cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
,
INDONESIA
Squalen Bulletin of Marine and Fisheries Postharvest and Biotechnology
ISSN : 20895690     EISSN : 24069272     DOI : -
Squalen publishes original and innovative research to provide readers with the latest research, knowledge, emerging technologies, postharvest, processing and preservation, food safety and environment, biotechnology and bio-discovery of marine and fisheries. The key focus of the research should be on marine and fishery and the manuscript should include a fundamental discussion of the research findings and their significance. Manuscripts that simply report data without providing a detailed interpretation of the results are unlikely to be accepted for publication in the journal.
Arjuna Subject : -
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 3, No 1 (2008): June 2008" : 5 Documents clear
Kandungan Logam Berat pada Beberapa Lokasi Perairan Indonesia pada Tahun 2001 sampai dengan 2005 Tuti Hartati Siregar; Jovita Tri Murtini
Squalen, Buletin Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 3, No 1 (2008): June 2008
Publisher : Research and Development Center for Marine and Fisheries Product Processing and Biotechnol

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/squalen.v3i1.165

Abstract

Logam  berat merupakan  salah  satu  bahan  pencemar  yang  perlu  diwaspadai. Di  Indonesia, pencemaran  logam  berat  dapat berasal  dari  limbah  industri,    pertanian maupun  rumah  tangga. Oleh  karena  itu, Balai Besar Riset Pengolahan  Produk  dan Bioteknologi Kelautan dan  Perikanan telah melakukan penelitian monitoring residu logam berat pada biota maupun perairan di beberapa lokasi selama 5  tahun  yaitu dari  tahun 2001  sampai dengan 2005.  Tulisan  ini merupakan  review dari hasil penelitian  tersebut.   Pada tahun 2001, Perairan Dadap, Cilincing, Demak, dan Pasuruan telah  tercemar  oleh  logam Hg, sementara Perairan Tanjung  Pasir dan Blanakan belum  tercemar dengan residu Hg di bawah 2 ppb. Pada tahun 2002, perairan  laut di Sumatera yang diwakili oleh Perairan Mentok, Perairan Tanjung Balai, Perairan Tanjung  Jabung Timur, dan Perairan Bagan Siapi-api  terbukti masih  aman untuk  kebutuhan  perikanan dengan  residu Hg  kurang  dari  2  ppb. Kerang  yang  hidup  di  perairan  tersebut  juga masih  aman  untuk  dikonsumsi. Ambang  batas residu logam dalam produk perikanan adalah Hg 500 ppb, Cd 1.000 ppb,Pb 2.000 ppb, dan Cu 20.000 ppb. Pada  tahun  2002,  perairan Sidoarjo  juga masih dalam  batas  aman  dengan  residu Hg kurang dari 2 ppb,  tetapi Perairan Pasuruan  telah  tercemar oleh  logam Hg  dengan  residu Hg di atas 2 ppb. Pada  tahun 2002, kerang yang hidup di perairan Jawa dan Bali masih aman untuk dikonsumsi. Pada  tahun  2003,  perairan di Kalimantan  dan Sulawesi masih  dalam  batas  aman, begitu  juga  dengan  biota  yang  hidup  di  perairan  tersebut masih  aman  untuk  dikonsumsi. Pada tahun 2005, Muara Sungai Kahayan dan Muara Sungai Barito  telah  tercemar oleh  logam Cd dan Cu,  tetapi  ikan  yang  hidup  di  dalamnya masih  aman  untuk  dikonsumsi.  Pada  tahun  tersebut Waduk Saguling  telah  tercemar oleh  logam Pb, Cd, dan Cu sementara Waduk Cirata  tercemar oleh  logam Hg dan Waduk  Jatiluhur  tercemar  oleh  logam Cu dan Cd.  Ikan  yang  hidup di  ketiga waduk  tersebut masih  aman  untuk  dikonsumsi.
Ikan Patin: Peluang Ekspor, Penanganan Pascapanen, dan Diversifikasi Produk Olahan Theresia Dwi Suryaningrum
Squalen, Buletin Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 3, No 1 (2008): June 2008
Publisher : Research and Development Center for Marine and Fisheries Product Processing and Biotechnol

