cover
Contact Name
Christy Vidiyanti
Contact Email
christy.vidiyanti@mercubuana.ac.id
Phone
+628567535557
Journal Mail Official
arsitektur@mercubuana.ac.id
Editorial Address
Fakultas Teknik Universitas Mercu Buana Jl. Raya Meruya Selatan, Kembangan, Jakarta 11650
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Vitruvian : Jurnal Arsitektur, Bangunan, dan Lingkungan
ISSN : 20888201     EISSN : 25982982     DOI : https://dx.doi.org/10.22441/vitruvian
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal Ilmiah VITRUVIAN adalah jurnal yang mencakup artikel bidang ilmu arsitektur, bangunan, dan lingkungan. Jurnal ilmiah Vitruvian terbit secara berkala yaitu 3 (tiga) kali dalam setahun, yaitu pada bulan Oktober, Februari, dan Juni. Redaksi menerima tulisan ilmiah tentang hasil penelitian yang berkaitan erat dengan bidang arsitektur, bangunan, dan lingkungan.
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 10, No 2 (2021)" : 10 Documents clear
KAJIAN PENGARUH SETTING RUANGAN TERHADAP KENYAMANAN DAN PRIVASI PENGUNJUNG KAFE LINGKAR COFFEE SEMARANG Hartantyo Leksono Harmoyo; Dian Putriati; Puspita Karisma Kurniasani; Badrut Anggara Putra
Vitruvian : Jurnal Arsitektur, Bangunan dan Lingkungan Vol 10, No 2 (2021)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22441/vitruvian.2021.v10i2.004

Abstract

Setting ruangan dan furnitur yang ada pada sebuah kafe bertujuan agar pengunjung kafe nyaman pada semua setting kursi yang tersedia. namun ada setting tertentu yang menjadi favorit maupun yang selalu dihindari. Pada penelitian ini akan di teliti mengenai pengaruh setting ruangan terhadap kenyamanan dan privasi pengunjung. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kuantitatif. Data yang dipakai adalah data observasi dan pengamatan lapangan dan studi literature. Kedua data dianalisis menggunakan Place Centered Mapping dengan teori mengenai kenyamanan dan dimensi personal space. Penelitian ini bertujuan bertujuan mencari setting mana yang paling disukai dan dihindari, serta mencari apa yang menyebabkan setting tersebut disukai dan dihindari oleh pengunjung kafe. Setting-setting tertentu. Hipotesis penulis adalah setting-setting yang paling sering digunakan oleh penghuni adalah setting yang paling memenuhi kenyamanan dan privasi pengunjung. Pada penelitian ini diperoleh hasil bahwa setting yang memenuhi kenyamanan dan privasi pengunjung yaitu setting kursi yang memiliki personal space dan memiliki kursi sofa yang nyaman. Room settings and furniture in a kafe are intended so that kafe visitors are comfortable in all available seat settings. however, there are certain settings that are both favorites and that are always avoided. In this research, will examine the effect of room setting on the comfort and privacy of visitor. The research method used is a quantitative method. The data used are observational data and field observations and literature studies. Both data were analyzed using Place Centered Mapping with the theory of comfort attributes and personal space dimensions. This study aims to find out which settings are the most liked and avoided, and to find out what causes these settings to be liked and avoided by kafe visitors. Certain settings. The author's hypothesis is that the settings most often used by residents are those that best meet the attributes of comfort and privacy. In this research, the result show that the setting that meets the comfort and privacy of visitor is a chair setting that has personal space and has a comfortable sofa chair.
PROJECT BASED LEARNING SEBAGAI METODE PEMBELAJARAN ARSITEKTUR PADA MATA KULIAH TEORI ARSITEKTUR JENGKI Oktavi Elok Hapsari; Rakhmawati Rakhmawati; Noverma Noverma; Yusrianti Yusrianti
Vitruvian : Jurnal Arsitektur, Bangunan dan Lingkungan Vol 10, No 2 (2021)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22441/vitruvian.2021.v10i2.009

