Claim Missing Document
Check
Articles

Found 11 Documents
Search

Pengaruh Daya dan Waktu Terhadap Yield Hasil Ekstraksi Minyak Daun Spearmint Menggunakan Metode Microwave Assisted Extraction Fitria Yulistiani; Rizka Khairiyyah Azzahra; Yulinda Alhay Nurhafshah
Jurnal Teknik Kimia dan Lingkungan Vol 4, No 1 (2020): April 2020
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/jtkl.v4i1.127

Abstract

Salah satu jenis tanaman mint yang memiliki kandungan minyak atsiri adalah jenis spearmint dengan kandungan carvone sebanyak 60 – 70%. Kandungan tersebut menyebabkan minyak atsiri daun mint memiliki sifat antioksidan, antifungal, dan antibakteri. Proses pengambilan minyak atsiri dengan metode tradisional seperti distilasi uap membutuhkan waktu dan energi yang lebih besar dibandingkan dengan metode Microwave Assisted Extraction (MAE). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh daya microwave (100, 180, dan 300 Watt) dan waktu ekstraksi (5, 10, 15 dan 20 menit) menggunakan metode MAE terhadap yield minyak daun mint. Selain itu, dilakukan karakterisasi sifat fisik yang ditentukan dari warna, indeks bias, densitas, dan komponen penyusun minyak daun mint. Hasil penelitian menunjukkan bahwa daya dan waktu mempengaruhi yield yang dihasilkan. Variasi daya dan waktu terbaik dari hasil penelitian (daya 180 Watt dan waktu 15 menit) menghasilkan yield sebesar 5,17%. Minyak mint yang dihasilkan memiliki warna kuning muda, indeks bias 1,362, dan densitas sebesar 0,8758 gram/mL. Hasil analisis dengan Gas Chromatography – Mass Spectrometry (GC-MS) menunjukkan bahwa komponen terbesar penyusun produk minyak mint hasil penelitian ini adalah carvone sebanyak 71%.Spearmint is one type of mint that contains essential oil with carvone (60-70%) as its main component. That component causes mint’s essential oil has antioxidant, antifungal and antibacteria properties. The traditional method to produce essential oil like steam distillation has long and energy consuming processes. The aims of this research were to investigate the influence of microwave power level (100, 180 and 300 Watt) and the extraction time (5, 10, 15 and 20 minutes) used Microwave Assisted Extraction to mint oil’s yield. Furthermore, characterization determined by oil’s colour, refractive index and density. The analysis of chemical component of mint oil was done using Gas Chromatography – Mass Spectrometry (GC-MS). The power level of microwave and extraction time influence to mint oil’s yield is proven in this research. The highest yield (5.17%) is generated at best variation of power and extraction time from the research are at 180 Watt and 15 minutes extraction time. The colour of mint oil is light yellow, refractive index value is 1.362 and density is 0.8758 gram/mL. The result of GC-MS showed that the major component of mint oil is 71% carvone.
Studi Literatur Implementasi Metode Microwave Assisted Extraction (MAE) untuk Ekstraksi Fenol dengan Pelarut Etanol Nadya Amelinda Zahar; Neila Zakiah Hanun; Fitria Yulistiani; Heriyanto
Fluida Vol 14 No 2 (2021): FLUIDA
Publisher : Jurusan Teknik Kimia, Politeknik Negeri Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35313/fluida.v14i2.2542

Abstract

Ekstraksi kandungan fenol menggunakan metode Microwave Assisted Extraction (MAE) dengan pelarut etanol telah banyak dilakukan dengan berbagai perbedaan nilai parameter. Tujuan yang akan dicapai dalam studi literatur ini yaitu untuk mendapatkan rasio liquid to solid (L/S), waktu ekstraksi, dan temperatur ekstraksi optimum pada setiap bahan yang merupakan parameter yang biasa divariasikan. Studi literatur ini menggunakan metode analisis secara deskriptif dengan cara mengumpulkan data dari literatur yang diperoleh serta mengolah data dengan cara melihat nilai Mean Squared Error (MSE) yang didapatkan. Hasil studi literatur menunjukan bahwa nilai optimum pada setiap bahan berbeda. Rasio L/S yang optimum sebesar 17,5/1 (v/w) pada akar manis. Waktu ekstraksi yang optimum sebesar 1,5 menit pada daun sirih merah, 22 menit pada rambut jagung, 6 menit pada akar manis, dan 30 menit pada daun kelor. Temperatur ekstraksi yang optimum sebesar 40°C pada daun sirih merah dan 180°C pada daun kelor.
Pembuatan Edible Film Antibakteri Berbahan Dasar Pektin Albedo Semangka, Sagu, dan Ekstrak Bawang Putih Fitria Yulistiani; Dianty Rosirda Dewi Kurnia; Miranti Agustina; Yaumi Istiqlaliyah
Fluida Vol 12 No 1 (2019): FLUIDA
Publisher : Jurusan Teknik Kimia, Politeknik Negeri Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35313/fluida.v12i1.1621

