cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota yogyakarta,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Arsitektur KOMPOSISI
ISSN : 14116618     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Jurnal Arsitektur KOMPOSISI adalah wadah menghimpun dan mengkomunikasikan hasil-hasil penelitian dan konsep-konsep ilmiah serta pengetahuan dalam bidang arsitektur dan lingkungan buatan berwujud artikel yang ditulis berdasarkan penelitian: artikel hasil penelitian, artikel tentang ide-ide (gagasan konseptual), tinjauan tentang proses penelitian, tinjauan buku-buku baru, paparan tokoh arsitek dan pemikirannya, serta karya ilmiah lain yang berhubungan dengan fenomena arsitektur.
Arjuna Subject : -
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 10, No 5 (2014): Jurnal Arsitektur KOMPOSISI" : 5 Documents clear
TATA BANGUNAN PADA JALAN DI.PANJAITAN DAN JALAN ALI MAKSUM DI YOGYAKARTA Sanitha, Onie Dian
Jurnal Arsitektur Komposisi Vol 10, No 5 (2014): Jurnal Arsitektur KOMPOSISI
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1172.515 KB) | DOI: 10.24002/jars.v10i5.1090

Abstract

Abstract: Building composition is tightly related with functions and activities of users, so it should be able to give expression and information through elements of building. The corridor of  DI. Panjaitan and Ali Maksum’s street has a historical value as special image of the city in Yogyakarta. The purpose of this research is to identify and evaluate the condition of building through the comparison the results through identification with rules of government regulation. Data will obtained through field observations and evaluated in accordance with Government direction to know detail the extent to which a building can be setup to follow government directives and the extent of D.I. Panjaitan and Ali Maksum’s street are capable of expressing the meaning of a historical road that traversed with imaginary axis.Keywords: Identification, evaluation, comparison, building composition, the expressionAbstraksi: Tata bangunan erat kaitannya dengan fungsi dan kegiatan pengguna, sehingga mampu memberi ekspresi dan informasi melalui elemen-elemen sebuah bangunan. Koridor Jalan D.I. Panjaitan dan Ali Maksum di Yogyakarta memiliki nilai historis sebagai pembentuk citra istimewa Kota Yogyakarta. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi dan mengevaluasi kondisi tata bangunan melalui perbandingan hasil identifikasi dengan aturan regulasi pemerintah. Data diperoleh melalui pengamatan lapangan dan dievaluasi sesuai dengan detail arahan pemerintah untuk mengetahui sejauh mana penataan bangunan dapat mengikuti arahan pemerintah dan sejauh mana koridor Jalan D.I. Panjaitan dan Ali Maksum mampu mengekspresikan makna historis sebuah jalan yang dilalui sumbu imajiner Yogyakarta.Kata Kunci: Identifikasi, evaluasi, perbandingan, tata bangunan, ekspresi
PEMANFAATAN RUANG PUBLIK SEBAGAI WADAH TRANSAKSI KULINER PADA LURUNG KAMPUNG PAJEKSAN – JOGONEGARAN, YOGYAKARTA Nurhadi, Septi Kurniawati
Jurnal Arsitektur Komposisi Vol 10, No 5 (2014): Jurnal Arsitektur KOMPOSISI
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (533.913 KB) | DOI: 10.24002/jars.v10i5.1100

