cover
Contact Name
Didik Supriyanto
Contact Email
didiksupriyanto21@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalmodeling@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. mojokerto,
Jawa timur
INDONESIA
MODELING: Jurnal Program Studi PGMI
ISSN : 24423661     EISSN : 2477667X     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 12 Documents
Search results for , issue "Vol 6 No 2 (2019): September" : 12 Documents clear
Kompetensi Pedagogik dan Peningkatan Hasil Belajar IPA Siswa Retnaningsih Retnaningsih; Ni'mah Afifah
MODELING: Jurnal Program Studi PGMI Vol 6 No 2 (2019): September
Publisher : Program Studi PGMI Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Nahdlatul Ulama Al Hikmah Mojokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (195.979 KB) | DOI: 10.36835/modeling.v6i2.512

Abstract

Setiap tenaga pengajar atau guru seharusnya memiliki sikap dedukatif yang tinggi dalam menjalankan tugasnya sehari-hari baik ketika berada dalam lingkungan sekolah maupun di tengah-tengah masyarakat. Selain itu tenaga pengajar juga harus memiliki komitmen terhadap mutu proses dan hasil kerja. Guru selalu berusaha dan berkeinginan untuk memperbaiki serta memperbaharui model atau cara kerjanya sesuai tuntutan zaman (continous improvement), yang didasari oleh kesadaran yang tinggi bahwa tugas mendidik adalah tugas yang menyiapkan generasi penerus yang akan menjadi pemimpin di masa depan. Sehubungan hal tersebut, Undang-undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 tentang guru dan dosen menyatakan bahwa “kompetensi guru meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional”. Keempat kompetensi tersebut merupakan syarat yang harusdimiliki oleh tenaga pengajar.Salah satu kompetensi yang cukup urgen dalam menentukan profesionalitas pelaksanaan tugas guru adalah Kompetensi Pedagogik. Kompetensi ini mengharuskan guru menguasai sejumlah pengetahuan tentang cara belajar dan mengajar yang efektif dan mampu mengembangkan kurikulum, mengembangkan silabus, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), melaksanakan pembelajaran yang efektif dengan penguasaan metode dan materi serta memahami situasi di dalam dan di luar kelas. Pernyataan yang sama menyatakan bahwa kompetensi pedagogik merupakan kompetensi profesional mengajar guru yang meliputi: kemampuan merencanakan sistem pembelajaran, kemampuan melaksanakan sistem pembelajaran, dan Kemampuan mengevaluasi sistem pembelajaran, serta kemampuan mengembangkan sistem pembelajaran. Begitu pentingnya kompetensi pedagogik untuk diterapkan dengan benar dan bertanggung jawab, karena kompetensi ini memuat seperangkat pengetahuan dan perilaku.Pengetahuan dan perilaku tersebut diwujudkan dalam bentuk keterampilan menguasai teknik dan cara mengajar yang baik yang didasarkan pada wawasan serta landasan kependidikan. Dari akumulasi kompetensi pedagogik tersebut, substansinya adalah memuat tugas dan tanggung jawab guru sebagai agen pembelajaran (learning agent) yang berperan sebagai fasilitator, motivator, pemacu, dan pemberi inspirasi kepada peserta didik. Sehingga yang menjadi sasaran utama perhatian guru dalam melaksanakan pembelajaran adalah pemberdayaan segala potensi yang dimiliki peserta didik secara komperhensif.
Pola Pendekatan Penanganan Gangguan Perilaku (conduct disorder) pada Pelajar SD: Sebuah Upaya Mengurangi Perilaku Kekerasan Pelajar di Yogyakarta Khanif Maksum; Ahmad Syamsul Arifin
MODELING: Jurnal Program Studi PGMI Vol 6 No 2 (2019): September
Publisher : Program Studi PGMI Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Nahdlatul Ulama Al Hikmah Mojokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1116.642 KB) | DOI: 10.36835/modeling.v6i2.513

