Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search

KOREKSI KETINGGIAN TEMPAT TERHADAP FIKIH WAKTU SALAT: Analisis Jadwal Waktu Salat Kota Bandung Rojak, Encep Abdul; Hayatudin, Amrullah; Yunus, Muhammad
Al-Ahkam Volume 27, Nomor 2, Oktober 2017
Publisher : Faculty of Shariah and Law, State Islamic University (UIN) Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (279.137 KB) | DOI: 10.21580/ahkam.2017.27.2.1858

Abstract

Prayer time is locality in accordance with geographic data. For one geographical data will result one of prayer time. But there are different things with this general rule, namely the phenomenon of maghrib twice during Ramadan 1437 H. / 2016 M. in Bandung. There are two prayer schedule format that developed at that time, which is schedule issued by the Ministry of Religious West Java Regional Office (Kemenag) and schedule sourced by online of the Central of Ministry of Religious Affairs. Bandung has elevated above 600 meters mean sea level, but not located on the beach. Such circumstances make different ijtihad scholars of elevation data in the calculation of the prayer times. According to scholars of the city, Bandung has a elevation above 600 meters mean sea level, in the calculation of the maghrib prayer time must take into calculation the height of the place. This is to get results that match the real conditions. Kemenag and BHRD West Java  using real data in the calculation of prayer times. This schedule is much used as a reference by mosques such as the Great Mosque of al-Ukhuwah Bandung, Mosque PUSDAI, Trans Studio Mosque Bandung, and Masjid Istiqomah Bandung.[]Awal waktu salat bersifat lokalitas sesuai dengan data geografis. Untuk satu data geografis akan menghasilkan satu waktu salat. Namun ada hal yang berbeda dengan kaidah umum ini, yaitu terjadi fenomena adzan maghrib dua kali pada saat Ramadhan 1437 H. / 2016 M. di Kota Bandung. Ada dua format jadwal salat yang berkembang saat itu, yaitu jadwal yang dikeluarkan oleh Kemenag Kanwil Jawa Barat dan jadwal yang bersumber dari sistem online Kementrian Agama Pusat. Diantara jadwal tersebut, ada yang menggunakan data ketinggian tempat dan ada pula yang mengabaikannya. Bandung memiliki ketinggian tempat di atas 600 meter dpl, namun tidak terletak di sisi pantai. Keadaan seperti ini menjadikan ulama ilmu falak berbeda ijtihad dalam penggunaan data ketinggian tempat dalam perhitungan awal waktu salat magrib. Menurut ulama falak, kota Bandung yang memiliki ketinggian tempat di atas 600 meter dpl, dalam perhitungan awal waktu salat Magrib harus memperhitungkan ketinggian tempat. Hal ini untuk mendapatkan hasil yang sesuai dengan kondisi real di lapangan. Kemenag dan BHRD Jawa Barat menggunakan data real dalam perhitungan awal waktu salat. Jadwal ini banyak dijadikan acuan oleh masjid-masjid yang besar seperti Masjid Agung al-Ukhuwah Bandung, Masjid PUSDAI, Masjid Agung Trans Studio Bandung, dan Masjid Istiqomah Bandung.
Analisis Model Pengelolaan Zakat, Infaq dan Shadaqah (ZIS) di Mesjid Al Istiqomah Kabupaten Bandung Barat Amrullah Hayatudin; Arif Rijal Anshori
Jurnal Ilmiah Ekonomi Islam Vol 7, No 2 (2021): JIEI : Vol. 7, No. 2, 2021
Publisher : ITB AAS INDONESIA Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (269.457 KB) | DOI: 10.29040/jiei.v7i2.2230

