Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

Hantaran Sinyal Leptin dan Obesitas: Hubungannya dengan Penyakit Kardiovaskuler David Limanan
eJournal Kedokteran Indonesia Vol 1, No 2 (2013): Agustus
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Diperkirakan saat ini jumlah orang dengan obesitas melebihi 250 juta orang, yaitu 7% dari populasi orang dewasa di dunia. Mortalitas obesitas erat hubungannya dengan sindrom metabolik yang merupakan kelainan metabolik meliputi obesitas, resistensi insulin, gangguan toleransi glukosa, abnormalitas trigliserida dan hemostasis, disfungsi endotel dan hipertensi. Leptin dihasilkan adiposit dan merupakan anggota dari adipositokin; berperan dalam hantaran sinyal hormon jaringan adiposa. Kelainan leptin maupun reseptornyadapat menyebabkan seseorang mengalami obesitas, metabolik sindrom, diabetes dan penyakit kardiovaskuler. Kompleks leptin-reseptor mengaktifkan sistem transduksi sinyal, yang paling dominan adalah jalur janus kinase-signal transducer and activator of transcription-3 (JAK-STAT3), kemudian phospatidyl inositol 3- kinase (PI3K), mitogen-activated protein kinase (MAPK), 5’adenosine monophosphate-activated protein kinase (AMPK), dan mammalian target of rapamycin (mTOR). Jalur leptin-associated PI3K dengan ERK cascade berperan penting dalam proliferasi kardiomiosit dan melindungi jantung dari ischemia reperfusion injury. ERK1/2 mengaktifkan target gen seperti c-fos dan egr-1 yang berperan dalam proliferasi dan diferensiasi. Nuclear factor κB diduga sebagai target jalur p38 dan JNK MAPK. Faktor transkripsi inu berperan pentingdalam mengatur transkripsi sitokin proinflamasi seperti tumor necrosis factor (TNF)-α dan interleukin (IL)-1β. Leptin dapat meningkatkan pembentukan reactive oxygen species (ROS) sel endotel pembuluh darah dan menstimulasi sekresi TNF-α dan IL-6 yang merupakan promotor hipertensi dan aterosklerosis.Kata Kunci: obesitas, leptin, sistem kardiovaskuler
Kapasitas Total Antioksidan dan Sitotoksisitas Ekstrak Metanol Daun Ara (Ficus auriculata Lour) Limanan, David; Ferdinal, Frans; Salim, Melanie; Julianty, Eny
Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Vol 2, No 1 (2018): Jurnal Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
Publisher : Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmstkik.v2i1.1561

Abstract

Indonesia merupakan negara megabiodiversitas paling tinggi di dunia. Keragaman flora Indonesia menduduki peringkat ketujuh dunia Hal ini membuat Indonesia memiliki kandidat tanaman obat yang luas, akan tetapi hanya sebagian kecil yang telah dimanfaatkan sebagai bahan baku industri obat. Salah satu tanaman yang memiliki khasiat obat dan telah digunakan secara empirik adalah tanaman ara (Ficus auriculata Lour). Tanaman ara diketahui memiliki senyawa bioaktif yang dapat berfungsi sebagai antioksidan dan dapat digunakan untuk mengatasi stres oksidatif yang merupakan dasar dari berbagai macam penyakit, salah satunya adalah kanker. Selain itu obat-obatan kanker menimbulkan efek samping yang besar terhadap sel-sel normal, sehingga diperlukan penelitian lebih lanjut dalam mencari kandidat antikanker yang cukup efektif dengan efek samping kecil. Bahan bioaktif dari tanaman banyak yang cukup menjanjikan sebagai kandidat obat anti kanker. Karena itu, penelitian ini dilakukan untuk melihat kapasitas total antioksidan dan sifat sitotoksisitas dari ekstrak daun ara. Metode pada penelitian ini berupa penelitian eksperimantal, dengan daun ara yang telah didapatkan dibuat simplisia dan diekstraksi dengan metode maserasi menggunakan pelarut metanol. Hasil ekstraksi dilakukan pengujian kapasitass total antioksidan dengan menggunakan DPPH (Blois) dan uji sitotoksisitas menggunakan metode Brine Shrimp Lethality Test (BSLT).Hasil penelitian didapatkan bahwa kapasitas total antioksidan ekstrak metanol daun ara diperoleh sebesar 213,2564 µg/mL, sedangkan IC-50 asam askorbat sebagai kontrol sebesar 5,9382 µg/mL. Uji sitotoksisitas ekstrak metanol daun ara didapatkan LC50 sebesar 448,895 ppm. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa ekstrak metanol daun ara memiliki kapasitas antioksidan yang lebih kecil dibanding vitamin c tetapi memiliki bersifat sitotoksik sehingga dapat dijadikan kandidat antikanker.Kata Kunci : Ara, sitotoksisitas, kapasitas antioksidan
The effect of maja fruit (Aegle marmelos (L) correa) on inflammation markers involved in the aging process David Limanan; NO Christian; E Efrany; E Yulianti; Frans Ferdinal
Acta Biochimica Indonesiana Vol. 1 No. 1 (2018): Acta Biochimica Indonesiana
Publisher : Indonesian Society for Biochemistry and Molecular Biology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32889/actabioina.v1i1.4

