cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota lhokseumawe,
Aceh
INDONESIA
Teras Jurnal
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Social, Engineering,
Teras Jurnal is a journal that communicates the results of research within the scope of civil engineering and scientific development as well as aspects of practitioners. The process of manuscript submission is open throughout the year. All submitted manuscript will be screened with double-blind peer review and editorial review before they are accepted to publish. Teras Jurnal receives a manuscript from the following area below civil engineering science and development with the interdisciplinary and multidisciplinary approach:
Arjuna Subject : -
Articles 16 Documents
Search results for , issue "Vol 10, No 2 (2020): Volume 10 Nomor 2 September 2020" : 16 Documents clear
Keefektifan Penambahan Kapasitas Saluran dan Dinding Penahan Tanah pada Sungai Brantas Hulu di Kediri dalam Mitigasi Banjir Rian Mantasa Salve Prastica; Dhany Saputra Pratama; Muhammad Rizki Primasetya
TERAS JURNAL Vol 10, No 2 (2020): Volume 10 Nomor 2 September 2020
Publisher : UNIVERSITAS MALIKUSSALEH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/tj.v10i2.287

Abstract

Mitigasi banjir merupakan hal penting dilakukan pada wilayah terdampak bencana, misalnya saluran, sungai, drainase, dan lain-lain. Namun, perlu dilakukan penilaian terlebih dahulu agar mitigasi yang dilakukan bersifat efektif. Penelitian ini berfokus di Sungai Brantas bagian hulu di Kediri. Evaluasi pentingnya pelebaran saluran dan pembangunan dinding penahan tanah di kawasan tersebut perlu dilakukan karena dinilai tidak efektif. Penelitian ini menggunakan metode penelitian yang terdiri dari analisis banjir, analisis stabilitas lereng, dan evaluasi skenario baru yang diwacanakan pada saluran yang ditinjau. Berdasarkan hasil analisis hidrologi, pemodelan hidrolika menggunakan HEC-RAS, analisis stabilitas lereng menggunakan SLOPE/W, dan simulasi skenario baru menyimpulkan bahwa intervensi penambahan dimensi kapasitas saluran dan penambahan perkuatan lereng tidak efektif pada Sungai Brantas bagian hulu yang memiliki frekuensi kejadian banjir yang sedikit.
PROBABILITAS BANGKITAN PERJALANAN BERBASIS AKTIVITAS DARI KAWASAN PERUMAHAN DI KOTA KUPANG Oktovianus Edvict Semiun; Egidius Kalogo
TERAS JURNAL Vol 10, No 2 (2020): Volume 10 Nomor 2 September 2020
Publisher : UNIVERSITAS MALIKUSSALEH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/tj.v10i2.292

Abstract

Generally, trip generation is based on activities from the household. Each household member, of course, has different travel destinations in a household, there will be several trips that are caused by the activity. This study is aimed at determining the factors that influence the trip generation and predict the magnitude of trip generation originating from residential areas based on activities in Kupang city. Travel activities were divided into three categories i.e. work activities, school activities and other activities. Data collection was done by distributing questionnaires to 444 households through random sampling technique. Based on the calibration of the modelling results with multinomial logit regression analysis, the factors that significantly influence trip generation from residential areas were the number of family members who did activities, the average distance travelled and the average travel time. The probability of trip generation was predicted to be 55.48% for work activities, 25.61% for school activities and 18.90% for other activities.
ANALISIS PERKIRAAN KEBUTUHAN DAN TARIF AIR BERSIH UNTUK PELABUHAN PERIKANAN SAMUDERA(PPS) LAMPULO KOTA BANDA ACEH putri phara intan
TERAS JURNAL Vol 10, No 2 (2020): Volume 10 Nomor 2 September 2020
Publisher : UNIVERSITAS MALIKUSSALEH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/tj.v10i2.338

