cover
Contact Name
Josef Keladu
Contact Email
yosaya_25@yahoo.com
Phone
+6282144748122
Journal Mail Official
jurnalledalero@gmail.com
Editorial Address
Ledalero, Maumere 86152, Sikka, NTT
Location
Kab. flores timur,
Nusa tenggara timur
INDONESIA
Jurnal Ledalero
ISSN : 14125420     EISSN : 25034316     DOI : 10.31385
Core Subject : Humanities, Art,
Jurnal Ledalero: Wacana Iman dan Kebudayaan (Discourse on Faith and Culture) was first published in hard-copy form in June, 2002., with ISSN 1412-5420. Since June, 2015, it has also been published electronically, with ISSN 2503-4316. Since it began the journal has been published twice each year, in June and in December. Jurnal Ledalero: Wacana Iman dan Kebudayaan (Discourse on Faith and Culture) is published by Ledalero Catholic School of Philosophy, Maumere, Flores, NTT, Indonesia. It presents articles of critical analysis and the results of research in the fields of philosophy, theology, and in the social sciences such as sociology, politics, psychology, language, anthropology, art and cultural studies.
Arjuna Subject : -
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 17, No 1 (2018): RADIKALISME" : 6 Documents clear
MEMAHAMI PEMIKIRAN IDEOLOGIS DALAM ISLAMISME RADIKAL | UNDERSTANDING IDEOLOGICAL THOUGHT IN RADICAL ISLAMISM Mathias Daven
Jurnal Ledalero Vol 17, No 1 (2018): RADIKALISME
Publisher : Sekolah Tinggi Filsafat Katolik (STFK) Ledalero

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (346.017 KB) | DOI: 10.31385/jl.v17i1.123.27-57

Abstract

Abstrak: Islamisme atau fundamentalisme Islam merupakan ideologi yang memperjuangkan moralisasi politik berdasarkan keunggulan moral agama Islam. Istilah “Islamisme” dan “fundamentalisme Islam” menggambarkan fenomen politisasi agama dan sakralisasi politik. Moralisasi politik berdasarkan kebenaran iman suatu agama selalu berbahaya, sebab ia menjadi ancaman nyata bagi kelangsungan masyarakat yang heterogen. Namun Islamisme radikal lebih dari sekedar Fundamentalisme Islam. Islamisme radikal selalu bercorak fundamentalis, tetapi tidak semua fundamentalisme Islam bersifat radikal. Keradikalan dalam Islamisme terletak dalam usaha memperjuangkan moralisasi politik berdasarkan ajaran Islam baik dengan cara legal, maupun dengan menggunakan sarana teror atau kekerasan. Itulah sebabnya Islamisme radikal selalu dikaitkan dengan terorisme internasional; artinya terorisme internasional tidak bisa dipikirkan tanpa Islamisme radikal. Salah satu jalan untuk menyikapinya ialah diskursus kritis terbuka yang bertujuan menyingkapkan dan mengkritik pemikiran ideologis yang terkandung di dalamnya serta meningkatkan kewaspadaan akan konsekuensi praktis dari sebuah jenis pemikiran ideologis. Usaha bersama untuk memahami struktur pemikiran ideologis dan melawan radikalisasi agama menjadi penting dan urgen jika semua komponen bangsa masih berkepentingan merawat negara Pancasila sebagai “rumah bersama” bagi semua warga dengan aneka latar belakang agama, suku, dan bahasa yang berbeda. Kata-kata Kunci: Islamisme radikal, fundamentalisme agama, ideologi, totaliter, kebenaran, dan politik.
KAMPANYE STRATEGIS MELAWAN RADIKALISME: MERANCANG MODEL PENDIDIKAN MULTIKULTURAL | A STRATEGIC CAMPAIGN AGAINST RADICALISM: A PLANNING MODEL FOR MULTICULTURAL EDUCATION Yosef Keladu Koten
Jurnal Ledalero Vol 17, No 1 (2018): RADIKALISME
Publisher : Sekolah Tinggi Filsafat Katolik (STFK) Ledalero

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (307.457 KB) | DOI: 10.31385/jl.v17i1.107.3-26

