cover
Contact Name
Josef Keladu
Contact Email
yosaya_25@yahoo.com
Phone
+6282144748122
Journal Mail Official
jurnalledalero@gmail.com
Editorial Address
Ledalero, Maumere 86152, Sikka, NTT
Location
Kab. flores timur,
Nusa tenggara timur
INDONESIA
Jurnal Ledalero
ISSN : 14125420     EISSN : 25034316     DOI : 10.31385
Core Subject : Humanities, Art,
Jurnal Ledalero: Wacana Iman dan Kebudayaan (Discourse on Faith and Culture) was first published in hard-copy form in June, 2002., with ISSN 1412-5420. Since June, 2015, it has also been published electronically, with ISSN 2503-4316. Since it began the journal has been published twice each year, in June and in December. Jurnal Ledalero: Wacana Iman dan Kebudayaan (Discourse on Faith and Culture) is published by Ledalero Catholic School of Philosophy, Maumere, Flores, NTT, Indonesia. It presents articles of critical analysis and the results of research in the fields of philosophy, theology, and in the social sciences such as sociology, politics, psychology, language, anthropology, art and cultural studies.
Arjuna Subject : -
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 15, No 2 (2016): Lima Ratus Tahun Reformasi Protestan" : 8 Documents clear
Yohanes Calvin: Politik, Jabatan Gerejawi, dan Relevansinya bagi Gereja Masa Kini Mery Kolimon
Jurnal Ledalero Vol 15, No 2 (2016): Lima Ratus Tahun Reformasi Protestan
Publisher : Sekolah Tinggi Filsafat Katolik (STFK) Ledalero

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (275.875 KB) | DOI: 10.31385/jl.v15i2.44.258-273

Abstract

Recalling the Reformation movement of five hundred years ago provides us, the Churches throughout the world, with an opportunity to undertake a critical reflection on the meaning of the Reformation for us. In the Indonesian context, in particular relating to the relationship between Church and State, and the function of the Church in politics, we can learn from the legacy of John Calvin. This Reformation figure underlined the importance of separating the function of Church officials from that of State officials. Church pastors/ shepherds are responsible for taking care of the spiritual needs and the education of God’s people so that they can participate in politics as a faith responsibility. This is a duty that needs to be carried out with full commitment. Meanwhile the government and politicians work for the wellbeing of the people in the civic and governance spheres. Church and State have their own particular spheres of operation that should never be confused. Keywords: John Calvin, the reforms, ecclesiastical office, a Protestant church, politics, Indonesia ------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------ Memperingati lima ratus tahun gerakan Reformasi memberikan kepada kita, Gereja-gereja di seluruh dunia, kesempatan untuk melakukan refleksi kritis atas makna Reformasi bagi kita. Dalam konteks Indonesia, khususnya berkaitan dengan hubungan antara Gereja dan Negara, dan fungsi Gereja dalam politik, kita bisa belajar dari warisan Yohanes Calvin. Reformasi ini menggarisbawahi pentingnya pemisahan fungsi jabatan Gereja dari jabatan Negara. Para gembala bertanggung jawab mengurusi kebutuhan spiritual dan pendidikan umat Allah sehingga mereka dapat berpartisipasi dalam politik sebagai tanggung jawab iman. Ini adalah tugas yang perlu dilakukan dengan komitmen penuh. Sementara itu, pemerintah dan politisi bekerja untuk kesejahteraan rakyat di bidang sipil dan pemerintahan. Gereja dan Negara masing-masing memiliki bidang khusus yang tidak boleh saling berebutan satu sama lain. Kata-kata kunci: Yohanes Calvin, reformasi, jabatan gerejawi, gereja Protestan, politik, Indonesia
Calvin dan Humanisme Agustinus M.L Batlajery
Jurnal Ledalero Vol 15, No 2 (2016): Lima Ratus Tahun Reformasi Protestan
Publisher : Sekolah Tinggi Filsafat Katolik (STFK) Ledalero

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (263.632 KB) | DOI: 10.31385/jl.v15i2.37.240-257