Abstract

This research was conducted as an effort to find the right model in the management of Zakat, Infaq, and Sadaqah (ZIS) at the Al Istiqomah Mosque, Taman Bunga Cilame districts of West Bandung. With the hope of an appropriate model in the management of Zakat, Infaq, and Shadaqah (ZIS) funds. The purpose of Zakat, Infaq, and Shadaqah (ZIS) as a means of worship and social means, namely as a means to alleviate poverty and prosper the people can be achieved. The method used by researchers is qualitative, the data collection technique is observation (observation), interview (interview), and documentation, in analyzing the data the researcher uses qualitative data analysis is inductive. In managing ZIS funds, three things must be considered by DKM administrators, namely: Excellent service for muzakki and mustahik, funds (ZIS) must be utilized properly, transparently, creatively, and innovatively. With the management model as follows: Providing additional capital to mustahik by using aqad Mudharabah or Musyarakah; Assistance with the Participatory Action Research (PAR) approach to mustahik.
KOREKSI KETINGGIAN TEMPAT TERHADAP FIKIH WAKTU SALAT: Analisis Jadwal Waktu Salat Kota Bandung Encep Abdul Rojak; Amrullah Hayatudin; Muhammad Yunus
Al-Ahkam Volume 27, Nomor 2, Oktober 2017
Publisher : Faculty of Sharia and Law, Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (279.137 KB) | DOI: 10.21580/ahkam.2017.27.2.1858

Abstract

Prayer time is locality in accordance with geographic data. For one geographical data will result one of prayer time. But there are different things with this general rule, namely the phenomenon of maghrib twice during Ramadan 1437 H. / 2016 M. in Bandung. There are two prayer schedule format that developed at that time, which is schedule issued by the Ministry of Religious West Java Regional Office (Kemenag) and schedule sourced by online of the Central of Ministry of Religious Affairs. Bandung has elevated above 600 meters mean sea level, but not located on the beach. Such circumstances make different ijtihad scholars of elevation data in the calculation of the prayer times. According to scholars of the city, Bandung has a elevation above 600 meters mean sea level, in the calculation of the maghrib prayer time must take into calculation the height of the place. This is to get results that match the real conditions. Kemenag and BHRD West Java  using real data in the calculation of prayer times. This schedule is much used as a reference by mosques such as the Great Mosque of al-Ukhuwah Bandung, Mosque PUSDAI, Trans Studio Mosque Bandung, and Masjid Istiqomah Bandung.[]Awal waktu salat bersifat lokalitas sesuai dengan data geografis. Untuk satu data geografis akan menghasilkan satu waktu salat. Namun ada hal yang berbeda dengan kaidah umum ini, yaitu terjadi fenomena adzan maghrib dua kali pada saat Ramadhan 1437 H. / 2016 M. di Kota Bandung. Ada dua format jadwal salat yang berkembang saat itu, yaitu jadwal yang dikeluarkan oleh Kemenag Kanwil Jawa Barat dan jadwal yang bersumber dari sistem online Kementrian Agama Pusat. Diantara jadwal tersebut, ada yang menggunakan data ketinggian tempat dan ada pula yang mengabaikannya. Bandung memiliki ketinggian tempat di atas 600 meter dpl, namun tidak terletak di sisi pantai. Keadaan seperti ini menjadikan ulama ilmu falak berbeda ijtihad dalam penggunaan data ketinggian tempat dalam perhitungan awal waktu salat magrib. Menurut ulama falak, kota Bandung yang memiliki ketinggian tempat di atas 600 meter dpl, dalam perhitungan awal waktu salat Magrib harus memperhitungkan ketinggian tempat. Hal ini untuk mendapatkan hasil yang sesuai dengan kondisi real di lapangan. Kemenag dan BHRD Jawa Barat menggunakan data real dalam perhitungan awal waktu salat. Jadwal ini banyak dijadikan acuan oleh masjid-masjid yang besar seperti Masjid Agung al-Ukhuwah Bandung, Masjid PUSDAI, Masjid Agung Trans Studio Bandung, dan Masjid Istiqomah Bandung.
ISTINBATH HUKUM IMAM MALIK IBN ANAS TENTANG KADAR SUSUAN YANG MENGHARAMKAN PERNIKAHAN Amrullah Hayatudin
Tahkim (Jurnal Peradaban dan Hukum Islam) Vol 1, No 2 (2018)
Publisher : Prodi Hukum Keluarga Islam (Ahwal Asy-Syakhsiyyah) Fakultas Syariah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/tahkim.v1i2.3976

