cover
Contact Name
Christy Vidiyanti
Contact Email
christy.vidiyanti@mercubuana.ac.id
Phone
+628567535557
Journal Mail Official
arsitektur@mercubuana.ac.id
Editorial Address
Fakultas Teknik Universitas Mercu Buana Jl. Raya Meruya Selatan, Kembangan, Jakarta 11650
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Vitruvian : Jurnal Arsitektur, Bangunan, dan Lingkungan
ISSN : 20888201     EISSN : 25982982     DOI : https://dx.doi.org/10.22441/vitruvian
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal Ilmiah VITRUVIAN adalah jurnal yang mencakup artikel bidang ilmu arsitektur, bangunan, dan lingkungan. Jurnal ilmiah Vitruvian terbit secara berkala yaitu 3 (tiga) kali dalam setahun, yaitu pada bulan Oktober, Februari, dan Juni. Redaksi menerima tulisan ilmiah tentang hasil penelitian yang berkaitan erat dengan bidang arsitektur, bangunan, dan lingkungan.
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 6, No 2 (2017)" : 5 Documents clear
Analisis Pencahayaan Terhadap Kenyamanan Visual Pada Pengguna Kantor (Studi Kasus: Kantor PT. Sandimas Intimitra Divisi Marketing di Bekasi) Hari Widiyantoro; Edy Muladi; Christy Vidiyanti
Vitruvian : Jurnal Arsitektur, Bangunan dan Lingkungan Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (372.842 KB)

Abstract

Manusia pada dasarnya memerlukan cahaya untuk melihat objek secara visual. Cahaya yang dipantulkan oleh objek-objek tersebutlah maka kita dapat melihatnya secara jelas dan mata nyaman untuk melihat. Ruang kerja yang baik adalah ruang kerja yang nyaman untuk melakukan suatu pekerjaan agar hasil kerja optimal. Kenyamanan visual dapat tercapai jika poin-poin kenyamanan visual teraplikasikan secara optimal antara lain dengan kesesuaian rancangan dengan standar terang yang direkomendasikan dan penataan layout ruangan yang sesuai dengan distribusi pencahayaan. Metode pengumpulan datanya menggunakan metode gabungan (kualitatif dan kuantitatif) dan pengolahan data atau analisa data menggunakan metode komparatif, digunakan untuk menganalisa pencahayaan untuk kenyamanan visual pada pengguna kantor PT. Sandimas Intimitra Bekasi divisi marketing. Metode gabungan terbagi dari metode kualitatif (kuesioner responden diolah metode likert) dan kuantitatif (pengukuran intensitas cahaya). Metode komparatif membandingkan hasil kuesioner, hasil pengukuran intensitas cahaya dan standart SNI. Hasil dari penelitian ini, berdasarkan pengukuran intensitas cahaya ruangan dan respon dari pengguna ruang dari kuesioner. Maka dihasilkan zona A sudah mencapai standart SNI ruang kantor 350lux pada kondisi tirai terbuka. Yaitu dengan nilai zona A1 365 lux, zona A2 365.33 lux dan zona A3 341.33 lux serta responden menyatakan nyaman. Kemudian pada zona B mencapai standar SNI pada kondisi tirai tertutup dengan hasil zona B1 347.67 lux, zona B2 350.67 lux dan zona B3 355 lux serta pada kondisi ini responden merasa nyaman.Kata Kunci : Pencahayaan, ruang kerja, kenyamanan visual, tirai, bukaan jendela
PENCAHAYAAN ALAMI PADA RUANG BACA PERPUSTAKAAN UMUM KOTA SURABAYA Primastiti Wening Mumpuni; Rahmanu Widayat; Silfia Mona Aryani
Vitruvian : Jurnal Arsitektur, Bangunan dan Lingkungan Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (646.873 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengevaluasi kondisi pencahayaan alami di Perpustakaan Umum Kota Surabaya, (2) mengidentifikasi karakter elemen pembentuk ruang dan pengisi ruang baca terkait pencahayaan alami. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kuantitatif dengan membaca literatur yang berkaitan dengan pancahayaan alami, observasi lapangan, melakukan pengukuran dengan alat Luxmeter, simulasi menggunakan Sketchup, dan wawancara dengan pengunjung. Data menunjukkan bahwa intensitas cahaya alami di ruang baca Perpustakaan Umum Kota Surabaya tidak sesuai dengan standar yang dianjurkan untuk ruang baca. Hal ini bisa disebabkan oleh luas bukaan yang kurang dari standar. Kondisi ini diperburuk dengan penataan furniture dan tambahan bangunan yang memblokade bukaan dan membuat cahaya alami tidak dapat masuk ke dalam ruang baca secara optimal. Kesimpulan dari penelitian ini adalah cahaya alami di ruang baca perpustakaan umum Kota Surabaya tidak memenuhi standar yang dianjurkan. Kondisi tersebut dapat dibenahi dengan menambah bukaan dengan ukuran yang tepat dan penataan furniture yang tidak memblokade pencahayaan.Kata Kunci : green design,intensitas cahaya, luxmeter, metode kuantitatif
KOEKSISTENSI KONSEP MAKNA SIMBOLIK RUMAH KAUM KAOMU (MALIGE) DENGAN KANTOR DISPENDA KOTA BAUBAU Muhammad Zakaria Umar; Muhammad Arsyad
Vitruvian : Jurnal Arsitektur, Bangunan dan Lingkungan Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (208.522 KB)

