cover
Contact Name
Christy Vidiyanti
Contact Email
christy.vidiyanti@mercubuana.ac.id
Phone
+628567535557
Journal Mail Official
arsitektur@mercubuana.ac.id
Editorial Address
Fakultas Teknik Universitas Mercu Buana Jl. Raya Meruya Selatan, Kembangan, Jakarta 11650
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Vitruvian : Jurnal Arsitektur, Bangunan, dan Lingkungan
ISSN : 20888201     EISSN : 25982982     DOI : https://dx.doi.org/10.22441/vitruvian
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal Ilmiah VITRUVIAN adalah jurnal yang mencakup artikel bidang ilmu arsitektur, bangunan, dan lingkungan. Jurnal ilmiah Vitruvian terbit secara berkala yaitu 3 (tiga) kali dalam setahun, yaitu pada bulan Oktober, Februari, dan Juni. Redaksi menerima tulisan ilmiah tentang hasil penelitian yang berkaitan erat dengan bidang arsitektur, bangunan, dan lingkungan.
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 9, No 1 (2019)" : 6 Documents clear
TRANSFORMASI FASAD PADA BANGUNAN KOLONIAL GEREJA GPIB IMMANUEL KOTA DEPOK LAMA Ivana Yesika Leatimia; Rahil Muhammad Hasbi
Vitruvian : Jurnal Arsitektur, Bangunan dan Lingkungan Vol 9, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (707.703 KB) | DOI: 10.22441/vitruvian.2019.v9i1.006

Abstract

ABSTRAKArsitektur akan selalu mengalami perubahan. Hal ini merupakan sifat alami dari arsitektur. Perubahan ini seringkali terjadi sesuai dengan masa dan teknologi yang sedang berkembang. Salah satu arsitektur yang banyak mengalami perubahan adalah arsitektur kolonial Indonesia. Arsitektur kolonial Indonesia muncul di masa penjajahan Belanda terhadap Indonesia. Arsitektur ini muncul akibat percampuran antara arsitektur Eropa dengan budaya dan cara membangun di Indonesia serta penyesuaian diri terhadap iklim setempat. Bangunan dengan arsitektur kolonial di beberapa tempat sudah dijadikan sebagai bangunan konservasi oleh pemerintah sebagai pengingat sejarah perkembangan Indonesia. Meskipun begitu, di beberapa wilayah terdapat bangunan-bangunan dengan arsitektur kolonial yang luput perhatian dari pemerintah sehingga tidak di konservasi. Hal ini menyebabkan bangunan-bangunan tersebut dihancurkan dan diganti dengan yang baru ataupun berubah bentuk fisiknya karena menyesuaikan diri dengan zaman dan perkembangan teknologi. Sebagai contoh adalah bangunan Gereja Gereja GPIB Immanuel di Kota Depok Lama yang telah banyak mengalami perubahan. tetapi walaupun begitu karakteristik dari arsitektur kolonial masih bisa terlihat walaupun di dibeberapa bagian fasad sudah menunjukkan banyak perubahan. Oleh karena itu penelitian ini ingin melihat bagaimana perubahan yang terjadi pada fasad gereja GPIB Immanuel di kota Depok Lama. Hal ini dilakukan untuk melihat bagaimana bangunan dengan arsitektur kolonial yang tidak dikonservasi beradaptasi dengan perkembangan zaman serta untuk melihat factor-faktor apa saja yang dapat menyebabkan perubahan tersebut. Penelitian akan dilakukan dengan metode kualitatif deskriptif dengan melihat perubahan fasad dari periode penjajahan (sekitar tahun 1920) dan dimasa sekarang. Hasil penelitian adalah terdapat beberapa perubahan pada elemen-elemen arsitektur fasad yang dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti faktor Agama, kebutuhan, faktor Iklim, Estetika, dan perubahan di sekitar lokasi studi.Kata Kunci:   Fasad, arsitektur kolonial, Gereja ABSTRACTIndonesian kolonial architecture emerged during the Dutch occupation of Indonesia. This architecture arises because of the conglomeration of European architecture with Indonesian culture, building technique, and adaptation to the local climate. Kolonial architecture’s building in some places has been made as conservation buildings by the government. The aim is to make this building as a reminder of Indonesia's historical development. Nevertheless, in some areas, there are buildings with kolonial architecture that have been missed by the government so they are not preserved. This causes the building has is demolished and replaced with new ones or change it's physical form because the building has to adapt to the new era and technology. An example is the GPIB Immanuel Church in Depok Lama which has undergone many changes. Notwithstanding, the characteristics of kolonial architecture can still be seen in some parts of the façade. Therefore this study wants to see to what extent the Immanuel GPIB church facade has been changed. The purposes are to see how buildings with kolonial architecture that were not preserved, adapted to the new era and also to see what factors could cause this changing. This research is conducted using qualitative descriptive methods by observing at the façade changing. The observation is done by comparing to eras to see the changing process which is the kolonial period (around 1920) and in the present (2019). The results of this study are; there are some changes in the facade even though the kolonial characteristic still can be seen in some architectural elements. The changes are influenced by many factors such as religion, needs, climate, aesthetics, and changes in site boundaries.Keywords: Facade, Kolonial Architecture, Church
PEMANFAATAN RUANG DI BAWAH RUMAH PANGGUNG PERMUKIMAN NELAYAN PERKOTAAN (STUDI KASUS: KAMPUNG NELAYAN KAMAL MUARA) Diana Ayudya; Saeful Mahfud Permana; Stenly Go Lakafin; Gabriela Tri Wuryaningsih
Vitruvian : Jurnal Arsitektur, Bangunan dan Lingkungan Vol 9, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (753.004 KB) | DOI: 10.22441/vitruvian.2019.v9i1.004

