cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
MAJALAH ILMIAH GLOBE
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science, Education,
Arjuna Subject : -
Articles 285 Documents
KESESUAIAN LAHAN FISIK DAN EKONOMI UNTUK PADI SAWAH: STUDI KASUS WILAYAH PERENCANAAN KOTA TERPADU MANDIRI RAWAPITU, PROVINSI LAMPUNG Widiatmaka, Widiatmaka
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 15, No 1 (2013)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (449.831 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2013.15-1.76

Abstract

ABSTRAKPengembangan wilayah perlu didukung oleh majunya sistem pertanian dengan pola usaha pokok yang dapatberbeda untuk tiap-tiap wilayah, tergantung potensinya. Evaluasi kesesuaian lahan perlu dilakukan untuk menjaminpengusahaan pola budidaya yang paling sesuai, yang secara biofisik memberikan hasil tertinggi dan secara ekonomismenguntungkan. Penelitian ini dilaksanakan di lokasi pengembangan Kota Terpadu Mandiri Rawapitu, Kab.Tulangbawang, Provinsi Lampung. Evaluasi kesesuaian lahan fisik dan ekonomi dilakukan menggunakan AutomatedLand Evaluation System (ALES). Analisis dilakukan untuk komoditas padi sawah, yang merupakan komoditas utamawilayah ini. Hasil analisis menunjukkan bahwa wilayah penelitian Rawapitu memiliki kelas kesesuaian lahan fisikaktual untuk padi pada kelas S2 (cukup sesuai) dan S3 (sesuai marginal). Faktor pembatas utamanya adalah bahayabanjir, retensi hara, hara tersedia dan media perakaran. Beberapa karakteristik tanah yang menjadi pembatasdominan, antara lain adalah reaksi tanah yang masam, topografi wilayah yang landai pada ketinggian tempat yangrendah. Hasil analisis kesesuaian lahan ekonomi menunjukkan bahwa baik pada pada lahan kelas S2 maupun kelasS3, pengusahaan tanaman padi masih menguntungkan, ditunjukkan oleh nilai-nilai gross margin maupun rasio B/Cnya.Upaya pengelolaan spesifik lokasi diperlukan untuk meningkatkan kesesuaian fisik, sekaligus meningkatkankeuntungan dan pendapatan petani.Kata Kunci: Automated Land Evaluation System (ALES), Evaluasi Lahan, Karakteristik Lahan, Pohon Keputusan.ABSTRACTRegional development needs to be supported by an advanced agricultural system with its main principalcommodities, which varies among different regions, depending on the potencies. Evaluation of land suitability needs tobe done, to ensure the utilization of the most appropriate commodities which biophysically gave the highest yield andeconomically profitable. The research was conducted at the location of the development of Integrated DevelopmentCity Planning (“Kota Terpadu Mandiri”) of Rawapitu at Tulangbawang Regency, Lampung Province. Physical andeconomical land suitability analysis was done using Automated Land Evaluation System (ALES) for rice field, which isthe main commodity of the region. The result showed that the study area of Rawapitu had actual physical landsuitability classes for rice field in the S2 (suitable) class and S3 (marginally suitable) class. The main limiting factorswere the danger of flooding, nutrient retention, nutrient availability and rooting medium. Some land characteristics thatbecame the dominant limiting factors were soil reactions which are acidic soil and topographic sloping at a low altitude.Economic land suitability analysis results showed that both in the land suitability class of S2 and S3, rice cultivationwas still profitable, indicated by the values of gross margin and the ratio B/C. Site-specific management measures arerequired to improve the physical suitability and at the same time increasing profits and income of farmers.Keyword: Automated Land Evaluation System (ALES), Land Evaluation, Land Characteristics, Decision Tree.
KAJIAN INFRASTRUKTUR JALAN DI JAWA BARAT BAGIAN SELATAN Riadi, Bambang; Munajati, Sri Lestari
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 10, No 1 (2008)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1782.911 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2008.10-1.323

