cover
Contact Name
Agung Ari Wibowo
Contact Email
agung.ari.wibowo@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
agung.ari.wibowo@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Teknik Kimia dan Lingkungan
ISSN : 25798537     EISSN : 25799746     DOI : -
This journal is an open access journal with the frequency of 2 (two) times a year, published by Department of Chemical Engineering, Politeknik Negeri Malang (State Polytechnic of Malang). The journal publishes original research results, literature reviews and short communications relevant to the fields of chemical and environmental engineering.
Arjuna Subject : -
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 1, No 1 (2017): October 2017" : 5 Documents clear
Pengaruh Komposisi Air Laut dan Pasir Laut Sebagai Sumber Energi Listrik Okky Putri Prastuti
Jurnal Teknik Kimia dan Lingkungan Vol 1, No 1 (2017): October 2017
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (266 KB) | DOI: 10.33795/jtkl.v1i1.13

Abstract

Energi listrik adalah energi yang berasal dari muatan listrik yang menimbulkan medan listrik statis atau bergeraknya elektron pada konduktor (pengantar listrik) atau ion (positif atau negatif) pada zat cair atau gas. Energi listrik dibutuhkan oleh masyarakat untuk menghidupkan lampu penerangan, memanaskan, mendinginkan ataupun untuk menggerakkan kembali suatu peralatan mekanik untuk menghasilkan bentuk energi yang lain. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut dilakukan berbagai upaya pembaharuan energi salah satunya memanfaatkan campuran pasir laut dan air laut. Pemanfaatan air laut sudah diketahui bahwa memang bisa menghasilkan arus listrik. Penelitian ini merupakan studi awal untuk mengkombinasi air laut dan pasir laut sebagai bahan baku. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis komposisi optimal antara air laut dan pasir laut dalam menghasilkan energi listrik. Sumber air laut dan pasir laut berasal dari Pantai Kenjeran Surabaya Indonesia. Metode penelitian berupa pencampuran air laut dan pasir laut dengan komposisi perbandingan persen berat pasir laut di dalam campuran sebesar 0%, 25%, 50%, 75%, dan 100%. Energi listrik yang dihasilkan ditunjukkan dengan mengamati aliran arus dan daya yang terlihat pada multimeter. Berdasarkan hasil pengukuran arus dan tegangan didapatkan berturut-turut sebesar 2,4 V; 2,3 V; 2,3 V; 1,8 V; dan 0,9 V. Sehingga hasil analisis dari kandungan air laut dan pasir laut berpotensial untuk dimanfaatkan sebagai sumber energi listrik, meskipun pasir laut berperan sebagai hambatan.Electrical energy is energy derived from electric charge that causes static electric field or the movement of electrons in a conductor (conductor of electricity) or ions (positive or negative) in a liquid or gas. The electrical energy needed by society to lighting, heating, cooling, or to move back in mechanical equipment to produce other forms of energy. Utilization of a mixture of sand and sea water is one of the methods of renewable energy. In other hand, utilization of sea water is known that it can generate electricity. This study is a preliminary study to combine sea water and sea sand as raw materials. The purpose of this study was to analyze the optimal composition of sea water and sea sand in generating electrical energy. Source of sea water and sea sand comes from Kenjeran Beach Surabaya Indonesia. Research methods such as mixing sea water and sea sand with a weight percent ratio sea sand in the mixture of 0%, 25%, 50%, 75%, and 100%. The electrical energy generated is determined by observing the current flow and power are seen on the multi meter. Based on the results of current and voltage measurements obtained respectively 2,4 V; 2,3 V; 2,3 V; 1,8 V; and 0,9 V. So the results of the analysis of the composition of sea water and sea sand can potentially be used as a source of electrical energy, although sea sand as agent of resistant.
Fermentasi Anaerobik Biogas Dua Tahap Dengan Aklimatisasi dan Pengkondisian pH Fermentasi Purwinda Iriani; Yanti Suprianti; Fitria Yulistiani
Jurnal Teknik Kimia dan Lingkungan Vol 1, No 1 (2017): October 2017
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (964.831 KB) | DOI: 10.33795/jtkl.v1i1.16