Abstract

Many researches have been done concerning the contexts and the factors which effected the theology and character of John Calvin. At least three contemporary scenes should be considered as the dominant context when speaking about Calvin. First, the Rome from which the Reformer seceded; second, the Anabaptists; and third, the humanists especially Renaissance humanism. This essay looks at the core of Renaissance humanism, namely its emphasis on the Greek and Latin classics as the chief subject of study and as unrivalled models of imitation and in thinking and even in actual conduct. After a brief glance at Calvin’s education, this essay attempts to explain the influence of Christian French humanism on Calvin in his ethics and theology, and its ongoing relevance to our contemporary situation in Indonesia today. Keywords: Calvin, humanism, classical writings, theology, character, sense of discipline, discipline humaniores ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Banyak penelitian telah dilakukan mengenai konteks dan faktor-faktor yang berpengaruh terhadap teologi dan karakter Yohanes Calvin. Setidaknya ada tiga hal mendasar yang harus dianggap penting sebagai konteks yang dominan ketika berbicara tentang Calvin. Pertama, Roma dari mana Reformer memisahkan diri; kedua, Anabaptis; dan ketiga, para humanis terutama humanisme Renaisans. Esai ini memperlihatkan inti dari humanisme Renaisans, yang bertitik tolak pada Yunani dan Latin klasik sebagai model tak tertandingi mengenai imitasi, hal berpikir, dan perilaku aktual. Setelah melihat sekilas pendidikan Calvin, esai ini mencoba menjelaskan pengaruh humanisme Kekristenan Prancis terhadap etika dan teologi Calvin, dan relevansi berkelanjutan bagi situasi kontemporer kita di Indonesia saat ini. Kata-kata kunci: Calvin, humanisme, tulisan-tulisan klasik, teologi, karakter, rasa disiplin, disiplin humaniores.
SURAT YAKOBUS KEPADA MUSYAWARAH PARIPURNA IAMS DI SEOUL Elsa Temez
Jurnal Ledalero Vol 15, No 2 (2016): Lima Ratus Tahun Reformasi Protestan
Publisher : Sekolah Tinggi Filsafat Katolik (STFK) Ledalero

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (298.719 KB) | DOI: 10.31385/jl.v15i2.49.347-365

Abstract

In his classic study of mission, David Bosch (1991) outlined three biblical paradigms of mission from Matthew, Luke and Paul. In this essay, the author proposes a further paradigm drawn from the Letter of James. James is viewed as a circular written for Jewish-Christian migrant communities to encourage them towards a mission ad intra and intra gentes. James makes six calls to radical conversion: he strenghtens the readers’ hope as they struggle against overwhelming odds, he then calls for conversion against greed and against ambition and power struggles, exhorting them not to be seduced by the values of society, and so leave behind their friendship with the world; he finally calls for faithcoherence. The essay concludes with four applications of the “James Paradigm” for the renewal of mission witness among Christians today. Keywords: Epistle of James, the paradigm of an internal mission,repentance, characterististics of James’ mission, consistent faith ------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------ Surat Yakobus kepada Musyawarah Paripurna IAMS di Seoul. David J.Bosch, dalam buku klasiknya Transformasi Misi Kristen, menganalisis tiga sumber Alkitab dalam Perjanjian Baru (Matius, Lukas, dan Paulus) guna merumuskan tiga paradigma misioner yang berasal dari ketiganya. Di dalam esai ini penulis menampilkan paradigma Surat Yakobus. Yakobus menyajikan segi-segi yang tidak tampak dalam ketiga paradigma di atas, yang dianggap relevan dengan situasi kita saat ini. Artikel menyimpulkan empat aplikasi pandangan Yakobus dalam rangka pembaruan kesaksian misi Kristen dewasa ini. Kata-kata kunci: Surat Rasul Yakobus, paradigma misi internal,pertobatan, ciri-ciri misi Yakobus, iman konsisten
Penafsiran Alkitab Dari Perspektif Dialog Profetis: Belajar Dari Sejarah Lukas Jua
Jurnal Ledalero Vol 15, No 2 (2016): Lima Ratus Tahun Reformasi Protestan
Publisher : Sekolah Tinggi Filsafat Katolik (STFK) Ledalero

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (305.029 KB) | DOI: 10.31385/jl.v15i2.47.216-239