Abstract

Edible film berbahan dasar pati memiliki kelemahan pada sifat kuat tarik, elastisitas, dan kemampuan antimikroba. Sifat-sifat tersebut dapat ditingkatkan dengan menambahkan pektin, pemlastis, dan aditif. Penelitian ini dilakukan untuk mengkaji pembuatan edible film dari pektin albedo semangka dengan penambahan sorbitol dan gliserol sebagai bahan pemlastis, tepung sagu sebagai tambahan sumber pektin, dan ekstrak bawang putih sebagai aditif antimikroba. Variasi yang dilakukan adalah penambahan ekstrak bawang putih (0% ; 2,5% ; 5% ; 7,5% ; 10%) dan jenis pemlastis (gliserol dan sorbitol). Karakteristik yang diamati meliputi kuat tarik, perpanjangan, dan zona hambat bakteri. Edible film dengan karakteristik terbaik yaitu kuat tarik 366,4 kgf/cm2, perpanjangan 35,4%, dan zona hambat bakteri 16,5 mm (metode sumuran) adalah sampel dengan konsentrasi ekstrak bawang putih 10% dan pemlastis gliserol.
Studi Literatur Pengaruh Pirolisis, Jenis Adsorban serta Aktivator dalam Karakterisasi Asap Cair Rony Pasonang Sihombing; Keryanti Keryanti; Fitria Yulistiani; Ayu Ratna Permanasari
Jurnal Kimia Fullerene Vol 6 No 1 (2021): Fullerene Journal of Chemistry
Publisher : Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37033/fjc.v6i2.234

Abstract

Liquid smoke is a preservative solution that can be used safely. This grade 1 product can be also used as food preservative. The aim of this article is to discuss and examine the previous experiment’s results by literature review. The outcome of this article is expected to be regenerated by other research using the existing variable which is discussed on this article or using new variable. Based on the result. There are some variables that effect the final quality of liquid smoke. Some of them are pyrolisys temperature, pyrolisys time, adsorbant type and activator type. Pyrolisys temperature used was arround 250 °C – 300 °C with resulted pH 1.41 to 2.25. While for pyrolisys temperature was arround 4 – 5 hours with phenol content arround 3.04% to 4.08%. The type of adsorbant used was zeoilte and quartz sand, which the acid total having both increment and decrement phenomenon. Activator type used were salt activator such as NaCl , NaHCO, CaCl2, Na2SO4 and base activator (NaOH) which producing the most percent acid total.
Penentuan Kesetimbangan Leaching Antosianin dari Kelopak Bunga Rosella Menggunakan Continuous Screw Extractor Fitria Yulistiani; Nurcahyo
Fluida Vol 14 No 1 (2021): FLUIDA
Publisher : Jurusan Teknik Kimia, Politeknik Negeri Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35313/fluida.v14i1.3390

Abstract

Rosella merupakan salah satu sumber zat antosianin. Antosianin diambil dari kelopak bunga rosella menggunakan metode leaching. Penelitian ini dilakukan untuk menentukan tahap kesetimbangan leaching antosianin dari kelopak bunga Rosella menggunakan continous screw extractor. Tahapan leaching dimulai dengan penyaringan dan pengecilan ukuran kelopak bunga rosella. Selanjutnya, dilakukan variasi rasio pelarut dan padatan (L/S) pada tahap maserasi. Konsentrasi hasil ekstrak (overflow) dan cairan hasil perasan (underflow) digunakan untuk membuat diagram kesetimbangan yang kemudian digunakan untuk perancangan dan penentuan jumlah tahap kesetimbangan. Rasio pelarut dan padatan yang digunakan pada screw extractor yaitu 1,5:1, waktu kontak efektif 411 detik, laju alir pelarut air 1,633 g/detik, dan laju alir padatan 1,089 g/detik. Dengan menggunakan diagram kesetimbangan, didapatkan NTU (Number of Transfer Unit) sebesar 4 tahap, panjang kolom (Z) sebesar 0,42 m, dan nilai HTU (Height of Transfer Unit) sebesar 0,12 m.
Optimal cost allocation algorithm of transmission losses to bilateral contracts Conny K. Wachjoe; Hermagasantos Zein; Fitria Yulistiani
TELKOMNIKA (Telecommunication Computing Electronics and Control) Vol 18, No 4: August 2020
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12928/telkomnika.v18i4.14226

