Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search
Journal : FLUIDA

Pemisahan Campuran Asam Lemak Dengan Metode Kromatografi Kolom Menggunakan Fasa Diam Berbahan Dasar Abu Sekam Padi Endang Widiastuti
Fluida Vol 11 No 1 (2015): FLUIDA
Publisher : Jurusan Teknik Kimia, Politeknik Negeri Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35313/fluida.v11i1.125

Abstract

Indonesia sebagai negara agraris mempunyai banyak jenis tumbuhan penghasil minyak nabati yang mengandung asam lemak jenuh dan tidak jenuh. Asam lemak tersebut dimanfaatkan oleh industri makanan dan obat-obatan. Asam-asam lemak yang masih berupa campuran perlu dipisahkan, salah satunya dengan metoda kromatografi ion perak. Prinsip dari metode ini adalah berdasarkan perbedaan afinitas antara asam lemak dengan fasa diam dan fasa gerak. Salah satu faktor yang menentukan tingkat keberhasilan proses pemisahan pada kromatografi adalah fasa diam.   Pada penelitian ini, fasa diam diperoleh dengan memanfaatkan silika yang terkandung dalam abu sekam padi. Silika yang diperoleh berbentuk sol yang kemudian dimodifikasi dengan AgNO3 menggunakan senyawa pendukung yang divariasikan jenisnya yaitu amino propil trimetoksisilan (APTS) dan kitosan. Kedua jenis silika yang dimodifikasi kemudian dianalisis kadar ion Ag yang terikat secara titrasi potensiometri, Selanjutnya silika tersebut digunakan sebagai fasa diam pada kolom kromatografi padat-cair, untuk memisahkan campuran asam oleat, asam palmitat dan asam stearat yang telah dimetilasi. Eluen yang digunakan pada pemisahan adalah campuran kloroform- metanol atau benzene-metanol yang komposisinya divariasikan antara 100:0 hingga 90:10. Hasil pemisahan dari kolom tersebut dianalisis menggunakan kromatografi gas (GC). Dari penelitian ini, ion Ag yang terikat pada silika-kitosan adalah 87% sedangkan silika-APTS adalah 89% karena perbedaannya tidak signifikan maka sebagai fasa diam pada kolom kromatografi digunakan silika kitosan. Berdasarkan hasil analisis secara SEM dan EDS, silika tersebut mengandung SiO2 69% dan Ag2O 18%. Hasil pemisahan dari kolom kromatografi menunjukan bahwa campuran metil oleat dan metil palmitat dapat dielusi dengan pelarut kloroform – methanol, sedangkan campuran metil palmitat dan metil stearat dielusi dengan pelarut benzena-metanol. Kedua jenis eleun tersebut mempunyai perbandingan komposisi yang sama yaitu 97:3.
Studi Awal Pengambilan Kembali Aluminium Dari Limbah Kemasan Sebagai Alumina Dewi Widyabudiningsih; Endang Widiastuti
Fluida Vol 11 No 1 (2015): FLUIDA
Publisher : Jurusan Teknik Kimia, Politeknik Negeri Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35313/fluida.v11i1.558

Abstract

Pada dewasa ini, selain besi, aluminium merupakan logam yang paling banyak digunakan di sektor industri dibandingkan dengan logam lain, salah satunya sebagai kemasan. Kemasan yang terbuat dari aluminium ini banyak digunakan untuk mengemas produk makanan dan minuman, yang jika sudah digunakan isinya, maka wadah kemasan ini akan menjadi sampah. Sampah ini termasuk sampah anorganik yang tidak akan terurai secara alami dan memerlukan pengolahan tertentu untuk menguraikannya. Proses pengambilan kembali aluminium dari limbah ini dilakukan dengan metode gravimetri yaitu melarutkan limbah tersebut dengan HCl 18%. Untuk memisahkan ion-ion yang tidak diinginkan, maka digunakan pereaksi tambahan seperti asam suksinat 5%, 2 gram urea dan 5 gram ammonium klorida. Untuk menghilangkan kandungan air dari endapan maka dilakukan proses pembakaran. Pembakaran ini juga berfungsi untuk menghasilkan endapan murni yang diperoleh dari proses pengambilan aluminium sebagai alumina dari limbah kemasan tersebut. Pada suhu ruang (27oC), HCl 18% merupakan pelarut yang baik untuk melarutkan sampel yang mengandung aluminium. Alumina terbanyak didapat dari sampel yang berbentuk pizza pans yaitu 8,8203 gram dari 5 gram sampel, dengan persentase aluminium sebesar 93,39%.
Pengaruh Ukuran Adsorben Kulit Pisang Kepok terhadap Penurunan Nilai Asam Lemak Bebas Minyak Goreng Bekas Joko Suryadi; Endang Widiastuti; Mohammad Idris Asyraf Ali; Zulfany Ali
Fluida Vol 12 No 2 (2019): FLUIDA
Publisher : Jurusan Teknik Kimia, Politeknik Negeri Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35313/fluida.v12i2.1616