Abstract

The progress of biblical interpretation today is the fruit of prophetic dialogue, a basic exegetical attitude shown especially since the Reformation, thanks to Martin Luther’s prophetic courage. He brought the Bible back to the centre of the Church’s life and to its function as its highest authority. Moreover, Luther also paved the way for developing historical-critical methods by revising patristic hermeneutics, emphasizing the literal sense over allegorical ones. Because prophetic dialogue was Luther’s basic perspective, much of his exegesis is still valid today. Modern exegetes interpret the Bible from a similar perspective, and as a result their interpretation promotes ecumenism and inter-religious dialogue. One important initiative is Scriptural Reasoning promoted by Jewish, Christian and Muslim exegetes. Keywords: Reform, counter-reform, prophetic dialogue, critical attitude, courage, freedom, truth, authority, humanism, historicalcritical methods, synchronic approach ------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Penafsiran Alkitab dari Perspektif Dialog Profetis:Belajar dari Sejarah. Kemajuan penafsiran Alkitab sekarang adalah buah dari dialog profetis sebagai sikap dasar yang ditunjukkan oleh para penafsir sejak awal Reformasi berkat keberanian profetis Luther. Dia mengembalikan Alkitab ke tempat sentral kehidupan Gereja dan menjadikannya sebagai otoritas tertinggi. Lebih dari itu, Luther juga membuka jalan bagi perkembangan penafsiran historis kritis, dengan membuat revisi atas hermeneutik patristik, dengan mengutamakan arti literal dari pada arti alegoris. Banyak hasil penelitian masih berlaku sampai sekarang karena sikap dasar dialog profetis ini. Umumnya para ekseget modern menafsir Alkitab menurut perspektif ini, sehingga penafsiran mereka memajukan ekumene, dan dialog antaragama. Salah satu inisiatif penting yang patut disebut Scriptural Reasoning yang digalakkan penafsir Yahudi, Kristen dan Islam. Kata-kata kunci:
REFORMASI PANTEKOSTAL SEBAGAI PEREMAJAAN KEKRISTENAN PALING RADIKAL SEJAK PEMBARUAN JOHN CALVIN John Mansford Prior
Jurnal Ledalero Vol 15, No 2 (2016): Lima Ratus Tahun Reformasi Protestan
Publisher : Sekolah Tinggi Filsafat Katolik (STFK) Ledalero

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (317.216 KB) | DOI: 10.31385/jl.v15i2.42.323-346

Abstract

The Pentecostal Churches and Charismatic movements within the mainstream Churches are by far the fastest growing sectors of Christianity. In particular, migrants are attracted from their mainstream ecclesial roots to a myriad of Pentecostal communities in urban settings, to congregations that are small and welcoming, but also to the mega-Churches. This essay looks at key characteristics of urban migrants and the significant elements of the Pentecostal/charismatic communities that attract them as new members. Particular attention is given both to the evolving political dimension of these communities and to the “gender paradox” whereby women are more likely to join Pentecostal/Charismatic Churches where they discover a renewed dignity and identity while these very Churches are largely governed by men. Examples are given as diverse as that among Protestant urban migrants in mainland China, and Catholic domestic and international migrants within and from the Philippines. The essay concludes with an analysis that looks at the data as a reflection of modernity and its consequent challenge to mainstream Churches that have as yet failed to adapt. Keywords: Pentecostal Church, Charismatic Movement, the immigrants,Chinese immigrants, migrant Filipino, gender paradox of modernity ------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------ Gereja-gereja Pantekostal, juga gerakan Karismatik dalam Gereja-Gereja arus utama, merupakan sektor kekristenan yang sedang bertumbuh secara paling pesat. Secara khusus, para migran yang tercabut dari akarnya dalam Gereja mereka di tempat asal, mengarah ke komunitas-komunitas Pantekostal di daerahdaerah perkotaan, baik dalam jemaat-jemaat kecil, maupun dalam Gereja-Gereja mega. Esai ini memperlihatkan ciri-ciri kunci dari migran perkotaan dan unsur-unsur yang signifikan dari kalangan Pantakostal/ Karismatik yang menarik mereka sebagai anggota baru. Perhatian khusus diberikan kepada dimensi politik yang berkembang dan pada “paradoks gender” di mana perempuan lebih mungkin bergabung dalam Gereja Pantekostal/gerakan Karismatik, di mana mereka menemukan martabat dan jatidiri baru. Walau demikian, sebagian besar Gereja Pantekostal masih diatur oleh kaum lelaki. Beragam contoh ditampilkan, seperti yang terjadi di kalangan migran perkotaan Protestan di Cina daratan, dan juga di kalangan migran domestik dan internasional Katolik dari Filipina. Esai ini diakhiri dengan analisis yang memperlihatkan data yang mencerminkan modernitas, dan karena itu tantangan bagi GerejaGereja arus utama yang sampai kini gagal menghadapnya. Kata-kata kunci: Gereja Pentakostal, Gerakan Karismatik, kaum perantau, perantau Cina, migran Filipina, gender paradoks, modernitas
Bolehkah Gereja-Gereja Kristen Tetap Terpisah? George Ludwig Kirchberger
Jurnal Ledalero Vol 15, No 2 (2016): Lima Ratus Tahun Reformasi Protestan
Publisher : Sekolah Tinggi Filsafat Katolik (STFK) Ledalero

