cover
Contact Name
Christy Vidiyanti
Contact Email
christy.vidiyanti@mercubuana.ac.id
Phone
+628567535557
Journal Mail Official
arsitektur@mercubuana.ac.id
Editorial Address
Fakultas Teknik Universitas Mercu Buana Jl. Raya Meruya Selatan, Kembangan, Jakarta 11650
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Vitruvian : Jurnal Arsitektur, Bangunan, dan Lingkungan
ISSN : 20888201     EISSN : 25982982     DOI : https://dx.doi.org/10.22441/vitruvian
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal Ilmiah VITRUVIAN adalah jurnal yang mencakup artikel bidang ilmu arsitektur, bangunan, dan lingkungan. Jurnal ilmiah Vitruvian terbit secara berkala yaitu 3 (tiga) kali dalam setahun, yaitu pada bulan Oktober, Februari, dan Juni. Redaksi menerima tulisan ilmiah tentang hasil penelitian yang berkaitan erat dengan bidang arsitektur, bangunan, dan lingkungan.
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 6, No 3 (2017)" : 7 Documents clear
MEWUJUDKAN KAMPUNG BANDAN SEBAGAI KAMPUNG KOTA BERKELANJUTAN MENGGUNAKAN PENDEKATAN ASIAN NEW URBANISM Desy Fatmala Makhmud; Fitria Nurhasanah; Indah Ulfia Utami; Syifa Khansha; Daisy Radnawati; Ray March Syahadat
Vitruvian : Jurnal Arsitektur, Bangunan dan Lingkungan Vol 6, No 3 (2017)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (648.355 KB)

Abstract

Kampung kota merupakan fenomena yang banyak terjadi terutama di lanskap kota pada negara-negara berkembang. Salah satu kampung kota yang ada di Indonesia yaitu Kampung Bandan, Ancol, Jakarta Utara. Kepadatan merupakan permasalahan yang dihadapi oleh kampung ini, dengan perbandingan kebutuhan ruang terbuka yang minim, derajat ketertutupan ruang, dan keterdekatan antar bangunan. Kepadatan dan keterbatasan dapat mengurangi kreativitas bagi manusia penghuninya untuk bertindak dan berperilaku. Hampir dapat dipastikan bahwa tidak akan ada ruang-ruang sisa di dalam kampung Bandan. Dengan segala permasalahan yang ada maka perlu diadakan suatu penataan kampung yang berkelanjutan. Penataan yang benar akan mewujudkan kehidupan masyarakat yang lebih baik di dalamnya. Studi dilakukan pada bulan Oktober-November 2016. Analisis data dilakukan secara komparatif terhadap teori kampung kota berkelanjutan berdasarkan pendekatan Asian New Urbanism berupa rekomendasi yang menjadi dasar dalam menciptakan konsep kampung kota yang berkelanjutan dengan inovasi instrumen perencanaan Asian New Urbanism.Kata Kunci : Instrumen perencanaan; keberlanjutan; kebutuhan ruang; kepadatan; konsep; lanskap; lanskap kota; penataan kampung; rekomendasi; ruang terbuka
VERTICAL GREENERY PADA SARANA DAN PRASARANA TRANSPORTASI PUBLIK UNTUK MENDUKUNG KOTA HIJAU Fitria Nurhasanah; Indah Ulfia Utami; Ray March Syahadat
Vitruvian : Jurnal Arsitektur, Bangunan dan Lingkungan Vol 6, No 3 (2017)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (979.731 KB)

Abstract

Perencanaan kota yang terjadi selama ini biasanya hanya terfokus pada struktur perkerasaan. Akibatnya beberapa permasalahan timbul seperti meningkatnya suhu perkotaan, penurunan kualitas udara bersih, penurunan kualitas visual, hilangnya sense of landscape, dan terganggunya ekosistem di perkotaan. Selanjutnya, bertambahnya jumlah penduduk dan berkurangnya area ruang terbuka hijau (RTH) membuat kita harus memikirkan alternatif untuk meningkatkan kualitas hidup di perkotaan. Sistem vertical greenery menjadi salah satu solusi yang sering digunakan pada bangunan. Artikel ini mencoba memberikan sebuah solusi untuk memanfaatkan konsep vertical greenery bukan hanya untuk bangunan, tetapi pada sarana dan prasarana transportasi umum yang banyak tersebar di perkotaan. Diharapkan dengan mengoneksikan potensi kuantitas sarana dan prasarana transportasi publik, tanaman dengan kemampuan mereduksi polutan, serta teknologi vertical greenery, dapat membantu mengurangi permasalahan akan kurangnya RTH perkotaan yang secara tidak langsung memiliki dampak pada kualitas hidup di perkotaan. Studi dilakukan di Jakarta dan Singapura pada bulan November-Desember 2016. Hasil yang diperoleh terdapat 14 kriteria tanaman dan 34 spesies tanaman yang dapat digunakan untuk vertical greenery pada sarana dan prasarana transportasi publik di perkotaan.Kata Kunci : ekosistem perkotaan; lanskap; kriteria; kualitas visual; kualitas hidup perkotaan; sense of landscape; ruang terbuka hijau; RTH; suhu perkotaan; udara bersih
KAJIAN ALTERNATIF DETAIL SAMBUNGAN UNTUK MAINAN KAYU Edy Muladi
Vitruvian : Jurnal Arsitektur, Bangunan dan Lingkungan Vol 6, No 3 (2017)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2081.831 KB)