Abstract

Jawa Barat sebagai provinsi yang berbatasan langsung dengan Provinsi DKI Jakarta memiliki keunggulan di berbagai bidang, antara lain dari segi ekonomi Provinsi Jawa Barat kebagian limpahan kegiatan ekonami karena DKI Jakarta sebagai pusat pemerintahan dan pusat kegiatan ekonomi di Indonesia. Demikian juga halnya penduduk Jawa Barat adalah paling besar dibanding lima provinsi lainnya di Pulau Jawa. Selain itu, pergerakan penduduk saat menyambut lebaran juga dimulai dari kawasan sekitar Jabodetabek dan pasti melintasi wilayah Jawa Barat. Selama ini arus mudik terpusat di jalur Pantura, hal ini disebabkan jalur Pansela (Pantai Selatan) tidak bisa dilewati karena infrastruktur jalan yang tidak memadai. Tulisan ini membahas berbagai potensi wilayah Jabar Selatan dan pengembangannya. Secara Spasial yang merupakan hasil kajian yang berhubungan dengan infrastruktur jalan, maka Jabar Selatan dapat dikembangkan menjadi 3 zona yaitu Zona Pengembangan Barat, Zona Pengembangan Timur dan Zona Pengembangan Antara.ABSTRACTWest Java, a province that has a direct border to Jakarta, has many advantages in many aspects. Economically West Java is impacted by activities in Jakarta as the center of government and economic activities in Indonesia. Population of West Java is also the biggest compared to five other provinces in Java Island. Population mobility during religious holiday also starts from Jabodetabek area and will surely pass West Java. Currently this mobility was centralized in Pantura route (a route through northern part of Java). This is because the road infrastructure in Pansela route (through southern part of Java) is not good. This paper will discuss various potencies of Southern West Java and it is development. Spatially, based on assessment of road infrastructure, the Southern West Java can be classified into 3 zones, which are West, East, and In Between Development Zones.Kata Kunci: Akses Jalan, potensi dan pengembangan wilayah, Jawa Barat Selatan Keywords: Road Access, Area Potential and Development West Java
INTEGRASI PENGINDERAAN JAUH DAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS UNTUK KAJIAN PENGGUNAAN LAHAN DAN KONDISI OBSTACLE BANDAR UDARA ADISUTJIPTO Sari, Erna Noor; Susilo, Bowo
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 15, No 2 (2013)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (288.299 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2013.15-2.81

Abstract

Pemerintah melalui Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 44 Tahun 2005 telah menetapkan persyaratan terkait dengan kondisi di lingkungan bandar udara untuk menunjang keselamatan penerbangan. Penggunaan lahan dan kondisi obstacle yang terdapat di KKOP menentukan layak tidaknya kondisi bandar udara terkait dengan keselamatan penerbangan. Penggunaan lahan dan kondisi obstacle yang tidak sesuai dengan KKOP perlu dikaji. Kajian memerlukan data kondisi aktual penggunaan lahan dan obstacle yang ada di dalam KKOP. Citra penginderaan jauh dapat digunakan untuk memperoleh informasi tentang kondisi aktual penggunaan lahan. Penggunaan citra resolusi tinggi yang digabungkan dengan pengukuran lapangan memungkinkan untuk memetakan kondisi obstacle di KKOP. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan lahan pada zona horizontal dalam, mayoritas adalah permukiman yaitu seluas 2.523,2 ha atau 36,5% dari luas seluruhnya. Pada kawasan kemungkinan bahaya kecelakaan keberadaan bangunan yang tidak mendukung kegiatan penerbangan tidak  diperbolehkan keberadaannya, namun terdapat permukiman seluas 40.47 ha atau 33, 67% dengan jarak mendatar sejauh 1.100 m. Terdapat objek yang menjadi obstacle, kelebihan ketinggian objek gedung kurang lebih 0,3-2 m, sedangkan kelebihan  ketinggian objek pohon berkisar 2,2-4,8 m.Kata Kunci: Penggunaan Lahan, Penghalang, Ketinggian Objek, Bandar Udara
SPATIAL DISTRIBUTION OF WOOD EXTRACTION RISK IN RUVU NORTH FOREST RESERVE TANZANIA Sumarga, Elham
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 10, No 2 (2008)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1625.14 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2008.10-2.328

