cover
Contact Name
Christy Vidiyanti
Contact Email
christy.vidiyanti@mercubuana.ac.id
Phone
+628567535557
Journal Mail Official
arsitektur@mercubuana.ac.id
Editorial Address
Fakultas Teknik Universitas Mercu Buana Jl. Raya Meruya Selatan, Kembangan, Jakarta 11650
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Vitruvian : Jurnal Arsitektur, Bangunan, dan Lingkungan
ISSN : 20888201     EISSN : 25982982     DOI : https://dx.doi.org/10.22441/vitruvian
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal Ilmiah VITRUVIAN adalah jurnal yang mencakup artikel bidang ilmu arsitektur, bangunan, dan lingkungan. Jurnal ilmiah Vitruvian terbit secara berkala yaitu 3 (tiga) kali dalam setahun, yaitu pada bulan Oktober, Februari, dan Juni. Redaksi menerima tulisan ilmiah tentang hasil penelitian yang berkaitan erat dengan bidang arsitektur, bangunan, dan lingkungan.
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 7, No 2 (2018)" : 6 Documents clear
KUALITAS PENCAHAYAAN ALAMI DAN PENGHAWAAN ALAMI PADA BANGUNAN DENGAN FASADE ROSTER (Studi Kasus: Ruang Sholat Masjid Bani Umar Bintaro) Christy Vidiyanti; Siti Farah Diba Boru Tambunan; Yasin Alfian
Vitruvian : Jurnal Arsitektur, Bangunan dan Lingkungan Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (842.123 KB)

Abstract

ABSTRAKPeran bukaan cahaya pada sebuah bangunan turut andil dalam menciptakan kualitas pencahayaan alami yang baik. Perlu direncakan bukaan cahaya yang sesuai dengan lokasi bangunan tersebut. Lubang cahaya yang terlalu besar, dapat mengakibatkan cahaya matahari masuk dalam jumlah besar, yang sekaligus membawa radiasi masuk ke dalam bangunan. Hal ini mengakibatkan adanya dilema bahwa sinar matahari yang masuk kedalam bangunan akan mempengaruhi kondisi termal ruang. Sehingga dibutuhkan adanya kondisi dimana pencahayaan alami dan penghawaan alami pada ruang menjadi seimbang. Masjid Bani Umar ini selubung bangunannya menggunakan roster. Indonesia sebagai sebuah Negara tropis, menyebabkan memiliki musim panas yang panjang. Bangunan dengan selubung menggunakan roster, perlu dilakukan kajian terhadap cahaya matahari yang diterima oleh bangunan tersebut. Disebabkan bahwa roster membatasi cahaya matahari yang masuk ke dalam ruang. Kondisi tersebut perlu pula diuji kondisi termalnya. Penelitian ini memfokuskan pada kajian kualitas pencahayaan alami dan penghawaan alami pada bangunan dengan selubung roster. Metode yang dignakan adalah metode evaluatif dengan pendekatan kuantitatif. Hasil kondisi penghawaan alami pada Masjid Bani Umar belum dapat memenuhi standar yang ditetapkan. Kondisi pada Masjid Bani Umar masih lebih tinggi dari standar yang ditetapkan sehingga sensasi termal yang dirasakan oleh pengguna adalah agak hangat dan hangat.Sedangkan kondisi pencahayaan alami pada Masjid Bani Umar juga belum memenuhi standara pencahayaan menurut SNI. Kondisi pencahayaan alami pada Masjid Bani Umar masih lebih rendah dari standar yang ditetapkan. Namun, untuk nilai kualitas pencahayaan alami, kondisi pencahayaan pada Masjid Bani Umar masih memenuhi standar. Hal ini menandakan bahwa pencahayaan alami Masjid Bani Umar belum dapat memenuhi standar namun pencahayaan yang dihasilkan seragam. Kata Kunci :     Pencahayaan alami, penghawaan alami, roster, kualitas termal, kualitas visual, masjid tropis
PERBANDINGAN POLA, FUNGSI, DAN AKSESIBILITAS ALUN-ALUN KABUPATEN KARANGANYAR, KABUPATEN SUKOHARJO, DAN KABUPATEN KLATEN Yulia Pratiwi
Vitruvian : Jurnal Arsitektur, Bangunan dan Lingkungan Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1084.238 KB)

