Metahumaniora
Vol 7, No 3 (2017): METAHUMANIORA, DESEMBER 2017

Aseuk Hatong Antara Seni Berkomunikasi dan Teknologi: Studi Fenomenologi tentang Budaya Bertani Ladang Masyarakat Tatar Karang Priangan Kabupaten Tasikmalaya

CMS, Samson (Unknown)



Article Info

Publish Date
03 Dec 2017

Abstract

ABSTRAKTidak mampunya kita mendalami pengetahuan asli kita sendiri mengakibatkanterjadinya disharmoni teknologi dengan kebutuhan di lapangan, tidak terkecuali TeknologiTepat Guna (TTG) dalam pertanian ladang. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahuiperanan Aseuk Hatong dalam tradisi pertanian ladang di masyarakat Tatar Karang PrianganKabupaten Tasikmalaya yang religius Islami, tapi masih mempertahankan tradisi tersebut.Metode penelitian ini menggunakan studi fenomenologi Schutz. Hasil penelitian menunjukkanbahwa 1) Seni berkomunikasi: (kakawihan) dalam tradisi Aseuk Hatong adalah upayaharmonisasi antara petani dengan alam yang sedang kemarau melalui senandung ringan yangkontekstual. 2) Teknologi Tani: (Aseuk Hatong) adalah suatu alat untuk mengolah untuk tanahladang pada musim kemarau yang dibalut dengan estetika musikal sederhana khas petaniladang, hasil pengembangan teknologi yang tepat guna, menyenangkan, inovatif, fungsional,terjangkau, murah, dan ramah lingkungan. Dengan demikian, dapat dirumuskan bahwa TradisiAseuk Hatong di Tatar Karang Priangan merupakan media persuasif bertani di kala ngahuma(berladang) tidak dibarengi musim penghujan. Tradisi Aseuk Hatong juga merupakanpengembangan teknologi yang sangat memperhitungkan kearifan lokal yang berlaku.Kata kunci: aseuk hatong, kawih, komunikasi seni, teknologi tani, pertanian ladangABST RACTOur inability to deepen our own original knowledge results in disharmony of technologywith the needs in the field, including the Appropriate Technology (TTG) in agriculture. It istherefore that in any development it is often not harmonious with the needs of society. Theobjective of the research is to know the role of Aseuk Hatong in the agricultural tradition in theTatar Karang Priangan community of Tasikmalaya Regency whicht is religiously Islamic yetstill maintains the tradition. The research method is Schutz phenomenology study. The resultsof research show that (1) the art of communicating (kakawihan) in Aseuk Hatong tradition isa harmonious effort between farmers and the dry nature through mild, contextual humming.(2) Farm technology (Aseuk Hatong)is a tool to cultivate the soil, plowing the fields during thedry season by wrapping with simple typical musical aesthetics of field farmers as the resultsof appropriate technology development, fun, innovative, functional, affordable, cheap, andenvironmentally friendly. As the conclusion, it can be said that Aseuk Hatong Tradition in TatarKarang Priangan as a persuasive media farming during ngahuma (farming) not accompaniedby rainy season is a technology development that takes into account local wisdom occur.Keywords: aseuk hatong, kawih, art communication, farming technology

Copyrights © 2017






Journal Info

Abbrev

metahumaniora

Publisher

Subject

Arts Humanities Languange, Linguistic, Communication & Media Social Sciences

Description

Metahumaniora adalah jurnal dalam bidang bahasa, sastra, dan budaya yang diterbitkan oleh Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran sejak tahun 2012 dan bertujuan menyebarluaskan pemikiran-pemikiran konseptual maupun hasil riset yang telah dicapai dalam rumpun ilmu humaniora. Fokus dan ruang ...