Abstract

Arsitektur adalah ilmu yang mempelajari kegiatan rancang bangun yang menggabungkan beberapa aspek seperti kegunaan, teknik dan seni, sehingga pengalaman terhadap bangunan merupakan salah satu hal yang penting untuk dieksplorasi. Selain menerima mata kuliah perancangan, mahasiswa juga mendapatkan mata kuliah teori dalam proses pembelajarannya sebagai ilmu pengetahuan bidang arsitektur dan penunjang dalam merancang.  Salah satunya adalah topik tentang arsitektur Jengki. Pada periode 1950 – 1960, dunia arsitektur di Indonesia dikejutkan dengan hadirnya arsitektur jengki. Bentuk tampilannya sangat berbeda bila dibandingkan dengan perkembangan arsitektur sebelumnya. Objek arsitektur yang dihasilkan merupakan bangunan yang sangat berbeda dari arsitektur kolonial maupun arsitektur Indis yang berkembang pada masa penjajahan tetapi bukan merupakan arsitektur tradisional. Terasa ada keunikan atau kelainan khususnya dalam menampilkan tampang (tampak depan) bangunan bila disandingkan dengan karya arsitektur yang lain, arsitektur jengki tampak berbeda, seakan-akan muncul keganjilan, memberontak dari sesuatu yang lazim (Susilo, 2009). Akan tetapi saat ini arsitektur jengki terancam punah, hal ini dikarenakan banyak orang yang memiliki rumah bergaya jengki yang melakukan renovasi terhadap rumahnya dan mengganti gaya arsitektur aslinya. Selain itu, hingga saat ini arsitektur jengki belum dikategorikan sebagai arsitektur heritage seperti arsitektur tradisional dan arsitektur kolonial, sehingga sangat mungkin pada akhirnya arsitektur jengki betul-betul menghilang. Perlu dilakukan pengenalan dan pembelajaran pada mahasiswa mengenai adanya arsitektur jengki sebagai salah satu bagian dari kekayaan arsitektur di Indonesia yang tidak dimiliki oleh bangsa lain. Untuk mendukung pembelajaran mengenai arsitektur jengki maka diberikan penugasan dimana mahasiswa diminta menganalisis bangunan arsitektur jengki terkait dengan linimasa, karakteristik arsitektur dan spirit yang dimiliki oleh arsitektur jengki, kemudian melakukan redesain pada rumah masing-masing dengan mengaplikasikan ciri-ciri arsitektur jengki. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana penerapan metode project based learning pada penugasan mata kuliah teori dapat membantu mahasiswa lebih memahami topik perkuliahan teoritis yang diajarkan. Dari penelitian diketahui bahwa metode Project Based Learning dapat dilakukan sebagai alat belajar bagi materi yang bersifat teoritis dan dapat meningkatkan kreatifitas mahasiswa dalam desain.    Architecture is the study of building design that combines several aspects such as usability, technique and art, so that building experience is important to explore. In addition to receiving design courses in the learning process to support in designing, students also gain theoretical subjects. One of the subject is about Jengki architecture. In 1950 - 1960,  world of  Indonesia architecture was surprised by the presence of jengki architecture. The form looks very different when compared to previous architectural developments. The architectural object is a very different building from colonial and Indische architecture that developed during the colonial period but is not a traditional architecture. There is a feeling of uniqueness or abnormality, especially in displaying the appearance (facade) of a building when juxtaposed with other architectural works, jengki architecture looks different, as if anomalies appear, rebelling from something common (Susilo, 2009). However, currently the jengki architecture is threatened with extinction, this is because many people who have jengki style houses are renovating their houses and changing their original architectural styles. In addition, jengki architecture has not been categorized as heritage architecture such as traditional architecture and colonial architecture, so it is very possible that jengki architecture will completely disappear. It is necessary to introduce and learn to students about the existence of jengki architecture as a part of the architectural wealth in Indonesia that is not owned by other countries. To support learning about jengki architecture, an assignment was given where students were asked to analyze the jengki architectural buildings related to the timeline, architectural characteristics, and spirit of jengki architecture, then redesign their respective houses by applying jengki architectural features. This study aims to determine how the application of the Project Based Learning method in the assignment of theoretical courses can help students better understand the theoretical lecture topics being taught. From the research it is known that the Project Based Learning method can be done as a learning tool for theoretical material and can increase student creativity in design.
STUDI KOMPARASI TAMAN HONDA TEBET DENGAN TAMAN HUTAN KOTA TEBET Rona Fika Jamila
Vitruvian : Jurnal Arsitektur, Bangunan dan Lingkungan Vol 10, No 2 (2021)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22441/vitruvian.2021.v10i2.006