Abstract

Produksi biogas pada skala rumah tangga umumnya menggunakan teknologi fermentasi anaerobik di dalam satu biodigester (satu tahap), yang mengakomodasi dua tahap utama prinsip pembentukan biogas, yakni tahap asetogenesis dan tahap metanogenesis. Permasalahan yang muncul dari penggunaan digester biogas satu tahap adalah ketidakseimbangan proses fermentasi (peningkatan laju beban organik, waktu retensi senyawa organik yang lebih cepat, dan produktivitas biogas yang menjadi tidak maksimal). Untuk mengatasi hal tersebut, dilakukan penelitian yang bertujuan melakukan produksi biogas melalui sistem fermentasi anaerobik dua-tahap (two-stage anaerobic digestion), yang didukung dengan pengaturan pH pada proses metanogenik. Pada penelitian ini telah dilakukan proses aklimatisasi (aktivasi) bakteri yang menunjang proses asetogenik dan metanogenik pada skala laboratorium (19 L), dan selanjutnya menjadi inokulum untuk proses fermentasi skala pilot dengan kapasitas biodigester asetogenik 125 L dan metanogenik 500 L. Hasil proses aklimatisasi bakteri asetogenik pada media kotoran sapi menunjukkan adanya kestabilan pH yang dibutuhkan untuk reaksi asetogenik, yaitu pada kisaran pH 5-6, sedangkan kontrol menunjukkan perubahan pH yang masih ada di rentang pH netral yaitu 6-7. Kotoran sapi yang telah melalui proses asetogenik selama 2 minggu (pH awal 5,5), menjadi bahan baku pembuatan biogas pada digester metanogenik. Hasil dari proses metanogenik menunjukkan terjadinya peningkatan volume biogas dan komposisi gas metana (CH4) di dalam biogas. Komposisi CH4 tertinggi diperoleh pada hari ke-20 yakni 74,82% dengan volume produksi biogas tertinggi ada pada hari ke-22, dengan laju 8,87 L/hari. Potensi energi tertinggi yang diperoleh mencapai 217,66 kJ/hari.Generally, biogas production on the household scale is using one-stage anaerobic fermentation technology, which accommodates two main processes of biogas production, namely acetogenesis and methanogenesis. An obstacle of using one-stage biogas digester is the imbalance of the fermentation process that indicated by the increase of organic load rate and shorter retention time that lead to un-optimal biogas productivity. This research undertook the application of two-stage anaerobic digestion, supported by adjusting the initial pH for both acetogenic and methanogenic processes. Firstly, the research initiated by acclimatization (activation) process of acetogenic and methanogenic bacteria via fermentation in laboratory scale (19 L) digesters, separately. The results of acetogenic bacteria acclimatization process on cow dung media showed the pH stability needed for the reaction acetogenic, in the range of 5-6, while the control showed the pH changes still in the neutral pH range (6-7). The substrate from lab-scale acetogenic and methanogenic digester, then used as a starter for pilot-scale digester (125 L and 500 L, respectively). The mixture of water and cow dung were adjusted at initial pH 5.5 on acetogenic digester for 2 weeks. Those material were used for biogas production in the methanogenic digester. The result of the methanogenic process showed an increasing volume of biogas and the composition of methane (CH4) in the biogas. The highest CH4 composition was obtained on the 20th day, which reached 74.82%, and the highest volume of biogas production was at day 22, with the rate of 8.87 L/day. The highest energy potential obtained was 217.66 kJ/day.
Studi Kinetika Reaksi Metanolisis Pembuatan Metil Ester Sulfonat (MES) Menggunakan Reaktor Batch Berpengaduk Abdul Chalim; Agung Ari Wibowo; Ade Sonya Suryandari; Muhammad Muhajjir Syarifuddin; Moh. Tohir
Jurnal Teknik Kimia dan Lingkungan Vol 1, No 1 (2017): October 2017
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1021.599 KB) | DOI: 10.33795/jtkl.v1i1.23