Abstract

Keterlibatan sejumlah pelajar anak SD dalam sejumlah kasus klitih, dikhawatirkan menjadi pola perilaku yang berpotensi terus-menerus bertahan dan berulang, sehingga akan menyebabkan kerusakan yang signifikan pada fungsi sosial, akademis, maupun masa depannya. Gangguan perilaku ini, dalam bentuk ekstremnya, dapat berupa pelanggaran berat dari norma sosial dan lebih parah daripada kenakalan anak pada umumnya. Apabila gangguan perilaku (conduct disorder) ini tidak segera diatasi, dapat mengarah perlilaku anti sosial yang dapat membahayakan diri dan orang lain di sekitarnya.Penelitian ini menggunakan pendekatan diskriptif naturalistik. Penelitian didasarkan pada sisi alamiah suatu kasus yang menghasilkan data deskriptif dari responden atau perilaku dan situasi yang diamati. Pendekatan ini sesuai dengan tujuan penelitian yang hendak memahami pola dan dinamika perilaku bermasalah pada anak dengan gangguan perilaku. Subjek penelitian dipilih berdasarkan purposive sample atau berdasarkan tujuan penelitian dengan berbagai pertimbangan teknis. Adapun subjek penelitian ini adalah Poliklinik Tumbuh Kembanng RSUP dr. Sardjito, SLB E Prayuana, dan Balai Perlindungan dan Rehabilitasi Sosial Remaja (BPRSR) Yogyakarta siswa-siswa di SD dan MI yang ditangani di Wilayah DIY yang terdiagnosis mengalami gangguan perilaku. Berdasarkan hasil penelitia polan penganganan yang dilakukan di SLB-E Prayuwana dan BPRSR lebih mengarah kepada pola behavioral treatment yang lebih mengedepankan kepada penguatan perilaku positif dan prososial anak melalui proses pembelajaran bersama dengan melibatkan komponen keluarga, sekolah dan teman sebaya. Sedangkan pola penanganan yang dilakukan oleh Poliklinik Tumbuh Kembanng RSUP dr. Sardjito lebih mengarah kepada pola cognitive-behavioral psychotherapy yang dilakukan melaui proses terapi jangka panjang dengan melibatkan berbagai komponen potensial. Pola interfensi yang dipilih akan sangat tergantung dari proses assessment yang telah dilakukan. Selama proses interfensi ini, pelibatan tenaga professional, keluarga dan lingkungan, terutama guru sangatlah penting. Proses interfensi ini, ditujukan untuk memantik 3 ranah; (1) kognitif; untuk menemukan intra-solusi yang diharapkan oleh pasien (2) afektif dan respon emosional yang mengarah kepada kemampuan adaftif prososial pasein, dan (3) psikomotorik untuk meningkatkan aktifitas produktif dan positif motorik anak; Melalui pola deteksi dini dan interfensi ini akan mengurangi kasus klitih atau kenakalan remaja yang akhir-akhir ini menghantui kota Yogyakarta.
Manajemen Pendidikan Madrasah Ibtidaiyah Akhmad Sirojudin
MODELING: Jurnal Program Studi PGMI Vol 6 No 2 (2019): September
Publisher : Program Studi PGMI Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Nahdlatul Ulama Al Hikmah Mojokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (178.537 KB) | DOI: 10.36835/modeling.v6i2.162

Abstract

Madrasah mulai didirikan dan berkembang pada abad ke 5 H atau abad ke-10 atau ke-11 M. pada masa itu ajaran agama Islam telah berkembang secara luas dalam berbagai macam bidang ilmu pengetahuan, dengan berbagai macam mazhab atau pemikirannya. Pembagian bidang ilmu pengetahuan tersebut bukan saja meliputi ilmu-ilmu yang berhubungan dengan al-Qur’an dan hadis, seperti ilmu-ilmu al-Qur’an, hadits, fiqh, ilmu kalam, maupun ilmu tasawwuf tetapi juga bidang-bidang filsafat, astronomi, kedokteran, matematika dan berbagai bidang ilmu-ilmu alam dan kemasyarakatan.[1] Aliran-aliran yang timbul akibat dari perkembangan tersebut saling berebutan pengaruh di kalangan umat Islam, dan berusaha mengembangkan aliran dan mazhabnya masing-masing. Maka terbentuklah madrasah-madrasah dalam pengertian kelompok pikiran, mazhab atau aliran. Itulah sebabnya sebahagian besar madrasah didirikan pada masa itu dihubungkan dengan nama-nama mazhab yang masyhur pada masanya, misalnya madrasah Syafi’iyah, Hanafiyah, Malikiyah atau Hanbaliyah. Berdasarkan keterangan di atas, jelaslah bahwa penggunaan istilah madrasah, sebagai lembaga pendidikan Islam maupun sebagai aliran atau mazhab bukanlah sejak awal perkembangan Islam, tetapi muncul setelah Islam berkembang luas dan telah menerima pengaruh dari luar sehingga terjadilah perkembangan berbagai macam bidang ilmu pengetahuan dengan berbagai macam aliran dan mazhabnya. Pada awal perkembangan Islam, terdapat dua jenis lembaga pendidikan dan pengajaran, yaitu kuttab yang mengajarkan cara menulis dan membaca al-Qur’an, serta dasar-dasar pokok ajaran Islam kepada anak-anak yang merupakan pendidikan tingkat dasar. Sedangkan masjid dijadikan sebagai tingkat pendidikan lanjutan pada masa itu yang hanya diikuti oleh orang-orang dewasa. Dari masjid-masjid ini, lahirlah ulama-ulama besar yang ahli dalam berbagai ilmu pengetahuan Islam, dan dari sini pulalah timbulnya aliran-aliran atau mazhab-mazhab dalam berbagai ilmu pengetahuan, yang waktu itu dikenal dengan istilah “madrasah”. Kegiatan para ulama dalam mengembangkan ajaran Islam di tengah-tengah masyarakat Islam maju dengan pesatnya, bahkan dari satu periode ke periode berikutnya semakin meningkat.
Pembinaan Kompetensi Ustadz Madrasah Diniyah melalui Program Tarbiyatul Mu'allimin di Madrasah Diniyah Takmiliyah Awwaliyah Ar-Rosyidiyah Mambaul Ulum Pangarengan Sampang Miftahul Ulum
MODELING: Jurnal Program Studi PGMI Vol 6 No 2 (2019): September
Publisher : Program Studi PGMI Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Nahdlatul Ulama Al Hikmah Mojokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (238.944 KB) | DOI: 10.36835/modeling.v6i2.448

