cover
Contact Name
Agung Ari Wibowo
Contact Email
agung.ari.wibowo@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
agung.ari.wibowo@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Teknik Kimia dan Lingkungan
ISSN : 25798537     EISSN : 25799746     DOI : -
This journal is an open access journal with the frequency of 2 (two) times a year, published by Department of Chemical Engineering, Politeknik Negeri Malang (State Polytechnic of Malang). The journal publishes original research results, literature reviews and short communications relevant to the fields of chemical and environmental engineering.
Arjuna Subject : -
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 2, No 2 (2018): October 2018" : 6 Documents clear
Pengolahan Air Limbah Domestik Menggunakan Kombinasi Settlement Tank dan Fixed-Bed Coloumn Up-Flow Khalimatus Sa’diyah; Muchamad Syarwani; S. Sigit Udjiana
Jurnal Teknik Kimia dan Lingkungan Vol 2, No 2 (2018): October 2018
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (520.92 KB) | DOI: 10.33795/jtkl.v2i2.72

Abstract

Air limbah domestik yang memiliki kadar BOD, COD, TSS, Turbidity dan pH tinggi menjadi salah satu penyebab pencemaran air. Sehingga perlu adanya pengolahan lebih lanjut sebelum dibuang ke sungai atau badan air. Salah satu pengolahan air limbah yang bisa digunakan adalah kombinasi settlement tank dan fixed-bed coloumn up-flow. Alat ini dipilih karena harganya terjangkau, bahan mudah didapat dan peralatannya mudah dioperasikan. Tujuan utama penelitian ini untuk menurunkan kadar turbidity, TSS dan BOD. Penurunan parameter ini dipengaruhi oleh waktu settlement tank, waktu pengontakkan effluent dan tinggi unggun pasir. Hasil penelitian pada settlement tank secara aerob didapatkan persen penurunan turbidity, TSS dan BOD  yang tertinggi pada settlement tank 6 hari dengan nilai 48,21%; 75,27% dan 52,84 %. Pada alat fixed-bed coloumn up-flow secara kontinyu dengan waktu aerasi settlement tank 6 hari didapatkan persen penurunan turbidity yang tertinggi pada tinggi unggun pasir 20 cm sebesar 18,57%, sedangkan  persen penurunan TSS dan BOD yang paling tinggi pada tinggi unggun pasir 30 cm yaitu 41,46% dan 11,23%.Domestic waste water is one of the causes of water pollution. Domestic waste water has high levels of BOD, COD, TSS, Turbidity and pH. Therefore, it need futher processing so that the conditions is safe when discharged in river or lake. One of waste water treatment is combination of settlement tank and fixed-bed coloumn up-flow. This equipment is selected because the price is affordable, materials and equipment can be obtained, and easy to operate. The main purpose of this study is to decrease levels of turbidity, TSS and BOD. Decreased parameters are affected by time of seetlement tank, time of effluent contact and high of sand beds. Result of research on settelement tank aerob obtained highest percentage of turbidity, TSS and BOD decrease in 6 day settlement tank with value 48.21%, 75.27% and 52.84%. In a continuous fixed-bed coloumn up-flow with aeration time,  6-day in settlement tank, obtained the highest percentage of turbidity reduction at 20 cm sand bed height of 18.57%, while the highest percentage of TSS and BOD reduction in sand bed height was 30 cm is 41.46% and 11.23%.
Sintesis dan Karakterisasi Silika Aerogel Hidrofobik dan Oliofilik dari Pasir Laut sebagai Absorben Tumpahan Minyak Bramantya Bramantya; Losendra Primamas Yonando; Muhammad Rifaldi; Rama Oktavian
Jurnal Teknik Kimia dan Lingkungan Vol 2, No 2 (2018): October 2018
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (833.872 KB) | DOI: 10.33795/jtkl.v2i2.69