Abstract

Taman merupakan salah satu ruang public untuk untuk berkumpul dan melakukan interaksi-interaksi social. Salah satu taman kota yang ramai dikunjungi oleh warga kota Jakarta dari segala usia adalah Taman Tebet. Terdapat dua taman Tebet, yaitu Taman Tebet Honda dan taman bibit Tebet. Kedua taman ini memiliki karakteristik yang berbeda, taman Honda Tebet memiliki ruang terbuka dengan perkerasan yang luas, sedangkan taman bibit Tebet ini lebih rimbun dan banyak terdapat pohon-pohon besar. Untuk itu peneliti ingin melakukan pembandingan antara kedua taman yang berbeda karakter tersebut, dilihat dari sudut pandang taman sebagai wadah interaksi social, dengan kata lain peneliti ingin membandingkan yang manakah yang memiliki tingkat kenyamanan lebih tinggi dalam fungsinya sebagai ruang interaksi social. Metode yang digunakan adalah kuantitatif deskriptif dan metode pengumpulan datanya menggunakan observasi dan kuosioner. Tujuan penelitian ini adalah untuk manakah diantara kedua Taman di Tebet yang berbeda karakter ini yang lebih dapat memberikan kenyamanan bagi penggunanya untuk berinteraksi social masyarakat perkotaan. Hasil dari penelitian ini adalah masyarakat berpendapat taman Honda Tebet itu ruang yang baik untuk berinteraksi social, karena dilihat dari kelima kriterianya yaitu vegetasi yang mendominasi, sarana prasarana yang memadai, kebersihan, keindahan visual dan kesejukan, semua kriteria ini memiliki penilaian yang sama atau rata yaitu baik. Pada Taman Bibit Tebet, masyarakat berpendapat taman Bibit Tebet itu ruang yang baik untuk berinteraksi social, jika dilihat dari ketiga kriterianya yaitu sarana prasarana yang memadai, kebersihan, keindahan visual. Sedangkan untuk kriteria vegetasi yang mendominasi dan kesejukan masyarakat menilai taman Bibit Tebet sangat baik untuk dijadikan ruang berinteraksi social. Park is one of the public spaces to gather and carry out social interactions. One of the city parks that is crowded with residents of Jakarta of all ages is Taman Tebet. There are two Tebet parks, namely Taman Tebet Honda and Tebet nursery. The two parks have different characteristics, the Honda Tebet park has open space with wide pavements, while the Tebet nursery park is lush and has lots of large trees. For this reason, the researcher wants to make a comparison between the two parks with different characters, seen from the perspective of the park as a place for social interaction, in other words, the researcher wants to compare which one has a higher level of comfort in its function as a social interaction space. The method used is descriptive quantitative and data collection methods using observation and questionnaires. The purpose of this study is for which of the two parks in Tebet have different characters that can provide more comfort for users to interact socially with urban communities. The results of this study are that the community believes that the Honda Tebet park is a good space for social interaction, because seen from the five criteria, namely dominant vegetation, adequate infrastructure, cleanliness, visual beauty and coolness, all of these criteria have the same or average assessment, namely good. At the Tebet Nursery Park, the community believes that Tebet Seed Park is a good space for social interaction, when viewed from the three criteria, namely adequate infrastructure, cleanliness, visual beauty. Meanwhile, for the criteria of vegetation that dominates and the coolness of the community, the Tebet Nursery Garden is very good for being a social interaction space.
ANALISIS DAMPAK PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN TERHADAP STRATEGI KETAHANAN PERKOTAAN (Studi Kasus: Perubahan Iklim di Kota Malang) riza yenni lestari; Eko Priyo Purnomo
Vitruvian : Jurnal Arsitektur, Bangunan dan Lingkungan Vol 10, No 2 (2021)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22441/vitruvian.2021.v10i2.008

