cover
Contact Name
Aji Septiaji
Contact Email
ajiseptiaji@gmail.com
Phone
+6285294606969
Journal Mail Official
jurnaldiglosiaunma@gmail.com
Editorial Address
Jalan. K.H. Abdul Halim, No. 103, Kabupaten Majalengka
Location
Kab. majalengka,
Jawa barat
INDONESIA
Diglosia
Published by Universitas Majalengka
ISSN : 25495119     EISSN : 25495119     DOI : -
Diglosia : Jurnal Pendidikan, Kebahasaan, dan Kesusastraan Indonesia tergabung dalam Perkumpulan Pengelola Jurnal Bahasa dan Sastra Indonesia serta Pengajarannya (PPJB-SIP). Jurnal ini memuat artikel ilmiah penelitian dan gagasan konseptual atau kajian teoretis dalam bidang pendidikan, kebahasaan, dan kesusastraan Indonesia. Setiap artikel melalui peer review process. Adapun scope penelitian pada jurnal ini yaitu (1) sastra (teori, kritik, dan sejarah sastra); (2) Keterampilan dan pembelajaran sastra; (3) Keterampilan dan pembelajaran bahasa; (4) Analisis wacana; (5) Penelitian linguistik, sosiolinguistik, dan psikolinguistik; (6) Evaluasi pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia; (7) Kurikulum pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia; (8) Model atau media pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia; (9) Kajian kebudayaan Indonesia; dan (10) penelitian lainnya yang relevan. Artikel ditulis dalam bahasa Indonesia. Jurnal ini terbit dua kali dalam satu tahun yaitu pada bulan FEBRUARI dan AGUSTUS.
Articles 31 Documents
Search results for , issue "Vol 5, No 1 (2021): Februari" : 31 Documents clear
Kesulitan Menulis pada Anak Disabilitas: Studi Kasus Anak Gangguan Disleksia Usia 8 Tahun Rai Bagus Triadi; Frilia Shantika Regina
Diglosia : Jurnal Pendidikan, Kebahasaan, dan Kesusastraan Indonesia Vol 5, No 1 (2021): Februari
Publisher : Universitas Majalengka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (498.636 KB)