Abstract

Background: Aging is a process that every living creature will pass through and involves various factors. Increased inflammatory factors can be caused by hypoxia which forms Reactive Oxygen Species (ROS) and damages macromolecules and causes the acceleration of the aging process. Maja plants, empirically have long been used as medicinal plants, research on Maja leaves shows anti-inflammatory and antioxidant potential. Objective: The purpose of this study was to find out and understand the potential of Maja fruit in the presence of inflammatory markers of IL-6 and TNF-α which are involved in the aging process. Methods: This research was in vivo experimental, using male experimental animals Sprague Dawley rats divided into 8 groups (n = 4), and divided into 2 groups (fed with Maja ethanol extract (400 mg/ kg/day, 14 days) and not force-fed). Each group was divided into 4 subgroups (normoxia, hypoxia (O2 8%, N2 92%) for 3, 7 and 14 days). At the end of the trial period, animal blood was examined for IL-6 and TNF-α concentrations using the ELISA method. Results: The results showed an increase in levels of IL-6 and TNF-α both in the group fed and not fed in line with the duration of hypoxia when compared with controls. However, groups that are not force-fed show a higher pattern compared to those who are force-fed. Conclusion : The ethanol extract of Maja fruit can help slow down the aging process.
PEMERIKSAAN STATUS GIZI SEBAGAI UPAYA PREVENTIF PENYAKIT DEGENERATIF PADA SISWA SEKOLAH BM JAKARTA PUSAT Meilani Kumala; David Limanan; Alexander Halim Santoso
Jurnal Bakti Masyarakat Indonesia Vol 3, No 1 (2020): Jurnal Bakti Masyarakat Indonesia
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (638.19 KB) | DOI: 10.24912/jbmi.v3i1.8034