Abstract

Penelitian ini dilakukan di Kota Malang Jawa Timur dengan tujuan untuk mengetahui menegenai Analisis Dampak Pembangunan Berkelanjutan terhadap Perubahan Iklim dalam Strategi Ketahanan Perkotaan di Kota Malang. Penelitian ini merupakan penelitian dengan metode kualititatif yang bersifat deskriptif, yang dilakukan sebagai menggambarkan permasalahan yang sedang diteliti serta mengintergrasikan data ditempat penelitian secara objektif. Adapun jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang diperoleh dari hasil studi pustaka, review terhadap dokumen-dokumen, menelaah dari riset terdahulu, sumber-sumber tulisan dari berbagai website dan media sosial pemerintah terkait, maupun berita serta dokumentasi yang dapat menunjang serta melengkapi bahan analisis penelitian. Kita tahu bahwa pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan akan sangat bermanfaat bagi masyarakat dan generasi penerus, namun pembangunan berkelanjutan juga akan menjadi ancaman yang mengancam manusia. Banyak masyarakat yang datang ke Kota Malang untuk belajar bekerja dan berwisata, sehingga akan muncul beberapa masalah menenai lingkungan yang ada di kota tersebut. Kota Malang merupakan salah satu kota di Jawa Timur yang masuk tiga besar dalam tingkat kemacetan yang tinggi setelah Jakarta dan Bandung. Melonjaknya transportasi mengakibatkan kemacetan dan menimbulkan polusi udara. Maka seberapa siapkah pemerintah Kota Malang dalam menghadapi situasi ini dalam upaya ketahanan kota. This research was conducted in Malang City of East Java with the aim to find out about the Analysis of the Impact of Sustainable Development on Climate Change in Urban Resilience Strategies in Malang City. This research is a descriptive qualitative research method, which is conducted as a description of the problem being studied and integrates data in the research objectively. The types of data used in this study are secondary data obtained from the results of literature studies, reviews of documents, reviews from previous research, sources of writing from various websites and related government social media, as well as news and documentation that can support and complete research analysis material. We know that environmentally sustainable development will be very beneficial for the community and future generations, but sustainable development will also be a threat that threatens humans. Many people come to the city of Malang to study work and travel, so that there will be some problems surrounding the environment in the city. Malang is one of the cities in East Java which is in the top three in a high level of traffic jam after Jakarta and Bandung. The surge in transportation has resulted in congestion and air pollution. So how ready is the Malang City government in dealing with this situation in the city resilience effort 
KONSEP ARSITEKTUR IKONIK PADA GEDUNG SEKRETARIAT ASEAN DI KEBAYORAN BARU Gilang Dewi Rahayu; Enny Supriyati Sardiyarso; Sri Handjajanti
Vitruvian : Jurnal Arsitektur, Bangunan dan Lingkungan Vol 10, No 2 (2021)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22441/vitruvian.2021.v10i2.002