Abstract

One of the trends in electricity reform is the involvement of bilateral contracts that will participate in electricity business development. Bilateral agreements require fair transmission loss costs compared with the integrated power system. This paper proposes a new algorithm in determining the optimal allocation of transmission loss costs for bilateral contracts based on the direct method in economic load dispatch. The calculation for an optimal power flow applies fast decoupled methods. At the same time, the determination of a fair allocation of transmission losses uses the decomposition method. The simulation results of the optimal allocation of power flow provide comparable results with previous studies. This method produces a fair allocation of optimal transmission loss costs for both integrated and bilateral parties. The proportion allocation of the transmission lines loss incurred by the integrated system and bilateral contracts reflects a fair allocation of R. 852.589 and R. 805.193, respectively.
Fermentasi Anaerobik Biogas Dua Tahap Dengan Aklimatisasi dan Pengkondisian pH Fermentasi Purwinda Iriani; Yanti Suprianti; Fitria Yulistiani
Jurnal Teknik Kimia dan Lingkungan Vol 1, No 1 (2017): October 2017
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (964.831 KB) | DOI: 10.33795/jtkl.v1i1.16

Abstract

Produksi biogas pada skala rumah tangga umumnya menggunakan teknologi fermentasi anaerobik di dalam satu biodigester (satu tahap), yang mengakomodasi dua tahap utama prinsip pembentukan biogas, yakni tahap asetogenesis dan tahap metanogenesis. Permasalahan yang muncul dari penggunaan digester biogas satu tahap adalah ketidakseimbangan proses fermentasi (peningkatan laju beban organik, waktu retensi senyawa organik yang lebih cepat, dan produktivitas biogas yang menjadi tidak maksimal). Untuk mengatasi hal tersebut, dilakukan penelitian yang bertujuan melakukan produksi biogas melalui sistem fermentasi anaerobik dua-tahap (two-stage anaerobic digestion), yang didukung dengan pengaturan pH pada proses metanogenik. Pada penelitian ini telah dilakukan proses aklimatisasi (aktivasi) bakteri yang menunjang proses asetogenik dan metanogenik pada skala laboratorium (19 L), dan selanjutnya menjadi inokulum untuk proses fermentasi skala pilot dengan kapasitas biodigester asetogenik 125 L dan metanogenik 500 L. Hasil proses aklimatisasi bakteri asetogenik pada media kotoran sapi menunjukkan adanya kestabilan pH yang dibutuhkan untuk reaksi asetogenik, yaitu pada kisaran pH 5-6, sedangkan kontrol menunjukkan perubahan pH yang masih ada di rentang pH netral yaitu 6-7. Kotoran sapi yang telah melalui proses asetogenik selama 2 minggu (pH awal 5,5), menjadi bahan baku pembuatan biogas pada digester metanogenik. Hasil dari proses metanogenik menunjukkan terjadinya peningkatan volume biogas dan komposisi gas metana (CH4) di dalam biogas. Komposisi CH4 tertinggi diperoleh pada hari ke-20 yakni 74,82% dengan volume produksi biogas tertinggi ada pada hari ke-22, dengan laju 8,87 L/hari. Potensi energi tertinggi yang diperoleh mencapai 217,66 kJ/hari.Generally, biogas production on the household scale is using one-stage anaerobic fermentation technology, which accommodates two main processes of biogas production, namely acetogenesis and methanogenesis. An obstacle of using one-stage biogas digester is the imbalance of the fermentation process that indicated by the increase of organic load rate and shorter retention time that lead to un-optimal biogas productivity. This research undertook the application of two-stage anaerobic digestion, supported by adjusting the initial pH for both acetogenic and methanogenic processes. Firstly, the research initiated by acclimatization (activation) process of acetogenic and methanogenic bacteria via fermentation in laboratory scale (19 L) digesters, separately. The results of acetogenic bacteria acclimatization process on cow dung media showed the pH stability needed for the reaction acetogenic, in the range of 5-6, while the control showed the pH changes still in the neutral pH range (6-7). The substrate from lab-scale acetogenic and methanogenic digester, then used as a starter for pilot-scale digester (125 L and 500 L, respectively). The mixture of water and cow dung were adjusted at initial pH 5.5 on acetogenic digester for 2 weeks. Those material were used for biogas production in the methanogenic digester. The result of the methanogenic process showed an increasing volume of biogas and the composition of methane (CH4) in the biogas. The highest CH4 composition was obtained on the 20th day, which reached 74.82%, and the highest volume of biogas production was at day 22, with the rate of 8.87 L/day. The highest energy potential obtained was 217.66 kJ/day.
Pengolahan Air Tanah di Kawasan Politeknik Negeri Bandung menjadi Air Minum dengan Metoda Ultrafiltrasi Emma Hermawati Muhari; Ayu Ratna Permanasari; Fitria Yulistiani
Jurnal Teknik Kimia dan Lingkungan Vol 2, No 2 (2018): October 2018
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (936.065 KB) | DOI: 10.33795/jtkl.v2i2.73