Abstract

These day the number of school-age children who suffer from obesity has doubled compared to 2010. Children who are obese tend to remain obese in adulthood and are at risk of suffering from various non-communicable diseases such as heart and blood vessel disease, metabolic syndrome, diabetes, and others. Based on these conditions in an effort to prevent obesity early which is one of the factors causing non-communicable diseases, it is necessary to check the nutritional status of high school students who are classified as adolescents. Activities include data collection on student identity, snack food patterns, types of snacks, and daily student activities and followed by measurements of body weight, height, and waist circumference to get an overview of the nutritional status of students. This dedication activity involved the Tarumanagara University Faculty of Medicine students. The results of the examination found that most of the 48 students and 37 students who had been assessed for nutritional status experienced height based on age (TB / U) within normal limits. As many as 34.1% of adolescents are overweight and overweight. The percentage of overweight and obesity in adolescents is quite large compared to nationally, urban, or in DKI Jaya. The mean waist circumference (Lp) 31.25% of male adolescents were found to be above the normal limit indicating excess fat in the abdominal area, while the average Lp of adolescent girls was still within normal limits. In terms of daily activities which are one of the factors causing obesity, 67.1% of adolescents engage in sports activities, but many hours are also used to use gadgets, which are about five hours per day. Most (94.1%) of adolescents consume various kinds of snacks including biscuits, chips, nuts, and fruit. Based on the results obtained, it is necessary to assess nutritional status regularly and also counseling about a healthy lifestyle.ABSTRAK:Dewasa ini jumlah anak umur sekolah yang menderita obesitas mengalami peningkatan dua kali lipat dibandingkan tahun 2010. Anak-anak yang obes cenderung untuk tetap obes di umur dewasa  dan berisiko menderita berbagai penyakit tidak menular seperti penyakit jantung dan pembuluh darah, sindrom metabolik, diabetes, dan sebagainya. Berdasarkan keadaan tersebut dalam upaya pencegahan secara dini terjadinya obesitas yang merupakan salah satu faktor penyebab penyakit tidak menular, perlu dilakukan pemeriksaan status gizi pada siswa siswi sekolah menengah atas yang merupakan tergolong umur remaja. Kegiatan meliputi pendataan identitas siswa, pola makanan cemilan, jenis cemilan, dan aktifitas siswa sehari-hari dan dilanjutkan dengan pengukuran berat badan, tinggi badan dan lingkar pinggang untuk mendapatkan gambaran status gizi siswa. Kegiatan pengabdian ini melibatkan mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara. Hasil pemeriksaan didapatkan bahwa sebagian besar dari 48 siswa dan 37 siswi yang telah dilakukan penilaian status gizi mengalami tinggi badan berdasarkan umur (TB/U) dalam batas normal. Sebanyak 34,1% remaja mengalami berat badan berlebih dan kegemukan. Persentase kelebihan berat badan dan obesitas pada remaja ini cukup besar dibandingkan secara nasional, perkotaan ataupun di DKI Jaya. Rerata lingkar pinggang (Lp) 31,25% remaja laki-laki didapatkan sudah di atas batas normal yang menunjukkan adanya kelebihan lemak di daerah perut, sedangkan rerata Lp remaja perempuan masih dalam batas normal. Ditinjau dari aktivitas sehari-hari yang merupakan salah satu fator penyebab kegemukan didapatkan sebesar 67,1% remaja melakukan aktivitas olah raga, namun tidak sedikit juga waktu yang digunakan untuk menggunakan gadget yaitu sekitar lima jam per hari. Sebagian besar (94,1%) remaja mengonsumsi bermacam macam cemilan meliputi biskuit, chips, kacang dan buah. Berdasarkan hasil yang didapat perlu dilakukan penilaian status gizi secara rutin dan juga penyuluhan tentang gaya hidup yang sehat.
Changes on oxidative stress-related biomarkers in plasma and cardiac tissue due to prolonged exposure to normobaric hyperoxia Maria Christina Dwiyanti; R Benettan; F Wandy; M Lirendra; Frans Ferdinal; David Limanan
Acta Biochimica Indonesiana Vol. 2 No. 1 (2019): Acta Biochimica Indonesiana
Publisher : Indonesian Society for Biochemistry and Molecular Biology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32889/actabioina.v2i1.31

Abstract

Background: Hyperoxia is a state of oversupply of oxygen in tissues and organs that can increase reactive oxygen species (ROS). When antioxidants cannot balance ROS levels, oxidative stress occurs. Catalase and reduced glutathione (GSH) are two of the antioxidants that can be very useful to counteract ROS. Increased production of ROS subsequently results in lipids damage and generates malondialdehyde (MDA). ROS interaction with cardiac cells causes remodeling thus leads to heart failure. Objectives: The purpose of this study was to find out the changes on oxidative stress-related biomarkers in plasma and cardiac tissue. Methods: Sprague Dawley rats were divided into 5 groups (n=6/group). Control group was exposed to normoxia (21% O2), while each treatment group was exposed to hyperoxia (75% O2) for 1, 3, 7, and 14 days. Blood and heart samples were used for blood gas analysis and hematology test, also for catalase specific activity measurement, GSH level, and MDA level measurement. Results: Blood gas analysis of pO2, pCO2, and HCO3 were increased, while the O2 saturation and all hematological parameters were decreased. Plasma and cardiac tissue’s catalase specific activity increased in day 1 to day 7 but declined in day 14. Cardiac tissue’s GSH has the same result. Plasma GSH level increased in day 1 but decreased afterward. MDA level in plasma and cardiac tissue increased significantly since day 1. Conclusion: Hyperoxia causes oxidative stress, marked by the increase of oxidative stress-related markers, and partially compensated respiratory acidosis.
Introducing Sleep Hygiene to the Church of Sidang Jemaat Allah Bethlehem Congregation, Bogor, West Java Alya Dwiana; Triyana Sari; David Limanan
MITRA: Jurnal Pemberdayaan Masyarakat Vol 5 No 1 (2021): MITRA: Jurnal Pemberdayaan Masyarakat
Publisher : Institute for Research and Community Services

