cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
,
INDONESIA
Squalen Bulletin of Marine and Fisheries Postharvest and Biotechnology
ISSN : 20895690     EISSN : 24069272     DOI : -
Squalen publishes original and innovative research to provide readers with the latest research, knowledge, emerging technologies, postharvest, processing and preservation, food safety and environment, biotechnology and bio-discovery of marine and fisheries. The key focus of the research should be on marine and fishery and the manuscript should include a fundamental discussion of the research findings and their significance. Manuscripts that simply report data without providing a detailed interpretation of the results are unlikely to be accepted for publication in the journal.
Arjuna Subject : -
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 3, No 2 (2008): December 2008" : 5 Documents clear
TEKNOLOGI PENANGANAN DAN PENYIMPANAN IKAN TUNA SEGAR DI ATAS KAPAL Hari Eko Irianto
Squalen, Buletin Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 3, No 2 (2008): December 2008
Publisher : Research and Development Center for Marine and Fisheries Product Processing and Biotechnol

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/squalen.v3i2.140

Abstract

Indonesia merupakan negara produsen ikan tuna terbesar kelima di dunia. Terdapat  beberapa jenis ikan tuna  yang banyak diperdagangkan di pasar internasional, terutama bluefin tuna, southern bluefin tuna, bigeye tuna, yellowfin tuna, albacore, dan skipjack.  Ikan tuna termasuk komoditas yang cepat mengalami proses kemunduran mutu bila tidak disimpan pada suhu rendah dan juga dapat menghasilkan senyawa histamin yang berbahaya bagi manusia yang mengkonsumsinya. Ikan tuna segar bermutu baik dapat diperoleh dengan menerapkan teknik penanganan dan penyimpanan yang benar segera setelah ikan ditangkap. Cara penanganan ikan tuna setelah ditangkap yang sering diterapkan adalah penggancoan, pendaratan ke atas kapal, pematian, perusakan saluran saraf dengan alat Taniguchi, pembuangan darah, pembuangan insang dan isi perut,  pembersihan, serta penyimpanan dingin. Mutu ikan tuna dipengaruhi oleh faktor-faktor biologis dan non-biologis. Faktor-faktor biologis yang berpengaruh meliputi spesies, umur, ukuran, tingkat kematangan seksual, dan adanya parasit atau penyakit, sedangkan faktor-faktor non-biologis adalah metode penangkapan, teknik penanganan, teknik pendinginan, dan teknik penyimpanan.
Ekstremofil sebagai penghasil enzim yang potensial untuk aplikasi industri pangan dan non pangan Dewi Seswita Zilda
Squalen, Buletin Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 3, No 2 (2008): December 2008
Publisher : Research and Development Center for Marine and Fisheries Product Processing and Biotechnol

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/squalen.v3i2.158

Abstract

Lingkungan ekstrem diketahui ternyata menunjang kehidupan bagi berbagai jenis mikroorganisme yang dikenal dengan sebutan ekstremofil. Mikroorganisme yang tumbuh dan berkembang di lingkungan yang ekstrem ini menghasilkan biokatalis dengan sifat-sifat yang dapat memenuhi standar proses industri. Untuk memenuhi permintaan yang semakin tinggi, eksplorasi yang semakin intensif terhadap biokatalis ini terus dilakukan. Beberapa mikroorganisme ekstremofilik telah diisolasi dan enzim yang dihasilkannya telah dikarakterisasi dan diaplikasikan dalam industri makanan, detergen, pengolahan kayu, dan proses-proses bioteknologi. Enzim-enzim ini mempunyai kestabilan yang tinggi terhadap pH, suhu, salinitas, dan kondisi ekstrem lainnya.
Prospek Pemanfaatan Alga Laut untuk Industri Ifah Munifah
Squalen, Buletin Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 3, No 2 (2008): December 2008
Publisher : Research and Development Center for Marine and Fisheries Product Processing and Biotechnol