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (284.108 KB) | DOI: 10.31385/jl.v15i2.36.190-215

Abstract

The author starts from the clear statement of the Second Vatican Council,“that the Church is a single flock, there are not many Churches. God established a single Church by sending His Son and the Spirit”. Today, the “separated” Churches”, are in real communion, although the communion is not yet complete. Through baptism all Christians, in each of the Christian Chruches, are members of the one Body of Christ. This is a strong bond and has to be taken as more resilient than any differences that may diminish unity. Therefore we must ask: what must be regarded as a difference that is significant enough to grant one the right to deem one’s Church as still separated? This article outlines the eight theses of Heinrich Fries and Karl Rahner where they show, with detalied argumentation, that today the Christian Churches can come together in communion. The article draws to the conclusion that the Christian Church has a moral obligation to live in a communion that is already possible, and has no right to state that the Churches can remain separated from each other. Keywords: Reformation, church unity, separated church ------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Penulis artikel ini bertolak dari penegasan Konsili Vatikan II “bahwa Gereja itu merupakan satu kawanan, tidak ada Gereja-gereja Allah dalam bentuk jamak, Allah hanya mendirikan satu Gereja melalui perutusan Putra dan Roh-Nya”. Semua Gereja yang sekarang ini masih “terpisah”, berada dalam suatu persekutuan yang sungguh riil, meskipun tidak sepenuhnya. Melalui sakramen baptis semua orang Kristen dari semua Gereja Kristen menjadi anggota pada satu tubuh Kristus. Inilah suatu ikatan yang sangat kuat dan pada dasarnya mesti dianggap lebih utama dari pelbagai perbedaan yang mengurangi persekutuan itu. Oleh karena itu mesti ditanya, apa yang bisa dianggap sebagai perbedaan yang cukup besar untuk memberikan hak, untuk tetap menyatakan diri sebagai Gereja terpisah. Sebagian besar artikel ini merupakan perkenalan terhadap delapan tesis dari Heinrich Fries dan Karl Rahner, di mana mereka memperlihatkan secara teliti dan argumentatif tesis bahwa sudah saatnya Gereja-gereja Kristen bersatu. Artikel ini menyimpulkan bahwa Gereja Kristen mempunyai kewajiban moral untuk hidup dalam persekutuan yang sudah mungkin itu dan tidak lagi mempunyai hak untuk menyatakan diri sebagai Gereja yang terpisah satu sama lain. Kata-kata kunci: Reformasi; Kesatuan Gereja; Gereja terpecah
Toleransi dan Diskursus Post-Sekularisme Otto Gusti Madung
Jurnal Ledalero Vol 15, No 2 (2016): Lima Ratus Tahun Reformasi Protestan
Publisher : Sekolah Tinggi Filsafat Katolik (STFK) Ledalero

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (284.499 KB) | DOI: 10.31385/jl.v15i2.39.305-322