Abstract

Proses pengolahan minyak di Indonesia sangat menguntungkan untuk perekonomian negara. Tetapi disamping itu, terdapat hal yang meyebabkan kerugian yaitu terjadinya tumpahan minyak. Tumpahan minyak bisa diatasi salah satunya dengan menggunakan absorben. Silika aerogel dapat digunakan sebagai absorben. Bahan baku utama sintesis silika aerogel adalah silika. Pada pasir laut di Indonesia rata-rata mengandung silika yang cukup tinggi yaitu sebesar 70%. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh precursor dalam modifikasi material silika aerogel yang bersifat oliofilik dan hidrofobik. Pembuatan silika aerogel terbagi menjadi beberapa bagian yaitu pembuatan waterglass (sodium metasilikat) dari pasir laut, kemudian pembuatan silika aerogel dari waterglass. Dalam metode ini digunakan beberapa variabel pembanding yaitu dengan penambahan TEOS (tetraetil ortosilikat) dan heksana dengan perbandingan volume 1:1, 1:2, dan 1:3 sedangkan untuk penambahan etanol divariabelkan konsentrasi volumenya dengan rincian 10%, 20%, dan 30%. Bahan baku pasir laut dan produk silika aerogel dilakukan karakterisasi yang bertujuan untuk mengetahui sifat-sifatnya. Bahan baku pasir laut diuji dengan metode XRF (X-Ray Fluorescence) bertujuan mengetahui komponen yang terkandung dalam pasir silika dengan hasil SiO2 98,9%, K2O 1,2%, CaO 0,6%, TiO2 0,766%, V2O5 0,007%, MnO 0,028%, Fe2O3 0,431%, NiO 0,01%, CuO 0,035%, Yb2O3 0,03%. Sedangkan produk silika aerogel dilakukan uji sudut kontak dan uji serapan minyak, dari hasil uji sudut kontak didapat hasil pada sampel dua dengan penambahan TEOS dan heksana sebanyak 1:2 dan etanol 20% memiliki sudut kontak sebesar 143,95o sedangkan untuk uji serapan minyak sampel dua memiliki kemampuan menyerap minyak sebesar 13,98 g/g silika aerogel.Oil processing in Indonesia is very profitable for the economy of the country. However, in the exploration process there might be an oil spill which can cause a loss in oil production. Oil spill can be overcome by using absorbent. Silica aerogel can be used as absorbent. The main raw material of silica absorbent is silica. Sea sand in Indonesia contains high enough silica reaches 70% on average. This research was conducted to determine the effect of precursors in the modification of silica aerogel which is oliophilic and hydrophobic. The synthesys of silica aerogel was divided into several parts, namely synthesys waterglass from the sea sand and synthesys silica aerogel from waterglass. In this method, several variables were used with addition of TEOS (tetraethyl orthosilicate) and hexane with volume ratio 1:1, 1:2, and 1:3, while for addition of ethanol was varied with volume concentration of 10%, 20%, and 30%. Sea sand as raw material and silica aerogel as product was characterized in order to determine their properties. Sea sand were characterized using XRF (X-Ray Fluorescence) method contains SiO2 98.9%, K2O 1.2%, CaO 0.6%, TiO2 0.766%, V2O5 0.007%, MnO 0.028%, Fe2O3 0.431%, NiO 0.01%, CuO 0.035%, Yb2O3 0.03%. While the silica aerogel was characterixed by contact angle method and oil absorption test. In result, sample with addition of TEOS:hexane as much as 1:2 and ethanol 20% have contact angle of 143.95oand has ability to absorb oil 13.98 g/g silica aerogel.
Pengolahan Air Tanah di Kawasan Politeknik Negeri Bandung menjadi Air Minum dengan Metoda Ultrafiltrasi Emma Hermawati Muhari; Ayu Ratna Permanasari; Fitria Yulistiani
Jurnal Teknik Kimia dan Lingkungan Vol 2, No 2 (2018): October 2018
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (936.065 KB) | DOI: 10.33795/jtkl.v2i2.73

