cover
Contact Name
Agung Ari Wibowo
Contact Email
agung.ari.wibowo@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
agung.ari.wibowo@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Teknik Kimia dan Lingkungan
ISSN : 25798537     EISSN : 25799746     DOI : -
This journal is an open access journal with the frequency of 2 (two) times a year, published by Department of Chemical Engineering, Politeknik Negeri Malang (State Polytechnic of Malang). The journal publishes original research results, literature reviews and short communications relevant to the fields of chemical and environmental engineering.
Arjuna Subject : -
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 3, No 2 (2019): October 2019" : 6 Documents clear
Pembuatan Serbuk Aloe Vera sebagai Bahan Baku Kosmetik Masker Wajah Menggunakan Metode Vacuum Drying Ayu Ratna Permanasari; Saripudin Saripudin; Tri Reksa Saputra; Muhammad Fahmi Hidayatulloh; Nizar Fathurohman
Jurnal Teknik Kimia dan Lingkungan Vol 3, No 2 (2019): October 2019
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (464.747 KB) | DOI: 10.33795/jtkl.v3i2.96

Abstract

Serbuk lidah buaya merupakan salah satu produk olahan lidah buaya yang banyak digunakan industri kosmetik sebagai bahan tambahan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan kondisi operasi dan konsentrasi zat aditif dengan variasi temperatur operasi (50oC, 60oC, dan 70oC) dan variasi konsentrasi maltodekstrin (6%, 7%, 8%, dan 9%) dalam pembuatan serbuk lidah buaya untuk mencapai kandungan antrakuinon terendah dan kandungan glukomanan tertinggi. Bahan yang digunakan adalah lidah buaya (Aloe Vera barbadensis.) yang dilakukan ­perlakuan awal sebelum pengeringan. Serbuk lidah buaya diukur kadar air, rendemen, kandungan antrakuinon dan kandungan glukomanan. Hasil menunjukan bahwa pada temperatur 60oC dan konsentrasi maltodekstrin 8%, serbuk lidah buaya memiliki kadar air 6,92%; rendemen 9% kandungan antrakuinon 20,8%; dan kandungan glukomanan 11,5% merupakan hasil terbaik.Aloe vera powder is one of processed aloe products are widely used cosmetic industry as an additive. The purpose of this study was to determine the optimum operating conditions and concentrations of additives by variations in the operating temperature (50, 60, and 70°C) and the variation of the concentration of maltodextrin (6, 7, 8, and 9%) in the manufacture of aloe vera powder to reach the lowest anthraquinone content and highest glucomannan content. Materials used are pre treated aloe vera (Aloe Vera barbadensis.) before drying process. Aloe vera powder measured water content, yield, anthraquinone content, and glucomannan content. Results showed that at temperature of 60° C and a concentration of 8%. Aloe vera powder has a water content of 6,92%; 9,00% yield; glucomannan content of 11,50%; and 27.30% anthraquinone content is the best results.
Kinetic Parameters Evaluation of Furfural Degradation Reaction Using Numerical and Integral Methods Jabosar Ronggur Hamonangan Panjaitan; Guna Bangun Persada; Didik Supriyadi
Jurnal Teknik Kimia dan Lingkungan Vol 3, No 2 (2019): October 2019
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1094.338 KB) | DOI: 10.33795/jtkl.v3i2.103