Abstract

Perbedaan pendapat dalam penentuan Hukum dalam Islam adalah hal yang biasa. Termasuk dalam hal penentuan kadar susuan yang mengharamkan pernikahan, Imam Malik mengatakan bahwa satu kali susuan sudah menjadikan keharaman pernikahan sepersusuan. Artikel ini bertujuan untuk mengungkap Istinbat Ahkam yang digunakan Imam Malik berkaitan dengan kadar susuan yang mengharamkan pernikahan. Hasil studi ini menunjukan hasil bahwa, satu kali susuan sudah menjadikan seseorang menjadi saudara sepersusuan dan diharamkan untuk menikah, dalam istinbat hukumnya Imam Malik menggunakan menggunakan dua metode istinbath yaitu al qur’an dengan pendekatan makna Zhair ayat dan menggunakan hadits Nabi dari Uqbah ibn Harits. 
TINJAUAN FIKIH WAKAF DAN UNDANG-UNDANG NOMOR 41 TAHUN 2004 TENTANG WAKAF TERHADAP PENGELOLAAN WAKAF UANG OLEH YAYASAN TENDA VISI INDONESIA Amrullah Hayatudin; Muhammad Andri Ibrahim; Ghina Nabila Ramadhanty
Tahkim (Jurnal Peradaban dan Hukum Islam) Vol 3, No 2 (2020)
Publisher : Prodi Hukum Keluarga Islam (Ahwal Asy-Syakhsiyyah) Fakultas Syariah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/tahkim.v3i2.6453

Abstract

ABSTRACTToday many non-endowments institutions that receive and manage endowments of money include the Tenda Visi Indonesia Foundation (TEVIS). The TEVIS Foundation manages and distributes it according to its programs. So, this article was conducted by the author to find out the management of waqf money according to waqf fiqh and Indonesian Law Number 41 of 2004 concerning endowments, as well as the suitability of the management of endowments in money at the Tenda Visi Indonesia foundation with the concept of waqf money and Law No. 41 of 2004 concerning endowments. The method in this study is a qualitative method with a normative juridical approach, the type of research is field research using field data collection methods with observation, interviews, and also literature studies. The results of the study concluded that: first, the management of cash waqf according to fiqh only be distributed to what is permitted sharply according to law No. 41 of the management of cash waqf is carried out on banking products. Second, cash waqf management conducted by the TEVIS foundation is carried out in the real sector. Third, the management of cash waqf carried out by the TEVIS foundation was under fiqh waqf and according to Law No. 41 of 2004 concerning waqf, there is a discrepancy because of the TEVIS foundation doesn’t register its money to the minister and its management doesn’t go through banking product. Keywords: Fiqh of Waqf, Law No. 41 of 2004, Endowments of Money.
Analisis Praktik Keluarga Berencana pada Wanita Karir di Kecamatan Cilamaya Kulon Kabupaten Karawang Perspektif Maslahah Mursalah Dea Sa’adah; Amrullah Hayatudin
Jurnal Riset Hukum Keluarga Islam Volume 1, No.2, Desember 2021, Jurnal Riset Hukum Keluarga Islam (JRHKI)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (204.426 KB) | DOI: 10.29313/jrhki.v1i2.579