Abstract

ABSTRAKAlun-Alun di Jawa khususnya Jawa Tengah memiliki pola yang unik karena adanya faktor historis. Kabupaten Karanganyar, Kabupaten Sukoharjo, dan Kabupaten Klaten memiliki alun-alun yang tepat berada di pusat kota. Pola alun-alun diketiga kabupaten tersebut dipengaruhi pembangunan pada Masa Prakolonial, Masa Kolonial Belanda, dan Masa Reformasi/ pasca kemerdekaan. Oleh karena itu, tujuan penelitian yang pertama yaitu (1) mengkaji perbandingan pola alun-alun (saat ini) di Karanganyar, Klaten, Sukoharjo secara lebih mendalam. Ketiga alun-alun yang dibangun sejak zaman Kerajaan Mataram tersebut, sekarang mengalami berbagai perkembangan terutama dari semakin beragamnya fungsi alun-alun dan penambahan fasilitas-fasilitas untuk mendukung kenyamanan dan keamanan dalam menggunakan alun-alun. Tujuan penelitian yang kedua yaitu (2) mengkaji perbandingan fungsi Alun-Alun di Kabupaten Karanganyar, Kabupaten Sukoharjo, dan Kabupaten Klaten. Tujuan penelitian yang terakhir yaitu (3) mengkaji perbandingan aksesibilitas ketiga alun-alun dengan menggunakan standar Peraturan Menteri PU No. 30 Tahun 2006. Metode penelitian yang digunakan adalah  metode pemetaan (mapping) untuk mendapatkan data pola dan fungsi alun-alun dan metode perbandingan dengan standar PU No. 30 Tahun 2006 untuk mendapatkan data aksesibilitas Alun-Alun di Kabupaten Karanganyar, Kabupaten Sukoharjo, dan Kabupaten Klaten. Setelah data pola, fungsi, dan aksesibilitas di tiga alun-alun selesai dilakukan pembahasan, selanjutnya adalah membandingkan pola, fungsi, dan aksesibilitas di ketiga alun-alun.Hasil yang didapatkan yaitu Alun-Alun Kabupaten Karanganyar memiliki pola Catur Tunggal yang masih bertahan dibandingkan pola alun-alun di Kabupaten Klaten dan Kabupaten Sukoharjo. Persebaran fungsi (ekonomi, sosial, lingkungan dan kesehatan) Alun-Alun baik Alun-Alun Karanganyar, Alun-Alun Sukoharjo, dan Alun-Alun Klaten banyak terjadi di hari minggu terutama pagi hari ketika ada aktivitas car free day. Aksesibilitas di Alun-Alun Klaten lebih inklusif (mudah diakses untuk semua kalangan) dibandingkan Alun-Alun Karanganyar dan Alun-Alun Sukoharjo.Kata Kunci : Pola, Aksesibilitas, Fungsi, Alun-Alun ABSTRACTSquare in Java is called Alun-Alun. Alun-alun especially in Central Java has a unique pattern because of the historical factor. Karanganyar regency, Sukoharjo regency, and Klaten regency have alun-alun in the center of the city. The pattern of the alun-alun in these three regency was influenced by the development of the precolonial period, the Dutch colonial Period, and the post-independence period. Therefore, the first research objective is (1) to examine the comparison of current pattern in Karanganyar, Klaten, Sukoharjo in more depth. The three alun-alun built since the time of the Mataram Kingdom, now experiencing various developments, especially from the increasingly diverse functionality of the alun-alun and the addition of facilities to support the comfort and security in using the square. The second research objective is (2) to examine the comparison of Alun-Alun function in Karanganyar Regency, Sukoharjo Regency, and Klaten Regency. The last research objective is (3) to compare the accessibility of Alun-Alun in Karanganyar, Sukoharjo and Klaten Regency by using Indonesian Ministry of Public Works Regulation (Number: 30/PRT/M/2006). The research method used is the method of mapping to obtain the pattern data and function of the alun-alun and the method of comparison with the standard from Indonesia Ministry of Public Works Regulation to obtain data accessibility Alun-Alun in Karanganyar Regency, Sukoharjo Regency, and Klaten Regency. After the data of pattern, function, and accessibility in the three alun-alun is done the discussion, then compare the pattern, function, and accessibility of three alun-alun. The conclusion obtained that the alun-alun pattern in Karanganyar has a single surviving “Catur Tunggal” pattern compared to the alun-alun pattern in Klaten and Sukoharjo. Distribution of the function (economic, social, environment and health) of the alun-alun both alun-alun of Karanganyar, alun-alun of Sukoharjo, and alun-alun of Klaten mostly occurs on Sunday especially early in the morning when there is activity called as car free day. Accessibility at alun-alun of Klaten is more inclusive (accessible to all) than alun-alun of Karanganyar and alun-alun of Sukoharjo.Keyword: Pattern, Aksesibilities, Function, Alun-Alun
KOMPARASI ERGONOMI RUANG WUDHU MASJID JAMI’ AL-KARIM PESANGGRAHAN DAN MASJID ASH SHAFF EMERALD BINTARO Toriq Aziz Kurniawan; Andjar Widajanti
Vitruvian : Jurnal Arsitektur, Bangunan dan Lingkungan Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1122.605 KB)

