cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
SEGARA WIDYA
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
Arjuna Subject : -
Articles 172 Documents
Kajian Komik Kartun Panji Koming Di Tahun Politik I Wayan Nuriarta; I Gusti Ngurah Wirawan
Segara Widya : Jurnal Hasil Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 7 No. 2 (2019): November
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/sw.v7i2.821

Abstract

Kartun-kartun panji Koming yang hadir pada Koran Kompas Minggu saat tahun politik adalah sebuah kartun kritik. Kartun ini unik karena cara berceritanya menggunakan komik strip dengan narasi kisah di zaman Majapahit, namun selalu memiliki konteks kekinian. Secara visual Kartun Panji Koming sangat menarik untuk dibongkar karena cara berceritanya menggunakan gaya ungkap komik yang berarti adanya pemanfaatan panel-panel serta kombinasi kata dan gambar dalam menyampaikan pesan. Selanjutnya pesan yang dihadirkan melalui kombinasi gambar dan kata juga menarik untuk diungkap karena; pertama, kartun ini bukan saja dikenal kritis, melainkan juga keras. Kedua, bahwa seri kartun Panji Koming dimuat di Koran Kompas yang merupakan Koran dengan jumlah oplah yang besar, yang terutama memang beredar dikalangan kelas menengah yang diandaikan juga sebagai pembaca yang kritis. Berkaitan dengan hal tersebut, maka kartun Panji Koming sangat penting untuk dikaji terkait transisi panelnya serta pemanfaatan kata dalam panel untuk mengungkap makna. Kajian komik menggunakan teori komik McCloud dan penafsiran maknanya akan dibedah menggunakan teori semiotika Barthes tentang makna denotasi dan makna konotasi. Tujuan umum penelitian ini adalah untuk menambah pengetahuan dalam bentuk kajian akademis terhadap komik kartun Panji Koming pada Koran Kompas. Penelitian ini menggunakan rancangan kualitatif untuk mengumpulkan, menyaring dan menganalisis data. Objek penelitian ini difokuskan pada analisis pilihan momen, pilihan bingkai, pilihan citra, pilihan kata, pilihan alur serta makna denotasi dan makna konotasi. Objek penelitian tersebut didasarkan pada analisis teori komik yang dikembangkan oleh McCloud dan makna denotasi dan makna konotasi dengan menggunakan teori semiotika Roland Barthes.
Bentuk, Fungsi Dan Makna Ornamen Pada Gamelan Semar Pegulingan Saih Pitu Di Pusat Dokumentasi Seni Institut Seni Indonesia Denpasar I Gede Agus Indram Bayu Artha; I Wayan Nuriarta
Segara Widya : Jurnal Hasil Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 7 No. 2 (2019): November
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/sw.v7i2.819

Abstract

Ornamen adalah komponen produk seni yang ditambahkan atau sengaja dibuat untuk tujuan sebagai hiasan. Ornamen pada suatu benda maupun produk diharapkan memiliki penampilan yang lebih baik, menarik, memiliki nilai estetis dan mempunyai nilai ekonomi lebih tinggi. Di dalam ornamen ada yang disebut dengan istilah motif dan pola ornamen. Motif merupakan unsur pokok ornamen, Selanjutnya pola merupakan bentuk pengulangan dari motif. Motif dan pola ornamen yang dituangkan ke-dalam benda maupun produk, nantinya dapat dipergunakan dalam kegiatan sehari-hari, keagamaan, seni, dan budaya. Di Bali penggunaan ornamen juga digunakan pada alat upacara keagamaan, benda-benda seni dan budaya, misalnya pada gamelan. Berkaitan dengan hal tersebut, penelitian ini mengambil objek tentang ornamaen yang ada pada salah satu gamelan bali, yaitu ornamen pada gamelan semar pegulingan saih pitu yang ada di pusat dokumentasi (PUSDOK) seni Institut Seni Indonesia Denpasar (ISI Denpasar). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bentuk, fungsi dan makna ornamen pada gamelan semar pagulingan. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian kualitatif. Hasil Penelitian menunjukan bentuk ornamen, fungsi estetis, simbolis dan konstruksi, serta memunculkan makna denotatif dan konotatif pada cerita arjuna wiwaha dalam ornamen tersebut.
Budaya Perlindungan Hak Cipta Pada Ciptaan Seni Di Institut Seni Indonesia Denpasar Ni Wayan Masyuni Sujayanthi
Segara Widya : Jurnal Hasil Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 7 No. 1 (2019): Maret
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/sw.v7i1.676