Abstract

Abstract. The massive progress of the times has pushed people to create contraceptives to regulate pregnancy and many women go out of their homes for careers or work, even though Islam only requires men (husbands) to earn a living. This study was conducted to determine the concept of maslahah mursalah in determining Islamic law, family planning practices for career women in the Cilamaya Kulon sub-district, Karawang regency, the perspective of maslahah mursalah. This study uses a descriptive qualitative analysis method, the primary data source is obtained from career women who have family planning through interviews and secondary data from related literature studies. The results of the study explained that the concept of maslahah mursalah is the absence of textual arguments that regulate a benefit that does not conflict with the objectives of the Shari'a. Most of the family planning acceptors in Cilamaya Kulon Sub-district chose to use family planning based on motives that contained maslahah, doing a safe way to space the time of pregnancy. It can be concluded that the practice of family planning in career women in Cilamaya Kulon District, Karawang Regency is a problem. Family planning is legally permissible in Islam, provided that it only regulates births that do not violate nature (tanzhim an-nasl) not restricts offspring for fear of poverty and other problems that arise as a result of having many children (tahdid an-nasl). Abstrak. Kemajuan zaman yang masif mendorong manusia menciptakan alat kontrasepsi untuk mengatur kehamilan dan banyak dari kalangan wanita pergi keluar rumah untuk berkarir atau bekerja, padahal islam hanya mewajibkan laki-laki (suami) lah yang mencari nafkah. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui konsep maslahah mursalah dalam penentuan hukum islam, praktik KB pada wanita karir di kecamatan Cilamaya Kulon Kabupaten Karawang perspektif maslahah mursalah, tujuan penelitian adalah menjawab rumusan penelitian di atas. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analisis kualitatif, sumber data primer diperoleh dari wanita karir yang ber KB melalui wawancara dan data sekunder dari studi pustaka terkait. Hasil penelitian dijelaskan bahwa konsep maslahah mursalah adalah tidak adanya dalil nash yang mengatur suatu kemaslahatan yang tidak bertentangan dengan tujuan syariat. Sebagian besar akseptor KB di Kecamatan Cilamaya Kulon memilih menggunakan KB dilatarbelakangi motif yang mengandung maslahah, melakukan cara yang aman untuk menjarangkan waktu kehamilan. Dapat disimpulkan bahwa praktik keluarga berencana pada wanita karir di Kecamatan Cilamaya Kulon Kabupaten Karawang merupakan maslahah. Keluarga Berencana hukumnya diperbolehkan dalam islam, dengan syarat hanya mengatur kelahiran yang tidak menyalahi kodrat (tanzhim an-nasl) bukan membatasi keturunan karena takut akan kemiskinan dan permasalahan lain yang muncul akibat memiliki banyak anak (tahdid an-nasl). Hukum kebolehan tanzhim an-nasl dikarenakan tanzhim an-nasl tidak bertentangan dengan kodrat nurani manusia yang menyukai bangga dengan banyaknya keturunan. Kebolehan tanzhim an-nasl berdasarkan ‘ijma ulama, Al-Qur'an, Al-Hadis, Qiyas, dan Istishab.
Kedudukan Hukum Anak Hasil Incest menurut Putusan Mk No. 46/Puu-VIII/2010 dan Hukum Islam Elridsa Nur Azizah; Amrullah Hayatudin
Jurnal Riset Hukum Keluarga Islam Volume 2, No.1, Juli 2022, Jurnal Riset Hukum Keluarga Islam (JRHKI)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (94.764 KB) | DOI: 10.29313/jrhki.vi.902