Abstract

Deforestation and forest degradation have been occurring rapidly in Ruvu North Forest Reserve (RNFR), Tanzania. The main cause of deforestation in this area is tree biomass (wood) extraction for charcoal and fuel wood. The objective of this study is to produce the md extraction risk map of RNFR reflecting the spatial distribution of the risk. The wood extraction risk map of RNFR was generated by combining and weighting four input maps: biomass risk map, distance risk map, accessibility risk map and slope risk map. Respectively, 34% and 45%o areas of RNFR have high and medium wood extraction risk. It means that wood extraction activities potentially will be continuous in the most parts of RNFR area.Keywords : Wood extraction risk, wood extraction risk map, spatial modeling, Ruvu North Forest Reserve. ABSTRAKDeforestasi dan kerusakan hutan telah berlangsung secara cepat di di Ruvu North Forest Reserve (RNFR),Tanzania. Penyebab utama deforestasi di kawasan tersebut adalah pngambilan biomas pohon (penebangan) untuk pembuatan arang dan kayu bakar. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membuat peta kerawanan penebangan pohon di RNFR yang menggambarkan distribusi spasial dari tingkat kerawanan tersebut. Peta kerawanan penebangan pohon ini dibuat dengan mengkombinasikan empat peta input, yaitu peta kerawanan berdasarkan potensi pohon (biomas), peta kerawanan berdasarkan jarak, peta kerawanan berdasarkan akesisbilitas dan peta kerawanan berdasarkan kondisi topografi. Penggabungan keempat peta input tersebut disertai dengan pembobotan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara berurutan 34% dan 45% areal dl RNFR memiliki tingkat kerawanan penebangan pohon yang tinggi dan sedang. Hal ini berarti bahwa kegiatan penebangan pohon berpotensi untuk terus terjadi di masa masa yang akan datang di sebagian besar areal di RNFR.Kata kunci: Tingkat kerawanan penebangan pohon, peta kerawanan penebangan pohon, spatial modeling, Ruvu North Forest Reserve.
PEMBANGUNAN PUSTAKA SPEKTRAL TANAMAN PADI SEBAGAI KUNCI PENGOLAHAN DATA HIPERSPEKTRAL Narieswari, Lalitya
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 14, No 2 (2012)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2504.868 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2012.14-2.145

Abstract

Pengukuran spektral tanaman padi pada 8 (delapan) fase pertumbuhan telah dilakukan pada farmland di Balai Besar Padi, Subang Jawa Barat. Kegiatan ini bertujuan untuk menyusun spectral library tanaman padi sebagai bagian dari penyusunan model prediksi produktivitas padi menggunakan citra hiperspektral and alat pengukur nilai spektral (spectroradiometer). Dalam penelitian ini, telah disusun sebanyak 314 pantulan spektral (endmember) tanaman padi yang merupakan variasi kombinasi 11 varietas padi dengan 8 perlakuan pupuk pada 8 fase pertumbuhan padi. Pantulan spektral ini dilengkapi dengan data biofisik/agronomi yaitu tinggi tanaman, jumlah anakan, luas daun, biomassa basah dan kering, serapan N, komponen hasil dan ubinan. Dengan pustaka spektral tanaman padi yang lengkap diharapkan model prediksi yang dihasilkan akan lebih tepat dan akurat.Kata Kunci: Pustaka Spektral Padi, Hiperspektral, Pantulan Spektral, Spektroradiometer ABSTRACTMeasurement of spectral reflectance of paddy was carried out in Balai Besar Padi farmlands, Subang West Java. It aims to develope a paddy plants’ spectral library by means of hyperspectral imageries and spectro-radiometer as an equipment to measure the spectral values. The spectral library is used to build a paddy-field productivity prediction model. There are 314 spectral reflectances (endmember) as combination between eleven paddy variants and eight different fertilizing time at eight growing-phases werw collected during the survey. The spectral reflectance information is equipped with biophysical (agronomical) information such as plants height, number of paddy puppies, leaf wideness, wet and dry biomass weight, absorbtion of N, output component and tile. By having that complete spectral library, it is expected to result in a more accurate of productivity prediction model could.Keywords: Spectral Library, Hyperspectral, Spectral Reflectance, Spectroradiometer
PERENCANAAN SPASIAL PENINGKATAN PRODUKSI KEDELAI BERBASIS KESESUAIAN LAHAN DI KABUPATEN LOMBOK TIMUR PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT Widiatmaka, Widiatmaka; Ambarwulan, Wiwin; Munajati, Sri Lestari; Munibah, Khursatul; Murtilaksono, Kukuh; Tambunan, Rudi P; Nugroho, Yusanto A; Santoso, Paulus B.K.; Suprajaka, Suprajaka; Nurwadjedi, Nurwadjedi
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 15, No 2 (2013)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (370.475 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2013.15-2.86

