cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
PRABANGKARA
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
Arjuna Subject : -
Articles 48 Documents
Akulturasi dan Nilai-nilai Estetika Dalam Busana Payas Agung Ningrat Buleleng Di Puri Kanginan Singaraja Tri Ratih Aryaputri, Nyoman; Gede Arimbawa, I Made; Wimba Ruspawati, Ida Ayu
Prabangkara : Jurnal Seni Rupa dan Desain Vol 24 No 1 (2020): Juni
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Proses akulturasi menghasilkan beberapa sistem dan seni yang sampai saat ini masih ada dan dilakukan oleh beberapa masyarakat Indonesia, salah satunya Payas Agung Ningrat Buleleng di Puri Kanginan Singaraja. Busana Payas Agung Ningrat Buleleng memiliki nilai sejarah akulturasi dan nilai-nilai estetika yang membentuknya, sehingga busana ini mampu menunjukkan identitas budaya khas Kabupaten Buleleng. Berdasarkan fenomena tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis proses akulturasi, nilai-nilai estetika dan makna dalam busana Payas Agung Ningrat Buleleng di Puri Kanginan Singaraja. Adapun rumusan masalah sebagai berikut : (1) Bagaimana proses akulturasi dalam busana Payas Agung Ningrat Buleleng di Puri Kanginan Singaraja?; (2) Bagaimana nilai-nilai estetika dalam busana Payas Agung Ningrat Buleleng di Puri Kanginan Singaraja?; (3) Bagaimana makna dalam busana Payas Agung Ningrat Buleleng di Puri Kanginan Singaraja?. Penulisan ini menggunakan metode deskriptif kualiatif dengan teknik pengumpulan data berupa kepustakaan, observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teori yang mendukung penelitian ini yaitu teori akulturasi, estetika, dan semiotika. Hasil penelitian menunjukkan jawaban sebagai berikut : (1) Proses akulturasi terjadi karena adanya faktor pendorong yaitu kontak langsung (berupa perjalanan, penaklukan wilayah, pedagangan) dan perubahan; (2) Nilai-nilai estetika dalam busana Payas Agung Ningrat Buleleng di Puri Kanginan Singaraja tersusun dari garis-garis dan warna yang memiliki makna (bentuk bermakna), fungsi busana Payas Agung Ningrat Buleleng di Puri Kanginan Singaraja yaitu sebagai alat penunjang komunikasi (menunjukkan identitas khas Buleleng) dan alat memperindah; (3) Makna dalam busana Payas Agung Ningrat Buleleng di Puri Kanginan Singaraja mengandung makna denotasi dan konotasi yang kemudian makna konotasi tersebut berkembang menjadi mitos di masyarakat Buleleng.
Kajian Elemen Wayang Kulit Lakon Kang Ching Wie Oleh Dalang I Dewa Gede Agung Sutresna Intan Handayani, Ni Ketut; Yudarta, I Gede
Prabangkara : Jurnal Seni Rupa dan Desain Vol 24 No 1 (2020): Juni
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Wayang Kulit Kang Ching Wie merupakan sebuah pertunjukan wayang yang kaya akan kreativitas dan kreasi senimannya. Bertambahnya wawasan, kemampuan dan kreativitas dalang I Dewa Gede Agung Sutresna membuat kemasan pertunjukan Wayang Kang Ching Wie menjadi salah satu pembaharuan wayang kulit Bali, hal tersebut menambah pada aspek-aspek pendukungnya tanpa terkecuali unsur-unsur pertunjukannya yaitu yaitu antawacana (dialektika), alur dramatik, gerak (tetikesan), pembabakan, setting dan iringan pertunjukannya. Wayang Kang Ching Wie oleh dalang I Dewa Gede Agung Sutresna menjadi sebuah pertunjukan wayang kulit inovatif yang diakui memiliki keunggulan terutama dalam antawacana atau olah vocal dan gaya berbicara khas Bangli yang mengandung unsur komedi sehingga membuat penonton terhibur, juga tetiksan atau gerak, penentuan pembabakan dan setting serta pemilihan iringan dalam pertunjukannya. Metode yang digunakan dalam mengkaji pertunjukan Wayang Kang Ching Wie yang dilakukan oleh dalang I Dewa Gede Agung Sutresna adalah metode penelitian kualitatif, menggunakan teknik penelitian berupa observasi, dan wawancara terbuka. Ruang lingkup pembahasan mengarah pada uraian antawacana (dialektika), alur dramatik, tetikesan (gerak), pembabakan, setting dan iringan dalam pertunjukan Wayang Kang Ching Wie.
Kajian Estetika Ilustrasi Pada Baju Kaos Merek Furious Di Denpasar Bali Agus Indram Bayu Artha, I Gede
Prabangkara : Jurnal Seni Rupa dan Desain Vol 21 No 1 (2017): Prabangkara
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (11859.026 KB)

