cover
Contact Name
Josef Keladu
Contact Email
yosaya_25@yahoo.com
Phone
+6282144748122
Journal Mail Official
jurnalledalero@gmail.com
Editorial Address
Ledalero, Maumere 86152, Sikka, NTT
Location
Kab. flores timur,
Nusa tenggara timur
INDONESIA
Jurnal Ledalero
ISSN : 14125420     EISSN : 25034316     DOI : 10.31385
Core Subject : Humanities, Art,
Jurnal Ledalero: Wacana Iman dan Kebudayaan (Discourse on Faith and Culture) was first published in hard-copy form in June, 2002., with ISSN 1412-5420. Since June, 2015, it has also been published electronically, with ISSN 2503-4316. Since it began the journal has been published twice each year, in June and in December. Jurnal Ledalero: Wacana Iman dan Kebudayaan (Discourse on Faith and Culture) is published by Ledalero Catholic School of Philosophy, Maumere, Flores, NTT, Indonesia. It presents articles of critical analysis and the results of research in the fields of philosophy, theology, and in the social sciences such as sociology, politics, psychology, language, anthropology, art and cultural studies.
Arjuna Subject : -
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 16, No 1 (2017): Seratus Tahun Sesudah Perang Dunia Pertama" : 6 Documents clear
TEOLOGI PARA KUDUS: INSPIRASI BERTEOLOGI PADA MASA KINI Paulinus Yan Olla
Jurnal Ledalero Vol 16, No 1 (2017): Seratus Tahun Sesudah Perang Dunia Pertama
Publisher : Sekolah Tinggi Filsafat Katolik (STFK) Ledalero

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (259.367 KB) | DOI: 10.31385/jl.v16i1.41.74-88

Abstract

This study explores the nature of “The theology of the saints” and its contribution to theological inquiry today. John Paul II in his Apostolic Letter, Novo Millennio Ineunte (2001) officially applied the term “lived theology” to the lives of the saints. This kind of theology, known as scientia amoris (knowledge of faith through an experience of love), is not in opposition to classical theological reflection as scientia fidei (knowledge of faith through reason). Regarding the formulation of ideas, on one side, the mystic saints usually express their “lived theology” through the language of symbols or metaphor. In this way, they enrich scientific and technical theological expressions in classical theology. Finally, the theology of saints can also help to inspire our way of doing theology. The point is, theological research should count on lived experience as its strating point rather than abstractions about God. Keywords: Theologians, saints, holiness, mysticism, symbolic. Artikel ini menempatkan “teologi para kudus” sebagai titik awal penyelidikan teologi dewasa ini. Yohanes Paulus II dalam Surat Apostoliknya, Novo Millennio Ineunte (2001) telah secara resmi menerapkan istilah ini untuk menerangkan kehidupan para kudus sebagai “teologi hidup”. Teologi semacam ini, yang dikenal juga sebagai scientia amoris (pengetahuan iman melalui pengalaman cinta), tidak bertentangan dengan refleksi teologis klasik sebagai scientia fidei (pengetahuan tentang iman berdasarkan akal budi). Orang-orang mistik suci biasanya mengekspresikan “teologi hidup” mereka melalui bahasa simbol atau beberapa ungkapan metafora. Dengan cara itu, mereka memperkaya ungkapan teologis dan teknik berteologi. Akhirnya, teologi para kudus dapat berkontribusi terhadap setiap upaya melakukan teologi. Intinya ialah bahwa penelitian teologis harus mengandalkan pengalaman hidup sebagai titik acuan dan bukan hanya abstraksi akan Tuhan. Kata-kata kunci: Teolog, para kudus, kesucian, mistik, simbolis.
MICHEL FOUCAULT: KUASA VERSUS RASIONALITAS MODERNIS (REVALUASI DIRI SECARA KONTINU) Konrad Kebung
Jurnal Ledalero Vol 16, No 1 (2017): Seratus Tahun Sesudah Perang Dunia Pertama
Publisher : Sekolah Tinggi Filsafat Katolik (STFK) Ledalero

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (256.953 KB) | DOI: 10.31385/jl.v16i1.51.55-73