Abstract

Kompetensi menulis merupakan salah satu kemampuan produktif yang berbarengan dengan kompentensi berbicara. Kedua bentuk kemampuan produktif tersebut merupakan hasil implementasi dari kemampuan reseptif yang berbentuk kompetensi membaca dan menyimak.  Pada proses pembentukan kompetensi menulis terjadi berdasarkan beberapa tahap, dimulai dari tahap mencoret, tarik garis, hingga coretan yang membentuk huruf. Tahapan tersebut biasa dilewati oleh semua anak, tetapi berbeda dengan anak disabilitas dengan kekhususan disleksia yang mempunyai perbedaan dalam memahami bentuk hingga merangkai bentuk-bentuk tersebut menjadi sebuah kata. Pada penelitian ini peneliti mencoba mendeskripsikan kesulitan menulis pada anak disabilitas usia delapan tahun dengan studi kasus disleksia. Kesulitan tersebut didasari oleh beberapa faktor, antara lain faktor pola pembelajaran, pola pendekatan, lingkungan, dan kompetensi subjek penelitian tersebut. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif, artinya penelitian ini berupaya mendeskripsikan keadaan kompetensi menulis subjek penelitian saat ini apa adanya, tanpa dilakukan sebuah interverensi. Selain itu, penelitian ini juga berupaya mendeskripsikan bentuk kesulitan yang dihadapi subjek penelitian dalam peningkatan kemampuan menulis. Berdasarkan hasil observasi dan analisis data yang dilakukan kemampuan subjek penelitian dalam kompetensi menulis dapat dikatakan tidak sesuai dengan anak seusianya, artinya kemampuan subjek penelitian itu berada di bawah kemampuan anak usia 8 tahun pada umumnya, faktor-faktor yang dikriteriakan kurang meliputi pengenalan huruf, penyusunan huruf , penulisan huruf pada rangkaian kata yang panjang dan kesulitan menuliskan beberapa huruf konsonan. Faktor-faktor tersebut dapat menjadi sebuah kriteria yang permanen apabila pola pembelajarannya tidak diubah. Dapat dinyatakan demikian karena peneliti mengamati pola pembelajaran menulis yang dilakukan kepada subjek penelitian sedikit keliru karena disamaratakan dengan siswa yang lainnya.Kata kunci: kemampuan menulis, anak disabilitas, kekhususan disleksia  Writing competence is one of the productive abilities along with speaking competence. Both forms of productive abilities are the result of the implementation of receptive abilities in the form of reading and listening competencies. In the writing competency formation process occurs based on several stages, starting from the stage of scribbling, drawing lines, to scribbles that form letters. This stage is usually passed by all children, but it is different from children with disabilities with dyslexia who have differences in understanding shapes to assemble these forms into a word. In this study, researchers tried to describe the difficulty of writing in children with disabilities aged eight years with a case study of dyslexia. This difficulty is based on several factors, including factors of learning patterns, approach patterns, environment, and the competence of the research subject. This study uses a qualitative descriptive research method, meaning that this research seeks to describe the current state of the writing competence of the research subject as it is, without any intervention. In addition, this study also seeks to describe the form of difficulties faced by research subjects in improving writing skills. Based on the results of observations and data analysis carried out, the ability of the research subject in writing competence can be said to be incompatible with children of his age, meaning that the ability of the research subject is below the ability of children aged 8 years in general, the factors that are believed to be lacking include letter recognition, lettering , writing letters in long series of words and difficulty writing some consonants. These factors can become a permanent criterion if the learning pattern is not changed. It can be stated that because the researcher observes the writing learning pattern carried out on the research subject is slightly wrong because it is generalized with other students.Keywords: writing ability, children with disabilities, dyslexia specificity
Instagram: Pengaruhnya dalam Kesantunan Berbahasa Mahasiswa Rista Tantia Rahmawati; Hendaryan Hendaryan; Herdiana Herdiana; Taufik Hidayat
Diglosia : Jurnal Pendidikan, Kebahasaan, dan Kesusastraan Indonesia Vol 5, No 1 (2021): Februari
Publisher : Universitas Majalengka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (502.792 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan karakteristik pengaruh penggunaan instagram dalam kesantunan berbahasa mahasiswa. Sumber data dalam penelitian ini adalah tuturan mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Galuh dalam akun instagramnya. Penelitian ini menggunakan teknik rekam dan teknik catat. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa tuturan mahasiswa dalam akun instagramnya memiliki maksim yang sesuai yakni maksim kebijaksanaan, maksim kedewasaan, maksim penghargaan, maksim kesederhanaan, maksim pemufakatan, dan maksim kesimpatian. Penelitian ini juga melibatkan skala kesantunan yakni skala kerugian, skala pilihan, skala ketidaklangsungan, skala keotoritasan, dan skala jarak. Penelitian berimplikasi dalam pembentukan karakter, karena saat kesantunan dalam berbahasa di terapkan dalam berkomunikasi setiap hari maka tidak akan ada ujaran yang menyakiti orang lain.Kata kunci: media sosial instagram, kesantunan berbahasa This study aims to describe the characteristics of the influence of using Instagram on students' language politeness. This study's source of data is the utterances of Galuh University Teacher Training and Education Faculty students in their Instagram account. This research uses recording techniques and note-taking techniques. The results of this study indicate that the students' utterances in their Instagram account have the appropriate maxims, namely maxim of wisdom, the maxim of maturity, maxim of appreciation, maxim of simplicity, maxim of consensus, and maxim of sympathy. This research also involves a politeness scale, namely the scale of the loss, the scale of choice, the scale of unsustainability, the scale of authority, and the distance scale. Research has implications for character building because when politeness in a language is applied in communicating every day, there will be no speech that hurts others.Keywords: instagram social media, language politeness
Maling (Drama Tarling) untuk Pembelajaran Merancang Pementasan dan Mendemonstrasikan Drama sebagai Seni Pertunjukan pada Siswa SMA Saroni Saroni; Nana Triana Winata
Diglosia : Jurnal Pendidikan, Kebahasaan, dan Kesusastraan Indonesia Vol 5, No 1 (2021): Februari
Publisher : Universitas Majalengka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1078.303 KB)