Abstract

This essay presents two types of tolerance: passive tolerance and active or authentic tolerance. Passive tolerance is vertical and is illustrated in the attitude of one being forced by a pluralist societal situation to allow others to exist. Here tolerance is a gift from the powerful majority but can be taken away at any time if minorities infringe a number of conditions. Active or authentic tolerance accepts the right to existence, freedom and the wish of others to develop precisely as others. This principle of tolerance is in accord with the situation of contemporary democratic societies that are plural and which are characterized by potential conflict due to differing concepts of the good life. This essay illustrates how the concept of authentic tolerance is an appropriate model for a post-secular society marked by an increasingly public function by religion. Keywords: Passive tolerance, active tolerance, secularization, postsecularism,public reason,religion --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Tulisan ini memperkenalkan dua jenis toleransi yakni toleransi pasif dan toleransi aktif atau autentik. Toleransi pasif bersifat vertikal dan tampak dalam sikap terpaksa membiarkan yang lain hidup karena realitas sosial yang plural. Di sini toleransi adalah hadiah dari penguasa dan setiap saat dapat dicabut kembali jika kaum minoritas melanggar sejumlah ketentuan. Toleransi aktif atau autentik mengiakan hak hidup atau keberadaan, kebebasan dan kehendak yang lain sebagai yang lain untuk berkembang. Prinsip toleransi ini sesuai dengan kondisi masyarakat demokratis dan plural kontemporer yang diwarnai potensi konflik lantaran perbedaan konsep good life. Tulisan ini akan menunjukkan bahwa konsep toleransi autentik merupakan konsep yang cocok dengan kondisi masyarakat post-sekular yang ditandai dengan menguatnya peran publik agama- agama. Kata-kata kunci: Toleransi pasif, toleransi aktif, sekularisasi, postsekularisme,nalar publik, agama
Fundamentalisme Agama Sebagai Tantangan Bagi Negara Mathias Daven
Jurnal Ledalero Vol 15, No 2 (2016): Lima Ratus Tahun Reformasi Protestan
Publisher : Sekolah Tinggi Filsafat Katolik (STFK) Ledalero

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (326.531 KB) | DOI: 10.31385/jl.v15i2.38.274-304

Abstract

The 16 th Century Protestant Reformation, triggered by Martin Luther and fellow reformers, eventually resulted in violent conflicts between various Church movements and their individual political supporters. These conflicts brought about a new awareness in the European peoples of the time, that the moralization of politics based on the truth of one religious group/Church always represents a clear threat to the life of a pluralistic society. The function of state politics is to guarantee life in peace together, with freedom and justice, among people who have differing religious convictions and who wish to establish a country together. On the contrary, religious fundamentalism is the greatest enemy of a country in so far as it attacks the principle of state secularism and fights for a return to state politics as an issue of “right or wrong”. To the extent that fundamentalism rejects the autonomy of the political system and enforces without compromise its own absolute truth on others, it is a clear threat to peace. Keywords: Reformation, Church, Fundamentalism, State, Politics, Truth, Peace --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Reformasi Protestan pada abad XVI yang dipelopori Martin Luther dengan kawan-kawan berujung pada konflik peperangan antargereja yang berbeda dan masing-masing pendukung politisnya. Konflik tersebut memunculkan kesadaran baru dalam masyarakat modern Eropa kala itu bahwa moralisasi politik berdasarkan kebenaran iman suatu agama selalu merupakan ancaman nyata bagi kelangsungan masyarakat yang heterogen. Tugas politik kenegaraan ialah menjamin hidup bersama secara damai dalam kebebasan dan keadilan dari orang-orang yang mempunyai latar belakang keagamaan dan keyakinan yang berbeda dan bertekad membangun suatu negara bersama. Sebaliknya fundamentalisme agama merupakan musuh utama negara sejauh ia melabrak prinsip sekularitas negara serta mengembalikan politik kenegaraan sebagai perihal “benarsalah”. Sejauh fundamentalisme menolak otonomi sistem politik dan memaksakan tanpa kompromi kebenaran absolut yang diyakini pada pihak lain, ia merupakan ancaman nyata bagi perdamaian. Kata-kata kunci: Reformasi, Gereja, Fundamentalisme, Negara, Politik, Kebenaran, Perdamaian

Page 1 of 1 | Total Record : 8