Abstract

Surfaktan merupakan surface active agent yang banyak diaplikasikan dalam bidang industri kimia berkaitan dengan kemampuannya menstabilkan emulsi antara fasa minyak dan fasa air. Surfaktan berbasis minyak nabati merupakan pengembangan teknologi di bidang surfaktan yang selama ini didominasi oleh surfaktan berbahan baku minyak bumi. Metil ester sulfonat (MES) adalah surfaktan anionik yang dihasilkan melalui reaksi antara metil ester asam lemak dengan agen pensulfonasi atau yang lebih dikenal dengan reaksi sulfonasi. MES mengalami proses lanjutan yang disebut dengan reaksi metanolisis dan netralisasi. Penelitian ini mempelajari pengaruh rasio mol reaktan, waktu reaksi dan suhu reaksi terhadap yield MES pada reaksi metanolisis. Yield MES tertinggi yaitu 49,71% dicapai pada suhu reaksi 120°C, waktu reaksi 120 menit dan rasio mol MES terhadap metanol 1:3. Konstanta laju reaksi metanolisis ditentukan dengan mereaksikan reaktan di dalam reaktor batch berpengaduk pada kondisi operasi tersebut.Surfactant is a surface active agent which is widely applied in chemical industry related to its ability to stabilize the emulsion between the oil phase and the water phase. Surfactant-based on vegetable oil is a technology developed in the field of surfactant which has been dominated by surfactants made from petroleum. Methyl ester sulfonate (MES) is an anionic surfactant produced by the reaction between fatty acid methyl ester with a sulfonating agent or called as sulfonation reaction. MES undergoes an advanced process called methanolysis and neutralization reactions. This study investigated the effect of reactant molar ratio, reaction time and reaction temperature on MES yield on methanolysis reaction. The highest MES yield of 49.71% was achieved at a reaction temperature of 120°C, the reaction time of 120 minutes and the molar ratio between MES and methanol of 1:3. The rate constants of methanolysis reactions are determined by reacting the reactants in the stirred batch reactor under those operating conditions.
Produksi Crude Selulase dari Bahan Baku Ampas Tebu Menggunakan Kapang Phanerochaete chrysosporium Sri Rulianah; Zakijah Irfin; Mufid Mufid; Prayitno Prayitno
Jurnal Teknik Kimia dan Lingkungan Vol 1, No 1 (2017): October 2017
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (915.771 KB) | DOI: 10.33795/jtkl.v1i1.24

Abstract

Bagasse mengandung selulosa yang cukup tinggi sehingga berpotensi sebagai bahan baku produksi crude selulase menggunakan kapang Phanerochaete chrysosporium. Kapang ini memiliki kemampuan untuk memproduksi enzim selulase dari substrat yang mengandung selulosa dan juga menghasilkan enzim yang dapat memecah lignin sehingga tidak perlu dilakukan proses delignifikasi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memanfaatkan limbah ampas tebu sebagai bahan baku pembuatan crude selulase menggunakan kapang Phanerochaete chrysosporium dan mengetahui pengaruh penambahan konsentrasi substrat dan waktu fermentasi terhadap aktivitas crude selulase yang dihasilkan. Penelitian ini dilakukan dengan cara mengeringkan dan memperkecil ukuran ampas tebu, meremajakan kapang Phanerocheate chrysoporium, membuat inokulum dalam media cair, memfermentasi ampas tebu sesuai dengan variabel, dengan media Nitrogen Limited Media (NLM) menggunakan kapang Phanerocheate chrysoporium. Hasil fermentasi disaring, dan filtratnya dianalisa aktivitasnya sebagai crude selulase. Variabel dalam penelitian ini adalah waktu fermentasi 9, 11, 13, 15 dan 17 hari dan konsentrasi ampas tebu sebagai media: 5, 6, dan 7 % b/v. Ekstrak kasar selulase (crude) yang dihasilkan disaring menggunakan filter vakum, dan aktivitas filtrat (crude cellulase) diuji dengan pereaksi DNS (dinitro salicylic acid) dengan menggunakan spektrofotometer UV-Vis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivitas selulase tertinggi diperoleh pada variabel konsentrasi ampas tebu sebesar 7% b/v dan waktu inkubasi selama 17 hari yaitu sebesar 91.304 U/mL.Bagasse contain high cellulose which potentially to be used to raw material for producing cellulase enzyme using fungi Phanerochaete chrysosporium. This fungus has ability to produce cellulase enzymes from substrates which contain cellulose and also produce enzymes that can degrade lignin content so it didn’t need the delignification process. The objective of this study was to convert cellulose in bagasse to be crude cellulase enzymes by using Phanerochaete chrysosporium and determine the effect of substrate concentration and fermentation time to the enzyme activity. This research was conducted by drying and reducing the bagasse particle size, rejuvenating mold Phanerocheate chrysoporium, making inoculum in liquid medium, fermenting bagasse in accordance with the variable, with media NLM (nitrogen limited media) using Phanerocheate chrysoporium. Fermentation results were filtered, and it was analyzed the activity of crude cellulase. The variable in this study was the time of fermentation 9, 11, 13, 15, and 17 days and substrate concentration: 5, 6, and 7 % b/v. Crude cellulose was filtered and was analyzed the enzyme activity by DNS (dinitro salicylic acid) reagent, using UV-Vis spectrophotometer. The best result of this study was the crude cellulase with highest activity 91,304 U/mL for 7 % substrate concentration with fermentation time 17 days.
Review Pemanfaatan Design Expert untuk Optimasi Komposisi Campuran Minyak Nabati sebagai Bahan Baku Sintesis Biodiesel Reshita Amalia Ramadhani; Dody Herdian Saputra Riyadi; Bayu Triwibowo; Ratna Dewi Kusumaningtyas
Jurnal Teknik Kimia dan Lingkungan Vol 1, No 1 (2017): October 2017
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (768.923 KB) | DOI: 10.33795/jtkl.v1i1.5