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/squalen.v3i1.166

Abstract

Ikan patin merupakan komoditas hasil budidayaperikanan yang pasarnya cukup menjanjikan. Dalam  kurun waktu dua  tahun  terakhir  ini, permintaan  ikan patin meningkat dua kali  lipat. Potensi pasar tersebut perlu dimanfaatkan dengan  lebih menggalakkan budidaya  ikan  patin di  Indonesia yang potensi  lahannya  cukup  luas.   Pasar  ikan patin  selama  ini masih  dikuasai Vietnam  dengan ekspor  dalam bentuk  fillet  dan  produk  olahan berbasis surimi. Selain  dipasarkan dalam  bentukfillet,  ikan  patin  sangat  cocok  untuk  diolah menjadi  berbagai macam  produk  berbasis  surimi yang  trend  pasarnya  semakin meningkat.  Ikan  patin  dapat  diolah  secara  tradisional maupun modern  sehingga dapat meningkatkan  nilai  tambah  ikan patin  secara berarti. Akan  tetapi  dalam era  globalisasi  ini,  pemasaran    produk  ikan  hasil  budidaya  ke  berbagai  negara menghadapi banyak  hambatan.  Tantangan  yang  harus  dihadapi  di  pasar  internasional  adalah  produk perikanan  diharuskan memenuhi  persyaratan  yang  cukup  ketat  dalam  hal  kualitas,  keamanan pangan, dan ketertelusurannya (traceability). Dalam  industri pengolahan  ikan patin akan dihasilkan limbah  yang  cukup banyak  yaitu  sekitar  67%  dari  total  ikan  patin.  Limbah  tersebut  dapat diolah dan  dimanfaatkan menjadi  gelatin,  konsentrat  protein,  tepung  ikan,  silase,  atau minyak biodiesel sehingga  dapat memberikan  nilai  tambah  dalam  industri  ikan  patin. Agar  industri  ikan  patin dapat  berkembang di  Indonesia maka diperlukan  dukungan dari  pemerintah,  lembaga  riset, dan swasta  untuk mengembangkan  sentra    budidaya  ikan patin  di  suatu  lokasi.
Produksi Mikroalga sebagai Biofuel Basmal, Jamal
Squalen, Buletin Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 3, No 1 (2008): June 2008
Publisher : Research and Development Center for Marine and Fisheries Product Processing and Biotechnol

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/squalen.v3i1.168

Abstract

Biofuel  yang berasal dari  tanaman  darat  atau  laut  seperti mikroalga  sudah mulai  diupayakanuntuk menjadi  energi  alternatif  pengganti minyak  bumi. Berdasarkan  hasil  penelitian,  diketahuibahwa minimal  14  spesies mikroalga  berpotensi untuk menghasilkan biofuel dengan  kandunganminyak  antara  15–77%  dari  bobot  kering mikroalga. Untuk menghasilkan  1  kg  (bk)  biomassadiperlukan media  tumbuh  air  laut  sebanyak  1m3. Di  samping  kandungan minyaknya  dapatdiekstrak,  limbah  padatnya  juga  dapat  dipergunakan  untuk  pakan  ternak  atau  bahan  bakufermentasi  untuk menghasilkan  biomethane.  Tantangan  yang  dihadapi  dalam meningkatkanproduksi  biomassa mikroalga  adalah  ketersediaan  karbon  dioksida. Selain  itu,  dalam  prosesekstraksi  juga  diperlukan  suatu  alat  yang  dapat memecah  dinding  sel mikroalga  sehinggakandungan minyaknya  dapat  diekstrak  semaksimal mungkin.
Teknologi Pengolahan Telur Ikan Rosmawaty Peranginangin
Squalen, Buletin Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 3, No 1 (2008): June 2008
Publisher : Research and Development Center for Marine and Fisheries Product Processing and Biotechnol