Abstract

Kebutuhan orang tua akan mainan yang bermanfaat untuk melatih daya pikir dan motorik anak, membuka peluang terciptanya mainan kayu edukatif. Ragam mainan kayu ditawarkan dengan berbagai variasi teknik sambung. Penelitian ini mengkaji berbagai variasi sambungan kayu yang ditemukan dalam teknik sambung furniture dan mungkin dapat diaplikasikan pada media yang lebih kecil seperti mainan kayu. Metode penelitian yang digunakan yaitu dengan melakukan pengamatan dan observasi pada media kayu. Setelah itu dilakukan analisis dan membuat kesimpulan mengenai ragam variasi teknik sambung pada furniture secara konvensional tradisional. Dengan demikian akan diperoleh hasil dari penelitian berupa temuan teknik sambung furniture yang dapat didaptasi untuk sambungan mainan kayu.Kata Kunci : Mainan kayu; Sambungan Kayu; Teknik Sambung Furniture.
PERENCANAAN TAMAN KOTA SEBAGAI SALAH SATU ATRIBUT KOTA HIJAU DI KECAMATAN GEDEBAGE, BANDUNG Anendawaty Roito Sagala; Adityas Prasetyo; Dwi Abdul Syakur; Nur Rahmah Amania; Daisy Radnawati; Ray March Syahadat; Priambudi Trie Putra
Vitruvian : Jurnal Arsitektur, Bangunan dan Lingkungan Vol 6, No 3 (2017)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (447.102 KB)

Abstract

Keberadaan ruang terbuka merupakan unsur penting yang dapat menjaga keberlanjutan ekologi suatu kota. Kota cenderung menghabiskan ruang-ruang terbuka yang ada untuk pemenuhan aspek ekonomi sehingga lanskap perkotaan bersifat sangat dinamis. Kecamatan Gedebage di Kota Bandung merupakan kawasan yang dipersiapkan menjadi pusat pemerintahan Kota Bandung. Hal ini telah tertuang di dalam master plan Kecamatan Gedebage. Tujuan penelitian ini adalah merencanakan Taman Kota Gedebage sebagai ruang terbuka hijau menggunakan delapan atribut kota hijau. Metode penelitian yang dilakukan yaitu studi pustaka primer dan sekunder. Taman Gedebage direncanakan berdasaran delapan atribut kota hijau yaitu green planning dan green design, green community, green open space, green building, green energy, green transportation, green water, dan green waste.Kata Kunci : Atribut kota hijau; ekologi; dinamis; keberlanjutan; lanskap perkotaan; ruang terbuka hijau.
PENGARUH KEBERADAAN PKL TERHADAP KUALITAS VISUAL BANGUNAN DISEPANJANG KORIDOR JALAN LADA KOTA TUA JAKARTA Tri Wahyu Indah K Mutiarawati; Danto Sukmajati
Vitruvian : Jurnal Arsitektur, Bangunan dan Lingkungan Vol 6, No 3 (2017)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (491.847 KB)