Abstract

Abstract: Radicalism seriously threatens modern pluralistic communities. In recent times, many national states have put in place strategic plans to fight against radicalism, or to lessen the impact of radical ideas or behaviour. This is known as the process of de-radicalisation. This isn’t an easy process there are many reasons behind the growth of radicalism. One of these is the simple acceptance of differences without trying to understand those differences and the similarities of the people of a country. This can be signified by, and caused by a process of uniformity, which can be seen in the system of education. With this in mind, this article proposes a strategic, effective campaign against radicalism, beginning with a model of multicultural education. Multicultural education promotes the principle of inclusiveness, diversity, democracy and critical thinking which is appropriate for a pluralistic country which enables the education of people to live in a multicultural community. Keywords: Radicalism, inability to think, diversity, ideology, multiculturalism, multicultural education. Abstrak: Radikalisme menyebarkan ancaman serius terhadap komunitas pluralistis modern. Selama beberapa dekade terakhir, banyak negara di dunia menetapkan rencana-rencana strategis untuk berperang melawan radikalisme atau untuk mengurangi ide-ide atau perilaku radikal. Yang terakhir ini disebut dengan proses de-radikalisasi. Proses seperti ini tidak gampang karena banyaknya alasan di balik munculnya radikalisme dan salah satunya ialah karena adanya perilaku menerima begitu saja perbedaan tanpa ada upaya untuk memahami perbedaan dan kesamaan semua anggota dari sebuah negara. Hal ini ditengarai, disebabkan salah satunya oleh proses penyeragaman, termasuk dalam sistem pendidikan. Oleh karena itu, artikel ini menganjurkan sebuah kampanye strategis yang efektik untuk melawan radikalisme yaitu dimulai dengan merancang sebuah model pendidikan multikultural. Pendidikan multikultural mempromosikan prinsip inklusi, diversitas, demokrasi, dan pemikiran kritis yang cocok untuk sebuah negara plural yang memampukan peserta didik untuk hidup dalam sebuah komunitas multikultural. Kata-kata Kunci: radikalisme, ketidakmampuan berpikir, kebhinekaan, ideologi, multikulturalisme, pendidikan multikultural
KOSMOPOLITANISME SEBAGAI JALAN KELUAR ATAS TEGANGAN ABADI ANTARA NEOKOLONIALISME, RADIKALISME AGAMA, DAN MULTIKULTURALISME | COSMOPOLITANISM AS A SOLUTION TO THE ETERNAL TENSION BETWEEN NEO-COLONIALISM, RELIGIOUS RADICALISM, AND MULTICULTURALISM Reza A.A Wattimena
Jurnal Ledalero Vol 17, No 1 (2018): RADIKALISME
Publisher : Sekolah Tinggi Filsafat Katolik (STFK) Ledalero

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (376.011 KB) | DOI: 10.31385/jl.v17i1.59.119-132

Abstract

Abstract: This writing offers allternative point of view on the debate between universalism and particularism. This debate becomes the tension between neocolonialism, multiculturalism and religious radicalism in 21st century. The method of the writing is critical textual analysis with clear definitions of universalism, particularism, multiculturalism and religious radicalism, and then cosmopolitanism as an alternative point of view. As a conceptual approach, cosmopolitanism has impacts in various areas of life. This impact will also be elaborated in this writing. Key Words: Universalism, Particularism, Neocolonialism, Religious Radicalism, Multiculturalism, Cosmopolitanism. Abstrak: Tulisan ini hendak mengajukan jalan keluar teoretis untuk perdebatan universalisme dan partikularisme. Perdebatan ini berkembang menjadi tegangan antara neokolonialisme, multikulturalisme dan radikalisme agama di abad XXI. Metode yang digunakan adalah analisis tekstual kritis dengan terlebih dahulu memberikan definisi tentang universalisme, partikularisme, multikulturalisme, dan radikalisme agama. Artikel berakhir dengan jalan keluar yang diajukan, yakni kosmopolitanisme. Sebagai sebuah pendekatan, kosmopolitanisme juga memiliki dampak luas di berbagai bidang. Dampak ini juga akan menjadi bagian dari tulisan. Kata-kata Kunci: Universalisme, Partikularisme, Neokolonialisme, Radikalisme Agama, Multikulturalisme, Kosmopolitanisme.
PROBLEMATIK KEKERASAN DALAM PANDANGAN AGAMA KRISTIANI | THE PROBLEM OF VIOLENCE IN THE VIEW OF THE CHRISTIAN RELIGION George Ludwig Kirchberger
Jurnal Ledalero Vol 17, No 1 (2018): RADIKALISME
Publisher : Sekolah Tinggi Filsafat Katolik (STFK) Ledalero

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (303.224 KB) | DOI: 10.31385/jl.v17i1.104.95-118