Abstract

Abstract. After the presence of the Constitutional Court Decision No. 46/PUU-VIII/2010 became a controversy among the public, because the decision was considered to provide a loophole for committing adultery. To limit this, the authors found the formulation of the problem, namely related to the legal position of incestuous children according to the Constitutional Court Decision No. 46/PUU-VIII/2010 and according to Islamic Law. The goal is to answer the analysis. The method used in this research is the normative juridical method by collecting data in the form of library research and using secondary data types with primary and tertiary materials. The results of this study according to the Constitutional Court Decision No. 46/PUU-VIII/2010 that the position of the child outside of marriage in question is a child from a betel marriage so that he will have a civil relationship with his mother and also his biological father. As well as the position of the child resulting from incest according to Islamic law has the right to get lineage only to his mother, but to get a living from his biological father. Therefore, children born out of wedlock, namely incestuous children or adulterous children, do not get guardianship from their fathers. So the guardianship fell to the guardian judge. Abstrak. Setelah hadirnya Putusan MK No. 46/PUU-VIII/2010 menjadi kontroversi di kalangan masyarakat, karena putusan tersebut dianggap memberikan celah untuk melakukan perzinahan. Untuk membatasi hal tersebut maka penulis menemukan rumusan masalah yaitu terkait kedudukan hukum anak incest menurut Putusan MK No. 46/PUU-VIII/2010 dan menurut Hukum Islam. Tujuannya untuk menjawab analisis tersebut. Adapun metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode yuridis normatif dengan cara pengumpulan data berupa studi pustaka dan menggunakan jenis data sekunder dengan bahan primer dan tersier. Hasil dari penelitian ini menurut Putusan MK No. 46/PUU-VIII/2010 bahwa keududukan anak diluar perkawinan yang dimaksud adalah anak dari perkawinan sirih sehingga akan mendapatkan hubungan keperdataan dengan ibunya dan juga ayah biologisnya. Serta kedudukan anak hasil incest menurut Hukum Islam mempunyai hak yaitu mendapatkan nasab hanya kepada ibunya saja, akan tetapi mendapatkan nafkah dari ayah biologisnya. Oleh karena itu, anak yang dihasilkan di luar perkawinan yakni anak incest atau anak zina tidak mendapatkan perwalian dari ayahnya. Maka perwaliannya jatuh kepada wali hakim.
Analisis terhadap Kriteria Muallaf sebagai Penerima Zakat di Baznas Kabupaten Purwakarta Menurut Peraturan Baznas No. 3 Tahun 2018 dan Persfektif Hukum Islam Eka Tias Pratiwi; Amrullah Hayatudin; Iwan Permana
Bandung Conference Series: Sharia Economic Law Vol. 2 No. 1 (2022): Bandung Conference Series: Sharia Economic Law
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (203.543 KB) | DOI: 10.29313/bcssel.v2i1.384

Abstract

Abstract. Zakat is a certain property that must be issued by Muslims and given to those who are entitled to receive it. The group that is entitled to receive zakat there are eight, one of which is the convert. In BAZNAS Purwakarta Regency, to give zakat to converts must have criteria that have been set by BAZNAS.The problem is; How the process of distributing zakat distribution to converts in BAZNAS Purwakarta Regency, how to analyze the criteria of converts according to BAZNAS regulation No. 3 of 2018, how to analyze converts as zakat recipients according to the effectiveness of Islamic Law. The purpose of this study is to find out how the process of distributing zakat funds to the criteria of converts that have been established in accordance with BAZNAS N0 regulation 3 of 2018 and effective Islamic Law. The research methods used are descriptive with a qualitative approach. With primary and secondary data sources. Data collection techniques interviews documents and literature studies . The result of this study is that the criteria for converts in BAZNAS Purwakarta Regency have been in accordance with BAZNAS regulation No. 3 of 2018 and the distribution of zakat to converts is allowed according to the effectiveness of Islamic law. But zakat funds given to converts in BAZNAS Purwakarta can not be said to be able to prosper converts because the average assistance is consumptive. Abstrak. Zakat adalah harta tertentu yang wajib dikeluarkan oleh orang Islam dan diberikan kepada golongan yang berhak menerimanya. Golongan yang berhak menerima zakat ada delapan, salah satunya adalah golongan muallaf. Di BAZNAS Kabupaten purwakarta, Untuk memberikan zakat kepada muallaf harus memiliki kriteria yang telah ditetapkan oleh BAZNAS. Rumusan masalahnya yaitu; Bagaimana proses penyaluran distribusi zakat kepada muallaf di BAZNAS Kabupaten Purwakarta, bagaimana analisis terhadap kriteria muallaf menurut peraturan BAZNAS No 3 Tahun 2018, bagaimana analisis terhadap muallaf sebagai penerima zakat menurut persfektif Hukum Islam. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui bagaimana proses penyaluran dana zakat kepada kriteria muallaf yang telah ditetapkan sesuai peraturan BAZNAS N0 3 Tahun 2018 dan persfektif Hukum Islam. Metode penelitian yang digunakan yaitu deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Dengan sumber data primer dan sekunder. Teknik pengumpulan data yaitu wawancara, dokumentasi dan studi kepustakaan. Hasil dari penelitian ini adalah Kriteria muallaf di BAZNAS Kabupaten Purwakarta telah sesuai dengan peraturan BAZNAS No 3 Tahun 2018 dan Pembagian zakat kepada muallaf diperbolehkan menurut persfektif hukum Islam. Namun dana zakat yang diberikan kepada muallaf di BAZNAS Purwakarta belum bisa dikatakan dapat mensejahterakan muallaf karena rata-rata bantuan bersifat konsumtif
Tinjauan Khiyar dalam Perspektif Fikih Muamalah dan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen terhadap Praktik Jual Beli secara Online di Toko X Shopee Fauzia Rizqika Subrata; Amrullah Hayatudin; Panji Adam Agus Putra
Bandung Conference Series: Sharia Economic Law Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Sharia Economic Law
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (246.336 KB) | DOI: 10.29313/bcssel.v2i2.2698