Abstract

Bangunan Sekretariat ASEAN yang ada di Kebayoran Baru (Jakarta) adalah satu-satunya bangunan yang menjadi tempat utama pertemuan negara-negara anggota ASEAN dan berlangsungnya seluruh kegiatan yang menyangkut dengan organisasi ASEAN. Sudah seharusnya bangunan ASEAN Secretariat (ASEC) dapat menjadi salah satu bangunan yang ikonik dan memenuhi prinsip Arsitektur Ikonik serta dapat mencerminkan identitas organisasi ASEAN. Identitas ASEAN perlu direpresentasikan pada bangunan Sekretariat ASEAN yang merupakan satu-satunya bangunan utama milik ASEAN. Identitas itu sendiri merupakan salah satu dari beberapa prinsip Arsitektur Ikonik yang sangat penting. Sehingga, dapat dikatakan bahwa bangunan gedung belum dapat dikategorikan sebagai bangunan berarsitektur Ikonik jika belum memenuhi seluruh prinsip Arsitektur Ikonik. Tujuan penulisan ini dibuat untuk menganalisis bangunan Gedung Sekretariat ASEAN yang berada di Kebayoran Baru berdasarkan prinsip Arsitektur Ikonik. Metode penelitian dilakukan dengan pendekatan kualitatif dengan paradigma positivistik yang berdasarkan dengan fakta observasi di lapangan maupun studi literatur tentang teori terkait. Data primer didapatkan dari hasil observasi dan wawancara sedangkan data sekunder didapatkan dari studi literatur buku, jurnal serta situs resmi yang terkait. Hasil analisis akan menunjukkan keterkaitan dan hubungan antar variabel (dalam paper ini variabel yang dimaksud adalah prinsip Arsitektur Ikonik dan ciri-ciri visual bangunan Sekretariat ASEAN), sehingga pada bagian akhir penulisan dapat dijabarkan prinsip ikonik yang terdapat pada bangunan Sekretariat ASEAN. Kemudian, dapat disimpulkan bahwa bangunan Sekretariat ASEAN dapat dikategorikan sebagai bangunan yang berarsitektur Ikonik jika dilihat dari ciri-ciri visual bangunannya.  The ASEAN Secretariat building in Kebayoran Baru (Jakarta) is the only building that is the main meeting place of ASEAN member countries and all activities related to ASEAN organizations take place. ASEAN Building Secretariat (ASEC) should be able to become one of the iconic buildings and meet the principles of Iconic Architecture and can reflect the identity of ASEAN organizations. ASEAN's identity needs to be represented in the ASEAN Secretariat building which is the only main building belonging to ASEAN. Identity itself is one of the very important principles of Iconic Architecture. So, it can be said that buildings cannot be categorized as Iconic architecture if they do not meet all the principles of Iconic Architecture. The purpose of this paper is to analyze the ASEAN Secretariat Building in Kebayoran Baru based on the principles of Iconic Architecture. The research method was conducted with a qualitative approach with a positivistic paradigm based on observational facts in the field as well as literature studies on related theories. Primary data were obtained from observations and interviews while secondary data were obtained from literature studies of books, journals and related official websites. The results of the analysis will show the interrelationships and relationships between variables (in this paper the variables referred to are the principles of Iconic Architecture and the visual characteristics of the ASEAN Secretariat building), so that at the end of the writing, the iconic principles contained in the ASEAN Secretariat building can be explained. Then, it can be concluded that the ASEAN Secretariat building can be categorized as an iconic architecture building when viewed from the visual characteristics of the building.
KAJIAN KAMPUS D MERCU BUANA SEBAGAI GENERATOR AKTIVITAS TERHADAP LINGKUNGAN SEKITARNYA Gentina Pratama Putra
Vitruvian : Jurnal Arsitektur, Bangunan dan Lingkungan Vol 10, No 2 (2021)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22441/vitruvian.2021.v10i2.010