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/squalen.v3i2.159

Abstract

Sebagai negara maritim, Indonesia memiliki keragaman hayati yang berlimpah di antaranya berbagai jenis rumput laut atau makroalga, yang lazim disingkat dengan alga. Salah satu substansi kimia dari rumput laut  yang  bermanfaat  adalah karbohidrat  berupa  polisakarida seperti alginat, karagenan, dan agar, sedangkan komponen penting lainnya adalah protein, lemak, dan vitamin yang semuanya merupakan metabolit primer.  Metabolit primer tersebut telah banyak dimanfaatkan untuk bahan baku industri, makanan tambahan, sayuran, dan bahan obat-obatan guna  memenuhi  kebutuhan di dalam negeri dan untuk diekspor. Di samping itu, alga juga merupakan sumber senyawa bioaktif, yang merupakan metabolit sekunder yang memiliki aktivitas  seperti  antibakteri, antitumor, antiinflamasi, dan lain-lain. Pemanfaatan metabolit  primer dari alga telah cukup berkembang namun pemanfaatan metabolit sekundernya hingga saat ini masih terbatas.
TEKNIK ISOLASI SENYAWA BIOAKTIF DARI KAPANG YANG BERASAL DARI LINGKUNGAN LAUT Noviendri, Dedi
Squalen, Buletin Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 3, No 2 (2008): December 2008
Publisher : Research and Development Center for Marine and Fisheries Product Processing and Biotechnol

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/squalen.v3i2.161

Abstract

Pada prinsipnya, teknik isolasi senyawa bioaktif dari kapang yang berasal dari laut mirip dengan teknik isolasi senyawa bioaktif dari invetebrata laut dan juga biota-biota yang ada di lingkungan darat. Namun ada beberapa hal yang berbeda, diantaranya cara isolasi dan pengkulturan terutama pada komposisi media pertumbuhannya, serta cara-cara pemanenannya. Sedangkan cara ekstraksi, fraksinasi, dan purifikasinya sampai mendapatkan suatu senyawa bioaktif yang murni adalah relatif sama. Untuk proses pemisahan dan purifikasi dapat digunakan alat Kromatografi Cair Kinerja   Medium (KCKM) dan Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT), serta disertai pengujian kemurnian dengan Kromatografi Lapis Tipis (KLT).  Jika dari hasil analisis dengan KCKM atau KCKT memberikan hasil satu puncak (peak) yang tunggal, maka terhadap sampel tersebut  dapat dilakukan analisis dengan alat MS, dan hasilnya dibandingkan dengan database untuk menguji apakah senyawa murni yang diperoleh adalah senyawa baru atau bukan. Selanjutnya dengan semua data analisis  yang diperoleh dari sampel murni tersebut, yaitu data fisika dan hasil spektrofotometer UV, hasil IR (KBr), MS, NMR 1 dimensi (proton, karbon, dan DEPT), dan NMR 2 dimensi (1H-1H COSY, 13C-1H COSY, HMBC, HMQC, dan NOESY), maka dilanjutkan dengan penentuan struktur molekul (dikenal dengan elusidasi struktur).
teripang: Potensinya sebagai bahan NUTRACEUTICAL dan TEKNOLOGI PENGOLAHANNYA theresia Dwi Suryaningrum
Squalen, Buletin Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 3, No 2 (2008): December 2008
Publisher : Research and Development Center for Marine and Fisheries Product Processing and Biotechnol

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (423.637 KB) | DOI: 10.15578/squalen.v3i2.160