Abstract

Ilustrasi adalah hasil visualisasi dari suatu tulisan dengan teknik sketsa, lukisan, fotografi, atau teknik seni rupa lainnya yang lebih menekankan hubungan subjek dengan tulisan yang dimaksud daripada bentuk.  Saat ini ilustrasi dari desain baju lokal sudah mulai berkembang, ilustrasi menjadi hal yang penting dalam desain baju kaos. Sebuah ilustrasi tidak hanya sebagai penghias semata tetapi menjadi sebuah identitas dari sebuah produk. Ada permasalahan mendasar yang dikaji dalam tulisan ini yaitu konsep estetika dari ilustrasi baju kaos merek Furious yang ada di Denpasar. Adapun teori yang digunakan dalam membedah permasalahan tersebut adalah Teori estetika modern yaitu estetika yang didapat dari unsur-unsur seni rupa dan desain serta prinsip-prinsip seni rupa dan desain untuk menjawab permasalahan konsep estetika dari ilustrasi baju kaos merek Furious. Hasil dari kajian seni ini diuraikan berdasarkan metode yang digunakan yaitu metode kualitatif yang berarti penggambaran sifat suatu keadaan yang berjalan pada saat penelitian. Prinsip pokok metode ini adalah mengolah dan menganalisis data-data yang terkumpul menjadi data sistematis, teratur dan terstruktur, dan mempunyai makna. Hasil penelitian menunjukkan ilustrasi dari baju kaos merek Furious ini, Berdasarkan konsep estetika ilustrasi ini mempunyai keindahan dari unsur garis, bidang, warna dan huruf serta sesuai dengan prinsip-prinsip seni rupa dan desain yaitu: irama, kesatuan, dominasi, keseimbangan, proporsi, kesederhanaan dan kejelasan yang membuat ilustrasi ini mempunyai nilai keindahan. Pada akhirnya ilustrasi baju kaos Furious dapat dipahami sebagai dari perspektif kajian seni.Illustration is a visualization result of a paper with sketches technique, paintings, photography, or other art technique which emphasizes the relation of the subject with the article rather than form. Nowadays illustration of the design of the local clothes have started to develop, Illustrations becomes important in T-shirt’s design. As an illustration, not only as an ornamental in itself but becomes an identity of a product. There are three fundamental problems studied in this thesis are: form, function and aesthetic concept of brand Furious T-shirt illustration in Denpasar. The theory is used to dissect the problem is the theory of aesthetic form, to address the problem form. Modern aesthetic theory that is derived from the aesthetic elements of art and principles of design as well as art and design to answer the problem of aesthetic concepts. Function theory to answer the problem of the function of brand Furious T-shirt illustration. The results of this study are described art method used is based on a qualitative method which means the depiction of the nature of a state that is running at the time of the study. Basic principle of this method is to process and analyze the collected data into the data systematically, organized and structured, and has meaning. The results show an illustration of the Furious T-shirt brands have seen the aesthetic form of the principle of organic unity as: lines, shapes, colors and letters. The principle theme, variation principle which does not cause boredom, the balance principle, the principle of development and governance levels. This illustration is based on the concept of aesthetics has a beauty of line elements, fields, colors and letters as well as in accordance with the principles of art and design are: rhythm, unity, dominance, balance, proportion, simplicity and clarity that has made this illustration of the value of beauty.
Kajian Konsep, Estetik dan Makna pada Ilustrasi Rangda Karya Monez BAYU SEGARA PUTRA, GEDE; ARTAYASA, I NYOMAN; SWANDI, I WAYAN
Prabangkara : Jurnal Seni Rupa dan Desain Vol 21 No 2 (2017): Pabangkara
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (364.887 KB)