Abstract

Program Tarbiyatul Mu’allimin merupakan sebuah wadah pembinaan yang diadakan untuk memberikan pembekalan sekaligus meningkatkan penguasaan materi seorang ustadz khususnya dalam bidang ilmu agama. Tehnik pengumpulan data dilakukan dengan metode observasi partisipan, wawancara tidak terstruktur, dan metode dokumentasi. Analisis data yang dilakukan yaitu selama penelitian dan setelah penelitian dilakukan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa program tarbiyatul mu’allimin dilaksanakan setiap hari pada jam 16.00-17.00 (istiwa’). Bentuk pelaksanaannya sama dengan pelaksanaan KBM yang dilaksanakan dikelas biasanya. Metode yang biasa digunakan adalah metode ceramah dan tanya jawab. Dan materi kajiannya meliputi 8 bidang ilmu yaitu: ‘ilmu ushūl (kitab Jawẖaroh at-Tauẖīd), ‘ilmu furu’ (kitab Fatẖul al-Qarīb), tafsīr (kitab Tafsīr Jalalain), ‘ilmu ẖadits (kitab Riyad as-Sholiẖīn), ‘ilmu alat (kitab Ibnu Aqīl), ilmu qushos (kitab Daqoiqul Akhbar), ‘ilmu sufi (kitab Bidāyatul Hidāyah), ‘ilmu akhlak (kitab Ta’līmul Muta’allīm dan ‘Uqudul Lijain). Kendala yang dihadapi dalam penerapan program Tarbiyatul Mu’allimin pada pembinaan kompetensi ustadz diantaranya: minimnya minat atau kemauan para asatidz untuk konsisten mengikuti program dengan alasan malas atau sibuk bekerja, waktu yang kurang memadai, kegiatan sosial masyarakat seperti tahlilan. Upaya yang dilakukan dalam mengatasi kendala yaitu dengan memberikan pemantapan dan meyakinkan para asatidz akan pentingnya mengikuti program Tarbiyatul Mu’allimin untuk menambah dan memperluas penguasaan materi yang akan disampaikan pada murid-muridnya. Selain itu, kepala madrasah juga memberikan tunjangan.
Pelaksanaan Penilaian Autentik Kurikulum 2013 Pada Pembelajaran Tematik Tema Sumber Energi Kelas III Di MI Negeri 1 Yogyakarta Wina Calista
MODELING: Jurnal Program Studi PGMI Vol 6 No 2 (2019): September
Publisher : Program Studi PGMI Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Nahdlatul Ulama Al Hikmah Mojokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (124.473 KB) | DOI: 10.36835/modeling.v6i2.450