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25170/mitra.v5i1.1806

Abstract

Insomnia is one of the most common health problems. Approximately one-third of adults show symptoms related to insomnia. Around 9%-15% of people have sleeping disorders dan suffer the consequences of it in the daytime, and roughly 6% suffer from diagnosed insomnia. Although the prevalence and significant effects of insomnia have been known, sleep disorders are still rarely diagnosed and receive proper treatments. Lack of sleep will create sleep debt that the body will have to compensate for by adding more sleep time in the next day. Should this compensation fail to be fulfilled, the individual will suffer from excessive sleepiness, memory problems, difficulty concentrating, and disturbances in performing daily activities. Chronic lack of sleep can also decrease memory and cognitive abilities, trigger mood disorders and even cause hallucination. The Sidang Jemaat Allah Bethlehem church (GSJA) is one of the biggest churches in Bogor. The people of GSJA’s knowledge of healthy sleep patterns and their sleep quality was unknown. Therefore, it was necessary to provide sleep health education to raise the awareness of the importance of healthy sleep patterns, both the quantity and the quality, in practicing a healthy lifestyle. We also assessed their sleep quality using the Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) questionnaire. The data show that out of 41 participants, 30 of them (73.11%) have poor sleep quality (score ≥ 5) and most of them were in the 71-80-year-old age group. The participants' level of understanding about sleep hygiene has increased after the event.
PENINGKATAN KESEHATAN MASYARAKAT SELAMA PANDEMI DALAM UPAYA PENCEGAHAN LOW BACK PAIN Tjie Haming Setiadi; Alexander Halim Santoso; David Limanan; Erick Sidarta; Susy Olivia Lontoh
Jurnal Bakti Masyarakat Indonesia Vol 4, No 2 (2021): Jurnal Bakti Masyarakat Indonesia
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jbmi.v4i2.12519