Abstract

Abstract. Store X is one of the stores in Shopee e-commerce that sells a variety of health masks. In the practice of selling, Store X seldom to respond customers’ complaints. In Muamalah Fiqh, there is a theory named Khiyar, which means a right owned by the consumer to continue or cancel buying and selling. This research aims to know the practice of online buying and selling are done by Store X in Shopee, to know the review of Khiyar to the practice of buying and selling done by Store X in Shopee, and to know the review of Law Number 8 of 1999 concerning Consumer Protection towards the practice of Store X’s buying and selling in Shopee. The method used in this research was the qualitative method with an empirical law approach. The result of this research was the practice of Store X’s online buying and selling has appropriate to the steps done at Shopee e-commerce; however, several consumers were harmed because the goods were unsuitable or had defects in the goods. The review of Khiyar Muamalah Fiqh towards Store X’s practice did not carry out due to the absence of consumers' rights. The practice of Store X was the opposite with Law Number 8 of 1999 since the business owner of Store X did not give compensation to the consumers and did not give the goods following the agreement and the defects found in the goods. Abstrak. Toko X adalah salah satu toko di e-commerce shopee yang menjual berbagai macam masker kesehatan. Dalam praktik jual belinya toko X jarang merespon atas keluhan konsumen. Dalam Fikih Muamalah ada satu teori yaitu Khiyar, yaitu hak yang dimiliki pembeli untuk melanjutkan atau membatalkan jual beli. Tujuan penelitian untuk mengetahui praktik jual beli secara online yang dilakukan oleh Toko X di Shopee, mengetahui tinjauan khiyar terhadap praktik jual beli dilakukan oleh Toko X di Shopee, mengetahui tinjauan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen terhadap praktik jual beli Toko X di Shopee. Metode penelitian yang digunakan yaitu penelitian kualitatif dengan pendekatan hukum empiris. Hasil dari penelitian ini adalah praktik jual beli toko X telah sesuai dengan langkah-langkah yang dilakukan pada e-commerce shopee, namun ada beberapa konsumen yang dirugikan akibat barangnya tidak sesuai atau cacat. Tinjauan Khiyar Fikih Muamalah pada praktik toko X tidak terlaksana, karena tidak adanya hak-hak konsumen. Praktik jual beli toko X bertolak belakang dengan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 karena pelaku usaha toko X tidak memberikan kompensasi terhadap konsumen, dan tidak memberi barang yang sesuai dengan perjanjian dan ditemukan cacat pada barang.
Tinjauan Fikih Muamalah terhadap ‎Pelaksanaan Program Wisata Halal di ‎DISPARBUD Kabupaten Bandung Anisa Rizky Khopipah; Amrullah Hayatudin; Ira Siti Rohmah Maulida
Bandung Conference Series: Sharia Economic Law Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Sharia Economic Law
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (159.779 KB) | DOI: 10.29313/bcssel.v2i2.3232