Abstract

Kamal Muara adalah permukiman nelayan perkotaan di pesisir Utara Jakarta yang keberadaannya ternyata menyumbangkan beberapa isu terkait permasalahan lingkungan, sosial dan ekonomi yang terus berkembang. Dengan mayoritas penghuni yang merupakan masyarakat tradisional Bugis, karakter fisik kawasan ini menunjukkan ciri-ciri arsitektur vernakular Bugis yang terlihat dari bentuk rumah penduduk yang didominasi dengan rumah panggung bergaya arsitektur Bugis. Namun kondisi lingkungan yang berbeda memaksa masyarakat Bugis di permukiman ini untuk beradaptasi, salah satunya terhadap lingkungan fisik sehingga menyebabkan terjadinya perubahan-perubahan pada bentuk dan pola perkampungan, termasuk pola pemanfaatan ruang di bawah rumah panggungnya. Keberagaman pemanfaatan ruang tersebut ternyata menimbulkan banyak permasalahan yang berujung pada permasalahan lingkungan kawasan permukiman.Tujuan penelitian ini adalah menemukan pola pemanfaatan ruang di bawah rumah panggung nelayan dengan pendekatan perilaku dan lingkungan untuk mengurangi permasalahan sehingga didapatkan rekomendasi yang bisa memberikan manfaat lebih pada lingkungan Kawasan permukiman.Metode yang digunakan adalah metode penelitian deskriptif kualitatif, dengan metode pengumpulan data (survey) primer dan sekunder. Survey primer dilakukan melalui observasi lapangan dan wawancara, adapun survey sekunder melalui studi literatur dari berbagai media seperti buku, jurnal, dokumen, artikel cetak maupun online.
PENGARUH BUKAAN SAMPING (CLERESTORY) TERHADAP KUALITAS KENYAMANAN TERMAL PADA FOOD CARNIVAL, MALL AEON BSD Tathia Edra Swasti
Vitruvian : Jurnal Arsitektur, Bangunan dan Lingkungan Vol 9, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (783.109 KB) | DOI: 10.22441/vitruvian.2019.v9i1.005

