cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. bojonegoro,
Jawa timur
INDONESIA
An-Nas : Jurnal Humaniora
ISSN : 2549676X     EISSN : 25977822     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 94 Documents
HAKEKAT RITUAL IBADAH HAJI DAN MAKNANYA BERDASARKAN PEMIKIRAN WILLIAM R. ROFF Azalia Mutammimatul Khusna
AN-NAS Vol 2 No 1 (2018): AN-NAS: JURNAL HUMANIORA
Publisher : Institut Agama Islam Sunan Giri Bojonegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (817.952 KB) | DOI: 10.36840/an-nas.v2i1.93

Abstract

“The Pilgrimage is one of five pillars of Islam which must be done by the followers of this religion, and this ritual is only done by who are capable to do it. In Indonesia, the Moslems will go to do the pilgrimage after walk on some rituals before hajj or pilgrimage with the faith that these rituals give the fluency to the doers. Of course, as Indonesia has many cultures, the ritual before doing pilgrimage is different each others and these differences don’t mean give the different quality in their worships to God Allah and their reward. The implementation of Pilgrimage, according to the writer, is the regular worships to bring near the God with some gestures and all of them contain everything that make us remember to the power of Allah. William R. Roff, in the book of Richard C Martin (2010), said that the rituals of Pilgrimage is the symbols of Moslems life whicheas these symbols are the way for human to upgrade their believes after inspiring the meaning of these symbols.”
النحت في اللغة العربية بين القدماء والمحدثين Silmi Kaffah
AN-NAS Vol 2 No 1 (2018): AN-NAS: JURNAL HUMANIORA
Publisher : Institut Agama Islam Sunan Giri Bojonegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (921.22 KB) | DOI: 10.36840/an-nas.v2i1.94

Abstract

"نهضت اللغة العربية في عصرنا اليوم بوجود الوسائل المختلفة لنهضتها، منها النحت ضرب من ضروب الاشتقاق وهو أن يأخذ من كلمتين فأكثر كلمة واحدة. ظهر النحت في اللغة العربية منذ العصر القديم استخدمه العربي لتيسير النطق في نسبة القبائل العربية مثل عبشمي النسبة إلى عبد الشمس وازدهر في عصرنا اليوم في المجال التكنولوجي والهندسي والطبي وغير ذلك. وقسم النحت إلى ستة أقسام وهو نحت ((فعلي)) و((وصفي)) و((اسمي)) و((نسبي)) و((حرفي)) و((تخفيفي)). وقد يشترط للكلمة المنحوتة شروط وهي: أن تكون معبرة عن معنى الكلمات التي أُخذت منها. وأن تجمع بين حروف ما أخذ منه خصوصا إذا كان من كلمتين فقط. ولقد اختلف اللغويين في القديم والمعاصر عن النحت واستخدامه في اللغة العربية وسيلة للتوسع والتوسيع للغة العربية. فبعض العلماء اتفق على استخدامه عند الحاجة وبعضهم قد وقف عليه موقفا سلبيا لكونه على إفساد اللغة العربية."
PERSEPSI MINORITAS MUSLIM TERHADAP MODEL KERUKUNAN DALAM MEMBANGUN HARMONI SOSIAL Sulanam Sulanam
AN-NAS Vol 2 No 1 (2018): AN-NAS: JURNAL HUMANIORA
Publisher : Institut Agama Islam Sunan Giri Bojonegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (251.418 KB) | DOI: 10.36840/an-nas.v2i1.95