Abstract

Setiap kota memiliki kawasan cagar budaya yang merupakan cikal bakal dari pertumbuhan suatu kota untuk dilestarikan. Koridor Jalan Lada merupakan koridor yang berada dikawasan bersejarah Kota Tua Jakarta, dimana bangunan yang berjajar disepanjang koridor Jalan Lada mayoritas adalah bangunan bersejarah. Hal inilah yang menjadikan kawasan Kota Tua Jakarta menjadi salah satu daerah tujuan wisata warga Jakarta maupun dari luar Jakarta, baik dalam negeri maupun luar negeri. Sebagaimana UU no. 11 tahun 2010 menyebutkan bahwa salah satu peninggalan bersejarah yang perlu dilindungi adalah keberadaan bangunan-bangunan yang pada saat ini dikenal sebagai cagar budaya atau bangunan bersejarah. Namun pada malam hari banyak aktivitas-aktivitas bermunculan (activity support) terutama pedagang kaki lima dimuka bangunan sepanjang koridor jalan Lada yang menjadikan sepanjang koridor ini terlihat sebagai kawasan komersial terutama dimalam hari. Hal ini dihawatiran akan mempengaruhi kualitas visual bangunan yang terbentuk pada sepanjang koridor Jalan Lada Kota Tua Jakarta pada malam hari. Penelitian dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui sejauh mana kegiatan komersial mempengaruhi kualitas visual bangunan disepanjang koridor Jalan Lada pada malam hari. Metode yang digunakan untuk penelitian adalah deskriptif kuantitatif, dimana untuk metode pengumpulan data berdasarkan penilaian responden dilakukan dengan pembagian kuesioner kepada pengunjung museum Fatahillah Jakarta yang melewati koridor Jalan Lada Kota Tua Jakarta. Sedangkan metode analisa data yang digunakan berupa analisa korelasi bevariatte pearson (korelasi sederhana), yang nantinya dijelaskan secara deskriptif. Hasil dari penelitian menunjukan bahwa ternyata keberadaan activity support yang berupa kegiatan komersial (Pedagang Kaki Lima) mempengaruhi kualitas visual bangunan disepanjang koridor Jalan Lada, Kota Tua Jakarta pada malam hari dengan sedang. Kata Kunci : Activity support, kegiatan komersial, pedagang kaki lima, kualitas visual
PRESERVASI RUMAH ADAT DESA SADE REMBITAN LOMBOK SEBAGAI UPAYA KONSERVASI An-nisaa Kurnia Widianti
Vitruvian : Jurnal Arsitektur, Bangunan dan Lingkungan Vol 6, No 3 (2017)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (374.962 KB)

Abstract

ABSTRAKDesa Sade Lombok dalam kaitannya dengan arsitektur vernakuler merupakan salah satu desa konservasi sebagai pelestari budaya bangsa Indonesia. Desa Sade ini merupakan salah satu dusun di desa Rembitan, Pujut, Lombok Tengah yang merupakan salah satu desa adat suku Sasak yang tidak dapat dipungkiri masih mempertahankan keaslian dan keutuhan rumah adatnya sebagai kepentingan pariwisata. Pemerintah Provinsi NTB telah menunjuk Desa Sade sebagai sebuah desa konservasi, tentunya dengan kriteria ketetapan SK Gubernur NTB No.2 tahun 1989 dengan kriteria: memiliki atraksi wisata, aksesibilitasnya baik, sistem kepercayaan dan kemsyarakatan yang dianut, ketersediaan infrastruktur serta dukungan masyarakat dan aparat desa setempat. Serta didukungnya oleh gaya, pola hidup mereka yang tradisional menjunjung tinggi kearifan lokal sehingga menciptakan sebuah komitmen terhadap preservasi, pelestarian lingkungan dan kesejahteraan penduduk setempat.Kata Kunci : Desa Sade Lombok, Preservasi, Konservasi, Arsitektur Vernakuler
POLA PEMANFAATAN RUANG BERSAMA PADA RUSUNAWA JATINEGARA BARAT Hendrix Van; Joni Hardi
Vitruvian : Jurnal Arsitektur, Bangunan dan Lingkungan Vol 6, No 3 (2017)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (561.421 KB)

Abstract

Relokasi warga Kampung Pulo ke Rusunawa Jatinegara Barat membuat warga harus beradaptasi dengan lingkungannya, khususnya dalam kegiatan interaksi sosial. Hal ini yang mendasari peneliti untuk melakukan pengamatan mengenai pola pemanfaatan ruang bersama untuk kegiatan interaksi sosial, baik ruang bersama yang direncanakan maupun ruang bersama yang tidak direncanakan. Tujuan dari penelitian ini untuk menilai keberhasilan adaptasi penghuni dalam memenuhi kebutuhannya dalam berinteraksi dan mengetahui faktor yang mempengaruhi pola ruang bersama. Metode pengumpulan data menggunakan “mapping behavior”, yaitu cara untuk menggambarkan perilaku dalam peta, mengidentifikasikan jenis frekuensi perilaku, serta menunjukkan kaitan perilaku dengan wujud perancangan yang spesifik. Karena pola ruang tercipta akibat hubungan timbal balik antara manusia dengan ruang.Penelitian ini menggunakan teknik analisis deskriptif kualitatif, yaitu menerjemahkan data hasil observasi dan data hasil wawancara ke dalam bentuk uraian yang dapat lebih dimengerti. Penghuni memanfaatkan ruang bersama yang direncanakan dan tidak direncanakan untuk berinteraksi sosial antar penghuni. Pemanfaatan ruang telah menghasilkan sebuah pola-pola ruang bersama yaitu pola dengan intensitas tinggi dan pola dengan intensitas rendah. Ruang bersama dengan intensitas penggunaan tinggi relatif jauh dari hunian dengan frekuensi penggunaan jam-harian. Adapun ruang yang digunakan yaitu selasar lantai hunian, plaza terbuka, area pujasera, taman bermain dan lobby lift.Keywords: Evaluasi Pasca Huni, Ruang Bersama, Rumah Susun

Page 1 of 1 | Total Record : 7