Abstract

This paper presents Michel Foucault’s thoughts on historical events in the past as they impact on the constitution of the self in the present. Thus, Foucault is known as an historian of the present. An expert in the history of the system of thought, he analyses how people thought and behaved throughout the history of philosophy from the Rennaisance to the classical period (17 th-18 in Foucault’s classification) and onto the 20thth century. As a postmodernist (and post-structuralist) thinker, he critiques modern rationality based mainly on the ego, subject, and consciousness, as passed down to present day thinking by René Descartes. He analyses critically this exclusive rationality and confronts it with his notion of discourse. This paper also presents ways of reading important historical events which were, and are, influential in human life in line with Foucault’s criticism. Keywords: Foucault, philosopy, discourse, subject, etict Artikel ini menyajikan pemikiran Michel tentang peristiwa sejarah masa lalu yang berguna bagi manusia pada masa sekarang. Foucault secara khusus dikenal sebagai sejarawan masa kini. Sebagai ahli dalam sejarah sistem pemikiran, Foucault menganalisis cara orang berpikir dan berperilaku sepanjang sejarah filsafat dimulai dari era Rennaisance, periode klasik (abad XVII-XVIII dalam klasifikasi Foucault), hingga abad XX. Sebagai pemikir posmodernis (dan postrukturalis), Foucault mengajukan kritik terhadap rasionalitas modern yang didasarkan atas ego, subjek, dan kesadaran, yang diwariskan sampai saat ini oleh René Descartes. Dia menganalisis secara kritis rasionalitas eksklusif ini dan menghadapkannya dengan gagasan wacana. Artikel ini juga menyajikan cara untuk membaca semua peristiwa sejarah yang penting dan berpengaruh terhadap kehidupan manusia sesuai dengan kritik Foucault. Kata-kata kunci: Foucault, filsafat , diskursus, subjek, etika
ETIKA MENGINGAT BAGI BANGSA PELUPA Binsar J. Pakpahan
Jurnal Ledalero Vol 16, No 1 (2017): Seratus Tahun Sesudah Perang Dunia Pertama
Publisher : Sekolah Tinggi Filsafat Katolik (STFK) Ledalero

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (295.96 KB) | DOI: 10.31385/jl.v16i1.54.34-54

Abstract

Indonesians have the tendency to forget their problems as a way of solving them. The main question to be explored in this paper is who has the task to remember, and what to remember. Forgetfulness is thought to come from several factors: language, the manner one accepts things that happened, and as an escape from problems that are considered unsolveable. Memory has become a political commodity when it is remembered or forgotten for certain goals. Nevertheless, to remember is better than to forget in terms of dealing with the painful past. Remembering is our responsibility to hear the voice of the victims of history, so that tragic history will not repeat itself. Some Indonesian ethnic groups have shown that they have a basis for remembrance in their culture and we can use this as a basis for communal remembrance in dealing with the painful past. Keywords: remember, forget, Indonesian language, communal memory,truth, history, responsibility Bangsa Indonesia memiliki kebiasaan untuk melupakan masalah yang ada. Pertanyaan utama yang akan dieksplorasi adalah, siapa yang memiliki tugas utama untuk mengingat, dan apa yang harus diingat. Kebiasaan untuk melupakan di Indonesia muncul dari beberapa faktor: bahasa, penerimaan akan kejadian yang dialami, dan pelarian dari masalah yang dianggap tidak bisa diselesaikan. Ingatan juga menjadi sebuah komoditas politik ketika dia diingat dan dilupakan demi tujuan tertentu. Meskipun menyakitkan, mengingat masa lalu untuk perubahan di masa depan adalah pilihan yang lebih baik dari melupakannya. Mengingat adalah tanggung jawab kepada para korban dalam sejarah supaya suara mereka terdengar, masa lalu tidak terulang lagi, dan perjalanan sebuah bangsa ke depan. Beberapa suku di Indonesia menunjukkan bahwa tindakan mengingat juga ada dalam budaya dan dia dapat digunakan menjadi dasar ingatan komunal bagi bangsa Indonesia dalam penyelesaian kasus-kasus masa lalu yang menyakitkan. Kata-kata kunci: mengingat, melupakan, bahasa Indonesia, ingatan komunal, kebenaran, sejarah, tanggung jawab
PIERRE TEILHARD DE CHARDIN IMAM DI TENGAH PERANG Antonius Denny Firmanto
Jurnal Ledalero Vol 16, No 1 (2017): Seratus Tahun Sesudah Perang Dunia Pertama
Publisher : Sekolah Tinggi Filsafat Katolik (STFK) Ledalero

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (229.719 KB) | DOI: 10.31385/jl.v16i1.55.26-33

Abstract

World War I was a horrifying episode in human history. Some, however, saw past the brutality of the fighting, the squalid conditions of the trenches, and the excessive casualties on both sides, and instead saw God. World War I led to questions about humanity and its meaning. Pierre Teilhard de Chardin was one of thousands of clergy, religious, and seminarians who experienced World War I as a conscript in Northern France. Keywords: priest, élan vital, war Perang Dunia I adalah salah satu periode yang paling mengerikan dalam sejarah manusia. Kendatipun demikian, di tengah kondisi nan brutal seperti itu sesungguhnya orang masih sanggup menemukan Allah. Perang Dunia I, bagaimanapun, menimbulkan pertanyaan mendasar tentang kemanusiaan dan maknanya. Pierre Teilhard de Chardin adalah salah satu dari ribuan klerus, religius, dan seminaris yang mengalami Perang Dunia I sebagai prajurit di Perancis Utara. Kata-kata kunci: imam, elan vital, perang
Pada masa itu...Dr. Herman Embuiru, SVD Rektor Seminari St. Paulus Ledalero 1978-1984 Pendobrak yang Tak Kenal Kompromi John Mansford Prior
Jurnal Ledalero Vol 16, No 1 (2017): Seratus Tahun Sesudah Perang Dunia Pertama
Publisher : Sekolah Tinggi Filsafat Katolik (STFK) Ledalero