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk menggambarkan bangunan kerukunan beragama di Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT). Propinsi ini telah berhasil menjadi contoh bagi model dan jalinan kerukunan beragama bagi provinsi-provinsi lain di Indonesia. Sebagai provinsi yang mayotitas Kristen, cara minoritas Muslim dalam mendorong tumbuhnya harmoni, toleransi, ataupun kerukunan juga berbeda dengan di wilayah yang mayoritas muslim. Minoritas ini memiliki kekhasan dalam menterjemahkan bangunan kerukunan beragama di wilayah NTT. Untuk menjawab tujuan penulisan ini, akan di­gam­­barkan bagaimana persepsi minoritas muslim NTT dalam membangun model kerukunan beragama; selanjutnya juga akan digambarkan bagaimana pemahaman mayoritas dan minoritas dalam mendorong praktik kerukunan beragama dalam kerangka kebangsaan. Dalam tulisan ini ditemukan bahwa harmoni umat beragama merupakan keniscayaan yang harus terus dibangun demi keutuhan bangsa Indonesia: ada kesadaran bahwa harmoni berbangsa dan bernegara di Indonesia merupakan model ideal yang saat ini menjadi contoh bagi masyarakat dunia. Model-model kerukunan yang dipersepsi minoritas dapat dirawat dan selanjutnya menjadi platform dalam mewujudkan harmoni sosial.
Geneologi dan Gerakan Militansi Salafi Jihadi Kontemporer saeful anwar anwar
AN-NAS Vol 2 No 1 (2018): AN-NAS: JURNAL HUMANIORA
Publisher : Institut Agama Islam Sunan Giri Bojonegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (345.632 KB) | DOI: 10.36840/an-nas.v2i1.99

Abstract

Tulisan geneologi dan gerakan militansi salafi jihadi kontemporer ini, berusaha menjelaskan bagaimana suatu ide tertentu dalam salafi-jihadisme muncul, tipologi dan doktrin jihad salafism, dinamika gerakan jihad salafism dan karakteristik yang menentukannya. Tulisan ini juga akan menjelaskan cara yang unik dan berbeda yang mana para salafi-jihadis memahami, mengembangkan atau menterjemahkan ide-ide tersebut yang berbeda dengan bagaimana kelompok Muslim yang lain mempersepsikan ide tersebut melalui sebuah gerakan. Salafisme sendiri menurut penulis adalah sebuah konsep yang masih terlalu luas untuk dimaknai. Penulis mengutip perkataan Bernard Haykel bahwa Istilah salafi, dan hal-hal lain yang dikaitkan dengannya, masih belum didefinisikan dengan baik dan sering difahami secara salah dalam banyak literatur tentang pergerakan ini, dan dalam kajian Islam yang lebih umum. Dalam konstruksinya yang paling sederhana, salafisme Mengacu pada para pendahulu yang sholih dari tiga generasi awal Muslim. Karena itu salafisme adalah pandangan keagaaman yang menginginkan untuk menghidupkan kembali praktek-praktek tiga generasi awal Islam yang secara kolektif dikenal sebagai as-salafush shalihin. Penulis menjelaskan adanya banyak opini yang berbeda dari para ilmuwan tentang karakteristik tertentu yang secara presisi mendefinisikan gerakan salafi-jihadi sebagai sebuah kesatuan, yang merupakan salah satu bagian dari spektrum salafi yang luas. Dengan mengacu dan mengkompromikan pendapat yang berbeda dari para ilmuwan, penulis berpendapat bahwa ada lima ciri/fitur mendasar dari gerakan salafi-jihadi yaitu: tauhid, hakimiyyah, wala’ wal baro’, jihad, dan takfir. Kelima ciri ini dipilih berdasarkan arti pentingnya terhadap gerakan salafi-jihadi.
TRANSISI BAHASA ARAB DAN POLEMIK KRISTEN KOPTIK Nilna Indriana
AN-NAS Vol 2 No 1 (2018): AN-NAS: JURNAL HUMANIORA
Publisher : Institut Agama Islam Sunan Giri Bojonegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (643.679 KB) | DOI: 10.36840/an-nas.v2i1.100

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tentang transisi dari bahasa Koptik ke Bahasa Arab, serta polemik-polemik yang terjadi di dalam kristen Koptik. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, tepatnya metode deskriptif kualitatif. Metode ini digunakan sebagai cara menguraikan masalah dengan menggambarkan keadaan objek penelitian dan mendeskripsikan secara detail tentang keadaan kristen koptik dan transisi dari bahasa koptik ke bahasa Arab, sehingga bahasa Arab bisa berkembang pesat dan tetap eksis serta digunakan sebagai bahasa yang diajarkan diseluruh dunia hingga saat ini. Penelitian ini menghasilkan adanya pergeseran atau transisi bahasa koptik sebagai bahasa rakyat dan peradaban Mesir yang dilestarikan penggunaannya sebagai bahasa lingua franca oleh Amru bin Ash (salah seorang sahabat Nabi) yang menjadi gubernur di Mesir saat kekhalifahan Umar ibn Khattab serta ditabalkan fungsinya oleh Amru bin Ash bukan sekedar untuk melestarikan bahasa asli penduduk Mesir, tetapi juga untuk menjadikannya sebagai identitas budaya Islam khas Mesir. Namun seiring perkembangannya hingga saat ini bahasa tersebut nyaris punah dan penggunaannya terbatas pada urusan peribadatan sebagai bahasa liturgis. Dalam kehidupan sehari-hari, mereka kini menuturkan bahasa Arab.
INTERNASIONALISASI BAHASA INDONESIA DAN INTERNALISASI BUDAYA INDONESIA MELALUI BAHASA INDONESIA BAGI PENUTUR ASING (BIPA) Dya Fatkhiyatur Rohimah
AN-NAS Vol 2 No 2 (2018): AN-NAS: Jurnal Humaniora
Publisher : Institut Agama Islam Sunan Giri Bojonegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (469.082 KB) | DOI: 10.36840/an-nas.v2i2.104