Abstract

Seni pertunjukan tarling di Indramayu merupakan pertunjukan teater tradisional. Kondisi ideal yang diharapkan adalah seni pertunjukan tarling sebagai identitas daerah Indramayu tetap lestari, tetapi ternyata semakin pudar dan tak bertenaga. Dengan demikian, perlu adanya revitalisasi budaya lokal melalui pemberdayaan generasi muda. Upaya revitalisasi seni pertunjukan tarling merupakan upaya pemertahanan eksistensi kesenian tradisional tarling kepada generasi muda. Revitalisasi perlu segera dilakukan karena seni pertunjukan tarling telah hampir punah karena tidak menjadi sebuah industri yang berasal dari kreativitas senimannya. Dalam pembelajaran sebuah perencanaan sangat dibutuhkan guru dalam proses mentransfer ilmu pengetahuan kepada peserta didiknya. Perencanaan pembelajaran ini dapat membantu guru untuk mempermudah pelaksanaan pembelajaran di kelas. Perencanaan yang dilakukan guru yaitu Rencana Pelaksanaan Pembelajara (RPP). RPP yang disusun guru bahasa Indonesia di SMA dalam pembelajaran merancang dan mendemonstrasikan drama sebagai seni pertunjukan telah mengikuti ketentuan yang sesuai dengan Kurikulum 2013 pada kompetensi dasar 3.19.1 yaitu mengidentifikasi isi dan kebahasaan drama yang dibaca atau ditonton, dan 3.19.2 yaitu merancang pementasan dan mendemonstrasikan drama sebagai seni pertunjukan dengan memerhatikan tata panggung, kostum, tata musik, dan sebagainya. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui: 1) rencana pelaksanaan pembelajaran drama tarling pada materi merancang pementasan dan mendemonstrasikan drama sebagai seni pertunjukan, 2) hasil melatih drama tarling pada siswa SMA (pembentukan kelompok, penulisan naskah, proses latihan, dan proses perekaman drama), 3) kendala dalam melatih drama tarling pada siswa SMA, 4) upaya yang dilakukan untuk mengatasi kendala dalam melatih drama tarling pada siswa SMA. Adapun metode pada penelitian ini adalah observasi, dokumentasi, sosialisasi, pelatihan, diskusi, dan monitoring. Hasil penelitian, peserta yang mengikuti pelatihan sejumlah 30 siswa SMA se-Indramayu. Pelatihan MALING (Drama Tarling) dalam penelitian ini meliputi olah tubuh, olah mimik, olah suara, dan olah imajinasi. Kendala dan upaya untuk mengatasi hal yang dihadapi oleh peneliti dalam melaksanakan pelatihan MALING (Drama Tarling) terlihat dari beberapa segi antara lain; peserta didik, waktu, dan bahan ajar.Kata Kunci: Drama, Tarling, Siswa SMA, Indramayu
Kajian Semiotik Mitos Lauk Dewa di Desa Cigugur Kabupaten Kuningan Jawa Barat Fathiyyah Sekar Widiasri; Dian Indira
Diglosia : Jurnal Pendidikan, Kebahasaan, dan Kesusastraan Indonesia Vol 5, No 1 (2021): Februari
Publisher : Universitas Majalengka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (542.007 KB)