Abstract

Abstrak Penelitian ini dilakukan Oktober–Desember 2019 di Pelabuhan Perikanan Lampulo, kecamatan Kuta Alam, kota Banda Aceh, Provinsi Aceh, bertujuan untuk mengetahui tingkat kebutuhan air bersih, jumlah tarif air bersih dan strategi pelayanan air bersih, dibatasi pada 3 unit kegiatan yaitu unit penangkapan, perkantoran dan pabrik es, menggunakan metode studi kasus dan analisis deskriptif kuantitatif. Dari hasil penelitian diketahui perkiraan kebutuhan air bersih pada unit penangkapan perhari/trip secara aktual sebesar 500-1.000 liter/trip untuk jenis kapal One Day Fishing 1-2 hari perjalanan, namun secara teoritis untuk jenis kapal ini membutuhkan 1.125 liter/trip dengan perhitungan konsumsi ABK 50 liter/orang/trip. Kebutuhan air bersih untuk semua jenis kapal dalam rangkaian aktifitas penangkapan ikan sebesar 117.900 liter/trip dalam kurun waktu sebulan aktifitas melaut dilakukan sebanyak 3 kali perjalanan dikarenakan untuk kapal>6 GT menempuh perjalanan 6-10 hari perjalanan. Saat ini untuk unit kegiatan perkantoran dan pabrik es adanya sumur bor yang dapat membantu aktifitas perhari, namun unit perkantoran di lingkungan PPS Lampulo membutuhkan air bersih sebesar 460 liter/hari dengan perhitungan konsumsi penggunaan air sebanyak 30 liter/orang/hari. Untuk unit kegiatan pabrik es membutuhkan air bersih dalam proses pembuatan Es Balok  sebesar 115.500 liter/hari. Dalam penelitian ini dapat diketahui tarif air bersih yang memadai untuk memenuhi kebutuhan pelaku PPS Lampulo dengan harga Rp. 4.200/m3 namun harga tersebut memiliki kenaikan di tahun terakhir ini sesuai dengan kebijakan Peraturan Walikota Banda Aceh Nomor 15 Tahun 2017 tentang Penyesuaian Kelompok Pelanggan dan Tarif Air Minum. Dengan adanya Analisis SWOT diperoleh strategi peningkatan pelayanan dan peningkatan sarana serta prasarana di Pelabuhan Perikanan Samudera Lampulo, sehingga akan menimbulkan mobilisasi nelayan yang melakukan aktivitas bongkar muat. Kata kunci: PPS Lampulo, Pelayanan, Kebutuhan Air Bersih, Tarif Air Bersih, Analisis SWOT.  Abstract This research was conducted in October- December 2019 at the Lampulo Fishery Port, Kuta Alam District, Banda Aceh City, Aceh Province, the aims to determine the level of clean water needs, the amount of clean water rates and clean water service strategies in Lampulo PP, limited to 3 activity units namely the fishing unit, offices and ice factories. This research uses the case study method and quantitative descriptive analysis. From the results of the study can be known estimated clean water needs in the capture unit per day / trip actually requires 500-1,000 liters / trip for the type of One Day Fishing ship 1-2 days trip. However, theoretically for this type of ship requires 1,125 liters / trip with the calculation of ABK consumption of 50 liters / person / trip. Clean water needs for all types of vessels in a series of fishing activities amounted to 117,900 liters / trip within a period of one month to sea activities carried out as many as 3 trips due to ships> 6 GT traveling 6-10 day trips. At present for the Office and Ice Factory activity units there are boreholes that can help with daily activities, however the Office Unit in the Lampulo PPS environment requires clean water of 460 liters / day with the calculation of consumption water usage of 30 liters / person / day. Whereas the Ice Factory activity unit requires clean water in the process of making Beams of Ice at 115,500 liters / day. In this research, it can be known that the Clean Water Tariff is adequate to meet the needs of Lampulo PPS actors at a price of Rp. 4,200 but the price has increased this past year in accordance with the policies of the Banda Aceh Mayor Regulation No. 15 of 2017 concerning Adjustment of Customers Groups and Drinking Water Rates. With the SWOT Analysis, it is obtained a strategy of service improvement and improvement of facilities and infrastructure at Lampulo Ocean Fisheries Port, so as it will lead to mobilization of fishermen who carry out loading and unloading activities. Keywords: Lampulo PPS, Services, Clean Water Needs, Clean Water Rates, SWOT Analysis.
EVALUASI TINGGI EMBANKMENT JALAN PADA TANAH LUNAK DIPERKUAT GEOTEXTILE DAN FONDASI CERUCUK Suyuti Suyuti
TERAS JURNAL Vol 10, No 2 (2020): Volume 10 Nomor 2 September 2020
Publisher : UNIVERSITAS MALIKUSSALEH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/tj.v10i2.320