Abstract

Furfural adalah salah satu bahan kimia penting yang dapat diubah menjadi berbagai bahan kimia seperti furfuryl alkohol dan asam levulinat. Furfural dapat diproduksi dari biomassa lignoselulosa dalam kondisi asam dengan mengkonversikan fraksi hemiselulosa dalam biomassa menjadi gula pentosa dan selanjutnya menjadi furfural. Reaksi degradasi furfural tidak diinginkan karena dapat mengurangi hasil furfural yang telah dihasilkan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menghitung parameter kinetika dari reaksi degradasi furfural menggunakan metode numerik dan integral. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai konstanta laju reaksi dan energi aktivasi dari perhitungan metode numerik dan integral berbeda karena perbedaan dalam metode perhitungan. Pada metode integral, reaksi degradasi furfural pada suhu yang lebih tinggi (170oC) sesuai dengan model orde nol karena sebagian besar furfural telah terdegradasi dalam reaksi, akan tetapi reaksi degradasi furfural pada suhu yang lebih rendah (150oC dan 160oC) sesuai dengan model non-second order.Furfural is one of the important building block chemicals that can be converted into various chemicals such as furfuryl alcohol and levulinic acid. Furfural can be produced from lignocellulosic biomass in acidic condition which hemicellulose fraction in biomass can be converted into pentose sugar and subsequently became furfural. Furfural degradation reaction is not desirable because it can reduce the yield of furfural that had been produced. The purpose of this study was to calculated kinetic parameters of furfural degradation reaction using numerical and integral methods. The results showed that the value of reaction rate constants and activation energies from numerical and integral methods calculation were different due to the differences in calculation methods. Using integral method, reaction order of furfural degradation at higher temperature (170oC) follows zero order because most of the furfural had been degraded in the reaction, but reaction order of furfural degradation at lower temperature (150oC and 160oC) follows non-second order.
Penambahan Sabut Kelapa dan Penggunaan Lem Kayu Sebagai Perekat untuk Meningkatkan Nilai Kalor pada Biobriket Enceng Gondok (Eichhornia crassipes) Indri Yanti; Muh Pauzan
Jurnal Teknik Kimia dan Lingkungan Vol 3, No 2 (2019): October 2019
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/jtkl.v3i2.119

Abstract

Penggunaan energi fosil yang berlebihan menjadikan ketersedian sumber energi tersebut semakin menipis. Oleh karena itu, diperlukan suatu usaha untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil, seperti menyediakan energi alternatif yang dapat diperbahurui, melimpah jumlahnya, dan ekonomis. Salah satu sumber energi alternatif yang dapat dikembangkan adalah biobriket dari biomassa. Pada penelitian ini, biomassa yang digunakan yaitu enceng gondok dan sabut kelapa dengan menggunkan lem kayu sebagai perekat. Nilai kalor enceng gondok masih rendah maka untuk meningkatkan nilai kalornya dilakukan penambahan sabut kelapa. Konsenterasi perekat adalah 10% dari massa total sampel dengan ukuran partikel 20 mesh untuk ketiga variasi perbandingan antara enceng gondok dan sabut kelapa yaitu 1:1, 3:1 dan 1:3 berturut-turut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa biobriket dengan perbandingan 1:1, 3:1 dan 1:3 memiliki nilai kalor sebesar 4990 kal/g, 4749 kal/g dan 5312 kal/g berturut-turut. Nilai kalor 5312 kal/g sudah sesuai standar SNI 01-6235-2000. Sampel yang memiliki nilai kalor tertinggi tersebut disebabkan oleh komposisi sabut kelapa yang paling banyak diantara sampel lain. Sampel dengan kalor tertinggi memiliki kadar air, kadar abu, kadar zat terbang dan kadar karbon padat sebesar 9%, 12%, 60%, dan 19% berturut-turut.Excessive use of fossil energy results decrease of energy resources. Therefore, an alternative energy is studied to reduce the dependent on fossil energy. Alternative energy has the characteristics such as renewable, abundant and economist. One of the alternative energy that could be developed is biobriquette from biomass. In this research, biobriquette is synthesized from both water hyacinth and coconut husk, wood glue as adhesive. Due to the calorific value of water hyacinth that is relatively small, coconut husk is added, wood glue is used to improve the value. Glue’s concentration is 10% of the total sample’s mass with 20 mesh particle size for three samples with ratio between water hyacinth and coconut husk is 1:1, 3:1 and 1:3, respectively. The result shows that biobriquette with the ratio 1:1, 3:1 and 1:3 has a calorific value of 4990 cal/g, 4749 cal/g and 5312 cal/g, respectively. The 5312 cal/g is match to SNI 01-6235-2000 standard and that the highest value is the effect of the largest amount of coconut husk than the other samples. Biobriquette that has the highest calorific value has the inherent moisture, ash content, volatile matter and fixed carbon 9%, 12%, 60% and 19% respectively.
Pengaruh Iradiasi Gamma pada Konversi Biomassa Lignoselulosa Sabut Kelapa Menjadi Bioetanol Harum Azizah Darojati; Sugili Putra; Fahril Putera Zulprasetya
Jurnal Teknik Kimia dan Lingkungan Vol 3, No 2 (2019): October 2019
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/jtkl.v3i2.121