Abstract

Budaya perlindungan Hak Kekayaan Intelektual yang kemudian disebut dengan HKI bidang Hak Cipta pada ciptaan seni sebagai bentuk kesadaran akan nilai moral dan ekonomis yang perlu diselamatkan oleh seniman akademik di Institut Seni Indonesia Denpasar. Hal tersebut dibuktikan dengan beberapa seniman akademik ( dosen ) telah melindungi karya ciptaan seni seperti dalam bentuk video tarian, e-book, dan seni lukis dengan Hak Cipta. Namun dalam proses pendaftaran masih banyak yang mengalami kesulitan dalam perlindungan karya ciptaannya. Fokus pembahasan adalah bagaimana mengoptimalisasikan dan membangun kesadaran untuk melindungi ciptaan para seniman akademik di Institut Seni Indonesia Denpasar ?. Tujuan penelitian: mengoptimalisasikan dan membangun kesadaran menjadi sebuah budaya untuk melindungi ciptaan para seniman akademik di Institut Seni Indonesia Denpasar. Metode penelitian deskriptif kualitatif, yuridis empiris dengan sumber data dari Undang - undang Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2014 dan jurnal. Pengambilan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Temuan: perlu adanya sosialisasi, seminar workshop terkait dengan perlindungan Hak Kekayaan Intelektual (HKI ) bidang Hak Cipta.
Panca Pesona Desa Wisata Ayunan Renata Dianitasari; Nyoman Lia Susanthi
Segara Widya : Jurnal Hasil Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 6 No. 2 (2018): November
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/sw.v6i2.555

Abstract

Berdasarkan rencana program kerja yang dicanangkan perbekel desa Ayunan, bahwa salah satu tujuan yang ingin dicapai adalah menjadi desa wisata pada tahun 2020, maka diharapkan adanya kerjasama antara mahasiswa KKN ISI Denpasar dengan pemerintah serta masyarakat desa setempat untuk mewujudkan program tersebut. Dengan adanya wacana desa Ayunan menjadi desa wisata pada tahun 2020, serta dilandasi tema KKN ISI Denpasar 2018 yang ingin membangkitkan desa melalui keunggulan seni dan budaya, maka mahasiswa peserta KKN ISI Denpasar di desa Ayunan menuangkan sejumlah ide guna mendukung terlaksananya keinginan pemerintah dan masyarakat desa setempat, melalui kolaborasi keahlian masing-masing mahasiswa dari program studi yang berbeda-beda. Program ini dikelompokkan menjadi lima program kerja utama, namun memiliki satu konsep yang sama. Yaitu penciptaan tari maskot desa Ayunan, yang juga meliputi penciptaan musik pengiring tari maskot dan perancangan kostum tari maskot tersebut; penciptaan lagu desa Ayunan; perancangan merchandise desa Ayunan; perancangan monumen desa wisata Ayunan; serta penciptaan video dokumentasi yang menampilkan potensi desa Ayunan. Lima program ini berjudul “Panca Pesona Desa Wisata Ayunan”, lima program kerja dengan harapan hasil yang mempesona, sebagai upaya mendukung desa Ayunan mencapai salah satu visinya. Program kerja ini juga sekaligus sebagai program unggulan yang merupakan salah satu luaran wajib KKN ISI Denpasar tahun 2018. Penciptaan program Panca Pesona Desa Wisata Ayunan ini tidak lepas dari riset, permintaan dan persetujuan aparat desa setempat, serta bimbingan dan arahan dari dosen pembimbing. Metode yang digunakan dalam analisis data adalah deskriptif kualitatif. Sedangkan metode pengumpulan data berdasarkan wawancara, observasi, studi kepustakaan, dan analisis foto dan video. Adanya relevansi antara program desa Ayunan dan program kerja Panca Pesona Desa Wisata Ayunan, memunculkan hubungan timbal balik yang saling membutuhkan dan menguntungkan antara pihak desa dan mahasiswa KKN. Sehingga program dapat terlaksana sebagaimana yang diharapkan.Base on work plan program by the head of community Ayunan village which is proclaimed to achieve as a tourist village on 2020, hence cooperation between ISI Community Outreach Program (COP) with local government and social community is needed. Refer to mentioned program and base on ISI COP theme who wants to approve the region through superiority of art and culture, hence ISI COP participants raise creative ideas to support the purpose of community Ayunan village with collaboration between local government, social community and ISI COP. This program is divided into five main groups with the same concept. Namely Ayunan village dance mascot creation, theme song creation, merchandise designing, design of tourist village monument, video documentary creation that showing the potential of Ayunan village. These five programs are titled “Panca Pesona Desa Wisata Ayunan” five work programs in hopes of stunning result as an effort to support and improve Ayunan village to achieve one of their vision. This program is also as the leading program that was one of the mandatory contribution by ISI COP Denpasar 2018.  Panca Pesona Desa Wisata Ayunan could not be separated from research, request and approval from local government, and leading lecture. 
Program Kemitraan Masyarakat Banjar Dinas Bongan Gede, Desa Bongan dan SMK Saraswati 3 Tabanan di Kecamatan Tabanan, Kabupaten Tabanan, Provinsi Bali I Gde Made Indra Sadguna; I Ketut Sariada
Segara Widya : Jurnal Hasil Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 6 No. 2 (2018): November
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/sw.v6i2.550

