cover
Contact Name
Christy Vidiyanti
Contact Email
christy.vidiyanti@mercubuana.ac.id
Phone
+628567535557
Journal Mail Official
arsitektur@mercubuana.ac.id
Editorial Address
Fakultas Teknik Universitas Mercu Buana Jl. Raya Meruya Selatan, Kembangan, Jakarta 11650
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Vitruvian : Jurnal Arsitektur, Bangunan, dan Lingkungan
ISSN : 20888201     EISSN : 25982982     DOI : https://dx.doi.org/10.22441/vitruvian
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal Ilmiah VITRUVIAN adalah jurnal yang mencakup artikel bidang ilmu arsitektur, bangunan, dan lingkungan. Jurnal ilmiah Vitruvian terbit secara berkala yaitu 3 (tiga) kali dalam setahun, yaitu pada bulan Oktober, Februari, dan Juni. Redaksi menerima tulisan ilmiah tentang hasil penelitian yang berkaitan erat dengan bidang arsitektur, bangunan, dan lingkungan.
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 9, No 2 (2020)" : 6 Documents clear
PRINSIP PENGENDALIAN PASIF FISIKA BANGUNAN RUMAH TRADISIONAL BALE SAKA RORAS Kadek Agus Surya Darma
Vitruvian : Jurnal Arsitektur, Bangunan dan Lingkungan Vol 9, No 2 (2020)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1445.888 KB) | DOI: 10.22441/vitruvian.2020.v9i2.005

Abstract

‘Bale saka roras’ merupakan bangunan tradisional berarsitektur bali kuno yang tidak mendapat pengaruh arsitektur era majapahit. Terletak di Kawasan pegunungan Desa Sukawana yang beriklim tropis. ‘Bale saka roras’ memiliki keistimewaan, selain daya tarik estetika arsitektur tradisionalnya, juga pada desain bentuk struktur konstruksi yang seolah mengesankan fungsi dalam merespon iklim setempat. Menjadi menarik untuk diteliti tentang hubungan antara desain bentuk konstruksi dan pemilihan material bangunan ‘bale saka roras’ terhadap terjadinya pengendalian pasif terhadap pengaruh iklim setempat. Untuk dapat menemukan benang merah tersebut, maka penelitian ini akan mengungkap serta menganalisis prinsip-prinsip pengendalian pasif yang terdapat pada bangunan ‘bale saka roras’. Penelusuran langsung dan perekaman data melalui pengukuran lapangan, dokumentasi, studi literatur hingga wawancara kesan penghuni asli merupakan data mendasar yang akan dianalisis kembali untuk menemukan dan menegaskan kembali prinsip-prinsip yang terdapat pada desain bentuk maupun pemilihan material bangunan ‘bale saka roras’ ini.
DINAMIKA KETERHUBUNGAN RUANG ARSITEKTURAL DAN MUSIKAL BAROK Roni Sugiarto
Vitruvian : Jurnal Arsitektur, Bangunan dan Lingkungan Vol 9, No 2 (2020)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (832.391 KB) | DOI: 10.22441/vitruvian.2020.v9i2.004