Abstract

Lauk Dewa (Ikan Dewa) merupakan mitos yang terkenal di Desa Cigugur, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Melalui kajian semiotik akan dikaji makna di balik mitos Lauk Dewa tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memaparkan makna mitos dengan menganalisis makna denotatif, dan konotatif terlebih dahulu. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif. Teori yang digunakan ialah teori semiotik Roland Barthes. Sumber data dalam penelitian ini berasal dari studi kepustakaan berupa artikel dari jurnal-jurnal dan literature review. Hasil dari penelitian adalah: 1) makna denotatif dari Lauk Dewa adalah ikan berjenis Kancra Bodas/Kancra Putih (Labaebarbus Dournensis); 2) makna konotatif dari Lauk Dewa adalah sosok prajurit Prabu Siliwangi yang dikutuk menjadi ikan karena membantah perintah raja; dan 3) mitos yang dihasilkan berupa kepercayaan bagi siapapun yang menangkap atau mengonsumsi Lauk Dewa  akan mendapat hukuman berupa musibah. Lauk Dewa juga memberi keberkahan bagi siapapun yang dapat menyentuhnya.Kata kunci: mitos, lauk Dewa, Cigugur, semiotik, Roland Barthes Lauk Dewa is a famous myth in Cigugur Village, Kuningan, West Java. The meaning behind the myth of Lauk Dewa will be examined through a semiotic study. The purpose of this research is to describe the meaning of myth by analyzing denotative and connotative meanings first. This research uses descriptive qualitative method. The theory used is Roland Barthes' semiotic theory. Sources of data in this research is literature studies in the form of articles from journals and literature reviews.  The results of the study were: 1) the denotative meaning of Lauk Dewa was a type of fish Kancra Bodas / Kancra Putih (Labaebarbus Dournensis); 2) the connotative meaning of Lauk Dewa is the figure of the warrior Prabu Siliwangi who was cursed to be a fish because he denied the king's orders; and 3) the resulting myth is the belief that anyone who steals or consumes Lauk Dewa will receive punishment in the form of a disaster. Lauk Dewa also gives blessings to anyone who can touch it.Keywords: myth, Lauk Dewa, Cigugur, Semiotics, Roland Barthes
ISU KORUPSI DAN PEREMPUAN DALAM METROPOP MY PARTNER KARYA RETNI S.B Tania Intan
Diglosia : Jurnal Pendidikan, Kebahasaan, dan Kesusastraan Indonesia Vol 5, No 1 (2021): Februari
Publisher : Universitas Majalengka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (494.921 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk  mengungkap isu korupsi dan menganalisis tokoh perempuan di dalam novel metropop My Partner(2012) karya Retni S.B. Metode yang digunakan dalam telaah ini adalah deskriptif kualitatif dengan memadukan pendekatan struktural dan sosiologi sastra. Pendekatan struktural digunakan untuk memahami aspek penokohan dan latar sosial dalam cerita. Sosiologi sastra dimanfaatkan untuk memahami korupsi sebagai fenomena patologi sosial. Data berupa kata, frasa, dan kalimat yang relevan dengan tujuan penelitian dikumpulkan dengan teknik simak catat setelah dilakukan pembacaan tertutup. Data selanjutnya diklasifikasi dan diinterpretasi, kemudian dianalisis dengan teori-teori yang relevan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa metropop tidak selalu berkelindan dengan pergaulan kelas atas dan gaya hidup mewah para tokohnya, melainkan juga dapat menggunakan tema sekunder yang realistis dan membumi seperti isu korupsi. Korupsi menjadi titik awal kemunculan masalah-masalah lain dalam novel, seperti disorganisasi keluarga, hilangnya sumber daya, dan pelecehan seksual. Tokoh perempuan yang ditampilkan dalam novel bersifat kuat, sensitif, dan tegar menghadapi berbagai kendala yang ia hadapi. Namun, pada akhirnya, perempuan tetap diposisikan sebagai pihak yang lemah, korban, dan diselamatkan oleh laki-laki yang ditampilkan superior dan dominan.
Nilai Budaya dalam Teks Parno Adat Pernikahan Masyarakat Desa Sungai Penuh Liuk Kota Sungai Penuh Suci Maiza; Madina Istikhomah
Diglosia : Jurnal Pendidikan, Kebahasaan, dan Kesusastraan Indonesia Vol 5, No 1 (2021): Februari
Publisher : Universitas Majalengka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (487.619 KB)

