cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
,
INDONESIA
PAX HUMANA
ISSN : 23373512     EISSN : 25483021     DOI : -
Pax Humana adalah Jurnal Humaniora Yayasan Bina Darma yang terbit dua kali dalam satu tahun (Juni dan Desember). Jurnal ini hadir sebagai wadah pencerahan dan pemberdaya masyarakat atas dasar kasih dan perdamaian.
Arjuna Subject : -
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 7, No 2 (2020)" : 7 Documents clear
Modal Sosial dalam Kebijakan Hukum untuk Pencegahan Penyebaran Covid 19 Christina Maya Indah
PAX HUMANA Vol 7, No 2 (2020)
Publisher : Yayasan Bina Darma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Problematika hukum dan sosial merupakan persoalan interaksi hukum dalam masyarakat. Hukum membutuhkan nilai kesadaran hukum masyarakat sebagai salah satu modal sosial. Modal sosial perlu dibangun untuk menjadi sinergitas dalam pemberlakuan hukum, tidak hanya secara pemberlakukan juridis, tetapi secara pemberlakuan secara sosiologis yakni nilai kemanfaatan bagi masyarakat. Hasil penelitian teoretik ini menunjukkan bahwa penerapan kebijakan hukum pencegahan penyebaran Covid 19 melalui fungsionalisasi komponen lembaga dan pranata hukum juga harus didukung oleh komponen budaya hukum yang memuat modal sosial berupa daya adaptasi dan pertumbuhan kesadaran hukum masyarakat terhadap perubahan yang berlangsung. Harmonisasi antara hukum dan masyarakat akan menjadi modal sosial, yang mengarah pada jawaban atas problematika ketidaktaatan hukum masyarakat, sehingga modal sosial mendukung efektivitas hukum. Modal sosial kuat akan menumbuhkan adaptasi sikap, integrasi sosial, pandangan serta common goal yang hendak dicapai masyarakat bersama yang memengaruhi pelaksanaan hukum dalam kebijakan penghentian penyebaran Covid 19. Modal sosial kuat akan memberikan kohesi sosial masyarakat, mutual understanding dan menumbuhkan shared value untuk pencapaian common goal untuk menjadikan implementasi kebijakan hukum pencegahan penyebaran Covid 19 lebih efektif. Dengan demikian modal sosial yang kuat akan memasyarakatkan kebijakan hukum .
Budaya Toleransi di Balik Indonesia Mini: Dialog Interreligius Percik Martania - Hartika
PAX HUMANA Vol 7, No 2 (2020)
Publisher : Yayasan Bina Darma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Toleransi masih menjadi isu hangat hingga saat ini, bahkan berbagai kota terus berlomba untuk menciptakan kehidupan rukun bertoleransi. Salatiga merupakan kota dengan predikat kota toleran peringkat ke-2 di Indonesia pada 2018. Salah satu poin menarik dari Salatiga yaitu tingkat pluralisme yang tinggi dengan keberagaman suku, ras, dan agama sehingga sering disebut sebagai Indonesia Mini. Selain itu keberadaan Kampung Percik yang merupakan Lembaga Swadaya Masyarakat yang bergerak pada bidang kerukunan antarumat beragama juga menjadi salah satu bagian yang sudah melekat dengan Kota Salatiga. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, dan data utama diperoleh dari hasil wawancara mendalam dengan Aktifis Kampung Percik dan analisis melalui media sosial. Konsep dasar yang digunakan yaitu Komunikasi Organisasi, Budaya, dan Dialog Interreligius. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sikap toleransi merupakan warisan yang sudah dimiliki oleh masyarakat kota Salatiga dan telah menjadi budaya. Sedangakan dialog interreligius yang berjalan lancar dalam keberagaman dapat terwujud karena adanya pengelolaan dan koordinasi yang tepat, serta tersedianya wadah untuk menampung keberagaman di Kota Salatiga yaitu Kampung Percik.
Perilaku Muyek : Wujud Representasi Homoseksual di Pesantren (Analisis Ketidakadilan Gender Pada Pelaku Lesbian di Kalangan Santri) Siti Syamsiyatul Ummah
PAX HUMANA Vol 7, No 2 (2020)
Publisher : Yayasan Bina Darma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstractSantri is a term usually applied to someone who studied in the boarding school. Generally, santri falls into the teenage category. Which at this time is a period of self-discovery and maturity of the sex organs that propels on the desire to love and be loved. The research sought to uncover gender injustice in lesbian behavior in boarding school. Or in other terms in boarding school is commonly called by muyek. This research is a qualitative case study with the location of one of the big boarding school in sumenep district, madura. The data retrieval is done by using in-depth interview techniques and observations conducted over a period of two months with a month of pre-research. The results of this research; the first is the presence of a partner that tends to be superior and monopolizing the relationship. The second, it stems from gender injustice on the inferior side that is harmful both biologically, physically, and materially.Keyword: Santri, Muyek, Gender Injustice
Gerakan Maskerisasi Global: dari Fungsional ke Estetika Irfa Puspitasari; Baiq Wardhani
PAX HUMANA Vol 7, No 2 (2020)
Publisher : Yayasan Bina Darma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Esai ini mencoba menjelaskan bagaimana masker dan maskerisasi, selain merupakan bentuk dari tanggung jawab sosial dalam mengurangi resiko penularan Covid-19, mampu memicu kreativitas dengan menjadikannya sebagai gaya hidup dan fashion statement di tengah pandemi. Pandemi global telah memberi pelajaran berharga, yaitu pemakaian masker dan memberi makna baru baginya. Karena masker menjadi barang yang harus dimiliki, sebagian orang menjadikannya asesori, sesuatu yang mampu tidak saja berfungsi sebagai alat pelindung diri tetapi juga fungsi estetika. Walaupun Covid-19 adalah fenomena baru, memakai masker telah dipraktikkan orang sejak lama. Saat ini, menggunakan masker adalah perlindungan paling murah, terjangkau, dan tersedia dalam upaya untuk melawan virus Covid-19. Terdapat alasan kuat untuk memakai masker, yaitu mengurangi kemungkinan dan jumlah orang yang dapat tertular oleh orang yang membawa penyakit. Masker dirancang untuk mencegah keluarnya sejumlah besar droplets (tetesan, juga dikenal sebagai aerosol) yang dikeluarkan dari hidung dan mulut seseorang. Langkanya persediaan masker medis di pasaran sejak pandemi bermula, menyebabkan masyarakat memproduksi masker kain. Penggunaan masker kain menyebabkan jenis masker ini menjadi bagian dari memperindah penampilan seseorang dan sebagai fashion statement.