Abstract

Sabut kelapa adalah salah satu limbah lignoselulosa yang dapat dikonversikan menjadi bioetanol. Konversi bioetanol pada penelitian ini dilakukan melalui beberapa tahapan yaitu proses pre-treatment, proses Saccharification and Simultaneous Fermentation (SSF), dan proses pemurnian. Proses pre-treatment sebagai proses pemecahan ikatan lignoselulosa menjadi poin utama dalam proses konversi biomassa lignoselulosa. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh iradiasi gamma terhadap pemecahan ikatan lignoselulosa pada proses pre-treatment tersebut. Proses iradiasi gamma divariasikan pada dosis sebesar 0 kGy, 100 kGy, 150 kGy, 200 kGy, 250 kGy dan dilanjutkan pre-treatment secara kimia menggunakan NaOH 4%. Kemudian dilanjutkan proses pemurnian setelah proses SSF selama 72 jam. Kadar bioetanol yang diperoleh setelah proses pemurnian diukur menggunakan metode refraktometri dan piknometri. Pada penelitian ini diperoleh kadar bioetanol tertinggi pada dosis iradiasi gamma 200 kGy, yaitu 35,15% untuk metode refraktometri, dan 36,77% untuk metode piknometri. Hasil tersebut jauh lebih tinggi bila dibandingkan dengan kadar bioetanol tanpa iradiasi gamma yaitu 2,45% untuk metode refraktometri, dan 6,92% untuk metode piknometri. Penelitian ini menunjukkan bahwa metode pre-treatment dengan iradiasi gamma dapat menghasilkan kadar bioetanol yang lebih tinggi dibandingkan tanpa menggunakan iradiasi gamma.Coconut husk is one of lignocellulosic wastes that can be converted into bioethanol. Bioethanol conversion in this study was carried out through several stages, namely the pre-treatment process, the Saccharification and Simultaneous Fermentation (SSF) process, and the purification process. The pre-treatment process as the process of breaking lignocellulosic bonds becomes the main point in the process of lignocellulosic biomass conversion. This research was conducted to determine the effect of gamma irradiation to breaking lignocellulosic bonds on the pre-treatment process. Gamma irradiation process was varied in doses of 0 kGy, 100 kGy, 150 kGy, 200 kGy, 250 kGy and continued with chemical pre-treatment using 4% NaOH. Then the purification process was continued after the SSF process for 6 days. Bioethanol levels obtained after the purification process were measured using refractometry and picnometry methods. In this study, the highest levels of bioethanol were obtained at a gamma irradiation dose of 200 kGy, namely 34.93% for the refractometry method, and 26.67% for the picnometry method, respectively. These results are much higher when compared to bioethanol levels without gamma irradiation, which is 2.25% for the refractometry method, and 5.49% for the picnometry method, respectively. This study shows that the pre-treatment method with gamma irradiation can produce higher levels of bioethanol than without using gamma irradiation.
Studi Aktivitas Reaksi Fotokatalisis Berbasis Katalis TiO2-Karbon Aktif Terhadap Mutu Air Limbah Power Plant Ade Sonya Suryandari; Asalil Mustain; Dana Wahyu Pratama; Inayatul Maula
Jurnal Teknik Kimia dan Lingkungan Vol 3, No 2 (2019): October 2019
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (297.821 KB) | DOI: 10.33795/jtkl.v3i2.124