Abstract

Dalam era postmodern, ilustrator cenderung mengedepankan kebebasan dalam mengekspresikan diri dalam berkarya, mereka cenderung tidak ingin terpaku pada suatu kaidah atau tatanan standar yang berlaku. Monez merupakan seorang ilustrator dengan pemikiran postmodern yang khas. Ilustrasi karya Monez kerap tampil dengan objek-objek fantasi yang dideformasi dari imajinasi atas bentuk atau peristiwa yang pernah dilihat maupun dialami sebelumnya. Gaya ilustrasi khas Monez cenderung menampilkan objek dengan wujud imajinatif dalam bentuk yang distorsi. Monez adalah cerminan seorang postmodernis dengan metode berpikir intitutional. Ilustrasi bertema rangda merupakan karya Monez yang sangat kental dengan nuansa postmodern. Ilustrasi yang diciptakan dengan 3 seri, pertama kali di publikasikan kepada publik pada Ajang Popcon Asia 2015 dalam media poster dan postcard. Pengaruh postmodern pada ilustrasi rangda, terlihat pada penggayaan-penggayaan yang diberikan pada unsur visualnya. Oleh karena itu, penelitian ini membantu menjelaskan permasalahan konsep, estetika dan makna ilustrasi rangda karya Monez sebagai sebuah karya seni berlatarbelakang postmodern. Fokus penelitian ini adalah memahami konsep, idiom estetik serta makna yang terdapat pada ilustrasi rangda karya Monez. Untuk itu, peneliti merumuskan beberapa permasalahan penelitian sebagai berikut: 1). Bagaimana konsep yang diterapkan pada ilustrasi rangda karya Monez ?; 2). Bagaimana estetika postmodern dari ilustrasi rangda karya Monez ?; dan 3). Apakah makna yang terkandung pada ilustrasi rangda karya Monez ?. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Data primer yang digunakan untuk menunjang penelitian ini diperoleh dari studi lapangan, wawancara dengan Monez sebagai informan utama. Untuk melengkapi data primer, peneliti memperoleh informasi berbagai sumber berupa buku, jurnal ilmiah, laporan penelitian, dan sumber kepustakaan lainnya. Data yang diperoleh kemudian dianalisis dengan teori estetika postmodern dan teori semiotika. Hasil dari penelitian ini menyimpulkan bahwa ilustrasi rangda karya Monez menerapkan konsep imajinatif dalam penciptaannya. Konsep imajinatif diwujudkan melalui penggayaan berlebih pada visualisasi bentuk ilustrasinya. Di dalam postmodern, penggayaan merupakan ciri dari idiom camp.Makna yang muncul dari ilustrasi rangda karya Monez sebagai sebuah karya dengan penggambaran realita secara berlebihan (hiperealitas), antara lain: makna ekonomi, makna budaya dan makna ekspresi.In the postmodern era, illustrators do not prioritize freedom in expressing themselves in the work, they do not want to be fixated on a standard rule or standard order. Monez is an illustrator with distinctive postmodern thought. The illustrations of Monez’s work often come with fantasy objects deformed from imagination or forms never seen before. The typical illustration style Monez likes to display objects with imaginative shapes in distorted form. Monez is a reflection of a postmodernist with the think intitutional method. Rangda-themed illustrations are Monez’s highly viscous work with postmodern nuances. Illustrations created with 3 series, first published to the public at Popcon Asia 2015 Event in posters and postcard media. Postmodern influences on illustrations rangda, seen in penggayaan-given on the visual element. Therefore, this study helps to explain the concept, aesthetic and meaning of illustrations rangda Monez works as a work of art postmodern background The focus of this research is understanding the concepts, aesthetic idioms and meanings that exist in the illustrations rangda by Monez. For that, the researchers formulate some questions as follows: 1). How does the concept applied to Monez’s illustration rangda? 2). How is the postmodern aesthetic of Monez’s illustration rangda? And 3). What is the significance of Monez’s illustration rangda?. This research is a qualitative research. The primary data used to support this research is the result of field studies, interviews with Monez as key informants. To complement the primary data, researchers obtained information on various sources of books, scientific journals, research reports, and other literary sources. The data obtained are then analyzed by postmodern aesthetic theory and semiotics theory. The result of this research is the illustration rangda by Monez applying imaginative concept in the making. The imaginative concept is manifested through excessive styling on the visualization of its illustrative form. In postmodern, styling is the hallmark of camp idiom. The significance of Monez’s illustration ranges as a work with exaggerated portrayal of reality (hypereality), among others: economic meaning, cultural meaning and the meaning of expression.
Penerapan Warna Pada Interior Kamar Rawat Inap Di Rumah Sakit (Analisis Kenyamanan Dalam Proses Penyembuhan Pasien) Mulyati, Made Ida
Prabangkara : Jurnal Seni Rupa dan Desain Vol 19 No 23 (2016): Prabangkara
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (6544.172 KB)