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (330.98 KB) | DOI: 10.31385/jl.v16i1.58.89-109

Abstract

Tokoh-tokoh yang diperkenalkan dalam rubrik “Pada Masa Itu...” meninggalkan jejaknya sebagai pelopor dalam salah satu bidang akademik. Ada dua pengecualian, Johann Bouma (Jurnal Ledalero Vol.15, No.2, Desember 2016, hlm. 366-389) dan kini Herman Embuiru. Bukan mata kuliah Pancasila, Homiletika, atau Islamologinya yang paling berkesan, melainkan jejaknya sebagai pemimpin komunitas Ledalero yang merintis jalan baru, sehingga kita dapat mengatakan bahwa ada garis patahan antara ‘masa sebelum Embuiru’ dan ‘masa sesudah Embuiru’. Meski ia tidak pernah mendapat posisi resmi dalam kepengurusan STFK, dan masa tugasnya di Seminari berakhir 30an tahun lalu, namun Embuiru adalah tanda atau pembatas era yang mencetak babak baru dalam pendidikan STFK Ledalero yang masih berlangsung sampai hari ini.
TEOLOGI DIALEKTIS: BUAH TEOLOGI DARI RAHIM PERANG DUNIA PERTAMA Sefrianus Juhani
Jurnal Ledalero Vol 16, No 1 (2017): Seratus Tahun Sesudah Perang Dunia Pertama
Publisher : Sekolah Tinggi Filsafat Katolik (STFK) Ledalero

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (280.258 KB) | DOI: 10.31385/jl.v16i1.56.7-25

Abstract

On the one hand, the First World War was the epitome of destruction, on the other hand the war spurred humanity to think deeply and be creative. An example of human creativity, a fruit of World War I, was Dialectic Theology, a theology that counter-balances and corrects Liberal Theology. It corrects the concept that identifies God with the human, such that instead of humanity talking about God, humanity deifies itself. Dialectic Theology invites theologians to return to the Sacred Scriptures to rediscover the true concept of the Divine. The God of Christians is the God who is absolutely “Other”, a concept impossible for human reason to grasp. God can only be experienced in faith. Nevertheless, Dialectic Theology is not without imperfections for its theological model excessively absolutizes God. This tendency results in Dialectic Theology falling into a similar fault as Liberal Theology. Liberal Theology falls into anthropomorphism, while Dialectic Theology falls into theocentrism. It also ignors other theological sources, namely tradition and context. Contextual theologies are a reaction to Dialectic Theology. Keywords: dialectic theology, liberal theology, otherness, justification, religion, war. Di satu sisi, perang berdaya menghancurkan, pada sisi lain, ia memacu manusia untuk berpikir dan berkreasi. Salah satu kreasi manusia, sebagai buah dari perang Dunia I adalah Teologi dialektis. Teologi dialektis merupakan teologi yang muncul untuk mengoreksi Teologi Liberal. Hal yang dikoreksi adalah konsep tentang Allah yang bersifat antropomorfistis. Allah disamakan dengan manusia. Di sini, manusia alih-alih berbicara tentang Allah, padahal yang terjadi adalah ia yang meng-allah-kan dirinya. Terhadap realitas ini, Teologi dialektis meminta para teolog untuk kembali kepada Kitab Suci. Sebab konsep mengenai Allah yang benar ada di sana. Allah Kristen bukan Allah seperti yang dipikirkan oleh teologi liberal. Allah Kristen adalah Allah “yang lain”. Allah yang berbeda secara absolut dengan manusia. Terhadap Allah macam ini, rasio manusia tidak mungkin menjangkaunya. Ia hanya bisa dialami dalam iman. Teologi dialektis bukanlah tanpa cacat. Model teologi ini terlalu mengabsolutkan Allah. Tendensi ini telah membuat teologi ini jatuh ke dalam dosa yang sama seperti teologi liberal. Dosa teologi liberal adalah antropomorfisme, sedangkan dosa Teologi dialektis adalah teosentrisme. Kekeliruan yang lain dari teologi ini adalah pengabaian sumber lain dalam berteologi, yaitu tradisi dan konteks. Teologi kontekstual merupakan tanggapan atas Teologi dialektis. Kata-kata kunci: teologi dialektis, teologi liberal, alteritas, pembenaran,agama, perang.

Page 1 of 1 | Total Record : 6