Abstract

The global pandemic has made most of the activities at home. This condition poses significant health challenges. The increasing number of hours spent sitting, having improper posture, lack of exercise, unhealthy diet and pandemic stress can all lead to the low back pain. Low Back Pain is a multifactorial disease. Therefore, an integrated prevention strategy is needed to prevent Low Back Pain. Based on these problems, the community service activity was held. This activity is carried out to provide education related to knowledge of back pain in good working positions, movements to avoid, and exercises that can overcome complaints of back pain. The target of this activity is to increase public knowledge regarding low back pain, improve individual health degrees, educate healthy lifestyles, pay attention to nutritional intake, be active in sports, reduce the incidence of back pain and improve quality of life so that they can continue to work during the pandemic. This activity was carried out online on 27 May 2021 at 8.00-12.00 and was attended by 44 participants from PKK cadres, Tomang Village, West Jakarta. In addition, pre-test and post-test were also conducted. The average score of the pre-test was 53.63, while the average score of the post-test was 62.27. These results indicate that there is an increase in knowledge of 16.10%. Participants are expected to be able to apply the knowledge related to preventing back pain with exercise, good nutrition and can educate families about habits in preventing back painABSTRAK:Pandemi global telah membuat sebagian besar beraktivitas di rumah. Kondisi ini menimbulkan tantangan kesehatan yang signifikan. Meningkatnya jumlah jam yang dihabiskan untuk duduk, memiliki postur tubuh yang tidak tepat, kurang olah raga, pola makan yang tidak sehat dan stres pandemi dapat menyebabkan nyeri punggung bawah yang berkepanjangan. Low Back Pain merupakan penyakit multifaktor. Oleh karena itu, perlu strategi pencegahan terpadu untuk mencegah Low Back Pain. Berdasarkan permasalahan tersebut, kegiatan penyuluhan terkait nyeri pinggang belakang dan bagaimana mengatasinya diselenggarakan. Kegiatan ini dilakukan untuk memberikan edukasi terkait pengetahuan nyeri pinggang belakang posisi kerja yang baik, gerakan yang dihindari, serta senam yang dapat mengatasi keluhan nyeri pinggang belakang. Target kegiatan ini adalah bertambahnya pengetahuan masyarakat terkait low back pain, meningkatkan derajat kesehatan individu, mengedukasi pola hidup sehat, memperhatikan asupan gizi, giat berolahraga, menurunkan angka kejadian nyeri pinggang belakang serta meningkatkan kualitas hidup agar tetap berkarya selama pandemi. Kegiatan ini dilakukan via daring pada tanggal 27 Mei 2021 pukul 8.00-12.00 dan dihadiri oleh 44 peserta yang berasal dari kader PKK Kelurahan Tomang Jakarta Barat. Selain itu, juga dilakukan pre-test dan post-test. Nilai rata-rata pre-test adalah 53.63, sedangkan nilai rata-rata pos-test adalah 62.27. Hasil tersebut menunjukan bahwa terjadi peningkatan pengetahuan sebesar 16.10%. Para peserta diharapkan dapat menerapkan materi terkait pencegahan nyeri pinggang belakang dengan senam, asupan gizi yang baik dan dapat mengedukasi keluarga tentang kebiasaan dalam mencegah nyeri pinggang belakang
GAMBARAN TINGKAT STRESS PADA MAHASISWA KEDOKTERAN ANGKATAN 2020 DALAM PANDEMI COVID-19 David Limanan; Susy Olivia
PROSIDING SERINA Vol. 2 No. 1 (2022): PROSIDING SERINA IV 2022
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (186.523 KB) | DOI: 10.24912/pserina.v2i1.19779

Abstract

Pandemi Covid-19 berkepanjangan membuat kegiatan akademik harus dilakukan secara online bagi mahasiswa. Situasi kegiatan akademik selama masa pandemi menjadi tantangan untuk kesehatan mental mahasiswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat stres mahasiswa kedokteran Universitas Tarumanagara selama masa pandemi Covid-19. Penelitian ini menggunakan desain penelitian deskriptif cross sectional untuk menentukan gambaran tingkat stress pada mahasiswa kedokteran terkait pembelajaran selama masa pandemi berkepanjangan. Penelitian dilakukan di Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara dari periode Februari sampai Agustus 2022 pada mahasiswa yang telah memenuhi kriteria inklusi berupa mahasiswa kedokteran yang menjalani perkuliahan online selama masa pandemi. Pengukuran tingkat stress pada mahasiswa selama menjalani perkuliahan online dilakukan dengan kuisioner PSS-10 melalui G Form. Responden yang mengikuti penelitian tingkat stress pada mahasiswa kedokteran sejumlah 198 responden dengan mayoritas responden perempuan sebanyak 130 mahasiswa dan laki-laki sebanyak 68 mahasiswa, usia responden 18-29 tahun dan tingkat stres pada responden paling banyak ditemukan pada tingkat stress sedang sebanyak 154 mahasiswa (77.8%), sedangkan dengan tingkat stres rendah sebanyak 18 mahasiswa (9.1%) dan tingkat stres tinggi sebanyak 26 mahasiswa (13.1%). Penelitian tingkat stres pada mahasiswa kedokteran dapat dilakukan berkelanjutan dengan membandingkan tingkat stres mahasiswa pada semester selanjutnya.
UPAYA PENINGKATAN PENGETAHUAN KESEHATAN MELALUI EDUKASI PENYAKIT PNEUMONIA David Limanan; Yesan Suci Paramitha; Kevin Arya Lim; Stephanie Amadea; Lulu Lina Azzahrotin Fairuza
PROSIDING SERINA Vol. 2 No. 1 (2022): PROSIDING SERINA IV 2022
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (400.347 KB) | DOI: 10.24912/pserina.v2i1.19858