Abstract

Universitas Mercu Buana merupakan perguruan tinggi swasta yang sedang berkembang pesat. Dalam dua tahun terakhir ini Universitas Mercubuana membuka kampus keempat yaitu Kampus D1 Universitas Mercubuana yang beralamat di Jalan Raya Kranggan no. 6 Kelurahan Jatiranggon Kecamatan Jatisampurna Bekasi. Tak berapa lama kemudian berdiri pula kampus D2 yang terletak di jalan Rawa Dolar, tidak jauh dari kampus D1. Dimana ada sebuah pusat kegiatan maka disekitanya akan bertumbuh kegiatan-kegiatan lain yang mendukung pusat kegiatan tersebut. Demikian pula dengan keberadaan kampus D Mercubuana ini, setelah peneliti amati, setelah kampus ini berdiri, semakin lama semakin banyak terdapat kegiatan komersial seperti fotokopian yang biasanya merangkap toko alat tulis, warung makan, toko, minimarket dan lain-lain. Kegiatan-kegiatan tersebut dikenal dengan istilah activity support. Hal ini menarik untuk dikaji, dan juga menimbulkan pertanyaan bagaimanakah peran kampus Mercu Buana sebagai generator aktivitas terhadap lingkungan di sekitarnya? penelitian ini akan menggunakan metodologi deskriptif kualitatif. Dimana teori yang dipakai untuk mengkaji ini adalah teori tentang Generator Aktivitas. Tujuan khusus penelitian ini adalah mengkaji Kampus D1 dan D2 Mercu Buana, sebagai generator aktivitas terhadap lingkungan di sekitarnya. Dan hasil penelitian diharapkan dapat memberikan masukan dan pertimbangan bagi pemerintah daerah setempat, untuk merencanakan fasilitas umum khususnya Perguruan Tinggi dan penataannya sebagai lingkungan binaan yang terpadu dimasa mendatang.
KAJIAN PENERAPAN ARSITEKTUR KONTEKSTUAL PADA PERANCANGAN DESA WISATA SAMIN DI BOJONEGORO Badrut Anggara Putra
Vitruvian : Jurnal Arsitektur, Bangunan dan Lingkungan Vol 10, No 2 (2021)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22441/vitruvian.2021.v10i2.003

Abstract

Arsitektur kontekstual adalah sebuah metode perangancan yang mengkaitkan dan menyelaraskan bangunan baru dengan karakteristik lingkungan sekitar. Penerapan arsitektur konstektual pada perancangan desa wisata samin di Bojonegoro, Jawa Timur. Sebagai warisan budaya tak benda, pemerintah menetapkan desa samin Bojonegoro sebagai desa wisata. Desa ini memiliki banyak potensi sebagai desa wisata jika dilihat berbagai macam factor seperti sejarah, sumber daya manusia, letak wilayah geografis. Pada penerapannya desa ini tidak berkembang dengan baik sebagai desa wisata. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerapan arsitektur konstektual dapat diterapkan pada perancangan desa wisata Samin Bojonegoro.  Penelitian ini menggunakan pendekatan eksploratif dan menggunakan metode kualitatif. Hasil dari penelitian ini menunjukkan penerapan arsitektur konstektual dapat diterapkan dan dapat mengurangi perubahan lingkungan sebagai dampak dari pengembangan kawasan desa wisata samin Bojonegoro.    Contextual architecture is a design method that links and aligns new buildings with the characteristics of the surrounding environment. The application of contextual architecture in design of the Samin tourism village in Bojonegoro, East Java. As an intangible cultural heritage, the government has designated Samin Bojonegoro village as a tourist village. This village has a lot of potential as a tourist village when viewed from various factors such as history, human resources, geographical location. In practice, this village is not well developed as a tourist village. This study aims to determine the application of contextual architecture can be applied to the design of the tourist village of Samin Bojonegoro. This research uses an exploratory approach and uses qualitative methods. The results of this study indicate that the application of contextual architecture can be applied and can reduce environmental changes as a result of the development of the tourism village area of Samin Bojonegoro.  
JOCITY (IJO CITY) : SEBUAH INOVASI PEMBUATAN HUTAN VERTIKAL DENGAN MEMANFAATKAN LAHAN BANGUNAN DI DAERAH PERKOTAAN YANG TERINSPIRASI DARI Q.S. SABA’ : 15 Imamul Arifin; Annisa Lidya Ardiani; Alifia Nur Alima
Vitruvian : Jurnal Arsitektur, Bangunan dan Lingkungan Vol 10, No 2 (2021)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22441/vitruvian.2021.v10i2.007