Abstract

Abstrak Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan pelaksanaan penilaian autentik pada kurikulum 2013 pada pembelajaran tematik pada tema sumber energi kelas III di MI Negeri 1 Yogyakarta. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa : pelaksanaan penilaian autentik kurikulum 2013 pada siswa kelas IIIC di MI Negeri 1 Yogyakarta belum secara optimal diterapkan oleh guru. Pada kurikulum 2013 penilaian mencakup ranah afektif, kognitif dan psikomotor, tetapi pada proses pembelajaran ketiga penilaian tersebut belum secara optimal diterapkan oleh guru dalam pembelajaran. Dalam hal ini guru hanya menerapkan penilaian hanya pada ranah kognitif atau pengetahuan dalam bentuk tes lisan dan tes tertulis. Pada penilaian ranah afektif dan psikomotor guru tidak melakukan penilaian dan juga tidak adanya intrumen penilaian yang menjadi acuan guru pada saat proses pembelajaran. Dari hasil wawancara melatarbelakangi guru tidak melakukan penilaian disebabkan karena guru yang sudah memiliki pengalaman mengajar dikelas III selama sepuluh tahun sehingga guru sudah memahami karakteristik siswa kelas III SD/MI. Mengacu pada Permendikbud No 66 tahun 2013 tentang standar penilaian pendidikan bahwa penilaian autentik kurikulum 2013 ranah afektif, kognitif dan psikomotor harus diterapkan oleh guru yang dimulai pada awal pembelajaran, proses pembelajaran dan akhir proses pembelajaran.
Keefektifan Mobile Learning Media Bermuatan Ethnoscience terhadap Hasil Belajar Siswa Sekolah Dasar Dian Marta Wijayanti; Farid Ahmadi; S Sarwi
MODELING: Jurnal Program Studi PGMI Vol 6 No 2 (2019): September
Publisher : Program Studi PGMI Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Nahdlatul Ulama Al Hikmah Mojokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (344.318 KB) | DOI: 10.36835/modeling.v6i2.463

Abstract

Era Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0 mengharuskan pembelajaran di Sekolah Dasar harus menyesuaikan zaman. Salah satu bentuknya dengan mengembangkan media pembelajaran berbasis digital. Tujuan penelitian ini untuk mengukur keefektifan mobile learning media bermuatan ethnoscience terhadap hasil belajar siswa sekolah dasar. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian eksperimen dengan menggunakan uji t-test. Temuan penelitian menunjukkan bahwa nilai thitung > ttabel (ttable = 2,045) dan signifikansi < 0,05. Karena 7.718 > 2,045 dan 0,001 < 0,05, maka hipotesis diterima yang berarti bahwa nilai kelas eksperimen lebih baik daripada nilai kelas kontrol. Jadi, dapat disimpulkan bahwa Mobile Learning Media bermuatan Ethnoscience efektif untuk digunakan di sekolah dasar.
Pengaruh Disiplin Belajar Siswa Terhadap Hasil Belajar Kelas VI B MIN 3 Mojokerto Sulistyo Wati
MODELING: Jurnal Program Studi PGMI Vol 6 No 2 (2019): September
Publisher : Program Studi PGMI Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Nahdlatul Ulama Al Hikmah Mojokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (864.873 KB) | DOI: 10.36835/modeling.v6i2.464

Abstract

Discipline is a state of behavior or behavior of a person in accordance with the rules or order so as to create order and order. This discipline helps students to fulfill their tasks and responsibilities to achieve goals. What is the discipline of MIN 3 Mojokerto students, and how is it related to student achievement? In this study, the questionnaire and documentation method were used. This research was conducted in MIN 3 Mojokerto by getting the following results: 1) Discipline of VIB students in MIN 3 Mojokerto, Mo.Mokokerto District showed a value of 62.8%. If interpreted these values ​​were in the medium category. MIN 3 Mojokerto, shows a value of 68.5%. If interpreted the medium category. 4) There is a significant influence between discipline and student learning independence on learning achievement in MIN 3 MojokertoKab.Mojokerto The coefficient value if interpreted on the interpretation coefficient correlation value can be categorized quite strong.
Pengembangan Kecerdasan Spiritual pada Peserta Didik melalui Aktivitas Keagamaan Siti Qoni'ah
MODELING: Jurnal Program Studi PGMI Vol 6 No 2 (2019): September
Publisher : Program Studi PGMI Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Nahdlatul Ulama Al Hikmah Mojokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (178.504 KB) | DOI: 10.36835/modeling.v6i2.469