Abstract

Pengolahan air limbah merupakan proses mengolah air buangan yang sudah tidak terpakai untuk dapat dikembalikan ke siklus air di lingkungan. Unit Waste Water Treatment Plant (WWTP) PT. Indonesia Power digunakan untuk mengolah air limbah yang berasal dari berbagai sumber salah satunya yaitu HRSG Sump Pit. Buangan air limbah yang berasal dari HRSG Sump Pit memiliki kandungan fosfat dikarenakan adanya penambahan fosfat pada unit sebelumnya yang bertujuan sebagai inhibitor proses korosi. Karakteristik limbah cair dapat ditentukan dari beberapa parameter diantaranya nilai pH, optical density (OD), dan kadar fosfat. Pengolahan air limbah dilakukan agar limbah cair yang dihasilkan dapat memenuhi baku mutu yang dipersyaratkan sebelum dibuang ke lingkungan. Penelitian ini dilakukan dengan mengaplikasikan reaksi fotokatalisis berbasis katalis TiO2/karbon aktif pada berbagai komposisi katalis dan durasi penyinaran. Proses fotokatalisis dilakukan dengan penambahan katalis pada perbandingan komposisi TiO2/karbon aktif 10:1, 5:1, 3:1 dan 2:1. Sedangkan lama waktu penyinaran 3, 4, 5, dan 6 jam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pH terendah sesuai baku mutu yaitu 8,13 dan penurunan kadar fosfat sebesar 70,12% mampu dicapai pada komposisi katalis TiO2/karbon aktif 3:1 dengan durasi penyinaran 5 jam. Penurunan OD tertinggi dicapai pada kondisi perbandingan komposisi katalis TiO2/karbon aktif 10:1 dan durasi penyinaran 6 jam yaitu sebesar 98,86%.Water treatment is the process of treating water discharges that are not used to be discarded into the environment. Wastewater Treatment Unit Plant (WWTP) of PT. Indonesia Power is used to treat wastewater coming from several sources, one of which is HRSG Sump Pit. Wastewater from the HRSG Pit contains phosphate which is related to the phosphate addition in the previous unit which is needed as an inhibitor of corrosion process. The characteristics of liquid waste can be determined from several parameters such as pH value, optical density (OD), and phosphate content. Wastewater treatment is carried out to obtain liquid waste which comply to the quality standards before being discarded into the environment. This research was carried out by applying the photocatalysis reaction based on catalyst TiO2-activated carbon with various catalyst compositions and irradiation duration. The process of photocatalysis was carried out by adding catalysts to the ratio of the composition of TiO2 / activated carbon 10:1, 5:1, 3:1 and 2:1. While the irradiation time is 3, 4, 5 and 6 hours. The results show that the lowest pH according to quality standards was 8.13 and a reduction in phosphate content of 70.12% was achieved in the 3: 1 TiO2/activated carbon catalyst composition with a 5-hour irradiation duration. The highest OD reduction was achieved under the condition ratio of catalyst composition of TiO2/activated carbon 10:1 and the irradiation duration of 6 hours that was equal to 98.86%.
Parameter Interaksi Biner Kesetimbangan Uap-Cair Campuran yang Melibatkan Alkohol Rantai Bercabang atau Aseton untuk Optimasi Proses Pemurnian Bioetanol Asalil Mustain; Khalimatus Sa'diyah; Agung Ari Wibowo; Dhoni Hartanto
Jurnal Teknik Kimia dan Lingkungan Vol 3, No 2 (2019): October 2019
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (390.838 KB) | DOI: 10.33795/jtkl.v3i2.81

Abstract

Parameter interaksi biner kesetimbangan uap-cair campuran yang melibatkan alkohol rantai bercabang atau aseton telah ditentukan pada penelitian ini. Data kesetimbangan uap-cair kondisi isobarik pada tekanan atmosferik telah dipilih total sebanyak 14 sistem. Data kesetimbangan tersebut kemudian dikorelasikan dengan model koefisien aktifitas Wilson, Non-Random Two-Liquid (NRTL) dan Universal Quasi-Chemical (UNIQUAC) untuk diperoleh parameter interaksi binernya. Parameter tersebut ditentukan sebagai fungsi suhu pada penelitian ini untuk meningkatkan kemampuannya dalam aplikasi pada kisaran suhu yang panjang. Korelasi menunjukkan hasil yang baik dikarenakan root mean square deviation (RMSD) antara data eksperimental dengan hasil perhitungan relatif kecil. Sebagai tambahan, perilaku masing-masing sistem biner tersebut juga diamati pada kesempatan ini. Parameter yang diperoleh dapat digunakan untuk optimasi desain kolom distilasi pada proses pemurnian produksi bioetanol.The binary interaction parameters of vapor-liquid equilibrium for the mixtures involving branched-chain higher alcohols or acetone have been determined in this study. Isobaric vapor-liquid equilibrium data at atmospheric pressure have been selected for a total of 14 systems. The VLE data were then correlated with the Wilson, Non-Random Two-Liquid (NRTL) and Universal Quasi-Chemical (UNIQUAC) activity coefficient models to obtain its binary interaction parameters. The parameters were determined as the temperature-dependent in this study to increase its ability in wide temperature range applications. The correlations showed good results because the root mean square deviation (RMSD) between the experimental data and calculation values were relatively low. In addition, the behavior of each binary systems were also observed in this study. The obtained parameters could be used to optimize the distillation column design in the purification process of bioethanol production.

Page 1 of 1 | Total Record : 6