Abstract

Penelitian terhadap sastra lisan sebagai warisan budaya Indonesia penting dilakukan.  Eksplorsi terhadap nilai-nilai budaya sebuah sastra lisan adalah salah satu usaha yang dapat dilakukan agar nilai-nilai luhur di dalamnya dapat terus hidup dan dinimati generasi muda.  Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis Parno adat pernikahan di desa Sungai Liuk, Kota Sungai Penuh dari aspek nilai budaya. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif yang menggunakan metode deskriptif dan analisis isi. Data yang telah terkumpul akan dianalisis  melalui beberapa tahap yaitu melalui tahap transkripsi, transiliterasi dan penerjemahan. Hasil penelitian menunjukan bahwa  terdapat nilai-nilai budaya dalam Parno adat pernikahan di Desa Sungai Liuk yaitu: Nilai budaya dalam hubungan manusia dengan tuhan, hubungan manusia dengan alam, hubungan manusia dengan masyarakat, hubungan manusia dengan manusia lain, dan hubungan manusia dengan dirinya sendiri.Kata Kunci: nilai budaya, parno adat perkawinan, sastra lisan, kualitatif, deskriptif Studies on oral literature as Indonesia's cultural heritage are important to be conducted. Exploring the cultural values of oral literature is an effort to keep the noble values in oral literature alive so that it can be enjoyed by the future generation. This study aimed to describe and analyze the cultural values in Parno of marriage tradition in Sungai Liuk Village, Sungai Penuh City. This study is qualitative research using a descriptive method and content analysis. The collected data were analyzed through several stages: transcription, transiliteration, and translation. The results showed that there were cultural values in Parno of marriage tradition in Sungai Liuk Village. The cultural values were grouped into 5 categories: relationship between humans and God, relationship between humans and nature, relationship between humans in society, relationship among humans, and relationship between humans and theirselves.Keywords: cultural values, parno of marriage tradition, oral literature, qualitative descriptive
Tindak Tutur Ekspresif dalam Naskah Drama Umang-umang Atawa Orkes Madun II karya Arifin C. Noer Tuti Tuti; Zamzam Nurhuda
Diglosia : Jurnal Pendidikan, Kebahasaan, dan Kesusastraan Indonesia Vol 5, No 1 (2021): Februari
Publisher : Universitas Majalengka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (583.183 KB)

Abstract

Berkomunikasi dapat dikatakan berhasil apabila pesan yang disampaikan oleh penutur dapat diterima dengan baik oleh mitra tutur. Namun, yang menjadi persoalan apabila maksud tuturan dari penutur tidak dapat diterima dengan baik oleh mintra tutur. Hal tersebutlah yang menjadi alasan mendasar mengapa tindak tutur eksprsif yang menjadi fokus kajian dalam penelitian ini. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mendeskripsikan fungsi tindak tutur ekspresif dalam naskah drama Umang-umang Atawa Orkes Madun II karya Arifin C. Noer, (2) Mendeskripsikan bentuk tindak tutur ekspresif dalam naskah drama Umang-umang Atawa Orkes Madun II karya Arifin C. Noer. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Data yang digunakan berjumlah 62 data yang diperoleh dengan menggunakan teknik dasar berupa membaca naskah drama dalam hal pengumpulan data, menentukan data tertulis, memindahkan data tersebut ke dalam catatan, mengumpulkan sumber data pustaka dan data sumber lain, serta membaca sumber data pustaka. Acuan teori yang digunakan untuk meneliti data terkait tindak tutur ekspresif adalah teori Searle. Hasil penelitian : (1) Fungsi tindak tutur ekspresif meliputi: mengkritik, memuji, meminta maaf, mengejek, menyindir, menyalahkan, terima kasih, keputusasaan, kekecewaan, kemarahan, belasungkawa, kebahagiaan. (2) Bentuk tindak tutur ekspresif terdiri dari: bentuk tindak tutur langsung dan bentuk tindak tutur langsung literal.Kata kunci: tindak tutur, ekspresif, pragmatik, drama.                                                                                                         Having communication is successfully considered if the speaker’s message can be well understood by the partner. As a matter of fact, there can frequently happen misunderstanding in the communication. The misunderstanding in communication is the main reason why this research discusses speech act. The goal of this research are: (1) to describe the function of expressive speech act in script Umang-umang Atawa Orkes Madun II written by Arifin C. Noer; (2) to describe the forms of expressive speech act in the sript Umang-umang Atawa Orkes Madun II written by Arifin C. Noer. This research uses qualitative descriptive methode. The observed object in this research is Umang-umang Atawa Orkes Madun II written by Arifin C. Noer. The data used in this reseach are 62, collected by using basic technic, reading the script, defining written data, tranferring the data to notes, collecting bibliographies and other sources of data, as well as the source of bibliography. The reference of theory to research the expressive speech act related-data is Searle’s theory. The result of this research are: (1)function of expressive speech act of: critisizing, praising, apolgizing, mocking, satirizing, blaming, gratifying, disillusionment, dissapointment, anger, condolence, and happiness. The form of expressive speech act consists of: (1) form of direct speech act, (2) form of literal speech act.Keywords: speech acts, expressive, pragmatic, drama.
Efektivitas Strategi Pembelajaran Interaktif Zulva Sudarti
Diglosia : Jurnal Pendidikan, Kebahasaan, dan Kesusastraan Indonesia Vol 5, No 1 (2021): Februari
Publisher : Universitas Majalengka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (132.858 KB)