Abstract

Masyarakat Bali dan kesenian merupakan hal yang tak terpisahkan dan saling terkait. Kesenian menempati ruang yang penting, khususnya dalam konteks ritual keagamaan. Dalam pelaksanaan upacara di Bali, dikatakan tidak akan lengkap dan selesai tanpa hadirnya kesenian, khususnya seni tari dan karawitan. Kini dengan perkembangan globalisasi dan teknologi, peminat kesenian dari generasi muda mulai mengalami penurunan. Hal tersebut dikarenakan gaya pola hidup yang berubah mengikuti sinetron di televisi, penggunaan media sosial dan internet yang berlebihan, serta adanya anggapan bahwa seni tari dan karwaitan adalah hal yang kuno. Dari hal tersebut, timbul kekhawatiran akan semakin terpinggirkannya kesenian Bali. Oleh sebab itu, perlu dilakukan usaha-usaha pelestarian kesenian, salah satunya lewat Program Kemitraan Masyarakat (PKM). Dalam kegiatan PKM ini terdapat dua mitra, yaitu Banjar Bongan Gede sebagai Mitra I dan SMK Saraswati 3 Tabanan sebagai Mitra II. Kedua mitra mengalami permasalahan yang sama, yaitu rendahnya animo anak-anak dan siswa yang mempelajari seni tari dan karawitan. Dari pertemuan dengan kedua mitra, ditemukan tiga masalah utama yaitu kurangnya animo dalam belajar berkesenian, yang berakibat pada kurangnya teknik tari dan karawitan, serta kurangnya referensi tari-tarian kreasi baru. Untuk mengatasi permasalahan tersebut akan ditawarkan solusi dengan melakukan presentasi seni yang interaktif dan menarik, workshop peningkatan teknik tari dan karawitan, serta pengajaran tari Selat Segara sebagai salah satu tari kreasi baru. Sasaran peserta PKM untuk mitra I adalah anak-anak berusia 12-15 tahun serta siswa-siswi yang memilih ekstrakurikuler tari dan tabuh untuk mitra II. Melalui solusi yang ditawarkan, didapatkan hasil meningkatnya animo anak-anak serta siswa dalam mempelajari kesenian, adanya peningkatan teknik tari dan karawitan, serta mampu menguasai tari Selat Segara dengan baik. Hasil dari pembinaan PKM ini didokumentasikan dalam bentuk DVD. Arts and society are two inseparable factors in the Balinese life. The existence of art plays a vital role, especially in the religious context. Ceremonies are not complete without the presence of art, especially karawitan (traditional Balinese music) and dance. Now, in the era of technology and globalization, younger generation are experiencing a decline in arts. This is due to the lifestyle patterns that change following soap operas on television, excessive use of social media and the internet, and the assumption that dance and music are old school. From this, concerns arise about the increasingly marginalized Balinese arts. To preserve the arts, there should be efforts to be done, one is through the Program Kemitraan Masyarakat (PKM). In this PKM activity there were two partners, namely Banjar Dinas Bongan Gede Banjar Partner I and SMK 3 Saraswati Tabanan as Partner II. Both partners experienced the same problems, namely the low interest in children and students studying dance and music. From meetings with the two partners, three main problems were found, namely the lack of interest in learning art, which resulted in a lack of dance and karawitan techniques, as well as a lack of reference to new dances. To overcome these problems, a solution will be offered by conducting interactive and interesting art presentations, dance and karawitan techniques improvement workshops, and teaching Selat Segara dance as one of the new dance creation. The target of PKM participants for partner I is children aged 12-15 years and students who choose dance and karawitan extracurricular for partner II. Through the solutions offered, the results are the increasing of interest of children and students in learning art, the improvement of dance and karawitan techniques, and being able to perform the Selat Segara dance. The results of this PKM are documented on DVD. 
Konsep Teo-Estetika Teks Dharma Pawayangan Pada Pertunjukan Wayang Kulit Bali I Dewa Ketut Wicaksana
Segara Widya : Jurnal Hasil Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 6 No. 1 (2018): Maret
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/sw.v6i1.355