Abstract

Abstrak Kalimantan memiliki daratan rendah tanah lunak mencapai kedalaman 25 m. Tanah lunak memiliki kapasitas dukung rendah dan deformasi besar untuk menopang beban-beban. Infrastruktur seperti embankment untuk konstruksi jalan di atas tanah dasar lunak, biasanya direncanakan dengan suatu tinggi rencana, meskipun embankment untuk konstruksi jalan sering runtuh akibat lemahnya kekakukan tanah dasar tersebut. Ada beberapa pedoman teknik telah dipublikasikan bagaimana cara membangun embankment di atas tanah lunak, tetapi pedoman tersebut hanya menunjukkan prosedur kerja konstruksi, di mana ujung pangkal fondasi cerucuk seperti kayu atau bambu adalah diikat dengan cara konvensional. Konstruksi embankment harus memenuhi untuk kriteria stabilitas dan penurunan. Penelitian ini untuk pemenuhan persyaratan stabilitas seperti faktor keamanan embankment dihubungkan dengan kapasitas dukung tanah lunak dengan perkuatan untuk mengevaluasi tinggi embankment disediakan dengan beberapa formula empiris berdasarkan aturan geoteknik. Hasil simulasi perhitungan diperoleh tinggi embankment kritis Hcr sebesar 1,06 m untuk kohesi tanah cu sebesar 11,5 kN/m2 dan Hcr sebesar 1,70~1,73 m untuk kohesi cu sebesar 17,5 kN/m2 dengan fondasi cerucuk berjarak s sebesar 10D. Variasi susunan cerucuk berjarak s of 3,3D memberikan nilai signifikan kapasitas dukung batas dan konstruksi embankment lebih tinggi, hal ini adalah tidak memberikan nilai signifikan oleh indeks plastisitas tanah. Kata kunci: tinggi embankment, tanah lunak, geotextile, fondasi cerucuk  Abstract Kalimantan island has lowlands of soft soil in down depth 25 m. The soft soil has low bearing capacity and large deformation to support loads. Infrastructure such as embankment for road construction on the soft soil, it is usually planned by a height target. However, the embankment for road construction is often collapsed due to weak stiffness of soil subgrade. Therefore, the local government has been used geotextile and installed timber pile for reinforcing the soft soil.  There are several technique guidelines published how to build embankment on soft soil, but that guidelines are only shown the prosedure for working the construction. The soft soil installed timber pile perior to lay geotextile and construct an embankment. Where the top of cerucuk foundation such as timber or bamboo is tied by conventional system. The embankment construction have to satisfy for stability and settlement criteria. In this research, the stability requirement such as factor of safety of embankment is conducted by bearing capacity of soft soil with reinforcement to evaluated a critical height of its embankment, which is provided by several empirical formula based on rule of geotechnics. The simulation results were obtained critical height of embankmentt Hcr of 1,06 m for soil cohesion cu of 11,5 kN/m2 and Hcr of1,70 ~ 1,73 m for cohesion cu of 17,5 kN/m2 with cerucuk foundation on spacing s of 10D. Variation of rearrange of cerucuk spacing s of 3,3D are given significant values of ultimate bearing capacities, and more heighly of embankment construction, it is not given a significant value by plasticity index of soil. Keywords: Embankment height, soft soil, geotextile, cerucuk foundation
PREFERENSI MASYARAKAT TERHADAP ASPEK TEKNIS PENGELOLAAN SAMPAH DI KOTA BANDA ACEH Fitri Muliani
TERAS JURNAL Vol 10, No 2 (2020): Volume 10 Nomor 2 September 2020
Publisher : UNIVERSITAS MALIKUSSALEH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/tj.v10i2.339