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengukur tingkat perbaikan kualitas terhadap jelantah yang dapat dilakukan kulit pisang kepok. Minyak jelantah yang digunakan dalam penelitian ini diperoleh dari penjual gorengan dan didiamkan selama 24 jam sebelum diproses lebih lanjut. Metode adsorpsi yang akan dilakukan dalam penelitian ini adalah metode batch pada temperature 40 oC dengan waktu kontak pada 30 dan 60 menit. Kecepatan pengadukan diatur pada 500 rpm. Ukuran adsorben divariasikan pada 35, 60, dan 230 mesh. Karakterisasi yang dilakukan pada adsorben adalah kapasitas adsorpsi dengan variasi massa menggunakan metode iodin. Parameter kualitas jelantah adalah persen perubahan nilai asam lemak bebas sebelum dan sesudah perlakuan adsorpsi. Karakteristik kulit pisang sebagai adsorben dengan efisiensi terbesar ditunjukkan pada kulit pisang pada ukuran 230 mesh sebanyak 2 gram sebesar 73,38%. Persentase penurunan asam lemak bebas terbesar ditunjukkan pada kulit pisang pada ukuran 35 mesh dengan pengadukan selama 60 menit dengan nilai 8,57%.
Optimasi Pembuatan Nanoselulosa dari Rumput Alang-Alang Endang Widiastuti; Ari Marlina
Fluida Vol 13 No 2 (2020): FLUIDA
Publisher : Jurusan Teknik Kimia, Politeknik Negeri Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35313/fluida.v13i2.2249

Abstract

Pada era sekarang ini, pemanfaatan nanoselulosa sudah sangat luas pada berbagai bidang, seperti farmasi, kosmetik, elektronik, dirgantara, dsb. Proses pembuatan nanoselulosa dapat dilakukan dengan berbagai cara bergantung pada bahan baku selulosanya, tetapi secara umum meupakan kombinasi dari perlakuan kimia dan mekanik .Rumput alang-alang (Imperata Cylindrica) dapat dijadikan sebagai sumber selulosa dengan kandungan selulosanya berkisar 40%. Ekstraksi selulosa dari rumput alang-alang diawali dengan proses delignifikasi dan dilanjutkan dengan proses bleaching menggunakan H2O2 dan NaOH. Serat selulosa diperoleh kemudian dihidrolisis dengan asam sulfat 64% pada suhu variasi 35 dan 45 ͦC, pengadukan divariasikan pada 250, 500 dan 750 rpm serta lamanya hidrolisis divariasikan 1, 2, dan 3 jam. Sebelum hasil hidrolisis dinetralkan terlebih dahulu disonifikasi dengan variasi waktu 20 dan 30 menit. Untuk pengujian hasilisolasi nano selulosa digunakan cara SEM (Scanning Electron Microscopes) Dari penelitian ini, nano selulosa dari rumput alang-alang diperoleh melalui proses hidrolisis pada suhu 45 ℃, pengadukan 750 rpm, dan selama 3 jam, selanjutnya disonifikasi selama 30 menit. Kondisi ini digunakan untuk serat selulosa rumput alang-alang dalam keadaan kering.
Sintesis Nanofiller Dari Rumput Alang-Alang untuk Pembuatan Film Bioplastik Berbahan Dasar Pati-Kitosan Endang Widiastuti; Ari Marlina
Fluida Vol 15 No 1 (2022): FLUIDA
Publisher : Jurusan Teknik Kimia, Politeknik Negeri Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35313/fluida.v15i1.3268

Abstract

Indonesia saat ini menempati urutan ke-2 sebagai negara penghasil sampah plastik. Oleh karena itu, dalam beberapa tahun terakhir, penelitian tentang plastik ramah lingkungan yang dikenal sebagai bioplastik sedang digalakkan. Bioplastik yang terbuat dari bahan alam, sifat mekaniknya tidak sebaik plastik jenis LDPE (Low Density Proly Ethylene). Salah satu bioplastik tersebut adalah berbahan dasar pati-kitosan, yaitu pati yang digunakan dari singkong atau disebut tapioka/pati. Pada penelitian ini, campuran pati-kitosan ditambahkan nanoselulosa dari rumput alang-alang sebagai nanofiller. Pertama, nanoselulosa diasetilasi kemudian dicampur dengan pati-kitosan. Bioplastik yang dibuat pada penelitian ini menggunakan perbandingan tapioka dan kitosan yakni 9 : 0,3. Bioplastik yang dibuat dari campuran pati-kitosan-nanoselulosa , memiliki kekuatan tarik 7,01 MPa, modulus Young atau kekuatan luluh 4,69 MPa dan perpanjangan putus 29,72% untuk ketebalan film 0,28 mm. Dari penelitian ini diketahui bahwa penambahan nanoselulosa dapat meningkatkan sifat mekanik bioplastik pati-kitosan, meskipun belum menyamai sifat mekanik bahan plastik LDPE. Indonesia is currently the 2nd largest producer of plastic waste. Therefore, research on environmentally friendly plastics, known as bioplastics, has been promoted in recent years. Bioplastic is made from natural materials, and its mechanical properties are not as good as LDPE (Low-Density Poly Ethylene) plastic. One of the bioplastics is made from starch-chitosan, the starch used from cassava or called tapioca/starch. In this study, a mixture of starch-chitosan was added with nanocellulose from alang-alang grass as a nanofiller. The first, nanocellulose was acetylated and then mixed with starch-chitosan. Bioplastics were made in this study using a tapioca-chitosan ratio of 9: 0.3. Bioplastic Bioplastic made from a mixture of starch-chitosan-nanocellulose has a tensile strength of 7.01 MPa, Young's modulus or yield strength of 4.69 MPa and elongation of break 29.72% for a film thickness of 0.28 mm. This research shows that the addition of nanocellulose can improve the mechanical properties of starch-chitosan bioplastic. However, it has not matched the mechanical properties of LDPE plastic material.
Pengaruh Konsentrasi Gliserol dalam Edible Coating Tepung Biji Nangka dengan Penambahan Plasticizer Gliserol Emmanuela Maria Widyanti; Nancy Siti Djenar; Ari Marlina; Endang Widiastuti; Irwan Hidayatulloh; Intan Puspitarini; Dhara Firdausa; Lidya Elizabeth
Fluida Vol 15 No 2 (2022): FLUIDA
Publisher : Jurusan Teknik Kimia, Politeknik Negeri Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35313/fluida.v15i2.4419