Abstract

Abstract. Handling non-performing financing at BTN Syariah The ‎trend of halal tourism is currently experiencing rapid ‎development and ‎this has The trend of halal tourism is ‎currently experiencing rapid development ‎and this has ‎also become a concern for the Bandung Regency ‎Government to ‎optimize the potential of the tourism ‎sector in the Bandung Regency area. In this ‎case, the ‎Bandung Regency Disparbud implements the Halal ‎Tourism Tour ‎program and is carried out through the ‎procurement of cooperation with several ‎hotels that ‎already have halal certification in both the Hilal 1 and ‎Hilal 2 ‎categories. How are the characteristic values and ‎provisions of sharia tourism ‎according to Fiqh ‎Muamalah, How is the implementation of the Halal ‎Tourism ‎Program at DISPARBUD Bandung Regency ‎and how is the Fiqh Muamalah ‎review to the ‎implementation of Halal Tourism program at ‎DISPARBUD ‎Kabupaten ‎Bandung.‎ The research method ‎used is descriptive analysis with a qualitative analysis ‎‎approach to review the suitability of the implementation ‎of the Halal Tourism ‎Program at DISPARBUD Bandung ‎Regency with the values of the characteristics ‎and ‎provisions of sharia tourism according to Fiqh ‎Muamalah. The results of the ‎research show that the ‎characteristics of sharia tourism according to the fiqh of ‎‎muamalah are tourism activities whose processes are in ‎line with Islamic sharia ‎values and involve all related ‎elements. in collaboration with sharia-certified ‎tourism ‎and travel companies, and the implementation of halal ‎tour packages at ‎the Bandung Regency DISPARBUD in ‎accordance with the provisions of fiqh ‎muamalah. Abstrak. Tren wisata halal pada saat ini mengalami ‎perkembangan yang pesat dan ‎hal tersebut juga menjadi ‎perhatian Pemerintahan Kabupaten Bandung untuk ‎‎mengoptimalkan potensi sektor pariwisata yang ada di ‎wilayah Kabupaten ‎Bandung. Dalam hal ini, Disparbud ‎Kabupaten Bandung melaksanakan program ‎Tour ‎Wisata halal dan dilakukan melalui pengadaan ‎kerjasama dengan beberapa ‎hotel yang telah memiliki ‎sertifikasi halal baik kategori Hilal 1 dan Hilal 2. ‎‎Berdasarkan hal tersebut, maka fokus penelitian ‎dirumuskan ke dalam bentuk ‎pertanyaan, Bagaimana ‎nilai-nilai karakteristik dan ketentuan pariwisata syariah ‎‎menurut Fikih Muamalah, Bagaimana penyelenggaraan ‎Program Wisata Halal di ‎DISPARBUD Kabupaten ‎Bandung Dan bagaimana tinjauan Fikih Muamalah ‎‎terhadap pelaksanaan program Wisata Halal di ‎DISPARBUD Kabupaten ‎Bandung.‎ Metode penelitian ‎yang digunakan adalah deskriptif analisis dengan ‎‎pendekatan analisis kualitatif untuk meninjau ‎kesesuaian penyelenggaraan ‎Program Wisata Halal di ‎DISPARBUD Kabupaten Bandung dengan nilai-nilai ‎‎karakteristik dan ketentuan pariwisata syariah menurut ‎Fikih Muamalah. Hasil ‎penelitian menunjukkan bahwa ‎karakteristik wisata syariah menurut fikih ‎muamalah ‎adalah kegiatan pariwisata yang semua prosesnya ‎sejalan dengan nilai-‎nilai syariah Islam dan melibatkan ‎seluruh elemen terkait, Pelaksanaan paket ‎wisata tour ‎halal di DISPARBUD Kabupaten Bandung ‎dikembangkan melalui ‎Program Wisata Halal yang ‎pelaksanaannya dikerjasamakan dengan perusahaan ‎‎tour and travel yang bersertifikasi syariah, dan ‎Pelaksanaan paket wisata tour ‎halal di DISPARBUD ‎Kabupaten Bandung telah sesuai dengan ketentuan fikih ‎‎muamalah.‎