Abstract

Di Indonesia, khususnya di sekitar Politeknik Negeri Bandung, sebagian besar sumber air berasal dari air tanah. Air tanah di lingkungan Politeknik Negeri Bandung memiliki pH asam (< 6), coliform > 2.400, dan colitinja positif. Proses pemanasan air kurang efektif untuk mengolah air tanah karena memerlukan waktu yang relatif lama, energi besar, dan tidak dapat meningkatkan pH air agar memenuhi standar air minum sebagaimana tercantum dalam Permenkes Nomor 492/MENKES/PER/IV/2010. Untuk mengolah air tanah di lingkungan Politeknik Negeri Bandung, telah dibuat alat pengolahan air minum portabel dengan menggunakan konsep aliran dead-end filtration. Membran yang dipakai merupakan membran hollow-fiber, berjenis membran ultrafiltrasi berbahan dasar PVDF (Poly Vinylidene Flouride), ukuran pori 0,1μm, panjang membran 15cm, jumlah membran sebanyak 148 buah, dan dapat dioperasikan pada daya isap normal manusia.  Permeat yang dihasilkan sesuai dengan standar PERMENKES No. 492/MENKES/PER/IV/2010 dari parameter fisika, kimia, dan biologi. Lifetime membran diamati melalui jumlah permeat yang dihasilkan dari awal pemakaian membran hingga membran tersebut rusak. Lifetime pada alat pengolah air minum portabel ini adalah 38,879 L. Pengolahan air tanah menggunakan alat ini  dapat menaikkan pH sebesar 12,78%, menurunkan konduktivitas sebesar 39,31%, dan menurunkan Total Dissolved Solid (TDS) 13,72%. Dari segi ekonomi, penggunaan alat ini dapat menghemat biaya 50% dibandingkan dengan pembelian air minum kemasan 600 ml.In Indonesia, especially around the Bandung State Polytechnic, most of the water sources come from ground water. Ground water in the Bandung State Polytechnic environment has acidic pH (<6), coliform> 2,400, and positive colitis. The process of water heating is less effective for treating ground water because it requires a relatively long time, large energy, and can not increase the pH of the water to meet drinking water standards as stated in Permenkes No. 492 / MENKES / PER / IV / 2010. To treat ground water in the Bandung State Polytechnic, portable drinking water treatment equipment has been made using the concept of dead-end flow filtration. The membrane used is a hollow-fiber membrane, a type of ultrafiltration membrane made from PVDF (Poly Vinylidene Fluoride), pore size of 0.1μm, membrane length of 15cm, membrane number of 148 pieces, and can be operated on normal human suction. The permeate produced is in accordance with PERMENKES No. 492 / MENKES / PER / IV / 2010 from physical, chemical and biological parameters. Lifetime membranes are observed through the amount of permeate produced from the beginning of the use of the membrane until the membrane is damaged. Lifetime of this portable drinking water treatment device is 38,879 L. Ground water treatment using this tool can increase pH by 12.78%, decrease conductivity by 39.31%, and reduce Total Dissolved Solid (TDS) 13.72%. From an economic standpoint, the use of this tool can save 50% costs compared to the purchase of 600 ml of bottled water.
Pengaruh Kedalaman Anoda pada Metode Contact Glow Discharge Electrolysis (CGDE) dalam Degradasi Pewarna Tekstil Remazol Red Dian Ratna Suminar; Nelson Saksono
Jurnal Teknik Kimia dan Lingkungan Vol 2, No 2 (2018): October 2018
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (892.228 KB) | DOI: 10.33795/jtkl.v2i2.74