Abstract

Kualitas baru belajar dan mengajar secara umum, merupakan prioritas mutlak bagi pendidikan. Guru tidak hanya sebagai sumber informasi, mereka juga dimaksudkan untuk memimpin  dan mengajar sehingga dapat mengembangkan interaksi di antara siswa, pelatihan / pengembangan ciri-ciri kepribadian sosial utama. Para siswa ingin memahami fenomena alam, mengetahui kebenaran ilmiah dan memperoleh pengetahuan untuk diterapkan dalam praktik dan karena alasan ini mereka tidak puas dengan pendidikan tradisional. Para guru dan siswa, di sebagian besar universitas yang telah menggunakan kuliah tradisional dalam mata kuliah, telah mengungkapkan keefektifan yang terbatas baik dalam pengajaran dan pembelajaran. Guru harus menggunakan metode untuk mendorong pembelajaran penemuan, heuri stic dan metode penelitian. Metode pengajaran yang dinamis dan komunikatif, juga disebut metode pengajaran interaktif, merupakan elemen dasar dari proses yang baru dikembangkan untuk memotivasi pembelajaran, sehingga siswa  mengembangkan posisi kritis tentang konten yang diajarkan. Dengan menggunakan teknik dan strategi interaktif, siswa menjadi lebih terlibat dalam pembelajaran; menyimpan lebih banyak informasi, sehingga menjadi lebih puas. Kata kunci: Interaktif, pembelajaran , strategi  
Pola Larik pada Gurindam Duabelas Karya Raja Ali Haji Syafrial Syafrial; Hadi Rumadi
Diglosia : Jurnal Pendidikan, Kebahasaan, dan Kesusastraan Indonesia Vol 5, No 1 (2021): Februari
Publisher : Universitas Majalengka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (560.518 KB)