Abstract

Abstrak Pengelolaan sampah merupakan kegiatan yang sistematis dan menyeluruh yang harus diimbangi oleh pemerintah serta masyarakat sebagai pelaku penghasil sampah. Secara umum penghasil sampah perkotaan terbesar adalah sektor rumah tangga selaku wadah yang menampung segala aktifitas dinamis masyarakat. Kota Banda Aceh yang dihuni 65.288 Kepala Keluarga (KK) menghasilkan sampah 76,4 m3 sampah rumah tangga pada setiap tahunnya. Tujuan penelitian untuk mengetahui bagaimana keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan sampah rumah tangga yag diukur dengan preferensi masyarakat. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yang bersifat kualitatif yang bertumpu pada pengumpulan data primer dan data sekunder. Rancangan penelitian menggunakan metode Stratified Proposional Random Sampling dan analisis Multidimensional Scaling untuk mendeskripsikan fenomena pengelolaan sampah rumah tangga di Kota Banda Aceh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan data preferensi terhadap keterlibatan masyarakat terbesar berada pada aspek pewadahan yaitu 56%. Selanjutnya diikuti oleh aspek pengangkutan yaitu 48%. Kemudian disusul oleh aspek pengumpulan 47% dan yang terakhir ditempati oleh pengelolaan sampah berbasis komunal 45% dan tempat pemprosesan akhir 42%. Kata Kunci: Pengelolaan Sampah, Rumah Tangga, Preferensi, Analisis Multidimensional Scaling. Abstract Solid waste management is a systematic and comprehensive that must be carried out by the government and the community as the producers of waste. Generally, the household is the biggest producer of manucipal where the dynamic activities community done. Banda Aceh, which inhabited by 65,288 of the family (KK) produces 76.4 m3 of household waste every year. The objective is this research is to find out the community involvement in municipal solid waste management thoroughout measuring community preferences. Descriptive qualitative research relies on primary and secondary data collection. This study design used Stratified Proposional Random Sampling method and Multidimensional Scaling analysis to describe the phenomenon of household waste management in Banda Aceh. The results showed community involvement in the landfill technical management aspects is 56%, the transportation aspects is 48.3%, collection 47%, the communal solid waste management aspects is 45% and landfill management aspects is 42%. Keywords: Waste Management, Household, Preference, Analisis Multidimensional Scaling
PENGARUH PENGGUNAAN AIR SUHU EKSTRIM SEBAGAI BAHAN PEMBENTUK BETON YANG DITAMBAHKAN ADMIXTURES TERHADAP KUAT TEKAN BETON Teuku Budi Aulia
TERAS JURNAL Vol 10, No 2 (2020): Volume 10 Nomor 2 September 2020
Publisher : UNIVERSITAS MALIKUSSALEH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/tj.v10i2.318