Abstract

Abstract : Pajeksan and Jogonegaran kampongs are located in central city of Yogyakarta, while the lurung Pajeksan – Jogonegaran kampongs is the border as well as the main axis for the people living that are currently evolving as the houses for workers in the Malioboro area. The beneficial usage of the lurung has grown as the fulfillment of the people’s need for food. The usage is increasing and posing an intervention on the lurung space. This research is aimed to discover the use and the influence of culinary transaction space, culinary activity and form of element transaction space in the community of lurung Pajeksan - Jogonegaran kampongs. This is done by using the Behavior mapping. The result of identifying and analyzing is use to obtain the special characteristic that happen in the society so that they are able to keep their existence. The usage patterns of public space as the culinary transaction space in lurung Pajeksan - Jogonegaran kampongs is linier and it follows the shape of an elongated lurung with the greatest usage occurs at the junction of the driveway towards the kampongs. The usage of the lurung is directly related to the aspect of environment, neighborhood, and economic aspectKeyword : Lurung Pajeksan – Jogonegaran,The Usage of Lurung, and Culinary Transaction Space Abstrak: Kampung Pajeksan dan Jogonegaran merupakan dua kampung yang terletak di pusat kota Yogyakarta, sedangkan lurung kampung Pajeksan – Jogonegaran merupakan batas sekaligus menjadi poros utama kehidupan warga yang saat ini kampung tersebut berkembang sebagai hunian bagi pekerja di kawasan Malioboro. Pemanfaatan lurung berkembang sebagai pemenuhan kebutuhan pangan warga kampung. Pemanfaatan tersebut kian meningkat dan menimbulkan intervensi ruang pada badan lurung. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pemanfaatan dan pengaruh wadah transaksi kuliner, aktivitas kuliner serta elemen pembentuk wadah transaksi yang dilakukan masyarakat pada lurung kampung Pajeksan–Jogonegaran. Hal tersebut dilakukan dengan menggunakan metode Behavior mapping. Hasil identifikasi dan analisis tersebut digunakan untuk memperoleh kekhasan yang terjadi dalam masyarakat sehingga dapat mempertahankan keberlangsungannya. Pola pemanfaatan ruang publik sebagai wadah transaksi kuliner yang terdapat pada lurung kampung Pajeksan – Jogonegaran berbentuk linier memanjang yang mengikuti bentuk lurung dengan pemanfaatan terbesar terjadi pada persimpangan menuju jalan masuk kampung. Pemanfaatan tersebut tidak terlepas dari aspek lingkungan,ketetanggaan,dan ekonomi.Kata Kunci: Lurung kampung Pajeksan - Jogonegaran, Pemanfaatan lurung, dan Wadah Transaksi Kuliner.
SAWITRI (Sampah Wisata Pentingsari): MODEL PENGELOLAAN SAMPAH AKTIVITAS WISATA DESA PENTINGSARI, YOGYAKARTA Vitasurya, Vincentia Reni
Jurnal Arsitektur Komposisi Vol 10, No 5 (2014): Jurnal Arsitektur KOMPOSISI
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1051.375 KB) | DOI: 10.24002/jars.v10i5.1092

Abstract

Abstract: The development of agriculture-based village into a tourist village is an interesting phenomenon to study in continuity to see the wisdom of local communities to improve the welfare of rural communities. Sustainable tourism in rural areas has significance for developing rural village-based tourism on the natural environment, that rely on an agrarian lifestyle as one tourist attraction but has a greater economic value than before. In the example Pentingsari village, it appears that there are forces in the village which causes people to continue to attract tourists to visit and while still preserving the agrarian life. The existence of tourist activity would leave traces that need to be observed of which is waste. This paper is part of research on empowerment model tourist village and tried to explore how people attempt to manage the impact of waste, so that it can preserve the environment as part of a tourist attraction. The method used is to conduct in-depth interviews and observations of daily people doing tourist activities. The expected result is to know how much waste is generated as a result of garbage tourist activity and how people attempt to cope with these problems. This result can be a model of environmental conservation that can be used for the development of rural tourism in the futureKeywords: waste management model, rural tourism, environmental conservation, rural tourism.Abstrak: Perkembangan desa berbasis agraris menjadi desa wisata merupakan fenomena menarik yang perlu diteliti secara berkelanjutan untuk melihat kearifan lokal yang dapat mensejahterakan masyarakat pedesaan. Pariwisata berkelanjutan di pedesaan memiliki makna mengembangkan kawasan pedesaan menjadi desa wisata yang berbasis pada kelestarian lingkungan alamiah yang mengandalkan gaya hidup agraris sebagai salah satu atraksi wisatanya, namun memiliki nilai ekonomis yang lebih besar dari sebelumnya. Pada contoh desa Pentingsari terlihat adanya kekuatan di desa tersebut yang menyebabkan masyarakat dapat terus menarik minat wisatawan untuk berkunjung dan sekaligus tetap melestarikan kehidupan agrarisnya. Keberadaan aktivitas wisata tentu meninggalkan jejak yang perlu dicermati diantaranya adalah limbah sampah. Tulisan ini merupakan bagian dari penelitian tentang model pemberdayaan desa wisata dan mencoba menggali bagaimana upaya warga untuk menanggulangi dampak sampah sehingga dapat menjaga kelestarian lingkungan sebagai bagian dari atraksi wisata. Metode yang dipergunakan adalah dengan melakukan observasi dan in depth interview dari keseharian warga melakukan aktivitas wisata. Hasil yang diharapkan adalah mengetahui berapa besar limbah sampah dihasilkan sebagai dampak aktivitas wisata dan bagaimana upaya warga untuk menanggulangi permasalahan tersebut. Hasil ini dapat menjadi model pelestarian lingkungan yang dapat dimanfaatkan untuk pengembangan desa wisata dimasa yang akan datang.Kata kunci: model pengelolaan sampah, desa wisata, pelestarian lingkungan, wisata pedesaan
IDENTIFIKASI UNSUR-UNSUR STRUKTUR RUANG KOTA YOGYAKARTA YANG MENDUKUNG FUNGSI PASAR TRADISIONAL BERINGHARJO Octavia, Aurelia Maria; Herliana, Emmelia Tricia
Jurnal Arsitektur Komposisi Vol 10, No 5 (2014): Jurnal Arsitektur KOMPOSISI
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1031.4 KB) | DOI: 10.24002/jars.v10i5.1093