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (193.329 KB) | DOI: 10.15578/squalen.v3i1.167

Abstract

Telur  ikan  adalah  suatu  produk  yang  kaya  akan  protein. Namun,  produk  ini sangat mudahmembusuk  karena keberadaan enzim-enzim dalam  telur  itu sendiri atau oleh kontaminasi bakteri.Akibatnya, apabila  tidak  segera  ditangani,  telur  ini  cepat menurun mutunya dan  tidak  layak  lagiuntuk  dikonsumsi. Banyak  jenis  telur  ikan  yang  diperdagangkan  secara  komersial  seperti  telurikan  terbang  (Cypselurus  sp.)  yang banyak  terdapat  di  Indonesia,  telur  ikan  sturgeon  (Acipenserstellatus)  yang banyak  terdapat  di  laut Kaspia  dan  terkenal dengan  nama  kaviar,  telur  ikan  carp,dan  telur  ikan  salmon. Harga  telur  ikan  sesuai dengan  jenis  ikannya. Teknologi  pengolahan  telurikan diawali dari  teknik pengeluaran  telur  dari perut  ikan  dengan hati-hati, untuk mencegah  telurtidak dikotori oleh lendir dan darah. Apabila tidak hati-hati, maka telur akan lebih cepat membusuk.Telur  yang sudah diambil  kemudian  langsung dilewatkan pada screen khusus untuk memisahkanbutiran  telur  dan  jaringan  ikatnya.  Pengawetan  telur  ikan  pada  umumnya  adalah  denganpenggaraman,  yang  kadang-kadang  dikombinasi  dengan  pasteurisasi,  pengepresan,  ataupengeringan  di  udara    terbuka.  Telur  dapat  digarami  kering,  direndam  dalam  larutan  garamjenuh yang disesuaikan dengan produk yang diinginkan konsumen.  Ada juga yang menambahkanbahan  kimia  untuk    pengawetan  telur  salmon  seperti  boraks  dan  heksametilentetramina  yangdimasukkan  ke  dalam  telur  yang  telah  digarami  sebelum  pengemasan.  Penambahan  bahanpengawet  boraks    harus  dihentikan  penggunaannya  dari  segi  keamanan  pangan  dan  sampaidengan  saat  ini masih  dicari  penggantinya. Sampai  saat  ini,  telur  ikan  terbang  dari  Indonesiamasih  dijual  dalam  bentuk  kering  dan  belum  dilakukan  variasi  pengolahannya  padahal  teknikpengolahan  akan meningkatkan  nilai  tambah  dari  produk  telur  ikan  terbang. Sebagai  produkekspor,  telur  ikan  harus  memenuhi  persyaratan  standar  dan  keamanan  pangan  dalampengolahannya.
Peran Mutu Dalam Menunjang Ekspor Udang Nasional Sumpeno Putro
Squalen, Buletin Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 3, No 1 (2008): June 2008
Publisher : Research and Development Center for Marine and Fisheries Product Processing and Biotechnol