Abstract

Pneumonia adalah penyakit dengan implikasi yang mengancam jiwa, serta menjadi penyebab utama morbiditas dan mortalitas. Tingkat pengetahuan yang kurang serta informasi yang terbatas terkait infeksi pneumonia akibat Covid 19, menyebabkan diperlukannya upaya promosi kesehatan terkait pneumonia. Tujuan kegiatan edukasi kesehatan terkait pneumonia adalah meningkatkan pengetahuan dan wawasan tentang penyakit paru terutama pneumonia. Kegiatan edukasi kesehatan terkait penyakit paru dilaksanakan Sabtu tanggal 19 Maret 2022 pukul 8.00-12.00 secara online, dilakukan pretest untuk menilai pengetahuan responden yang terdiri dari sepuluh pertanyaan mulai dari definisi, factor resiko, pembagian pneumonia, gejala utama, pemeriksaan fisik dan penunjang, penetapan diagnosis, tatalaksana dan pencegahan. Setelah pretest dilakukan edukasi terkait pneumonia yang dilanjutkan postest dengan pertanyaan yang sama. Total peserta kegiatan sebanyak 118 peserta, terdiri dari 23 laki-laki dan 95 perempuan, berusia 17-32 tahun. Hasil nilai rata-rata prestest sebesar 58,91 dan nilai rata-rata posttest adalah 70. Terjadi peningkatan pengetahuan peserta yang mengikuti edukasi kesehatan tentang pneumonia sebesar 18,8%. Kegiatan edukasi tentang penyakit paru dapat dilakukan berkesinambungan serta berkelanjutan.
Perbandingan kadar glutation (GSH) pada kasus akne vulgaris derajat ringan: Kajian terhadap premenstrual acne flare Annisaa Nurrahma Ardyati; Linda Julianti Wijayadi; Frans Ferdinal; David Limanan; Eny Yulianti
Tarumanagara Medical Journal Vol. 1 No. 1 (2018): TARUMANAGARA MEDICAL JOURNAL
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/tmj.v1i1.2508

Abstract

Akne vulgaris (AV) adalah penyakit peradangan menahun pada folikel pilosebasea yang dihasilkan oleh androgen yang menginduksi peningkatan produksi sebum, perubahan keratinisasi, inflamasi, dan kolonisasi bakterial pada wajah, leher, dada dan punggung oleh Propionibacterium acnes. Premenstrual Acne Flare adalah perburukan keluhan AV atau ditemukannya kenaikan jumlah petanda AV seminggu sebelum menstruasi. ROS menyebabkan terjadinya proses inflamasi yang menginduksi iritasi kulit. Ketika produksi ROS melampaui kapasitas antioksidan dalam menetralisirnya, terjadilah kondisi yang disebut stres oksidatif. Glutation (GSH) merupakan antioksidan yang berperan berperan penting secara biologis untuk melindungi organisme dari kerusakan oksidatif oleh ROS. Rasio GSH adalah penentu utama dalam stress oksidatif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik kadar GSH dalam kaitannya terhadap premenstrual acne flare. Subjek penelitian (SP) berusia 18-21 tahun dibagi menjadi 2 kelompok (n=8/kelompok): kelompok AV derajat ringan dengan dan tanpa premenstrual acne flare. Pengukuran kadar GSH darah dengan menggunakan metode Ellman pada hari ke-1 dan hari ke-21 siklus menstruasi. Penelitian menunjukkan terjadinya penurunan kadar GSH darah pada hari ke-21 siklus menstruasi. Terjadi perbedaan bermakna (p<0,05) SP pada hari ke-1 siklus menstruasi dengan premenstrual acne flare lebih rendah daripada SP tanpa premenstrual acne flare. Serta terdapat hubungan yang tidak signifikan (R2 = >0 - 0.25 dan p>0.05) antara kadar GSH darah pada SP tanpa dan dengan premenstrual acne flare pada hari ke-1 dan hari ke-21 siklus menstruasi. Dapat disimpulkan bahwa GSH masih mampu melawan prooksidan yang ada, namun pada hari ke-21 siklus menstruasi kapasitas GSH telah terlampaui sehingga kondisi yang disebut stress oksidatif.