Abstract

Abstrak Perubahan iklim sebagai pemicu pemanasan global merupakan fenomena yang sudah terjadi selama beberapa dasawarsa terakhir. Penggunaan beton sebagai material konstruksi terus meningkat, hampir 60% infrastruktur ketekniksipilan di dunia dibangun menggunakan beton. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pengunaan air bersuhu ekstrim sebagai bahan campuran beton yang ditambahkan admixtures, yaitu accelerator (Sika Cim) dan retarder (Plastiment RTD-01) terhadap kuat tekan beton untuk menghasilkan beton dengan mutu optimal. Air yang digunakan adalah air panas (100˚C), air dingin (10˚C), dan air suhu normal (23˚C). Persentase accelerator dan retarder yang dipakai adalah 0%; 0,25%; 0,50% dan 0,75% dari berat semen dengan faktor air semen (FAS) 0,35; 0,40 dan 0,45. Benda uji silinder standar 15/30 cm berjumlah 135 buah dibuat berdasarkan variasi FAS dan persentase admixtures, masing-masing perlakuan 5 benda uji pada umur pengujian 28 hari. Hasil penelitian menunjukkan beton dengan campuran air suhu ekstrim yang ditambahkan accelerator dan retarder dapat mempengaruhi kuat tekan beton bila dibandingkan dengan beton tanpa menggunakan admixtures. Kuat tekan beton untuk campuran air dingin mengalami peningkatan tertinggi pada FAS 0,35; 0,40 dan 0,45 pada penambahan accelerator 0,25% sebesar 0,119%; 1,226% dan 2,314% dibandingkan campuran air suhu normal tanpa accelerator; sedangkan untuk campuran air panas mengalami peningkatan kuat tekan tertinggi pada FAS 0,35; 0,40 dan 0,45 dengan penambahan retarder 0,25% sebesar 10,345%; 16,076% dan 23,471% bila dibandingkan dengan campuran air suhu normal tanpa penambahan retarder. Analisis varian menunjukkan bahwa penggunaan air suhu ekstrim dengan penambahan admixture mempunyai pengaruh signifikan terhadap kuat tekan beton pada setiap persentase admixtures dengan nilai optimum dicapai pada persentase 0,25%. Kata kunci: Kuat tekan beton, air suhu ekstrim, admixtures, accelerator, retarder Abstract Climate change as a trigger for global warming is a phenomenon that has been occurring in recent decades. The use of concrete as a construction material has been increasing, almost 60% of the world's civil-engineering infrastructures are made of concrete. The aim of this study is to find out the effect of extreme water temperature as mixing water in concrete which is added by admixtures, i.e., accelerator (SikaCim) and retarder (Plastiment RTD-01) on concrete compressive strength and to obtain its optimum value. Water used was hot water (100°C), cold water (10°C), and normal temperature water (23°C). Accelerator and retarder used were 0%; 0.25%; 0.50% and 0.75% by cement weight with w/c-ratio 0.35; 0.40; and 0.45. The specimens were a standard 15/30 cylinder totaling 135 specimens based on variation of w/c-ratio and percentage of admixtures, each variation has 5 specimens and was tested at 28 days. The results showed that extreme water temperature in concrete using accelerator and retarder affected concrete compressive strength compared to normal concrete without admixtures. The highest increase of compressive strength using both cold water and hot water of w/c-ratio 0.35; 0.40; and 0.45 were at 0.25% of admixtures. They were 0.119%; 1.226% and 2.314% for cold water respectively compared to normal mixing water temperature without accelerator, while for hot water were 10.345%; 16.076% and 23.471% respectively compared to normal mixing water temperature without retarder. Varian analysis showed that extreme temperature of concrete mixed water using admixtures has a significant effect of concrete compressive strength at each percentage admixtures with the optimum value reached at 0.25%. Keywords: concrete compressive strength, extreme water temperature, admixtures, accelerator, retarder
ANALISA PERILAKU SAMBUNGAN BALOK-KOLOM SESUAI PBI 1971 TERHADAP BEBAN SIKLIK DELFIAN MASRURA
TERAS JURNAL Vol 10, No 2 (2020): Volume 10 Nomor 2 September 2020
Publisher : UNIVERSITAS MALIKUSSALEH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/tj.v10i2.340