Abstract

Pemanfaatan data survei tanah dan evaluasi lahan dilakukan untuk perencanaan peningkatan produksi kedelai menjawab tantangan kelangkaan pasokan kedelai di Kab. Lombok Timur, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Data yang digunakan adalah hasil survei oleh Pusat Pemetaan dan Integrasi Tematik, Badan Informasi Geospasial dilengkapi dengan analisis citra dan evaluasi lahan fisik dan ekonomi untuk kedelai. Analisis kesesuaian lahan fisik dan ekonomi untuk kedelai dilakukan menggunakan Automated Land Evaluation System (ALES). Penggunaan lahan diinterpretasi menggunakan citra SPOT-5, dipertajam dengan data lebih detil menggunakan citra IKONOS dari Kementerian Pertanian. Hasil-hasil analisis diinterpretasi dalam term potensi intensifikasi kedelai pada lahan sawah eksisting dan potensi perluasan tanaman kedelai pada lahan kering yang potensial. Hasil analisis menunjukkan bahwa di wilayah Kabupaten Lombok Timur masih dimungkinkan dilakukan intensifikasi dan ekstensifikasi untuk peningkatan produksi kedelai dalam rangka peningkatan ketahanan pangan regional. Persoalannya, keuntungan petani dalam budidaya kedelai pada berbagai kelas kesesuaian lahan jauh lebih kecil dibandingkan pengusahaan padi sawah. Perencanaan fisik berbasis kesesuaian lahan perlu diikuti dengan upaya menciptakan kondisi agar penanaman kedelai menarik bagi petani dari sisi ekonomi.Kata Kunci: Ketahanan Pangan, SPOT-5, Kesesuaian Lahan, Sistem Evaluasi Lahan Otomatis.ABSTRACTData from soil survey and land evaluation were used in planning for increasing  soybean production, answering the lack of soybean supply in East Lombok Regency, West Nusa Tenggara Province. The results of the survey of Center for Integrated Mapping, Geospatial Information Agency were used, combined with image analysis and physical and economical land suitability analysis for soybeans. Analysis of physical and economical land suitability for soybean was performed using Automated Land Evaluation System (ALES). Land use was interpreted using SPOT-5 imagery, completed by the data of IKONOS imagery from Ministry of Agriculture. The results of the analysis were interpreted in terms of the potential intensification of soybean on existing ricefield and the potential expansion of soybean crops ondry land. The analysis showed that in East Lombok Regency, there is still possible to do the intensification and extension of soybean in order to improve regional food security. The problem is, benefit of farmers in the cultivation of soybeans in various land suitability classes are much smaller than rice cultivation. Physical planning based on land suitability needs to be coupled with efforts to create an attractive situation to farmers for planting soybean.Keywords: Food Security, SPOT-5, Land Suitability, Automated Land Evaluation System.
ANALISIS KLASIFIKASI OBJEK PENUTUP DASAR PERAIRAN LAUT DANGKAL MENGGUNAKAN CITRA ALOS AVNIR-2 Nurdin, Nurjannah; Hidayatullah, Taufik; AS, M. Akbar
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 11, No 1 (2009)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1891.704 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2009.11-1.333

Abstract

lnformasi mengenai obyek penutup dasar perairan laut dangkal sangat penting untuk diketahui dalam pengelolaan daerah pesisir dan laut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui jenis dan distribusi obyek penutup dasar perairan laut dangkal dengan menggunakan citra Alos AVNIR-2. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juni 2008 yang meliputi tahap persiapan, survei dan pengambilan data lapangan, pengolahan awal, pengolahan tanjut dan pengolahan akhir pemrosesan citra. Hasil klasifikasi citra menuniukan Atos AVNIR-2 dapat membedakan 10 tipe obyek perairan laut dangkal, yaitu: l) lamun dan pasir, 2) lamun, 3) pecahan karang dan pasir, 4) karang mati ditumbuhi alga dan pasir, karang mati, 5) karang keras dan karang mati ditumbuhi alga, 6) pecahan karang dan pasir, 7) lamun, alga dan pasir, 8) pecahan karang, 9) pasir dan karang mati ditumbuhi alga, 10) pasir. Jenis obyek penutup dasar perairan dangkal di Pulau Kalukalukuang secara berurut didominasi oleh karang mati, lamun dan pasir bercampur pecahan karang.Kata Kunci: Laut Dangkal, Citra Alos AVNIR-2, Pulau Kalukalukuang ABSTRACTInformation about the bottom object of shallow water is important to know which is ultimately beneficial as the material for the management of coastal and marine areas. The aim of this study is to determine the types and distribution of sea bottom characteristics area in shallow water using satellite imagery Alos AVNIR-2. The study was conducted in June 2008 in Kalukalukuang Island which included the preparation stage, survey and field data acquisition, preprocessing, middle processing and final processing of the image processing. The results of image classification analysis showed that Alos AVNIR-2 was capable to distinguish of 10 types of sea bottom characteristics in the shallow waters. They are 1) sea grass mixed with sand, 2) sea grass, 3) rubbers mixed with sand, 4) dead coral with algae mixed with sand, 5) hard coral and dead coral with algae, 6) rubbers mixed with sand (above the water surface), 7) sea grass, algae mixed with sand, 8) rubbers, 9) sand, and rubbers with algae, 10) sand. Characteristics of sea bottom in the shallow water of Katukalukuang lsland were dominated by dead coral, sea grass and sand with rubbers.Keywords: Shallow Water, Alos AVNIR-2 imagery, Kalukalukuang Island
BUDIDAYA RUMPUT LAUT DAN DAYA DUKUNG PERAIRAN TIMUR INDONESIA Rahadiati, Ati; Dewayany, Dewayany; Hartini, Sri; Widjojo, Suharto; Windiastuti, Rizka
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 14, No 2 (2012)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (326.384 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2012.14-2.150