Abstract

Tujuan jangka panjang penelitian ini adalah untuk memberikan penyadaran khususnya kepada dalang-dalang muda di Bali, bahwa penguasai Dharma Pawayangan sangatlah penting. Lontar Dharma Pawayangan adalah pustaka khusus yang isinya memuat petunjuk yang membimbing para dalang dalam melaksanakan dharma/kewajibannya sebagai dalang, serta `rambu-rambu` yang mengikat dalang untuk tidak menyimpang dari prinsip-prinsip ajaran agama Hindu dan etika. Teks lontar tersebut menyinggung hal-hal yang bersifat praktis/estetik, teologi, dan metafisik, yakni berkaitan langsung dengan pertunjukan wayang, dan aspek teologi Hindu yakni aspek satyam/kebenaran, siwam /kesucian, dan sundaram/ keindahan, serta metafisik, yakni memposisikan dalang dan wayang pada alam makrokosmos dan mikrokosmos (bhuwana agung lan bhuwana alit). Akhir-akhir ini ditemukan gejala di masyarakat Pedalangan, adanya kecendrungan untuk tidak memperhatikan lagi petunjuk-petunjuk Dharma Pawayangan. Adanya rasa enggan dihati mereka untuk mempelajari isi pustaka Dharma Pawayangan yang berbahasa Jawa Kuna (Kawi), bahasa Bali bahkan sebagian berbahasa Sanskerta dengan pengertian dan pemahaman yang sangat kompleks. Pengertian dan pemahaman akan Lontar Dharma Pawayangan di masa lampau kemudian teramati saat ini sungguh jauh berbeda, karena berbeda cara pandang serta model pembelajarannya. Orientasi dalang saat ini mempelajari pedalangan/pewayangan lebih ke hal-hal teknis, sehingga aspek teo-estetikanya terabaikan. Atas dasar penelitian dan penelusuran yang mendalam, diharapkan dapat membuka tabir rahasia dibalik arti dan maknanya, mengingat teks Dharma Pawayangan sarat dengan konsep teologis, estetik, filosofis, pendidikan dan nilai-nilai kemanusiaan, sangat potensial sebagai media informasi, edukasi, ritualisasi, hiburan serta pembinaan watak dan kepribadiaan. Penelitian ini mengambil lokasi di Bali, karena diyakini hampir semua dalang-dalang di Bali memiliki Lontar Dharma Pawayangan, termasuk juga di Museum Gedong Kirtya (Singaraja), Pusdok Provinsi Bali, dan Perpustakaan Perguruan Tinggi di Bali. Pada proses pengumpulan data, peneliti dibantu oleh mahasiswa Program Studi Seni Pedalangan, Fakultas Seni Pertunjukan, ISI Denpasar sebagai pencatat dan mengambil data foto. Teknik pengambilan data dilakukan dengan observasi, wawancara dan dokumentasi.Penelitian ini adalah penelitian kualitatif yang berada dalam wilayah ilmu agama dan seni/estetika. Hal ini sesuai dengan ide pokok penelitian, yaitu untuk mengungkap hal-hal tersembunyi yang tidak menjadi kepedulian, memampukan suatu kesadaran yang lebih kaya terhadap aktualitas teks Dharma Pawayangan melalui pencerahan ilmiah. Mengguna-kan paradigma kritis sebagai landasan berpikir dan hermeneutika sebagai teori kunci, bentuk kajian dilakukan dengan mengembangkan paradoks-paradoks penafsiran makna dan membuka ruang kesadaran baru dalam memahami gejala estetika religius. Paradigma hermeneutika merupakan tradisi intelektual yang mendasarkan diri pada sesuatu yang berada di balik sesuatu yang faktual, yang nyata atau yang terlihat. Pluralitas presfektif dalam memberi interpretasi/penafsiran pada gilirannya memberikan kekayaan makna dalam suatu karya sastra, akan menambah kualitas estetika, etika dan logika.The long-term goal of this study is to provide awareness, especially to the young masterminds