cover
Contact Name
Christy Vidiyanti
Contact Email
christy.vidiyanti@mercubuana.ac.id
Phone
+628567535557
Journal Mail Official
arsitektur@mercubuana.ac.id
Editorial Address
Fakultas Teknik Universitas Mercu Buana Jl. Raya Meruya Selatan, Kembangan, Jakarta 11650
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Vitruvian : Jurnal Arsitektur, Bangunan, dan Lingkungan
ISSN : 20888201     EISSN : 25982982     DOI : https://dx.doi.org/10.22441/vitruvian
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal Ilmiah VITRUVIAN adalah jurnal yang mencakup artikel bidang ilmu arsitektur, bangunan, dan lingkungan. Jurnal ilmiah Vitruvian terbit secara berkala yaitu 3 (tiga) kali dalam setahun, yaitu pada bulan Oktober, Februari, dan Juni. Redaksi menerima tulisan ilmiah tentang hasil penelitian yang berkaitan erat dengan bidang arsitektur, bangunan, dan lingkungan.
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 7, No 1 (2017)" : 5 Documents clear
KAJIAN KEARIFAN LOKAL PADA ARSITEKTUR TRADISIONAL RUMOH ACEH Rahil Muhammad Hasbi
Vitruvian : Jurnal Arsitektur, Bangunan dan Lingkungan Vol 7, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (674.223 KB)

Abstract

Arsitektur tradisional sebagai sebuah tradisi harus dijaga keberadaannya dengan mengembangkannya. Menjaga  atau meeruskan tradisi dalam arsitektur tradisional tidak berarti dengan mengulang bentuk yang sama, karena didalam arsitektur perkembangan desain dan struktur berlanjut seiiring dengan perkembangan/ perubahan budaya dan teknologi. Hal ini perlu dijaga agar kreativitas tidak mati. Hal ini bisa terwujud dengan meneruskan tradisi kebijakan lokal sebagai konsep dalam membangun.Kebijakan lokal yang diteruskan memberikan banyak memberi mamfaat bagi kehidupan manusia. Karena kebijakan lokal sendiri adalah bagian dari budaya yang dihasilkan dari pengalaman-pengalaman dan tindakan manusia secara trial dan eror demi mendapatkan kualitas hidup yang lebih baik. Kebijakan lokal tidak hanya merupakan suatu tradisi yang harus di teruskan tetapi membentuk identitas dak karakter kewilayahan manusia sendiri, terutama didalam budaya dan arsitektur. Kebijakan lokal ini juga menjaga keseimbangan hidup antara manusia dan lingkungannya. Nenek moyang kita belajar dari pengalaman mereka hidup bersama dengan alam dan belajar bagaimana memberi kepada dan menerima dari alam sehingga alam tetap terjaga kelestariannya. Hal-hal ini lah yang dijadikan kebijakan lokal dan tradisi ini perlu diteruskan karena dengan menjaga tradisi ini maka kita akan tetap hidup seimbang bersama lingkungan kita.Kata Kunci :       Kebijakan Lokal, Arsitektur Tradisional, AlamABSTRACT       Tradition in traditional architecture need to be developed and continued. Continuing this tradition is not only by repeating it in the same way as our ancestors so that we lost our creativity, but it can be continued  by  developing it into something new and continuing  the local wisdom as a concept in building . The local wisdom remain continued but the way we built change  in shape as we can use the new methods and material which suitable with our culture and technology.The important of continuing the local wisdom brought many advantages to our lives. It’s not only the matters of continuing the tradition but it also emphasizes our  identity and characters,- especially in culture and architecture,- and to keep balancing the life between human and their environment . Our ancestors had learnt from their experiences  to live  with the nature, they had learnt to take and give  with the nature  so that they did not damaged their environment. This acts called local wisdom and it is need to be continued to keep our environtment save.Keyword : Local wisdom, traditional architecture, Nature
EVALUASI AREA KOMERSIAL LANTAI DASAR PADA RUSUNAWA MARUNDA Asthy Rahmawati; Joni Hardi
Vitruvian : Jurnal Arsitektur, Bangunan dan Lingkungan Vol 7, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (475.402 KB)