Abstract

Karakteristik kepulauan Indonesia dengan mayoritas wilayah permukiman berada di pesisir, ditunjang dengan luas wilayah lautnya yang mencakup hampir 70% luas wilayah NKRI, menjadikan laut sebagai salah satu tumpuan penyediaan kebutuhan pangan nasional. Rumput laut merupakan salah satu komoditas andalan rakyat di daerah pesisir. Budidaya ini berkembang karena merupakan salah satu usaha budidaya yang secara ekonomi maupun teknologi mudah dijangkau oleh masyarakat nelayan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengembangkan kajian daya dukung budidaya rumput laut yang terintegrasi. Dengan berkembangnya usaha budidaya rumput laut di Konawe Selatan diharapkan akan menumbuhkan diversifikasi usaha bagi nelayan untuk meningkatkan pendapatan dan mengurangi ketergantungan terhadap sumberdaya alam seperti penangkapan ikan. Metode penelitian yang digunakan adalah metode scoring untuk data spasial dan benefit cost ratio untuk analisa kelayakan usaha. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perairan pesisir Kabupaten Konawe Selatan, Provinsi Sulawesi Tenggara sesuai untuk budidaya rumput laut. Analisa kelayakan usaha menunjukkan bahwa budidaya rumput laut layak dikembangkan di kabupaten ini dengan memperhatikan beberapa faktor antara lain kestabilan harga dan kelancaran pemasaran produk.Kata Kunci: Budidaya Rumput Laut, Daya Dukung, Konawe Selatan ABSTRACTCharacteristic of the Indonesian archipelago is that majority of the settlements are lining along the coastal area, and supported by the water area that reaching almost 70% of the territory, bring out the marine resources as one of the national main food sources. Seaweed is one of the commercial marine culture commodities that people in the coastal areas can cultured it easily. The aim of this research is to develop an integrated carrying capacity assessment of an integrated seaweed culture in Konawe Selatan. The development of seaweed culture is expected to bring implications to the diversity activities for fishermen to increase their income and less dependable to the natural resource products such as captured fishing. The method of scoring for spatial data and benefit cost ratio for the economy feasibility analysis were used in this study. The results show that the coastal waters of Konawe Selatan Regency are suitable for seaweed culture. However, the culture activities should also consider the factors of price stability and marketing of the product.Keywords: Seaweed Culture, Carrying Capacity, Konawe Selatan
SINKRONISASI DATA TEMATIK KE DALAM SATU SISTEM PEMETAAN DASAR TEMATIK Riadi, Bambang; Rusmanto, Adi
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 11, No 1 (2009)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2252.084 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2009.11-1.338