in Bali, that the Dharma Pawayangan master is very important. Lontar Dharma Pawayangan is a special literature whose contents contain guides that guide the dalangs in performing their dharma/dalang duties, as well as `signs' that bind the dalang not to deviate from the principles of the teachings of Hinduism and ethics. The lontar text deals with practical/aesthetic, theological, and metaphysical matters, which are directly related to wayang performances, related to aspects of Hindu theology of satyam/truth, siwam/sakura, and sundaram/beauty aspects. as well as metaphysical, ie positioning puppeteers and puppets on macrocosmic and microcosmic realms (bhuwana agung lan bhuwana alit). Recently found symptom in Pedalangan society, the tendency to pay no attention to the instructions of Dharma Pawayangan. The reluctance of their hearts to learn the contents of Dharma Pawayangan libraries that speak Old Javanese (Kawi), Balinese language even some speak Sanskrit with understanding and understanding is very complex. Understanding and understanding of Lontar Dharma Pawayangan in the past then observed at this time is very much different, because different way of view and model of learning. The current puppeteer's orientation is to learn puppetry more to technical matters, so the theo-aesthetic aspect is neglected. On the basis of deep research and investigation, it is hoped to unveil the secrets behind its meaning and meaning, since the Dharma Pawayangan text is loaded with theological, philosophical, educational and humanitarian meanings, potential for information, education, ritualization, entertainment and character building and personality. This research takes place in Bali, because it is believed that almost all dalang-dalang in Bali have Lontar Dharma Pawayangan, including also in Gedong Kirtya Museum (Singaraja), Pusdok Bali Province, and Library of Higher Education in Bali. In the process of collecting data, the researcher is assisted by students of Pedalangan Art Studies Program, Faculty of Performing Arts, ISI Denpasar as a recorder and taking photo data. Technique of data retrieval is done by observation, interview and documentation. This research is a qualitative research residing in the area of religion science and art/aesthetics. This is in accordance with the main idea of research, namely to reveal the hidden things that are not a concern, enabling a richer awareness of the actuality of Dharma Pawayangan text through scientific enlightenment. Using a critical paradigm as the basis for thinking and hermeneutics as a key theory, the form of study is done by developing the paradoxes of meaning interpretation and opening up a new awareness space in understanding religious aesthetic phenomena. The hermeneutic paradigm is an intellectual tradition that bases itself on something that is behind something factual, real or visible. The perspective plurality of interpretation in turn provides a wealth of meaning in a literary work, adding to the aesthetic, ethical and logical qualities.
Dentitas Budaya Lokal Pada Unsur Visual Desain Poster Keluarga Berencana BKKBN Provinsi Bali Ni Ketut Pande Sarjani; Eldiana Tri Narulita
Segara Widya : Jurnal Hasil Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 3 (2015): November
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/sw.v3i0.213