Abstract

Abstract : This article intends to consider the relationship between violence and the sacred, using as a starting point a theory espoused by Rene Girard. According to this theory, Girard demonstrates that violence happens because human beings imitate others in determining a desired object. Because of that imitation, a conflict arises between those who possess the same object. This conflict is calmed-down by transferring the reciprical aggression onto a specific group that becomes the scape-goat, to be sacrificed. The ritual of sacrifice is institutionalised in religion. In this way, religion can channel aggression, but it can also hide human violence, by exoressing violence towards the person of God. Following on, Christian revelation is pictured as being a process, in which God reveals Godself in a true attitude, and demonstrates that the violence expressed is between human beings and not towards God. In summary, the Christian religion can be a religion of salvation when it truly studies and proclaims a picture of God as revealed in Judeo-Christian revelation, climaxed in the person of Jesus of Nazareth. Keywords: Rene Girard, scape-goat; Jesus as the universal scape-goat; Christian revelation; violence and religion. Abstrak : Artikel ini mau meneliti relasi antara kekerasan dan kekeramatan dengan bertolak dari satu teori yang diciptakan oleh René Girard. Dalam teori itu Girard memperlihatkan kekerasan terjadi, karena manusia meniru orang lain dalam menentukan objek yang diinginkan. Karena peniruan itu, terjadilah konflik antara orang yang memilih objek yang sama. Konflik itu diredakan dengan mengalihkan semua agresi timbal balik dalam suatu kelompok kepada satu kambing hitam yang menjadi korban. Ritual korban itu diinstitusionalisasi dalam agama. Dengan demikian agama bisa menyalurkan agresi, tetapi juga menyembunyikan agresi antara manusia dalam kekerasan pada diri Allah. Selanjutnya wahyu kristiani digambarkan sebagai proses, di dalamnya Allah memperkenalkan diri dalam sikap yang benar dan memperlihatkan, agresi itu ada di antara manusia dan bukan dalam diri Allah. Kesimpulannya, agama kristiani bisa menjadi agama penyelamatan bila secara sungguh mempelajari dan mewartakan gambaran tentang Allah yang dinyatakan dalam wahyu Yahudi-Kristen dengan puncaknya dalam diri Yesus dari Nazaret. Kata kunci: René Girard; teori kambing hitam; Yesus sebagai kambing hitam universal; wahyu kristiani; kekerasan dan agama
NARASI RADIKALISME DAN KETAKUTAN | RADICALISM NARRATION AND FEAR Justin L Wejak
Jurnal Ledalero Vol 17, No 1 (2018): RADIKALISME
Publisher : Sekolah Tinggi Filsafat Katolik (STFK) Ledalero

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (297.517 KB) | DOI: 10.31385/jl.v17i1.128.77-94

Abstract

Abstract: Indonesian history has been filled with many radical ideas and movements aiming to bring about radical changes in the direction of the nation state. Yet radicalism has created fear and angst amongst communities. This paper examines the narrative of radicalism and fear as constructed in an Indonesian Catholic document published in 1967. The document narrates the historical and political events from Indonesia’s independence to the early years of Suharto’s New Order regime, with a particular focus on the Madiun incident of 1948 and the Crocodile Hole tragedy of 1965. The paper argues that the document scrutinized is nothing but a fear text, and the fear narrative as constructed in the text is related to radicalism – namely the leftist radicalism represented by the Indonesian communists pre-1965, and the rightist radicalism represented by religious (Muslim) radicals post-1965. This main argument is explained with reference to Martin Heidegger’s philosophy of fear, and it concludes that the fear experiences concerning the communist past is paralelled with the experiences of fear in recent times in relation to religious (Islamic) radicalism. Keywords: radicalism, fear, communists, Muslims, Catholics, Heidegger Abstrak: Sejarah Indonesia dililiti banyak ide dan gerakan radikal yang bertujuan untuk membawa perubahan radikal ke arah negara bangsa. Namun radikalisme telah menciptakan ketakutan dan kecemasan di antara masyarakat. Makalah ini mengkaji narasi radikalisme dan ketakutan yang dibangun dalam dokumen Katolik Indonesia yang diterbitkan pada tahun 1967. Dokumen tersebut menceritakan peristiwa sejarah dan politik dari kemerdekaan Indonesia hingga tahun-tahun awal rezim Orde Baru Suharto, dengan fokus khusus pada insiden Madiun dari 1948 dan tragedi Lubang Buaya 1965. Makalah ini berpendapat bahwa dokumen yang diteliti tidak lain adalah teks ketakutan, dan narasi rasa takut yang terkonstruksi dalam teks ini terkait dengan radikalisme - yaitu radikalisme kiri yang diwakili oleh komunis Indonesia pra-1965, dan radikalisme kanan yang diwakili oleh radikal agama (Muslim) pasca-1965. Argumen utama ini dijelaskan dengan mengacu pada filosofi rasa takut Martin Heidegger, dan disimpulkan pengalaman-pengalaman ketakutan mengenai masa lalu komunis dilumpuhkan dengan pengalaman-pengalaman ketakutan belakangan ini dalam kaitannya dengan radikalisme agama (Islam). Kata-kata Kunci: radikalisme, ketakutan, komunis, Muslim, Katolik, Heidegger
POPULISME, KRISIS DEMOKRASI, DAN ANTAGONISME | POPULISM, THE CRISIS OF DEMOCRACY, AND ANTAGONISM Otto Gusti Madung
Jurnal Ledalero Vol 17, No 1 (2018): RADIKALISME
Publisher : Sekolah Tinggi Filsafat Katolik (STFK) Ledalero