Abstract

Keberhasilan proses penyembuhan  pasien  merupakan komleksitas yang terjalin antara kondisi fisiologis dengan kondisi psikologis (inner mind). Kedua kondisi tersebut memiliki kontribusi di dalam proses penyembuhan pasien.  Untuk mendukung kondisi pisikologis yang baik terhadap pasien,  maka harus diciptakan lingkungan interior yang nyaman.Sedangkan yang dapat mendukung kenyamanan ruang salah satunya adalah penerapan warna yang tepat pada ruang-ruang perawatan terutama pada kamar rawat inap. Dengan penerapan warna yang tepat diharapkan dapat mereduksi faktor strees pada pasien terutama pasien rawat inap yang menjalani proses penyembuhan di rumah sakit. Penerapan warna pada  desain interior rumah sakit terutama pada kamar rawat inapditentukan oleh konsep ruang yang dipilih. Untuk menentukan konsep ruang yang dipilih kita harus tahu dimensi besaran ruangnya dan ketinggi plafondnya. Untuk ruang kamar rawat inap tidak terlalu luas dan memiliki ketinggian plafond yang tidak terlalu tinggi, maka kita bias mengambil konsep tenang (calm) atau konsep segar (fresh). Dalam konsep tenang(calm) dapat diterapkan warna-warna lembut yang elegan. Sedangkan untuk konsep segar (fresh) dapat diterapkan warna-warna muda yang mengambil inspirasi dari alam. Tetapi di dalam penerapan konsep ini tidak menutup kemungkinan untuk menerapkan warna-warna hangat sebagai aksentuasi supaya terkesan lebih hidup tidak terlalu moneton. Apabila kamar rawat inap memiliki besaran ruangan yang cukup luas dengan ketinggian plafond yang cukup, maka dapat mengambil konsep hangat (warm). Pada konsep ini diterapkan warna-warna hangat, tetapi tidak menutup kemungkinan dikombinasikan dengan warna-warna lembut dan alam untuk lebih memberikan kesan nyaman.
Eksperimen Buah Pohon Palem Putri (Veitchia Merillii) Sebagai Bahan Alternatif Membuat Zat Warna Alami Putra Jaya, I Made Gede
Prabangkara : Jurnal Seni Rupa dan Desain Vol 21 No 1 (2017): Prabangkara
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (9429.45 KB)

Abstract

Meningkatnya kesadaran masyarakat kembali menggunakan zat warna alam (back to nature) dan meninggalkan zat warna sintetis (ZWS) mulai diberdayakan pemerintah Indonesia.Karena limbah hasil penggunaan warna sintetis dapat mencemari lingkungan, yang disebabkan oleh zat-zat pembantu pewarnaan yang bersifat B3 (Bahan Beracun Berbahaya). Berdasarkan masalah yang muncul inilah, Penulis tergerak melakukan dan membuat eksperimen, guna mendapatkansampel warna alam sebagai bahan pewarna kain batik dari tanaman Palem Putri (Veitchia Merillii). Sehingga menjadi alternatif menggurangi penggunaan bahan sintetis yaitu salah satunya zat warna napthol, sekaligus menjadi bagian dari  program pemerintah yang relevan yaitu “Clean  and Green”.Penulis menggunakan metode kualitatif agar mudah menarasikan menjadi bahasa ilmiah yang dapat dipertanggunjawabkan.Increasing public awareness to using natural dyes (back to nature) and leaving a synthetic dye (ZWS) began empowered Indonesian government. Due to the use of synthetic colors that can pollute the environment, which is caused by substances that are dyeing auxiliaries B3 (Hazardous Toxic Substances). Based on the problems, the author want to make experiments, in order to obtain natural color samples as batik fabric dyes from Palem Putri (Veitchia Merillii). So it becomes to stop using synthetic materials that one of them is napthol, as well as a part of a government program namely "Clean and Green". The author uses a qualitative method to wrote this scientific project.
Seni Ogoh - ogoh (Konteks, Teks Dan Efek) Gunawan, I Wayan; Surya Buana, Anak Agung Ngurah Gede
Prabangkara : Jurnal Seni Rupa dan Desain Vol 19 No 23 (2016): Prabangkara
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (18219.737 KB)