Abstract

Penelitian ini membahas tentang pola larik Gurindam Duabelas karya Raja Ali Haji.  Rumusan masalah  penelitian ini  bagaimanakah pola larik Gurindam Duabelas karya Raja Ali Haji. Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan pola larik Gurindam Duabelas karya Raja Ali Haji? Manfaat penelitian ini untuk menambah pemahaman dan pengetahuan pembaca mengenai pola larik Gurindam Duabelas karya Raja Ali Haji. Teori yang digunakan berfokus pada pola larik gurindam yang meliputi stilistika, frasa, klausa dan kalimat untuk menentukan pola larik Gurindam Duabelas. Metode penelitian yang digunakan metode deskriptif kualitatif dengan mendeskripsikan data melalui tabel rekapitulasi. Teknik pengumpulan data penelitian ini yakni dokumentasi. Teknik analisis Adapun teknik analisis data yang dilakukan pada penelitian ini sebagai berikut 1) mencatat data yang telah diperoleh berupa jumlah kata dan struktur kalimat pada Gurindam Duabelas, 2) mencermati dan menganalisis kesesuaian jumlah kata dengan kaidah penulisan gurindam, 3) mencermati dan menganalisis struktur kalimat gurindam dengan kaidah penulisan gurindam, 4) mendeskripsikan data penelitian, 5) membahas hasil penelitian 6) menyimpulkan hasil penelitian.
Kemampuan Berpikir Kritis Mahasiswa dalam Menyelesaikan Soal-soal High Order Thinking Skill (HOTS) Yeni Rostikawati; Yesi Maylani Kartiwi; Eva Fitriani Syarifah
Diglosia : Jurnal Pendidikan, Kebahasaan, dan Kesusastraan Indonesia Vol 5, No 1 (2021): Februari
Publisher : Universitas Majalengka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1160.731 KB)

Abstract

Dalam proses pembelajaran Mata Kuliah umum bahasa Indonesia, peneliti menemukan masih banyak mahasiswa yang memeroleh nilai rendah. Nilai rendah diperoleh ketika mereka tidak mampu memahami soal tes pada tingkat kesulitan tinggi, baik itu bentuk soal pilihan ganda maupun uraian. Kemampuan berpikir kritis merupakan kemampuan berpikir tingkat tinggi. Mahasiswa sudah ada pada level manusia yang memiliki kemampuan berpikir kritis. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kemampuan berpikir kritis mahasiswa melalui soal-soal High Order Thingking Skill (HOTS). Penelitian dilaksanakan di IKIP Siliwangi pada mahasiswa Program Studi Pendidikan Matematika angkatan tahun 2019. Materi yang diberikan adalah materi Kuliah Umum bahasa Indonesia yaitu kalimat dan paragraf. Hasil tes terhadap 30 orang sampel mahasiswa menghasilkan data berupa nilai dengan angka tertinggi 96 dan terendah 10. Adapun hasil analisis terhadap kemampuan berpikir kritis mahasiswa, ada 60% mahasiswa yang memperoleh nilai tinggi (rentang 70 – 100) dan 40% mahasiswa memperoleh nilai rendah (0 – 69). Secara umum, kemampuan berpikir kritis yang dimiliki oleh 60% mahasiswa masih belum memenuhi kriteria, yaitu belum mampu mengenal asumsi dan nilai-nilai yang dinyatakan secara implisit serta masih berkendala dalam mengungkapkan tulisan menggunakan Bahasa yang efektif dan memiliki ciri khas. Adapun manfaat dari hasil penelitian ini yaitu dapat dilakukan penelitian lanjutan dengan cara menerapkan suatu metode pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis mahasiswa.Kata kunci: berpikir kritis, High Order Thingking Skill (HOTS) In the process of learning general Indonesian courses, researchers found that there were still many students who received low scores. Low scores are obtained when they are unable to understand test questions at a high level of difficulty, both in the form of multiple-choice questions and in essays. Critical thinking skills are higher-order thinking skills. Students are already at the human level who have critical thinking skills. Therefore, this study aims to describe students' critical thinking skills through the High Order Thinking Skill (HOTS) questions. The research was carried out at IKIP Siliwangi for students of the Mathematics Education Study Program class of 2019. The material provided was Indonesian General Lecture, namely sentences and paragraphs. The test results of 30 student samples produced data in the form of scores with the highest score of 96 and the lowest of 10. As for the results of the analysis of students' critical thinking skills, there were 60% of students obtained high scores (range 70-100), and 40% of students obtained low scores (0 - 69). In general, the critical thinking skills possessed by 60% of students still do not meet the criteria, namely not being able to recognize the assumptions and values that are stated implicitly and still have problems in expressing writing using language that is effective and has distinctive characteristics. The benefits of the results of this study are that further research can be carried out by applying a learning method to improve students' critical thinking skills.Keywords: critical thinking, High Order Thingking Skill (HOTS)

Page 1 of 4 | Total Record : 31