Abstract

ABSTRAKPerubahan ini tidak terlepas dari pengaruh – pengaruh faktor – faktor terkait seperti demografi, social – ekonomi, lokasi, fisik bangunan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperoleh data/gambaran yang valid tentang aktifitas (penghuni) yang menjadi penyebab dari peralihan fungsi area komersial di rusun. Hasil dari penelitian ini menyatakan bahwa penghuni area komersial lantai dasar yang sebagian besar tidak melakukan peralihan fungsi bangunan dari komersial menjadi hunian karena ada beberapa yang merasa lebih nyaman tinggal di lantai atas dan hunian mereka juga tidak terlalu jauh yang berada di lantai lantai 1. namun ada sebagian kecil yang melakukan peralihan fungsi di karena akses yang sulit di lokasi hunian.Kata Kunci : Peralihan Fungsi, Aktifitas, Area Komersial            ABSTRACT       This change is inseparable from the influence of related factors such as demography, socio-economic, location, physical building. The purpose of this study is to obtain valid data / description of the activities (occupants) that the cause of the transition function of commercial areas in building. The results of this study indicate that the inhabitants of the ground floor commercial area that most do not make the transition of building function from commercial to residential because there are some who feel more comfortable living upstairs and their dwellings are also not too far located on the floor 1st floor. There is a small part that performs the switch function in because of the difficult access in the residential location.Keyword : Switching Functions, Activities, Commercial Area
PERKEMBANGAN KOTA LAMA TANGERANG DAN POTENSINYA SEBAGAI DESTINASI WISATA PUSAKA Andhi Seto Prasetyo; Titin Fatimah; Rita Padawangi
Vitruvian : Jurnal Arsitektur, Bangunan dan Lingkungan Vol 7, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2102.868 KB)

Abstract

ABSTRAKKawasan Kota Lama Tangerang termasuk dalam Kawasan Strategis dari sudut Kepentingan Sosial dan Budaya yaitu kawasan bersejarah seluas kurang lebih 30 (tiga puluh) hektar yang berada di Kelurahan Sukasari dan Kelurahan Sukarasa, Kecamatan Tangerang. Di dalam kawasan Kota Lama Tangerang terdapat kawasan inti yang terdiri dari tiga blok utama yaitu Blok Kota Lama, Blok Masjid Agung-Pendopo dan Blok Stasiun Kereta Api. Blok Kota Lama adalah kawasan dengan fungsi/aktivitas yang lebih di dominasi oleh kawasan heritage dengan bangunan cagar budayanya dan permukiman yang masih mempertahankan karakter jalannya dan beberapa rumah yang masih mempertahankan arsitektur Tiongkok. Di dalam Blok Kota Lama terdapat dua blok perkampungan etnis yaitu Blok Perkampungan Tionghoa (pecinan) dan Blok Perkampungan Muslim. Tradisi dan budaya lokal yang dipengaruhi oleh etnis Tionghoa dan etnis Pribumi masih dilestarikan sampai saat ini. Sehingga Kota Lama Tangerang berpotensi untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata pusaka. Namun sejalan dengan dinamika Kota Tangerang yang terus berkembang dengan pesat, peninggalan bangunan-bangunan bersejarah telah mengalami perubahan bentuk dan fungsi, penurunan kualitas lingkungan dan bahkan kehancuran. Selain itu Pemerintah Kota Tangerang belum mempunyai Perda Cagar Budaya. Kondisi tersebut menyebabkan kawasan Kota Lama Tangerang kehilangan nilai-nilai historisnya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi perkembangan Kota Lama Tangerang dan  potensinya sebagai destinasi wisata pusaka. Pendekatan yang diterapkan dalam penelitian ini berparadigma pada pendekatan induktif dan metodologi penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif deskriptif. Hasil penelitian menunjukan bahwa Blok Kota Lama memiliki pusaka budaya ragawi, pusaka budaya tak ragawi dan pusaka alam yang berpotensi untuk dikembangkan menjadi objek wisata pusaka. Blok Kota Lama memiliki beberapa benda cagar budaya yang ditetapkan oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Serang (BP3S) diantaranya yaitu Kelenteng Boen Tek Bio, Rumah Arsitektur Cina (Museum Benteng Heritage), Masjid Jami dan Makam Kalipasir. Perkembangan Blok Perkampungan Pecinan saat ini sangat memprihatinkan. Wajah bangunan khas pecinan sebagian besar sudah berubah menjadi bangunan moderen dan bangunan budidaya walet. Hanya tinggal sedikit saja bangunan yang masih berciri khas pecinan.Kata Kunci : Kota lama, pusaka, pariwisata kota pusaka             ABSTRACT       Old Town area of Tangerang included in the Strategic Area of Social and Cultural Interests corner is the historical district of approximately 30 (thirty) hectares located in the Sukasari Village and Sukarasa Village, District Tangerang. In the Old Town area of Tangerang are the core area consists of three main blocks, namely Old Town Block, Grand Mosque Block and Train Station Block. Block of the Old Town is the area with activities dominated by heritage with cultural heritage buildings and settlements that still retains the character of the course and some houses still retain Chinese architecture. In the Old Town Block, there are two ethnic settlement blocks namely Chinatown Block and Muslim Village Block. Tradition and local culture influenced by natives and Chinese ethnic still preserved until today. So the old town of Tangerang can be potential to be developed as a heritage tourism destination. The rapid development of Tangerang city causes historic buildings go through changes in form and function, environmental degradation and destruction. Furthermore, Tangerang City Government does not have heritage legislation. This condition causes the old town of Tangerang losing its historical values. The purpose of this study is to identify the development of the Old Town of Tangerang and its potential as a tourist destination heritage. The research was carried out through field survey and in-depth interview as main data collection and literature study as the secondary one. The results showed Block the Old Town has tangible cultural heritage, intangible cultural heritage and natural heritage which is a potential to be developed for heritage tourism attraction. Block of the Old Town has some of the objects of cultural heritage established by Archaeological Heritage Preservation Hall Serang among which the Boen Tek Bio temple, houses the Chinese Architecture (Museum Benteng Heritage), Jami Mosque and Tomb Kalipasir. Block development Village Chinatown today is very worrying. The face of a typical building of Chinatown largely been turned into a modern building and building swiftlet farming. Only a few buildings stayed still distinctively Chinatown.Keyword : Old town, heritage, urban heritage tourism
EVALUASI KUALITAS FISIK DAN NONFISIK PADA RUANG PUBLIK TERPADU RAMAH ANAK (RPTRA) (Studi Kasus : Rptra Griya Tipar Cakung Jakarta Timur) Samsudin Samsudin; Primi Artiningrum
Vitruvian : Jurnal Arsitektur, Bangunan dan Lingkungan Vol 7, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (450.785 KB)