Abstract

ABSTRAKKewajiban utama seorang muslim adalah untuk menjalankan sholat lima waktu dalam sehari. Salah satu syarat sahnya sholat yaitu dengan diwajibkannya untuk mensucikan diri terlebih dahulu dengan cara berwudhu. Berwudhu bisa dilakukan kapanpun, tidak hanya di saat sebelum sholat, namun bisa juga ketika sedang berhadats kecil. Berwudhu dapat dilakukan dengan cara berdiri ataupun duduk. Penelitian dilakukan di Masjid Jami’ Al-Karim Pesanggrahan dan Masjid Ash Shaff Emerald Bintaro pada ruang wudhu yang memiliki ruang wudhu duduk dan berdiri, dengan tujuan untuk mengkomparasikan kedua ruang wudhu dengan mengukur tingkat ergonomi ruang wudhu dan dengan standar yang ada. Pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi. Pengolahan data observasi menggunakan matriks observasi, kemudian hasil observasi menggunakan interval main score. Hasil Observasi ruang wudhu Masjid Jami’ Al-Karim Pesanggrahan dan Masjid Ash Shaff Emerald Bintaro menunjukkan 5 dari 7 faktor ergonomi sudah memenuhi standar dan sisanya belum memenuhi standar. Faktor-faktor dalam ruang wudhu yang belum memenuhi standar adalah penyelesaian interior pada ruang wudhu berdiri dan duduk. Sedangkan sisanya seperti sirkulasi vertikal, material, pencahayaan, penghawaan, dan sirkulasi horizontal sudah memenuhi standar. Kriteria yang belum memenuhi standar pada kedua ruang wudhu pada kedua masjid ini sama-sama 3 kriteria. Namun bedanya pada Masjid Al-Karim pada kriteria tinggi keran (duduk), tinggi keran (berdiri) dan lebar dudukan pada ruang wudhu duduk, sedangkan pada Masjid Ash Shaff belum memenuhi standar pada kriteria jarak antar keran (berdiri), jarak antar keran (duduk) dan jarak antar dudukan.Namun setelah diolah menggunakan metode interval maka Masjid Al-Karim Pesanggrahan memperoleh nilai rata-rata 2.08 (Baik) dan Masjid Ash Shaff Emerald Bintaro memperoleh nilai rata- rata 2.43 (Sangat Baik).Kata Kunci : masjid, ruang wudhu, ergonomi  ABSTRACTThe main duty of a Muslim is to perform the five daily prayers a day. One of the requirements of the validation of prayer is by obligated to purify themselves first by means of ablution. Ablution can be done anytime, not only at the time before the prayer, but can also when it is small hadats. Ablution can be done by standing or sitting. The study was conducted at Jami 'Al-Karim Pesanggrahan and Ash Shaff Emerald Bintaro Mosque in ablution room which has wudhu sitting and standing room, in order to compile the two ablution rooms by measuring the level of ergonomics of ablution room and with the existing standard. Data collection is done by observation. Observation data processing using observation matrix, then the result of observation using main score interval. The results of observation of ablution room of Jami 'Al-Karim Pesanggrahan Mosque and Ash Shaff Emerald Bintaro Mosque shows 5 of 7 ergonomic factors have met the standard and the rest have not met the standard. Factors in the ablution room that have not met the standard is the completion of the interior in the ablution room standing and sitting. While the rest such as vertical circulation, material, lighting, penghawaan, and horizontal circulation already meets the standards. Criteria that do not meet the standards in both ablution room in both mosques are equally 3 criteria. The difference between the faucet (sitting), the tap height (standing) and the width of the seat in the ablution room, while in the Ash Shaff Mosque has not met the standard on the criteria of the distance between the taps (standing) And the distance between the holder. However, after being processed using the interval method, Al-Karim Pesanggrahan Mosque got an average value of 2.08 (Good) and Ash Shaff Emerald Bintaro Mosque got an average value of 2.43 (Very Good).Keyword: mosque, ablotion room, ergonomic
PENGARUH BUKAAN TERHADAP KINERJA TERMAL PADA MASJID JENDRAL SUDIRMAN Ikhwan Nur Arifin; Muhammad Syarif Hidayat
Vitruvian : Jurnal Arsitektur, Bangunan dan Lingkungan Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (871.077 KB)