Abstract

Sebagai wujud pelestarian budaya, penggunaan identitas budaya Bali di lakukan di berbagai sektor, mulai dari arsitektur, tempat-tempat wisata, sampai pada media iklan. Salah satu media kampanye yang menerapkan identitas budaya lokal adalah poster Keluarga Berencana dan Keluarga Sejahtera BKKBN Provinsi Bali. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui penerapan identitas budaya lokal, prinsip-prinsip desain dan kriteria desain pada poster poster KB pada BKKBN Provinsi Bali Untuk mencapai tujuan penelitian ini, maka digunakan teori semiotika untuk mencari tanda-tanda budaya yang ditampilkan poster, teori estetika untuk mencari nilai estetis yang diterapkan dari poster ini dan teori desain komunikasi visual untuk membedah penerapan kriteria desainnya. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif. Pada desain poster yang dibuat BKKBN, identitas budaya lokal diterapkan pada ilustrasi dan teksnya. Prinsip-prinsip desain yang semestinya diterapkan agar poster memiliki nilai estetis diabaikan, begitu juga kriteria desain yang semestinya diterapkan untuk efektifitas jalannya kampanye juga diabaikan, hanya 2 kriteria desain saja yang terpenuhi dari 10 kriteria desain yang ada yaitu surprise dan kreatif. As a form of cultural preservation, the use of Balinese cultural identity is done in a variety of sectors, ranging from architecture, tourist attractions, to the advertising media. One media campaign to implement local cultural identity is a poster of Family Planning and Family Welfare BKKBN Bali Province. For that interesting if discussed about the local cultural identity and its application of design principles and design criteria on poster design Family Planning and Family Welfare BKKBN Bali Province. The purpose of this study was to determine the application of the local cultural identity, design principles and design criteria on posters KB on provincial BKKBN Bali. To achieve the objectives of this study, we used the theory of semiotics to look for signs of culture are displayed poster, aesthetic theory to find the aesthetic value that is applied from this poster and visual communication design theories to dissect the application of design criteria. The method used is descriptive qualitative method. In the poster design made BKKBN, local cultural identity is applied to the illustrations and text. Design principles that should be applied so that the posters have neglected aesthetic value, as well as the design criteria that should be applied to the effectiveness of the course of the campaign will also be ignored, only two design criteria are being met from 10 design criteria there is surprise and creative.
Genggong Dalam Karawitan Bali: Sebuah Kajian Etnomusikologi I Gde Made Indra Sadguna; I Wayan Sutirtha
Segara Widya : Jurnal Hasil Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 3 (2015): November
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/sw.v3i0.202