Abstract

Perbedaan waktu penyusunan peta dan bervariasinya sumberdaya manusia dan peralatan yang digunakan, mengakibatkan antar peta tematik tidak mempunyai keakuratan yang sama, walaupun peta-peta tersebut meliput daerah yang sama. Lokasi dan bentuk kenampakan titik, garis, dan area lyang seharusnya divisualisasikan sama pada lembar yang berbeda, pada kenyataannya mempunyai perbedaan yang sangat berarti. Kondisi ini mengakibatkan munculnya perbedaan pada setiap peta perencanaan di suatu daerah sehingga perlu dilakukan sinkronisasi data peta tematik ke dalam satu sistem pemetaan.Kata Kunci: Data Tematik Kehutanan, Sosialisasi, Citra Satelit, Kabupaten Murungraya ABSTRACTThe time difference in the preparation of maps and varied human resources and equipments used, have result the different accuracy among thematic inter-crates, although the maps cover the same area. Appearance of points, lines and areas which should be visualized in the same format for different map sheets, in fact has very significant differences. This condition causes productions of different regional planning maps for different regions. Therefore, it is important to synchronize the thematic data into a single thematic mapping system.Keywords: Forest Thematic Data, Socializations, Satellite Imagery, Murungraya District
PRIORITAS PENGEMBANGAN KAWASAN PERKEBUNAN TEBU DI KABUPATEN SERAM BAGIAN TIMUR Osly, Prima Jiwa; Widiatmaka, Widiatmaka; Pramudya, Bambang; Murtilaksono, Kukuh
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 17, No 1 (2015)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (787.311 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2015.17-1.216

Abstract

Lahan merupakan salah satu faktor produksi yang sangat penting dalam pengusahaan perkebunan, karena lahan merupakan media tumbuh bagi tanaman. Pemanfaatan sumber daya lahan perlu disesuaikan dengan kondisi agroekologinya, agar usaha pertanian dapat berkelanjutan. Usahatani tebu merupakan praktek penggunaan lahan komersial monokultural yang sering menyebabkan penurunan keanekaragaman hayati pertanian (agrobiodiversity). Penelitian ini difokuskan pada pemilihan lahan yang tepat dan diprioritaskan untuk penanaman tebu. Integrasi pendekatan Multi Criteria Decision Making (MCDM) dan Sistem Informasi Geografis (SIG) menyediakan sistem pendukung keputusan spasial yang kuat dan efisien untuk menghasilkan peta kesesuaian lahan dan prioritas pengembangan kawasan serta untuk menganalisis data spasial dan membangun proses untuk pendukung keputusan. Tujuan penelitian ini adalah melakukan analisis prioritas pengembangan kawasan perkebunan tebu dan melakukan analisis ketersediaan lahan untuk kawasan perkebunan Tebu. Penelitian ini menggunakan metode Multi Criteria Decision Making (MCDM) berbasis Analytical Hierarchy Process (AHP) dengan bantuan Sistem Informasi Geografis (SIG). Berdasarkan hasil analisa total areal yang berpotensi dimanfaatkan untuk kawasan perkebunan tebu tersebut adalah sebesar 121.484,83 ha atau 21,48% dari total daratan Kabupaten Seram Bagian Timur. Total areal tersebut terbagi pada kelas Prioritas I sebesar 76.751,79 ha (63,18%), kelas Prioritas II sebesar 41.807,84 ha (34,41%) dan kelas Prioritas III sebesar 2.925,21 ha (2,41%).Kata kunci: Tebu, MCDM, AHP, SIG, PrioritasABSTRACTLand is one of the most important production factors in plantation industry, because the land is a growing medium for plants. Utilization of land resources needs to be adapted to its agro-ecology conditions, in order to be sustainable. Sugarcane farming is a monoculture commercial land use practices that often lead to a decrease in agricultural biodiversity. This study focused on the selection of appropriate land and prioritized for planting sugarcane. Integration of Multi Criteria Decision Making (MCDM) and Geographic Information System (GIS) provides a powerful and efficient spatial decision support system to produce land suitability maps and regional development priorities as well as to analyze spatial data and build process for decision support system. The purpose of this study is to analyze the regional development priorities of sugarcane plantations and analyze the availability of land for sugarcane plantation area. This study uses the Multi Criteria Decision Making (MCDM) based Analytical Hierarchy Process (AHP) with the help of Geographic Information System (GIS). Based on analysis of the total area that could potentially be used for sugarcane plantation area amounted to 121,484.83 ha (21.48%) of the total land area in Seram Bagian Timur Regency. The total area was divided to the class Priority I of 76,751.79 ha (63.18%), class Priority II at 41,807.84 ha (34.41%) and class Priority III of 2,925.21 ha (2.41%).Keywords: Sugarcane, MCDM, AHP, GIS, Priority

Page 1 of 29 | Total Record : 285