Abstract

ABSTRAK Mall saat ini marak menggunakan clerestory sebagai salah satu upaya untuk penerangan alami pada siang hari. Namun, cahaya matahari pada sore hari (barat) akan menghasilkan cahaya matahari yang lebih panas dan silau dibandingkan cahaya matahari pada pagi hari (timur). Oleh karena itu, dengan pemakaian clerestory yang cukup besar pada bangunan, masalah panas tentu tak dapat dihindari. Begitu pula dengan glare yang berasal dari pantulan sinar matahari. Salah satu Mall yang menggunakan clerestory adalah Mall AEON BSD. Pengukuran suhu udara, temperatur efektif, kelembaban udara, kecepatan angin, PMV (Predicted Mean Vote) dan PPD (Predicted Percentage of Dissatisfied) dilaksanakan pada 4 waktu dengan 5 lokasi titik ukur yang memiliki kondisi berbeda untuk membuktikan bahwa clerestory dapat mempengaruhi kenyamanan termal. Disimpulkan bahwa titik 2 yaitu titik yang berdekatan dengan clerestory sisi kanan (ukurannya lebih kecil daripada clerestory sisi kiri) memiliki temperatur efektif dan kelembaban udara yang lebih rendah dari titik lain, dan kecepatan udara (dipengaruhi oleh hembusan AC) lebih tinggi dari titik lain. Responden merasa nyaman saat berada di titik tersebut.Titik paling nyaman menurut responden adalah titik 2 dengan TE rata-rata berkisar 27,4˚C, kelembaban udara rata-rata berkisar 52,2%, kecepatan udara rata-rata berkisar 0,15 m/s, PMV berkisar 0,5 dan PPD berkisar 12,7%. Dengan begitu semakin kecil ukuran skylight terbukti mempengaruhi kenyamanan termal dan membuat kenyamanan termal dapat tercapai. Kata Kunci: Mall, Clerestory, PMV, PPD, Kenyamanan Termal ABSTRACT Nowadays mall is decorated with clerestory as an effort to lighten naturally during the day. However, sunlight in the afternoon (west) will produce more sunlight and glare than sunlight in the morning (east). Therefore, with the use of a fairly large clerestory in buildings, the problem of heat certainly can not be avoided. Similarly, glare that comes from the reflection of sunlight. One of the malls that use clerestory is BSD AEON Mall. Measurement of air temperature, effective temperature, air humidity, wind speed, PMV (Predicted Mean Vote) and PPD (Predicted Percentage of Dissatisfied) carried out at 4 times within 5 measuring spots that have different conditions, proving that clerestory can affect thermal comfort. It was concluded that point 2, which is the point adjacent to the right side clerestory (smaller in size than the left side clerestory) has an effective temperature and lower air humidity than other points, and air velocity (affected by blowing AC) is higher than other points. Respondents felt comfortable when they were at that point. The most comfortable point according to respondents was point 2 with TE averaging around 27.4˚C, air humidity averaged 52.2%, the average air speed ranged from 0.15 m / s, PMV ranges from 0.5 and PPD ranges from 12.7%. Thus, the smaller size of the clerestory is affecting thermal comfort and thermal comfort can be achieved. Keywords: Mall, Clerestory, PMV, PPD, Thermal Comfort
DIALEKTIKA ARSITEKTUR DAN PERUBAHAN PERILAKU MASYARAKAT PASCA URBANISASI La Ode Abdul Rachmad Sabdin Andisiri; Arman Faslih; Muhammad Zakaria Umar
Vitruvian : Jurnal Arsitektur, Bangunan dan Lingkungan Vol 9, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (334.264 KB) | DOI: 10.22441/vitruvian.2019.v9i1.001