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/squalen.v3i1.164

Abstract

Udang merupakan  komoditi  andalan  ekspor  dari  sektor  perikanan  Indonesia. Akan tetapi, volume ekspor udang  Indonesia dalam  beberapa  tahun  terakhir  ini  cenderung menurun. Hal  ini terutama disebabkan karena semakin ketatnya persyaratan impor yang diberlakukan oleh negara-negara maju,  khususnya  standar mutu  dan  sanitasi. Ekspor udang  ke Uni Eropa merosot dan dikenakan RAS  (Rapid Alert System)  karena dicurigai mengandung  residu  antibiotik  dan bakteri patogen. Ekspor udang ke Amerika Serikat, juga masih dikenakan automatic detention. Sementara itu, pada  tahun 2006 dan  2007  ekspor udang  ke  Jepang  dan Cina  juga ditolak  karena  dicurigai mengandung  residu  antibiotik. Oleh  karena  itu,  pengembangan  sistem  pembinaan mutu  dan sertifikasi secara terpadu dengan konsep from farm to table sangat diperlukan untuk meningkatkan daya saing dan akses pasar dalam menghadapi era globalisasi. Dalam kaitan  ini, pengembangan industri  udang budidaya  ke depan  sebaiknya  tidak  hanya berorientasi  kepada upaya peningkatan produksi,  tetapi  juga memperhatikan  aspek mutu  dan  keamanan  pangan  (food safety)  agar produk  yang  dihasilkan  layak  dan  aman  untuk  dikonsumsi  serta memenuhi  standar mutu  yang berlaku  di  pasar  internasional.

Page 1 of 1 | Total Record : 5


Filter by Year

2008 2008


Filter By Issues
All Issue Vol 17, No 1 (2022): May 2022 Vol 16, No 3 (2021): December 2021 Vol 16, No 2 (2021): August 2021 Vol 16, No 1 (2021): May 2021 Vol 15, No 3 (2020): December 2020 Vol 15, No 2 (2020): August 2020 Vol 15, No 1 (2020): May 2020 Vol 14, No 3 (2019): December 2019 Vol 14, No 2 (2019): August 2019 Vol 14, No 1 (2019): May 2019 Vol 13, No 3 (2018): December 2018 Vol 13, No 2 (2018): August 2018 Vol 13, No 1 (2018): May 2018 Vol 12, No 3 (2017): December 2017 Vol 12, No 2 (2017): August 2017 Vol 12, No 1 (2017): May 2017 Vol 12, No 3 (2017): December 2017 Vol 12, No 2 (2017): August 2017 Vol 12, No 1 (2017): May 2017 Vol 11, No 3 (2016): December 2016 Vol 11, No 2 (2016): August 2016 Vol 11, No 1 (2016): May 2016 Vol 11, No 2 (2016): August 2016 Vol 10, No 3 (2015): December 2015 Vol 10, No 2 (2015): August 2015 Vol 10, No 1 (2015): May 2015 Vol 10, No 2 (2015): August 2015 Vol 10, No 1 (2015): May 2015 Vol 9, No 3 (2014): December 2014 Vol 9, No 2 (2014): August 2014 Vol 9, No 1 (2014): May 2014 Vol 9, No 1 (2014): May 2014 Vol 8, No 3 (2013): December 2013 Vol 8, No 2 (2013): August 2013 Vol 8, No 1 (2013): May 2013 Vol 8, No 1 (2013): May 2013 Vol 7, No 3 (2012): December 2012 Vol 7, No 2 (2012): August 2012 Vol 7, No 1 (2012): May 2012 Vol 7, No 3 (2012): December 2012 Vol 6, No 3 (2011): December 2011 Vol 6, No 2 (2011): August 2011 Vol 6, No 1 (2011): May 2011 Vol 6, No 1 (2011): May 2011 Vol 5, No 3 (2010): December 2010 Vol 5, No 2 (2010): August 2010 Vol 5, No 1 (2010): May 2010 Vol 5, No 1 (2010): May 2010 Vol 4, No 3 (2009): December 2009 Vol 4, No 2 (2009): August 2009 Vol 4, No 1 (2009): May 2009 Vol 4, No 3 (2009): December 2009 Vol 4, No 2 (2009): August 2009 Vol 3, No 2 (2008): December 2008 Vol 3, No 1 (2008): June 2008 Vol 2, No 2 (2007): December 2007 Vol 2, No 2 (2007): December 2007 Vol 1, No 1 (2006): December 2006 Article in Press More Issue