Abstract

Penelitian ini didasari oleh seriusnya kasus pencemaran udara di Indonesia, terutama jika melihat efeknya terhadap kesehatan. WHO mencatat setiap tahun ada 7 juta kematian (2 juta di Asia Tenggara) berhubungan dengan polusi udara luar ruangan dan dalam ruangan Polusi udara merupakan dampak dari kegiatan manusia atau proses alam yang mengubah tatanan udara sehingga kualitas udara mengalami penurunan hingga ke tingkat tertentu yang berujung pada tidak berfungsinya udara sebagaimana mestinya. Di sinilah letak urgensi ajaran islam untuk kesejahteraan lingkungan hidup. Dapat dikatakan bahwa agama tidak hanya berkutat pada masalah-masalah spiritual saja, tetapi juga masalah lingkungan hidup. Pada dasarnya, peran nilai-nilai agama dapat menumbuhkan kesadaran manusia untuk peduli terhadap lingkungan serta dapat menjadikannya lebih cakap dalam mengatasi dan membaca tanda-tanda zaman diikuti dengan kemampuan menciptakan seperangkat nilai hukum dan sejumlah peraturan untuk melestarikannya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis fungsi penanaman hutan vertikal sebagai solusi penanggulangan polusi udara yang krusial di wilayah perkotaan Indonesia yang terinspirasi dari Q.S. Saba’: 15. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yakni studi literatur dengan metode analisis kualtatif deskriptif. This research is based on the seriousness of air pollution cases in Indonesia, especially if we look at the effects on health. WHO notes that every year there are 7 million deaths (2 million in Southeast Asia) related to the guarantee of outdoor and indoor air. Air pollution is the impact of human activities or natural processes that change the air system so that air quality has decreased to a certain level which leads to the malfunctioning of the air as it should. Herein lies the urgency of Islamic teachings for environmental welfare. It can be said that religion is not only concerned with spiritual issues, but also environmental issues. Basically, the role of religious values can foster human awareness to care for the environment and can make them more competent in overcoming and reading the signs of the times followed by the ability to create a set of legal values and a number of regulations to preserve them. This research is aimed to analyze the function of vertical forest planting as a solution to tackle crucial air pollution in Indonesian urban areas that inspired from Q.S. Saba ': 15. The method used in this research is literature study with descriptive qualitative analysis method.  
PUSAT REHABILITASI NARKOBA DI PEKANBARU DENGAN PENDEKATAN ARSITEKTUR ISLAM Dede Irma Juwita; Wahyu Hidayat; Mira Dharma
Vitruvian : Jurnal Arsitektur, Bangunan dan Lingkungan Vol 10, No 2 (2021)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22441/vitruvian.2021.v10i2.001