Abstract

ABSTRAKMasjid pada umumnya didesain dengan banyak bukaan ventilasi untuk memasukkan penghawaan alami kedalam bangunan dengan maksud untuk menurunkan suhu didalam.Masjid Jendral Sudirman merupakan masjid dengan bukaan jendela pada tiap sisi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa pengaruh dari bukaan terhadap kinerja termal pada runang dalam masjid. Metode yang digunakan adalah deskriptif evaluatif dengan pengdekatan kuantitatif. Pengukuran dilakukan dengan cara mengukur suhu udara, suhu permukaan dan kecepatan angin. Pengukuran dilakukan selama 3 hari dari jam 09.00 sampai dengan 17.00 dengan menggunakan simulasi percobaan pada bukaan. Dari kesimpulan yang didapat bahwa pengaruh bukaan terhadap penurunan suhu udara didalam tidak signifikan. Penurunan suhu tertinggi adalah pada perbandingan percobaan jendela terbuka sebagian dilantai 2 dan 3 yaitu sebesar 1,18 oC.Kata Kunci : Bukaan Ventilasi, Kinerja Termal, Masjid ABSTRACTThe mosque is generally designed with many ventilation openings to incorporate natural penghawaan into the building with the intention to lower the temperature inside. Mosque General Sudirman is a mosque with window openings on each side. This study aims to determine how the influence of openings on thermal performance at runang in the mosque. The method used is descriptive evaluative with quantitative approach. Measurements are made by measuring air temperature, surface temperature and wind speed. Measurements were carried out for 3 days from 09:00 to 17:00 hours by using experimental simulations on openings. From the conclusion obtained that the influence of openings to the decrease in air temperature inside is not significant. The highest temperature drop was in the comparison of experimental open-window experiments on the 2nd and 3rd floors of 1.18 oC.Keyword: Ventilation openings, Thermal Performance, Mosque
KONSEP MANDALA PADA RANCANGAN LIMBAH KONTAINER UNTUK HUNIAN SEMENTARA KORBAN BENCANA ALAM DI BALI Eka Diana Mahira; Virginayoga Hignasari
Vitruvian : Jurnal Arsitektur, Bangunan dan Lingkungan Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (488.349 KB)

Abstract

ABSTRAKHunian sementara merupakan fasilitas yang penting disediakan pemerintah sebagai salah satu langkah mitigasi bencana, mengingat kondisi Indonesia yang rawan bencana alam. Dalam upaya penyediaan hunian sementara tidaklah sebatas unit hunian yang bisa disediakan dengan cepat, efisien dan efektif saja. Hunian yang disediakan haruslah bisa memberikan kenyamanan dan dapat mengurangi efek psikis masyarakat yang terdampak serta sesuai dengan karakteristik hunian sementara berdasarakan prinsip keberlanjutan. Berkaitan dengan itu, material kontainer dapat menjadi salah satu alternatif untuk unit hunian sementara. Menanggapi hal tersebut khususnya di wilayah Bali, penerapan konsep mandala dalam bangunan kontainer menjadi dasar dalam tata atur ruang mengacu pada rumah-rumah tinggal masyarakat Bali. Kajian ini dilakukan dengan metode kualitatif dengan pendekatan studi literature dengan menggali data dan informasi yang terkait dengan topik kajian. Selanjutnya data-data yang diperoleh disusun dan dianalisis untuk kemudian ditarik kesimpulan. Berdasarkan kajian disebutkan bahwa sangat penting memasukkan konsep mandala sebagai salah satu ulokal genius dalam pengaturan pola ruang unit hunian sementara karena akan berdampak pada tingkat kenyamanan penghuni. Konsep mandala tersebut diaplikasikan dalam pembagian 3 zonasi ruang yaitu utama, madya, nista. Ketiga zonasi tersebut dipengaruhi oleh aktivitas dan civitas dalam unit hunian. Bagian hulu (utama) merupakan ruang private berfungsi sebagai ruang tidur. Zona madya (tengah) dipergunakan sebagai ruang serbaguna dan menjadi tempat persembahyangan. Dan pada teben (nista) merupakan ruang service yang dipergunakan sebagai dapur dan kamar mandi.Kata Kunci : mandala, rumah kontainer, hunian sementara ABSTRACTShelter is an important facility provided by the government as one of the disaster mitigation measures, considering the condition of Indonesia that is prone to natural disasters. In the provision of temporary shelter is not limited to residential units that can be provided quickly, efficiently and effectively only. Shelter provided should be able to provide comfort and can reduce the psychic effects of affected communities and in accordance with the characteristics of shelter based on the principle of sustainability. In this regard, container material can be an alternative to temporary shelter units. In response to this especially in the area of Bali, the application of the concept of mandala in the container building became the basis in the spatial arrangement refers to the homes of Balinese people. This study was conducted by qualitative method with literature study approach by digging the data and information related to the topic of study. Furthermore, the data obtained are prepared and analyzed for the conclusions then drawn. Based on the study mentioned that it is very important to enter the concept of mandala as one of local genius in setting the pattern of temporary shelter unit space because it will affect the comfort level of the occupants. The concept of mandala is applied in the division of 3 zoning space ie main (utama), middle, nista. The three zones are influenced by activities and civities within the dwelling unit. The upstream (main) is a private space serves as a bedroom. Middle Zone (center) is used as a multipurpose room and a place of worship. And on teben (nista) is a service room that is used as a kitchen and bathroom.Keyword: mandala, container house, temporary shelter
PERUBAHAN FUNGSI RUANG DOMESTIK DI SEKITAR KAMPUS UNPAZ (UNIVERSIDADE DA PAZ), DILI, TIMOR LESTE Domingos Santos Soares; Paulus Bawole; Henry Feriadi
Vitruvian : Jurnal Arsitektur, Bangunan dan Lingkungan Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1118.469 KB)