Abstract

ABSTRAKParadigma ber-arsitektur erat kaitannya dengan perilaku masyarakat sehingga arsitektur dapat digunakan untuk membentuk perilaku manusia melalui rekayasa lingkungan maupun bangunan.. Masuknya arsitektur moderen di Indonesia berakibat pada perubahan perilaku masyarakat tradisional khususnya di wilayah urban olehnya, penelitian ini bertujuan (1) mendokumentasikan faktor - faktor yang menyebabkan peruban perilaku masyarakat pra urban (masyarakat tradisional) pasca urbanisasi di Kota Kendari dalam perspektif kearsitektural, lingkungan dan paradigma filsafat, (2) merumuskan langkah dan tindakan kearsitektural dalam upaya merestorasi nilai - nilai kebudayaan terhadap masyarakat urban. Penelitian ini diselenggarakan di kota Kendari dan berlandaskan pada paradigma post-positivisme yakni metode fenomenologi pendekatan kualitatif dimana aspek – aspek yang dianalisis pedagogi, lingkungan dan perilaku, serta budaya masyarakat kota Kendari dan Sulawesi Tenggara pada umumya sebagai landasan determinisme arsitektur. Penelitian ini menemukan dua temuan yakni (1) uraian deskriptif paradigma filsafat terhadap pendidikan dan konsepsi arsitek dan user mengenai arsitektur yang mengakibatkan perubahan perilaku masyarakat urban, (2) rumusan model kawasan kantong pedestrian dengan fasilitas terpadu berbasis lingkungan dan kearifan lokal sebagai determinisme arsitektur dalam merestorasi nilai – nilai budaya pada masyarakat urban.Kata Kunci:   Dialektika, Arsitektur, Perilaku, Urban  ABSTRACTThe architectural paradigm is closely related to community behavior so that architecture can be used to shape human behavior through environmental and building engineering. The inclusion of modern architecture in Indonesia results in changes in the behavior of traditional communities, especially in urban areas by him. The objetives of this research are (1) to document the factors that cause the behavior of pre-urban (traditional) community behavior after urbanization in Kendari City in the perspective of architecture, environment and philosophical paradigm, (2) formulating architectural steps and actions in an effort to restore cultural values towards urban society. This research was held in the city of Kendari and based on the post-positivism paradigm, a qualitative approach phenomenology method in which aspects analyzed by pedagogy, environment and behavior, as well as the culture of Kendari and Southeast Sulawesi in general as the basis of architectural determinism. This study found two findings, namely (1) descriptive description of the philosophical paradigm of education and architect and user conception of architecture that resulted in changes in urban behavior, (2) formulation of a model of pedestrian enclave with integrated facilities based on the environment and local wisdom as architectural determinism in restoring cultural values in urban society.Keywords: Dialectics, Architecture, Behavior, Urban
PENGARUH SETTING RUANG TERBUKA PUBLIK TERHADAP POLA PERILAKU PKL DI PERUMAHAN PURI GADING BEKASI Retno Wijaya Ningsih
Vitruvian : Jurnal Arsitektur, Bangunan dan Lingkungan Vol 9, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (347.094 KB) | DOI: 10.22441/vitruvian.2019.v9i1.002

Abstract

ABSTRAKPeningkatan jumlah penduduk negara Indonesia telah meningkat dari tahun ke tahun, ini diiringi dengan meningkatnya jumlah perumahan baru yang tumbuh dan berkembang. Masalah utama yang telah terjadi dalam beberapa tahun terakhir adalah bahwa telah terjadi perubahan pengaturan di ruang terbuka publik, yaitu pergeseran dalam pengaturan fungsi / tempat dari fungsi awal yang direncanakan sebelumnya. Evaluasi penuh waktu terhadap pola tata ruang perumahan yang dapat mengakomodasi aktivitas fisik dan non-fisik warga seringkali tidak dilakukan, sehingga menimbulkan dampak selama beberapa tahun ke depan seperti kemunculan pedagang kaki lima, kebisingan, pergeseran fungsi lahan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji lebih lanjut seberapa besar pengaruh pengaturan ruang terbuka publik di perumahan pada pola perilaku PKL. Lokasi yang akan diselidiki adalah kompleks perumahan Puri Gading Bekasi. Penelitian ini menggunakan pendekatan metode evaluatif dan terintegrasi dengan Evaluasi Purna Huni (EPH) / pemetaan perilaku, dokumentasi dan teknik wawancara. Tujuan penggunaan metode ini adalah bahwa hasil penelitian objektif dalam bentuk data output adalah hasil pemetaan pola spasial terbuka publik dari kegiatan PKL. Dengan munculnya fenomena yang terjadi dan analisis serta diskusi yang telah dilakukan, kami memperoleh hasil berupa rekomendasi untuk menyelesaikan masalah. Rekomendasi tersebut adalah untuk mengatur koridor ruang terbuka publik di Perumahan Puri Gading di bekasi yang memiliki kapasitas ruang yang sesuai dengan kebutuhan pengguna serta meningkatnya jumlah pengguna ruang publik untuk beberapa tahun ke depan.Kata Kunci:   pemetaan perilaku, ruang terbuka publik, PKL  ABSTRACTThe increase in the population of the country of Indonesia has increased from year to year, this is accompanied by the increasing number of new housing that is growing and developing. The main issue that has occurred in recent years is that there has been a change in settings in public open space, namely a shift in the function setting / place from the initial function that was planned before. Full-time evaluation of housing spatial patterns that can accommodate physical and non-physical activity of residents is often not carried out, thus causing impacts for the next few years such as the emergence of street vendors, noise, shifting land functions. Therefore, this study aims to further examine how much influence the setting of public open space in housing on street vendors' behavior patterns. The location to be investigated is Puri Gading Bekasi housing complex. This study uses an evaluative method approach and is integrated with the Full Occupational Evaluation (EPH) / behavior mapping, documentation and interview techniques. The purpose of using this method is that objective research results in the form of data output are the results of mapping public open spatial patterns of street vendors' activities. With the emergence of the phenomena that occur and the analysis and discussion that has been carried out, we obtain a result in the form of recommendations to resolve the problem. The recommendation is to arrange public open space corridors in the Puri Gading Housing in bekasi which has the capacity of space that suits the needs of users as well as the increasing number of users of public space for the next few years.Keywords: behavior mapping, public open space settings,street vendor
RASA TAKUT AKAN TINDAK KEJAHATAN PADA RUANG PUBLIK TRANSIT BAWAH TANAH STASIUN MANGGARAI Nevine Rafa Kusuma; Enira Arvanda
Vitruvian : Jurnal Arsitektur, Bangunan dan Lingkungan Vol 9, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (440.704 KB) | DOI: 10.22441/vitruvian.2019.v9i1.003