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (287.101 KB) | DOI: 10.31385/jl.v17i1.129.58-76

Abstract

Abstract: Populism generally expresses the conflict between the majority of the people who are “out of power” versus the powerful small elites. The competition is the response to the perpetuating social divisiveness between the small elites and the marginalized majority. Hence, populism can be described as a social and political protest of the citizens against the failures of elitically and pro establishment oriented representative democracy. In this case, the democracy tends to leave the people behind who are the primary goal of the the democracy itself. This essay tries to pose some criticism against the practices of the liberal democracy tranformed into a consensus machine and in this way ignores the dissensual or conflictual aspect of the democracy. The dissensus democracy emphasizes the unlimited conflictual dimension of the democratic discourse. From the point of view of the dissensual democracy, populism can appear as social transformative forces that bring back the democracy to its original meaning as an expression of the people’s sovereignity. However, this can only be realized in a pluralistic millieu and populism can be transformed into an antagonistic democracy. Finally, the essay argues that the practices of populisme in Indonesia fail to be an alternative and antagonistic power to the practices of the Indonesian democracy coopted by the predatory oligarchy. The reason is that the populistic leaders in Indonesia including the Jokowi regime fail to transform the populistic ideas into the new democratic institutions independent from the domination of the oligarchic political parties inherited by the New Order regime. Keywords: Populism, Democracy, Antagonism, Dissensus, Indonesia Abstrak: Secara umum populisme mengungkapkan pertentangan antara rakyat kebanyakan (the people) yang tidak berkuasa versus segelintir kecil elite yang berkuasa. Pertarungan tersebut merupakan tanggapan atas persoalan kesenjangan sosial berkepanjangan antara elite penguasa versus mayoritas masyarakat yang berada di luar kekuasaan. Oleh karena itu, populisme dapat diartikan sebagai ekspresi protes warga masyarakat terhadap sejumlah kegagalan demokrasi representatif yang cenderung elitis dan pro establishment dan melupakan masyarakat umum yang menjadi tujuan awal dari demokrasi. Di dalam artikel ini dikemukakan sejumlah kritik terhadap praktik demokrasi liberal yang sudah bertransformasi menjadi mesin konsensus dan mengabaikan aspek disensus. Demokrasi disensus menekankan aspek pertentangan yang tak terselesaikan secara argumentatif dalam proses demokrasi. Dalam kaca mata demokrasi disensus, populisme dapat tampil sebagai kekuatan transformatif dan mengembalikan makna demokrasi kepada kedaulatan rakyat yang sesungguhnya. Namun, untuk maksud itu, populisme harus menanggalkan corak antipluralisme dan menjadi demokrasi antagonistis. Pada bagian akhir tulisan ini diuraikan juga bahwa di Indonesia politik populisme gagal menjadi kekuatan antagonistik dan emansipatoris terhadap demokrasi yang terkooptasi kekuatan oligarkis. Alasannya, para pemimpin populis termasuk rezim Jokowi gagal menginstitusionalisasikan ide-ide populis dalam institusi demokratis baru yang terlepas dan bebas dari cengkeraman partai-partai politik oligarkis warisan Orde Baru. Kata-kata Kunci: Populisme, Demokrasi, Antagonsme, Disensus, Indonesia

Page 1 of 1 | Total Record : 6