Abstract

The effort of the formation or establishment of spiritual intelligence on the students is done by planting Islamic religious values in PAI learning and character planting which then implemented in the form of daily behavior that reflects the character or identity of each individual learners and is supported by the religious program that have been compiled by the school institution. This study aims to (1) Describe and analyze the process of the formation of spiritual intelligence on students or learners (2) Describe and analyze the implementation of religious activity programs in shaping spiritual intelligence in learners (3) Describe and analyze the impact of the formation of spiritual intelligence in learners through the implementation of the religious program. This research uses qualitative research approach. The type of research used in this research is case study and case studies and multiple cases design. Data collection uses observation, interview and documentation. The results showed that in SD Plus Nurul Hikmah the formation of spiritual intelligence is done by planting the values of faith and pillars of Islam as well as the implanting of characters in learning PAI and applied through the program of religious activity and application of character, while in MIN Konang the formation of spiritual intelligence done by planting The prophet characteristics and the prophet`s story in learning PAI as well as the planting of characters applied in the form of religious activity and the application of character. The formation of spiritual intelligence in both schools can be concluded that overall spiritual intelligence in learners has been formed, it is known from attitudes, behaviors and religious activities always performed by learners at both school and at home, although the results have not reached one hundred percent, But both school is always working in terms of improving the strategy of the formation of spiritual intelligence in learners.
Optimalisasi Pendidikan Aqidah Akhlak di Madrasah Ibtidaiyah dalam Membentuk Perilaku Positif Siswa Hadi Muhaini
MODELING: Jurnal Program Studi PGMI Vol 6 No 2 (2019): September
Publisher : Program Studi PGMI Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Nahdlatul Ulama Al Hikmah Mojokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (148.805 KB) | DOI: 10.36835/modeling.v6i2.470

Abstract

The education of Aqidah chastity is the process of educating, nurturing, shaping, and providing exercises on morality and good thinking intelligence based on Islamic teachings. This system specifically provides education about Akhlakul Karimah in order to reflect one's personality.Moral education should be given to children as the foundation of the beginning in the face of the reality of the era, so that it can create a strong influence for all stakeholders. Thus, with the education of the children's Aqidah morality will not be easily affected and consider where good and bad behavior. For the results of educational and learning objectives that are expected to be achieved well of course many things to be considered, especially the education problem Aqidah chastity optimally. In addition, the role of teachers is also indispensable, strong human resources and learning strategy should synergize one another. With this, students are expected to apply what they have been in school so that they can be useful in their respective communities.students are expected to apply what they have been in school so that they can be useful in their respective communities.
Kajian tentang Penumbuhan Karakter Jujur Peserta Didik sebagai Upaya Pengembangan Dimensi Budaya Kewarganegaraan (Civic Culture) di SMA Alfa Centauri Bandung Dadi Mulyadi; Sapriya Sapriya; Rahmat Rahmat
MODELING: Jurnal Program Studi PGMI Vol 6 No 2 (2019): September
Publisher : Program Studi PGMI Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Nahdlatul Ulama Al Hikmah Mojokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (162.371 KB) | DOI: 10.36835/modeling.v6i2.471

Abstract

Penelitian dilatarbelakangi adanya pengaruh negative dari globalisasi yang menyebabkan adanya kasus korupsi, kolusi dan nepotisme. Penelitian bertujuan mendapatkan informasi program, kegiatan, faktor pendukung, kendala, dan solusi dalam penumbuhan karakter jujur peserta didik. Menggunakan pendekatan, metode studi kasus dan pengumpulan data dengan cara observasi, wawancara, studi dokumentasi, teknik partisipan, dan studi literatur. Lokasi penelitian di SMA Alfa Centauri Bandung, dengan subjek penelitian yaitu Kepala Sekolah, guru dan peserta didik. Kesimpulannya yaitu: 1) Program sekolah merupakan penjabaran dari visi, misi, dan 5 karakter siswa; 2) Kegiatan sekolah sesuai tujuan, fungsi, dan strategi pendidikan karakter; 3) Faktor pendukung kegiatan sekolah berasal dari guru dan karyawan, fasilitas, program sekolah, organisasi siswa, orang tua/wali, dan teman; 4) Kendala yang dihadapi yaitu server, listrik mati, sebagian guru, peserta didik, orang tua/wali kurang mendukung program sekolah, ada fasilitas yang kurang memadai, dan jumlah guru banyak terbagi 3 lokasi; 5) Solusinya berkoordinasi dan melakukan evaluasi dengan berbagai pihak, perbaikan sarana dan prasarana, memberikan pemahaman kepada sebagian guru, peserta didik, dan orang tua/wali.

Page 1 of 2 | Total Record : 12