Abstract

Limbah pewarna tekstil yang mempunyai  komponen utamanya zat pewarna sintesis berbahaya bagi lingkungan sekitar. Pengolahan limbah pewarna tekstil secara fisika dan biologi kurang efektif. Elektrolisis plasma dengan menggunakan metode Contact Glow Discharge Electrolysis (CGDE) merupakan bagian dari pengolahan secara kimiawi, yang efektif dalam mengolah limbah pewarna batik. Parameter kedalaman anoda sangat mempengaruhi dalam proses elektrolisis plasma metode CGDE. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh kedalaman anoda terhadap produksi •OH, energi yang digunakan proses degradasi, persen dekolorisasi Remazol Red RB 133, serta mengetahui penurunan konsentrasi COD limbah pewarna batik Remazol Red RB 133. Kedalaman anoda dalam penelitian ini adalah 1,5 cm dimana produksi •OH sebesar 11,63 mmol dan energi proses selama 30 menit adalah 806,4 KJ. Persen dekolorisasi Remazol Red RB 133 pada konsentrasi 250 ppm, terbesar selama 30 menit mencapai 99,66 %, pada kedalaman 4,5 cm dengan energi 1075,212 KJ. Nilai COD limbah pewarna batik Remazol Red RB 133 menurun dari 169 mg/L menjadi 3,6 mg/L setelah proses CGDE selama 180 menit (sesuai dengan baku mutu limbah).Textile dye waste having the main component of synthetic dye is hazardous to the surrounding environment. Textile dye waste treatment is physically and biologically less effective. Electrolysis plasma that used Contact Glow Discharge Electrolysis (CGDE) method is part of chemical treatment. The anode depth parameters greatly affect the electrolysis CGDE method. The purpose of this study was to determine the effect of anode depth on • OH production, the energy used in the degradation process, percent decolorization of Remazol Red RB 133, as well as knowing the decrease in COD concentration of Remazol Red batik dye RB 133. The anode depth in this study is 1.5 cm where the production of OH • 11.63 mmol and the processing energy for 30 minutes is 806.4 KJ. The largest Percentage degradation of Remazol Red RB 133 at concentration 250 ppm is 99,66%, that’s  reach at depth 4.5 cm for 30 minutes  with energy 1075,212 KJ. COD value has decreased from 169 mg/L to 3,6 mg/L after 180 minutes CGDE process (conform to waste quality standards).
Simulasi CHEMCAD: Studi Kasus Distilasi Ekstraktif pada Campuran Terner n-Propil Asetat/n-Propanol/Air Agung Ari Wibowo; Cucuk Evi Lusiani; Rizqy Romadhona Ginting; Dhoni Hartanto
Jurnal Teknik Kimia dan Lingkungan Vol 2, No 2 (2018): October 2018
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (743.916 KB) | DOI: 10.33795/jtkl.v2i2.75

Abstract

Pemisahan n-propil asetat dari campuran terner n-propil asetat/n-propanol/air merupakan salah satu proses yang tidak dapat dilakukan dengan distilasi sederhana. Adanya azeotrop terner minimum dari campuran tersebut menyebabkan n-propil asetat hanya dapat dipisahkan dari campuran n-propanol dan air salah satunya dengan metode distilasi ekstraktif. Distilasi ekstraktif merupakan proses vaporisasi parsial dengan menambahkan suatu agen pemisah non-volatil yang disebut sebagai sovent atau agen ekstraktif. Solvent yang digunakan dalam simulasi proses ini adalah campuran DMSO (Dimetil Sulfoksida) dan Gliserol dengan komposisi 50 % massa dengan perbandingan 1:2 untuk massa umpan kolom : solvent. Feed yang digunakan adalah n-propanol (10 kmol/jam) dan asam asetat (13 kmol/jam) masing-masing pada suhu 25°C dan tekanan 101,3 kPa. Hasil n-propil asetat terbaik diperoleh saat solvent diumpankan pada stage 5 dengan fraksi mol n-propil asetat pada distilat 0,9975 disertai dengan minimumnya energi reboiler yang digunakan pada konfigurasi kolom ini.n-Propyl acetate separation of the n-propyl acetate /n-propanol/water mixture composition can't be done by simple distillation. The existence of minimum ternary azeotrope on the mixture causes n-propyl acetate can be separated only by extractive distillation method. Extractive distillation is a partial vaporization process in the presence of a non-volatile separating agent called as solvent or extractive agent. Solvent used in the simulation process is DMSO (Dimethyl Sulfoxide)-Glycerol mixture (50% mass) with a ratio of 1: 2 for column feed : solvent. n-Propanol (10 kmol/hour) and acetic acid (13 kmol/hour) are fed into reactor (before extractive distillation process) at 25°C and 101.3 kPa, respectively. The best results of n-propyl acetate were obtained when the solvent was fed to stage 5 in which mole fraction of n-propyl acetate in distillate 0.9975 accompanied by the minimum reboiler energy used in this column configuration.
Sintesis Nanoenkapsulasi Ekstrak Kulit Durian dengan Metode Spray Drying dan Aplikasinya sebagai Biopestisida: Review Nina Hartini; Syarifatur Richana; Bayu Triwibowo; Nur Qudus; Ratna Dewi Kusumaningtyas
Jurnal Teknik Kimia dan Lingkungan Vol 2, No 2 (2018): October 2018
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (397.298 KB) | DOI: 10.33795/jtkl.v2i2.61