Abstract

Abstrak Kolom dan balok adalah komponen struktur utama yang berfungsi menyangga beban struktur lainnya untuk sebuah bangunan. Daerah pada sambungan (joint) balok-kolom harus didesain dengan akurat sehingga mampu menyebarkan energi yang diterima dengan baik pada saat terjadi gempa. Sebagai komponen struktur dengan peran dan fungsi tersebut, kolom dan balok menempati posisi penting dalam bangunan. Kemampuan joint balok kolom untuk berdeformasi terhadap beban siklik dapat memberikan struktur yang baik. Kegagalan joint balok-kolom berpengaruh langsung pada komponen struktur lain yang berhubungan dengannya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempelajari kemampuan struktur bangunan pada elemen joint balok kolom dalam menahan beban siklik sesuai dengan peraturan PBI 1971. Benda uji yang dibuat adalah benda uji dengan panjang penyaluran tulangan tidak berkait sesuai PBI 1971, dengan mutu beton 23,02 MPa. Balok berukuran 120 x 30 x 40 cm dan kolom berukuran 30 x 30 x 200 cm menggunakan tulangan 8Ø14 mm dengan tegangan leleh (fy) 310,03 MPa dan tulangan sengkang Ø10-100 mm dengan tegangan leleh (fy) 374,59 MPa. Pengujian dilakukan dengan memberikan beban siklik di ujung balok dengan pembebanan 2,5 ton; 5 ton; 7,5 ton dan monotonik yaitu beban hingga benda uji hancur. Hasil yang dicapai pada penelitian ini adalah sambungan balok kolom yang berdasarkan PBI 1971 mampu menahan kapasitas beban siklik sampai dengan 7,47 tf untuk beban tekan dan 5,19 tf untuk beban tarik pada displacement 24 mm. Kata Kunci:  Sambungan Balok-Kolom, PBI 1971, Beban Siklik.  Abstract Columns and beams are the main structural components that serve to support the burden of other structures for a building. The beam-column area’s must be designed accurately in order to be able to distribute the received energy properly when an earthquake occurs. Columns and beams occupy important positions in buildings as structural components with these roles and functions. The ability of column-beam joints to deform cyclic loads provides a good structure. The beam-column joint failure has a direct effect on other structural components associated with it. The purpose of this study was to study the ability of building structures on beam-column joint elements in holding cyclic loads in accordance with PBI 1971. The specimen was created with length of unbalanced reinforcement distribution in accordance with PBI 1971, with 23.02 MPa of concrete quality. Beams measuring 120 x 30 x 40 cm and columns measuring 30 x 30 x 200 cm using reinforcement 8Ø14 mm with melting stress (fy) 310.03 MPa and stirrup reinforcement Ø10-100 mm with melting stress (fy) 374.59 MPa. The test is carried out by giving cyclic load to the end of the beam with a load of 2.5 tf; 5.0 tf; 7.5 tf; and monotonic that is the load until the test object is destroyed. The results achieved in this study as the specimen is able to hold the maximum load 7.47 tf to pressure loads and 5.19 tf to strain loads in the displacement of 24 mm Keywords: Joint Beam-Column, PBI 1971, Cyclic Load.
IMPLEMENTASI MANAJEMEN FASILITAS KONSTRUKSI SEMENTARA PADA PROYEK PEMBANGUNAN RUMAH SAKIT EDELWEISS DI KOTA BANDUNG Gabriella Laurencia Liman; Yohanes Lim Dwi Adianto; Mia Wimala
TERAS JURNAL Vol 10, No 2 (2020): Volume 10 Nomor 2 September 2020
Publisher : UNIVERSITAS MALIKUSSALEH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/tj.v10i2.295