Abstract

Language is the key to civilization, through language also communication will run well. The importance of language has become a necessity, as well as Indonesian language. In this fast-paced era, where technology is rapidly expanding and rapidly Indonesia is urgently needed to show its existence on the world scene. To do this, there are many methods that can be taken. For example through language and culture. The government has also issued a regulation on this matter. This regulation is contained in Law No. 24 of 2009 on Flags, Languages, and Emblems of State and National Anthem. That the government is committed to internationalizing Indonesian. The current real step in the effort is through BIPA (Bahasa Indonesia Bagi Penutur Asing). Where learners not only learn Indonesian language but also Indonesian culture. With the existence of BIPA is expected the language and culture of Indonesia will become more known by the world, and can parallel with other countries that have been recognized internationally.
نشأة النحو العربي Muhammad Afthon Ulin Nuha
AN-NAS Vol 2 No 2 (2018): AN-NAS: Jurnal Humaniora
Publisher : Institut Agama Islam Sunan Giri Bojonegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (565.42 KB) | DOI: 10.36840/an-nas.v2i2.105

Abstract

هذه المقالة تحت العنوان "نشأة النحو العربي". يركز بحث هذه المقالة في 1) مفهوم النحو العربي وأهميته؛ 2) حالة اللغة العربية قبل نشأة علم النحو؛ 3) أول واضع علم النحو. للوصول إلى البيانات المطلوبة والدلائل المثبتة في القضية، قا الباحث بإجراء البحث بطرائق لازمة في الدراسات المكتبية وهي المنهج الاستقرائي والمنهج الاستدلالي والمنهج البياني. تدرك البيانات والمعلومات من مصادرها وهي المواد المكتوبة في الكتب أو النسخ أو المقالات. ترجى نتيجة هذا البحث أن تعطي صورة واقعية عن الموضوع الذي يبحث عنه. والنتيجة من هذا البحث تظهر أن النحو من أهم العلوم العربية لأنه يمس جوانب مهمة في اللغة العربية. احتاجت اللغة العربية إلى النحو لأن له وظائف مهمة في حفظ سلامتها من الفساد والاضطراب، بجانب إنه يساعد القراء في فهم النصوص المقرؤءة، ويعين المتكلم في تعبير الكلام الصحيح، ويعيين الكتاب للوصول إلى الكتابة الصحيحة، وقبل ظهور علم النحو كانت حالة اللغة العربية عاشت عيشة قوية، ولم تحتج إلى قواعد تحتفظ بها. وذلك لأن العرب يتكلمون بلغتهم قائمة على الفطرة السالمة والسليقة المستقيمة. كان المؤرخون لا يتفقون في أول واضع النحو، وذلك لأن هذا العلم قديم النشأة، والروايات الواردة إلينا متضاربة، غير أن هناك الرأي الأرجح القائل أن أول واضع النحو هو أبو الأسواد الدؤلي تحت إرشاد الإمام علي رضي الله عنه.
العلاقة بين اللغة العربية وعلم النحو Nurul Musyafa'ah
AN-NAS Vol 2 No 2 (2018): AN-NAS: Jurnal Humaniora
Publisher : Institut Agama Islam Sunan Giri Bojonegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1047.079 KB) | DOI: 10.36840/an-nas.v2i2.106