Abstract

Tomatoes are horticultural plants that are easily damaged, need to be coated with a food grade edible coating. The basic ingredients that can be used are polysaccharides, derived from jackfruit seed flour, then glycerol plasticizer is added to improve the brittle nature of the edible coating. The maximum glycerol added was carried out with the following concentration variations: control (without glycerol), 1.5%, 2.0%, 2.5%. The analysis carried out included testing the respiration rate and weight loss in tomato storage for 6 days. In determining the respiration rate, an experiment was carried out by flowing 1 L/minute of air for 2 minutes which had been passed through a saturated Ca(OH)2 solution flowed into a jar containing tomatoes, passing through a 0.05 N NaOH solution added 0.1% phenophthalein indicator and titrated with HCl 0.05 N until the red color disappears and the weight loss decreases on tomatoes coated with edible coating. The results obtained were the lowest decrease in respiration rate at 2% glycerol concentration of 0.137 mgCO2/kg.hour and the lowest decrease in weight loss at 2.5% glycerol concentration of 1.913%.
Sintesis Nanofiller Dari Rumput Alang-Alang untuk Pembuatan Film Bioplastik Berbahan Dasar Pati-Kitosan Endang Widiastuti; Ari Marlina
Fluida Vol 15 No 1 (2022): FLUIDA
Publisher : Jurusan Teknik Kimia, Politeknik Negeri Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35313/fluida.v15i1.3268

Abstract

Indonesia saat ini menempati urutan ke-2 sebagai negara penghasil sampah plastik. Oleh karena itu, dalam beberapa tahun terakhir, penelitian tentang plastik ramah lingkungan yang dikenal sebagai bioplastik sedang digalakkan. Bioplastik yang terbuat dari bahan alam, sifat mekaniknya tidak sebaik plastik jenis LDPE (Low Density Proly Ethylene). Salah satu bioplastik tersebut adalah berbahan dasar pati-kitosan, yaitu pati yang digunakan dari singkong atau disebut tapioka/pati. Pada penelitian ini, campuran pati-kitosan ditambahkan nanoselulosa dari rumput alang-alang sebagai nanofiller. Pertama, nanoselulosa diasetilasi kemudian dicampur dengan pati-kitosan. Bioplastik yang dibuat pada penelitian ini menggunakan perbandingan tapioka dan kitosan yakni 9 : 0,3. Bioplastik yang dibuat dari campuran pati-kitosan-nanoselulosa , memiliki kekuatan tarik 7,01 MPa, modulus Young atau kekuatan luluh 4,69 MPa dan perpanjangan putus 29,72% untuk ketebalan film 0,28 mm. Dari penelitian ini diketahui bahwa penambahan nanoselulosa dapat meningkatkan sifat mekanik bioplastik pati-kitosan, meskipun belum menyamai sifat mekanik bahan plastik LDPE. Indonesia is currently the 2nd largest producer of plastic waste. Therefore, research on environmentally friendly plastics, known as bioplastics, has been promoted in recent years. Bioplastic is made from natural materials, and its mechanical properties are not as good as LDPE (Low-Density Poly Ethylene) plastic. One of the bioplastics is made from starch-chitosan, the starch used from cassava or called tapioca/starch. In this study, a mixture of starch-chitosan was added with nanocellulose from alang-alang grass as a nanofiller. The first, nanocellulose was acetylated and then mixed with starch-chitosan. Bioplastics were made in this study using a tapioca-chitosan ratio of 9: 0.3. Bioplastic Bioplastic made from a mixture of starch-chitosan-nanocellulose has a tensile strength of 7.01 MPa, Young's modulus or yield strength of 4.69 MPa and elongation of break 29.72% for a film thickness of 0.28 mm. This research shows that the addition of nanocellulose can improve the mechanical properties of starch-chitosan bioplastic. However, it has not matched the mechanical properties of LDPE plastic material.