Abstract

Kenyataan diberbagai kota besar di dunia memang menunjukkan gejala kian lunturnya jatidiri akibat bermunculannya karya-karya arsitektur moderen. Penelitian ini bertujuan mengkaji dan mengidentifikasi koeksistensi rumah kaum Kaomu (Malige) dengan Kantor Dispenda. Penelitian ini dilaksanakan di Kota Baubau Kabupaten Buton Sulawesi Tenggara. Jenis penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan kausal komparatif terhadap rumah kaum Kaomu dengan kantor Dispenda. Penelitian ini disimpulkan bahwa koeksistensi konsep makna simbolik antara rumah kaum Kaomu (Malige) dengan kantor Dispenda ada dan sudah dimodifikasi.Kata Kunci : Jatidiri; koeksistensi; makna simbolik; rumah kaum Kaomu (Malige); kantor Dispenda
KONSEP MELESTARIKAN BUDAYA MELALUI UPAYA PENGHIJAUAN LINGKUNGAN KAMPUS POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA Pridson Mandiangan; Amperawan Amperawan; Sukarman Sukarman
Vitruvian : Jurnal Arsitektur, Bangunan dan Lingkungan Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (632.711 KB)

Abstract

Ide pembuatan musik kolintang diawali dari kondisi lingkungan di seputar kampus dengan adanya tumpukan kayu-kayu bekas yang berpotensi menjadi sumber kotoran dan penyakit, serta mendegradasi nilai estetika dan keindahan kampus maka upaya pemanfaatan kayu-kayu bekas menjadi alat musik tradisional kolintang menjadi solusi kecil dalam mengatasi ancaman pencemaran lingkungan tersebut. Suatu realitas bahwa musik kolintang kemudian menjadi suatu sarana pembinaan, bagi mahasiswa dalam menyalurkan hoby dan mengekspresikan diri dalam bidang seni, maka secara khusus musik kolintang juga telah menjadi alat penelitian dan pengabdian kepada masyarakat dari sekelompok dosen, sehingga sangat berpontensi untuk menjadi unit usaha kampus. Memperhatikan bahan baku musik kolintang berupa kayu, terutama pohon waru, sangat berpotensi menimbulkan persepsi keliru terutama kepada para pengamat dan pemerhati lingkungan, bahwa pembuatan alat musik kolintang dapat mengancam lingkungan berupa ekploitasi tanaman dan hutan yang merusak system lingkungan hidup. Suatu ide kreatif ingin diwujudkan dalam konsep produksi musik kolintang di Politeknik Negeri Sriwijaya, didesain dalam suatu sistem yang dapat menjaga dan memelihara lingkungan kampus yang hijau dan sehat sambil melestarikan budaya, diimplementasikan dalam artikel dengan judul “Konsep Melestarikan Budaya melalui Upaya Penghijauan Lingkungan Kampus Politeknik Negeri Sriwijaya”.Kata Kunci : Ide Kreatif, Musik Kolintang, Pohon Waru, Penghijauan Lingkungan
SETRA BADUNG SEBAGAI BENTENG TERAKHIR RUANG TERBUKA HIJAU KOTA DI DENPASAR Ayu Putu Utari Parthami Lestari
Vitruvian : Jurnal Arsitektur, Bangunan dan Lingkungan Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (819.641 KB)

Abstract

Diakui bahwa sebagai ibukota dari provinsi yang menjadi daerah tujuan utama di Indonesia, memenuhi amanat dari UU No. 26 tahun 2007 tentang RTH (Ruang Terbuka Hijau), yaitu sebesar 30% untuk ruang terbuka hijau kota, bukanlah prioritas pemerintah kota Denpasar. Ketersediaan ruang terbuka publik (tanpa “hijau”) kota saja sebenarnya juga sudah tergantikan dengan pusat-pusat tujuan wisata yang tersebar di seluruh penjuru kota. Namun kebutuhan akan ruang terbuka “hijau” kota yang berkualitas agaknya belum terpenuhi secara maksimal. Keterlambatan pemerintah untuk melihat pentingnya ruang terbuka hijau kota diakhiri dengan kesulitan untuk pembebasan lahan, sehingga baru beberapa tahun terakhir, pemerintah kota Denpasar mencoba sedikit kreatif. Membangun ruang-ruang kota yang tersisa untuk menjadi ruang terbuka hijau. Untuk menjadi lebih kreatif lagi, pemerintah kota Denpasar sebenarnya memiliki solusi atas keterbatasan lahan, yaitu mengoptimalkan perkuburan kota. Di kota-kota lain di Indonesia seperti di Jakarta, kedinasan pemakaman dan pertamanan adalah satu bagian yang tidak terpisahkan dalam bidang pemerintahan kota. Namun di tengah adat dan kebiasaan masyarakat tradisional di Bali, pekuburan masih dianggap sebagai hal sakral yang sebaiknya tidak dicampur dengan kegiatan profan seperti fungsi ruang terbuka hijau. Penelitian akan dilakukan dengan metode kualiatif dengan beberapa literatur sebagai pegangannya, dilengkapi dengan studi lapangan. Satu-satunya hambatan dalam mengimplentasian ide ini adalah bahwa pekuburan sudah didesign untuk menjadi menyeramkan, sedangkan fungsi barunya sebagai ruang terbuka hijau kota mengharuskan perancangan ruang yang menyenangkan. Sehingga diambil jalan tengah untuk hanya memanfaatkan sebagian kecil saja dari fungsi setra sebagai ruang terbuka hijau yang bisa dikunjungi tanpa merasa takut dengan tanpa menghilangkan fungsi-fungsi awal dan ke adatan dari setra bagi desa adat. Sedangkan setra yang dimanfaatkan sebagai studi banding adalah Setra Badung di Denpasar. Paper ini bertujuan untuk membuka kesadaran akan banyaknya ruang-ruang kosong yang bisa dimanfaatkan secara optimal untuk kepentingan orang banyak.Kata Kunci : ruang terbuka hijau; setra; Denpasar; sakral

Page 1 of 1 | Total Record : 5