Abstract

AbstrakKeberadaan fasilitas sementara yang dapat berkontribusi pada keberhasilan proyek konstruksi sering diabaikan di Indonesia. Hal ini ditunjukkan dengan tidak adanya standar dan pedoman yang mengatur secara khusus tentang fasilitas tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan manajemen fasilitas sementara pada proyek pembangunan rumah sakit (RS) Edelweiss di Bandung, termasuk mengidentifikasi ukuran dan spesifikasi serta memperkirakan biaya total fasilitas sementara. Data penelitian diperoleh melalui wawancara tidak terstruktur, observasi dan pengukuran di lapangan, serta studi dokumentasi. Kombinasi analisis kualitatif dan kuantitatif dilakukan untuk memeriksa secara rinci manajemen fasilitas sementara di proyek ini. Estimasi biaya dilakukan untuk merumuskan biaya fasilitas sementara yang telah dan perlu disediakan oleh kontraktor. Selanjutnya, perbandingan estimasi biaya menggunakan harga penawaran kontraktor dan analisis harga satuan dari standar pemerintah juga dilakukan untuk menentukan perbedaan antara keduanya sebagai referensi penggunaan di masa depan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan manajemen fasilitas sementara di konstruksi RS Edelweiss masih belum efektif. Penambahan yang signifikan dalam biaya fasilitas sementara hingga 295,23% disebabkan karena perencanaan yang belum memadai, serta perbedaan koefisien material dan pekerja, pemilihan material, besaran upah tenaga kerja, dan harga material yang digunakan dalam perhitungan. Kata kunci: fasilitas sementara, anggaran biaya, spesifikasi, standar ukuran  AbstractThe existence of temporary construction facilities that could contribute to the success of construction projects is often neglected in Indonesia. It is indicated by the absence of standards and guidelines that govern, specifically these facilities. This research aims to analyze the implementation of temporary facility management in the construction of Edelweiss hospital in Bandung. This includes identifying the size and specification and estimating the costs of temporary facilities. Data obtained through unstructured interviews, site observations and measurements, as well as documentation studies. Mixed method analysis was used to examine in detail the conditions related to on-site temporary facility management. Cost estimation was carried out to formulate the costs that have been and need to be provided by the contractor. Furthermore, a comparison of cost estimation using contractor bid prices and unit price analysis from the government standard was also conducted to determine the difference between the two as a reference for future use. The results show that the implementation of temporary facility management in Edelweiss hospital construction was still ineffective. The significant increase in the cost up to 295.23% was due to inadequate planning, and differences in material and worker coefficients, material selection, labor wage rates, and material prices used in the calculation. Keywords: temporary construction facility, cost budget, specification, standard size Sustainability     Department of Civil Engineering     Laurencia 
Studi Material Tanah Longsor Akibat Gempa Lombok 2018 Muhammad Nurjati Hidayat
TERAS JURNAL Vol 10, No 2 (2020): Volume 10 Nomor 2 September 2020
Publisher : UNIVERSITAS MALIKUSSALEH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/tj.v10i2.330

Abstract

Abstrak Pada umumnya, tanah longsor terjadi dengan skala yang kecil dan dampak yang dihasilkan tidak parah sebagaimana letusan gunung berapi, gempa atau tsunami. Namun, perhatian terhadap bencana ini seringkali diabaikan oleh masyarakat dan perencanaan pembangunan kota. Ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan dalam meneliti tanah longor, salah satunya adalah mineral tanah. Dalam studi ini, sampel tanah diambil dari Lombok Utara akibat dari gempa Lombok 2018. Penelitian ini dilakukan dengan mengelompokkan tanah berdasarkan USCS dan AASTHO, kemudian dilanjutkan dengan analisis mineralogi menggunakan XRD (X-Ray Diffraction) dan SEM (Scanning Electron Microscope). Berdasarkan klasifikasi USCS, tanah termasuk kategori pasir berlanau dan campuran lanau (SM); dan lempung anorganik dengan plastisitas rendah sampai sedang, lempung berkerikil, lempung berpasir, lempung berlanau, lempung kurus (lean clays). Pada klasifikasi AASHTOO, hasilnya adalah tanah berlanau (A-4); kerikil dan pasir yang berlanau atau berlempung (A-2-4); dan pasir halus (A-3). Berdasarkan hasil mineralogi menggunakan XRD dan SEM, material utama pada sampel tanah adalah Albite Calcian, Microline and Kuarsa. Kata kunci: longsor, mineralogi, XRD, SEM  Abstract Landslides generally occur on a small scale and the impact is not as severe as volcanic eruptions, earthquakes, or tsunamis. However, attention to these disasters is often ignored by the community and city development planning. In assessing the factors causing landslides there are many factors that need to be considered, one of which is soil minerals. The samples of soil in this study were taken from North Lombok as a result of the 2018 earthquake. This research is conducted by classifying the soil based on USCS and AASHTO, then proceed with mineralogical analysis using XRD (X-Ray Diffraction) and SEM (Scanning Electron Microscope). Based on USCS classification, the result of the analysis shows that soil samples have a classification of silty sand, and silt mixtures (SM); and inorganic clays or low to medium plasticity, gravelly clays, sandy clays, silty clays, lean clays (CL). For AASHTO classification, the result shows the sample belong to silty soil (A-4), silty or clayey gravel sand (A-2-4) and fine sand (A-3). Based on the results of mineralogical analysis using XRD and SEM, it is known that the dominant minerals making up the soil in the sample are Albite Calcian, Microline and Quartz Keywords: landslide, mineralogy, XRD, SEM
Analisis Perubahan Tata Guna Lahan Terhadap Debit Banjir Sub-Sub DAS Keyang-Slahung-Tempuran (KST) M. Khuzaimy Rurroziq Basthoni
TERAS JURNAL Vol 10, No 2 (2020): Volume 10 Nomor 2 September 2020
Publisher : UNIVERSITAS MALIKUSSALEH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/tj.v10i2.309