Abstract

ABSTRAKKetika kita mendengar suara (audial, akustikal) kitapun dapat melihat ruang (spatial). Di samping dapat melihat bentuk dan mendengar bunyi, kita dapat juga mendengar bentuk dan melihat bunyi. Meskipun bahasa yang dipergunakan arsitektur dan musik berbeda, namun kedua bidang ini memiliki karakter berkesenian yang sama yaitu pencarian makna keindahan yang tiada akhir. Arsitektur dan musik berbagi tujuan yang sama dalam hal estetika, namun keduanya memiliki perbedaan wujud. Melalui penjelajahan imajinatif dan perseptif karya seni Barok, tulisan ini mencoba mencari hubungan yang analogis antara sensasi auditory berupa tatanan melodi dan irama dengan manifestasi ruang arsitektural. Dengan menerapkan pendekatan yang bersifat kualitatif dengan teknik penarikan sampel yang sesuai dengan ruang lingkup pembahasan, dan menelusuran hubungan yang analogis (yang atributif) dicapai juga dengan kajian komparatif tatanan/ruang antara arsitektur dengan musik Barok. Dengan Sistem representasi yang menjadi kunci dalam menghantarkan visi tatanan/ruang arsitektural serta musikal Barok, maka diharapkan secara imajinatif dan ekspresif perwujudan dinamika hubungan antara ruang arsitektural dan musikal Barok dapat ditemukan. Di lain hal, penelusuran keterhubungan antara arsitektur dan musik terbuka bagi berbagai kekuatan seni, dapat berkomunikasi dengan aspek arsitektur dan dapat dicari kedekatan hubungan antar masing-masing kekuatan seni. ABSTRACTWhen we hear the sound (audial, acoustical) we can see the space (spatial). In addition to being able to see the shapes and hear the sound, we can also hear the shapes and see the sound. Although the language used by architecture and music s different, but these two fields have the same artistic character that is the exploration for the endless beauty of the end. Through the imaginative and perseptive exploration of Baroque artwork, it seeks to find an analogic relationship between the auditory sensation of melody and rhythm with the manifestation of architectural space. By using a qualitative approach with sampling techniques that fit the scope of the discussion, and tracking analogical (attributive) relationships is also achieved by a comparative study of the order / space between Baroque architecture and music. With the representation system, the key of delivering the vision of Baroque architectural / space order and musicals, it is hoped that imaginatively and expressively the realization of the dynamics of the relationship between architectural space and Baroque music can be found. On the other hand, the research for the connection between architecture and music is open to various artistic, possible to communicate with aspects of architecture and to find the closeness of the relationship between each art.
PERSEPSI KENYAMANAN PENGUNJUNG RUANG TERBUKA PUBLIK PERUMAHAN Mona Anggiani; Ilal Rohmat
Vitruvian : Jurnal Arsitektur, Bangunan dan Lingkungan Vol 9, No 2 (2020)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (340.144 KB) | DOI: 10.22441/vitruvian.2020.v9i2.003

Abstract

ABSTRAKRuang terbuka publik merupakan salah satu ruang yang seharusnya berada pada sebuah perumahan. Saat ini banyak ruang terbuka publik yang fungsinya sudah dibangkitkan kembali oleh pihak penyelenggara, baik pihak pemerintah maupun pihak swasta. Secara fisik, keberadaan ruang terbuka publik kini dalam keadaan yang layak dan baik. Namun, pada ruang publik ini terlihat fasilitas ruang publik yang sangat sederhana dan jumlahnya pun terbatas. Penelitian ini disusun untuk melihat persepsi pengunjung pada kelengkapan fasilitas di ruang terbuka dengan tingkat kenyamanan pengunjungnya. Dengan menggunakan metode kuantitatif deskriptif, penelitian ini dilakukan dengan observasi kajian di ruang terbuka publik dan menyebarkan kuisioner kepada pengunjung. Hasil dari penelitian ini adalah bahwa menurut pengunjung, mereka merasa nyaman ketika berada di ruang terbuka publik ini. Penelitian ini dapat bermanfaat untuk peningkatan perencanaan ruang terbuka publik di perumahan selanjutnya. ABSTRACTPublic open space is one of the spaces that should be in a housing complex. At present many public open spaces whose functions have been resurrected by the organizers, both the government and private parties. Physically, the existence of public open space is now in a decent and good condition. However, in this public space public facilities are very simple and the number is limited. This research is structured to see the perception of visitors on the completeness of facilities in open space with the level of comfort of visitors. By using descriptive quantitative methods, this research was conducted by observing studies in public open spaces and distributing questionnaires to visitors. The results of this study are that according to visitors, they feel comfortable when in this public open space. This research can be useful for improving public open space planning in the next housing complex.
PENGARUH INDUSTRI SEPATU DAN SENDAL TERHADAP TIPOLOGI TATA RUANG RUMAH TINGGAL DI KELURAHAN CIKARET, KECAMATAN BOGOR SELATAN, KOTA BOGOR Suciati Suci Permata
Vitruvian : Jurnal Arsitektur, Bangunan dan Lingkungan Vol 9, No 2 (2020)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (505.524 KB) | DOI: 10.22441/vitruvian.2020.v9i2.006