Abstract

Indonesia sebagai negara agraris, sebagian penduduk Indonesia bermata pencaharian di bidang pertanian. Pada umumnya, masyarakat menggunakan pestisida untuk membasmi hama. Karena tingginya penggunaan pestisida maka WHO (2016) menyatakan kasus keracunan pestisida mencapai 193.000 jiwa selama tahun 2012. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, biopestisida menjadi bahan alternatif pengganti pestisida karena lebih aman dan ramah lingkungan. Salah satu bahan alam yang berpotensi sebagai biopestisida adalah kulit durian. Rata-rata produksi durian setiap tahunnya 780.032,8 ton/tahun. Limbah kulit durian memiliki berat 60-75% dengan kandungan senyawa metabolit sekunder relatif tinggi belum termanfaatkan secara maksimal. Senyawa tersebut dimanfaatkan sebagai antioksidan dan antimikroba dalam proses pembasmi hama. Biopestisida yang dikembangkan dengan metode sokletasi menghasilkan ekstrak berbentuk cair. Namun, hasil tersebut kurang efektif dan mudah teroksidasi sehingga menurunkan keefektifitasan kadar bahan aktif. Mengatasi masalah tersebut maka perlu dikembangkan inovasi dengan proses enkapsulasi. Artikel ini me-review pengembangan metode enkapsulasi. Metode yang dapat digunakan untuk enkapsulasi biopestisida yaitu ekstrusi, spray chilling dan spray drying. Metode spray drying lebih berpotensi mengenkapsulasi biopestisida dari kulit durian karena memiliki efisiensi enkapsulan lebih tinggi dan hampir mendekati 100%. Distribusi ukuran partikel yang dihasilkan tergolong nanoenkapsulan.Indonesia as an agrarian country, most of Indonesia's people work in agriculture. In general, people use pesticides to eradicate pests. Due to the high use of pesticides, WHO (2016) stated the case of pesticide poisoning reach 193,000 in 2012. To solve the problem, Biopesticide as an alternative of synthetic pesticides because it’s more safe and environmentally friendly. One of the natural ingredients that potentially as biopesticide is durian peel. The average durian production per year is 780,032.8 tons/year. Durian peels waste weighs 60-75% with a relatively high contains  of secondary metabolite  not yet fully utilized. It’s  used as antioxidants and antimicrobials in pesticides. Biopesticide is developed by socletation method. However, the results are less effective because it’s easily oxidized, so reduce the flavonoid efectiveness. To solve this problem, to be developed innovation with encapsulation process. This article reviews the development of encapsulation methods. Methods that can be used for biopesticide encapsulation are extrusion, spray chilling and spray drying. Spray drying method is more likely to encapsulate biopesticides because it has higher encapsulation efficiency and is close to 100%. The resulting particle size distribution is classified as nanocapsul.

Page 1 of 1 | Total Record : 6