Abstract

Penelitian  ini di latar belakangi oleh kekhawatiran  terhadap  norma, nilai serta pola hidup sebagai  tatanan sosial dalam tradisi, yang keberadaannya  kini mulai ditinggalkan orang banyak di tengah-tengah lingkungan banjar tempat ia dilahirkan  terutama di dalam konsep berkesenian  secara kolektif. Kondisi ini disebabkan oleh nilai-nilai dalam lingkungan yang sudah berubah, terkikis oleh kepentingan materialitis belaka. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi dan membangun penguasaan konsep-konsep tradisi dan modernisasi melalui seni ogog-ogoh berbasis komunal, menjadikan sebuah kekuatan spirit yang mampu menyangga  infiltrasi  kekuatan modernisasi yang tak terkendali, sebagai salah satu kebudayaan  Bali yang banyak memuat kearifan-kearifan lokal, sebagai aset kebudayaan bangsa Indonesia. Subyek  penelitian ini  adalah  Seni  ogoh-ogoh  yang  dikerjakan  oleh kelompok  pemuda-pemudi  (Sekehe Teruna-Teruni) di Kecamatan Denpasar Utara, Kecamatan  Denpasar Timur, Kecamatan Denpasar Selatan dan Kecamatan Denpasar  barat, Kota Madya  Denpasar,  Propinsi Bali. Ada 4 instrumen yang digunakan untuk menjaring  data, yaitu: lembar observasi,  pedoman wawancara,  dan studi dokument.  Data dianalisis sesuai  dengan kelaziman  penelitian  knalitatif.  Hasil penelitian  menunjukkan  bahwa membangun  pengua­ saan konsep tradisi dan modernisasi  melalui seni ogoh-ogoh  berbasis komunal berdampak pada: (1) terjadi peningkatan   komitrnen  instroksional  di kalangan   pemuda-pemudi,   (2)  terjadi  peningkatan   signiflkan terhadap sikap Teamwork dikalangan  pemuda-pemudi   dalam membangun konsep tradisi dan modernisasi, (3) terjadinya  peningkatan pencapaian  hasil karya  ogoh-ogoh  oleh kalangan  pemuda-pemudi berdasarkan kaidah-kaidah  artistik dan estetis.
Kajian Estetika Fotografi pada Kartu Pos Pariwisata Bali Karya Sujana Tahun 1970-1990an BAYU PRAMANA, I MADE
Prabangkara : Jurnal Seni Rupa dan Desain Vol 21 No 2 (2017): Pabangkara
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (335.315 KB)

Abstract

Kartu pos atau Postcard adalah salah satu benda pos berupa lembaran kertas bergambar ilustrasi atau foto untuk menulis kabar yang bersifat terbuka. Kartu pos pertama kali diluncurkan pada 1 oktober 1869 di Austria dengan nama Correspondez karte. Sujana adalah orang Bali dan sekaligus seorang fotografer, antara tahun 1970-1990an mengkomunikasikan kreativitas fotografisnya dengan mengangkat tema tentang fenomena di Bali dari perspektif medium fotografi yang diungkap dalam karya kartu pos. Terkait dengan hal tersebut, maka tujuan penulisan ini ingin mengetahui pandangan tentang perubahan alam, manusia, arsitektur, pakaian dan beragam hal yang sangat mendasar di Bali yang diungkap pada kartu pos. Metode yang digunakan dalam mengkaji karya kartu pos yang diciptakan oleh Sujana adalah metode deskritif. Ruang lingkup pembahasan terfokus pada uraian tentang nilai-nilai estetika fotografi terkait fenomena pariwisata di Bali pada karya kartu pos Sujana.Postcard is one of the postal items in the form of illustrated papers or photographs to write open news. The postcard was first launched on 1 October 1869 in Austria under the name Correspondez karte. Sujana is a Balinese and a photographer, between 1970 and 1990 he communicated his photographic creativity with the theme of the phenomenon in Bali from the perspective of photographic medium expressed in postcards. Related to this, the purpose of this writing is to know the views about changes in nature, people, architecture, clothing and various things that are very basic in Bali are revealed on postcards. The method used in studying the postcard work created by Sujana is the descriptive method. The scope of the discussion focused on the description of the aesthetic values of photography related to the phenomenon of tourism in Bali on Sujana postcard work.
Warna Sebagai Pembentuk Estetika Pada Media Promosi Poster Dari Hoineken Putraka, Agus Ngurah Arya
Prabangkara : Jurnal Seni Rupa dan Desain Vol 21 No 1 (2017): Prabangkara
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3896.957 KB)