Abstract

ABSTRAKMasyarakat Kecamatan Bogor Selatan pada umumnya bergerak di bidang industri kecil atau usaha rumah tangga yang tumbuh cukup pesat. Pada Kelurahan Cikaret sebagian besar masyarakat memiliki usaha industri kerajinan sepatu dan sendal, yang memanfaatkan ruang pada rumah hunian sebagai ruang usaha industri. Dalam kondisi seperti itu secara langsung yang terlibat bekerja adalah anggota keluarga seperti ayah, ibu dan anak serta ada partner kerja selain keluarga. Apabila kegiatan usaha dilaksanakan didalam rumah dan melibatkan beberapa orang sebagai partner kerja maka akan berpengaruh pada penataan ruang dan juga tingkat privasi dan kenyamanan penghuni rumah. Penelitian ini dilakukan pengambilan data dengan kuesioner dan wawancara langsung terhadap penghuni dan rumah dengan usaha industri. Dari penelitian ini nantinya akan dihasilkan beberapa standar ruang untuk rumah usaha industri sandal dan sepatu karet serta beberapa pola tata ruang rumah usaha berdasarkan preferensi masyarakat Kelurahan Cikaret. Hasil penelitian ini dapat menjadi salah satu acuan bagi masyarakat atau pemerintah apabila akan melakukan pembangunan atau revitalisasi rumah industri di Kelurahan Cikaret. ABSTRACTThe community Kecamatan Bogor South in generally moves in the field of small industry or home industries in growing rapidly .On the cikaret the majority of the community has a business the industry shoes and sendal , who use space of occupancy as space industry .Under such conditions directly involved work is family members like father , mother and child and there are partner work except the family .When business activities carried out in the house and involved some as a partner work so it would affect in a pattern of spatial plan and as well as the level privacy and comfort the inhabitants of the house . This research was undertaken data retrieval with questionnaires and interviews directly against house occupant and with industrial undertakings. From the study will be produced some standard room for a house industry sandals and shoes karet and some pattern spatial house business based on urban village community preference cikaret.The result of this research could be one of reference for public or government when is set to build or revitalization house industries in urban village cikaret.
DESAIN MASJID DI KECAMATAN TOMIA TIMUR KABUPATEN WAKATOBI PROVINSI SULAWESI TENGGARA DENGAN PRINSIP-PRINSIP ARSITEKTUR EKLEKTIK Muhammad Zakaria Umar; Masfan Agus
Vitruvian : Jurnal Arsitektur, Bangunan dan Lingkungan Vol 9, No 2 (2020)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (364.371 KB) | DOI: 10.22441/vitruvian.2020.v9i2.002