Abstract

Abstract: Yogyakarta has several traditional markets, one of which is Beringharjo. This market has been long established in conjunction with the construction of the Sultan Palace and became the economic center in the city of Yogyakarta. Beringharjo located on Jenderal Ahmad Yani street which is the trade area. The purpose of this study is to investigate and understand the elements of the spatial structure of Yogyakarta which support functions as well as to understand and decipher the links between these elements in creating an environment that supports the function of Beringharjo market. Object of observation is a function of the mass and shape of the building is to be around Beringharjo, pedestrian and vehicle lanes to be around Beringharjo Traditional Market, and the types of public transportation are located around Beringharjo Traditional Market. The method used is the observation, and literature. Figure ground theory is used to analyze the function and mass building around Beringharjo. Linkage theory is used to classify characters based on the function and activity, whereas the comparison between theory building height and street width to analyze the convenience of road space for pedestrians. The results of this study are character functions and activities along Jendral Ahmad Yani street can be divided into three segments, that is opening, core and cover. Based on the distribution of the three segments, figure ground analysis that shows the shape and composition of mass transportation lines shows that the public transportation network, namely the Trans Jogja stop there on the third segment. The existence of Trans Jogja buses as public transportation support functions and activities that take place on Jendral Ahmad Yani street, who also supports the sustainability of activities in Beringharjo. Keywords: market, function, form, pedestrian, vehicle, transportationAbstrak: Kota Yogyakarta memiliki beberapa pasar tradisional, salah satunya adalah Pasar Beringharjo. Kegiatan di pasar ini sudah berlangsung tak lama setelah pembangunan Keraton Yogyakarta.Pasar Beringharjo terletak di Jalan Jendral Ahmad Yani yang merupakan kawasan perdagangan. Dalam perkembangan selanjutnya, pasar ini menjadi pusat perekonomian di Kota Yogyakarta. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan memahami unsur-unsur struktur ruang Kota Yogyakarta yang mendukung fungsi Pasar Beringharjo serta untuk memahami dan menguraikan keterkaitan antara unsur-unsur tersebut dalam menciptakan lingkungan Kota Yogyakarta yang mendukung fungsi Pasar Beringharjo. Obyek pengamatan adalah fungsi dan bentuk massa bangunan yang berada di sekitar Pasar Beringharjo, jalur pedestrian dan kendaraan yang berada di sekitar Pasar Tradisional Beringharjo, dan jenis sarana transportasi umum yang terletak di sekitar Pasar Tradisional Beringharjo. Metode yang digunakan adalah pengamatan dan studi pustaka. Figure ground theory digunakan untuk menganalisis fungsi dan bentuk massa bangunan di sekitar Pasar Beringharjo. Linkage theory digunakan untuk mengelompokkan karakter berdasarkan fungsi dan aktivitas, sedangkan teori perbandingan antara tinggi bangunan dan lebar jalan untuk menganalisis kenyamanan ruang jalan bagi pedestrian. Hasil dari penelitian ini adalah karakter fungsi dan aktivitas di sepanjang Jalan Jenderal Ahmad Yani dapat dibagi dalam tiga segmen, yaitu segmen pembuka, inti dan penutup. Berdasarkan pembagian ketiga segmen tersebut, analisis figure ground yang menunjukkan bentuk gubahan massa dan jalur transportasi memperlihatkan bahwa jaringan alat transportasi umum, yaitu Halte Trans Jogja terdapat pada ketiga segmen tersebut. Adanya bus Trans Jogja sebagai alat transportasi umum mendukung fungsi dan kegiatan yang berlangsung di Jalan Jenderal Ahmad Yani, yang juga mendukung keberlangsungan kegiatan di Pasar Beringharjo.Kata kunci: pasar, fungsi, bentuk, pedestrian, kendaraan, transportasi
BENTUK DAN MAKNA ATAP KELENTENG SAM POO KONG SEMARANG Marcella, Benedicta Sophie
Jurnal Arsitektur Komposisi Vol 10, No 5 (2014): Jurnal Arsitektur KOMPOSISI
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (483.638 KB) | DOI: 10.24002/jars.v10i5.1094