Abstract

Warna merupakan salah satu unsur penting yang ada dalam tampilan suatu tampilan desain poster, baik yang bersifat komersial maupun sosial, warna secara tidak langsung mempengaruhi berhasil tidaknya suatu media poster dalam menyampaikan pesan kepada masyarakat yang membaca dan melihatnya.  Selain itu warna merupakan salah satu elemen pembentuk estetika dari sebuah media poster, poster itu bisa dikatakan estetis apabila elemen warna yang dipergunakan menyatu dan memiliki kesan kuat sehingga dapat menyampaikan pesan dengan baik kepada masyarakat. Maka dari itu pentingnya mengkaji fungsi warna sebagai pembentuk estetika dalam sebuah media poster.Colour is one of important thing on the display of poster layout, for the commercial or non chommercial poster, the colour being effect work  or not poster media to give information for people. And then the colour is one of esthetic poster element.  The poster call esthetic if the colour can being and have the strong image to can give information to the people. So it’s very important to know function of colour be a esthetic element on the poster media        
Pengajaran Dramaturgi Perfilman Yang Efektif Suratni, Ni Wayan; Susanthi, Nyoman Lia
Prabangkara : Jurnal Seni Rupa dan Desain Vol 21 No 1 (2017): Prabangkara
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (14158.327 KB)

Abstract

Film sebagai karya seni memiliki kelengkapan dari beberapa unsur seni yaitu seni rupa dan desain, seni fotografi, seni artitektur, seni tari, seni puisi sastra, seni teater (drama) dan seni musik. Salah satu unsur seni dalam film adalah drama, untuk itu fungsi dan peran teater (drama) dalam film sangat erat relevansinya. Materi tentang drama pada Program Studi Film dan TV ISI Denpasar masuk dalam matakuliah Dramaturgi. Materi pada matakuliah dramaturgi memiliki karakteristik berbeda dengan prodi lainnya. Hal ini merupakan masalah bagi pengampu untuk dapat menyesuaikan kebutuhan drama dalam film. Luaran dari matakuliah dramaturgi dapat memerankan tokoh dalam film sesuai tuntutan skenario. Guna menghasilkan luaran tersebut maka diperlukan metode pengajran yang efektif mengingat latar belakang mahasiswa dari non pertunjukkan. Berdasarkan permasalahan tersebut, maka peneliti melakukan penelitian tindakan kelas (PTK) yang dilakukan 3 tahapan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses pembelajaran Dramaturgi sebagai upaya meningkatkan hasil belajar mahasiswa adalah dengan menggunakan pendekatan belajar tuntas (mastery learning). Dosen tidak hanya menggunakan metode ceramah untuk materi yang bersifat teori namuan juga mengkolaborasikan dengan metode diskusi kelompok. Materi yang bersifat praktek, dikembangkan dengan mengkombinasikan metode demontrasi, simulasi, sandiwara dan permainan. Dosen bertindak sebagai fasilitator mahasiswa dalam proses 
pembelajaran. Dosen mengembangkan media pembelajaran yang tidak hanya menggunakan LCD dengan PPT tapi juga menambahkan bantuan video, musik illustrasi dan puisi untuk mempermudah mahasiswa dalam kelas praktek, serta memindahkan kelas praktek ke alam terbuka untuk membantu mahasiswa mendalami proses penjiwaan kelas praktek Dramaturgi. Pembaharuan tersebut membawa dampak sangat signifikan yaitu meningkatkan hasil belajar mahasiswa setiap tahapannya.