Virtual Identity Penggunaan Media Sosial Pada Mahasiswa Baru Bengkayang Yesicha Okta Rista
PAX HUMANA Vol 7, No 2 (2020)
Publisher : Yayasan Bina Darma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pada era digital ini, media sosial merupakan aplikasi populer yang banyak digunakan masyarakat. Media sosial dimanfaatkan sebagai media berkomunikasi massal. Hal ini didasari karena media sosial begitu mudah diakses bagi para penggunanya dimanapun dan kapanpun. Kehadiran media sosial tentu tak lepas dari dampak positif dan negatif bagi penggunanya. Perubahan dalam cara komunikasi yang menghadirkan identitas dalam virtual identity sering dijadikan kaum muda untuk memunculkan eksistensi dirinya. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui bagaimana pembentukan identitas virtual pada mahasiswa beasiswa Bengkayang angkatan 2019 dan mengetahui makna dari pembentukan identitas virtual dalam penggunaan media sosial. Penelitian ini dengan metode kualitatif. Partisipan dalam penelitian sejumlah 10 orang mahasiswa baru asal Kabupaten Bengkayang yang sedang berkuliah di Universitas Kristen Satya Wacana. Teknik penentuan responden menggunakan purposive sampling dengan pengumpulan data melalui wawancara mendalam. Analisis data dilakukan secara deskriptif kualitatif. Teknik analisis data menggunakan reduksi data, penyajian data dan validasi. Hasil yang telah diperoleh dari penelitian ini menunjukkan Instagram digunakan sebagai media informasi mengungkapkan emosi, sebagai tempat eksistensi diri dan media mengungkapkan real life. Perubahan kondisi urbanisasi yang terjadi pada mahasiswa Bengkayang tidak menjadi pengaruh virtual identity-nya. Virtual identity yang terbentuk pada mahasiswa Bengkayang bahkan menunjukkan identitas yang nyata.
Analisis Potensi Pariwisata Gumuk Sidul di Kelurahan Sidorejo Kidul, Salatiga Lasti Nur Satiani; Rini Kartika Hudiono
PAX HUMANA Vol 7, No 2 (2020)
Publisher : Yayasan Bina Darma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian analisis potensi pariwisata di Gumuk Sidul, Kelurahan Sidorejo Kidul, Salatiga dilakukan dengan tujuan mengetahui potensi pariwisata yang dimiliki  Gumuk Kidul dan memberikan rekomendasi arah pengembangan sesuai dengan potensi yang dimiliki. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif diskriptif melalui observasi langsung dan wawancara mendalam dengan responden di lingkup RW 6 Gunung Sari dan studi pustaka. Sedangkan analisa kajian dilakukan dengan analisa diskriptif SWOT berfokus pada elemen bauran 4A meliputi atraksi, amenitas, aksesibilitas dan ancillaries. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Gumuk Sidul harus menemukan USPs (Unique Selling Propositions) untuk dapat diposisisikan berbeda dibanding dengan destinasi yang lain. Atraksi fisik maupun non fisik masih harus dikembangkan. Amenitas serta fasilitas pendukung lain juga perlu disediakan untuk wisatawan dan jalan masuk menuju destinasi harus dibenahi. Konsep pengembangan pentaheliks juga harus diterapkan dengan melibatkan para akademisi, industri pariwisata, komunitas lokal, pemerintah dan media. 
The Inspirational Women Religious Leader in Peace-building Viewed from the Concept of Multicultural Education (A case study in Salatiga as the second most tolerant city in Indonesia) aprilian ria adisti
PAX HUMANA Vol 7, No 2 (2020)
Publisher : Yayasan Bina Darma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Women in this era have the same role and function as men in peace-building. It is an effort to realize the values, attitudes or behavior, and ways of life that support life peacefully. The survey showed that women are more tolerant of differences and relatively have no tendency to use violence against groups compared to men. They have abilities to unite the differences, lead nonviolent community, mobilize peace communities, as well as their engagement with the theological aspects of gender roles in peace. This is a descriptive qualitative research which focused on exposing the role of the inspirational women religious leader in peace-building and how they teach multicultural education to their followers. Moreover, the Krathwohl Taxonomy is used to analyze the findings. The result shows that the three of inspirational women religious leader are able to introduce multicultural education through internalize the value of peace, such as inter-religious harmony, religious moderation and the value of tolerance based on their own respective religions, namely Islam, Buddhism and Christianity.Keywords: women, leader, peace-building, multicultural, education

Page 1 of 1 | Total Record : 7