Abstract

Abstract: Roof might signifiy the lid of upper house or building; objects which are used as a lid of the upper house. The roof of houses or buildings is one of the essential elements or components that make up the traditional architecture. Since ancient times until now, the shape of the roof is a prominent and essential part, showing the different periods. Chinese building roof is the part which has distinctive features. Indonesia also has a plenty of Chinese architectural styles, one of them is Sam Poo Kong Temple in Semarang. This temple was built in 1724 by the Chinese community in Semarang, as a kind of homage to Admiral Zheng He, widely known as Admiral Cheng Ho. In the area of Sam Poo Kong temple, there are several buildings, including the main building (main temple), Goa Pem ujaan, Goa Pemujaan, kelenteng Kyai Juru Mudi, Dewa Bumi, Kyai Nyai Tumpeng dan Kyai Tjundrik Bumi, dan Kyai Jangkar. Roof in Sam Poo Kong Chinese architecture shows the influence of feng shui. The purpose of this study is to find the shapes and the meanings of the roof of the building Sam Poo Kong as well as the influence of the concept of building in China. The method used in this study is qualitative rationalistic. The data was gained from surveys and literature studies. Some related theories are also significantly used to discuss and review the object roof at Sam Poo Kong. The analysis was conducted by comparing the object with the theory. The result of this research is to find the shapes and the meanings of the roof of the building Sam Poo Kong as well as the influence of the concept of Chineses building.Keywords: shapes, meanings,  roof of Sam Poo Kong temple , feng shui, chinese architectureAbstrak: Atap memiliki pengertian sebagai penutup rumah atau bangunan sebelah atas; benda yang dipakai untuk penutup rumah sebelah atas. Atap rumah atau bangunan merupakan salah satu unsur atau komponen penting yang membentuk arsitektur tradisional. Sejak jaman dahulu hingga sekarang, bentuk atap adalah bagian yang menonjol ataupun mencolok, menunjukkan periode yang berbeda-beda. Atap bangunan Tiongkok merupakan bagian yang memiliki ciri khas. Indonesia juga memiliki kekayaan langgam arsitektur Tionghoa, salah satunya ada Kelenteng Sam Poo Kong di Semarang. Kelenteng ini dibangun pertama kali pada tahun 1724 oleh masyarakat Tionghoa di Semarang, sebagai bentuk penghormatan kepada Laksamana Zheng He, lebih dikenal dengan nama Laksamana Cheng Ho. Dalam kawasan Kelenteng Sam Poo Kong terdapat beberapa bangunan kelenteng, diantaranya adalah bangunan utama (kelenteng utama), Goa Pemujaan, kelenteng Kyai Juru Mudi, Dewa Bumi, Kyai Nyai Tumpeng dan Kyai Tjundrik Bumi, dan Kyai Jangkar. Atap yang terdapat di Kelenteng Sam Poo Kong menunjukkan arsitektur Tionghoa yang masih mempergunakan kaidah feng shui serta memiliki bentuk dan makna tertentu. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menemukan bentuk dan makna atap bangunan Kelenteng Sam Poo Kong serta pengaruh konsep bangunan di Tiongkok terhadapnya. Metode yang digunakan adalah rasionalistik kualitatif. Data diperoleh dengan survei lapangan dan studi literatur.  Teori terkait digunakan untuk membahas dan mengulas obyek atap pada Kelenteng Sam Poo Kong. Analisis dilakukan dengan membandingkan obyek dengan teori. Hasil dari penelitian ini adalah menemukan bentuk dan makna atap bangunan Kelenteng Sam Poo Kong serta pengaruh konsep bangunan di Tiongkok terhadapnyaKata Kunci: bentuk, makna, atap Kelenteng Sam Poo Kong, feng shui, arsitektur Tiongkok

Page 1 of 1 | Total Record : 5