berkomunikasi dengan manusia lainnya sekalipun mereka dipisahkan oleh jarak yang jauh, sehingga manusia saling mempengaruhi dengan mudah, murah dan cepat.  Banyak agama di dunia ini, yang saling mempengaruhi satu dengan yang lain.  Salah satu pengaruh ajaran yang mempengaruhi banyak orang dewasa ini, termasuk orang-orang Kristen di banyak negara - adalah yoga dan meditasi transcendental. Sebab itu, ajaran ini perlu dikritisi oleh berdasarkan iman Kristen yang Alkitabiah. Untuk membahas topik tersebut, metode yang dipakai dalam artikel ini adalah dengan menganalisis ajaran tersebut berdasarkan teologi Kristen yang didasarkan pada kebenaran Alkitab.  Berdasarkan teologi Kristen, ajaran/praktik yoga dan meditasi transcendental tidak sesuai dengan kebenaran Alkitab, sebab ajaran tersebut lebih menekankan kepada usaha manusia dari dalam dirinya untuk mendapat kebahagiaan secara batiniah, tidak didasarkan iman kepada Allah sebagai satu-satunya sumber kebahagiaan manusia secara lahiriah dan batiniah.
Augustine’s Theological Method And Contribution To The Christian Theology Enggar Objantoro
International Journal of Indonesian Philosophy & Theology Vol 1, No 1 (2020): June
Publisher : Asosiasi Ahli Filsafat Keilahian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47043/ijipth.v1i1.2

Abstract

Today, the world is influenced by many views, such as secularism and atheism, which affect many people, so they are far from God.  Because of them, moral and ethical standards are not based on the belief of God, but just on the humanity standard.  For Christianity, the views cause many of God's believers to leave the Scripture's truths.  To solve the problem, Christians must learn from the Christian theologian who has a significant contribution to Christian theology.  One of the Christian theologians is Augustine.  Augustine was one of Christian’s famous theologians, in which his theology/thoughts are influenced Christian theology today.  This research uses a library research method to explore Augustine's ideas.  The books that expose about Augustine's views are used to find Augustine's theology.  The result of the research is that Augustine's theology is necessary and relevant to Christian's theology today to confront the world's views so that the people of God do not live far from God.
Kepemimpinan Multi Staf Dalam Gereja Lokal Yohanes Ndapamuri; Enggar Objantoro
Integritas: Jurnal Teologi Vol 1 No 2 (2019): Integritas: Jurnal Teologi
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Jaffray Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47628/ijt.v1i2.11

Abstract

Salah satu faktor yang memengaruhi pelayanan dalam gereja lokal adalah kepemimpinan. Kepemimpinan yang efektif dan efisien sangat mendukung pelayanan di gereja lokal. Kenyataan yang ada saat ini pelayanan penggembalaan dalam gereja lokal masih memerlukan pembenahan dan penanganan yang lebih baik demi meningkatkan pertumbuhan gereja yang maksimal, baik segi kuantitas, kualitas, lokasi dan struktural. Metode penelitian dalam penyusunan artikel ini adalah study literatur. Kepemimpinan multi staf melibatkan banyak orang untuk bersama-sama menjalankan tugas pelayanan, baik pelayanan dalam jemaat itu sendiri maupun pelayanan keluar, untuk menjangkau orang-orang lain yang belum terlayani oleh gereja. Sebab itu, kepemimpinan multi staf sangat relevan dalam pelayanan gereja agar gereja dapat mencapai pertumbuhan secara maksimal.
Implikasi Faktor Pertumbuhan Rohani Keluarga Kristen Berdasarkan Efesus 5:22-6:4 Bagi Pembinaan Keluarga di Gereja Deni Triastanti; Krido Siswanto; Enggar Objantoro
Integritas: Jurnal Teologi Vol 3 No 1 (2021): Integritas: Jurnal Teologi
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Jaffray Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47628/ijt.v3i1.54

Abstract

The implications of the spiritual growth factors for Christian families based on Ephesians 5: 22-6: 4 for family formation in the church. This writing uses a hermeneutic literature study to analyze the text of Ephesians 5: 22-6: 4. The author also includes a qualitative descriptive analysis, in order to describe the discussion related to the Christian family to find implications for the formation of the Christian family in the church. From the results of the research, the author's interview with 5 young family members, the wives obey the authority of the husband as the head of the family as many as 4 participants, the husband in loving his wife by providing services to the welfare of the wife both physically and spiritually there are 4 participants, the children describe the role His obedience, namely depending on the attitude of the two parents, there are 3 participants and the parents (husband and wife) carry out their role in educating children by being spiritual role models through attitudes and actions, there are 3 participants. As an implication for family formation in the church, namely, the wife in her role of submission and respect to the husband, as the husband has the role of head and loves the wife, as children have an attitude of obedience and respect to both parents and as parents (husband and wife) has the role of not arousing children's anger and educating children in God's teachings.