Abstract

Hingga saat ini kajian tentang Genggong masih sangat terbatas dan eksistensi Genggong di masyarakat semakin langka dan termarjinalkan akibat pengaruh globalisasi. Oleh karena itu, penelitian tentang Genggong secara lebih mendalam sangat mendesak untuk dilakukan. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan tekstual Etnomusikologi. Untuk menjawab permasalahan, digunakan teori organologi dan estetika sebagai pisau bedahnya. Dari observasi serta wawancara yang dilakukan, dapat dijelaskan proses pembuatan Genggong sebagai berikut. Genggong merupakan satu-satunya instrumen dalam karawitan Bali yang terbuat dari pugpug. Untuk membuat sebuah Genggong terdapat beberapa tahapan yang harus dilalui yaitu, membuat bakalan, proses ngerot,dan nyetel suara. Selain itu dijelaskan juga mengenai dekorasi serta cara perawatan instrumen Genggong. Agar seorang musisi mampu memainkan Genggong terdapat beberapa hal yang harus dipahami. Hal-hal tersebut adalah sikap duduk yang baik, teknik membunyikan Genggong yang meliputi teknik mentil, serta cara untuk mencari nada. Perubahan Genggong dari alat musik individu menjadi sebuah ensamble disebabkan karena perubahan konteks musiknya. Dahulu Genggong hanya digunakan sebagai alat musik pribadi, berkembang menjadi sebuah barungan untuk mengiringi sebuah pertunjukan.Until now, studies on Genggong are still very limited. The existence of Genggong is becoming very rare in Bali which is caused by the effect of globalization. Therefore, deep research on Genggong is urgently required. This research is an Ethnomusicology qualitative textual approach. The organology and aesthteics theory are used to solve the problems. Collecting data is done by means of literature studies, interviews, and observation participation. From observations and interviews that have been conducted, the process of making a Genggong are as follows. Genggong is the only musical instrument in Bali made of pugpug. To create a Genggong there are several steps that must be passed, which are, making the bakalan, ngerot process, and tuning the sound. In addition, I also describe the decor as well as how to treat a Genggong. In order for a musician capable of playing Genggong there are some things that must be understood. These things are: a good sitting position, Genggong techniques such as mentil and finding a proper sound. The change of Genggong from an individual instrument into a musical ensemble is caused by the change of the musical context. Genggong formerly was only used as a means of personal music, evolved into a musical ensamble to accompany a performance.
Pelestarian Prasi Dengan Teknologi Digital Ida Bagus Kt. Trinawindu; Cok Alit Artawan; I Wayan Agus Eka Cahyadi
Segara Widya : Jurnal Hasil Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 3 (2015): November
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/sw.v3i0.171

Abstract

Lontar sudah ada dari sejak jaman nenek moyang masyarakat Hindu Bali, sebuah tradisi tua di Bali yang sudah melewati masa keemasan beratus-ratus tahun lamanya. Selain lontar yang disebutkan di atas, ada jenis lontar yang memuat berbagai cerita yang dituliskan dan digambarkan / divisualisasikan sarat dengan makna dan nilai estetika yang tinggi. Lontar yang ada di Bali biasanya berisi mantra-mantra suci untuk berbagai aktivitas masyarakat Hindu Bali. Didalam Lontar-Lontar tersebut tersurat dan terkandung berbagai macam ilmu pengetahuan tentang agama, filsafat, etika, arsitektur, astronomi, pengobatan dan lain sebagainya. Salah satu contoh adalah Lontar Prasi yang terdapat di Desa Tenganan Pegringsingan yang berada di Karangasem-Bali. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif, yang diarahkan pada kondisi asli subyek penelitian. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan Hermeunetik, yang merupakan jenis pengetahuan ilmiah bersifat interpretatif. Dengan adanya perkembangan teknologi seperti sekarang ini maka diharapkan warisan budaya yang telah ada dari sejak beratus-ratus tahun yang lampau ini dapat terekam dalam media digital yang nantinya dapat menjadi sebuah pustaka digital tentang Lontar Prasi dan mampu menjadi pelopor dalam melestarikan warisan budaya yang direkam ke dalam media digital dengan memanfaatkan teknologi komputer sehingga diharapkan agar warisan budaya ini dapat terselamatkan dan dapat dinikmati oleh anak cucu kita di masa yang akan datang. Terciptanya produk baru dari seni prasi dalam bentuk yang berbeda yaitu dalam bentuk digital yang dapat diakses dengan mudah oleh generasi muda sehingga nilai-nilai yang terkandung dalam prasi tersebut dapat dipahami dan dimaknai oleh pembacaLontar already exist since the days of the Balinese ancestors of Hindu society, an old tradition in Bali which already past the golden age for a hundreds of years ago. Besides the above-mentioned of lontar, there are types of of lontar that contains various stories described and illustrated/visualized with full of meaning and  high aesthetic values. Balinese lontar usually contains of sacred mantras for various Balinese Hindu community activities. Inside those various types of lontars there are an explicit meaning and contains of various kinds of knowledge such as religion, philosophy, ethics, architecture, astronomy, medicine and many others. One of the examples is Prasi palm lontar which is located in the village of Tenganan Pegringsingan in Karangasem regency, Bali. This research is a qualitative research, which is pointed on the original condition of the subject research. This research is conducted by using hermeneutic approach, which is interpretative scientific knowledge. With the technology development like today it is expected that the already existing cultures heritage which has existed since hundreds years ago could be recorded on a digital media which later can be a digital library of the Prasi lontar and able to be a pioneer in preserving the cultural heritage that were recorded onto digital media using computer technology it is expected that it can be preserved and enjoyed by our children and grandchildren in the future. The creation of a new products from the art of Prasi in different forms that is in a digital form which can be easily accessed by the younger generation so that the values contained in Prasi could be understood and interpreted by the reader.
Bahasa Rupa Kartun Konpopilan Pada Koran Kompas Tahun 2016 I Wayan Nuriarta; I Gede Agus Indram Bayu Artha
Segara Widya : Jurnal Hasil Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 5 (2017): November
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/sw.v5i0.191