Abstract

Di Indonesia, khususnya di sekitar Politeknik Negeri Bandung, sebagian besar sumber air berasal dari air tanah. Air tanah di lingkungan Politeknik Negeri Bandung memiliki pH asam (< 6), coliform > 2.400, dan colitinja positif. Proses pemanasan air kurang efektif untuk mengolah air tanah karena memerlukan waktu yang relatif lama, energi besar, dan tidak dapat meningkatkan pH air agar memenuhi standar air minum sebagaimana tercantum dalam Permenkes Nomor 492/MENKES/PER/IV/2010. Untuk mengolah air tanah di lingkungan Politeknik Negeri Bandung, telah dibuat alat pengolahan air minum portabel dengan menggunakan konsep aliran dead-end filtration. Membran yang dipakai merupakan membran hollow-fiber, berjenis membran ultrafiltrasi berbahan dasar PVDF (Poly Vinylidene Flouride), ukuran pori 0,1μm, panjang membran 15cm, jumlah membran sebanyak 148 buah, dan dapat dioperasikan pada daya isap normal manusia.  Permeat yang dihasilkan sesuai dengan standar PERMENKES No. 492/MENKES/PER/IV/2010 dari parameter fisika, kimia, dan biologi. Lifetime membran diamati melalui jumlah permeat yang dihasilkan dari awal pemakaian membran hingga membran tersebut rusak. Lifetime pada alat pengolah air minum portabel ini adalah 38,879 L. Pengolahan air tanah menggunakan alat ini  dapat menaikkan pH sebesar 12,78%, menurunkan konduktivitas sebesar 39,31%, dan menurunkan Total Dissolved Solid (TDS) 13,72%. Dari segi ekonomi, penggunaan alat ini dapat menghemat biaya 50% dibandingkan dengan pembelian air minum kemasan 600 ml.In Indonesia, especially around the Bandung State Polytechnic, most of the water sources come from ground water. Ground water in the Bandung State Polytechnic environment has acidic pH (<6), coliform> 2,400, and positive colitis. The process of water heating is less effective for treating ground water because it requires a relatively long time, large energy, and can not increase the pH of the water to meet drinking water standards as stated in Permenkes No. 492 / MENKES / PER / IV / 2010. To treat ground water in the Bandung State Polytechnic, portable drinking water treatment equipment has been made using the concept of dead-end flow filtration. The membrane used is a hollow-fiber membrane, a type of ultrafiltration membrane made from PVDF (Poly Vinylidene Fluoride), pore size of 0.1μm, membrane length of 15cm, membrane number of 148 pieces, and can be operated on normal human suction. The permeate produced is in accordance with PERMENKES No. 492 / MENKES / PER / IV / 2010 from physical, chemical and biological parameters. Lifetime membranes are observed through the amount of permeate produced from the beginning of the use of the membrane until the membrane is damaged. Lifetime of this portable drinking water treatment device is 38,879 L. Ground water treatment using this tool can increase pH by 12.78%, decrease conductivity by 39.31%, and reduce Total Dissolved Solid (TDS) 13.72%. From an economic standpoint, the use of this tool can save 50% costs compared to the purchase of 600 ml of bottled water.
Pembuatan gula Cair dari Pati Singkong dengan menggunakan Hidrolisis Enzimatis Ayu Ratna Permanasari; Fitria Yulistiani
Fluida Vol 11 No 2 (2015): FLUIDA
Publisher : Jurusan Teknik Kimia, Politeknik Negeri Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35313/fluida.v11i2.81