Abstract

ABSTRAKMasjid-masjid di Indonesia khususnya di Jawa juga tidak bebas dari pengaruh kebudayaan lokal. Hal ini disebabkan manusia Indonesia pada umumnya bersifat eklektik, maka bentuk masjid-masjid di Indonesia pun bergaya campuran sisa-sisa kebudayaan Hindu, bangunan-bangunan India, atau Turki. Saat ini kebudayaan Buton kembali direvitalisasi seperti bentuk atap Malige terdapat pada bangunan sekolah, pertokoan, dan perkantoran. Sedangkan bentuk masjid Keraton Buton dan rumah tradisional Buton Malige belum pernah diadaptasi menjadi alternatif bentukan masjid di Kota Baubau. Penelitian ini ditujukan untuk mendesain masjid skala kecamatan di Kelurahan Tongano Barat, Kecamatan Tomia Timur, Kabupaten Wakatobi dengan prinsip-prinsip arsitektur eklektik terhadap masjid Keraton Buton dan rumah tradisional Buton Malige. Penelitian ini menggunakan metode grounded theory dengan pendekatan kualitatif. Sumber data terdiri dari data primer dan data sekunder. Data dikumpulkan dengan cara observasi, wawancara, dan dokumentasi. Data dianalisis dengan cara data direduksi, disajikan, dan disimpulkan. Penelitian ini disimpulkan bahwa elemen-elemen arsitektural masjid di Kecamatan Tomia Timur, Kabupaten Wakatobi, Provinsi Sulawesi Tenggara yang dimodifikasi dari bangunan Masjid Agung tradisional Keraton Buton adalah denah masjid, jendela masjid, tangga eksterior masjid, dan fondasi masjid sedangkan dari rumah tradisional Buton Malige adalah rumah atap bersusun (Malige) serta masjid berbentuk rumah panggung. ABSTRACTMosques in Indonesia especially in Java are also not free from the influence of local culture. This is because Indonesian people are generally eclectic, so the form of our mosques are a mixture of remnants of Hindu culture, Indian buildings, or Turkey. Nowadays, Buton culture has been revitalized like the shape of the Malige roof on school buildings, shops, and offices. While the form of the Palace of Buton mosque and the traditional house of Buton Malige have never been adapted to be an alternative form of a mosque in the City of Baubau. This research is intended to design a sub-scale mosque in the West Tongano Village, Tomia Timur District, Wakatobi Regency with eclectic architectural principles towards the Keraton Buton mosque and the traditional house of Buton Malige. This study uses a grounded theory method with a qualitative approach. Data sources consist of primary data and secondary data. Data collected by observation, interview, and documentation. Data were analyzed by means of data reduced, presented, and concluded. This study concluded that the architectural elements of the mosque in Tomia Timur Subdistrict, Wakatobi Regency, Southeast Sulawesi Province which were modified from the traditional Great Mosque building of the Keraton Buton were mosque plans, mosque windows, mosque exterior stairs, and mosque foundations, while from the traditional houses of Buton Malige were a double-decker roof house (Malige) and a mosque on stilts.
PENGARUH GAYA HIDUP MILENIAL TERHADAP DESAIN ARSITEKTUR KAFE Vanessa Susanto; Muhammad Arif Mappe Amir; Muhammad Arkan Haqqi; Agus Suharjono Ekomadyo; Annisa Safira Riska
Vitruvian : Jurnal Arsitektur, Bangunan dan Lingkungan Vol 9, No 2 (2020)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (16.926 KB) | DOI: 10.22441/vitruvian.2020.v9i2.001

Abstract

ABSTRAKKafe menjadi salah satu tempat favorit untuk dikunjungi generasi milenial. Terdapat beberapa faktor yang memengaruhi generasi milenial dalam menentukan pilihan kafe yang akan dikunjungi, yakni aspek kenyamanan, pelayanan yang baik, harga yang terjangkau, variasi dan inovasi produk, keunikan menu, kelengkapan fasilitas, dan masukan teman. Dalam penelitian ini, Penulis ingin mencari tahu apakah gaya hidup milenial dengan preferensi penilaian akan aspek tersebut memiliki pengaruh pada desain arsitektural sebuah kafe, baik dari segi pensuasanaan, pencahayaan, hingga pengaturan ruang. Metode yang dipakai adalah penyebaran kuesioner kepada pengunjung dalam kategori milenial yang sedang berada di dalam kafe yang terpilih. Dari hasil analisis data, dapat disimpulkan bahwa desain arsitektural kafe memiliki pengaruh dalam menarik minat pengunjungnya terkhusus kaum milenial, sesuai dengan keunikan maupun branding yang ditawarkan pada setiap kafe. Selain itu, keunggulan utama setiap kafe terdapat pada aspek kenyamanan ruang sebagai modal utama pengelola kafe dalam membuat pengunjung betah kongko di dalam kafe. ABSTRACTCafes have become one of the favourite places that suits the lifestyle of current millennials. In choosing one to visit, millennials tend to select based on these aspects: comfortable place, good service, affordable price, varied products, complete facilities, unique menus, friend’s recommendation, reflecting social status, and innovative products. Our team is determined to find out whether this lifestyle affect these aspects that play a huge role in a café’s architectural design. In this journal, the method we chose to gather data is using a questionnaire we shared with millenials whilst visiting these cafes to find out whether the architectural design of a cafe has an impact with the overall scores of the aspects. Based on our analysis, we can conclude that the design of a cafe plays a role in getting visits from customers, especially millennials. It can be observed by the way the cafes brand itself or the uniqueness it share. Comfort becomes the key in attracting customers and making them feel at ease in cafes.

Page 1 of 1 | Total Record : 6