Abstract

ABSTRAKRPTRA berdiri sebagai Ruang Publik Terpadu Ramah Anak yang merupakan “Ruang Terbuka Hijau” yang desain dengan konsep ramah anak yang modern dan didukung oleh berbagai fasilitas didalamnya. Banyak RPTRA yang sudah dibangun di Jakarta sejak 1 tahun terakhir yang merupakan salah satu program dari Gubernur Basuki Tjahaja Purnama. Beberapa dari RPTRA dibangun pada tempat yang memiliki kepadatan penduduk yang tinggi dan berada di kawasan-kawasan kumuh. Namun pada saat proses desain dari RPTRA masih kurangnya memperhatikan aspek-aspek penting dalam pembangunannya, karena dapat dilihat dari PERGUB yang mengatur tentang RPTRA hanya berisikan daftar fasilitas saja tanpa adanya ketentuan-ketentuan yang jelas mengenai aspek keselamatan, keamanan, kesehatan, kenayaman, daya tarik dan aksesibilitas dalam membangun sebuah RPTRA. Oleh karena itu, sebagai fasilitas publik baru yang didedikasikan untuk anak-anak yang dapat digunakan sebagai taman bermain maka diperlukan evaluasi mengenai Aspek Keselamatan, Keamanan, Kesehatan, Kenyamanan, Daya Tarik dan Aksesibilitas menggunakan beberapa teori terdahulu dan peraturan-peraturan terkait regulasi pekerjaan umum sebagai standar indikator pengukuran evaluasi. Metode yang digunakan pada pengambilan data adalah pendekatan campuran antara kualitatif dan kuantitatif kemudian dalam mempresentasikan hasil data dengan menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Instrumen penelitian yang digunakan adalah pengamatan langsung dengan menggunakan lembar observasi, kuesioner, wawancara dan dokumentasi. Hasil dari evaluasi ini didapatkan bahwa terdapat perbedaan antara hasil observasi yang menggunakan standar aspek teknis dengan hasil dari kuesioner mengenai persepsi orang tua terhadap pengunaan RPTRA. Perbedaan tersebut mengidikasi bahwa standar yang digunakan pada poin observasi lebih tinggi dibandingkan persepsi dari orang tua. Penelitian ini mereview desain kontrol sebuah taman bermain dan evaluasi dari sebuah fasilitas publik yang didedikasikan untuk anak-anak di Jakarta Timur, Indonesia.Kata Kunci : ruang publik, ramah anak, taman bermain, evaluasi, keselamatan ABSTRACT       RPTRA stands for Ruang Publik Terpadu Ramah Anak, which means “Green Open Space” design with modern children-friendly concept supported with various facilities. Many RPTRA has been built in Jakarta since the last one year as the main program of the Governor Basuki Tjahaja Purnama. Some of the RPTRA built on the places that used to be slums area. RPTRA managed by the government currently do not have proper design standarts to safety, comfort dan health of users. Those which do not pay attention to salvation, health, safety, comfort, attractiveness dan accessibility in the design is very risky causing accident dan further the main purpose of playing teh game can not be achieved. Therefore, as new public facilities that are dedicated to children to be used as playground. It needs to be evaluated in the Aspect of Salvation, Health, Safety, Comfort, Attractiveness, and Accessibility using Indonesian minister of public works regulation as a standart.The method used in data processing is a quantitative approach while in the presentation of results using descriptive qualitative approach. The research instruments are direct observation with observation sheet, questionnaire, interview, documentation and observation of children activity. The result of the evaluation of RPTRA Tipar Cakung there is a difference between the evaluation results based on observations using standard child friendly park with the results based on the questionnaire through the perception of parents. These differences indicate that the standard used in observation is still higher than the perception of parents. This research reviews the design control of children playground and evaluation of new public space dedicated to children in North Jakarta, Indonesia.Keyword : public space, children-friendly, playground, evaluation, safety
EVALUASI SISTEM PENCAHAYAAN ALAMI DAN BUATAN PADA RUANG KERJA KANTOR KELURAHAN PANINGGILAN UTARA, CILEDUG, TANGERANG Wisnu Wisnu; Muji Indarwanto
Vitruvian : Jurnal Arsitektur, Bangunan dan Lingkungan Vol 7, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (415.146 KB)