Abstract

Narkoba merupakan salah satu masalah yang besar hingga saat ini, baik di kota-kota besar hingga kedesa-desa sekalipun. Riau adalah salah satu kota yang yang terjerat kasus narkoba. Sepanjang tahun 2019, Riau menangani kasus narkoba sebanyak 1.817 kasus dengan 2.496 sebagai tersangka (Sitinjak, 2019). Pekanbaru pun tidak luput dari kasus narkoba mengingat beberapa kasus yang telah terjadi di Pekanbaru. Korban penyalahgunaan narkoba mengalami gangguan fisik dan psikis yang dapat melukai dirinya sendiri dan orang disekitar sehingga diperlukannya wadah dalam proses pemulihan mental sekaligus moral korban penyalahgunaan narkoba. Kurangnya fasilitas yang memadai juga menjadi alasan dalam perancangan pusat rehabilitasi narkoba di Pekanbaru. Salah satu penyebab terjeratnya manusia ke dalam lingkungan narkoba adalah kurangnya iman dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, maka diperlukannya wadah pemulihan yang mampu mendekatkan diri kepada sang pencipta, maka dari itu perancangan pusat rehabilitasi narkoba di Pekanbaru menggunakan pendekatan arsitektur Islam sebagai tema dan acuan dalam perancangan. Arsitektur Islam diterapkan pada perancangan berupa prinsip arsitektur Islam yang menghubungkan manusia, tuhan dan alam ciptaan-Nya. Pengaplikasian arsitektur Islam pada bangunan rehabilitasi narkoba terdapat pada perancangan massa bangunan, interior bangunan dan lansekap serta elemen-elemen warna dan material yang digunakan pada perancangan sesuai dengan kebutuhan proses rehabilitasi.   Drugs is one of the big problems to date, both in big cities and even in villages. Riau is one of the cities caught in drug cases. Throughout 2019, Riau handled 1,817 drug cases with 2,496 as suspects (Sitinjak, 2019). Pekanbaru was not spared from drug cases given several cases that have occurred in Pekanbaru. Victims of drug abuse experience physical and psychological disorders that can injure themselves and those around them so that they need a container in the process of mental recovery as well as the morale of victims of drug abuse. Lack of adequate facilities is also a reason in the design of drug rehabilitation centers in Pekanbaru. One of the causes of human being trapped into the drug environment is the lack of faith and devotion to God Almighty, so the need for a container of recovery that is able to get closer to the creator, therefore the design of drug rehabilitation centers in Pekanbaru using the approach of Islamic architecture as a theme and reference in design. Islamic architecture is applied to the design of Islamic architectural principles that connect humans, God and nature of His creation. The application of Islamic architecture in drug rehabilitation buildings is found in the design of building masses, building interiors and landscaping as well as the color and material elements used in the design in accordance with the needs of the rehabilitation process.  
PENINGKATAN KUALITAS LINGKUNGAN KAMPUNG NELAYAN BERKELANJUTAN Hana Rosilawati; Kennant E. Jessavi; Fenny Insiana Rustanto
Vitruvian : Jurnal Arsitektur, Bangunan dan Lingkungan Vol 10, No 2 (2021)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22441/vitruvian.2021.v10i2.005

Abstract

Kampung nelayan sebagai bentuk permukiman yang penduduknya berprofesi sebagai nelayan. Kondisi ekonomi masyarakatnya sebagian besar berpenghasilan menengah ke bawah,dan kondisi pemukimannya relatif kumuh serta kurang terawat. Kampung nelayan yang ada di kota besar pun memiliki hak yang sama untuk menikmati kehidupan yang layak dan lingkungan hunian yang sehat. Studi Kasus penelitian ini berada di Kampung Nelayan Jalan Cumpat Gang VII Surabaya. Kondisi lingkungan kampung tersebut cenderung kumuh, karena belum adanya kesadaran warga dalam pemeliharaan kampung. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas lingkungan kampung nelayan dalam mewujudkan pemukiman yang berkelanjutan. Metode Penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif, pengambilan data melalui studi lapangan dan kajian literatur. Metode analisis yang digunakan adalah identifikasi aspek lingkungan berkelanjutan  dan penerapan konsep dengan visualisasi desain. Hasil penelitian ini adalah konsep kampung nelayan yang berkelanjutan sehingga meningkatkan kualitas lingkungan pemukiman yang layak, nyaman, dan sehat berdasarkan pada memastikan efisiensi energi, air dan efisiensi sumber daya, prinsip (3R) Reduce, Reuse, dan Recycle, desain hijau, menggunakan konstruksi dan material lokal yang berkelanjutan, sanitasi, mencegah bahan-bahan berbahaya dan polusi, meningkatkan ketahanan dan adaptasi dari rumah, infrastruktur, dan Ruang Terbuka Hijau.

Page 1 of 1 | Total Record : 10