Abstract

Untuk menghadirkan humor ataupun kritik sosial, sebuah kartun pada koran biasanya memanfaatkan dua teks yaitu teks visual dan teks verbal. Kedua teks tersebut sangat diperlukan karena saling membutuhkan satu sama yang lainnya. Sementara kartun Konpopilan yang hadir pada Koran Kompas Minggu justru berbeda. Kartun ini dengan tegas menyatakan ‘dirinya’ adalah sebuah karya komunikasi visual yang hanya menggunakan teks visual tanpa teks verbal. Latar belakang tersebut menjadikan penelitian ini dilakukan dengan tujuan; (a) Untuk mendeskripsikan bahasa rupa kartun Konpopilan pada Koran Kompas tahun 2016, (b) Untuk mendeskripsikan makna denotasi dan makna konotasi kartun Konpopilan pada Koran Kompas tahun 2016. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian kualitatif. Hasil penelitian menunjukan bahasa rupa kartun Konpopilan berisi Isi wimba berupa manusia bercaping dan berbagai satwa, Cara Wimbanya menggunakan ukuran very long shot, long shot, medium long shot, Tata Ungkap Dalam memanfaatkan cara wimbanya dengan sudut pengambilan wajar, Tata Ungkap Luar tidak terdapat pada kartun dengan gaya ungkap 1 panil, namun terjadi pada penggambaran strips yang memanfaatkan lebih dari 1 panil. Makna denotasinya adalah sebuah narasi seorang manusia bercaping bersama para satwa yang hadir pada tiap panil dengan makna konotasi sebagai sebuah kartun kritik terhadap manusia dalam menjaga lingkungan.To bring humor or social criticism, a cartoon on newspapers usually uses two kinds of text, such as visual text and verbal text. Both of them are reinforcing the message that delivered by the cartoonist, either humor or criticism. If one of these texts does not exist, the message will be very difficult to understand as they need each other.  Konpopilan cartoon is published in Kompas newspaper every Sunday is different. This cartoon firmly states 'itself' is a work of visual communication. That background study brought this research has some objectives, such as; (a) To describe the visual language that the Konpopilan cartoons were published in Kompas Newspaper in 2016, (b) To describe the meaning of denotation and connotation of Konpopilan cartoons in Kompas newspaper in 2016. This research used Qualitative research. Konpopilan cartoon uses visual language, such as; Isi Wimba that presented by a person who wears a traditional woven bamboo hat and animals, Cara Wimba uses very long shot, long shot, and medium long shot, Tata Ungkap Dalam uses normal perspective, Tata Ungkap Luar is not presented in 1 frame cartoon style but presented by strip comics which uses more than one frame. Denotation meaning of this cartoon is described by the person who wears a traditional woven bamboo hat and some animals that has connotation meaning as a cartoon focusing on social criticsm; how human being should take care of the environment.

Page 1 of 18 | Total Record : 172