Abstract

Pada penelitian ini dibuat gula cair dari tepung tapioka yang dihidrolisis dengan enzim. Hidrolisis enzimatis pati terdiri dari dua tahapan yaitu liquifikasi dan sakarifikasi. Pada proses liquifikasi digunakan enzim á-amilase untuk memecah pati yang mengandung amilosa dan amilopektin menjadi dekstrin. Selanjutnya pada tahapan kedua proses sakarifikasi, dimana dekstrin dihidolisa menjadi glukosa dengan bantuan enzim glukoamilase. Volume enzim cair yang ditambahkan adalah 0,3; 0,4; dan 0,5 ml sedangkan konsentrasi substrat divariasikan 25%; 33,3%; dan 40%. Hasil terbaik diperoleh pada konsentrasi substrat 33,3% dan volume enzim sebesar 0,3 ml, yaitu memiliki kecepatan hidrolisis yang paling cepat untuk proses liquifikasi dan sakarifikasi.
Pengaruh Konsentrasi Gliserol Dan Sorbitol Terhadap Karakteristik Daya Serap Air Edible Film Dari Pektin Kulit Pisang Nisya Qonita Zahra; Royfa Fenandita Finadzir; Fitria Yulistiani
Fluida Vol 13 No 2 (2020): FLUIDA
Publisher : Jurusan Teknik Kimia, Politeknik Negeri Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35313/fluida.v13i2.2244

Abstract

ABSTRAK Penggunaan edible film menghasilkan limbah dan polusi yang lebih sedikit, namun karakteristiknya masih belum mendekati sifat kemasan sintetis. Salah satu karakteristik yang perlu diperbaiki adalah daya serap air/WVTR (Water Vapor Transmission Rate). Pada penelitian ini dilakukan studi literatur mengenai pengaruh jenis dan konsentrasi pemlastis (gliserol dan sorbitol) terhadap karakteristik WVTR edible film dari pektin kulit pisang. Literatur yang akan dikaji dalam penelitian ini dibatasi pada hasil penelitian terkait pembuatan edible film berbasis pektin kulit pisang serta menggunakan pemlastis gliserol dan sorbitol. Pada produk edible film yang dibuat menggunakan pemlastis dengan konsentrasi 10%, pemlastis sorbitol menghasilkan WVTR yang lebih rendah (3,66 g.H2O/jam.m2) dibandingkan dengan pemlastis gliserol (3,93 g.H2O/jam.m2). Dari kedua jenis pemlastis tersebut, konsentrasi yang memberikan nilai WVTR terendah (3,66 – 4,66 g.H2O/jam.m2) ada pada rentang 5-15%. Dari seluruh hasil penelitian yang dikaji, karakteristik WVTR produk edible film sudah memenuhi Japanese Industrial Standard (JIS Z 1707, 1975). Kata kunci: Edible film, pemlastis, daya serap air, pektin kulit pisang ABSTRACT The use of edible films results in less waste and pollution, but their properties are still not close to those of synthetic packaging. One of its properties that need to be improved is its water vapor transmission rate (WVTR). In this study, a literature study was carried out regarding the effect of plasticizers (glycerol and sorbitol) on WVTR of edible film from banana peel pectin. The literature being studied in this study is limited to the research related to edible film production based on banana peel pectin and using glycerol and sorbitol plasticizers. In the edible film which is made using a plasticizer with concentration 10%, sorbitol plasticizer produces the edible film with lower WVTR (3.66 g.H2O/hr.m2) compared to glycerol plasticizers (3.93 g.H2O/hr.m2). Of the two types of plasticizers, the concentrations that give the lowest WVTR values (3.66 – 4.66 g.H2O/hr.m2) ​​are in the range of 5-15%. From all the research results reviewed, the WVTR characteristics of edible film products have met the Japanese Industrial Standard (JIS Z 1707, 1975). Keywords: Edible film, plasticizer, water vapor transmission rate, banana peel pectin