Abstract

Abstrak Perubahan tata guna lahan mempengaruhi puncak debit banjir pada suatu DAS. Setiap tahunnya, Kota Ponorogo dilanda bencana banjir pada saat musim penghujan tiba. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh perubahan tata guna lahan terhadap puncak debit banjir di sub-sub DAS Keyang-Slahung-Tempuran dengan menggunakan program bantu SWAT (Soil and Water Assessment Tool). Hasil penelitian menunjukan bahwa perubahan tata guna lahan berdampak pada peningkatan puncak debit banjir. Puncak debit banjir tertinggi terjadi pada tanggal 12 Maret 2018, dengan luas hutan 29,55% (tata guna lahan tahun 2015) menghasilkan puncak debit banjir 573,70 m3/s. Pada waktu dan penggunaan data curah hujan yang sama, puncak debit banjir terendah terjadi saat luas hutan 31,07% (tata guna lahan tahun 1990) yaitu 572,50 m3/s. Berdasarkan kondisi existing tata guna lahan saat ini, masih terjadi banjir sehingga diperlukan skenario pola tata guna lahan. Skenario tiga merupakan pola tata guna lahan yang optimal, dengan luasan hutan 45,37% menghasilkan puncak debit banjir 563,50 m3/s  (siaga normal). Kata kunci: puncak debit banjir, skenario, sub-sub DAS Keyang-Slahung-Tempuran, SWAT, tata guna lahan  Abstract Land-use change impacts the peak of flood discharge on a watershed. Every year, Ponorogo was hit by a flood during the rainy season. This research aims to analyze the impact of land-use change to the peak of flood discharge in sub-sub watersheds Keyang-Slahung-Tempuran using SWAT (Soil and Water Assessment Tool). The result shows that land-use change has an impact on increasing the peak of flood discharge. The highest peak of flood discharge occurred on March 12, 2018, with a forest cover 29.55 % (land-use in 2015)  has a peak of flood discharge 573.70 m3/s. At the same time and use of the same rainfall data, the lowest peak of flood discharge occurred when 31.07 % of forest cover (land-use in 1990) was 572.50 m3/s. Based on the existing condition of land-use, floods are still occurring so a land-use scenario is needed. Scenario three is the optimal land-use, with a forest cover 45.37 % obtained a peak of flood discharge 563.50 m3/s (normal alert). Keywords: peak of flood, scenario, sub-sub watersheds of Keyang-Slahung-Tempuran, SWAT, land-use

Page 1 of 2 | Total Record : 16