Abstract

Pencampuran berbagai jenis minyak nabati untuk sintesis biodiesel merupakan salah satu upaya pencarian sumber energi alternatif terbarukan. Campuran berbagai macam minyak nabati lebih potensial karena ketersediaannya masih melimpah dan kurang dimanfaatkan. Campuran minyak nabati yang dapat digunakan sebagai bahan baku antara lain: minyak jarak pagar, minyak nyamplung, dan minyak jelantah. Komposisi campuran ditentukan dan dioptimasi menggunakan metode simplex lattice design dengan total campuran tertentu. Data yang akan didapat yaitu data pengaruh masing-masing campuran minyak terhadap penurunan bilangan FFA saat reaksi esterifikasi. Metode simplex lattice design merupakan salah satu metode yang terdapat di dalam software Design Expert 10.0 yang digunakan untuk optimasi formula pada berbagai jumlah komposisi bahan yang berbeda. Sintesis biodiesel dijalankan berdasar design of experiment yang dihasilkan oleh program Design Expert 10.0. Kegunaan metode simplex lattice design diantaranya: penentuan formula, mengoptimalkan variabel formulasi dan mengetahui jumlah run, menjaga konsentrasi total tetap konstan. ANOVA (Analysis of variance) dilakukan untuk menentukan signifikansi analisis respon antar variabel dan dapat mengetahui model yang disarankan. Desirability merupakan nilai fungsi yang menunjukkan kemampuan program untuk memenuhi keinginan berdasarkan kriteria yang ditetapkan pada produk akhir. Nilai desirability yang semakin mendekati nilai 1,0 menunjukkan kemampuan program untuk menghasilkan produk yang dikehendaki semakin sempurna.Mixing different types of vegetable oils for synthesis of biodiesel is one of the efforts for renewable alternative energy. Mixed oil of vegetable oils more potential because it is not difficult to finding raw materials and not useful yet. Vegetable oils mixture as raw materials used include: Jatropha curcas oil, nyamplung oil and waste cooking oil. The mixed and optimized compositions use the simplex lattice design method with a total mixture. The data to be obtained is the influence data of each mixed oil to decrease of FFA during esterification reaction. Simplex lattice design method is one of the methods available in the software Design Expert 10.0. The designs used to optimize the formula on different amounts of different material compositions. The biodiesel synthesis is run based on the experimental design produced by the Expert Design 10.0 program. The use of lattice simplex method design: determination formula, optimizing formulation variable and total number of runs, keeping total concentration constant. ANOVA (Analysis of variance) to determine the significance of response analysis among variables and can know the suggested model. Desirability is a method that shows the program's ability to meet the criteria specified in the final product. The desired value that is critical to the desired product improvement program is so perfect.

Page 1 of 1 | Total Record : 5