Abstract

إن هذا الباب يبجث عن العلاقة بين اللغة العربية وعلم النحو وينقسم هذا الباب الى فصلين وهما الفصل عن اللغة العربية وخصائصها، ويليه الفصل الثانى حيث يذكر فيه حاجة اللغة العربية إلى النحو. كان هذا البحث يستخدم التحليل النوعي بطريقة الدراسة المكتبية لجمع البيانات و الاستعلامات بمساعدة أنواع المواد التي توجد في المكتبة. اختارت الباحثة هذه الطريقة لإدراك المعلومات المتعددة من مصادرها و تحقيق الوثائق التي تتعلق بالبيانات المطلوبة. يركز هدف التحقيق في المواد المكتوبة في الكتب أو النسخة أو الجريدة أو غير ذلك. والنتيجة عن هذا البحث هي النحو وظائف مهمة فى حفظ سلامة اللغة العربية من الفساد والاضطراب، تعنى لإعانة القراء لفهم المقروء وإعانة المتكلم لتعبير الكلام الصحيح ثم إعانة الكتاب للوصول الى الكتابة الصحيحة
Penerjemahan Al-Musytarok Al-Lafdzi Dalam Kitab Bidayatul Mujtahid Wa Nihayatul Muqtasid: (Studi Komparatif Tim Penerbit Pustaka Azzam Dan Tim Pustaka Amani) Novi Lusiana
AN-NAS Vol 2 No 2 (2018): AN-NAS: Jurnal Humaniora
Publisher : Institut Agama Islam Sunan Giri Bojonegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (701.764 KB) | DOI: 10.36840/an-nas.v2i2.107

Abstract

Tulisan ini berusaha menjelaskan tentang keistimewaan bahasa arab. Keistimewaan bahasa arab dapat dilihat dari segi persamaan kata, kejelasan mufrodat, gaya bahasa yang bervariasi dan kemajuan perkembangannya. Bahasa arab merupakan bahasa yang kaya karena memiliki karakteristik yang berbeda dari bahasa-bahasa lain, seperti naht, nahwu, shorof, dan relasi atau hubungan makna. Karakteristik yang terdapat dalam bahasa arab memiliki pengaruh yang kuat terhadap fenomena-fenomena yang terjadi dalam bahasa arab. Berbicara mengenai karakteristik bahasa arab, ada salah satu dari beberapa karakteristik yang sangat menarik yaitu relasi makna. Disinilah penulis ingin memaparkan bahwa relasi makna dapat berupa hubungan kesamaan, ketercakupan, dan kebalikan, salah satunya adalah al-musytarok al-lafdhi. al-musytarok al-lafdhi dalam bahasa arab sama dengan definisi polisemi dalam bahasa Indonesia, yaitu kata atau frase yang memiliki makna lebih dari satu atau memiliki makna yang berbeda-beda. Permasalahan dalam hal ini adalah karena banyak buku yang menerjemahkan al-musytarok al-lafdhi itu berbeda-beda, seperti halnya terjemahan kitab fiqh Bidayatul Mujtahid wa nihayatul muqtasid yang diterbitkan oleh pustaka azzam dan pustaka amani.
PELANGGARAN MAKSIM (FLOUTING MAXIM) DALAM TUTURAN TOKOH FILM RADIO GALAU FM: SEBUAH KAJIAN PRAGMATIK Niswatin Nurul Hidayati
AN-NAS Vol 2 No 2 (2018): AN-NAS: Jurnal Humaniora
Publisher : Institut Agama Islam Sunan Giri Bojonegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (470.724 KB) | DOI: 10.36840/an-nas.v2i2.108

Abstract

“The cooperative principle proposed by Grice stated “make your contribution such as is required, at the stage at which it occurs, by the accepted purpose or direction of the talk exchange in which you are engaged”, but in the real life communication, this principle was often being flouted which was known as flouting maxim. This research aimed to describe the flouting maxim phenomenon in one of Indonesian films, Radio Galau FM.From the analysis of the collected data, the researcher found that some conversation of the main characters in this movie contained flouting maxim, whether it is flouting maxim of quantity, quality, relevance, and also manner. When the flouting maxim happened, it contained certain implicature, in which the speaker intended to deliver certain implicit message, such as assuring the hearer, giving surprise, asking for attention, also avoiding the conflict”.

Page 1 of 10 | Total Record : 94