Abstract

ABSTRAKKeberadaan fasilitas publik di bawah tanah saat ini semakin banyak berkembang di kota Jakarta. Dalam prosesnya, pengadaan infrastruktur tersebut, lebih fokus pada aspek fisik secara fungsi. Seiring berjalannya waktu, muncul berbagai isu mengenai perasaan takut terhadap tindak kejahatan terkait keamanan dan kenyamanan bagi pengguna wanita.  Salah satu penyebabnya, fasilitas yang ada secara fisik masih belum banyak mempertimbangkan kebutuhan kaum wanita, terutama dalam hal keamanan dan kenyamanan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi relasi rasa takut pengguna perempuan terhadap lingkungan jalur underpass atau Tempat Penyeberangan Orang (TPO) bawah tanah dan juga mengetahui faktor lingkungan yang mendominasi rasa takut tersebut. Metode yang digunakan untuk penelitian adalah dengan menggunakan kuesioner terstruktur yang didistrubusikan melalui media survei online, kepada para mahasiswi di sebuah kampus negeri di Depok dan juga survey langsung di lokasi penelitian. Hasil yang didapatkan melalui riset ini menguatkan beberapa riset terdahulu bahwa adanya relasi yang kuat antara aspek fisik lingkungan TPO dengan perasaan takut akan tindak kejahatan pada pengguna wanita.Kata Kunci:   Perasaan takut akan tindak kejahatan (fear of crime), Tempat Penyeberangan Orang, bawah tanah (underground), pengguna wanita  ABSTRACTThe train station as one of the public facilities supporting activities intended for the entire community. Underground public in Jakarta has been increasingly developed. In this infrastructure, the focus is more on functional physical aspects. Over time, various issues has been emerged regarding fear of crime related to security and comfort for female users. One of the reasons, the physical facilities has not been considered for the needs of female users, especially in terms of security and comfort. The aim of this study is to identify the relation between female users’ fear of crime and the environment of underpasses and also to understand the environmental factors that dominate it. To confirm the hypothesis, we distributed structured questionnairse using an online survey platform to female students in one of national university in Depok and also direct survey in research location. As a result, several environmental cues have been identified as fear-provoking and the findings confirm the relation between female users’ fear of crime and physical aspect in underpass.Keywords: Fear of crime, Underpass, Underground, women user

Page 1 of 1 | Total Record : 6