Abstract

Teripang atau  sea cucumber merupakan hewan laut yang telah dimanfaatkan sebagai bahan pangan dan obat. Kandungan nutrisinya yang lengkap, secara tradisional telah dimanfaatkan  sebagai bahan nutraceutical untuk melancarkan peredaran darah  akibat penyempitan pembuluh darah karena kolesterol, melancarkan fungsi ginjal, meningkatkan metabolisme, mencegah penyakit arthritis, diabetes melitus, hipertensi, mempercepat penyembuhan luka, dan antiseptik tradisional. Karena manfaatnya yang cukup luas, kini produk olahan teripang semakin berkembang seperti  ekstrak teripang dalam bentuk jelly dan tablet yang digunakan  sebagai suplemen. Indonesia sebagai negara  yang kaya akan keanekaragaman jenis teripang dan pengekspor teripang terbesar di dunia, saat ini belum memiliki industri yang mengolah teripang menjadi ekstrak teripang  sebagai bahan nutraceutical. Sampai saat ini teknologi pengolahan teripang baru dalam bentuk kering dan dimanfaatkan sebagai bahan pangan. Sementara penelitian teripang sebagai bahan obat masih terbatas dan produk ekstrak teripang masih diimpor dari Malaysia dan Amerika. Mengingat sumberdayanya yang cukup potensial, maka penelitian ke arah bidang farmasi dan kesehatan perlu ditingkatkan. Penelitian tersebut untuk mendukung industri farmasi yang mengolah teripang menjadi bahan nutraceutical yang pasarnya masih terbuka serta peningkatan nilai tambahnya  cukup  tinggi.

Page 1 of 1 | Total Record : 5


Filter by Year

2008 2008


Filter By Issues
All Issue Vol 17, No 1 (2022): May 2022 Vol 16, No 3 (2021): December 2021 Vol 16, No 2 (2021): August 2021 Vol 16, No 1 (2021): May 2021 Vol 15, No 3 (2020): December 2020 Vol 15, No 2 (2020): August 2020 Vol 15, No 1 (2020): May 2020 Vol 14, No 3 (2019): December 2019 Vol 14, No 2 (2019): August 2019 Vol 14, No 1 (2019): May 2019 Vol 13, No 3 (2018): December 2018 Vol 13, No 2 (2018): August 2018 Vol 13, No 1 (2018): May 2018 Vol 12, No 3 (2017): December 2017 Vol 12, No 2 (2017): August 2017 Vol 12, No 1 (2017): May 2017 Vol 12, No 3 (2017): December 2017 Vol 12, No 2 (2017): August 2017 Vol 12, No 1 (2017): May 2017 Vol 11, No 3 (2016): December 2016 Vol 11, No 2 (2016): August 2016 Vol 11, No 1 (2016): May 2016 Vol 11, No 2 (2016): August 2016 Vol 10, No 3 (2015): December 2015 Vol 10, No 2 (2015): August 2015 Vol 10, No 1 (2015): May 2015 Vol 10, No 2 (2015): August 2015 Vol 10, No 1 (2015): May 2015 Vol 9, No 3 (2014): December 2014 Vol 9, No 2 (2014): August 2014 Vol 9, No 1 (2014): May 2014 Vol 9, No 1 (2014): May 2014 Vol 8, No 3 (2013): December 2013 Vol 8, No 2 (2013): August 2013 Vol 8, No 1 (2013): May 2013 Vol 8, No 1 (2013): May 2013 Vol 7, No 3 (2012): December 2012 Vol 7, No 2 (2012): August 2012 Vol 7, No 1 (2012): May 2012 Vol 7, No 3 (2012): December 2012 Vol 6, No 3 (2011): December 2011 Vol 6, No 2 (2011): August 2011 Vol 6, No 1 (2011): May 2011 Vol 6, No 1 (2011): May 2011 Vol 5, No 3 (2010): December 2010 Vol 5, No 2 (2010): August 2010 Vol 5, No 1 (2010): May 2010 Vol 5, No 1 (2010): May 2010 Vol 4, No 3 (2009): December 2009 Vol 4, No 2 (2009): August 2009 Vol 4, No 1 (2009): May 2009 Vol 4, No 3 (2009): December 2009 Vol 4, No 2 (2009): August 2009 Vol 3, No 2 (2008): December 2008 Vol 3, No 1 (2008): June 2008 Vol 2, No 2 (2007): December 2007 Vol 2, No 2 (2007): December 2007 Vol 1, No 1 (2006): December 2006 Article in Press More Issue