Abstract

ABSTRAKUniversidade da Paz (UNPAZ) didirikan oleh Fundação Neon Metin (FNM) pada 9 Maret 2004, dan juga merupakan universitas swasta terbesar yang ada di Timor Leste saat ini. UNPAZ sangat berkembang dari segi pengembangan kampus (infrastruktur) maupun meningkatnya jumlah mahasiswa. Perkembangan kampus ini menyebabkan  terjadinya  perubahan fungsi ruang pada Kampus UNPAZ. Selain kampus perubahan fisik dan fungsi ruang domestik terjadi pada kampung sekitarnya, terutama Kampung Osindo I Manleuana. Kampung Osindo I Manleuana secara geografis terletak di Kelurahan Fatuhada, Kecamatan Dom-Aleixo, Kotamadya Dili, Timor Leste. Kampung ini mula-mula penduduknya bermata pencaharian sebagai petani. Letak kampung dekat jalur akses utama menuju Kampus UNPAZ menyebabkan kegiatan ekonomi penduduk menjadi berubah. Perubahan ini menyebabkan terjadinya perubahan fungsi ruang domestik pada rumah tinggal maupun halamannya. Untuk meneliti lebih jauh lagi tentang proses  perubahan fungsi ruang domestik dengan kehadirannya Kampus UNPAZ, digunakan pendekatan penelitian kualitatif, dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dokumentasi dan pembagian kuesioner  pada masyarakat setempat. Perubahan-perubahan fungsi ruang domestik di atas dianalisis dengan teori-teori yang relevan yaitu perubahan fisik, ruang, bentuk ruang, dan pola organisasi ruang.Kata Kunci : Masyarakat, Kampung, Perubahan, Ruang, dan UNPAZ ABSTRACTUniversidade da Paz (UNPAZ) was founded by the Fundação Neon Metin (FNM) on March 9, 2004, and is also the largest private university that existed in East Timor at this time. UNPAZ is highly developed in terms of the development of the campus (infrastructure) as well as the increasing number of students. Campus development led to a change of function spaces on Campus UNPAZ. In addition to the campus physical changes and function spaces occur in domestic surroundings, especially Kampong Osindo I Manleuana. Kampong Osindo I Manleuana is geographically located in Village Fatuhada, Sub District Dom-Aleixo, a Municipality of Dili, East Timor. This village was initially populated eyed livelihood as a farmer. Kampong near the main access point to campus UNPAZ caused the economic activities of the population be changed. This change led to changes in the functions of domestic space in the House or its grounds. To research further about the process of change of the function of the domestic space with the UNPAZ Campus presence, qualitative research approach is used, with the technique of collecting data through observation, interview, questionnaire and documentation Division  on the local community. Changes the function of the domestic spaces above are analyzed with the relevant theories, namely physical changes, space, space, form and pattern of organization of space.Keyword: community, village, Changes, space, and UNPAZ 

Page 1 of 1 | Total Record : 6