Abstract

ABSTRAKTelah  dilakukan penelitian mengenai optimasi sistem pencahayaan alami dan buatan pada ruang kerja Kantor Kelurahan Paninggilan Utara Ciledug Tangerang yang bertujuan untuk mengkaji sistem pencahayaan alami dan buatan dalam upaya mendapatkan sistem pencahayaan yang optimal, yang dapat diterapkan pada ruang kantor kelurahan. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode kuantitatif. Data yang diperoleh besumber dari hasil pengukuran intensitas cahaya secara langsung pada objek penelitian yang dilakukan pada pagi, siang dan sore hari selama tiga hari dengan menggunakan luxmeter. Hasil yang diperoleh kemudian di bandingkan dengan standar yang direkomendasikan oleh SNI. Simulasi komputer digunakan sebagai alat untuk melakukan penyelesaian permasalahan melalui optimasi sistem pencahayaan pada ruang kerja kantor. Hasil pengukuran yang dilakukan menunjukan hasil tingkat intensitas cahaya pada sistem pencahayaan alami dan campuran tidak terdapat titik ukur yang memenuhi standar SNI yaitu sebesar 350 lux. Untuk itu optimasi sederhana dilakukan dengan menambahkan tingkat intensitas cahaya yang masuk ke dalam ruangan dan hasilnya tingkat intensitas cahaya alami yang masuk mengalami peningkatan. Selain itu, penggantian dan penambahan lampu pada ruang kerja, mampu meningkatkan tingkat intensitas cahaya sehingga intensitas cahaya pada ruang kerja  tercukupi. Upaya penghematan energi dilakukan dengan Penerapan koordinasi sistem pencahayaan alami dan buatan dengan cara mematikan lampu pada area yang intensitas cahayanya tercukupi melalui cahaya alami.Kata Kunci : Pencahayaan Alami, Pencahayaan Buatan, Kantor Kelurahan, Optimasi,              Hemat Energi ABSTRACT       A research on optimization of natural and artificial lighting system has been done to study natural and artificial lighting system in order to get optimal lighting system which can be applied to urban village office. This research is done by using quantitative method. The data obtained from the results of light intensity measurements directly on the object of research conducted in the morning, afternoon and afternoon for three days using luxmeter. The results obtained are then compared with the standard recommended by SNI. Computer simulation is used as a tool for problem solving through lighting system optimization in the office work space. The result of measurement shows the result of light intensity level on natural lighting system and mixture there is no measuring point that meets the SNI standard that is equal to 350 lux. For that simple optimization is done by adding the level of light intensity into the room and the results of the level of natural light intensity that went in increased. In addition, the replacement and addition of lights in the work space, able to increase the level of light intensity so that the light intensity in the work space is sufficient. Efforts to save energy are done by applying the coordination of natural and artificial lighting systems by turning off lights in areas where the intensity of light is fulfilled through natural light.Keyword : Keyword: Daylighting , Artificial Lght , Village Office, Evaluation ,  Energi Saving

Page 1 of 1 | Total Record : 5